Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Organisasi artinya kesatuan susunan yang terdidi atas bagian-bagian dalam
perkumpulan untuk tujuan kelompok kerja sama antara orang-orang yang
diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi antarpemerintah berarti
sebuah lembaga yang anggotanya terdiri atas utusan pemerintah resmi. Organisasi
internasional secara sederhana dapat dimaknai sebagai badan hukum yang
didirikan dua atau lebih negara yang merdeka dan berdaulat. Seluruh negara
anggota terlibat di dalamnya memiliki kepentingan dan tujuan yang sama, yaitu
menciptakan perdamaian abadi dan persahabatan. Organisasi internasional
berkedudukan sebagai organisasi nonnegara, sekaligus menjadi subjek hukum
internasional.
Sejak dahulu hingga kini, banyak organisasi internasional yang telah
didirikan. Organisasi itu memiliki corak dan warna tujuan yang sangat beragam.
Banyak negara yang merasa berkepentingan terhadap keberadaan organisasi,
langsung maupun tidak langsung. Menurut perkembangannya, organisasi
internasional pertama kali muncul pada 1815. Hingga kemudian, pada tahun 1920,
Liga Bangsa-Bangsa (LBB) didirikan oleh beberapa negara. Gagasan pendirian
lembaga penjaga perdamaian berasal dari empat belas butir Wilson. Para anggota
LBB berjanji untuk sanggup menjamin suatu perdamaian dunia yang abadi.
Akan tetapi, peran LBB mengalami kevakuman karena masing-masing
negara-negara anggota yang ikut serta dalam mendirikan LBB keluar dari
keanggotaan LBB, seperti halnya Amerika Serikat. Begitupun di kelompok yang
lain seperti Jepang, Italia, dan Jerman ikut keluar dari keanggotaan LBB, sehingga
LBB tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara efektif. Keadaan
demikian diperparah dengan lahirnya perang dunia ke II yang dijalani oleh
negara-negara yang keluar dari keanggotaan LBB.
Melihat keadaan demikian, muncullah niat dari para petinggi pemerintahan
masing-masing negara untuk kembali membentuk lembaga atau organisasi
2

internasional yang dapat mendukung dan menjamin perdamaian dunia secara
abadi. Hingga pada akhirnya kemudian lahirlah Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) yang dalam pembentukannya melalui tahapan yang cukup alot dan lama.
Terbentuknya organisasi yang bersifat internasional kemudian menjalar kepada
tingkat yang lebih spesifik atau khusus (tingkat regional), seperti lahirnya ASEAN
(organisasi regional tingkat Asia Tenggara). Kedua contoh organisasi itu
merupakan organisasi internasional yang masing-masing mempunyai tujuannya
sendiri.
Dengan menjelaskan secara singkat latar belakang tersebut, kami merasa
tertarik untuk meneruskan pembahasan tersebut ke dalam suatu bentuk penulisan
makalah yang berjudul Organisasi Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dan ASEAN.

1.2 Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan beberapa pokok pemikiran yang dipaparkan di atas terdapat
satu permasalahan utama yang akan dikaji yaitu Bagaimana organisasi
internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ASEAN dapat
bermanfaat bagi Negara-negara di dunia? Agar permasalahan yang akan dikaji
lebih jelas, penulis memberikan batasan permasalahan yang tertuang dalam
bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan
ASEAN?
2. Bagaimana struktur kelembagaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan
ASEAN?
3. Bagaimana fungsi dan peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan
ASEAN?





3

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisanan ini adalah untuk menjawab berbagai
pertanyaan permasalahan yang telah dirumuskan sebagai berikut, yakni untuk
:
1. Mendeskripsikan sejarah berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dan ASEAN.
2. Mendeskripsikan struktur kelembagaan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dan ASEAN.
3. Menjelaskan fungsi dan peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
dan ASEAN.

1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah adalah metode studi pustaka atau literatur
yang berarti mencari dan membahas sumber-sumber baik berupa buku, dan
artikel yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, yang kemudian dikaji
untuk memperoleh jawaban dalam memecahkan permasalahan penelitian.

1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menjelaskan latar belakang masalah mengapa
memilih tema ini. Selain itu, bab ini memuat rumusan dan batasan masalah
yang akan dibahas yang bertujuan agar pembahasan dalam skripsi ini tidak
meluas dari garis yang telah ditetapkan. Bab ini juga memuat tujuan penulisan
yang menjelaskan tentang hal-hal yang akan disampaikan untuk menjawab
semua permasalahan yang telah ditentukan serta hal-hal apa saja yang bisa
diambil dari penulisan ini, serta metode penulisan.

BAB II JENIS-JENIS ORGANISASI INTERNASIONAL
Bab ini merupakan bagian utama dari makalah yang berisi tentang
kajian-kajian seperti yang telah dirumuskan dalam batasan masalah. Adapun
batasan masalahnya adalah mendeskripsikan sejarah berdirinya, struktur
4

kelembagaan dan fungsi dan peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan
ASEAN.

BAB III KESIMPULAN
Merupakan bagian terakhir dari makalah yang berisi pernyataan yang
terangkum dari hasil analisis semua fakta yang berhubungan dengan
permasalahan yang dikaji dari penulis yang diutarakan secara ringkas dan
jelas.























5

BAB II
JENIS-JENIS ORGANISASI INTERNASIONAL

2.1 Sejarah Singkat Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah sebuah organisasi internasional
yang anggotanya hampir seluruh Negara di dunia. Lembaga ini dibentuk untuk
memfasilitasi hukum internasional, pengamanan internasional, lembaga ekonomi,
dan perlindungan sosial.
Pada tahun 1915 Amerika Serikat (AS) berhasil menuangkan suatu konsep
yang dirumuskan oleh beberapa tokoh di Inggris mengenai pembentukan Liga
dengan tujuan untuk menghindarkan ancaman peperangan. Konferensi
berpendapat bahwa melalui organisasi internasional dapat dijamin perdamaian
internasional. Atas usulan Presiden AS, Woodrow Wilson pada tanggal 10
Januari 1920 dibentuk suatu organisasi internasional yang diberi nama Liga
Bangsa-Bangsa. Tujuan dari Liga Bangsa-Bangsa ini adalah mempertahankan
kedamaian internasional dan meningkatkan kerja sama internasional (Budiyanto,
2007 : 131).
Tugas dari Liga Bangsa-Bangsa adalah menyelesaikan sengketa secara
damai, sehingga peperangan dapat dicegah. Ada beberapa hasil dari Liga Bangsa-
Bangsa. Misalnya, Perjanjian Locarno (1925) dan Perjanjian Kallog Briand
(1928). Akan tetapi, LBB tidak mampu menciptakan perdamaian dunia. Perang
Dunia II pun meletus. Hal ini terjadi karena munculnya kekuasaan kaum Nazi di
bawah pimpinan Hitler (Jerman), dan kaum Facis yang dipimpin Mussolini dari
Italia, serta imperialis Jepang yang sudah mengkhianati isi Liga Bangsa-Bangsa.
Pada saat Perang Dunia II berkecamuk, sangat dibutuhkan organisasi
dunia untuk mengadakan kerja sama antarbangsa untuk mengatasi kerusuhan yang
melanda dunia. Presiden AS, Franklin Delano Rosevelt dan PM Inggris, Winston
Curchill telah mengadakan pertemuan yang menghasilkan Piagam Atlantik yang
isinya sebagai berikut :


6

Tidak melakukan perluasan wilayah di antara sesamanya.
Menghormati hak setiap bangsa untuk memilih bentuk pemerintahan dan
menentukan nasib sendiri.
Mengakui hak semua Negara untuk turut serta dalam perdagangan dunia.
Mengusahakan terbentuknya perdamaian dunia di mana setiap bangsa
berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup bebas dari rasa takut dan
kemiskinan.
Mengusahakan penyelesaian sengketa damai

Pokok-pokok Piagam Atlantik itu pada tanggal 14 Agustus 1941 menjadi
dasar konferensi-konferensi internasional dalam menyelesaikan perang dunia
kedua dan menuju pembentukan PBB. Beberapa pertemuan sebelum terbentuknya
PBB antara lain adalah sebagai berikut :
Tanggal 30 Oktober 1943, di Moskow dilahirkan Deklarasi Moskow
tentang keamanan umum yang ditandatangani oleh Inggris, USA, Rusia,
Cina yang mengakui pentingnya organisasi internasional perdamaian
dunia.
Tanggal 21 Agustus 1944, di Washington DC dilangsungkan Konferensi
Dumbarton Oaks yang diikuti 39 negara yang membahas tentang rencana
mendirikan PBB. Pada pertemuan Dumbarton Oaks, Washington DC, 21
Agustus-7 Oktober 1945, dipersiapkan Piagam PBB.
Piagam PBB ditandatangani di San Fransisco tanggal 26 Juni 1945 dan
mulai berlaku tanggal 24 Oktober 1945. Penandatanganan piagam itu
diikuti oleh 50 negara, yaitu 47 negara penandatangan Declaration of
United Nations ditambah dengan Negara Ukraina, Belarusia dan
Argentina.
Sejak didirikan di San Fransisco pada tanggal 24 Oktober 1945 sedikitnya
191 negara telah menjadi anggota PBB. Negara Indonesia masuk pertama
kali menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1950, kemudian
keluar pada tanggal 7 Januari 1965 dan masuk kembali pada tanggal 28
September 1966.
7

2.2 Struktur Kelembagaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Konferensi San Fransisco menghasilkan suatu piagam yang menyebutkan
organ utama PBB, yaitu Majelis Umum, Dewan Keamanan, Dewan Ekonomi dan
Sosial, Dewan Perwakilan, Mahkamah Internasional, dan Sekretariat Jenderal.
1. Majelis Umum
Majelis Umum PBB atau Sidang Umum PBB adalah salah satu dari enam
badan utama PBB. Majelis ini terdiri atas anggota dari seluruh Negara anggota
dan bertemu setiap tahun di bawah pimpinan seorang Presiden Majelis Umum
PBB yang dipilih dari wakil-wakil.
Tugas dan kekuasaan Majelis Umum sangat luas, yaitu sebagai berikut :
1. Berhubungan dengan perdamaian dan keamanan internasional,
2. Berhubungan dengan kerja sama ekonomi, kebudayaan, pendidikan,
kesehatan dan perikemanusiaan.
3. Berhubungan dengan perwakilan internasional.
4. Berhubungan dengan keuangan.
5. Penetapan keanggotaan dan mengadakan perubahan piagam.

2. Dewan Keamanan
Dewan Keamanan PBB adalah badan terkuat di PBB. Tugasnya adalah
menjaga perdamaian dan keamanan antarnegara. Sedangkan badan PBB lainnya
hanya dapat memberikan rekomendasi kepada para anggota. Dewan Keamanan
mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan para
anggota di bawah Piagam PBB.
Dewan Keamanan terdiri dari lima anggota tetap yang mempunyai hak
veto, yakni Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Perancis dan China, ditambah dengan
10 anggota tidak tetap yang dipilih untuk masa 2 tahun oleh Majelis Umum.
Hak Veto adalah hak untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan
oleh PBB atau Dewan Keamanan PBB.



8

3. Dewan Ekonomi dan Sosial
Dewan Ekonomi dan Sosial beranggotakan 18 negara. Berdasarkan
amandemen 1971 yang diberlakukan pada 1975, jumlah anggota ECOSOC
bertambah menjadi 54 negara. Dewan Ekonomi dan Sosial dipilih oleh Sidang
Umum untuk masa tiga tahun dan bersidang sedikitnya tiga kali dalam setahun.
Tugas ECOSOC adalah sebagai berikut :
1) Bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan sosial
yang digariskan oleh PBB.
2) Mengembangkan ekonomi, sosial dan budaya.
3) Memupuk hak asasi manusia.
4) Mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dari bidang khusus dengan
berkonsultasi dan menyampaikannya pada sidang umum anggota PBB.

4. Dewan Perwakilan
Dewan Perwakilan terdiri atas : a) anggota yang menguasai daerah
perwakilan ; b) anggota tetap Dewan Keamanan, dan c) sejumlah anggota yang
dipilih untuk selama tiga tahun oleh Sidang Umum PBB. Dewan Perwakilan ini
menjadi organ PBB yang serius memperjuangkan kemerdekaan bagi Negara yang
belum menikmati kemerdekaan.

5. Mahkamah Internasional
Mahkamah Internasional merupakan badan perlengkapan PBB yang
berkedudukan di Den Haag (Belanda). Anggota Mahkamah Internasional terdiri
atas ahli hukum dan berbagai Negara anggota PBB. Masa jabatannya 9 tahun.
Tugas dan tanggung jawab utama Mahkamah Internasional adalah :
a) Memeriksa perselisihan di antara Negara anggota PBB ;
b) Memberikan saran dan pendapat kepada Dewan Keamanan dan Majelis
Umum PBB bila diminta dan diperlukan ;
c) Mendesak Dewan Keamanan untuk bertindak tegas terhadap salah satu
pihak yang berselisih dan tidak menghiraukan keputusan Mahkamah
Internasional.
9

6. Sekretariat PBB
Sekretariat PBB yang terdiri atas beberapa bagian.
a) Sekretaris Jenderal dipilih oleh Sidang Umum atas usul Dewan
Keamanan dan dapat dipilih kembali dalam pemilihan berikutnya.
b) Sekretaris Jenderal Pembantu yang terdiri atas 8 sekretaris pembantu
yang mengepalai satu departemen.

2.3 Fungsi dan Peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Fungsi dan peranan PBB dalam kancah internasional sangat dibutuhkan
bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Berikut ini adalah fungsi dan
peranan PBB :
Memelihara perdamaian dan keamanan dunia.
Mengembangkan hubungan persahabatan antarbangsa berdasarkan
asas-asas persamaan derajat, hak menentukan nasib sendiri, dan tidak
mencampuri urusan dalam negeri Negara lain.
Mengembangkan kerjasama internasional dalam memecahkan
masalah-masalah ekonomi, sosial, budaya dan kemanusiaan.
Menyelesaikan perselisihan dengan cara damai dan mencegah
timbulnya peperangan.
Memajukan dan menghargai hak asasi manusia serta kebebasan atau
kemerdekaan fundamental tanpa membedakan warna, kulit, jenis
kelamin, bahasa dan agama.
Menjadikan pusat kegiatan bangsa-bangsa dalam mencapai kerjasama
yang harmonis untuk mencapai tujuan PBB.

2.4 Sejarah Singkat Berdirinya ASEAN
ASEAN adalah singkatan dari Asociation of Southeast Asian Nations
atau Persatuan Negara-negara Asia Tenggara. ASEAN didirikan oleh lima Negara
pemrakarsa, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand di
Bangkok melalui Deklarasi Bangkok. Menteri luar negeri penandatangan
Deklarasi Bangkok waktu itu adalah Adam Malik (Indonesia), Narciso Ramos
10

(Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat
Khoman (Tahiland).
Sejarah pembentukan ASEAN didasarkan pada kepentingan bersama
dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, faktor internal, dan faktor kesternal.
Faktor Internal, yaitu adanya tekad bersatu untuk memperjuangkan
kepentingan bersama dan sama-sama bekas jajahan Negara barat.
Faktor Eksternal, yaitu adanya perang Vietnam dan sikap RRC ingin
mendominasi Asia Tenggara.
Brunei Darussalam adalah Negara yang menjadi anggota pertama
ASEAN di luar lima Negara pemrakarsa yang bergabung pada tanggal 8 Januari
1984. Sebelas tahun kemudian, ASEAN kembali menerima anggota baru, yaitu
Vietnam yang menjadi anggota ketujuh pada tanggal 28 Juli 1995. Dua tahun
kemudian Laos dan Myanmar menyusul masuk menjadi anggota ASEAN, yaitu
pada tanggal 23 Juli 1997. Disusul dua tahun kemudian, Kamboja masuk pula
menjadi anggota ASEAN pada tanggal 30 April 1999.

2.5 Struktur Kelembagaan ASEAN
Struktur organisasi ASEAN diberdayakan untuk memperlancar tugas dan
tujuan pendirian ASEAN. Berikut ini adalah struktur organisasi ASEAN setelah
pertemuan KTT Bali tahun 1976, yaitu :
a) Summit Meeting (Pertemuan para kepala pemerintahan) yang merupakan
otoritas atau pemegang kekuatan tertinggi dalam ASEAN.
b) Annual Ministrial Meeting (Sidang tahunan para menteri luar negeri).
c) Sidang para menteri ekonomi yang diselenggarakan setahun dua kali.
d) Sidang para menteri lainnya (non-ekonomi).
e) Standing Comitee, badan yang bertugas membuat keputusan dan
menjalankan tugas perhimpunan di antara dua sidang tahunan.
f) Komite-komite, yang dibagi menjadi dua bidang yaitu, ekonomi dan non-
ekonomi.

11

2.6 Fungsi dan Peranan ASEAN bagi Negara-negara di Kawasan Asia
Tenggara
Fungsi dan Peranan ASEAN, pada dasarnya telah tertuang dalam dasar
pembentukan ASEAN dan juga pada Deklarasi Bangkok tahun 1967 yang
menjadi tujuan jangka panjang kinerja ASEAN.
Dasar pembentukan ASEAN didasarkan pada hal-hal berikut.
1) Saling menghormati terhadap kemerdekaan, integrasi teritorial, dan
identitas semua bangsa.
2) Mengakui hak setiap bangsa untuk penghidupan nasional yang bebas dari
turut campur urusan subversi dan intervensi dari luar.
3) Tidak saling turut campur urusan dalam negeri masing-masing.
4) Penyelesaian pertengkaran dan persengketaan secara damai.
5) Tidak mempergunakan ancaman/penggunaan kekuatan.
6) Menjalankan kerjasama secara aktif.

Isi Deklarasi Bangkok tahun 1976, yang juga menjadi tujuan jangka
panjang ASEAN.
1) Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan perkembangan
kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
2) Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dengan jalan
menghormati keadilan dan tata tertib hukum.
3) Meningkatkan kerjasama yang aktif di bidang ekonomi, sosial-budaya,
teknik, ilmu pengetahuan dan administrasi.
4) Saling memberi bantuan dalam bentuk sarana-sarana latihan dan
penelitian.
5) Memelihara kerjasama yang erat dan bermanfaat dengan organisasi-
organisasi internasional dan regional.




12

BAB III
KESIMPULAN


3.1 Kesimpulan
Organisasi internasional adalah badan hukum yang didirikan dua atau
lebih negara yang merdeka dan berdaulat. Seluruh negara anggota terlibat di
dalamnya memiliki kepentingan dan tujuan yang sama, yaitu menciptakan
perdamaian abadi dan persahabatan. Organisasi internasional berkedudukan
sebagai organisasi nonnegara, sekaligus menjadi subjek hukum internasional.
Organisasi internasional yang pertama adalah Liga Bangsa-Bangsa (LBB) tahun
1920 yang kemudian menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1945.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan sebuah organisasi
internasional yang dibentuk untuk memfasilitasi hukum internasional,
pengamanan internasional, lembaga ekonomi, dan perlindungan sosial. Pada
intinya, PBB juga dapat disebut sebagai organisasi internasional perdamaian
dunia. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PBB dibantu oleh beberapa
lembaga lainnya seperti yang telah tertuang dalam pembahasan. Lembaga-
lembaga tersebut bergerak sesuai bidangnya. Akan tetapi, dalam beberapa
masalah terkadang PBB kurang dapat memperlihatkan perannya sebagai
organisasi perdamaian dunia, seperti halnya pada konflik Israel-Palestina.
Sehingga hal ini mengundang opini dari beberapa Negara anggota PBB, yang
terkesan tidak ikut campur dalam hal tersebut.
Dalam tingkat yang lebih spesifik (khusus), terdapat organisasi seperti
PBB, hanya saja organisasi ini bergerak dalam kawasan regional atau kedaerahan,
yaitu ASEAN. Seperti halnya PBB, ASEAN pun menginginkan Negara-negara
yang terdapat dalam kawasan Asia Tenggara dapat menjalin kerjasama dalam
berbagai bidang seperti bidang ekonomi, sosial-budaya, teknik, ilmu pengetahuan
dan administrasi. Untuk mencapai hal itu, diperlukan kesungguhan dari seluruh
Negara peserta agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai.

13

DAFTAR PUSTAKA


Budiyanto. (2007). Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas XI. Jakarta :
Erlangga.
Sutrisni, T, Nurida, N dan Sutisna, K. (2010). Pendidikan Kewarganegaraan
untuk SMK Kelas XI. Bandung :