Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan pada lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderitanya berkurang. . Katarak adalah suatu
keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau
denaturasi protein lensa. Kekeruhan itu terjadi akibat gangguan metabolisme normal
lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.
1

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah
gangguan penglihatan dan kebutaan. Katarak merupakan penyebab utama (50%)
kebutaan di Indonesia. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka prevalensi
gangguan penglihatan dan kebutaan juga akan cenderung semakin meningkat karena
katarak merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada usia lanjut.
Katarak merupakan penyebab utama kebutaan (WHO). Sebanyak tujuh belas
juta populasi dunia mengidap kebutaan yang disebabkan oleh katarak dan menjelang
tahun 2020 angka ini akan meningkat menjadi empat puluh juta. Katarak senilis
merupakan jenis katarak yang paling sering ditemukan dimana 90 % dari seluruh
kasus katarak adalah katarak senilis. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan
berjalan progresif ataupun tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
Pengobatan pada katarak adalah tidakan pembedahan. Setelah pembedahan, lensa
diganti dengan kacamata afakia, lensa kontak atau lensa tanam intraocular. Dengan
peningkatan pengetahuan mengenai katarak, penatalaksanaan sebelum, selama, dan
post operasi, diharapkan penganganan katarak dapat lebih diperluas sehingga
prevalensi kebutaan di Indonesia dapat diturunkan.
7
.




2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI LENSA
lensa mata adalah suatu struktur bikonveks, tidak mengandung pembuluh
darah (avaskular), tembus pandang, dengan diameter 9 mm dan tebal 4 mm.
Disebelah anterior lensa terdapat aqoeuos humor dan disebelah posteriornya terdapat
vitreus . Digantung oleh Zonula, yang menghubungkannya dengan korpus siliaris.
Permukaan posterior lebih cembung daripada permukaan anterior. Lensa diliputi oleh
kapsula lentis, yang bekerja sebagai membran yang sempermiabel, yang akan
memperoleh air dan elktrolit untuk masuk.
1,2
Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras
daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar subepitel
terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi lebih besar dan kurang
elastik. Nukleus dan korteks terbentuk dengan persambungan lamellae ini ujung ke
ujung berbentuk ( Y ) bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk ( Y ) ini tegak di anterior
dan terbalik di posterior. Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamen yang dikenal
zonula zinii, yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliaris dan
menyisip ke dalam ekuator lensa.
1,2
3


Gambar 1. Struktur Lensa Diperbesar
Lensa terdiri atas 65% air dan 35% protein (kandungan tertinggi diantara
jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa berada di dalam
jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada
dikebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk
teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau saraf di
lensa.
1,2
2.2. EMBRIOLOGI LENSA
Mata berasal dari tonjolan otak (optic vesicle). Lensanya berasal dari
ektoderm permukaan, pada tempat lensplate, yang kemudian mengadakan invaginasi
dan melepaskan diri dari ektoderm permukaan, membentuk vesikel lensa dan bebas
terletak di dalam batas-batas dari optic cup. Segera setelah vesikel lensa terlepas dari
ektoderm permukaan, maka sel-sel bagian posterior memanjang dan menutupi bagian
yang kosong. Pada stadium ini kapsul hialin dikeluarkan oleh sel-sel lensa. Serat-
serat sekunder memanjangkan diri dari daerah ekuator dan tumbuh ke depan di bawah
epitel subkapsuler, yang hanya selapis dan kebelakang kapsula lentis. Serat-serat ini
4

saling bertemu dan membentuk sutura lentis, yang berbentuk huruf Y yang tegak
dianterior dan Y terbalik di posterior.
2

Pembentukan lensa, selesai pada umur 7 bulan penghidupan foetal. Inilah
yang membentuk substansi lensa, yang terdiri dari korteks dan nukleus. Pertumbuhan
dan proliferasi dari serat-serat sekunder berlangsung terus selama hidup, tetapi lebih
lambat. Kemudian terjadi kompresi dari serat-serat tersebut dengan disusul proses
sklerosis.
2
5


Gambar 2: Embriologi Mata
6

2.3. FISIOLOGI LENSA
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Utuk
memfokuskan cahaya datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat
zonula zinii dan memperkecil diamter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang
terkecil, dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya
paralel akan terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot
siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa yang elastik
kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya
biasnya. Kerjasama fisiologis antar zonula, korpus siliaris, dan lensa untuk
memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi.
Pada orang dewasa lensanya lebih padat dan bagaian posterior lebih konveks.
Proses sklerosis bagian sentral lensa, dimulai pada masa kanak-kanak dan terus
berlangsung perlahan-perlahan sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah
cepat, dimana nukleus menjadi besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua
lensa lebih besar, lebih gepeng, warnanya kekuningan, kurang jernih dan tampak
seperti gray reflek atau senil reflek, yang sering disangka katarak. Karna proses
sklerosis ini lensa menjadi kurang elastis dan daya akomodasinya berkurang.
Keadaan ini disebut presbiopia, dimana pada orang Indonesia dimulai pada usia 40
tahun.
Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu yaitu:
1

1. kenyal atau lentur karena memegang peranan terenting dalam akomodasi
untuk menjadi cembung.
2. jernih atau transparan karana diperlukan sebagai media penglihatan
3. terletak di tempatnya


7

2.4. KATARAK DAN PATOFISIOLOGI
Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan pada lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderitanya berkurang. Katarak merupakan
keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa didalam kapsul
lensa. Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh
akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan itu terjadi akibat
gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.
Katarak dapat dapat terjadi pada saat perkembangan serat lensa berhenti dalam
perkembangannya dan telah memulai proses degenerasi.
1
Berat ringannya gangguan tajam penglihatan pada penderita katarak
tergantung dari derajat kekeruhan lensa matanya. Gangguan tajam penglihatan
bervariasi dari mulai kesulitan melihat benda-benda yang kecil sampai pada kebutaan.
Penuaan merupakan penyebab katarak terbanyak, tetapi banyak juga faktor
lain yang mungkin terlibat, anatara lain: trauma, penyakit sistemik (missal.,
Diabetes), merokok dan heriditer. Katarak akibat penuaan merupakan penyebab
umum gangguan penglihatan. Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi
katarak pada inividu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50% prevalensi ini
meningkat hingga 70% pada inividu diatas 75 tahun.
Patogenesis katarak belum sepenuhnya diketahui. Walaupun demikian, pada
lensa katarak secara karaktristik agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas
cahaya dan mengurangi transparansinya. Perubahan protein lainnya mengakibatkan
perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Temuan tambahan mungkin
berupa vesikel diantara serat-serat lensa atau migrasisel epitel dan pemebesaran sel
epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga turut berperan dalam
terbentuknya katarak, Antara lain kerusakan oksidatif (dari proses radikal bebas),
sinar ultra violet dan malnutrisi. Hingga kini belum ditemukan pengobatan yang
dapat memeperlambat atau mengembalikan perubahan kimiawi yang mendasari
pembentukan katarak.
8


Berdasarkan faktor penyebab katarak di klasifikasikan menjadi:
1. Katarak kongenital
Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera
setelah kelahiran dan bayi yang berusia kurang dari satu tahun, dapat timbul pada
satu atau kedua mata. Sebuah katarak disebut kongenital bila ada saat lahir, atau
dikenal juga sebagai infantile cataract jika berkembang pada usia 6 bulan
setelah lahir.

Katarak kongenital bisa merupakan penyakit keturunan yang
diwariskan secara genetik atau bisa disebabkan oleh infeksi kongenital yang
didapat dari ibu saat kehamilan atau berhubungan dengan penyakit metabolik.
Ada banyak alasan yang menyebabkan katarak kongenital, yaitu antara lain:
1. Herediter (isolated tanpa dihubungkan dengan kelainan mata atau sistemik)
seperti autosomal dominant inheritance.
2. Herediter yang dihubungkan dengan kelainan sistemik dan sindrom
multisistem.
Kromosom seperti Downs syndrome (trisomy 21), Turners syndrome.
Penyakit otot skelet atau kelainan otot seperti Stickler syndrome, Myotonic
dystrophy.
Kelainan sistem saraf pusat seperti Norries disease.
Kelainan ginjal seperti Lowes syndrome, Alports syndrome.
Kelainan mandibulo-facial seperti Nance-Horan cataract-dental
syndrome.
Kelainan kulit seperti Congenital icthyosis, Incontinentia pigmenti
3. Infeksi seperti toxoplasma, rubella(paling banyak), cytomegalovirus, herpes
simplex, sifilis, poliomielitis, influenza, Epstein-Barr virus saat hamil
4. Obat-obatan prenatal (intra-uterine) seperti kortikosteroid.
5. Radiasi ion prenatal (intra-uterine) seperti x-rays,
6. Kelainan metabolik seperti diabetes pada kehamilan,
9

7. Tapi penyebab terbanyak pada kasus katarak adalah idiopatik, yaitu tidak
diketahui penyebabnya.
3

Klasifikasi katarak kongenital
a) Katarak Lamelar atau zonular
3

Didalam perkembangan embriologik dimana pada permulaan
terdapat perkembangan serat lensa maka akan terlihat bagian lensa
sentral yang jernih. Kemudian terdapat serat lensa keruh dalam
kapsul lensa. Katarak lamelar ini mempunyai sifat herediter dan
ditransmisi secara dominan, katarak biasanya bilateral.
Katarak zonular terlihat segera setelah bayi lahir. Kekeruhan ini
dapat menutupi seluruh celah pupil. Gangguan penglihatan pada
katarak zonular tergantung derajat kekeruhan lensa.
10


Gambar 3: Lamelar katarak
b) Katarak polaris posterior
Katarak polaris posterior disebabkan menetapnya selubung
vaskular lensa. Kadang-kadang terdapat arteri hialoid yang
menetap sehingga mengakibatkan kekeruhan pada lensa bagian
belakang
c) Katarak Polaris Anterior
Gangguan terjadi pada kornea yang belum seluruhnya melepaskan
lensa dalam perkembangan embrional. Hal ini mengakibatkan
terlambatnya pembentukan bilik mata depan pada perkembangan
embrional. Pada kelainan ini kadang-kadang didapatkan suatu
11

bentuk kekeruhan yang terdapat pada bilik mata depan yang
menuju kornea sehingga menunjukan bentuk kekeruhan seperti
piramid.
3

Gambar 4: katarak polaris anterior
d) Katarak inti (nuclear caratact)
Katarak semacam ini jarang ditemukan dan tampak sebagai bunga
karang. Kekeruhan terletak pada nucleus lensa. Usia kehamilan
terjadi pada waktu kehamilan 3 bulan pertama biasanya herediter
dan bersifat dominan. Tidak menggangu tajam penglihatan
1
12


Gambar 5: katarak inti (nuclear cataract)

e) Katarak sutural
Y sutural merupakan garis pertemuan serat-seraat lensa primer dan
membentuk batas depan dan belakang dari pada inti lensa. Katarak
sutural merupakan kekeruhan lensa pada daerah sutural fetal,
bersifat statis, terjadi bilateral dan familial. Karena letak kekeruhan
ini tidak menggangu media refraksi maka tidak menggangu
penglihatan
13


Gambar 6 : Katarak sutural
3

f) Katarak Rubella
Infeksi maternal virus rubella dapat menyebabkan fetal damage, terutama jika
infeksi terjadi pada trimester 1 kehamilan. Bentuk katarak akibat sindroma
rubella kongenital mempunyai bentuk yang khas berupa pearly white nuclear
opacification. Katarak rubella merupakan komplikasi utama sindrom rubella
kongential. Rubella menginfeksi lensa embrio yang meyebabkan perlambatan
deviasi dan perkembangan sel. Hal itu berdampak serat lensa mengalami
degenerasi, gagal berkembang dan menjadi opaque (putih).
8

2. Degeneratif misalnya katarak senilis
Katarak Senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Pada katarak senilis terjadi penurunan
penglihatan secara bertahap dan lensa mengalami penebalan secara progresif.
Katarak senilis menjadi salah satu penybeab kebutaan di dunia saat ini.
1,4
14

Patofisiologi katarak senilis sangat kompleks dan belum sepenuhnya
diketahui. Diduga adanya interaksi antara berbagai proses fisiologis berperan
dalam terjadinya katarak senilis dan belum sepenuhnya diketahui. Komponen
terbanyak dalam lensa adalah air dan protein. Dengan menjadi tuanya
seseorang maka lensa mata akan kekurangan air dan menjadi lebih padat.
Lensa akan menjadi padat di bagian tengahnya, sehingga kemampuan fokus
untuk melihat benda dekat berkurang. Pada usia tua akan terjadi pembentukan
lapisan kortikal yang baru pada lensa yang mengakibatkan nukleus lensa
terdesak dan mengeras (sklerosis nuklear). Pada saat ini terjadi perubahan
protein lensa yaitu terbentukanya protein dengan berat molekul yang tinggi
dan mengakibatkan perubahan indeks refraksi lensa sehingga memantulkan
sinar masuk dan mengurangi transparansi lensa. Perubahan kimia ini juga
diikut dengan pembentukan pigmen pada nuklear lensa.
4
Pada keadaan normal lensa mata bersifat bening. Seiring dengan
pertambahan usia lensa mata dapat mengalami perubahan warna menjadi
kuning keruh atau coklat keruh. Proses ini dapat menyebabkan gangguan
penglihatan (pandangan kabur/buram) pada seseorang. Kekeruhan lensa
mengakibatkan lensa tidak transparan sehingga pupil berwarna putih dan abu-
abu./ Kekeruhan ini juga dapat ditemukan pada berbagai lokalisasi di lensa
seperti korteks dan nukleus. Fundus okuli menjadi semakin sulit dilihat
seiring dengan semakin padatnya kekeruhan lensa bahkan reaksi fundus bisa
hilang sama sekali. Miopia tinggi, merokok, konsumsi alkohol dan paparan
sinar UV yang tinggi menjadi faktor risiko perembangan katarak sinilis.
Tiga tipe katarak terkait usia adalah nuclear, kortical, dan subkapsular
posterior katarak. Pada beberapa pasien penggabungan dari beberapa tipe juga
ditemukan.
15

Nuclear katarak, Pada dekade keempat dari kehidupan, tekanan yang
dihasilkan dari fiber lensa peripheral menyebabkan pemadatan pada seluruh
lensa,terutama nucleus. Nucleus member warna coklat kekuningan
(brunescent nuclear cataract). Ini menjadi batas tepi dari coklat kemerahan
hingga mendekati perubahan warna hitam diseluruh lensa (katarak hitam).
Karena mereka meningkatkan tenaga refraksi lensa, katarak nuclear
menyebabkan myopia lentikular dan kadang-kadang menimbulkan fokal point
kedua di dalam lensa yang menyebabkan diplopia monocular.
4

Kortical katarak, Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air
sehingga lensa menjadi cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan
indeks refraksi lensa. Pada keadaan ini penderita seakan-akan mendapatkan
kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah.
Katarak nuclear sering dihubungkan dengan perubahan pada kortek
lensa. Ini penting untuk dicatat bahwa pasien dengan katarak kortikal
cenderung untuk hyperopia dibandingkan dengan pasien dengan katarak
nuclear.
Posterior subcapsular katarak (PSCs), merupakan terjadinya
kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan silau, pandangan
kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca menurun. Banyak
ditemukan pada pasein diabetes, pasca radiasi, dan trauma
4
3. Katarak komplikata
Katarak komplikata merupakan katarak akibat penyakit mata lain
seperti radang, dan proses degenerasi seperti ablasi retina, glaukoma, akibat
suatu trauma atau pasca bedah mata.
1

Katarak komplikata dapat juga disebabkan oleh penyakit sistemik
endokrin (diabetes mellitus, hipoparatiroid, galaktosemia) dan keracunan
bahan kimia. Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana mulainya
16

katarak selamanya di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan
dapat difus, pungtata ataupun linear.
1

Dikenal dua bentuk yaitu bentuk yang disebabkan kelainan pada polus
posterior terjadi akibat penyakit koroiditis, retinitis pigmentosa, ablasi retina,
kontusio retina dan myopia tinggi yang mengakibatkan kelainan badan kaca.
Biasanya kelainan ini berjalan aksial yang biasanya tidak berjalan cepat dalam
nucleus, sehingga sering terlihat nucleus lensa tetap jernih. Katarak akibat
myopia tinggi dan ablasi retina memberikan gambaran agak berlainan.
1

Katarak akibat kelainan polus anterior bola mata biasanya akibat
kelainan kornea berat, iridosiklitis, kelainan neoplasma dan glaucoma. Pada
iridosiklitis akan mengakibatkan katarak subkapsularis anterior. Pada katarak
akibat glaucoma akan terlihat katarak diseminata pungtata subkapsular
anterior (Katarak Vogt).
1
i. Penyakit Lokal Mata
a. Glaukoma
Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai oleh meningkatnya
tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan
pengecilan lapang pandang.
1
Glaukoma dapat timbul secara perlahan dan
menyebabkan hilangnya lapang pandang ireversibel tanpa timbulnya gejala
lain yang nyata atau dapat timbul secara tiba-tiba dan menyebabkan kebutaan
dalam beberapa jam. Jika peningkatan TIO lebih besar daripada toleransi
jaringan, kerusakan terjadi pada sel ganglion retina dan merusak diskus
optikus sehingga menyebabkan atrofi saraf optik dan hilangnya pandangan
perifer.
Glaukoma yang terjadi pada saat serangan akut dapat mengakibatkan
gangguan keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan
ini berupa titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata
subkapsular diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya yaitu
katarak Vogt. Kekeruhan seperti porselen/susu tumpah di meja pada
17

subkapsul anterior. Katarak ini bersifat reversible dan dapat hilang bila
tekanan bola mata sudah terkontrol.

b. Uveitis
Sama halnya seperti semua proses radang lainnya, uveitis anterior
ditandai dengan adanya dilatasi pembuluh darah yang menimbulkan gejala
hiperemia silier (hiperemi perikorneal atau perikorneal vascular injection).
Adanya peningkatkan permeabilitas ini akan menyebabkan eksudasi ke dalam
akuos humor sehingga terjadi peningkatan konsentrasi protein dalam akuos
humor.
1

Pada pemeriksaan slit lamp, hal ini tampak sebagai akuos flare atau
sel, yaitu partikel partikel kecil dengan gerak brown (efek tyndal). Dimana
kedua gejala tersebut menunjukkan proses peradangan akut.
Pada proses yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan sel-sel
radang di dalam bilik mata depan yang disebut hipopion, ataupun migrasinya
eritrosit ke dalam bilik mata depan yang dikenal dengan hifema. Apabila
proses radang berlangsung lama dan berulang, maka sel-sel radang melekat
pada endotel kornea dan disebut sebagai keratic precipitate. Jika tidak
mendapatkan terapi yang adekuat, maka proses peradangan akan berjalan
terus dan menimbulkan komplikasi. Perubahan lensa sering terjadi sebagai
akibat sekunder dari uveitis kronis. Biasanya muncul katarak subkapsular
posterior, dan juga dapat terjadi perubahan lensa anterior. Pembentukan
sinekia posterior sering berhubungan dengan penebalan kapsul lensa anterior
dan perkembangan fibrovaskular yang melewatinya dan melewati pupil.
Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat iris melekat dengan lensa
(sinekia posterior) yang dapat berkembang mengenai seluruh lensa.
Kekeruhan tersebut dapat bermacam-macam, bisa difus, total, atau hanya
terbatas pada tempat sinekia posterior. Perubahan lensa pada katarak sekunder
karena uveitis dapat berkembang menjadi katarak matur. Deposit kalsium
dapat diamati pada kapsul anterior atau dalam substansi lensanya sendiri.

18

ii. Penyakit Sistemik
a. Diabetes Melitus
Diabetes mellitus adalah penyakit endokrin yang ditandai dengan
hiperglikemia yang merupakan manifestasi dari defek pada sekresi insulin.
Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksinya,
dan besaran akomodasinya. Dengan meningkatnya kadar gula darah
menyebabkan kandungan glukosa di humor aqueous juga ikut meningkat dan
bisa masuk ke lensa secara difusi sehingga glukosa yang terkandung didalam
lensa akan meningkat.
5,9

Beberapa glukosa dikonversi oleh enzim aldosa reduktase menjadi
sorbitol, yang tidak dimetabolisir tetapi menetap dalam lensa dan kemudian
karena adanya tekanan osmotic menyebabkan adanya influks air ke dalam
lensa sehingga terjadi edema serabut lensa dan berkurangnya kejernihan lensa.
9

b. GALAKTOSEMIA
Galaktosemia adalah penyakit yang disebabkan oleh defisiensi galaktosa
1-fosfaturidililtransferase dimana enzim ini penting untuk mengubah galaktosa
menjadi glukosa. Galaktosemia merupakan penyakit resesif autosom pada
metabolisme galaktosa. Bayi dengan galaktosemia, di dalam urinenya akan
terdapat galaktosa. Oleh karena itu, diagnosis dapat ditegakkan dengan mencari
zat yang terdapat pada urine (galaktosa) menggunakan clinitest,sedangkan
pemeriksaan glukosa dalam urine bisa memberikan hasil negatif.
5

Katarak galaktosemia diduga terjadi karena penimbunan gula dan gula
alkohol dalam lensa (terutama pada pasien hiperglikemia). Kadar glukosa
meningkat dan mendorong pembentukan sorbitol (oleh aldosa reduktase) dan
fruktosa. Kadar glukosa dan fruktosa yang tinggi juga menimbulkan glikosilasi
nonenzimatik protein lensa yang menyebabkan peningkatan tekanan osmotik
dan glikosilasi protein lensa sehingga lensa menjadi tidak tembus cahaya dan
19

keruh yang dikenal sebagai katarak. Katarak pada bayi dengan galaktosemia besifat
reversibel dengan manajemen terapi yang lebih awal.
5


4. Katarak trauma
Kekeruhan lensa akibat ruda paksa tumpul atau tajam.peluru senapan angin
dan petasan merupakan penyebab yang tersering. Lensa menjadi putih segera
setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan
aqueuos humor dan kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa.
6
Trauma dapat menimbulkan katarak dengan berbagai bentuk, antara lain :
a) Vissous ring
Cetakan pupil pada lensa akibat trauma tumpul yang berbentuk vossious ring
yaitu lingkaran yang terbentuk oleh granula coklat kemerah-merahan dari
pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Secara normal menjadi
padat sesudah trauma. Cincin vossious cenderung untuk menghilang sedikit demi
sedikit. Kekeruhan kapsul yang kecil-kecil dan tersebar dapat ditemui sesudah
menghilangnya pigmen.
b) Roset (bintang)
Katarak berbentuk roset, bentuk ini dapat terjadi segera sesudah trauma tetapi
dapat juga beberapa minggu sesudahnya. Trauma tumpul mengakibatkan
perubahan susunan serat-serat lensa dan susunan sisten suture (tempat
pertemuan serat lensa) sehingga terjadi bentuk roset. Bentuk ini dapat
sementara dan dapat juga menetap.
20


Gambar 7: Classic rosette-shaped cataract in a 36-year-old man, 4 weeks after blunt ocular
injury

c) Katarak zonuler atau lamelar Katarak Zonular dan lamellar
Bentuk ini sering ditemukan pada orang muda yang sesudah trauma.
Penyebabnya karena adanya perubahan permeabilitas kapsul lensa yang
mengakibatkan degenerasi lapisan kortek superfisial. Trauma tumpul akibat
tinju atau bola dapat menyebabkan robekan kapsul, walaupun tanpa trauma
tembus mata. Bahan-bahan lensa dapat keluar melalui robekan kapsul ini dan
bila diabsorbsi maka mata akan menjadi afakia.
d) Katarak traumata desiminata subepitel (ditemukan oleh Vogt)
Berbentuk kekeruhan yang bercak-bercak dan terletak dibawah lapisan epitel
lensa bagian depan. Kadang-kadang kekeruhan ini bersifat permanen dan
tidak progresif.
Katarak akibat trauma tembus dapat dalam bentuk : Laserisasi yaitu
robekan pada kapsul lensa. Bila kapsul robek dan isi lensa bercampur dengan
cairan aqueous dapat timbul katarak total.
6



21

BAB III
KESIMPULAN

Lensa mata adalah suatu struktur bikonveks, tidak mengandung pembuluh
darah (avaskular), tembus pandang, dengan diameter 9 mm dan tebal 4 mm.
Disebelah anterior lensa terdapat aqoeuos humor dan disebelah posteriornya terdapat
vitreus . Digantung oleh Zonula, yang menghubungkannya dengan korpus siliaris.
Lensa berfungsi sebagai media refraksi dan akomodasi.
Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan pada lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderitanya berkurang. . Katarak adalah suatu
keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau
denaturasi protein lensa. Kekeruhan itu terjadi akibat gangguan metabolisme normal
lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.
Berat ringannya gangguan tajam penglihatan pada penderita katarak
tergantung dari derajat kekeruhan lensa matanya. Gangguan tajam penglihatan
bervariasi dari mulai kesulitan melihat benda-benda yang kecil sampai pada kebutaan.
Penuaan merupakan penyebab katarak terbanyak, tetapi banyak juga faktor
lain yang mungkin terlibat, anatara lain: trauma, penyakit sistemik (missal.,
Diabetes), merokok dan heriditer.
Patogenesis katarak belum sepenuhnya diketahui. Walaupun demikian, pada
lensa katarak secara karaktristik agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas
cahaya dan mengurangi transparansinya. Perubahan protein lainnya mengakibatkan
perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat.
Bedasarkan faktor risiko penyebabnya katarak diklasifikasikan katarak
kongenital, katarak degeneratif misalnya katarak senilis, katarak komplikata dan
katarak trauma.