Anda di halaman 1dari 7

1

HISTEREKTOMI VAGINALIS
a. DEFINISI
Histerektomi adalah suatu prosedur operatif dimana seluruh organ dari
uterus diangkat. Histerektomi merupakan suatu prosedur non obstetrik untuk wanita di
negara Amerika Serikat.

b. TUJUAN
Balasan terbanyak dilakukan histerektomi karena Mioma uteri. Selain itu adanya
perdarahan uterus abnormal, endometriosis, prolaps uteri (relaksasi pelvis) juga
dilakukan histerektomi. Hanya 10 % dari kasus histerektomi dilakukan pad a pasien
dengan karsinoma. Artikel ini difokuskan secara primer untuk penggunaan histerektomi
non kanker, non emergency yang mana melibatkan keputusan yang lebih menantang
untuk wanita dan dokter-dokternya. Fibrosis uteri (dikenal juga leiomioma) merupakan
alasan terbanyak dilakukannya histerektomi. Leiomioma merupakan suatu perkembangan
jinak (benigna) dari sel-sel otot uterus, namun etiologinya belum diketahui. Meskipun
jinak dimana artinya tidak menyebabkan/berubah menjadi kanker, leiomioma ini dapat
menyebabkan masalah secara medis, seperti perdarahan yang banyak, yang mana kadang-
kadang diperlukan tindakan histerektomi. Relaksasi pelvis adalah kondisi lain yang
menentukan tindakan histerektomi. Pada kondisi ini wanita mengalami pengendoran dari
otot-otot penyokong dan jaringan disekitar area pelvik. pengendoran ini dapat
mengarah ke gejala-gejala seperti inkontensia urine (Unintensional Loss of Urine) dan
mempengaruhi kemampuan seksual. Kehilangan urine ini dapat dicetuskan juga oleh
bersin, batuk atau tertawa. Kehamilan mungkin melibatkan peningkatan resiko dari
relaksasi pelvis, meskipun tidak ada alasan yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut.
Histerektomi juga dilakukan untuk kasus-kasus karsinoma uteri/beberapa pre karsinoma
(displasia). Histerektomi untuk karsinoma uteri merupakan tujuan yang tepat, dimana
menghilangkan jaringan kanker dari tubuh. Prosedur ini merupakan prosedur dasar untuk
penatalaksanaan karsinoma pada uterus. Untuk kasus-kasus nyeri pelvis, wanita biasanya
tidak dianjurkan untuk di histerektomi. Namun penggunaan laparaskopi atau prosedur
invasif lainnya digunakan untuk mencari penyebab dari nyeri tersebut. Pada kasus-kasus
perdarahan abnormal uterus, bila dibutuhkan tindakan histerektomi, wanita/pasien
2

tersebut dibutuhkan suatu sample dari jaringan uterus (biopsi endometrium). Untuk
mengetahui ada tidaknya jaringan karsinoma/pre karsinoma dari uterus tersebut. Prosedur
ini sering disebut sample endometriae. Pada wanita nyeri panggul/perdarahan percobaan
pemberian terapi secara medikamentosa sering diberikan sebelum dipikirkan
dilaksanakan histerektomi.
Maka dari itu wanita pada stadium pre menopause (masih punya periode menstrual
reguler) yang mempunyai leiomioma dan menyebabkan perdarahan namun tidak
menyebabkan nyeri, terapi Hormonal lebih sering dianjurkan daripada tindakan
histerektomi. Jika wanita tersebut mempunyai perdarahan yang banyak sehingga
menyebabkan gangguan pada aktifitas sehari-hari, berlanjut menyebabkan anemia, dan
tidak mempunyai kelainan pada sampel endometriae, ia bisa dipertimbangkan untuk
dilakukan histerektomi.
Pada wanita menopause (yang tidak mengalami periode menstrual secara permanen)
dimana ia tidak ditemukan kelainan pada sample endometriumnya namun ia mempunyai
perdarahan abnormal yang persisten, setelah pemberian terapi hormonal dapat
dipertimbangkan dilakukan histerektomi. Penyesuaian dosis/tipe dari hormon juga
dibutuhkan saat diputuskan penggunaan terapi secara optimal pada beberapa wanita.

c. CARA HISTEREKTOMI
Biasanya, histerektomi dilakukan dengan suatu insisi (memotong melalui dinding
abdomen) abdominal histerektomi atau lewat vagina (vaginalis histerektomi). Perawatan
di Rumah Sakit biasanya lebih lama abdominal histerektomi daripada vaginal
histerektomi (4-6 hari rata-rata) dan biaya juga lebih banyak. Prosedur ini lebih memakan
waktu (sekitar 2 jam, kecuali uterus tersebut berukuran lebih besar pada vaginal
histerektomi ) justru lebih lama.

d. JENIS-JENIS HISTEREKTOMI
Begitu banyak teknik-teknik operasi pada tindakan histerektomi. Prosedur operatif
ideal pada wanita bergantung pada kondisi mereka masing-masing. Namun jenis-jenis
dari histerektomi ini dibicarakan pada setiap pertemuan mengenai teknik apa yang
dilakukan dengan pertimbangan situasi yang bagaimana. Namun keputusan terakhir
3

dilakukan dengan diskusi secara individu antara pasien dengan dokter-dokter yang
mengerti keadaan pasien tersebut.
Perlu diingat aturan utama sebelum dilakukan tipe histerektomi, wanita harus melalui
beberapa test untuk memilih prosedur optimal yang akan digunakan :
1. Pemeriksaan panggul lengkap (Antropometri) termasuk mengevaluasi uterus di
ovarium.
2. Papsmear terbaru.
3. USG panggul, tergantung pada temuan diatas.

- Histerektomi Abdominal Totalis
Ini merupakan suatu tipe Histerektomi yang sangat dan sering dilakukan. Selama
histerektomi abdominalis totalis, dokter-dokter sering mengangkat uterus bersama servik
sekaligus. Parut yang dihasilkan dapat berbentuk horizontal atau vertikal, tergantung dari
alasan prosedur tersebut dilakukan dan ukuran atau luasnya area yang ingin di terapi.
Karsinoma ovarium dan uterus, endometriosis, dan mioma uteri yang besar dapat
dilakukan histerektomi jenis ini. Selain itu histerektomi jenis ini dapat dilakukan pada
kasus-kasus nyeri panggul, setelah melalui suatu pemeriksaan serta evaluasi penyebab
dari nyeri tersebut, serta kegagalan terapi secara medikamentosa. Setelah dilakukan
prosedur ini wanita tidak dapat mengandung seorang anak. Maka dari itu metode ini tidak
dilakukan pada wanita usia reproduksi, kecuali pada kondisi-kondisi yang sangat serius
seperti karsinoma. Histerektomi abdominal totalis memperbolehkan operator
mengevaluasi seluruh kavum abdomen serta panggul, dimana sangat berguna pada
wanita-wanita dengan karsinoma atau penyebab yang tidak jelas.

- Histerektomi Vaginalis
Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat uterus melalui vagina. Vaginal
histerektomi ini merupakan suatu metode yang cocok hanya pada kondisi-kondisi seperti
prolaps uteri, hiperplasi endometrium, atau displasia servikal. Kondisi ini dapat dilakukan
apabila uterus tidak terlalu besar, dan tidak membutuhkan suatu prosedur evaluasi
operatif yang luas. Wanita diposisikan dengan kedua kaki terangkat pada meja litotomi.
wanita yang belum pernah mempunyai anak mungkin tidak mempunyai kanalis vaginalis
4

yang cukup lebar, sehingga tidak cocok dilakukan prosedur ini. Jika wanita tersebut
mempunyai uterus yang sangat besar, ia tidak dapat mengangkat kakinya pada meja
litotomi dalam waktu yang lama atau alasan lain mengapa hal tersebut terjadi, dokter-
dokter biasanya mengusulkan histerektomi secara abdominalis. Secara keseluruhan
histerektomi vaginal secara laparaskopi lebih mahal dan mempunyai komplikasi yang
sangat tinggi dibanding histerektomi secara abdominal.

- Histerektomi Vaginal dengan Bantuan Laparoskopi
Metode jenis ini sangat mirip dengan metode histerektomi secara vaginal hanya saja
ditambah dengan alat berupa laparoskopi. Sebuah laparoskopi adalah suatu tabung yang
sangat tipis dimana kita dapat melihat didalamnya dengan suatu kaca pembesar di
ujungnya. Pada wanita-wanita tertentu penggunaan laparaskopi ini selama histerektomi
vaginal sangat membantu untuk memeriksa secara teliti kavum abdomen selama operasi.
Penggunaan laparoskopi pada pasien-pasien karsinoma sangat baik bila dilakukan pada
stadium awal dari kanker tersebut untuk mengurangi adanya penyebaran atau jika
direncanakan suatu oovorektomi. Dibandingkan dengan vaginalis Histerektomi atau
abdominal, metode ini lebih mahal dan lebih riskan terjadinya komplikasi, pengerjaannya
lama dan berhubungan dengan lamanya perawatan di Rumah Sakit seperti pada vaginal
histerektomi uterus tidak boleh terlalu besar. Dokter juga perlu melihat kembali keadaan
medis untuk memastikan tidak terjadinya resiko yang diinginkan saat metode ini
dilakukan, seperti jaringan parut yang luas (adhesi). Jika wanita tersebut mempunyai
resiko adhesi, atau ia mempunyai suatu massa panggul yang besar, histerektomi secara
abdominal sangatlah cocok.

- Histerektomi Supraservikal
Supraservikal Histerektomi digunakan untuk mengangkat uterus sementara serviks
ditinggal. Serviks ini adalah suatu area yang dibentuk oleh suatu bagian paling dasar dari
uterus, dan berada di bagian akhir (atas) dari kanalis vaginalis. Prosedur ini kemungkinan
tidak berkembang menjadi karsinoma endometrium terutama pada bagian serviks yang
ditinggal.
5

Wanita yang mempunyai hasil papsmear abnormal atau kanker pada daerah serviks
tidak cocok dilakukan prosedur ini. Wanita lain dapat melakukan prosedur ini jika tidak
ada alasan yang jelas untuk mengangkat serviks. Pada beberapa kasus serviks lebih baik
ditinggal seperti pada kasus-kasus endometriosis. Prosedur ini merupakan prosedur yang
sangat simple dan membutuhkan waktu yang singkat. Hal ini dapat memberikan suatu
keuntungan tambahan terhadap vagina, juga menurunkan resiko terjadinya suatu protrusi
lumen vagina (Vaginal prolaps).

- Histerektomi Radikal
Prosedur ini melibatkan operasi yang luas dari pada histerektomi abdominal totalis,
karena prosedur ini juga mengikut sertakan pengangkatan jaringan lunak yang
mengelilingi uterus serta mengangkat bagian atas dari vagina. Radikal histerektomi ini
sering dilakukan pada kasus-kasus karsinoma serviks stadium dini. Komplikasi lebih
sering terjadi pada histerektomi jenis ini dibandingkan pada histerektomi tipe abdominal.
Hal ini juga menyangkut perlukaan pada usus dan sistem urinarius.

- Ooforektomi dan Salpingooforektomi (Pengangkatan Ovarium dan atau Tuba
Falopii)
Ooforektomi merupakan suatu tindakan operatif mengangkat ovarium, sedangkan
salpingooforektomi adalah pengangkatan ovarium. Kedua metode ini dilakukan pada
kasus-kasus : kanker ovarium, curiga tumor ovarium atau kanker tuba falopii (jarang).
Kedua metode ini juga dapat dilakukan pada kasus-kasus infeksi atau digabungkan
dengan histerektomi. Kadang-kadang wanita dengan kanker ovarium atau payudara tipe
lanjut dilakukan suatu ooforektomi sebagai tindakan preventif atau profilaksis untuk
mengurangi resiko penyebaran dari sel-sel kanker tersebut. Jarang sekali terjadi kelainan
secara familial.





6

e. KOMPLIKASI
Adalah : infeksi, rasa nyeri, dan perdarahan di daerah operasi.
Histerektomi abdominal mempunyai angka rata-rata tertinggi untuk rasa nyeri dan infeksi
post operatif daripada histerektomi vaginal. Seperti yang disebutkan diatas, histerektomi
untuk kondisi selain kanker umumnya tidak diberikan sampai sesudah dilakukannya tes
penunjang atau gagalnya medikasi.Saat ini ada metode baru seperti embolisasi arteri
uterus atau miomektomi yang digunakan untuk menangani perdarahan uterin yang
banyak.
Setiap wanita dengan riwayat paps smear dianjurkan untuk melakukan paps smear
selama hidupnya. Ketika serviks sudah diangkat, jenis apusan biasanya disebut vaginal
cuff smears atau apusan vagina. Hal ini dikarenakan adanya kesempatan karsinoma
serviks muncul didaerah operasi dimana serviks diangkat.
Sebagai tambahan wanita dengan paps smear abnormal, wanita lain yang juga
membutuhkan paps smear adalah wanita yang mengalami histerektomi supraservikal,
yang mana bagian dari serviks ditinggalkan. Pada kasus ini berbeda sekali pada wanita
yang dilakukan histerektomi dengan alasan karsinoma serviks dengan wanita yang
dilakukan histerektomi supraservikal, yang mana pada wanita dengan histerektomi
supraservikal boleh dilakukan pengujian yang sama seperti wanita-wanita yang tidak
mengalami tindakan operatif. Sebagai contoh dokter akan menghentikan paps smear pada
umur 65 tahun, jika wanita tersebut selalu mempunyai hasil yang normal.
Wanita yang tidak memerlukan pemeriksaan paps smear yang berkelanjutan adalah
wanita yang mengalami vaginal histerektomi atau abdominal histerektomi,dengan alasan
massa jinak seperti mioma uteri. Bila wanita tersebut mempunyai hasil yang normal
sebelum dilakukanya prosedur tersebut atau histerektomi dia tidak memerlukan lagi
pemeriksaan paps smear (post operatif) dan bukanlah suatu yang aneh karena mereka
tidak mempunyai serviks untuk diperiksa.





7


DAFTAR PUSTAKA

1. Buku obstertri dan ginekologi, edisi 2, Prof.Dr.Rustam Moctar MPH
2. Cunningham, F. Gary, dkk. 2005. Obstetric Williams edisi 21. Jakarta :
EGC.
3. The New England Journal of Medicine. www.nejm.org