Anda di halaman 1dari 23

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Proses Kimia berjudul Hidrolisa Pati ini telah disahkan
Hari,Tanggal :
Nama / NIM : 1. Yonathan Nusaputra H 21030112130066
2. Kusuma Betha C. I. 21030112130086
3. Jurinda Fadillah 21030112120127
Kelompok : 29 / Jumat
Judul Materi : Hidrolisa Pati












Semarang, April 2014
Dosen pembimbing,




Dr. Siswo Sumardiono, ST., MT.
INTISARI

Pati merupakan polisakarida dengan jumlah yang melimpah dan memiliki komposisi
yang berbeda tergantung pada tanaman yang menjadi sumbernya. Modifikasi terhadap pati
yang paling banyak digunakan adalah hidrolisa dengan asam dan enzim. Hidrolisa denghan
enzim memiliki keuntungan kondisi reaksi yang lebih normal. Akan tetapi, harga yang
dibutuhkan lebih tinggi untuk investasi awal, enzim enzim yang dibutuhkan, dan
laboratorium yang canggih. Hidrolisa dengan asam memiliki kelebihan, laju reaksi yang
cepat, pretreatment yang sederhana, murah, katalisnya mudah didapat. Pada percobaan ini
akan dilakukan hidrolisa asam dengan variable konsentrasi HCl.
Pada reaksi hidrolisis pati dengan air, air akan menyerang pati pada ikatan 1-4
glukosida menjadi rantai yang lebih pendek. Hidrolisa pati terjadi antara suatu reaktan pati
dengan reaktan air. Reaksi ini adalah orde satu, karena konsentrasi reaktan air yang dibuat
berlebih sehingga perubahan reaktan dapat diabaikan.

Mula-mula, menghitung densitas tepung tapioka dan HCl

untuk mencari kebutuhan
tepung tapioka, serta membuat larutan glukosa standar. Setelah itu uji standarisasi larutan
fehling. Disaat yang bersamaan, dilakukan analisa kadar pati awal dengan memasukkan
pati, HCl dan air sampai ke dalam labu leher tiga. Selanjutnya dipanaskan sampai 75
0
C dan
diaduk dengan magnetic stirrer selama 1 jam dan uji kadar pati dengan titrasi glukosa
standar. Proses selanjutnya adalah hidrolisa pati dengan bahan yang sama seperti kadar
pati awal. Lalu dipanaskan sampai 75
0
C dan dianggap sebagai t
0
. Mengmbil larutan sampel
sebanyak 20 mL untuk dinetralkan pHnya, selanjutnya ambil 5 mL kemudian diencerkan 100
mL, dan ambil 5 mL untuk titrasi. Hal tersebut dilakukan berulang setiap 5 menit sebanyak 5
kali.

Kesimpulan dari percobaan ini adalah, semakin lama waktu yang digunakan untuk
reaksi maka semakin besar pula konversi yang dicapai. Semakin besar konsentrasi
katalisator, konversi semakin besar. Semakin tinggi normalitas katalis yang digunakan maka
akan meningkatkan konstanta kecepatan reaksi. Saran dari percobaan ini adalah, pada saat
proses penetralan pH harus tepat pH 7. Suhu supaya dijaga konstan 75
0
C. Percobaan
hidrolisa pati dikembangkan dengan menggunakan metode lain untuk mengetahui perbedaan
pati termodifikasi yang dihasilkan.



BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pati saat ini banyak digunakan dalam industri makanan sebagai bahan baku utama
untuk persiapan dan proses berbagai produk yang berbeda (Nehir El & Simsek, 2012). Pati
adalah penentu tekstur, konsistensi, dan penerima sensor yang penting (Utrilla-Coello, 2014).
Pati merupakan polisakarida dengan jumlah yang melimpah dan memiliki komposisi yang
berbeda tergantung pada tanaman yang menjadi sumbernya (Fouladi, 2014). Aplikasi dari
pati dalam produk makanan bergantung pada komposisi bawaan tersebut (Jihong, 2012).
Akan tetapi, beberapa sifat bawaan tersebut seperti ketidaklarutan dalam air, kecenderungan
untuk retrogradasi, dan aliran yang rendah, dapat membatasi aplikasi pati dalam bentuk
aslinya. Banyak cara yang telah diciptakan untuk mengatasi kerugian kerugian tersebut
untuk mengembangkan pengaplikasiannya dalam skala industry (Nouri, 2014).
Modifikasi terhadap pati dapat dilakukan secara fisika, kimia, enzim, atau genetic
(Fouladi, 2014). Akan tetapi, yang paling banyak digunakan adalah hidrolisa dengan asam
dan enzim (Tawil, 2014). Saat ini, hidrolisa dengan katalis enzim lebih banyak digunakan
karena menawarkan berbagai macam kelebihan, seperti kondisi reaksi yang lebih normal.
Akan tetapi, terdapat faktor faktor yang membatasi penggunaan hidrolisa dengan enzim,
yaitu harga yang tinggi untuk investasi awal, enzim enzim yang dibutuhkan, dan
laboratorium yang canggih (Marija, 2009).
Maka dari itu, hidrolisa dengan asam meskipun merupakan metode yang lebih lama,
masih bisa digunakan sebagai opsi untuk melakukan hidrolisa pati. Kelebihan dari hidrolisa
asam adalah, laju reaksi yang cepat, pretreatment yang sederhana, murah, katalisnya mudah
didapat, dan reaksi pada temperature yang relative rendah dengan konsentrasi asam yang
tinggi (Marija, 2009). Hidrolisa dengan menggunakan asam telah banyak diteliti untuk
memodifikasi pati dan membentuk produk produk untuk aplikasinya dalam industry
makanan, kertas, tekstil, dan lain lain (Li, 2010). Hidrolisa pati dilakukan dengan cara
mengurai pati dengan asam dalam air ( Xiuting, 2014).




Dalam industri, biasanya pati yang akan dimodifikasi secara asam dipersiapkan
dengan memperlakukan slurry pati dalam HCl atau H
2
SO
4
yang diencerkan pada 25 55 C
dalam periode waktu yang bervariasi (Ahmed, 2010). Katalis asam seperti HCl atau H
2
SO
4
dapat mempengaruhi laju kecepatan hidrolisis secara signifikan. Pada praktikum ini, katalis
asam yang digunakan adalah katalis HCl.


1.2 Tujuan Percobaan
1. Mempelajari pengaruh konsentrasi katalis HCl terhadap konversi reaksi hidrolisa pati.
2. Menghitung konstanta kecepatan reaksi dan menganalisa pengaruh konsentrasi katalis
HCl terhadap konstanta kecepatan reaksi.

1.3 Manfaat Percobaan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh konsentrasi katalis HCl terhadap reaksi
hidrolisa pati.
2. Mahasiswa dapat menghitung konstanta kecepatan reaksi dan menganalisa pengaruh
konsentrasi katalis HCl terhadap konstanta kecepatan reaksi.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hidrolisa merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu senyawa.
Gugus OH dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis
murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, hidrolisis gabungan alkali dengan air
dan hidrolisis dengan katalis enzim. Sedangkan berdaasarkan fase reaksi yang terjadi
diklasifikasikan menjadi hidrolisis fase cair dan hidrolisis fase uap.

Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi ini adalah
orde satu, karena reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat
diabaikan. Reaksi hidrolisis pati dapat dilakukan menggunakan katalisator H+ yang dapat
diambil dari asam. Reaksi yang terjadi pada hidrolisis pati adalah sebagai berikut :

(C6H10O5)x + H2O x C
6
H
12
O
6

Berdasarkan teori kecepatan reaksi :
-rA = k. C pati. C air ...(1)
karena volume air cukup besar, maka dapat dianggap konsentrasi air selama perubahan reaksi
sama dengan k, dengan besarnya k :
k = k . Cair ...(2)
sehingga persamaan 1 dapat ditulis sebagai berikut -rA = k. C pati dari persamaan kecepatan
reaksi ini, reaksi hidroisis merupakan reaksi orde satu. Jika harga rA = -dCA/dt maka
persamaan 2 menjadi :
Ca k
dt
dCa
'

...(3)
dt k
Ca
dCa
' (4)
Apabila CA = CA0 (1-xA) dan diselesaikan dengan integral dan batas kondisi t1, CA0 dan t2
: CA akan diperoleh persamaan :


CA
CA
t
t
dt k
Ca
dCa
0
1
2
' (5)
k
Ca
Cao
ln (t
2
-t
1
) (6)
'
) 1 (
1
ln k
Xa

(t
2
-t
1
) (7)

Dimana xA = konversi reaksi setelah satu detik.
Persamaan 7 dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan regresi y = mx + c, dengan
dan x = t2.
) 1 (
1
ln
Xa
Y

dan x = t
2
II.2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HIDROLISA PATI
Variabel- variabel yang berpengaruh terhadap reaksi hidrolisa :
1. Katalisator
Hampir sama semua reaksi hidrolisa membutuhkan katalisator untuk mempercepat
jalannya reaksi. Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam karena kinerjanya
lebih cepat. Asam yang dipakai beraneka jenisnya mulai dari HCl (Agra dkk, 1973; Stout &
Rydberg Jr, 1939), H2SO4 sampai HNO3. Yang mempengaruhi kecapatan reaksi adalah
konsentrasi ion H+, bukan jenis asamnya. Meskipun demikian, didalam industri umumnya
diakai asam klorida (HCl).
Pemilihan ini didasarkan atas sifat garam yang terbentuk pada penetralan tidak
menimbulkan gangguan apa-apa selain rasa asin jika konsentrasinya tinggi. Oleh karena itu,
konsentrasi asam dalam air penghidrolisa ditekan sekecil mungkin. Umumnya dipergunakan
larutan asam yang mempunya konsentrasi asam yang lebih tinggi daripada pembuatan sirup.
Hidrolisa pada tekanan 1 atm memerlukan asam yang jauh lebih pekat.

2. Suhu dan Tekanan
Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi mengikuti persamaan Arrhenius, dimana
semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju reaksinya. Untuk mencapai konversi tertentu,
diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk menghidrolisa pati ketela rambat pada suhu 1000C.
Tetapi jika suhunya dinaikkan hingga 1350C, konversi yang sama dapat dicapai dalam waktu
40 menit (Agra dkk, 1973). Hidrolisis pati gandum dan jagung dengan katalisator H2SO4
memerlukan suhu 1600C. Karena panas reaksi mendekati nol dan reaksi berjalan dalam fase
cair maka suhu dan tekanan tidak banyak mempengaruhi keseimbangan.

3. Pencampuran (pengadukan)
Supaya zat pereaksi dapat saling bertumbukan dengan sebaik-baiknya perlu adanya
pencampuran. Untuk proses Batch, hal ini dapat dicapai dengan bantuan pengaduk atau alat
pengocok (Agra dkk, 1973). Apabila prosesnya berupa proses alir (kontinyu), maka
pecampuran dilakukan dengan cara mengatur aliran didalam reaktor supaya terbentuk olakan.

4. Perbandingan zat pereaksi
Jika salah satu zat pereaksi dibuat berlebihan jumlahnya maka keseimbangan dapat
bergeser kearah kanan dengan baik. Oleh karena itu, suspensi pati yang kadarnya rendah
memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang kadarnya tinggi. Bila kadar
suspensi pati diturunkan dari 40% menjadi 20% atau 1% maka konversi akan bertambah dari
80% menjadi 87 atau 99 % (Groggis, 1958). Pada permukaan, kadar suspensi pati yang tinggi
sehingga molekul-molekul zat pereaksi akan sulit bergerak. Untuk menghasilkan glukosa
biasanya dipergunakan suspensi pati sekitar 20%.

BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN

3.1 Bahan dan Alat yang digunakan

3.1.1 Bahan
Glukosa standar
Tepung
NaOH
HCl/H2SO4
Indikator MB
Fehling A dan B
Aquades

3.1.2 Alat
Gelas ukur
Termometer
Erlenmeyer
Statif dan klem
Buret
Labu leher tiga
Labu takar

3.2 Gambar Alat Utama BAB III
Gambar 1. Rangkaian alat hidrolisa
Keterangan:
1. Magnetic stirer + heater
2. Waterbatch
3. Labu leher tiga
4. Termometer
5. Pendingin balik
6. Klem
7. Statif








Gambar 1. Rangkaian alat hidrolisa
Keterangan:
1. Magnetic stirer + heater
2. Waterbatch
3. Labu leher tiga
4. Termometer
5. Pendingin balik
6. Klem
7. Statif


3.3 Prosedur percobaan

1. Persiapan awal
a. Menghitung densitas pati Kedalam gelas ukur, 5 ml aquades dimasukkan 1 gr pati, catat
penambahan volume.

b. Menghitung densitas HCl/H2SO4
Timbang berat picnometer kosong (m1), masukkan HCl/H2SO4 kedalam picnometer yang
telah diketahui volumenya (v), timbang beratnya (m2), hitung densitas HCl/H2SO4.
c. Membuat glukosa standar
Glukosa anhidrit sebanyak 2 gram dilarutkan dalam 1000 ml aquades.

2. Penentuan kadar pati
a. Standarisasi larutan fehling

5 ml fehling A + 5 ml fehling B + 15 ml glukosa standar, dipanaskan sampai mendidih.
Setelah mendidih ditambahkan 3 tetes MB,kemudian larutan dititrasi dengan glukosa
standard hingga warna berubah menjadi merah bata. Catat Volume titran (F) yang diperlukan,
proses titrasi dilakukan dalam keadaan mendidih (diatas kompor).
b. Penentuan kadar pati awal

Sebanyak gram pati , katalis HCl/H2SO4 dan aquadest yang telah ditentukan sesuai variabel
dimasukkan ke dalam labu leher tiga dan dipanaskan hingga suhu operasi (0C), selama 1 jam.
Setelah itu larutan didinginkan, diencerkan dengan aquades sampai 500 ml lalu diambil 20 ml
dan dinetralkan dengan NaOH (PH = 7). Larutan diambil 5 ml diencerkan sampai 100 ml,
diambil 5 ml. Ke dalam Erlenmeyer dimasukkan 5 ml larutan + 5 ml Fehling A + 5 ml
fehling B + 15 ml glukosa standard, kemudian dipanaskan sampai mendidih. Lalu
ditambahkan 3 tetes indikator MB.Kemudian larutan dititrasi dengan glukosa standard
sehingga berubah warna menjadi warna merah bata. Catat volum titran yang dibutuhkan (M).
Yang perlu diperhatikan, proses titrasi dilakukan dalam keadaan mendidih diatas kompor.
c. Hidrolisa pati

Sebanyak gram pati , katalis HCl/H2SO4 dan aquadest yang telah ditentukan sesuai variabel
dimasukkan dalam labu leher tiga. Dipanaskan.Pada saat suhu operasi tercapai (0C) anggap
sebagai t0 diambil sampel sebanyak 20 ml. Kemudian sampel dinetralkan dengan NaOH (PH
= 7). Larutan diambil 5 ml diencerkan sampai 100 ml, diambil 5 ml. Kedalam Erlenmeyer
dimasukkan 5 ml larutan +5 ml Fehling A + 5















BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 HASIL PERCOBAAN
Variabel I
Tabel 4.1 Nilai konversi dengan katalis HCl 0,1 N
t (menit) M Xp0 Xp XA -In(1-XA)
0 18 0,0196 0,00098 0,05 0,0513
5 14 0,0196 0,0049 0,25 0,287
10 12,5 0,0196 0,0064 0,326 0,394
15 9 0,0196 0,0098 0,5 0,693
20 8 0,0196 0,0108 0,55 0,798

k = /menit

Variabel II
Tabel 4.2 Nilai konversi dengan katalis HCl 0,6 N
t
(menit)
M Xp0 Xp XA -In(1-XA)
0 15 0,024 0,0004 0,1667 0,1824
5 12 0,024 0,0075 0,3125 0,375
10 10 0,024 0,0095 0,396 0,5042
15 6,5 0,024 0,0131 0,546 0,789
20 4 0,024 0,0157 0,654 1,0613

k = /menit
IV.2 PEMBAHASAN
IV.2.1. Pengaruh Variabel terhadap nilai konversi

Gambar 1. Grafik t vs XA (Variabel 1 dan 2)
Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu yang digunakan
untuk reaksi maka semakin besar pula konversi yang dicapai. Hal ini sesuai
berdasarkan rumus (Levenspiel, 1999) :
kt Xa ) 1 ln(
Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu reaksi maka semakin besar
kesempatan untuk bereaksi. Disamping itu dari gambar tersebut juga dapat dilihat
pada waktu yang sama, semakin besar konsentrasi katalisator, konversi semakin
besar. Hasil ini didukung oleh penelitian yang terdahulu bahwa semakin besar
konsentrasi HCl yang digunakan, semakin besar pula konversinya (Mastuti,
2010)
Hal ini disebabkan semakin besar konsentrasi katalisator energi aktivasi
semakin kecil. . Energi aktivasi reaksi merupakan banyaknya energi minimum yang
dibutuhkan oleh reaksi agar reaksi dapat berlangsung. Semakin kecil energi aktivasi,
semakin mudah suatu reaksi terjadi (Marija, 2011).


0.05
0.25
0.326
0.5
0.55
0.1667
0.3125
0.396
0.546
0.654
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0 5 10 15 20 25
k
o
n
v
e
r
s
i

t (menit)
konsentrasi HCl 0.1N
konsentrasi HCl 0.6N



IV.2.2. Pengaruh Variabel terhadap nilai k

Gambar 2. Grafik t vs k
Pada percobaan Hidrolisa Pati ini, variabel yang digunakan adalah tepung
tapioka. Pada hasil percobaan, variabel 1 (Konsentrasi HCl 0,1N) menghasilkan
harga k = 037988/menit, lebih kecil daripada variabel 2 (Konsentrasi HCl 0,6N)
yang menghasilkan harga k = menit. Semakin besar normalitas HCl akan
menghasilkan harga konstanta kecepatan reaksi yang lebih tinggi. Hasil ini didukung
oleh penelitian yang terdahulu bahwa semakin besar konsentrasi HCl yang
digunakan, semakin besar pula konstanta kecepatan reaksinya (Mastuti, 2010),
HCl yang merupakan asam berfungsi sebagai katalisator proses hidrolisa.
Semakin tinggi normalitas katalis yang digunakan maka akan meningkatkan konstanta
kecepatan reaksi, karena katalisator bertujuan mempercepat kecepatan reaksi (Marija,
2011). Reaksi dapat menjadi cepat karena penggunaan katalis menghasilkan
tumbukan antar elektron yang mengakibatkan adanya perubahan konfigurasi elektron,
sehingga didapat unsur baru yang akhirnya menghasilkan glukosa. Reaksi dibawah ini
merupakan reaksi hidrolisis pati dengan katalis asam:
0.0513
0.287
0.394
0.693
0.798
0.1824
0.375
0.5042
0.789
1.0613
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
0 5 10 15 20 25
k

t (menit)
konsentrasi HCl 0.1N
konsentrasi HCl 0.6N






BAB V
PENUTUP

V.1. Kesimpulan
1. Semakin lama waktu yang digunakan untuk reaksi maka semakin besar pula konversi yang
dicapai.
2. Semakin besar konsentrasi katalisator, konversi semakin besar
3. Semakin tinggi normalitas katalis yang digunakan maka akan meningkatkan konstanta
kecepatan reaksi

V.2. Saran
Percobaan hidrolisa pati dikembangkan dengan menggunakan metode lain untuk mengetahui
perbedaan pati termodifikasi yang dihasilkan.













DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, J., & Auras, R. (2011). Effect of acid hydrolysis on rheological and thermal
characteristics of lentil starch slurry. LWT - Food Science and Technology. 44. 976-983.
Fouladi, E., & Abdorreza, M. N. (2014). Effects of acid-hydrolysis and hydropxypropylation
on functional properties of sago starch. International Journal of Biological
Macromolecules. 68. 251-257.
Jihong, L., Thava V., David, C. B. (2012). Improved cold starch hydrolysis with urea
addition and heat treatment at subgelatinization temperature. Carbohydrate Polymers.
87. 1649-1656.
Levenspiel. O., Chemical Reaction Engineering 2nd ed, Mc. Graw Hill Book Kogakusha
Ltd, Tokyo, 1999
Li, X., Gao, W. Y., Wang, J., Jiang, Q. Q., & Huang, L. Q. (2010). Comparison of the
morphological, crystalline, and thermal properties of different crystalline types
of starches after acid hydrolysis. Starch- Strke, 62(12), 686-696.
Marija, B. T., Budimir, V. K., Miodrag, L. L., Vlada B., V. (2009). The acid hydrolysis of
potato tuber mash in bioethanol production. Biochemical Engineering Journal. 43. 208-
211.
Mastuti, E., & Dwi, A. S., Pengaruh Variasi Temperatur dan Konsentrasi Katalis pada
Kinetika Reaksi Hidrolisis Tepung Ketela Pohon. Ekuilibrium. 9. 23-27.
Nehir, El S., & Simsek, S. (2012). Production of resistant starch from taro (Colocasia
esculenta L. Schott) corm and determination of its effects on health by in vitro methods.
Carohidrate Polymers. 90. 1204-1209.
Nouri, L., & Abdorreza, M. N. (2014). Antibacterial, mechanical, and barrier properties of
sago starch film incorporated with betel leaves extract. International Journal of
Biological Macromolecules. 66. 254-259.
Tawil, G., Anders, V., Agnes, R., Paul C., Alain B. (2012). Hydrolysis of concentrated raw
starch: A new very efficient -amylase from Anoxybacillus flavothermus. Carbohydrate
Polymers. 87. 46-52.

Utrilla-Coello, R.G., Hernandez-Jaimes, Carillo-Navaz, H., Gonzalez, F., Rodriguez, E.,
Bello-Perez, L. A., Vernon-Carter, Alvarez-Ramirez, J. (2014). In vitro digestibility,
physicochemical, thermal and rheological properties of banana starches. Carbohydrate
Polymers. 103. 596-602.
Xiuting, H., Hongyan, L., Benxi, W., Xueming, X., Zhengyu, J., Yaoqi. (2014). Hydrolysis
process of normal rice starch by 1-butanolhydrochloric acid. Food Hydrocolloids. 41.
27-32.

















LEMBAR PERHITUNGAN

Perhitungan Densitas Pati





Perhitungan Densitas HCl
()
()





Perhitungan Kebutuhan Reagen

Variabel 1 (HCl 0,1 N)
Kebutuhan HCl 0,1 N dalam 350 ml

()



Kebutuhan Pati



Variabel 2 (HCl 0,6 N)
Kebutuhan HCl 0,6 N dalam 350 ml

()



Kebutuhan Pati




Standarisasi Larutan Fehling
F = 19 ml

Perhitungan Kadar Pati Awal

Variabel 1
M = 5 ml

( )

( )







Variabel 2
M= 3 ml

( )

( )







Perhitungan Kadar Pati Terhidrolisa

( )



Penentuan Harga Konstanta Laju Reaksi

)
(

)


Variabel 1


t(menit) (x) M (ml) Xp

-ln(1-

) (y) x
2
xy
0 18 0,00098 0,05 0,0513 0 0,0000
5 14 0,0049 0,25 0,287 25 1,435
10 12,5 0,0064 0,326 0,394 100 3,94
15 9 0,0098 0,5 0,693 225 10,395
20 8 0,0108 0,55 0,798 400 15,96
50 2,2233 750 31,73

()

037988/menit

()



Variabel 2



t(menit) (x) M (ml) Xp

-ln(1-

) (y) x
2
xy
0 15 0,0004 0,1667 0,1824 0 0,0000
5 12 0,0075 0,3125 0,375 25 1,875
10 10 0,0095 0,396 0,5042 100 5,042
15 6,5 0,0131 0,546 0,789 225 11,835
20 4 0,0157 0,654 1,0613 400 21,226
50 2,9919 750 39.978

()

menit

()