Anda di halaman 1dari 5

Merenungi subuhku

Disusun untuk memenuhi tugas seleksi


Forum Lingkar Pena

Disusun oleh :

Syarafina Hanifah 12829

SMA NEGERI I YOGYAKARTA


YOGYAKARTA
November, 2009
Merenungi Subuhku

“Subuh..subuh..bangun..bangun,” suara abi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar dan


melagukan kalimatnya berulang-ulang.
“Hoahm..,” aku tergeragap. Dan yang kudapati di kamar adalah dinding putih yang
kosong. Tidak ada abi. Ternyata cuma mimpi abi membangunkanku, kupikir aku kangen dengan
suasana rumah. Seketika aku merenung mengenang suasana subuh di rumah ketika aku tiba-tiba
tersentak mendapati jamku menunjukkan pukul 05.35 dan yang paling penting adalah aku belum
sholat subuh! Ya Allah.
Aku langsung lari menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu cepat-cepat sholat subuh.
Sholat apa ini aku jam segini, aku tertawa dalam hati. Sedikit ku merenung dan beristighfar.
Terkadang aku memikirkan kenapa subuhku selalu saja terlambat, tapi setelahnya aku pasti
sudah lupa lagi kesalahanku tiap pagi itu. Astaghfirullah.
Segera kulipat mukena, dan aku kembali melanjutkan rutinitas pagiku yaitu bersiap-siap
ke sekolah, mandi, menata buku pelajaran, dsb. Rutinitas yang kuanggap membosankan, terlihat
monotone. Tapi memang ini kan kewajiban sebagai seorang pelajar terlebih seperti aku yang
sudah memutuskan untuk sekolah di luar kota, jauh dari orang tua, dan berusaha hidup mandiri.
Ya namaku fira, aku adalah seorang anak perantauan yang hijrah dari Solo ke kota
kembang ini, Bandung. Aku bersekolah di SMA N 1 Bandung dan sekarang aku menduduki
bangku kelas XI. Jauh memang kalau dipikir-pikir, tapi tak apalah itung-itung buat nyari
pengalaman dan teman baru.
Berangkat dari rumah diiringi doa dan harapan dari semua keluarga terutama orang
tuaku, teman-teman, guru-guru, tetangga-tetangga (haha,sebut saja semua orang satu kompleks).
Kumantapkan niat dan hatiku. Bismillah. Jadi disini aku harus rajin dan giat masuk sekolah,
tidak tega menghancurkan harapan yang mereka titipkan padaku.
♥♥♥
Jam 06.50, aku harus cepat-cepat berangkat sekolah sebelum gerbang ditutup dan harus
diwawancara sama pak kepsek berkumis lebat itu. Anak-anak sih biasa memanggil Pak Kumis.
Hahaha, aku tertawa sendiri dalam hati. Kepsek satu ini hobi banget ngasi sarapan pagi buat
murid-murid tersayangnya. Menunya bisa milih, mau lari lapangan 20x, push-up 100x, atau yang
lebih parah harus berjemur di tengah lapangan yang panas dengan satu kaki. Memang disiplin
sekali orang ini. Fuh gila nggak bisa telat meen.
Dan aku berhasil sampai di kelas 1 menit sebelum bel masuk. Berhasil melewati pak
kepsek dengan menerapkan sistem 5S yang manjur banget buat meluluhkan hati beliau. Jiah
lebay ini.
♥♥♥
Jam 11.55, bel pulang kurang 5 menit lagi. Aku tidak sabar menantikannya karena hari
ini aku akan pulang ke Solo. Senangnya pulang ke rumah, batinku.
Sampai kost segera aku bersiap-siap pulang, memasukkan barang-barang yang harus
kubawa, sholat dzuhur jama’ ashar, lalu segera pergi ke stasiun. Keretaku berangkat jam 13.00,
harus cepat-cepat kalau nggak mau ketinggalan.
Sampai stasiun,
“Pak kereta yang ke Solo belum berangkat kan?” tanyaku kepada seorang bapak petugas.
“Belum atuh neng, 10 menit lagi baru berangkat,” jelas bapak petugas itu kepadaku. Aku
lega mendengarnya.
♥♥♥
Perjalanan yang cukup memakan waktu. Sampai rumah pukul 21.00 malam. Langsung
bersih-bersih, sholat maghrib jama’ isya’ langsung mendarat di kasur. Capek sekali. Paginya bisa
dipastikan subuhku telat lagi. Selalu begitu. Umiku langsung mengeuarkan argumennya.
“Fir, kamu itu dari dulu kenapa nggak pernah berubah ya. Subuh telat terus. Nggak malu
sama Allah?” panjang lebar umiku bicara.
Aku hanya berkelit, ”Kan ini tadi aku masih kecapekan makanya kesiangan.”
“Sholat itu tepat waktu, biar minta apa-apa dimudahkan Allah,” tambah umiku lagi yang
langsung beranjak ke dapur. Sepertinya sudah mulai malas berdebat denganku kerena aku pasti
tidak mau kalah.
Sepeninggal umiku, aku hanya bisa merenung sendiri. Aku juga heran, kenapa subuhku
nggak pernah bisa tepat waktu ya. Dengar adzan malah tambah merem. Ternyata bisikan syetan
lebih kuat daripada niatku untuk sholat subuh. Pantas aja subuh dianggap yang paling susah
dikerjakan meskipun hanya 2 rakaat saja. Aku juga tidak pernah merasakan pergantian malaikat
yang memberi berbagai rezeki tiap subuh.
“Fir!” panggil abiku membuyarkan lamunanku.
“Kenapa bi?” jawabku.
“Nih abi punya buku bagus, dibaca ya!” kata abiku sebelum pergi.
Kubaca judul buku yang bersampul biru tua itu “Rahasia Sholat Subuh”. Aku menghela
nafas panjang. Subuh lagi, kupikir.
♥♥♥
Senin pagi masih di Solo,
Kebetulan hari libur nasional jadi aku belum berencana balik ke Bandung. Dan pagi ini,
subuhku telat lagi. Astaghfirullah. Tapi ada yang membuatku heran, abi dan umi tidak ada yang
berkomentar seperti biasanya. Baguslah kalau begitu, kataku dalam hati.
Tiba-tiba di tengah sarapan pagi,
“Fir, bukunya kemaren udah dibaca belum?” tanya abi membuka pembicaraan.
“Baru sedikit, belum selesai,” jawabku sambil tetap makan.
“ Tapi udah tau kan sekilas isinya?” tanya abi lagi.
“Hmm..ya,” dengan malas aku menanggapinya.
Tiba-tiba umiku mulai ikut buka suara, “Kamu gimana tho ndug, dari kecil kok ya nggak
berubah, subuh telat terus. Dan lihat kamu sekarang. Sekolah di Bandung, jadi kayak gini, mulai
berani ngelawan abi dan umi, pakaian juga mulai ikut-ikut sok gaul. Kalau hafalanmu gimana?
Sudah hilang? Percuma dong waktu SMP abi dan umi banting tulang buat menyekolahkanmu di
sekolah Islam, hasilnya sama aja. Kamu nggak bisa njaga.”
Aku cuma bisa bilang “iya”. Keluargaku adalah keluarga yang tahu tentang agama.
Abiku sering memberikan pengajian. Semua kakak dan adikkku di sekolahkan di sekolah Islam,
tapi aku ingin sekali-kali beda. Sekali-kali masuk sekolah negeri dan aku berhasil membujuk
mereka.
“Pokoknya diingat, mulai sekarang subuh jangan telat lagi. Hafalanmu ditambah. Jangan
sia-siakan kepercayaan yang sudah abi dan umi berikan ke kamu,” lanjut umiku yang kujawab
dengan “iya” lagi.
“Daritadi iya-iya terus, jangan-jangan itu masuk telinga kanan langsung keluar telinga
kiri,” kata umiku yang membuat aku jengkel karena jujur aku paling nggak suka dimarahi.
Segera saja kujawab, “Apa sih mi, Fira ngerti kok!” tanpa sadar dengan nada tinggi. Langsung
saja umi kembali menjawab, “Tuh kan baru tadi diingatkan sekarang sudah mulai berani
ngelawan orang tua.”
♥♥♥
Selasa jam 05.00 di Bandung,
Ringtone hapeku mulai berbunyi. Aku hanya mendengarkannya saja sambil mataku
masih merem. Berkali-kali bunyinya nggak berhenti. Akhirnya kuambil hapeku untuk
mematikannya karena kupikir alarm ketika kusadari ternyata itu adalah telepon dari umiku.
Langsung saja aku bangun dengan sangat sadar. Duh aku belum subuh lagi, rutukku.
“Assalamualaikum Fir, kamu belum subuh kan?” tanya umiku tanpa basa-basi. Dan aku
paling tidak bisa berbohong sama orang tuaku. Kujawab dengan hati-hati, “Belum mi.” Dan tiba-
tiba telepon langsung dimatikan umiku. Tuut..tuut..tuut. Lalu aku segera ambil wudhu dan sholat.
♥♥♥
Rabu pagi, umiku kembali menelepon untuk mengecek dan hasilnya bisa ditebak.
Subuhku telat lagi. Ya Allah. Aku kembali merenungi subuhku, mulai besok aku nggak boleh
telat lagi, tekadku dalam hati.
Maghrib umiku kembali menelepon untuk mengecek dan kebetulan aku belum sholat
maghrib padahal adzan sudah lewat setengah jam yang lalu. Aku sibuk bermain internet. Sengaja
telepon tidak kuangkat. Aku segera berlari untuk sholat. Aku sempat berpikir, kenapa aku lebih
takut kepada manusia ya daripada sama Allah. Selesai sholat maghrib, umiku kembali
menelepon. Memang feeling ibu yang paling kuat. Umi tahu aku baru selesai sholat padahal
sudah jam 18.30. Umiku benar-benar marah kali ini, “Kalau kamu tetap gini, selesai semester 1
kamu pindah ke Solo aja, umi lebih bisa ngawasi kamu. Sholat tu cuma berapa menit sih?
Luangkan waktumu 5 menit saja cukup untuk Allah nak!”dan telepon langsung ditutup.
Aku memikirkan kata-kata “Luangkan 5 menit waktumu untuk Allah”. Ya hanya 5 menit,
kenapa aku nggak bisa ya. Malam ini aku mengulangi niatku tadi pagi, besok harus tepat waktu.
♥♥♥
Dan paginya, aku senang sekali, subuhku jam 04.30. Sekalipun tidak setelah adzan tapi
itu masih masuk waktu subuh. Aku bisa. Pagi ini umiku tidak telepon, mungkin masih marah,
pikirku. Aku segera SMS “mi, Fira minta maaf ya yang semalam, pagi ini aku subuhnya nggak
telat lagi.” Laporan delivered membuatku bertekad kembali untuk tidak hanya hari ini tapi
seterusnya aku tidak boleh telat lagi. Dan aku tersenyum simpul.