Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH DAN ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI

ANANG BUDI JULIANTO


1.12.008




PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO
SEMARANG
2014
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang sudah lama dikenal oleh masyarakat,
hal ini dapat dilihat dari banyaknya istilah yang muncul di masyarakat seperti sawan,
ayan, celengan. Sebagian masyarakat menilai bahwa penyakit epilepsi adalah penyakit
karena gangguan makhluk halus, merupakan penyakit keturunan, sehingga menjadi
stigma bagi penderitanya.
Diperkirakan penderita epilepsi di Indonesia terdapat 900.000-1.800.000 orang
(Thadjai dkk dalam Harsono, 2003). Insiden yang paling seringdialami adalah pada
masa anak-anak, 70% kasus epilepsi terjadi sebelum usia 20 tahun.
Penanganan terhadap penyakit ini bukan saja menyangkut penanganan
medikamentosa dan perawatan belaka, namun yang lebih penting adalah bagaimana
meminimalisasikan dampak yang muncul akibat penyakit ini bagi penderita dan
keluarga maupun merubah stigma masyarakat tentang penderita epilepsi.

1.2 TUJUAN PENULISAN
a. Tujuan umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung
kegiatan belajar-mengajar pada mata kuliah Keperawatan Dewasa II Sistem
Neurologi.
b. Tujuan khusus
Tujuan khusus penulis dalam menyusun makalah ini agar mahasiswa mengetahui
pengertian epilepsi, faktor prespitasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik
epilepsi, dan asuhan keperawatan pada pasien dengan epilepsi.



1.3 METODE PENULISAN
Penulisan makalah ini menggunakan metode diskriptif melalui studi kepustakaan,
adapun kapasitas yang dilakukan pada studi kepustakaan adalah pengumpulan buku-buku
yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada epilepsi.



















BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang di tandai oleh bangkitan
berulang sebagai akibat dari gangguan fungsi otak secara intermiten oleh karena
lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron otak secara
paroksismal yang dapat disebabkan oleh berbagai etiologi.
Kejang ataupun epilepsi bukan merupakan diagnosis atau jenis penyakit,melainkan
gejala proses lain yang mempengaruhi otak dalam berbagai cara ,tetapi secara umum
memiliki ekspresi klinis final berupa kejang.
2.2 Faktor Presipitasi
Faktor pencetus dari epilepsy adalah
a) Meningkatnya stress fisik dan emosi
b) Meningkatnya aktivitas fisik
c) Kelelahan
d) Konsumsi alkohol dan kopi
e) Terpapar makanan atau zat kimia tertentu.
2.3 Etiologi
a. Faktor herediter : ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang disertai
bangkitan kejang seperti sclerosis tuberosa, neurofibromatosis, angiomatosis
ensefalotrigeminal, fenilketonuria, hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
b. Faktor genetic : pada kejang demam.
c. Kelainan kongenital otak : atrofi, porensefali, agenesis korpus kalosum.
d. Gangguan metabolic : hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia,
hypernatremia.
e. Infeksi : radang yang disebabkan bakteri atau virus pada otak dan selaputnya,
toksoplasmosis.
f. Trauma : kontusio serebri, hematoma subaraknoid, hematoma subdural.
g. Neoplasma otak dan selaputnya.
h. Kelainan pembuluh darah, malformasi, penyakit kolagen.
i. Keracunan timbal, kamper, fenotiazin.
j. Lain lain : penyakit darah, gangguan keseimbangan hormone, degenerasi
serebral.
2.4 Patofisiologi
Secara umum, epilepsy terjadi karena menurunnya potensial membrane sel saraf
akibat proses patologik dalam otak, gaya mekanik atau toksik, yang selanjutnya
menyebabkan terlepasnya muatan listrik dari sel saraf tersebut.
Beberapa penyelidikan menunjukkan peranan asetilkolin sebagai zat yang
merendahkan potensial membrane postsinaptik dalam hal terlepasnya muatan listrik
yang terjadi sewaktu waktu saja sehingga manifestasi klinisnya pun muncul sewaktu
waktu. Bila asetilkolin sudah cukup tertimbun di permukaan otak, maka pelepasan
muatan listrik sel sel saraf kortikal dipermudah. Asetilkolin diproduksi oleh sel sel
saraf kolinergik dan merembes keluar dari permukaan otak. Pada kesadaran awas
waspada, lebih banyak asetilkolin yang merembes keluar dari permukaan otak
daripada selama tidur. Pada jejas otak lebih banyak asetilkolin daripada dalam otak
sehat. Pada tumor serebri atau adanya sikatriks setempat pada permukaan otak sebagai
gejala dari meningitis, ensefalitis, kontusio serebri atau trauma lahir, dapat terjadi
penimbunan setempat dari asetilkolin. Oleh karena itu pada tempat itu akan terjadi
lepas muatan listrik sel sel saraf. Penimbunan asetilkolin setempat harus mencapai
konsentrasi tertentu untuk dapat merendahkan potensial membrane sehingga lepas
muatan listrik dapat terjadi. Hal ini merupakan mekanis epilepsi fokal yang biasanya
simptomatik.
Pada epilepsi idiopatik, tipe grand mal, secara primer muatan listrik dilepaskan
oleh nuclei intralaminares talami, yang dikenal juga sebagai inti centrecephalic. Inti
ini merupakan terminal dari lintasan asendens aspesifik atau lintasan asendens
ekstralemsnikal. Input dari korteks serebri melalui lintasan aferen aspesifik itu
menentukan derajat kesadaran. Bilamana belum dapat dipastikan, terjadilah lepas
muatan listrik dari inti inti intralaminar talamik secara berlebih. Perangsangan
talamokortikal yang berlebihan ini menghasilkan kejang seluruh tubuh dan sekaligus
menghalangi sel sel saraf yang memelihara kesadaran menerima impuls aferen dari
dunia luar sehingga kesadaran hilang.
2.5 Manifestasi Klinik
a. Bangkitan Umum Lena
1) Gangguan kesadaran mendadak(absence), beberapa detik
2) Motorik terhenti dan diam tanpa reaksi.
3) Mata memandang jauh kedepan
4) Mungkin terdapat automatisme.
5) Pasca: Pemulihan kesadaran segera, bingung(-),aktivitas semula.
b. Bangkitan Umum Tonik Klonik
1) Prodromal: jeritan, sentakan, mioklonik
2) Selama: hilang kesadaran(+), fase tonik10 30 , fase klonik30 60 ,mulut
berbusa
3) Pasca: fase flaksid, bingung, kemudian tertidur.
c. Bangkitan Parsial Sederhana
1) Gangguan kesadaran(-), Mulai: tangan, kaki/ muka(unilateral/ fokal),
menyebar ipsilateral (Jacksonian march)
2) Kepala berpaling ke arah tubuh yang kejang(adversif)
d. Bangkitan Parsial Kompleks
1) Fokal disertai gangguan kesadaran.
2) Sering diikuti automatisme yang stereotipik, contoh: mengunyah, menelan,
tertawa, dan kegiatan motorik lain tanpa tujuan jelas.
3) Adversif(+)
e. Bangkitan Umum Sekunder
Berkembang dari parsial sederhana/ kompleks menjadi bangkitan umum
dalam waktu singkat.






BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Riwayat keperawatan
a. Riwayat kesehatan
Riwayat keluarga dengan kejang
Riwayat kejang demam
Tumor intrakranial,infeksi serebral
Trauma kepala terbuka,stroke.
b. Riwayat Kejang
Berapa sering terjadi kejang
Gambaran kejang seperti apa
Berapa lama kejang berlangsung
Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda awal
Apa yang di lakukan pasien setelah kejang
c. Riwayat penggunaan obat
Nama obat yang dipakai
Dosis obat
Berapa kali penggunaan obat
Kapan putus obat
2. Pemeriksaan fisik
Tingkat kesadaran
Adakah gerakan gerakan automatisme,mengedip-edipkan mata
Abnormal posisi mata
Perubahan pupil
Gerakan mata atau aktifitas motorik
Tingkah laku setelah kejang
Apnea
Cyanosis
Sallifa yang banyak
Lidah tergigit
Inkontinensia urin
3. Psikososial
Usia
Jenis kelamin
Pekerjaan
Peran dalam keluarga
Strategi koping yang digunakan
Gaya hidup dan sistem dukungan yang ada.
4. Pengetahuan pasien dan keluarga
Kondisi penyakit dan pengobatan
Kondisi kronik
Kemampuan membaca dan belajar.
5. Pemeriksaan diagnostik
a. Laboratorium
Darah lengkap
Serum elektrolit
Fingsi lever
Urinalisa
b. Radiologi
Kelainan organik cerebral
Identifikasi disfungsi area cerebral.

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Resiko injury berhubungan dengan aktivitas kejang
b. Cemas berhubungan dengan terjadinya kejang, komplikasi kejang, dan
penerimaan terhadap lingkungan
c. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pertama kali terdiagnosa
epilepsi, seringnya aktivitas kejang dan status perkembangan usia.





3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa 1 Resiko injury berhubungan dengan aktivitas kejang
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam tidak terjadi
trauma fisik

Kriteria hasil
a) Pasien bebas dari kejang
b) Mempertahankan integritas fisik
c) Tidak terjadi trauma fisik
d) Tidak terjadi hipoksia dan aspirasi
INTERVENSI RASIONAL
1. Monitor aktivitas kejang, catat
frekuensi, waktu, bagian tubuh
yang terjadi kejang.
2. Pertahankan posisi tempat tidur
lebih rendah dan berikan pagar
pengaman pada tempat tidur.

3. Selama kejang berikan oksigen,
lindungi kepala pasien, longgarkan
pakaian, dan jaga privasi.

4. Laporkan kepada dokter jika kejang
tanpa periode kesadaran.
1. Mengetahui jenis epilepsi dan
manifestasi yang terjadi.

2. Mencegah pasien jatuh dari tempat
tidur.



3. Mencegah hipoksia, aspirasi, trauma
kepala, dan menjaga keselamatan
pasien.

4. Penanganan lebih lanjut.

Diagnosa 2 Cemas berhubungan dengan terjadinya kejang, komplikasi kejang, dan
penerimaan terhadap lingkungan.
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam cemas berkurang
Kriteria hasil
a) Pasien dapat mengungkapkan kecemasan dan apa yang sedang dipikirkan
b) Pasien dapat meningkatkan koping yang efektif dalam menghadapi
epilepsinya.

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji stataus emosional secara terus
menerus, penampilan dan tingkah
lakuuntuk menetapkan reaksi terhadap
diagnosa.

2. Beri kesempatan pasien untuk
mendiskusikan secara terbuka tentang
perasaan, sikap dan kepercayaan pasien.


3. Validasi tentang kecemasan pasien dan
identifikasi metode koping yang tepat
untuk pasien.

4. Lakukan intervensi khusus, sesuai
dengan masalah yang dihadapi pasien,
berikan respons yang positif terhadap
pasien.
1. Mengidentifikasi respons emosional
pasien.



2. Membuka diri dan meningkatkan
kepercayaan kepada perawat.



3. Membantu mengidentifikasi
kecemasannya sendiri dan memulai
memecahkan masalah.

4. Membantu menurunkan masalah
pasien dan adaptasi pasien.

Diagnosa 3 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pertama kali terdiagnosa
epilepsi, seringnya aktivitas kejang dan status perkembangan usia.
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
pengetahuan pasien bertambah
Kriteria hasil
1. Pasien mendiskusikan faktor yang dapat menimbulkan kejang.
2. Pasien mengungkapkan secara verbal pengetahuan tentang pengobatan.
3. Mengungkapkan secara verbal perubahan gaya hidup untuk menghindari
faktor pencetus kejang.

INTERVENSI RASIONAL
1. Tetapkan pengetahuan pasien, keluarga
tentang epilepsi, tingkat penerimaan.

2. Berikan penjelasan tentang epilepsi, obat,
efek samping.

3. Informasikan faktor pencetus epilepsi.

4. Diskusikan dengan pasien dan keluarga
tentang perubahan gaya hidup seperti
jenis pekerjaan, dan aktivitas hidup.
1. Menetapkan tingkat pengetahuan
dan penerimaan pasien/keluarga.

2. Meningkatkan pengetahuan pasien.


3. Mencegah serangan kejang.

4. Mencegah serangan kejang.









DAFTAR PUSTAKA
Brashers Valentina L.2003.Aplikasi klinis Patofisiologi.Jakarta : 2008
Ginsberg Lionel.2007.Neurologi.Jakarta : Erlangga
Tarwoto.2013.keperawatan Medikal Bedah.Jakarta: CV agung seto
http://usadhaxamthone.com/epilepsi/ (diunduh tanggal 23 april 2014 : 15.45)