Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

I. Konsep Medis
A. Definisi
Fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang, baik yang bersifat total
maupun sebagian, biasanya disebabkan oleh trauma. Cedera pada tulang
menimbulkan fraktur dan dislokasi. Fraktur juga dapat terjadi di ujung tulang dan
sendi (intra-artikuler) yang sekaligus menimbulkan dislokasi sendi. Fraktur ini juga
disebut fraktur dislokasi.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang
utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/ rudapaksa atau tenaga fisik yang
ditentukan jenis dan luasnya trauma.
Fraktur klavikula adalah salah satu jenis fraktur yang terjadi akibat dari
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan dalam olahraga, trauma yang terjadi ketika jatuh
dengan posisi tangan sebagai penumpu dan bisa juga trauma tersebut langsung
mengenai klavikula.

B. Etiologi
Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan tulang
dalam menahan tekanan. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontrkasi otot ekstrem. Umumnya
fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki (dibawah 25 tahun), biasanya
berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor.
Pada orang tua , perempuan (diatas 75 tahun) lebih sering mengalami fraktur
daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis
yang terkait dengan perubahan hormon pada menopause.
Menurut sejarah, fraktur klavikula merupakan cedera yang sering terjadi
akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/tertarik keluar (out streched hand) dimana
trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan sampai klavikula. Namun, baru-baru ini
telah diungkapkan bahwa sebenarnya mekanisme secara umum patah tulang
klavikula adalah hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan yang keras ke
bahu akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras.



C. Manifestasi
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstremitas, krepituis, pembekakan lokal dan perubahan warna. Gejala
umum fraktur adalah rasa sakit, pembekakan dan kelainan bentuk. Adapun
penjelasannya sebagai berikut :
1. Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkan ekstremitas normal.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
(krepitus) yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang
lainnya. Uji krpitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang
lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa terjadi setelah
beberapa jam atau hari setelah cedera.

D. Anatomi
Tulang klavikula atau tulang selangka berhubungan dengan os. Sternum di
sebelah medial dan dilateral tulang ini berhubungan dengan as. Scapula pada
acromion yang dapat diraba sebagai tonjolan di bahu bagian lateral. Tulang ini
termasuk jenis tulang pipa yang pendek, walaupun bagian lateral tulang ini tampak
pipih. Bentuknya seperti huruf S terbalik, dengan bagian medial yang melengkung
ke depan dan bagian lateral agak melengkung ke belakang. Permukaan atasnya
relatif lebih halus dibanding dengan permukaan inferior.




Ujung medial atau ujung sternal mempunyai facies articularis sternalis yang
berhubungan dengan discus articularis sendi atau articulatio sternoclavicularis.










Gambar 1. Anatomi tulang klavikula
E. Patofisiologi
Fraktur klavikula paling sering disebabkan oleh mekanisme kompressi atau
penekanan, paling sering karena suatu kekuatan yang melebihi kekuatan tulang
tersebut dimana arahnya dari lateral bahu, baik karen jatuh, kecelakaan olahraga
ataupun kecelakaan kendaraan bermotor.
Pada daerah tengah tulang klavikula tidak diperkuat oleh otot ataupun
ligamen-ligamen seperti pada daerah distal dan proksimalnya. Klavikula bagian
tengah juga merupakan transition point antara bagian lateral dan medial. Hal ini
yang menjelaskan mengapa pada daerah ini paling sering terjadi fraktur
dibandingkan daerah distal atau proksimal.









Gambar 2. Fraktur klavikula
F. Klasifikasi fraktur
1. Menurut jumlah garis fraktur :
a. Simple fraktur (terdapat satu garis fraktur)
b. Multiple fraktur (terdapat lebih dari satu garis fraktur)
c. Comminutive fraktur (banyak garis fraktur / fragmen kecil yang lepas)
2. Menurut luas garis fraktur :
a. Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung)
b. Fraktur komplit (tulang terpotong secara total)
c. Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada
perubahan bentuk tulang)
3. Menurut bentuk fragmen :
a. Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang)
b. Fraktur obligue (bentuk fragmen miring)
c. Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar)
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar :
a. Terbuka (fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan
dengan lingkungan luar maka fraktur ini potensial terjadi infeksi ), terbagi
atas :
1) Tipe I (pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan
sedikit, kontaminasi ringan, luka <1 cm.
2) Tipe II (kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar luka
>1 cm.
3) Tipe III (luka besar sampai 8 cm, kehancuran otot, kerusakan
neurovaskuler, kontaminasi besar.
b. Fraktur tertutup (fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang
tidak menonjol melalui kulit)

Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menjadi 3 kelompok
yaitu :
1. Kelompok 1 : Patah tulang pada 1/3 tengah tulang klavikula (insiden kejadian
75-80 % ). Pada daerah ini tulang lemah dan tipis, umumnya terjadi pada
pasien yang muda.
2. Kelompok 2 : Patah tulang klavikula pada 1/3 distal (insiden kejadian 15-
25%), yang terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligamen
coracoclavicular (yakni coroid dan trapezoid) yaitu :
a. Tipe I : Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya
perpindahan tulang maupun gangguan ligamen coracoclavicular.
b. Tipe II A : Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang, ligamen
coracoclavicular masih melekat pada fragmen.
c. Tipe II B : Terjadi gangguan ligamen coracoclavicular, salah satunya
terkoyak ataupun keduanya.
d. Tipe III : Patah tulang pada bagian distal klavikula yang melibatkan AC
joint
e. Tipe IV : Ligamen coracoclavicular tetap utuh melekat pada perioteum,
sedangkan fragmen proksimal berpindah keatas
3. Kelompok 3 : Patah tulang klavikula pada 1/3 proksimal (5%) pada kejadian
ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler.
G. Tahap penyembuhan tulang
1. Haematom
Dalam 24 jam mulai pembukan daran dan haematom. Setelah 24 jam
suplai darah ke ujung frktur meningkat. Haematom ini mengelilingi fraktur da
tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi
granulasi
2. Proliferasi sel
Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar
fraktur. Sel ini menjadi prekusor dari osteoblast, osteogenesis berlangsung terus,
lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang. Beberapa hari di periosteum
meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di ujunf fraktur
3. Pembentukan callus
Dalam 6-10 hari setelah fraktur, jaringan granulasi berubah dan
terbentuk callus. Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari
pembentukan callus. Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga
diameter tulang melebihi normal. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak
memberikan kekuatan, sementara itu terus meluas melebihi garis fraktur.


4. Ossification
Callus yang menetap menjadi tulang kaku karena adanya penumpukn
garam kalsium dan bersatu di ujung tulang. Proses ossifikasi dimulai dari callus
bagian luar, kemudian bagian dalam dan berakhir pada bagian tengah. Proses ini
terjadi selama 3-10 minggu.
5. Consolidasi dan remodelling
Terbentuk tulang yang berasal dari callus, dibentuk dari aktivitas osteoblast
dan osteoklast.

H. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Rotgen (Menentukan lokasi/luas fraktur)
2. Scan Tulang, Tomogram, Scan CT/MRI (Memperlihatkan fraktur; juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak)
3. Arteriogram (Digunakan bila kerusakan vaskuler dicurigai)
4. Hitung Darah lengkap (Ht mungkin meningkat(hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel).
Peningkatan jumlah leukosit adalah respons stress normal setelah trauma.
5. Kreatinin (Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal)
6. Profil Koagulasi (perubahan dapat terjadi kehilangan darah, transfusi
multipel,atau cedera hati).

I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada fraktur klavikula ada dua pilihan yaitu dengan tindakan
bedah atau operative treatment dan tindakan non bedah atau konservatif.
Pada prinsipnya, penanganan patah tulang klavikula adalah untuk mencapai
penyembuhan tulang dengan tingkat morbiditas, hilangnya fungsi dan sisa kelainan
bentuk yang minimum. Kebanyakan patah tulang klavikula telah berhasil ditangani
dengan metode tanpa operasi. Perawatan non- operative dengan cara mengurangi
gerakan di daerah patah tulang. Tujuan penanganan adalah menjaga bahu tetap dalam
posisi normalny dengan cara reduksi tertutup dan imobilisasi.



Pada orang dewasa dan anak-anak biasanya pengobatannya konservatif tanpa
reposisi yaitu dengan pemasangan mitela. Reposisi tidak diperlukan, apalagi pada
anak karena salah-sambung klavikkula jarang menyebabkan gangguan pada bahu,
baik fungsi maupun kekuatannya. Kalus yang menonjol kadang secara kosmetik
mengganggu meskipun lama-kelamaan akan hilang dengan proses pemugaran. Yang
penting pada penggunaan mitela ialah letak tangan lebih tinggi daripada tingkat siku,
analgetik dan latihan gerak jari dan tangan pada hari pertama dan latihan gerak bahu
setelah beberapa hari.
Adapun tindakan yang dapat diambil yakni :
1. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen
tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.
2. Imobilisasi fraktur dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
3. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi dengan cara :
a. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
b. Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
c. Status neurovaskuler (misal : peredaran darah, nyeri, perabaan gerakan)
dipantau
d. Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan
atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.
Tindakan pembedahan dapat dilakukan apabila terjadi hal-hal berikut :
1. Fraktur terbuka
2. Terdapat cedera neurovaskuler
3. Fraktur comminutes
4. Tulang memendek karena fragmen fraktur tumbah tindih
5. Rasa sakit karena gagal penyambungan ( non-union)
6. Masalah kosmetik karena posisi penyatuan tulang tidak semestinya (malunion)





J. Komplikasi
1. Komplikasi akut
a. Cedera pembuluh darah
b. Pneumothorax
c. Haemothorax
2. Komplikasi lambat
a. Malunion : proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam
waktu yang semestinya, namun tidak dengan bentuk asli atau abnormal.
b. Non-union : kegagalan penyambungan tulang setelah 4-6 bulan.
















II. Konsep keperawatan
A. Pengkajian
1. Pengumpulan data
a. Anamnesa
1) Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang
dipakai, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, no.register, tanggal
masuk rumah sakit, diagnosa medis.
2) Keluhan utama
3) Riwayat penyakit sekarang
B. Diagnosa

Anda mungkin juga menyukai