Anda di halaman 1dari 3

Membedah Hukum Pernikahan Beda Agama :

Perspektif Ushul fikih dan Hukum yang Berlaku di Indonesia


Oleh:
Asnawi Ihsan
DIrektur Program Pusat Kajian Hati

Setelah dalam kurun waktu lima tahun menjadi konsultan perkawinan beda agama,
bergelut dengan berbagai persoalan seputar perkawinan beda agama, kali ini saya
kembali mengulas hukum perkawinan beda agama atau pernikahan beda agama dengan
pendekatan filsafat hukum Islam atau dalam diskursus ilmu-ilmu keislaman disebut
dengan ushul fikih. Di bagian akhir, saya akan sedikit mengulas argumentasi
mengapa perkawinan beda agama masih bisa dilakukan secara sah di Indonesia.
Dalam beberapa literatur yang dulu saya pelajari baik ketika masih di pesantren,
atau ketika saya mengambil kuliah hukum Islam (Syariah) sekaligus dalam penelitian
yang saya lakukan ketika menyelesaikan studi S1, hasilnya adalah saya menemukan
fakta dimana para ulama tidak berada dalam kesamaan pendapat mengenai hukum
perkawinan beda agama. Ada yang mengharamkan secara mutlak, ada yang membolehkan
dengan syarat, dan adapula yang membolehkan dengan sangat longgar.
Pertama, ada pendapat yang mengatakan bahwa perkawinan beda agama haram secara
mutlak, baik untuk laki-laki muslim ataupun untuk perempuan muslim. Baik terhadap
ahli kitab ataupun terhadap non ahli kitab. Meskipun nantinya seputar definisi
ahli kitab, para ulama juga tidak lagi bersepakat dalam satu pemahaman yang sama.
Kedua, Saya menemukan juga pendapat ulama yang mengatakan bahwa perkawinan beda
agama dibolehkan tapi dengan syarat, hanya untuk pria muslim dan hanya kepada
perempuan ahli kitab. sementara bagi perempuan muslim tidak dibolehkan menikah
beda agama. juga pria muslim tidak boleh menikah dengan perempuan non ahli kitab.
Ketiga, secara mengejutkan, saya juga menemukan pendapat ulama yang menempatkan
agama dalam posisi setara sehingga kemudian juga pada akhirnya mereka membolehkan
perkawinan beda agama, baik untuk pria muslim maupun untuk perempuan muslim. baik
terhadap ahli kitab maupun terhadap non ahli kitab.
Hemat saya, ketiga pendapat itu adalah hasil pemikiran para ulama yang harus
dihormati dan dihargai. semuanya merujuk kepada alquran dan hadis, serta
menggunakan epistimologi yang sah dalam disiplin hukum Islam dalam hal ini Ushul
fikih dan Qawaidul fiqh. Perbedaan yang terjadi sesungguhnya terletak pada
persoalan metodologi yang digunakan. Begitupun nantinya pendapat hukum perkawinana
beda agama yang kemudian kita pilih, itu hanya salah satu pendapat hukum yang ada
diantara sekian banyak hazanah yang ada dalam dinamika perjalanan sejarah hukum
Islam dari masa ke masa.
Mari kita kaji satu persatu masing-masing pendapat yang berkembang mengenai hukum
perkawinan beda agama.
Pendapat yang mengharamkan secara mutlak adalah pendapat para ulama yang dalam
mengkaji ayat-ayat seputar perkawinan beda agama dengan berpegang pada pendekatan
Nasikh-Mansukh ditambah dengan pendekatan ithlaaqullafdzi. Dengan pendekatan
Nasikh-Mansukh, ayat yang menyatakan kebolehan perkawinan beda agama bagi pria
muslim terhadap perempuan ahlu kitab sebagaimana termaktub dalam surat al-Maidah
ayat 5 dianulir/dibatalkan dengan ayat yang menyatakan bahwa pria muslim dilarang
menikah dengan perempuan musyrik sebagaimana termaktub dalam surat al-Baqarah ayat
221. Begitupun dengan pendekatan ithlaaqullafdzi, Maka kata musyrikina (pria-pria
musyrik) dan musyrikaat (perempuan-perempuan musyrik)diyakini bermakna mutlak,
sehingga mencakup seluruh manusia yang menyekutukan Allah. Bagi kelompok ini,
seluruh manusia yang beragama selain agama Islam, dalam konteks masa kini, masuk
dalam kategori ini. Sehingga, Pernikahan dengan siapapun orang di luar Islam
hukumnya haram.
Bagi ulama yang membolehkan pernikahan beda agama terbatas hanya untuk pria muslim
dengan perempuan ahli kitab, mereka menggunakan pendekatan takhsis ayat bil ayat.
Ayat yang melarang pernikahan beda agama secara umum kepada semua perempuan
musyrik dalam surat Al-Baqarah 221 sebenarnya tidak mencakup perempuan ahli kitab
meskipun mereka dalam keimanannya telah terkontaminasi dengan konsep keimanan yang
menjurus kepada kemuyrikan. Alasannya karena dalam ayat lain, yaitu surat al-
Maidah ayat 5 dinyatakan kebolehan menikah dengan mereka. Artinya, Surat al-Maidah
ayat 5 ini memberikan pengkhususan (takhsis)bahwa larangan menikah dengan
perempuan musyrik dalam surat Al-Baqarah ayat 221 tidak berlaku terhadap perempuan
ahli kitab (Yahudi dan Nashrani).
Sementara pendapat yang membolehkan perkawinan beda agama baik untuk laki-laki
atau perempuan muslim, baik terhadap ahli kitab maupun non ahli kitab, mereka
menggunakan pendekatan Al’-ibratu bikhususissabab la bi umumillafdz, Intinya,
hukum hanya dapat diberlakukan terhadap sebab yang spesifik, tidak untuk teks yang
umum. Menurut mereka, Surat Al-Baqarah ayat 221, yang melarang bagi pria muslim
menikah dengan perempuan musyrik begitupun perempuan muslim dengan pria musyrik,
tidak bisa diberlakukan secara umum kepada semua perempuan atau pria musyrik.
Alasannya, jika dikaji dengan pendekatan kronologis turunnya ayat (asbab an-nuzul)
ditemukan fakta bahwa sebab spesifik turunnya ayat itu adalah larangan menikah
dengan manusia yang berasal dari komunitas musyrik arab (kaum Jahiliyyah). Dengan
pendekatan kaidah "hukum hanya bisa mengikat dan menjangkau sebab yang spesifik
dan tidak bisa menjangkau keseluruhan teks yang umum", maka larangan menikah beda
agama hanya berlaku terhadap pria atau perempuan musyrik arab (kaum Jahiliyyah)
dan tidak berlaku kepada penganut agama lain. Sehingga kemudian, mereka
menyimpulkan bahwa perkawinan beda agama dibolehkan dengan penganut agama manapun
selama mereka tidak berprilaku seperti kelompok musyrik arab. kebolehan ini
berlaku baik untuk pria muslim maupun untuk perempuan Muslim. Menurut kelompok
ini, kalau pendekatan ithlaaqullafdzi digunakan dalam memaknai kata musyrikin dan
musyrikaat, maka seharusnya, kalau mereka konsisten, perkawinan antara sesama
penganut Islam pun bisa jadi ada yang diharamkan apabila salah satunya melakukan
perbuatan syirik. Karena, prilaku syirik bisa menimpa siapa saja, termasuk juga
mereka yang beragama Islam. Persoalan lainnya, sangat sulit mengidentifikasi
seseorang musyrik atau tidak dan siapakah yang memiliki otoritas untuk menentukan
kemusyrikan seseorang itu. Dengan argumentasi itu, maka kelompok ini meyakini
betul bahwa pelarangan dalam ayat 221 surat al-Baqarah ini hanya ditujukan kepada
kelompok musyrik arab, atau kalau mau diperluas dalam konteks masa kini, juga
ditujukan kepada siapa saja yang memiliki karakter dan prilaku negatif persis
seperti kelompok musyrik arab.
Kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa dalam surat al-Mumtahanah ayat 10
dinyatakan pelarangan menikah bagi perempuan muslim dengan pria non muslim,
sesungguhnya pelarangan yang dimaksud juga sama, yaitu pelarangan menikah hanya
kepada pria non muslim yang berasal dari komunitas kafir/musyrik arab. Dalam
Alquran memang tidak pernah ditemukan teks yang menyatakan larangan atau kebolehan
menikah dengan ahli kitab, tidak seperti untuk pria muslim yang didalam alquran
dibicarakan dalam surat al-Maidah ayat 5. Namun dengan pendekatan kaidah dalam
urusan muamalat (perkawinan termasuk urusan muamalat dalam hukum Islam) bahwa, Al-
ashlu fil asy'ya'i al-ibahah illa ma dalla ala tahrimihi, hukum asal dari segala
sesuatu dalam persoalan muamalah adalah boleh hingga ditemukan dalil yang
mengharamkannya. Dengan demikian, karena alquran tidak membicarakan hukum
perkawinan perempuan muslim dengan ahlu kitab, dan alquran hanya melarang
perempuan muslim menikah dengan pria musyrik arab, maka perempuan muslim boleh
menikah beda agama dengan pria non muslim.
Maaf, mungkin agak sedikit membingungkan jika anda tidak terbiasa dengan istilah-
istilah studi hukum Islam, bukan maksud saya menggurui tapi saya berharap anda
juga tidak asing dengan istilah istilah hukum Islam yang saya kutip. Namun
setidaknya dari apa yang saya sampaikan diatas dapat diambil sebuah kesimpulan,
bahwa mengambil satu pendapat hukum bukanlah satu hal yang mudah dan masing-masing
pendapat dibangun diatas kajian terhadap ayat quran tapi kemudian metodologi yang
digunakan masing-masing berbeda sehingga melahirkan pendapat hukum yang berbeda
pula.
Adapun perkawinan beda agama dalam perspektif hukum yang berlaku di Indonesia, UU
perkawinan tahun 1974 harus diakui tidak dengan tegas melarang perkawinan beda
agama, dalam istilah hukum disebut non expressis verbis. Akibatnya, ahli hukum
juga berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang melarang dan ada yang
membolehkan.
Bagi ahli hukum yang melarang perkawinan beda agama di Indonesia menyandarkan
pendapatnya pada undang-undang perkawinan no 1 tahun 1974 pada Pasal 2 ayat (1):
Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu. Dan pasal 8 huruf (f): Perkawinan dilarang antara dua orang
yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku.
Dengan dua alasan itu, perkawinan beda agama di Indonesia adalah perkara yang
terlarang.
Adapun yang membolehkan memiliki dua alasan, pertama mereka berkeyakinan bahwa
pasal 57 tentang kawin campur mencakup didalamnya perkawinan beda agama. Alasan
kedua, UU perkawinan 1974 tidak mengatur hukum perkawinan beda agama, sehingga
sebagaimana diatur dalam pasal 66, apabila tidak ada aturan dalam uu ini, maka
aturan lama dapat diberlakukan. Dalam aturan lama mengenai kawin campur,
Staatsblad 1898 Nomor 158 dalam Pasal 7 ayat (2) dinyatakan: Perbedaan agama,
golongan penduduk atau asal usul tidak dapat merupakan halangan pelangsungan
perkawinan. Sehingga perkawinan beda agama masih bisa dilakukan di Indonesia.
Untuk menguatkannya lagi ada keputusan Mahkamah Agung No. KMA/72/IV/1981 tanggal
20 April 1981 yang juga membuka ruang untuk perkawinan beda agama. Inilah yang
kemudian bisa dijadikan argumentasi untuk menyatakan perkawinan beda agama sah
menurut hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia.
Saya tidak ingin menggiring anda kepada satu pemahaman, namun saya persilahkan
anda melihat sendiri bagaimana dinamika yang terjadi seputar hukum perkawinan beda
agama, anda berhak memilih pandangan mana yang menurut anda paling kuat dan sesuai
dengan keyakinan dan hati nurani anda. Saya hanya membantu anda memberikan pijakan
hukum yang kuat atas pilihan yang mungkin nanti anda ambil. Setiap manusia berhak
untuk memilih, namun yang lebih penting lagi, keberanian memilih harus dibarengi
dengan kesiapan menerima seluruh konsekuensi yang muncul dari pilihan yang kita
ambil, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan!

Bagi anda yang ingin menikah beda agama di Indonesia atau konsultasi nikah beda
agama di Indonesia silahkan kirim email ke asnawiihsan@gmail.com. Atau silahkan
kunjungi blog saya di www.asnawiihsan.blogspot.com .