Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Proses peradangan dapat mengenai selaput otak (meningitis), jaringan otak (ensefalitis),
dan medulla spinalis (mielitis), walaupun yang paling sering terjadi adalah meningitis.
Selaput otak terdiri dari tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu durameter, araknoid, piameter. Durameter adalah
membrane putih tebal yang kasar, dan menutupi seluruh otak dan medulla spinalis. Araknoid merupakan membrane
lembut yang bersatu di tempatnya denga piameter, diantaranya terdapat ruang subaraknoid di mana terdapat arteri
dan vena serebral dan dipenuhi oleh cairan serebrospinal. Piameter merupakan membrane halus yang kaya akan
pemburu darah kecil yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Piameter adalah lapisan yang
langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medulla spinalis.
Meningitis dapat dibedakan oleh berbagai organisme yang bervariasi, tetapi ada tiga tipe
utama yaitu :
1. Infeksi bakteri, piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama
mengikoku, pneumokokus, dan basil influenza.
2.Tuberculosis, yang disebabkan oleh basil tuberkel(M.Tuber culos a)
3. Infeksi virus, yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi dari meningitis?
2.Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya meningitis?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan meningitis
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi dari meningitis.
2. Untuk mengetahui factor penyebab terjadinya meningitis.
3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan meningitis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Bakteri dan virus
merupakan penyebab utama dari meningitis.
2.2 ETIOLOGI
Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis
mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang.
Seperti disebutkan di atas bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi menjadi
dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan meningitis serosa.
a.Meningitis Bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza, Nersseria,Diplokokus pnemonia,
Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Eschericia colli, Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon
terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit
dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan
terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan
pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan
mengalami infark.
b. Meningitis Virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang
disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada
meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak.
Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap
virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.

2.3 PATOFISIOLOGI
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam
pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan
sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan
subarachnoid.
Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melaui aliran
darah di dalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur
tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan
(dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya
mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan
ventrikel.
Invasi kuman ke selaput otak
Gangguan fungsi sistem regulasi
Peningkatan TIK

Hipertemia
Gangguan persepsi
Gangguan kesadaran

sensori

Gangguan metabolisme otak
Gangguan rasa nyama
Gangguan mobilitas

fisik
Perubahan keseimbangan
dan sel netron

Difusi ion kalium dan natrium
Gangguan perfusi

jaringan
Lepas muatan listrik

Kejang


Berkurangnya koordinasi otot
Resiko trauma fisik
2.4 PENGKAJIAN PASIEN DENGAN MENINGITIS
Riwayat penyakit dan pengobatan
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus
ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk.
Setelah itu yang perlu diketahui adalah status kesehatan masa lalu untuk mengetahui adanya faktor presdiposisi
seperti infeksi saluran napas, atau fraktur tulang tengkorak, dll.
2.4 MANIFESTASI KLINIK
Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.
Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.
Sakit kepala
Sakit-sakit pada otot-otot
Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien
Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI
Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan
bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot.
Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak terdapat
pada virus meningitis.
Nausea
Vomiting
Demam
Takikardia
Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia
Pasien merasa takut dan cemas.
2.5 PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Lumbal
punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra kranial. Analisa
cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa.
Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas
nilai normal.
Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya
ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.
Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya kadar
glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa
cairan otaknya menurun dari nilai normal.
2.6 PEMERIKSAAN RADIOLOGI
CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema cerebral atau penyakit saraf
lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.
2.7 TINJAUAN KASUS
1. Pengkajian
a. Biodata
b. Keluhan utama
Kejang.
c. Riwayat penyakit sekarang
Sebelumnya di rumah klien sudah seminggu menderita demam, flu dan batuk. klien mulai kejang
pada tanggal 13 Februari 2010 jam 23.00 (pada saat kejang mata melirik ke atas, kejang pada
seluruh badan, setelah kejang klien sadar dan menangis pada saat kejang keluar buih lewat
mulut) dan langsung dibawa ke IRD RSUD.
d.
Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya klien pernah MRS dengan diare pada saat berumur 1 bulan.
e. Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengungkapkan bahwa saat klien menderita panas dan kejang didalam keluarga
tidak ada yang menderita sakit flu/ batuk.
f. Riwayat kehamilan dan persalinan

Ibu mengungkapkan bahwa selama hamil ia rajin kontrol ke bidan didekat rumahnya, ia mengatakan bahwa ia juga
mengkonsumsi jamu selama hamil. Menurut ibu, klien lahir kembar di rumah sakit dengan berat badan lahir 1200
gram, tidak langsung menangis, menurut ibu air ketubannya berwarna kehitaman dan kental.
g. Status imunisasi
Menurut ibu anaknya telah mendapatkan imunisasi BCG, polio I, DPT I dan hepatitis
h. Status nutrisi
Ibu mengungkapkan An.L diberikan ASI mulai lahir sampai berumur 1 bulan, setelah dirawat di ruang anak ibu
tidak meneteki dan diganti dengan PASI Lactogen. Pada saat pengkajian BB 3700 gram, panjang badan 56 cm,
lingkar lengan atas 7 cm. Ibu mengungkapkan anak tidak mual dan tidak pernah muntah.
i. Riwayat perkembangan
Pada saat ini anak memasuki masa basic trust Vs Mistrust (dimana rasa percaya anak kepada lingkungan terbentuk
karena perlakuan yang ia rasakan). Ia juga berada pada fase oral dimana kepuasan berasal pada mulut.
j. Data Psikososial
Ibu mengungkapkan bahwa ia menerima keadaan anaknya, dan berharap agar anaknya bisa cepat sembuh dan
pulang berkumpul bersama dengan keluarga serta kakak klien. Ibu dan nenek klien selalu menunggui klien dan
hanya pada hari minggu ayah dan kakak klien datang mengunjungi klien, karean harus bekerja dan sekolah.
k. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum
Anak tampak tidur dengan menggunakan IV Cath pada tangan kanan, kesadaran
compomentis, nadi 140 x/mnt, suhu 385 O C, pernafasan 40 x/mnt teratur.
2) Kepala dan Leher
Kepala berbentuk simetris, rambut bersih, hitam dan penyebarannya merata,
ubun-ubun besar masih belum menutup, teraba lunak dan cembung, tidak
tegang. Lingkar kepala 36 cm.
Reaksi cahaya+/+, mata nampak anemi, ikterus tidak ada, tidak terdapat sub
kunjungtival bleeding.
Telinga tidak ada serumen
Hidung tidak terdapat pernafasan cuping hidung.
Mulut bersih, tidak terdapat moniliasis.
Leher tidak terdapat pembesaran kelenjar, tidak ada kaku kuduk.
3) Dada dan Thoraks
Pergerakan dada simetris, Wheezing-/-, Ronchi-/-, tidak terdapat retraksi otot bantu pernafasan. Pemeriksaan jantung,
ictus cordis terletak di midclavicula sinistra ICS 4-5, S1S2 tunggal tidak ada bising/ murmur.
4) Abdomen
Bentuk supel, hasil perkusi tympani, tidak terdapat meteorismus, bising usus+
normal 5 x/ mnt, hepar dan limpa tidak teraba. Kandung kemih teraba kosong.
5) Ekstremitas
Tidak terdapat spina bifida pada ruas tulang belakang, tidak ada kelainan dalam segi bentuk, uji kekuatan otot tidak
dilakukan. Klien mampu menggerakkan ekstrimitas sesuai dengan arah gerak sendi. Ekstrimitas kanan sering terjadi
spastik setiap 10 menit selama 1 menit.
6) Reflek
Pada saat dikaji refleks menghisap klien +, refleks babinsky +
7) Pemeriksaan Penunjang
Kalium serum
normal 3,5-5,5 mEq/L
Na Serum
normal 135-145 mEq/L
Kalsium serum
normal 8,0-10 mg/dl
Hemoglobine
2. Diagnose Keperawatan
Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intracranial
Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi
Resiko terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental
dan penurunan tingkat kesadaran
Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbataaan informas

3. Rencana Tindakan
NoDiagnosa
keperawatan
Tujuan
Kriteria hasil
Rencana tindakan
Rasional
1
Gangguan perfusi
jaringan
sehubungan dengan
peningkatan
tekanan intrakranial
Pasien
kembali pada, keadaan status neurologis
sebelum sakit
Meningkatnya
kesadaran
pasien
dan
fungsi
sensoris
-
Tanda-
tanda vital
dalam
batas
normal
-
Kesadaran
meningkat
-
Adanya
peningkata
n kognitif dan tidak ada
atau
hilangnya
tanda-
tanda
tekanan
intrakranial
yang
meningkat
1.
Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal
2.
Monitor
tanda-tanda
status
neurologis
dengan
GCS.
3.
Monitor
intake dan output
4.
Monitor
tanda-tanda vital seperti
TD,
Nadi,
Suhu, Respirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik
5.
Bantu
pasien untuk membatasi gerak atau berbalik di tempat tidur.
1.
Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak
2.
Dapat
mengurangi
kerusakan otak lebih lanjut
3.
Pada keadaan normal
autoregulasi
mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler
akan
menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat
dimanifestasikan
dengan peningkatan sistolik dan diikuti oleh penurunan
tekanan
diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
4.
hipertermi
dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan
resiko
dehidrasi

ASKEP MENINGITIS
Filed Under:Neurobehaviour putri_rahza 9 Comments February 10, 20102.1 Definisi
Meningitis merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arahnoid danpiamatter di otak serta
spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri danvirus meskipun penyebab
lainnya seperti jamur dan protozoa juga terjadi. (DonnaD.,1999).Meningitis adalah radang pada
meningen (membran yang mengelilingi otak dan medulaspinalis) dan disebabkan oleh virus,
bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).Meningitis merupakan infeksi akut dari
meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satudari mikroorganisme pneumokok, Meningokok,
Stafilokok, Streptokok, Hemophilusinfluenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).Meningitis
adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinalcolumn yang
menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).2.2 Klasifikasi1.
Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis)Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi
saluran pernafasan. Jenis organismeyang sering menyebabkan meningitis bacterial adalah
streptokokus pneumonia danneisseria meningitis.Meningococal meningitis adalah tipe dari
meningitis bacterial yang sering terjadi padadaerah penduduk yang padat, spt: asrama,
penjara.Klien yang mempunyai kondisi spt: otitis media, pneumonia, sinusitis akut atau sicklesell
anemia yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadi meningitis. Fraktur tulangtengkorak atau
pembedahan spinal dapat juga menyebabkan meningitis . Selain itu jugadapat terjadi pada orang
dengan gangguan sistem imun, spt: AIDS dan defisiensiimunologi baik yang congenital ataupun
yang didapat.Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon
denganterjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudatyang
terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akanterkumpul di
dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipismenjadi tebal. Dan
pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial.Hal ini akan menyebabkan
jaringan otak akan mengalami infark.2. Meningitis Virus (Meningitis aseptic)Meningitis virus
adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri.Virus biasanya
bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistemnasofaring dan saluran
cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melaluisistem vaskuler.Ini terjadi pada
penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster.
Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepatmengalami nekrosis. Jenis
lainnya juga mengganggu produksi enzim atauneurotransmitter yang dapat menyebabkan
disfungsi sel dan gangguan neurologic.3. Meningitis Jamur


Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusatpada klien
dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalantubuh yang akan
berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan padaklien dengan
menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual,muntah dan
menurunnya status mental.2.3 Etiologi1. BakteriMerupakan penyebab tersering dari meningitis,
adapun beberapa bakteri yang secaraumum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :

Haemophillus influenzae

Nesseria meningitides (meningococcal)

Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)

Streptococcus, grup A

Staphylococcus aureus

Escherichia coli

Klebsiella

Proteus

Pseudomonas2. VirusMerupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini
biasanyabersifat self-limitting, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri
danpenyembuhan bersifat sempurna. Beberapa virus secara umum yang menyebabkanmeningitis
adalah:

Coxsacqy

Virus herpes

Arbo virus

Campak dan varicela3. Jamur Kriptokokal meningitis adalah serius dan fatal. Bentuk penyakit
pada pasien HIV/AIDSdan hitungan CD< 200.Candida dan aspergilus adalah contoh lain jamur
meningitis.4. Protozoa( Donna D., 1999)Faktor resiko terjadinya meningitis :1. Infeksi
sistemik Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara
hematogensampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia,
TBC,perikarditis, dll.2. Trauma kepalaBisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada
fraktur basis cranii yangmemungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui
othorrhea danrhinorhea3. Kelainan anatomisTerjadi pada pasien seperti post operasi di daerah
mastoid, saluran telinga tengah, operasi

cranium4. Terjadinya pe TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai berikut :a. Agen
penyebab reaksi local pada meninges inflamasi meninges pe permiabilitas kapiler
kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial pe volumecairan interstisial edema
Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat pe TIK b. Pada meningitis jarang
ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar kejaringan otak, dimana kejang ini terjadi
bila ada kerusakan pada korteks serebri padabagian premotor.5. Hidrosefalus pada meningitis
terjadi karena mekanisme sebagai berikut :Inflamasilocal scar tissue di daerah arahnoid ( vili )
gangguan absorbsi CSF akumulasiCSF di dalam otak hodosefalus6. Perbedaan
Ensefalitis dengan meningitis :Encephalitis MeningitisKejang Kaku kuduk Kesadaran
Kesadaran relatif masih baik Demam Demam Bila gejala yang muncul campuran
kemungkinan mengalami Meningo-ensefalitis.Faktor pencetus terjadinya meningitis bacterial
diantaranya adalah :

Otitis media

Pneumonia

Sinusitis

Sickle cell anemia

Fraktur cranial, trauma otak

Operasi spinalMeningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system kekebalan
tubuhseperti AIDS.2.4 Manifestasi KlinisTanda dan gejala meningitis secara umum:1. Aktivitas /
istirahat ;Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakaninvolunter, kelemahan,
hipotonia2. Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD , nadi , tekanan nadi berat,
takikardidan disritmia pada fase akut3. Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin4.
Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosakering5.
Higiene ; Tidak mampu merawat diri6. Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan
sensasi,Hiperalgesiameningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan oenglihatan,
diplopia,fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit
mengambilkeputusan, afasia, pupil anisokor, , hemiparese, hemiplegia,
tandaBrudzinskipositif,rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks abdominal menurun,
refleks kremasterik hilang pada laki-laki

7. Nyeri / kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler,fotosensitivitas,
nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh8. Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru,
nafas , letargi dan gelisah9. Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi
pelvis, abdomen ataukulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit,
imunisasi yang baruberlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios,
menggigil, rash,gangguan sensasi.10. Penyuluhan / pembelajaran ; Riwayat hipersensitif
terhadap obat, penyakit kronis,diabetes mellitusTanda dan gejala meningitis secara khusus:1.
Anak dan Remajaa) Demamb) kjhMengigilc) Sakit kepalad) Muntahe) Perubahan pada
sensoriumf) Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)g) Peka rangsangh) Agitasii) Dapat
terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien (adanyadisfungsi pada saraf III,
IV, dan VI)),Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma.2. Bayi dan Anak
KecilGambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun.a) Demamb)
Muntahc) Peka rangsang yang nyatad) Sering kejang (sering kali disertai denagan menangis nada
tinggi)e) Fontanel menonjol.3.Neonatus:a) Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk
didiagnosa serta manifestasi tidak jelasdan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan
berperilaku buruk dalam beberapahari, sepertib) Menolak untuk makan.c) Kemampuan
menghisap menurun.d) Muntah atau diare.e) Tonus buruk.f) Kurang gerakan.g) Menangis
buruk.h) Leher biasanya lemas.i) Tanda-tanda non-spesifik:j) Hipothermia atau demam.k) Peka
rangsang.l) Mengantuk.m) Kejang.

n) Ketidakteraturan pernafasan atau apnea.o) Sianosis.p) Penurunan berat badan.2.5
PatofisiologiMeningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan
septikemia,yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.Faktor predisposisi
mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis,anemia sel sabit dan
hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala danpengaruh imunologis.
Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagiantengah dan saluran mastoid
menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen;semuanya ini penghubung yang menyokong
perkembangan bakteri.Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang
di dalammeningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan
alirandarah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat
eksudatmeningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar
otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel
serebral.Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang
terdiridari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak),
edemaserebral dan peningkatan TIK.Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri
sebelum terjadi meningitis.Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps
sirkulasi dandihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-
Friderichssen)sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah
yangdisebabkan oleh meningokokus2.6 Pemeriksaan penunjangPemeriksaan laboratorium yang
khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Analisacairan otak diperiksa untuk jumlah sel,
protein, dan konsentrasi glukosa Lumbal PungsiLumbal pungsi biasanya dilakukan untuk
menganalisa hitung jenis sel dan protein.cairancerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan
adanya peningkatan TIK. Lumbal punksitidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan
tekanan tintra kranial..a. Meningitis bacterial :tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit
dan protein meningkat, glukosamenurun, kultur posistif terhadap beberapa jenis bakteri.b.
Meningitis Virus :tekanan bervariasi, CSF jernih, leukositosis, glukosa dan protein normal,
kultur biasanyanegative.Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan melakukan
pemeriksaan fleksi padakepala klien yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh adanya
iritasi meningealkhususnya pada nervus cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot
bagianbelakang leher, sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas.Sedangan pada
pemeriksaan Kernigs sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakanbahwa infeksi atau iritasi
sudah mencapai ke medulla spinalis bagian bawah.Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel
darah merah yang biasanya meningkat diatasnilai normal.Serum elektrolit dan serum glukosa
dinilai untuk mengidentifikasi adanya

ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.Kadar glukosa darah dibandingkan dengan
kadar glukosa cairan otak. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum
glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai
normal.Glukosa serum : meningkat ( meningitis )LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri
)Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri)Elektrolit
darah : Abnormal .ESR/LED : meningkat pada meningitisKultur darah/ hidung/ tenggorokan/
urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksiatau mengindikasikan tipe penyebab
infeksiMRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak
ventrikel;hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin
ada indikasi sumber infeksi intra kranialArteriografi karotis : Letak abses2.7 Penatalaksanaan1.
Farmakologisa. Obat anti inflamasi1) Meningitis tuberkulosaa) Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam
oral, 2 kali sehari maksimal 500 gr selama 1 tahunb) Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1
kali sehari selama 1 tahunc) Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 2
kali sehari, selama 3bulan2). Meningitis bacterial, umur < 2 bulana) Sefalosporin generasi ke 3b)
ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali seharic) Koloramfenikol 50 mg/kg/24
jam IV 4 kali sehari3). Meningitis bacterial, umur > 2 bulana) Ampisilina 150-200 mg (400
mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali seharib) Sefalosforin generasi ke 3.b. Pengobatan simtomatis1)
Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 0.6/mg/kg/dosis kemudian
kliendilanjutkan dengan.2) Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.3) Turunkan panas :a)
Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.b) Kompres air PAM atau esc.
Pengobatan suportif 1) Cairan intravena2) Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara
30 50 %Perawatana. Pada waktu kejang1) Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.2) Hisap
lender

3) Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi4) Hindarkan penderita dari
rodapaksa (misalnya jatuh)b. Bila penderita tidak sadar lama1) Beri makanan melalui sonda2)
Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi penderita seseringmungkin3)
Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb antibiotikac. Pada inkontinensia urine
lakukan katerisasi.Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.d. Pemantauan ketat.1) Tekanan
darah2) Respirasi3) Nadi4) Produksi air kemih5) Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini
adanya DC.2.8 Komplikasi1. Hidrosefalus obstruktif 2. MeningococcL Septicemia (
mengingocemia )3. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)4.
SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )5. Efusi subdural6. Kejang7. Edema
dan herniasi serebral8. Cerebral palsy9. Gangguan mental10. Gangguan belajar 11. Attention
deficit disorder 2.9 PencegahanMeningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti
dengan baik faktor presdisposisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC)
dimana dapatmenyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah
pengobatantuntas (antibiotik) walaupun gejala-gejala infeksi tersebut telah hilang.Setelah
terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi faktor
atau janis organisme penyebab dan dengan cepat memberikanterapi sesuai dengan organisme
penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius2.10 PrognosisPenderita meningitis dapat
sembuh, baik sembuh dengan cacat motorik atau mental ataumeninggal tergantung :a. umur
penderita.b. Jenis kuman penyebabc. Berat ringan infeksid. Lama sakit sebelum mendapat
pengobatane. Kepekaan kuman terhadap antibiotic yang diberikan

f. Adanya dan penanganan penyakit.Meskipun telah diberikan pengobatan, sebanyak 30% bayi
meninggal. Jika terjadi abses,angka kematian mendekati 75%. 20-50% bayi yang bertahan hidup,
mengalamikerusakan otak dan saraf (misalnya hidrosefalus, tuli dan keterbelakangan
mental).BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN3.1 Pengkajian3.1.1 Anamnesa1. Identitas
pasien.2. Keluhan utama: sakit kepala dan demam3. Riwayat penyakit sekarangHarus ditanya
dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti sakit kepala, demam, dankeluhan kejang. Kapan
mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk, bagaimana sifattimbulnya, dan stimulus apa yang
sering menimbulkan kejang.4. Riwayat penyakit dahuluRiwayat sakit TB paru, infeksi jalan
napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakanbedah saraf, riwayat trauma kepala dan
adanya pengaruh immunologis pada masasebelumnya perlu ditanyakan pada pasien. Pengkajian
pemakaian obat obat yang seringdigunakan pasien, seperti pemakaian obat kortikostiroid,
pemakaian jenis jenis antibioticdan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotic).5.
Riwayat psikososialRespon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga
penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien
dalamkeluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari
harinyabaik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.3.1.2 Pemeriksaan fisik B1: Peningkatan
kerja pernapasan pada fase awalB2: TD meningkat, nadi menurun, tekanan nadi berat
(berhubungan dengan peningkatanTIK dan pengaruh pada pusat vasomotor), takikardia,
disritmia (pada fase akut) sepertidisritmia sinusB3: afasia/ kesulitan dalam berbicara, mata
(ukuran/ reaksi pupil), unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya (peningkatan TIK)
nistagmus (bola mata bergerak-gerak terusmenerus), kejang lobus temporal, otot mengalami
hipotonia/ flaksid paralysis (pada faseakut meningitis), hemiparese/ hemiplegi, tanda Brudzinski
(+) dan atau tanda kernig (+)merupakan indikasi adanya iritasi meningeal (fase akut), refleks
tendon dalam terganggu,babinski (+), refleks abdominal menurun/ tidakl ada, refleks kremastetik
hilang pada laki-lakiB4: Adanya inkontinensia dan/atau retensiB5: Muntah, anoreksia,
kesulitan menelanB6: Turgor kulit jelek 3.2 Analisa DataAnalisa Data Etiologi Masalah
KeperawatanDS: mengeluh nyeri, depresi (sampai memukul-mukul kepala)
: skala nyeri (0-10), karakteristik (berat, berdenyut, konstan), lokasi, lamanya, faktor yang
memperburuk Bakteri, fungi, virus, trauma kepala, infeksi sistemik Invasi ke SSP melalui aliran
darahInflamasi NyeriDS: demamDO: hipertermi (> 36-370 C), kulit memerah, frekwensi nafas
meningkat, kulit hangatbila disentuh, takikardi Bakteri, fungi, virus, trauma kepala, infeksi
sistemik Invasi ke SSP melalui aliran darahInflamasiExudat menyebar Resiko tinggi penyebaran
infeksi sekunder.DS: Nyeri kepala, Pusing, kehilangan memori, bingung, kelelahan, kehilangan
visual,kehilangan sensasiDO: Bingung / disorientasi, penurunan kesadaran, perubahan status
mental, gelisah,perubahan motorik, dekortikasi, deserebrasi, kejang, dilatasi pupil, edema papil
permeabilitas kapiler Kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisialpe volume cairan
interstisialedema serebralRisiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebralDS:-DO:
pasien mengalami kejang, gangguan motorik, ataksia. Difusi ion K dan Nakejangberkurangnya
koordinasi otot Risiko tinggi terhadap traumaDS: merasa lemahDO: pasien terlihat pucat dan
lemah pe volume cairan interstisialpeningkatan TIK Gangguan kesadaran Gangguan mobilitas
fisik DS: Klien mengeluh frustasi.DO: pasien mengalami kebingungan, emosi yang berlebihan,
frustasi, disorientasi realitasPeningkatan TIK Defisit neurologisPerubahan persepsi sensori
Perubahan persepsi sensori

3.3 Diagnosa1. Nyeri b.d proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi2. Risiko tinggi terhadap
penyebaran infeksi b.d diseminata hematogen dari patogen.3. Risiko tinggi terhadap perubahan
perfusi jaringan serebral b.d edema serebral yangmengubah/menghentikan darah arteri/virus4.
Risiko tinggi terhadap trauma b.d kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo5. Gangguan
mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan6. Perubahan persepsi sensori
b.d defisit neurologis3.4 IntervensiDiagnosa 1 : Nyeri b.d proses inflamasi, toksin dalam
sirkulasiIntervensi RasionalMandiri1. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas
mata, berikan posisi yangnyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau
pasif dan masage ototleher.Meningkatkan vasokonstriksi, penumpukan resepsi sensori yang
selanjutnya akanmenurunkan nyeri2. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala
agak tingi) Menurunkan iritasimeningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut3. Berikan
latihan rentang gerak aktif/pasif. Dapat membantu merelaksasikan keteganganotot yang
meningkatkan reduksi nyeri atau tidak nyaman tersebut4. Gunakan pelembab hangat pada nyeri
leher atau pinggul Meningkatkan relaksasi ototdan menurunkan rasa sakit/ rasa tidak
nyamanKolaborasi5. Berikan anal getik, asetaminofen, codeinMungkin diperlukan untuk
menghilangkan nyeri yang beratDiagnosa 2: Risiko tinggi terhadap penyebaran infeksi b.d
diseminata hematogen daripatogen.Intervensi RasionalMandiri1. Beri tindakan isolasi sebagai
pencegahanPada fase awal meningitis, isolasi mungkin diperlukan sampai organisme
diketahui/dosisantibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan resiko penyebaran pada
oranglain2. Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat. Menurunkan
resikopasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi3. Ubah posisi
pasien secara teratur, dianjurkan nafas dalam Memobilisasi secret danmeningkatkan kelancaran
secret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasiterhadap pernapasanKolaborasi4.
Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.Obat yang dipilih
tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu

Diagnosa 3 : Risiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral b.d edemaserebral yang
mengubah/menghentikan darah arteri/virusIntervensi RasionalMandiri1. Tirah baring dengan
posisi kepala datar.Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya resiko herniasi
batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera2. Bantu berkemih, membatasi
batuk, muntah mengejan. Aktivitas seperti ini akanmeningkatkan tekanan intratorak dan
intraabdomen yang dapat men9ingkatkan TIK.Kolaborasi.3. Tinggikan kepala tempat tidur 15-45
derajat.Peningkatanaliran vena dari kepal akna menurunkan TIK 4. Berikan cairan iv (larutan
hipertonik, elektrolit ). Meminimalkan fluktuasi dalam aliranvaskuler dan TIK.5. Berikan obat :
steroid, clorpomasin, asetaminofen Menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi edema
serebral, mengatasi kelainan postur tubuh atau menggigil yangdapat meningkatkan TIK,
menurunkan konsumsi oksigen dan resiko kejangDiagnosa 4 : Risiko tinggi terhadap trauma b.d
kejang umum/fokal, kelemahan umum,vertigo.Intervensi RasionalMandiri1. Pertahankan
penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatanMelindungi pasien bila
terjadi kejang2. Tirah baring selama fase akut Menurunkan resiko terjatuh/trauma ketika
terjadivertigo, sinkop, atau ataksiaKolaborasi3. Berikan obat : venitoin, diaepam,
venobarbital.Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejangDiagnosa 5 :
Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular, penurunankekuatanIntervensi
RasionalMandiri1. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.2.
Bantu latihan rentang gerak. Mempertahankan mobilisasidan fungsi sendi/posisinormal
akstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis3. Berikan perawatan kulit, masase
dengan pelembab. Meningkatkan sirkulasi, elastisitaskulit, dan menurunkan resiko terjadinya
ekskoriasi kulit4. Berikan matras udara atau air, perhatikan kesejajaran tubuh secara
fumgsional.Menyeimbangkan tekanan jaringan, meningkatkan sirkulasi dan membantu
meningkatkanarus balik vena untuk menurunkan resiko terjadinya trauma jaringan.5. Berikan
program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi. Proses penyembuhan yanglambat seringkali
menyertai trauma kepala dan pemulihan secara fisik merupakan bagianyang amat penting dari
suatu program pemulihan tersebut.

Diagnosa 6 : Perubahan persepsi sensori b.d krisis situasi, ancaman kematian.Intervensi
RasionalMandiri1. Hilangkan suara bising yang berlebihan.Menurunkan ansietas, respons emosi
yang berlebihan/bingung yang berhubungan dengansensorik yang berlebihan2. Validasi persepsi
pasien dan berikan umpan balik. Membantu pasien untuk memisahkan pada realitas dari
perubahan persepsi3. Beri kesempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas. Menurunkan
frustasi yangberhubungan dengan perubahan kemampuan/pola respons yang
memanjangKolaborasi ahli fisioterapi4. Terapi okupasi,wicara dan kognitif.Pendekatan
antardisiplin dapat menciptakan rencana penatalaksanaan terintegrasi yangdidasarkan atas
kombinasi kemampuan/ketidakmampuan secara individu yang unik dengan berfokus pada fungsi
fisik, kognitif, dan keterampilan perseptual3.4 Evaluasi1. Mencapai masa penyembuhan tepat
waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogenatau keterlibatan orang lain.2. Mempertahankan
tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik,mendemonstrasikan tanda-
tanda vital stabil.3. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.4. Melaporkan nyeri
hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mamputidur/istirahat dengan tepat.5.
Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.6.
Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.7. Tampak rileks dan melaporkan
ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratanpengetahuan tentang situasi.3.5 Tinjauan
KasusNama : By. LTempat tanggal lahir : Jombang, 17 Desember 2002Usia : 5 bulan/ anak ke-
5Jenis kelamin : Perempuan.Nama ayah/ ibu : Tn. S/ Ny. SPendidikan ayah/ ibu : SMA/
SMPAgama : IslamSuku bangsa : Jawa/ IndonesiaAlamat : Mojowarno/ JombangNo. DMK : 10-
392-85Tgl MRS : 13 April 2003Sumber informasi : IbuDiagnosa medis : S.
MeningitisSebelumnya di rumah klien sudah seminggu menderita demam, flu dan batuk. klien
mulaikejang pada tanggal 13 April 2003 jam 23.00 (pada saat kejang mata melirik ke atas,kejang
pada seluruh badan, setelah kejang klien sadar dan menangis pada saat kejang

keluar buih lewat mulut) dan langsung dibawa ke IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya danMRS di
Ruang anak B2 Neorologi. Sebelumnya klien pernah MRS dengan diare padasaat berumur 1
bulan.Ibu mengungkapkan bahwa saat klien menderita panas dan kejang didalam keluarga
tidak ada yang menderita sakit flu/ batuk. selama hamil ia rajin kontrol ke bidan
didekatrumahnya, ia mengatakan bahwa ia juga mengkonsumsi jamu selama hamil. Menurut
ibu,klien lahir kembar di rumah sakit Mojowarno Jombang dengan berat badan lahir 1200gram,
tidak langsung menangis, menurut ibu air ketubannya berwarna kehitaman dankental. Menurut
ibu anaknya telah mendapatkan imunisasi BCG, polio I, DPT I danhepatitisIbu mengungkapkan
by.L diberikan ASI mulai lahir sampai berumur 1 bulan, setelahdirawat di ruang anak ibu tidak
menenteki dan diganti dengan PASI Lactogen. Pada saatpengkajian BB 3700 gram, panjang
badan 56 cm, lingkar lengan atas 7 cm. Ibumengungkapkan anak tidak mual dan tidak pernah
muntah Pada saat ini anak memasukimasa basic trust Vs Mistrust (dimana rasa percaya anak
kepada lingkungan terbentuk karena perlakuan yang ia rasakan). Ia juga berada pada fase oral
dimana kepuasan berasalpada mulut.Ibu mengungkapkan bahwa ia menerima keadaan anaknya,
dan berharap agar anaknyabisa cepat sembuh dan pulang berkumpul bersama dengan keluarga
serta kakak klien. Ibudan nenek klien selalu menunggui klien dan hanya pada hari minggu ayah
dan kakak klien datang mengunjungi klien, karena harus bekerja dan sekolah.1.
PengkajianPengkajian dilakukan pada tanggal 14 April 2003 pukul 10.00 WIB di Ruang
anak (Ruang neurologi/ B II) RSUD Dr. Soetomo surabayaa. BiodataNama : By. LTempat
tanggal lahir : Jombang, 17 Desember 2002Usia : 5 bulan/ anak ke-5Jenis kelamin :
Perempuan.Nama ayah/ ibu : Tn. S/ Ny. SPendidikan ayah/ ibu : SMA/ SMPAgama : IslamSuku
bangsa : Jawa/ IndonesiaAlamat : Mojowarno/ JombangNo. DMK : 10-392-85Tgl MRS : 13
April 2003Sumber informasi : IbuDiagnosa medis : S. Meningitisb. Keluhan utamaKejang.c.
Riwayat penyakit sekarangSeminggu menderita demam, flu dan batuk. klien mulai kejang pada
tanggal 13 April2003 jam 23.00 (pada saat kejang mata melirik ke atas, kejang pada seluruh
badan,setelah kejang klien sadar dan menangis pada saat kejang keluar buih lewat mulut)
danlangsung dibawa ke IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan MRS di Ruang anak B2

5. Bantu pasien untuk membatasi gerak atau berbalik di tempat tidur.Kolaborasi6. Berikan cairan
perinfus dengan perhatian ketat.7. Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen8. Berikan
terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika 1. Perubahanpada tekanan
intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak 2. Dapat mengurangi
kerusakan otak lebih lanjt3. Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan
tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan
kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan
diiukuti olehpenurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat
menggambarkanperjalanan infeksi.4. hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan
meningkatkan resiko dehidrasiterutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan
intake per oral5. Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan
intraabdomen.Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri
dariefek valsava6. Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial,
vetriksi cairandan cairan dapat menurunkan edema cerebral7. Adanya kemungkinan asidosis
disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat seldapat menyebabkan terjadinya iskhemik
serebral.8. Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler, menurunkan
edemaserebri, menurunkan metabolik sel / konsumsi dan kejangDiagnosa 2Resiko terjadi kejang
ulang berhubungan dengan hipertermiTujuan: Klien tidak mengalami kejang selama
berhubungan dengan hiperthermiKriteria Hasil: Tidak terjadi serangan kejang ulang.Suhu 36,5
37,5 C (bayi), 36 37,5 C (anak)Nadi 110 120 x/menit (bayi)100-110 x/menit
(anak)Respirasi 30 40 x/menit (bayi)24 28 x/menit (anak)Kesadaran composmentisIntervensi
Rasional1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat2. Berikan
kompres dingin3. Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll)4. Observasi kejang dan tanda vital
tiap 4 jam5. Batasi aktivitas selama anak panas

6. Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis 1. proses konveksi akan terhalangoleh
pakaian yang ketat dan tidak menyerap keringat.2. perpindahan panas secara konduksi3. saat
demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat4. Pemantauan yang teratur menentukan tindakan
yang akan dilakukan5. aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan panas6.
Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai propilaksisDiagnosa 3Resiko terjadinya
injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental danpenurunan tingkat
kesadaranTujuan: Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan
kesadaranKriteria hasil Klien bebas dari resiko injuriRencana tindakan Rasional1.
Independentmonitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya2. Persiapkan
lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alatsuction selalu berada
dekat pasien3. Pertahankan bedrest total selama fase akutKolaborasi4. Berikan terapi sesuai
advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll. 1. Gambarantribalitas sistem saraf pusat
memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yangtepat untuk mencegah terjadinya
komplikasi.2. Melindungi pasien bila kejang terjadi3. Mengurangi resiko jatuh / terluka jika
vertigo, sincope, dan ataksia terjadi4. Untuk mencegah atau mengurangi kejang.Catatan :
Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasiDiagnosa 4Kurangnya
pengetahuan keluarga sehubungan keterbatasan informasiTujuan Pengetahuan keluarga
bertambah tentang penyakit anaknyaKriteria hasil : Keluarga tidak sering bertanya tentang
penyakit anaknya.Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.Keluarga mentaati
setiap proses keperawatanRencana tindakan Rasional1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga2. Beri
penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang3. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang
akan dilakukan4. Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan mencegah
kejang,antara lain :o Jangan panik saat kejang

o Baringkan anak ditempat rata dan lembut.o Kepala dimiringkan.o Pasang gagang sendok yang
telah dibungkus kain yang basah, lalu dimasukkan kemulut.o Setelah kejang berhenti dan pasien
sadar segera minumkan obat tunggu sampai keadaantenang.o Jika suhu tinggi saat kejang
lakukan kompres dingin dan beri banyak minum5. Berikan Health Education agar selalu sedia
obat penurun panas, bila anak panas6. Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit
infeksi dengan menghindariorang atau teman yang menderita penyakit menular sehingga tidak
mencetuskan kenaikansuhu7. Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar
memberitahukankepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah menderita kejang demam 1
Mengetahuisejauh mana pengetahuan yang dimiliki keluarga dan kebenaran informasi yang
didapat2. penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu menambah
wawasankeluarga3. agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan perawatan4. sebagai upaya
alih informasi dan mendidik keluarga agar mandiri dalam mengatasimasalah kesehatan5.
mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan kejang ulang6. sebagai upaya preventif
serangan ulang7. imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat menyebabkan kejang
demam