Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

Anestesia Umum
I. Penilaian dan persiapan pra anestesia
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang sebab-sebab
terjadinya kecelakaan anestesia. Dokter spesialis anestesiologi seyogyanya mengunjungi
pasien sebelum pasien dibedah, agar ia dapat menyiapkan pasien, sehingga pada waktu
pasien dibedah dalam keadaan bugar.
Kadang kadang dokter spesialis anestesiologi mempunyai waktu terbatas untuk
menyiapkan pasien, sehingga persiapkan kurang sempurna. Penundaan jadwal operasi akan
merugikan semua pihak, terutama pasien dan keluarganya.
Tujuan utama kunjungan pra anestesia ialah untuk mengurangi angka kesakitan operasi,
mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Penilaian prabedah
Terjadinya kasus salah identitas dan salah operasi bukan cerita untuk menakut-nakuti
atau dibuat-buat, karena memang pernah terjadi di Indonesia. Identitas setiap pasien harus
lengkap dan harus dicocokan dengan gelang identitas yang dikenakan pasien. Pasien ditanya
lagi mengenai hari dan jenis bagian tubuh yang akan dioperasi.
Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya sangatlah
penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat perhatia khusus, misalnya
alergi, mual muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak napas pasca bedah, sehingga kita dapat
merancang anestesia berikutnya dengan lebih baik. Kita harus pandai-pandai memilah apakah
cerita pasien termasuk alergi atau efek samping obat.
Beberapa peneli menganjurkan obat yang kiranya menimnulkan masalah dimasa lampau
sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam waktu tiga
bulan, suksinilkolin yang menimnulkan apnoe berkepanjangan juga jangan diulang.
Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya untuk eliminasi nikotin
yang mempengaruhi sistem kardiosirkulasi, dihentikan beberapa hari untuk mengaktifkan kerja
silia jalan pernapasan dan 1-2 minggu untuk mengurangi produksi sputum. Kebiasaan minum
alkohol juga harus dicurigai akan adanya penyakit hepar.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat penting
untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher pendek juga
akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaa rutin lain secara sistematika tentang keadaan umum tentu tidak boleh
dilewatkan seperti inspeksi, palapasi, perkusi, dan auskultasi semua sistem organ tubuh pasien.
Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit
yang sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium secara
rutin walaupun pada pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil ( Hb,
leukosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien diatas 50
tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto toraks. Praktek-praktek semacam ini harus dikaji
ulang mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat minimal uji-uji semacam ini.
Kebugaranuntk anestesi
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar pasien
dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi cito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.
Klasifikasi status fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugara fisik seseorang ialah yang
berasal dari the American society of anesthesiologist (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat
prakiraan risiko anetesia, karena dampak samping anestesia tidak dapat dipisahkan dari
dampak samping pembedahan,
Kelas I : pasien sehat organik, fisiologi, psikiatrik, biokimia
Kelas II : pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang
Kelas III: pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan
penyakitnya merupakan ancaman kehidupan setiap saat.
Kelas V : pasien sekarat yang dierkirakan dengan atau tanpa pemedahan hidupnya tidak akan
lebih dari 24 jam
Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E

Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi lambung dan
kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien pasien yang
mengalami anestesi. Untuk meminimalkan resiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan
untuk operasi elektif dengan anestesia harus dipantang dari masukan oral (puasa) selama
periode tertentu sebelum induksi anestesia.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam, dan pada bayi 3-4 jam,
makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anestesia. Minuman bening, air
putih, teh manis sampai 3 jam untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas
boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.
Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia diantaranya :
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan
2. Memperlancar induksi anestesia
3. Mengurangi sekersi kelenjar ludah dan brokus
4. Meminimalkan jumlah obat anestestik
5. Mengurangi mual muntah pasca bedah
6. Menciptakan amnesia
7. Mengurangi isi cairan lambung
8. Mnegurangi refleks yang membahayakan

Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seseorang dihadapkan pada situasi yang tidak
pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat membangun dan menentramka hati
pasien. Obat pereda kecemasan bisa digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam
sebelum induksi anestesia. Jika disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan opioid
misalnya petidin 50 mg intramuskular.
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. Untuk
meminimalkan kejadian diatas dapat diberikan antagonis reseptor H2 histamin oral misalnya
oral simetidin 600 mg atau oral ranitidin )zantac) 150 mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi.
Untuk mengurangi mual muntah pasca bedah sering ditambahkan premedikasi suntikan
intramuskular untuk dewasadroperidol 2,5-5 mg atau ondanstron 2-4 mg (zofran, narfoz)
II. Induksi dan rumatan anestesia
Induksi anestesi
Induksi anestesia ialah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinka dimulainya anestesia dan pembedahan. Induksi anestesia dapat
dilakukan dengan secara intravena, inhalasi, intrmuskular atau rektal. Setelah setelah pasien
tidur akibat induksi anestesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai
tindakan pembedahan selesai. Sebelum memulai induksi anestesia selayaknya disiapkan
peralatan dan obat-obatan yang diperlukan, sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat
diatasi dengan lebih cepat dan lebih baik.
Untuk persiapan induksi anestesia sebaiknya kita ingat kata STATICS :
S (scope) : Stetoskop, untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-scope.
Pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang
T (tubes) : Pipa trakea, pilih sesuai dengan usia. Usia <5tahun tanpa balon dan >5
tahun dengan balon
A (airway) : pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring
(naso-tracheal airway) pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk
menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
T (tapes) : plaster untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut
I (introducer) : mandrin atau stilet dari kawat dibungus plastik (kabel) yang mudah
dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukan
C (connector) : penyambung antara pipa dan peralatan anestesia
S (suction) : penyedot lendi, ludah dan lain-lainnya
Induksi intravena
Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari, apalagi sudah terpasang jalur
vena, karena cepat dan menyenangkan. Induksi intravena hendaknya dikerjakan dengan hati-
hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi bolus disuntikan dalam kecepatan
antara 30-60 detik. Selama induksi anestesia, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harus
diawasi dan selalu diberi oksigen. Induksi cara ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif
Tiopental (tiopenton, pentotal) diberikan secara intravena dengan kepekatan 2,5% dan
dosis antara 3-7 mg/KgBB. Keluar vena menyebabkan nyeri. Pada anak dan manula digunakan
dosis rendah dan dewasa muda sehat dosis tinggi.
Propofol (recofol, diprivan) intravena dengan kepekatan 1% menggunakan dosis 2-3
mg/Kgbb. Suntikan propofol intavena sering menyebabkan nyeri, sehingga satu menit
sebelumnya sering diberikan lidokain 1mg/Kgbb secara intravena.
Ketamin (ketalar) intravena dengan dosis 1-2 mg/Kgbb. Pasca anestesia dengan ketamin
yang sering menimbulkan halusinasi, karena itu sebelumnya dianjurkan menggunakan sedativa
seperti midasolam (dormikum). Ketamin tidak dianjurkan pada pasien dengan tekanan darah
tinggi ( >160mmHg). Ketamin menyebabkan pasien tidak sadar tetapi dengan mata terbuka.
Indkusi intramuskular
Sampai sekarang hanya ketain (ketalar) yang dapat diberikan secara intramuskular
dengan dosis 5-7 mg/Kgbb dan setelah 3-5 menit pasien tidur
Indkusi inhalasi
Induksi inhalasi hanya dikerjakaj dengan halotan (floutan) atau sevofluran. Cara induksi
ini dikerjakan pada bayi atau anak yang belum terpasang jalur intravena atau pada dewasa yang
takut disuntik.
Induksi halotan memerlukan gas pendorong O2 atau campuran N2O dan O2. Induksi
dimulai dengan aliran O2>4 liter/menit atau campuran N2O:O2 = 3:1 aliran >4 liter/ menit,
dimulai dengan halotan 0,5 vol% sampai konsentrasi yang dibutuhkan. Kalau pasien batuk
halotan diturunkan untuk kemudian kalau sudah tenang dinaika lagi sampai konsentrasi yang
diperlukan.
Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk, walaupun langsung
diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai vol 8%. Seperti dengan halotan konsentrasi
dipertahankan sesuai kebutuhan.
Induksi dengan enfluran (etran), isofluran (foran, aeran) atau desfluran jarang dilakukan,
karena pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi lama.




III. Tatalaksana jalan napas
IV. Anestesia intravena
V. Anestesia inhalasi
VI. Mesin dan alat anestesia
VII. Sistem atau sirkuit anestesia
VIII. Pelumpuh otot
IX. Ventilator mekanik
X. Tatalaksana nyeri
XI. Anestesi inhalasi eter
XII. Monitoring perianestesi