Anda di halaman 1dari 7

Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak

57
MODEL USAHA RUMPUT GAJAH SEBAGAI PAKAN SAPI
PERAH DI KECAMATAN GETASAN, KABUPATEN
SEMARANG
A. PRASETYO
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, PO. Box 101 Ungaran-Jawa Tengah
ABSTRAK
Komponen hijauan merupakan pakan utama ternak sapi perah untuk meningkatkan produksi susu,
ditambah pakan penguat. Di daerah sentra ternak sapi perah dibutuhkan ketersediaan hijauan rumput unggul
sebagai pakan secara kontinyu baik pada musim kemarau ataupun musim penghujan. Kondisi ini merangsang
peternak yang mempunyai lahan menanam rumput gajah, karena penghasilannya menguntungkan
dibandingkan dengan tanaman pangan atau hortikultura. Dengan potensi sumberdaya lahan yang memenuhi
syarat tumbuh rumput gajah, menanam rumput gajah tidak tergantung musim. Pada musim kemarau bisa
dipanen dua kali dan pada musim penghujan bisa tiga kali, sedangkan masa produksinya sampai tiga tahun.
Keuntungan bersih yang diperoleh dengan luas lahan satu hektar sistem penjualan tebasan adalah Rp
18.540.000/tahun dengan B/C ratio 1,49 dan Break Even Point (BEP) = 2,49.
Kata Kunci: Rumput gajah, sapi perah, B/C, BEP
PENDAHULUAN
Pakan utama ternak sapi perah adalah
rumput segar untuk menunjang produksi susu
disamping pakan penguat (konsentrat). Sapi
perah apabila diberi pakan rumput lapang saja
kurang dalam kecukupan nutrien, untuk itu
pada daerah sentra sapi perah para peternak
yang memiliki skala usaha ternak banyak,
untuk mencukupi kebutuhan pakan hijauan
salah satu alternatif adalah menanam rumput
unggul yaitu rumput gajah (Pennisetum
purpereums schumach). Pilihan tersebut atas
dasar pertimbangan secara ekonomi menanam
rumput gajah di daerah sentra sapi perah
memberikan keuntungan secara berkelanjutan.
Walaupun pada umumnya prioritas alokasi
lahan selalu diberikan untuk sistem produksi
tanaman pangan dan hortikultura.
Kabupaten Semarang merupakan daerah
yang mempunyai populasi sapi perah nomor
dua setelah Kabupaten Boyolali di Propinsi
Jawa Tengah. Adapun jumlah populasi sapi
perah sebanyak 30.371 ekor, salah satu
kecamatan yang mempunyai populasi sapi
perah terbanyak di Kabupaten Semarang
adalah Kecamatan Getasan dengan populasi
20.983 ekor (69,09%) dari total populasi
(KABUPATEN SEMARANG DALAM ANGKA,
2003).
Agroklimat tanaman rumput gajah yang
sesuai dengan ketinggian 0 3.000 m dpl.
Tidak tahan terhadap genangan dan kekeringan
serta curah hujan 1.000 250 mm/th (BADAN
LITBANG PERTANIAN, 1996). Kecamatan
Getasan terletak di bawah lereng Gunung
Merbabu dengan agroklimat mendekati syarat
tumbuh rumput gajah tersebut diatas. Sebagian
besar penduduk di kecamatan tersebut bermata
pencaharian pokok sebagai petani sayuran dan
beternak sapi perah.
Dengan menanami lahan yang dimiliki
dengan rumput gajah maka ketersediaan
rumput untuk pakan sapi perah sepanjang
tahun tercukupi, bahkan apabila lahan rumput
gajah yang dimiliki luas disamping kebutuhan
untuk ternaknya tercukupi juga bisa menjual
rumput gajah kepada peternak yang tidak
mempunyai lahan rumput di lokasi terdekat
maupun lokasi lain, hal ini merupakan
tambahan pendapatan bagi peternak pengelola
lahan rumput. Pola pengembangan hijauan
pakan ternak di daerah-daerah berpenduduk
padat adalah intensifikasi komersial, artinya
bahwa setiap luasan lahan yang digunakan
dapat dipertanggung jawabkan secara
komersial.



Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak
58
MANAJEMEN USAHATANI
Kecamatan Getasan terletak di ketinggian
801 1500 m dpl. Dengan rejim kategori
lembab, kemiringan lebih dari 40% dan jenis
tanah Andosol. Vegetasi yang ada adalah
hutan, pertanian dan vegetasi alami,
ketersediaan air tanah selalu ada dari mata air,
kondisi tersebut sesuai untuk syarat tumbuh
rumput gajah (BPTP UNGARAN, 2000).
Mayoritas penduduk desa memelihara sapi
perah untuk diambil air susunya, biasanya
ternak sapi tidak pernah digembalakan,
sehingga untuk pemanfaatan hijauan rumput
gajah adalah sistem usahatani cut and carry
dari lahan rumput milik sendiri atau orang lain.
Untuk itu diperlukan manajemen penjadwalan
pemotongan dan pemupukan. Rumput gajah
dipanen sebaiknya pada umur 50 60 hari
setelah tanam, dan dipotong selanjutnya setiap
40 hari sekali pada musim hujan dan 60 hari
sekali pada musim kemarau kemudian segera
dilakukan pemupukan setelah dipotong
(BALITBANGTAN, 1996).
Kondisi lahan di Kecamatan Getasan yang
berlereng apabila tidak dilakukan penataan
lahan usahatani akan terjadi erosi permukaan,
erosi ini bila berlangsung lama akan membawa
unsur hara tanah yang ada sehingga tanah
menjadi miskin unsur hara tanah. Teknologi
konservasi sangat diperlukan disamping
pemilihan jenis tanaman untuk konservasi
lahan. Penataan lahan dengan terasering sudah
dilakukan, disamping itu penanaman lahan
dengan rumput gajah juga membantu dalam
konservasi lahan. Di bagian pinggir teras
ditanami tanaman keras yaitu tanaman Suren
(diambil kayunya untuk bahan bangunan), hal
tersebut dapat mengurangi laju erosi
permukaan dan tanah longsor. Untuk
pemupukan tanaman rumput gajah peternak
tiap hari mengalirkan limbah ternak sapi
(pupuk kandang) ke lahan rumputnya, sehingga
kemungkinan penggunaan pupuk anorganik
sangat kecil yang berarti menghemat biaya
pemupukan.
Pola tanam rumput gajah yang biasa
dilakukan peternak di lokasi pada tahun
pertama disamping ditanami bibit rumput gajah
juga ditanami jagung, sebelum rumput gajah
tumbuh tinggi untuk 3 (tiga) bulan sudah bisa
panen jagung kemudian disusul pemotongan
pertama rumput gajah. Selanjutnya pada tahun
ke-2 dan ke-3 monokultur rumput gajah,
tanaman rumput gajah diremajakan setelah
umur 3 (tiga) tahun, karena sifat batang yang
sudah keras, pertumbuhan lambat karena
kurang respon terhadap pemupukan juga
kandungan nutrisi hijauan yang menurun
(Gambar 1.).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
produktivitas hijauan antara lain adalah
kepadatan tanaman, waktu pemotongan
pertama, tinggi pemotongan dan frekuensi
pemotongan (ELLA et al., 1998). Umur
tanaman pada saat pemotongan sangat
berpengaruh terhadap kandungan gizi.
Umumnya makin tua umur tanaman pada saat
pemotongan makin berkurang kadar protein
dan sebaliknya kadar serat kasar makin tinggi
(WEBSTER dan WILSON, 1973).

Keterangan :
Tanaman jagung
Tanaman R. gajah

Gambar 1. Pola tanam rumput gajah
Th 1
Th 2
Th 3
Bln Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep
Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak
59
Tabel 1. Rata-rata curah hujan bulanan di Kecamatan Getasan, Semarang (mm)
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Tahun
Mean 435 377 413 288 205 109 78 45 45 139 292 392 2.864
Median 418 364 427 275 204 83 33 15 27 112 260 359 2.963
STD 134 119 131 107 115 97 105 67 53 112 151 135 476
Maximum 845 634 736 533 526 330 476 299 205 436 719 692 3.679
Minimum 173 146 113 42 28 0 0 0 0 0 90 180 1.569
N : tahun 47 47 50 47 46 48 49 44 44 43 46 47 34
Sumber : RAINMAN INTERNATIONAL V4 (2003)
Pada Tabel 1 merupakan rata-rata curah
hujan bulanan yang dapat digunakan untuk
menentukan kategori iklim di sekitar lokasi.
Menurut Schmidth dan Ferguson Kecamatan
Getasan bisa dikategorikan beriklim tipe B
yaitu daerah basah dengan vegetasi masih
hutan hujan tropik. Kondisi tersebut tentunya
mendukung pertumbuhan vegetasi rumput
gajah, sehingga frekuensi pemotongan
mempunyai potensi lebih banyak yaitu tujuh
sampai sembilan kali dalam setahun.
PRODUKSI RUMPUT
Menurut hasil pengkajian, lahan rumput
gajah seluas 1 (satu) hektar mampu
menampung sapi perah sebanyak 20 ekor
selama setahun (BUDIMAN dan SJAMSIMAR ,
1994). Peternak di Kecamatan Getasan,
Kabupaten Semarang dalam menanam rumput
gajah biaya produksi penanaman rumput gajah
pada tahun pertama lebih besar dari pada tahun
ke-2 dan ke-3, karena pada tahun ke-2 dan ke-3
beaya yang dikeluarkan hanya untuk
pemupukan saja, sehingga diperoleh
keuntungan lebih besar pada tahun ke-2 dan
ke-3. Apabila mempunyai lahan luas para
peternak merasa untung dengan menanam
rumput gajah di lahannya dibanding menanam
tanaman hortikultura karena tanaman
hortikultura biaya perawatan tanaman tinggi
dan harga yang fluktuatif. Seperti terlihat pada
Tabel 2, analisa usahatani rumput gajah dengan
sistem penjualan tebasan memperoleh
keuntungan lebih tinggi dengan B/C 1,49 dan
BEP = 2,49 dibandingkan dengan usahatani
tanaman ubikayu pada Tabel 5, diperoleh rata-
rata B/C 1,18 dan BEP = 0,59 sedangkan pada
tanaman kobis pada Tabel 6, menunjukkan
kerugian dengan nilai B/C minus 0,22 dan BEP
= 0,78, hasil analisa tiap komoditas
memperhitungkan biaya sewa lahan.
Usaha tanaman rumput gajah merupakan
usaha sampingan yang menguntungkan
disamping usaha pokok beternak sapi perah di
daerah sentra sapi perah. Seperti terlihat pada
Tabel 3, untuk peternak Bapak Sutarno dengan
jumlah kepemilikan ternak 18 ekor
menunjukkan bahwa analisa usahatani ternak
sapi perah mempunyai nilai B/C 0,10 dengan
BEP= 1,10 dan peternak Bapak Suyud pada
Tabel 4, dengan jumlah kepemilikan sebanyak
21 ekor mempunyai nilai B/C 0,02 dan BEP=
1,02, kedua usaha ternak sapi perah ini masih
lebih rendah dibanding dengan usaha menjual
rumput gajah sistem tebasan. Memelihara sapi
dengan kepemilikan sebanyak 21 ekor
kebutuhan rumput gajah selama setahun
sebanyak 219 ton, apabila mempunyai lahan
rumput gajah satu hektar dengan jumlah
pemotongan sebanyak 6 kali setahun akan
diperoleh produksi rumput gajah 300 ton. Hasil
pengkajian SIREGAR dan SAJIMIN (1992) yang
disitasi oleh ADIATI (1994) melaporkan bahwa
produksi rumput gajah pada agroekosistem
lahan kering bisa mencapai 226,9 ton/ha/tahun.
Ternak sapi perah yang dikelola peternak di
Kecamatan Getasan dengan populasi terbanyak
terdapat di Desa Samirono, Kecamatan
Getasan, Kabupaten Semarang dengan
kepemilikan terendah 4 ekor dan tertinggi
sampai 40 ekor per peternak. Potensi
sumberdaya lahan yang cocok untuk tanaman
rumput gajah dengan ketersediaan air tanah
dan pupuk kandang dari sapi perah,
merangsang sebagian peternak mengusahakan
rumput gajah secara komersial sebagai pakan
sapi perah.
Peternak memberikan pakan rumput gajah
dalam bentuk segar tanpa proses pengawetan
Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak
60
baik fermentasi, amoniasi maupun dalam
bentuk hay, sehingga diperlukan teknologi
pengolahan dan pengawetan rumput gajah pada
saat produksi melimpah yaitu pada musim
penghujan. Kandungan nutrisi rumput gajah
segar umur 43 56 hari adalah Bahan Kering
(BK) 100%, Abu 15,4%, Ekstrak Eter 2,3%,
Serat Kasar (SK) 33,1% Bahan Ekstrak Tanpa
Nitrogen (BETN) 40,0%, Protein Kasar (PK)
9,1%, Protein Tercerna untuk sapi 5,7% dan
Total Digestible Nutrient (TDN) untuk sapi
51% (HARTADI et al., 1997).
Usaha tanaman hijauan pakan ternak
rumput gajah yang dilakukan peternak di lokasi
tersebut, untuk menjual rumput gajah dengan
sistem tebasan dalam satuan luasan tertentu.
Biaya tebasan rumput biasanya ditanggung
oleh beberapa peternak secara patungan
kemudian rumput hasil pemotongan dibagi rata
atau sesuai dengan kontribusi biaya yang
dikeluarkan. Untuk sistem tebasan dalam satu
hektar pengelola lahan rumput memperoleh
keuntungan bersih sebanyak Rp.
18.540.000/tahun dengan B/C ratio 1,49.
Sedangkan sistem penjualan per ikat rumput
berkisar seberat 50 kg dengan harga Rp.
5000/ikat pada musim kemarau dan Rp
2500/ikat pada musim penghujan dapat
diperoleh keuntungan bersih sebanyak Rp.
7.540.000/tahun, pada Tabel 2. Berarti sistem
penjualan dengan tebasan lebih
menguntungkan dibanding dijual dengan per
ikat rumput. Dengan sistem tebasan apabila
pada tahun ke-dua dan ke-tiga penanaman
rumput juga terjual maka pendapatan yang
diperoleh pada musim kemarau Rp 15.000.000
dan musim penghujan berkisar Rp 12.000.000
dengan asumsi apabila pertumbuhan vegetasi
rumput gajah bagus dan merata dalam satu
hektar.
Tabel 2. Analisa usaha rumput gajah sebagai pakan sapi perah di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang
Tahun 2004
Penjualan dengan sistem tebasan
Uraian Volume Frek Harga Satuan Jumlah
Biaya : (Rp/Ha/th)
Sewa lahan 1 Ha 5.000.000 5.000.000
Pengolahan tanah/ha 10 orang 15 hari 20.000 per hari 3.000.000
Bibit rumput stek/ha 320.000 stek 10 per stek 3.200.000
Pupuk kandang 4 turk/ha 4 truk 250.000 per truk 1.000.000
Pupuk Urea 2 kali/tahun 100 kg/ha 2 1.300 per kg 260.000
Total biaya 12.460.000
Hasil : (Rp/Ha/th)
Tebasan rumput 6 kali/tahun/ha
- Musim kemarau 2 kali potong 2 kali 7.500.000 per ha 15.000.000
- Musim hujan 4 kali potong 4 4.000.000 16.000.000
Pendapatan 31.000.000
Keuntungan 18.540.000
B/C ratio 1,49
BEP 2,49

Penjualan dengan sistem jual per ikat

Uraian Volume Frek Harga Satuan Jumlah
Hasil : (Rp/Ha/th)
satu hektar dipangkas 2 kali MK 1.000 ikat 2 kali 5.000 per ikat 10.000.000
satu hektar dipangkas 4 kali MH 1.000 ikat 4 kali 2.500 10.000.000
Pendapatan 20.000.000
Keuntungan 7.540.000
B/C ratio 0,61
BEP 1,61
Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak
61
Tabel 3. Analisa usaha ternak sapi perah di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang Tahun 2004*).
Uraian Volume Harga (Rp/unit) Nilai (Rp/tahun)
Biaya produksi (Rp/th) :
- Beaya sewa kandang 100 m
2
750 75.000
- Jumlah sapi 18 ekor : -
- Induk 7 ekor 6.500.000 45.500.000
- Dara jantan 4 ekor 4.000.000 16.000.000
- Pedet 7 ekor 2.500.000 17.500.000

Pakan (Rp/th) :
- Rumput gajah 8 ikat 5.000 14.600.000
- Bekatul (kg/hari) 30 kg 850 9.307.500
- Onggok (kg/hari) 30 kg 500 5.475.000
- Tenaga kerja (Rp/hari) 2 orang 10.000 7.300.000
- Obat (Rp/tahun) 1 tahun 50.000 50.000
- Inseminasi Buatan (Rp/tahun) 1 tahun 210.000 210.000
Total biaya 116.017.500

Produksi susu (liter/hari) 105 liter 1.275 48.864.375
- Induk 7 ekor 6.500.000 45.500.000
- Dara jantan 4 ekor 4.000.000 16.000.000
- Pedet 7 ekor 2.500.000 17.500.000
Pendapatan 127.864.375
Keuntungan 11.846.875
B/C 0,10
BEP 1,10
Keterangan: *)Studi kasus pada peternak Bapak Sutarno
Tabel 4. Analisa usaha ternak sapi perah di Kecamatan Getasan, Semarang Tahun 2004*)
Uraian Volume Harga (Rp/unit) Nilai (Rp/tahun)
Beaya produksi (Rp/th) :
- Beaya sewa kandang 100 m
2
750 75.000
- Jumlah sapi 21 ekor : -
- Induk 11 ekor 6.500.000 71.500.000
- Dara jantan 5 ekor 4.000.000 20.000.000
- Pedet 5 ekor 2.500.000 12.500.000

Pakan (Rp/th) :
- Rumput gajah/hari 12 ikat 5.000 21.900.000
- Konsentrat (kg/hari) 50 kg 700 12.775.000
- Bekatul (kg/hari) 25 kg 850 7.756.250
- Tenaga kerja (Rp/bulan) 2 orang 250.000 6.000.000
- Obat (Rp/tahun) 1 tahun 75.000 75.000
- Inseminasi Buatan (Rp/tahun) 1 tahun 250.000 250.000
Total biaya 152.831.250

Produksi susu (liter/hari) 110 liter 1.275 51.191.250
- Induk 11 ekor 6.500.000 71.500.000
- Dara jantan 5 ekor 4.000.000 20.000.000
- Pedet 5 ekor 2.500.000 12.500.000
Pendapatan 155.191.250
Keuntungan 2.360.000
B/C 0,02
BEP 1,02
Keterangan: *)Studi kasus pada peternak Bapak Suyud

Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak
62
Tabel 5. Analisa usahatani ubi kayu konokultur di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang Tahun 2004.

Total Biaya
(Rp/Ha)
Total Produksi
(Kg/Ha)
Harga
(Rp/kg)
BEP
(Kg/Ha)
Nilai Produksi
(Rp/Ha)
Keuntungan
(Rp/Ha)
B/C
Rata-rata 2.154.940 12,028 350 0,59 4.209.647 2.054.706 1,18
Max 4.530.000 17,857 0,86 6.249.950 4.014.236 2,19
Min 1.098.000 7,500 0,39 2.625.000 -592.500 -0,13
Std 1.048.077 3,101 0,11 1.085.363 924.907 0,61
N : 16
Tabel 6. Analisa usahatani kobis di Kecamatan Getasan, Semarang Tahun 2004
Uraian Volume Harga (Rp/unit) Nilai (Rp)
Biaya Tenaga Kerja (Rp/Ha) :
- Beaya sewa lahan 1 Ha 5.000.000
- Pengolahan tanah dan pupuk dasar 212 HOK 10.000 2.116.000
- Tanam 33 HOK 10.000 326.000
- Penyiangan dan pupuk lanjutan 56 HOK 10.000 558.000
- Pengendalian hama/penyakit 100 HOK 10.000 1.000.000
- Panen 75 HOK 10.000 746.000

Saprodi (Rp/Ha) :
- Bibit 29760 Potong 50 1.488.000
- Pupuk kandang 18.6 colt 150.000 2.790.000
- SP-36 258.1 kg 2.000 516.200
- Urea 297.7 kg 1.500 446.550
- ZA 264 kg 1.100 290.400
- Antracol 10 kg 62.000 620.000
- Centary 24 bungkus 21.000 504.000
- Sumi alfa 5.2 botol 21.000 109.200
- Curacron 12.8 botol 21.000 268.800
Total biaya 16.779.150

Pendapatan 22870 kg 570 13.035.900
Keuntungan -3.743.250
B/C -0,22
BEP 0,78
KESIMPULAN
Usahatanam rumput gajah di daerah sentra
ternak sapi perah lebih menguntungkan
dibandingkan dengan usaha tanaman pangan
dan hortikultura apabila sistem usahatani
ditangani dengan baik. Rumput gajah juga
disamping sebagai tanaman pakan ternak juga
sebagai tanaman konservasi lahan, terutama di
daerah bertopografi pegunungan dan berlereng.
DAFTAR PUSTAKA
BIRO PUSAT STATISTIK. 2003. Kabupaten
Semarang Dalam Angka. Biro Pusat Statistik
Kabupaten Semarang, Ungaran.
BPTP UNGARAN. 2000. Peta Agro Ekologikal Zone
Kabupaten Semarang. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Ungaran, Ungaran.
BADAN LITBANG PERTANIAN. 1996. Mengenal
Jenis Hijauan Makanan Ternak. Badan
Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak
63
Penelitian dan Pengambangan Pertanian.
BPTP Gedong Johor, Sumatera Utara.
BUDIMAN H., dan SJAMSIMAR D. 1994. Mengenal
Tanaman Hijauan Pakan Ternak. Pusat
Pustaka Pertanian dan Komunikasi Penelitian.
Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Bogor.
ELLA, A. G. KARTONO dan A.B. LOMPENGEN
ISHAK. 1998. Tinjauan Hasil-Hasil Penelitian
Tanaman Makanan Ternak Menunjang
Ketersediaan Hijauan Pakan di Sulawesi
Selatan. Dalam : Prosiding Seminar Nasional
Peternakan dan Veteriner. 18 19 Nopermber.
P. 262 268. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan, Bogor.
HARTADI, HARI, S. REKSOHADIPRODJO dan A.D.
TILLMAN. 1997. Tabel Komposisi Pakan
untuk Indonesia. Cetakan ke-4. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
RAINMAN INTERNATIONAL V4. 2003. Buereu of
Meteorology Agriculture Western.
Department of Natural Resources and Mines
Queensland Australia.
ADIATI, U. 1994. Peningkatan Pemanfaatan Lahan
Kering dengan Budidaya Hijauan Makanan
Ternak. Dalam Prosiding: Pertemuan Ilmiah
Hasil Penelitian Peternakan Lahan Kering
Malang 26 27 Oktober. Sub Balai Penelitian
Ternak Grati. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
WEBSTER, C.C. and WILSON. 1973. Agriculture in
the Tropics. Long Mans Green Co. Ltd.
London.