Anda di halaman 1dari 12

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari

39
TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD
GOVERNANCE) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN
SUNGAI: KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA

Oleh:
Purwanto dan Paimin
1)



Ringkasan
Permasalahan dalam pengeloaan ekosistem DAS timbul karena
pemanfaatan sumberdaya dalam DAS melebihi kamampuan daya
dukungnya. Hal ini akibat dari pertambahan jumlah penduduk,
perubahan taraf hidup (kesejahteraan), tatanan sosial, politik, hukum, dll.
Untuk itu Pengelolan Daerah Aliran Sungai (DAS) harus didasarkan
pada prinsip pengelolaan sumberdaya alam yang lestari secara
menyeluruh dalam suatu ekosistem DAS.Pendekatan menyeluruh dalam
pengelolaan DAS secara terpadu menuntut suatu manajemen terbuka
yang menjamin keberlangsungan proses koordinasi antar lembaga
terkait. Pendekatan terpadu juga memandang penting koordinasi antar
sektor dalam penyusunan kebijakan, rencana makro dan meso serta
partisipasi masyarakat dalam penyusunan rencana, pelaksanaan,
pemungutan manfaat, monitoring dan evaluasi pada skala implementasi.
Tatakelola pemerintahan yang baik (good governance) dapat digunakan
untuk mengukur kinerja pengelolaan DAS. Namun demikian,
pengelolaan DAS di Indonesia masih menghadapi kendala koordinasi
kelembagaan, lemahnya penegakan hukum terutama tata ruang,
mundurnya pendekatan pemberdayaan masyarakat, belum diukurnya
efektifitas dan efisiensi dalam implenetasi kegiatan pengelolaan DAS,
pemantauan output untuk akuntabilitas belum dilakukan secara rutin.
Untuk itu sistem pembiayaan dalam kegiatan koordinasi perlu dirubah,
pegakan hukum dalam implemetasi tata ruang, pemberdayaan
masyarakat melalui gerakan sosial perlu digalakkan, efektifitas dan
efisiensi perlu mendapat perhatian, dan pemantauan output perlu
dilakukan sebagai akuntabilitas kegiatan implementasi pengelolaan
DAS.

Kata Kunci: Pengelolaan DAS, good governance.





1
Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Solo

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
40
I. PENDAHULUAN
Sudah sejak lama, kondisi daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia
teridentifikasi mengalami degradasi yang menyebabkan terjadinya
bahaya erosi, sedimentasi, banjir dan tanah longsor. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut, pada tahun 1976, dimulai upaya
penanggulangan bencana tersebut secara intensif pada skala nasional
melalui program Inpres/Instruksi Presiden reboisasi dan penghijauan.
Namun demikian permasalahan tersebut terus benlanjut, malahan
belakangan ini semakin luas sebarannya dan semakin sering frekwensi
terjadinya. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pengelolaan DAS belum
mampu mengatasi permasalahan dari dampak negatif pembangunan
dalam suatu DAS.
Permasalahan dalam pengeloaan ekosistem DAS timbul karena
pemanfaatan sumberdaya dalam DAS melebihi kamampuan daya
dukungnya. Hal ini akibat dari pertambahan jumlah penduduk,
perubahan taraf hidup (kesejahteraan), tatanan sosial, politik, hukum, dll.
Untuk itu Pengelolan Daerah Aliran Sungai (DAS) harus didasarkan
pada prinsip pengelolaan sumberdaya alam yang lestari dalam suatu
ekosistem DAS. Di sisi lain, Pengelolaan ekosistem DAS merupakan
bagian dari pembangunan wilayah (Departemen Kehutanan 2001).
Pembangunan wilayah menuntut kerterpaduan hulu-hilir, subsistem
dengan sub sistem lainnya, sektor, stakeholders atau pihak-pihak yang
berkepentingan.
Pendekatan menyeluruh dalam pengelolaan DAS secara terpadu
menuntut suatu manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan
proses koordinasi antar lembaga terkait. Pendekatan terpadu juga
memandang penting koordinasi antar sektor dalam penyusunan
kebijakan, rencana makro dan meso serta partisipasi masyarakat dalam
penyusunan rencana, pelaksanaan, pemungutan manfaat, monitoring
dan evaluasi pada skala implementasi.
Karenan pengelolaan DAS terkait hulu-hilir, antar sektor, seluruh stake
holders dan masyarakat maka dari aspek manajemen pemerintahan,
pengelolaan DAS merupakan urusan publik yang harus dilakukan oleh
pemerintah. Akibat tuntutan demokrasi, diperlukan tatakelola
pemerintahan yang baik (good governance) dalam pengelolaan DAS.
Makalah ini merupakan tinjauan umum tentang pengelolaan DAS yang
didasarkan pada prinsip-prinsip tatakelola pemerintahan yang baik.
Tujuan makalah ini adalah memberi masukan kepada semua pihak yang
terkait dengan pengelolaan DAS tentang masalah-masalah tatakelola
pemerintahan dalam pengelolaan DAS dan memberi saran-saran
pemecahan masalah tersebut di atas.

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
41
II. KONSEP GOOD GOVERNANCE DAN PENGELOLAAN DAS
A. Good Governance
Difinisi Good Governance yang disampaikan World Bank adalah suatu
penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan ber-
tanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang
efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi, dan pencegahan
korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin
anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya
aktivitas usaha (Anonimus, 2007).
Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas
prinsip-prinsip di dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan
didapatkan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan. Prinsip-prinsip good
governance adalah sebagai berikut: 1). Memiliki visi strategis, 2).
Tegaknya supremasi hukum, 3). Adanya partisipasi masyarakat, 4).
Didukung oleh seluruh stakeholders, 5). Berorientasi pada konsensus,
6). Kesetaraan, 7). Efektifitas dan Efisiensi, 8). Transparansi dan 9).
Memiliki akuntabilitas (Anonimus, 2007). Prinsip yang dianut Bappenas
lebih banyak lagi yaitu ditambah: 1). Tanggung gugat, 2. Demokrasi, 3.
Profesionalisme dan kompetensi, 4. Daya tanggap, 5. kemitraan dengan
dunia usaha dan masyarakat, 6. komitmen pada pengurangan
kesenjangan, 7. komitmen pada lingkungan hidup dan 8. komitmen pada
pasar yang fair (Bappenas, 2003).

B. Pengelolaan DAS
1. Definisi DAS
Ada beberpa definisi DAS yang satu dengan lainnya saling melengkapi,
antara lain: 1). Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya,
yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang
berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan
daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No. 7
Tahun 2004, BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 ayat 11), 2). Daerah
Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan
wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung
bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur
hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada
sungai utama ke laut atau danau, 3). Linsley (1980) menyebut DAS
sebagai A river of drainage basin in the entire area drained by a stream
or system of connecting streams such that all stream flow originating in
the area discharged through a single outlet, 4). Sementara itu IFPRI

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
42
(2002) menyebutkan bahwa A watershed is a geographic area that
drains to a common point, which makes it an attractive unit for technical
efforts to conserve soil and maximize the utilization of surface and
subsurface water for crop production, and a watershed is also an area
with administrative and property regimes, and farmers whose actions
may affect each others interests, dan 4). Daerah Aliran Sungai (DAS)
adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian
rupa sehingga merupakan kesatuan dengan sungai dan anak-anak
sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk
menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya
dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utamanya. Satu DAS
dipisahkan dari wilayah lain di sekitarya (DAS-DAS lain) oleh pemisah
alam topografi, seperti punggung perbukitan dan pegunungan
((Departemen Kehutanan 2001).
Dari definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa DAS merupakan
ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur
kimia berinteraksi secara dinamis dan di dalamnya terdapat
keseimbangan inflow dan outflow dari material dan energi. Selain itu
pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk
pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit
pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk
mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang
optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan
seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari
DAS dapat merata sepanjang tahun. Dalam pendefinisian DAS
pemahaman akan konsep daur hidrologi sangat diperlukan terutama
untuk melihat masukan berupa curah hujan yang selanjutnya
didistribusikan melalui beberapa cara. Konsep daur hidrologi DAS
menjelaskan bahwa air hujan yang sampai ke permukaan tanah akan
terbagi menjadi air larian, evaporasi dan air infiltrasi, yang kemudian
akan mengalir ke sungai sebagai debit aliran (Efendi, 2007).
Dalam mempelajari ekosistem DAS, dapat diklasifikasikan menjadi
daerah hulu, tengah dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah
konservasi, DAS bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. DAS
bagian hulu mempunyai arti penting terutama dari segi perlindungan
fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan di daerah hulu akan
menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi
debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran
airnya. Dengan perkataan lain ekosistem DAS, bagian hulu mempunyai
fungsi perlindungan terhadap keseluruhan DAS. Perlindungan ini antara
lain dari segi fungsi tata air, dan oleh karenanya pengelolaan DAS hulu
seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian
hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
43
(Efendi, 2007). Keteraduan biofisik tersebut menyebabkan daerah aliran
sungai harus dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh menyeluruh
yang terdiri dari sumber-sumber air, badan air, sungai, danau dan waduk
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan (Departemen
Kehutanan 2001).

2. Definisi DAS Berdasarkan Fungsi
Efendi (2007) menyatakan bahwa dalam rangka memberikan gambaran
keterkaitan secara menyeluruh dalam pengelolaan DAS, terlebih dahulu
diperlukan batasan-batasan mengenai DAS berdasarkan fungsi, yaitu
pertama DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang
dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak
terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan
vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan
curah hujan. Kedua DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi
pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat
bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat
diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan
air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana
pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.Ketiga DAS
bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola
untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi,
yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan
menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan
pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah. Keberadaan sektor
kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan baik dan terjaga
keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di bagian
tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di
bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan
air bersih bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang
panjang DAS yang begitu luas, baik secara administrasi maupun tata
ruang, dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya koordinasi berbagai
pihak terkait baik lintas sektoral maupun lintas daerah secara baik.

3. Konsepsi Pengelolaan DAS Terpadu
Efendi (2007) menyatakan bahwa pengelolaan DAS terpadu
mengandung pengertian bahwa unsur-unsur atau aspek-aspek yang
menyangkut kinerja DAS dapat dikelola dengan optimal sehingga terjadi
sinergi positif yang akan meningkatkan kinerja DAS dalam menghasilkan
output, sementara itu karakteristik yang saling bertentangan yang dapat
melemahkan kinerja DAS dapat ditekan sehingga tidak merugikan
kinerja DAS secara keseluruhan. Seperti sudah dibahas dalam bab-bab

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
44
terdahulu, suatu DAS dapat dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan
pembangunan misalnya untuk areal pertanian, perkebunan, perikanan,
permukiman, pembangunan PLTA, pemanfaatan hasil hutan kayu dan
lain-lain. Semua kegiatan tersebut akhirnya adalah untuk memenuhi
kepentingan manusia khususnya peningkatan kesejahteraan. Namun
demikian hal yang harus diperhatikan adalah berbagai kegiatan tersebut
dapat mengakibatkan dampak lingkungan yang jika tidak ditangani
dengan baik akan menyebabkan penurunan tingkat produksi, baik
produksi pada masing-masing sektor maupun pada tingkat DAS. Karena
itu upaya untuk mengelola DAS secara baik dengan mensinergikan
kegiatan-kegiatan pembangunan yang ada di dalam DAS sangat
diperlukan bukan hanya untuk kepentingan menjaga kemapuan produksi
atau ekonomi semata, tetapi juga untuk menghindarkan dari bencana
alam yang dapat merugikan seperti banjir, longsor, kekeringan dan lain-
lain. Mengingat akan hal-hal tersebut di atas, dalam menganalisa kinerja
suatu DAS, kita tidak hanya melihat kinerja masing-masing
komponen/aktifitas pembangunan yang ada di dalam DAS, misalnya
mengukur produksi/produktifitas sektor pertanian saja atau produksi hasil
hutan kayu saja. Kita harus melihat keseluruhan komponen yang ada,
baik output yang bersifat positif (produksi) maupun dampak negatif.
Adanya keterkaitan antara suatu sektor/kegiatan pembangunan dengan
kegiatan pembangunan lain, sehingga apa yang dilakukan pada satu
sektor/komponen akan mempengaruhi kinerja sektor lain.

III. IMPLEMENTASI GOOD GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN
DAS
A. Visi Strategis Pengelolaan DAS
Kebijakan nasional tentang pengelolaan DAS yaitu pemanfaatan
sumberdaya alam DAS secara lestari, berkesinambungan, dan tetap
mempertahankan kesinambungan lingkungan global, keadilan bagi
masyarakat (hulu-hilir), mendorong pertumbuhan ekonomi, ketahanan
nasional dan stabilitas politik. Prinsip dasar pengelolaan DAS adalah
(Departemen Kehutanan 2001) :
1. Pengelolaan DAS berupa pemanfaatan, pemberdayaan,
pengembangan, perlindungan dan pengendalian sumberdaya dalam
DAS.
2. Pengelolaan DAS berlandaskan pada asas keterpaduan, kelestarian,
kemanfaatan, keadilan, kemandirian (kelayaan usaha), serta
akuntabilitas.

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
45
3. Pengelolaan DAS diselenggarakan secara terpadu, menyeluruh,
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
4. Pengelolaan DAS dilakukan melalui pendekatan ekosistem yang
dilaksanakan berdasarkan prinsip satu sungai, satu rencana, satu
pengelolaan dengan memperhatikan sistem pemerintahan yang
desentralisasi sesuai jiwa otonomi yang luas.

B. Supremasi Hukum Dalam Pengelolaan DAS
Permasalahan hukum yang dihadapi dalam pengelolaan DAS terutama
adalah penggunaan lahan tidak sesuai dengan Rencana Umum Tata
Ruang Daerah baik Kota/Kabupaten maupun RUTR Propinsi.
Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang telah
menjadi dilema. Banyak lahan yang seharusnya untuk kawasan lindung
digunakan untuk perumahan dan atau lahan pertanian intensif, bantaran
sungai digunakan untuk perumahan, pertokoan; kawasan rawan longsor
digunakan untuk perumahan, kawasan produktif untuk lahan sawah
diubah menjadi pemukiman; dll.
Banyak pemerintah daerah yang melakukan penggusuran tetapi
menimbulkan resistensi yang besar dari masyarakat. Tindakan preventif
untuk melarang penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana
tata ruang tampaknya lebih penting untuk mengatasi masalah ini.

C. Dukungan Stakeholders
Stakeholders dalam pengelolaan DAS terdiri dari berbagai sektor dan
antar Kabupaten/Kota maupun Propinsi. Stakeholders tersebut terdiri
dari instansi pemerintah, swasta dan masyarakat serta sebagai
kontrolnya adalah LSM dan pers. Koordinasi antar lembaga perlu
diintensifkan. Sudah menjadi pendapat umum bahwa koordinasi mudah
diucapkan tetapi sulit dilaksanakan namun belum ada kajian yang dapat
menjawab mengapa hal itu terjadi. Kajian kelembagaan PHBM di tiga
Kabupaten (Boyolali, Kebumen dan Blora) menunjukkan bahwa ada
beberapa hambatan dalam koordinasi antara lain: 1). Seseorang yang
mewakili lembaganya hanya mau aktif dalam kegiatan yang
direncanakan apa bila mendapatkan keuntungan finansial baik untuk
lembaganya maupun dirinya. Solusi yang disarankan dari masalah ini
adalah disediakannya pos pendanaan untuk sektor lain yang terkait
dalam kegiatan pengelolaan DAS yang besarnya disesuaikan dengan
volume pekerjaan namun jumlah maksimumnya dibatasi 2). Terjadi
informasi yang simpang siur (rush informastion) karena setiap sektor
melakukan koordinasi sendiri-sendiri. Pada masalah ini disarankan agar
koordinasi dilakukan oleh Badan Perencana Pembangunan Daerah baik

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
46
Kota/Kabupaten, Propinsi, 3. Setiap sektor memiliki program masing-
masing. Untuk itu peran Bappeda perlu diperkuat untuk merencanakan
pembangunan keseluruhan sedangkan pengelolaan DAS hanya bagian
kecil darinya.
Koordinasi juga harus dilakukan antara pemerintah hulu dan hilir yaitu
antara propinsi hulu dan propinsi hilir untuk DAS antar propinsi, antara
kabupaten hulu dan kabupaten hilir untuk DAS antar kabupaten dan
antara kecamatan hulu dan kecamatan hilir untuk DAS dalam satu
Kabupaten. Pembagian peran dalam kegiatan pengelolaan DAS antar
daerah administratif harus jelas. Paimin dkk. (2006) mengembangkan
daerah administrsi dominan untuk penentuan daerah prioritas dalam
penanganan permasalahan DAS. Prinsip ini seperti yang dikembangan
Richardson (1977) dalam unit implementasi kebijakan pembangunan
ekonomi regional.
Kompensasi hulu hilir untuk sharing pembiayaan dalam pengelolaan
DAS kebnyakan masih merupakan wacana namun beberapa DAS sudah
melakukannya seperti DAS Asahan, Cidanau, bebrapa DAS yang
pengelolaan airnya oleh PT. Jasa Tirta (Brantas, Bengawan Solo,
Citanduy, dll) dan di beberapa lokasi untuk sumber air minum PDAM
Solo, PDAM Wonogiri, pemanfaatan sumber air di wilayah Perum
Perhutani oleh masyarakat Bandung Utara. Untuk DAS yang
kompensasi hulu-hilirnya belum dapat dilakukan dapat dilakukan fiscal
policy . Pembagian dana alokaasi khsusus dari pemerintah pusat seperti
GERHAN sebaiknya didasarkan pada besarnya masalah yang harus
ditangani oleh daerah tersebut. Hal ini harus dibuktikan dengan data luas
lahan kritis pada masing-masing daerah Kabupaten dan dipaparkan
secra transparan kepada seluruh stakeholders.
Peranan LSM dan Pers sebagai middle class adalah sebagai institusi
kontrol terhadap kegiatan pengelolaan DAS dan pembangunan pada
umumnya. Kemandirian LSM dan Pers mutlak diperlukan agar
mekanisme kontrol berjalan sebagaimana mestinya. Dalam kegiatan
GERHAN misalnya, secara adminstratif LSM sebagai lembaga kontrol
dan pendamping masyarakat tetapi mendapatkan pembiayaan dari
kegiatan GERHAN itu sendiri sehingga mekanisme kontrol tersebut
menjadi diragukan.

D. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengelolaan
DAS dalam tataran implementasi. Kegiatan pengelolaan DAS tidak akan
berhasil tanpa dukungan masyarakat. GERHAN misalnya, diharapkan
merupakan gerakan sosial dalam kegiatan rehabilitasi lahan. Insentif
dalam kegiatan GERHAN dimaksudkan untuk mendorong masyarakat

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
47
untuk merehabilitasi lahan di sekitar tempat tinggalnya. Penangan Model
DAS Mikro (MDM) atau implementation basin hanya merupakan pilot
project yang diharapkan dapat ditiru oleh masyarakat sekitarnya.
Permasalahan yang teramati dalam kegiatan GERHAN masih
merupakan kegiatan proyek pada umumnya. Masyarakat diberi bibit
yang pengadaannya dilakukan melalui tender. Hal ini bertentangan
dengan jiwa gerakan sosial. Kondisi ini harus dikembalikan pada model
INPRES PENGHIJAUAN tahun 1970-an, yang mengutamakan
partisipasi masyarakat dalam kegiatan penghijauan. Dalam INPRES
PENGHIJAUAN, secara partisipasi masyarakat melalui kelompok tani
diminta untuk menyusun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok
(RDKK). Tahap berikutnya adalah menseleksi kebutuhan mana yang
dapat dipenuhi oleh masyarakat secara swadana dan kebutuhan mana
yang harus mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dari kedua
sumberdaya tersebut kegiatan penghijauan dilaksanakan. Dengan
mekanisme ini keswadayaan masyarakat akan timbul. Pembuatan kebun
bibit desa (KBD) untuk kegiatan penghijauan merupakan keswadayaan
yang sampai sekarang masih diingat oleh para pelaku INPRES
PENGHIJAUAN tahun 1970-an.
Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi, partisipasi masyarakat
diperlukan untuk memantau keberhasilan dan permasalahan yang timbul
pada setiap tahapan yang mereka lakukan. Peranan pendamping seperti
penyuluh dan LSM adalah mengarahkan dan mengembangkan potensi
dan peluang yang belum dapat dilihat dan dikembangkan oleh kelompok
tani, misalnya potensi pasar dan pengembangan hasil ikutan dari
kegiatan penghijauan, dll. Pengalaman melakukan pendampingan di
Bojonegoro dan Juwangi menunjukkan bahwa masyarakat tidak tahu
persis potensi besar yang mereka miliki dan proses pemahaman tentang
kegiatan yang dilakukan terjadi pasang surut dalam kurun waktu
pembinaan.
Dalam membangun partisipasi masyarakat konsensus, kesetaraan, dan
tranparansi harus dilakukan untuk menanamkan kepercayaan inisiator
kegiatan kepada masyarakat. Disamping itu ketekunan dan
keikutsertaan dalam pertemuan rutin masyarakat seperti pertemuan
kelompok tani yang dilakukan bulanan atau slapanan (35 hari)
merupakan media yang paling baik untuk mendukung keberhasilan
program. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun hubungan
personal kepada tokoh-tokoh masyarakat merupakan invisible hand
yang mendorong keberhasilan gerakan sosial tersebut.



Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
48
E. Efektivitas dan Efisiensi
Penilaian efektifitas dan efisiensi belum banyak dilakukan pada kegiatan
pengelolaan DAS. Pemantauan terhadap efektifitas kegiatan yang dipilih
seperti banguan sipil teknis jarang dilakukan. Efektifitas bangun sipil
teknis tersebut baru ketahuan setelah jangka waktu yang lama. Misalnya
pembangunan dam-dam pengendali sedimen baru ketahuan kalau dam
tersebut hampir penuh. Hal ini seharusnya dipantau berapa
pengurangan sedimen yang diakibatkan pembangaunan dam tersebut.
Untuk kegiatan konservasi vetgetatif pemantauan pertumbuhan tanaman
relatif dilakukan secara rutin. Sedangkan kegiatan efisiensi kegiatan
pengelolaan DAS yang dilakukan oleh pemerintah kurang mendapat
perhatian karena sudah dipatron oleh kegiatan keproyekan.

F. Akuntabilitas
Akuntabilitas pengelolaan DAS dapat diukur dari produktifitas lahan dan
dampak yang diakibatkan oleh kegiatan pengelolaan DAS seperti
besarnya erosi, sedimentasi, banjir, kekeringan, dan longsor. Indikator ini
dapat diapkai untuk mengukur keberhasilan pengelolaan DAS yang
dilakuikan langsung secara on side maupun off side. Indikator pada on
side untuk mengukur keberhasilan implementasi skala mikro dalam
kegiatan pengelolaan DAS sedangkan indikator yang diukur di off side
dapat digunakan untuk menilai kegetian pengelolaan DAS oleh unit
pemerintahan daerah yang ada di bagian lebih hulu.

IV. PENUTUP
Pendekatan menyeluruh dalam pengelolaan DAS secara terpadu
menuntut suatu manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan
proses koordinasi antar lembaga terkait. Pendekatan terpadu juga
memandang penting koordinasi antar sektor dalam penyusunan
kebijakan, rencana makro dan meso serta partisipasi masyarakat dalam
penyusunan rencana, pelaksanaan, pemungutan manfaat, monitoring
dan evaluasi pada skala implementasi.
Tatakelola pemerintahan yang baik (good governance) dapat digunakan
untuk mengukur kinerja pengelolaan DAS. Namun demikian,
pengelolaan DAS di Indonesia masih menghadapi kendala koordinasi
kelembagaan, lemahnya penegakan hukum terutama tata ruang,
mundurnya pendekatan pemberdayaan masyarakat, belum diukurnya
efektifitas dan efisiensi dalam implenetasi kegiatan pengelolaan DAS,
pemantauan output untuk akuntabilitas belum dilakukan secara rutin.
Untuk itu sistem pembiayaan dalam kegiatan koordinasi perlu dirubah,

Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
49
pegakan hukum dalam implemetasi tata ruang, pemberdayaan
masyarakat melalui gerakan sosial perlu digalakkan, efektifitas dan
efisiensi perlu mendapat perhatian, dan pemantauan output perlu
dilakukan sebagai akuntabilitas kegiatan implementasi pengelolaan
DAS.


Good Forest Governance Sebagai Syarat Pengelolaan Hutan Lestari
50
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2007. Good Governnace.
http://www.transparansi.or.id/?pilih=lihatgood governance&id=5.
Anonimus. 2007. Prinsip-prinsip Good Governance.
http://www.transparansi. or.id/?pilih= lihatgoodgovernance&id=3
Asdak, C. 1999. Daerah Aliran Sungai Sebagai Satuan Monitoring dan
Evaluasi Lingkungan: Air Sebagai Indikator Sentral. Seminar
Sehari PERSAKI: DAS Sebagai Satuan Perencanaan Terpadu
Dalam Pengelolaan Sumberdaya Air. Jakarta, 21 Desember
1999.
Bappenas. 2003. Prinsip-prinsip Good Governance.
http://www.Goodgovernance-
bappenas.go.id/frame_1/frame_index_2.htm.
Linsey, K. 1980. Applied Hydrology. McGraw Hill Publication, Co. New
Delhi.
Departemen Kehutanan. 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan
dan Perhutnaan Sosial. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah. Jakarta.
Efendi, E. 2007. Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Terpadu. http://www.Bappenas.go.id/
Paimin, Purwanto, dan Sukresno. 2004. Sidik Cepat Degrasi Sub Daerah
Aliran Sungai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan
Konservasi Alam. Bogor.
Richardson, H.W. 1977. Dasar-dasar Ilmu Ekonomi Regional.
Terjemahan: Paul Sihotang. Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.