Anda di halaman 1dari 17

Lembaga swadaya masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh

perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan
kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.
Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai Organisasi
non pemerintah (disingkatornop atau ONP (Bahasa Inggris: non-governmental
organization; NGO).
Organisasi tersebut bukan menjadi bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara. Maka
secara garis besar organisasi non pemerintah dapat di lihat dengan ciri sbb :
Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara
Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba)
Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan
para anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi

A. Pengertian Bioetika
Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan ilmu kedokteran membuat etika
kedokteran tidak mampu lagi menampung keseluruhan permasalahan yang berkaitan dengan
kehidupan. Etika kedokteran berbicara tentang bidang medis dan profesi kedokteran saja,
terutama hubungan dokter dengan pasien, keluarga, masyarakat, dan teman sejawat. Oleh karena
itu, sejak tiga dekade terakhir ini telah dikembangkan bioetika atau yang disebut jugadengan
etika biomedis.
Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah yang
ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya memperhatikan masalah-
masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya masalah pada
masa yang akan datang.
Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma atau
nilai-nilai moral. Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan
oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro,
masa kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum
bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia,
transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik, membahas pula masalah
kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak pasien,
moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi, dan sebagainya. Bioetika
memberi perhatian yang besar pula terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan hewan
percobaan.
Masalah bioetika mulai diteliti pertama kali oleh Institude for the Study of Society, Ethics and
Life Sciences, Hasting Center, New York pada tahun 1969. Kini terdapat berbagai isu etika
biomedik.
Di Indonesia, bioetika baru berkembang sekitar satu dekade terakhir yang dipelopori oleh Pusat
Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya Jakarta. Perkembangan ini sangat menonjol setelah
universitas Gajah Mada Yogyakarta yang melaksanakan pertemuan Bioethics 2000; An
International Exchange dan Pertemuan Nasional I Bioetika dan Humaniora pada bulan Agustus
2000. Pada waktu itu, Universitas Gajah Mada juga mendirikan center for Bioethics and Medical
humanities. Dengan terselenggaranya Pertemuan Nasional II Bioetika dan Humaniora pada tahun
2002 di Bandung, Pertemuan III pada tahun 2004 di Jakarta, dan Pertemuan IV tahun 2006 di
Surabaya serta telah terbentuknya Jaringan Bioetika dan Humaniora Kesehatan Indonesia
(JBHKI) tahun 2002, diharapkan studi bioetika akan lebih berkembang dan tersebar luas di
seluruh Indonesia pada masa datang.
Humaniora merupakan pemikiran yang beraitan dengan martabat dan kodrat manusia, seperti
yang terdapat dalam sejarah, filsafat, etika, agama, bahasa, dan sastra.
B. Prinsip-prinsip Dasar Bioetika
Prinsip-prinsip dasar etika adalah suatu aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-
prinsip itu harus dibersamakan dengan prinsip-prinsip lainnya atau yang disebut spesifik. Tetapi
pada beberapa kasus, kerana kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk
digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan Prima
Facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat,
menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada kepada 4 kaidah dasar moral
yang sering juga disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika, antara lain:
Beneficence
Non-malficence
Justice
Autonomy
1. Beneficence
Dalam arti prinsip bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat manusia, dokter
tersebut juga harus mengusahakan agar pasiennya dirawat dalam keadaan kesehatan. Dalam
suatu prinsip ini dikatakan bahwa perlunya perlakuan yang terbaik bagi pasien. Beneficence
membawa arti menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien mengambil langkah
positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada hal yang buruk. Ciri-ciri prinsip ini, yaitu;
Mengutamakan Alturisme
Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya menguntungkan
seorang dokter
Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan suatu
keburukannya
Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan
Meenerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang orang lain
inginkan
Memberi suatu resep
2. Non-malficence
Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak melakukan perbuatan yang
memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling kecil resikonya bagi pasien sendiri.
Pernyataan kuno Fist, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Non-malficence mempunyai
ciri-ciri:
Menolong pasien emergensi
Mengobati pasien yang luka
Tidak membunuh pasien
Tidak memandang pasien sebagai objek
Melindungi pasien dari serangan
Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
Tidak melakukan White Collar Crime
3. Justice
Keadilan (Justice) adalah suatu prinsip dimana seorang dokter memperlakukan sama rata dan
adil terhadap untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi,
pandangan politik, agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, kebangsaan, dan
kewarganegaraan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Justice mempunyai
ciri-ciri :
Memberlakukan segala sesuatu secara universal
Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
Menghargai hak sehat pasien
Menghargai hak hukum pasien
4. Autonomy
Dalam prinsip ini seorang dokter menghormati martabat manusia. Setiap individu harus
diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib diri sendiri. Dalam hal ini
pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomy
bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan membiarkan pasien demi
dirinya sendiri. Autonomy mempunyai ciri-ciri:
Menghargai hak menentukan nasib sendiri
Berterus terang menghargai privasi
Menjaga rahasia pasien
Melaksanakan Informed Consent

Beberapa pendapat para pakar tentang standar profesi antara lain :
Komalawati memberikan batasan yang dimaksud dengan standar profesi adalah pedoman yang
harus digunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Berkenaan dengan
pelayanan medik, pedoman yang digunakan adalah standar pelayanan medik yang terutama
dititik beratkan pad proses tindakan medik (Komalawati, 2002: 177).
Standar profesi dalam bentuk standar pelayanan medik ini juga harus dipakai acuan oleh Rumah
Sakit, karena prosedur tetap di dalam standar profesi dibuat sesuai dengan setiap bidang
spesialisasi, fasilitas dan sumber daya yang tersedia.
Pengertian Standar Profesi Medis menurut Leenen salah seorang pakar Hukum Kesehatan dan
Negeri Belanda yang dikemukakan oleh Koeswadji (1998: 150):
De formulering van de norma voor de medische profesionele standar zou dan kunnen zijn:
zorgvuldigd de medische standar handelen als een gemidelde bekwaam arts van gelijke medische
categorie in gelijke omstandighecjen met middelen die in redelijke verhouding staan tot het
concreet handelingsdoel.
Terjemahan bebasnya adalah:
Norma standar profesi medik dapat diformulasikan sebagai berikut:
a. Terapi (yang berupa tindakan medik tertentu) harus teliti
b. Harus sesuai dengan ukuran medis (kriteria mana ditentukan dalam kasus konkret yang
dilaksanakan berdasarkarn ilmu pengetahuan medik), yang berupa cara tindakan medis tertentu.
Dan tindakan medis yang dilakukan haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan medik dan
pengalaman.
c. Sesuai dengan kemampuan rata-rata yang dimiliki oleh seorang dokter dengan kategori
keahlian medis yang sama.
d. Dalam kondisi yang sama
e. Dengan sarana dan upaya yang wajar sesuai dengan tujuan konkrit tindakan medis tertentu
tersebut.

Rumusan Leenen tentang Standar Profesi Kedokteran tersebut lebih dijelaskan secara detail oleh
Hariyani (2005: 63) sebagai berikut:
a. berbuat secara teliti/seksama (zorgvuldig handelen) dikaitkan dengan culpa/ kelalaian. Bila
dokter bertindak tidak teliti, tidak berhati-hati maka ia memenuhi unsur kelalaian, dan bila
tindakannya sangat tidak berhati-hati atau ceroboh maka ia memenuhi culpa lata.
b. Sesuai ukuran ilmu medik (volgens de medische standard).
c. Kemampuan rata-rata (average) dibanding kategori keahlian medik yang sama (gemiddelde
bewaamheid van gelijke medische categorie).
d. Situasi dan kondisi yang sama (gelijke omstandigheden).
e. Sarana upaya (middelen) yang sebanding/ proporsional (= asas proportionalitas) sebagai
terjemahan dari met middelen die in redeljke verhouding staan dengan tujuan konkrit tindakan
perbuatan tersebut (tot het concreet handelingsdoel).
Kelima unsur yang dikemukakan Leenen ini dipakai pedoman oleh para hakim Belanda di dalam
menangani dugaan malpraktik yang diajukan ke pengadilan Belanda sampai saat ini. Demikian
juga yang dilakukan oleh para hakim di Indonesia, bila ada tuntutan malpraktik terhadap seorang
dokter, kelima unsur rumusan Leenen inilah yang dipakai untuk menguji kebenaran tuduhan
tersebut.
Menurut Penjelasan Pasal 53 ayat 2 UU No. 23/1992; Standar Profesi adalah pedoman yang
harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik (Supriadi, 2001:39).
Nasution (2005:42) mengemukakan pendapat Koeswadji (1992: 104) tentang pengertian standar
profesi sebagai berikut:
Standar profesi adalah niat atau iktikad baik dokter yang didasari etika profesinya, bertolak dan
suatu tolak ukur yang disepakati bersama oleh kalangan pendukung profesi. Wewenang untuk
menentukan hal-hal yang dapat dilakukan dan yang tidak dapat dilakukan dalam suatu kegiatan
profesi merupakan tanggung jawab profesi itu sendiri.
kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok
masyarakat tertentu. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode
etik yang memiliki sanksi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum.
Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam
melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara
sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-
baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang
tidak profesional.

HUKUM DAN ETIK KEDOKTERAN
A. Hukum dan Etik dalam Pelayanan Kesehatan
Seorang dokter dalam menjalankan tugasnya mempunyai alasan yang mulia, yaitu berusaha
untuk menyehatkan tubuh pasien, atau setidak-tidaknya berbuat untuk mengurangi penderitaan
pasien. Oleh karenanya dengan alasan yang demikian wajarlah apabila apa yang dilakukan oleh
dokter itu layak untuk mendapatkan perlindungan hukum sampai batas-batas tertentu. Sampai
batas mana perbuatan dokter itu dapat dilindungi oleh hukum, inilah yang menjadi permasalahan.
Mengetahui batas tindakan yang diperbolehkan menurut hukum, merupakan hal yang sangat
penting, baik bagi dokter itu sendiri maupun bagi pasien dan para aparat penegak hukum.
Jika seorang dokter tidak mengetahui tentang batas tindakan yang diperbolehkan oleh hukum dan
menjalankan tugas perawatannya, sudah barang tentu dia akan ragu-ragu dalam melakukan tugas
tersebut, terutama untuk memberikan diagnosis dan terapi terhadap penyakit yang diderita oleh
pasien. Keraguan bertindak seperti itu tidak akan menghasilkan suatu penyelesaian yang baik,
atau setidak-tidaknya tidak akan memperoleh penemuan baru dalam ilmu pengobatan atau
pelayanan kesehatan. Bahkan bisa saja terjadi suatu tindakan yang dapat merugikan pasien.
Demikian juga bagi aparat penegak hukum yang menerima pengaduan, sudah selayaknya mereka
terlebih dahulu harus mempunyai pandangan atau pengetahuan yang cukup mengenai hukum
kesehatan, agar dapat menentukan apakah perbuatannya itu melanggar etika atau melanggar
hukum.
Disadari sepenuhnya bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan oleh seorang dokter kepada
pasien tidak selamanya berhasil dengan baik. Adakalanya usaha tersebut mengalami kegagalan.
Faktor penyebab kegagalan ini banyak macamnya, mungkin karena kurangnya pehaman dokter
yang bersangkutan terhadap penyakit yang diderita oleh pasien, atau karena minimnya peralatan
yang digunakan untuk melakukan diagnosis dan terapi. Namun tidak jarang terjadinya kegagalan
itu bersumber dari faktor manusianya sendiri, yakni karena adanya kesalahan daro dokter dalam
mengadakan diagnosis dan terapi. Hal yang terakhir ini membuat masyarakat awam beranggapan
bahwa dokter telah gagal atau dianggap gagal dalam melaksanakan tugas perawatannya.
Memang dalam kenyataannya, seorang dokter dapat saja salah atau khilaf atau lalai dalam
menjalankan tugasnya. Akan tetapi karena profesi dokter merupakan jabatan yang khusus, maka
terdapat pula persyaratan yang khusus untuk mempermasalahkan tindakan dokter. Persyaratan-
persyaratan tersebut dapat ditinjau dari segi ilmu kesehatan atau dari segi hukum. Tentang
mengapa harus dilakukan peninjauan dari sudut hukum, alasannya karena semenjak zaman
dahulu hukum telah membebani seorang dokter dengan syarat-syarat yang cukup berat dalam
menjalankan tugasnya, dengan demikian terlihat betapa eratnya kaitan hukum dengan profesi
dokter dalam pelayanan kesehatan.
Pada dasawarsa terakhir ini, sering timbul reaksi defensif dari masyarakat terhadap
perkembangan pelayanan kesehatan, reaksi itu dengan cepat membangkitkan kesadaran
masyarakat tentang hak atas pelayanan kesehatan, persoalan ini menyebabkan aspek hukum
antara dokter dengan pasien menjadi semakin penting. Perkembangan ini di satu pihak
mengandung makna yang sangat positif karena memperlihatkan meningkatnya kesadaran
masyarakat terhadap hukum pada umumnya, dilain pihak perkembangan tersebut merupakan
tantangan bagi profesi dokter dalam upayanya memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien
yang terikat dalam hubungan transaksi terapeutik.
Hubungan kepercayaan antara dokter dengan pasien yang tadinya sudah cukup diatur dengan
kaidah-kaidah moral, yakni melalui etika profesi atau kode etik, kini dengan perkembangan yang
terjadi, mulai dirasakan perlunya pengaturan dengan kaidah-kaidah yang lebih memaksa secara
normatif. Kepatuhan terhadap aturan ini tidak lagi sepenuhnya digantungkan pada kesadaran dan
kemauan bebas dari kedua belah pihak, oleh karena itu pengaturan tersebut harus dituangkan
melalui kaidah-kaidah hukum yang bersifat memaksa
Pada hakikatnya, sikap yang demikian itu muncul karena adanya keinginan atau usaha untuk
mempertahankan hak dengan perlindungan hukum. Aspek hukum itu dimunculkan untuk
melindungi kepentingan terhadap pemberian pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya. Dengan
kata lain aspek hukum itu ditimbulkan oleh perkembangan yang pesat dalam ilmu pengetahuan
dan teknologi di bidang kesehatan. Dengan demikian, jika pasien atau keluarganya merasa
kepentingannya dirugikan oleh dokter, mereka akan menempuh satu-satunya jalan yang masih
terbuka baginya, yaitu upaya gugatan hukum.
Mengingat hakikat hubungan antara dokter dengan pasien yang diikat dalam transaksi terapeutik
sebagaimana diuraikan diatas. Apabila dipandang dari sudut hukum, hubungan itu pada
umumnya termasuk perikatan ikhtiar, oleh karena itu kewajiban hukum atau prestasi yang harus
diwujudkan oleh dokter, adalah ikhtiar semaksimal mungkin dalam batas keahliannya untuk
menyembuhkan pasien. Sepanjang ikhtiar yang dilakukan oleh dokter itu didasarkan pada
keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, tindakan yang dilakukan oleh dokter itu merupakan
tindakan yang sah. Wanprestasi atau ingkar janji baru terjadi apabila dokter tidak melaksanakan
prestasi sesuai dengan apa yang disepakati, sedangkan perbuatan melanggar hukum terjadi jika
terapi yang dilakukan oleh dokter menyimpang dari patokan atau standar yang ditentukan.
Masalahnya sekarang, adalah sangat sulit untuk menentukan kapan suatu tindakan medis
memenuhi patokan atau standar pelayanan kesehatan. Pengaturan hukum seperti yang tercantum
dalam KUHPerdata masih bersifat terlalu umum. Untuk itu diperlukan adanya suatu pengaturan
yang isinya mengatur hubungan antara pasien dengan dokter. Dalam kaitannya dengan hal ini
Van der Mijn (1989 : 57) mengemukakan adanya sembilan alasan tentang perlunya pengaturan
hukum yang mengatur hubungan antara pasien dengan dokter.

1. Adanya kebutuhan pada keahlian keilmuan medis.
2. Kualitas pelayanan kesehatan yang baik.
3. Hasil guna.
4. Pengendalian biaya.
5. Ketertiban masyarakat.
6. Perlindungan hukum pasien.
7. Perlindungan hukum pengemban profesi kesehatan.
8. Perlindungan hukum pihak ketiga, dan
9. Perlindungan hukum kepentingan hukum.

Dari apa yang dikemukakan oleh Van der Mijn diatas, dapat dilihat bahwa hubungan antara
pasien dengan dokter mempunyai aspek etis dan aspek yuridis. Artinya hubungan itu diatur oleh
kaidah hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dengan demikian baik pasien
maupun dokter mempunyai kewajiban dan tanggung jawab secara etis dan yuridis, sebagai
konsekuensinya mereka juga bertanggung jawab dan bertanggung gugat secara hukum.
Dalam praktik, sehubungan dengan tanggung jawab atau tanggung gugat hukum ini, timbul
masalah karena sulitnya menarik garis yang jelas untuk memisahkan antara etik dan yuridis
dalam hubungan antara dokter dengan pasien, khususnya yang berkaitan dengan tindakan medis.
Kesulitan disini timbul karena etika merupakan suatu refleksi tentang perbuatan bertanggung
jawab.
Dalam etika dilakukan renungan yang mendasar tentang kapan sesuatu itu dikatakan
bertanggung jawab. Artinya pelaku harus mampu menjawab dan menjelaskan mengapa ia
melakukan perbuatan atau tindakan tertentu. Disamping itu etika sangat dipengaruhi oleh
pandangan agama, pandangan hidup, kebudayaan, dan kekayaan yang hidup ditengah
masyarakat, sehingga sangat sulit untuk menilainya.
Etika terikat dan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ruang dan
waktu. Hal ini jelas terlihat sebagaimana dimuat dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 99a/Menkes/SK/III/1982 tentang Sistem Kesehatan Nasional, untuk selanjutnya hal hal
ini dipertegas lagi dalam Penjelasan Umum UUNo.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang
menyatakan bahwa dalam banyak hal telah terjadi perubahan orientasi mengenai pemikiran dan
pendekatan dalam pelayanan kesehatan. Itu sebabnya garis pemisah antara etika dan hukum tidak
jelas, karena dari waktu ke waktu selalu bergerak mengikuti perkembangan dan perubahan-
perubahan yang terjadi ditengah masyarakat, seperti yang dikatakan Koeswadji (1992 : 124):
Norma etika umum masyarakat dengan norma etika kesehatan-kedokteran saling
mempengaruhi,, atau dengan lain perkataan, nilai dan pandangan hidup yang dicerminkan oleh
etika profesi kesehatan-kedokteran dalam suatu masyarakat tertentu berlaku untuk suatu waktu
tertentu.
Dari apa yang dikemukakan diatas, dapat diketahui bahwa etika profesi merupakan sikap etis
sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam mengemban profesi. Hanya pengemban profesi
itu sendiri yang dapat atau paling mengetahui tentang apakah perilakunya dalam mengemban
profesi sudah memenuhi tuntutan etika atau tidak. Ini berarti kepatuhan pada etika profesi sangat
tergantung pada akhlak pengemban profesi yang bersangkutan. Disamping itu, sikap dan tata
nilai profesional merupakan ciri dan pengakuan masyarakat terhadap eksistensi profesi dalam
pembangunan tatanan kehidupan masyarakat, sehingga tata nilai profesi ini bersangkut-paut dan
terikat erat dengan nilai humanisme atau kemanusiaan.
Hal ini terlihat pada salahsatu ciri dari profesi dokter yakni nilai kemanusiaan. Naluri seorang
dokter akan terpanggil tidak hanya terbatas pada upayanya bagaimana ia dapat memberi
pelayanan langsung terhadap penderita dalam membantu memecahkan masalah kesehatan, tetapi
juga seorang dokter berupaya mengembangkan nilai-nilai profesionalismenya melalui
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan untuk kepentingan
kemanusiaan.

B. Hubungan Pasien dengan Dokter
Dalam praktik sehari-hari, dapat dilihat berbagai hal yang menyebabkan timbulnya hubungan
antara pasien dengan dokter, hubungan itu terjadi terutama karena beberapa sebab: antara lain
karena pasien sendiri yang mendatangi dokter untuk meminta pertolongan mengobati sakit yang
dideritanya. Dalam keadaan seperti ini terjadi persetujuan kehendak antara kedua belah pihak,
artinya para pihak sudah sepenuhnya setuju untuk mengadakan hubungan hukum. Hubungan
hukum ini bersumber pada kepercayaan pasien terhadap dokter, sehingga pasien bersedia
memberikan persetujuan tindakan medik (informed consent), yaitu suatu persetujuan pasien
untuk menerima upaya medis yang akan dilakukan setelah ia mendapat informasi dari dokter
mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya, termasuk memperoleh
informasi mengenai segala risiko yang mungkin terjadi.
Di indonesia informed consent dalam pelayanan kesehatan, telah memperoleh pembenaran
secara yuridis melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 585/Menkes/1989.
Walaupun dalam kenyataannya untuk pelaksanaan pemberian informasi guna mendapatkan
persetujuan itu tidak sederhana yang dibayangkan, namun setidak-tidaknya persoalannya telah
diatur secara hukum, sehingga ada kekuatan bagi kedua belah pihak untuk melakukan tindakan
secara hukum.
Pokok persoalan yang menyebabkan sulitnya menerapkan informed consent di indonesia, adalah
karena terlalu banyak kendala yang timbul dalam praktik sehari-hari, antara lain: bahasa yang
digunakan dalam penyampaian informasi sulit di pahami oleh masyarakat khususnya pasien atau
keluarganya, batas mengenai banyaknya informasi yang dapat di berikan tidak jelas, masalah
campur tangan keluarga atau pihak ketiga dalam hal pemberian persetujuan tindakan medis
sangat dominan, dan sebagainya. Di samping itu juga tentang informasi dan consent sering
terdapat perbedaan kepentingan antara pasien dengan dokter. Perbedaan kepentingan ini jika
tidak memenuhi titik temu yang memuaskan kedua belah pihak, akan menyebabkan timbulnya
konflik kepentingan. Misalnya pasien berkepentingan untuk penyembuhan penyakit yang di
deritanya, akan tetapi mengingat risiko yang akan timbul berdasarkan informasi yang di
perolehnya dari dokter, pasien atau keluarganya menolak memberi persetujuan, sedangkan pada
sisi lain dokter yang akan melakukan perawatan membutuhkan persetujuan tersebut.
Alasan lain yang menyebabkan timbulnya hubungan antara pasien dengan dokter, adalah karena
keadaan pasien yang sangat mendesak untuk segera mendapatkan pertolongan dari dokter,
misalnya karena terjadi kecelakaan lalu lintas, terjadi bencana alam, maupun karena adanya
situasi lain yang menyebabkan keadaan pasien sudah gawat, sehingga sangat sulit bagi dokter
yang menangani utnuk mengetahui dengan pasti kehendak pasien. Dalam keadaan seperti ini
dokter langsung melakukan apa yang disebut dengan zaakwaarneming sebagaimana diatur dalam
Pasal 1354 KUHPerdata, yaitu suatu bentuk hubungan hukum yang timbul bukan karena adanya
Persetujuan Tindakan Medik terlebih dahulu, melainkan karena keadaan yang memaksa atau
keadaan darurat. Hubungan antara dokter dengan pasien yang terjadi seperti ini merupakan salah
satu ciri transaksi terapeutik yang membedakannya dengan perjanjian biasa sebagaimana diatur
dalam KUHPerdata.
Dari hubungan pasien dengan dokter yang demikian tadi, timbul persetujuan untuk melakukan
sesuatu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 1601 KUHPerdata. Bagi seorang
dokter, hal ini berarti bahwa ia telah bersedia untuk berusaha dengan segala kemampuannya
memenuhi isi perjanjian itu, yakni merawat atau menyembuhkan penyakit pasien. Sedang pasien
berkewajiban untuk mematuhi aturan-aturan yang ditentukan oleh dokter termasuk memberikan
imbalan jasa. Masalahnya sekarang adalah: Bagaimana jika pasien menolak usul perawatan atau
usaha penyembuhan yang ditawarkan oleh dokter?
Tegasnya dalam hubungan antara pasien dengan dokter diperlukan adanya persetujuan, karena
dengan adanya persetujuan ini berakibat telah tercapainya ikatan perjanjian yang menimbulkan
hak dan kewajiban secara timbal balik. Perjanjian ini mempunyai kekuatan mengikat dalam arti
mempunyai kekuatan sebagai hukum yang dipatuhi oleh kedua pihak.
Dalam praktiknya, baik hubungan antara pasien dengan dokter yang diikat dengan transaksi
terapeutik, maiupun yang didasarkan pada zaakwaarneming, sering menimbulkan terjadinya
kesalahan atau kelalaian, dalam hal ini jalur penyelesaiannya dapat dilakukan melalui Majelis
Kode Etik Kedokteran. Jika melalui jalur ini tidak terdapat penyelesaian, permasalahan tersebut
diselesaikan melalui jalur hukum dengan melanjutkan perkaranya ke pengadilan.
Pada sisi lain, walaupun secara yuridisdiperlukan adanya persetujuan tindakan medis untuk
melakukan perawatan, namun dalam kenyataannya sering terjadi bahwa suatu perawatan
walaupun tanpa persetujuan tindakan medik, apabila tidak menimbulkan kerugian bagi pasien,
hal tersebut akan didiamkan saja oleh pasien. Namun jika kesalahan atau kelalaian dilakukan
oleh dokter dan akibat dari kesalahan tersebut menimbulkan kerugian atau penderitaan bagi
pasien, maka persoalan tersebut akan diselesaikan oleh pasien atau keluarganya melalui jalur
hukum. Dalam praktik seperti ini terlihat betapa sulitnya posisi dokter dalam melakukan
pelayanan kesehatan, baik pada tahap diagnosa maupun pada tahap perawatan, sehingga dari
mereka diperlukan adanya sikap ketelitian dan kehati-hatian yang sunguh-sungguh.
C. Hak dan Kewajiban Pasien dan Dokter
Pada bagian ini akan dibahas tentang hak dan kewajiban para pihak secara umum, pembahasan
tentang hal ini dirasakan sangat penting karena kenyataan menunjukkan, bahwa akibat adanya
ketidakpahaman mengenai hak dan kewajiban, menyebabkan adanya kecenderungan untuk
mengabaikan hak-hak pasien sehingga perlindungan hukum pasien semakin pudar. Selain itu
dalam praktik zaher-hari banyak falta menunjukkan, bahwa swcara umum ada anggapan dimana
kedudukan pasien lebih rendah dari kedudukan dokter, sehingga dokter dianggap dapat
mengambil keputusan sendiri terhadap pasien mengenai tindakan apa yang dilakukannya,.
Sebenarnya jika dilihat dari sudut perjanjian terapeutik pendapat seperti ini, merupakan pendapat
yang keliru karena dengan adanya perjanjian terapeutik tersebut kedudukan antara dokter dengan
pasien adalah sama dan sederajat.
Dalam pandangan hukum, pasien adalah subjek hukum mandiri yang dianggap dapat mengambil
keputusan untuk kepentingan dirinya. Oleh karena itu adalah suatu hal yang keliru apabila
menganggap pasien selali tidak dapat mengambil keputusan karena ia sedang sakit. Dalam
pergaulan hidup normal sehari-hari, biasanya pengungkapan keinginan atau kehendak dianggap
sebagai titik tolak untuk mengambil keputusan. Dengan demikian walaupun seorang pasien
sedang sakit, kedudukan hukumnya tetap sama seperti orang sehat. Jadi, secara hukum pasien
juga berhak mengambil keputusan terhadap pelayanan kesehatan yang akan dilakukan
terhadapnya, karena hal ini berhubungan erat dengan hak asasinya sebagai manusia. Kecuali
apabila dapat dibuktikan bahwa keadaan mentalnya tidak mendukung untuk mrngambil
keputusan yang diperlukan.
Dalam hubungannya dengan hak asasi manusia, persoalan mengenai kesehatan ini dinegara kita
diatur dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana dalam Bab III Pasal 1 Ayat (1)
dan Pasal 4 menyebutkan: Pasal 1 (1): Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan
sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Selanjutnya
dalam Pasal 4 dinyatakan: Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat
kesehatan yang optimal.
Sehubungan dengan hak atas kesehatan tersebut yang harus dimiliki oleh setiap orang, negara
memberi jaminan untuk mewujudkannya. Jaminan ini antara lain diatur dalam Bab IV mulai dari
Pasal 6 sampai Pasal 9 UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pada bagian tugas dan
tanggung jawab pemerintah.
Hak atas pelayanan kesehatan memerlukan penanganan yang sungguh-sungguh, hal ini diakui
secara internasional sebagaimana diatur dalam The Universal Declaration of Human Rights
tahun 1948. beberapa pasal yang berkaitan dengan hak atas pelayanan kesehatan dan hak atas
diri sendiri antara lain dimuat dalam Article 3 yang berbunyi: Everyone has the right to life,
liberty and the security of person. Selanjutnya dalam Article 5 disebutkan: No one shall be
subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment. Ketentuan lainnya dimuat
dalam Article 7 dan 10. ketentuan Article 7 menyebutkan: No one shall be subjected to torture or
to cruel, inhuman degrading treatment In particular, no one shall be subjected without his free
consent to medical or scientific experimentation. Dan ketentuan Article 10 mengatur tentang: All
persons deprived of their liberty shall be treated with humanity and with respect for the inherent
dignity of the human person.
Dalam hubungannya dengan hak asasi manusia, apa yang terjadi dan berkembang di Negara-
negara Eropa dan Amerika Serikat, menunjukkan suatu hal yang sangat menggembirakan. Di
Negara tersebut hak-hak pasien berkembang dengan baik. Perkembangan ini terutama karena
adanya tekanan pada rumah sakit yang dilakukan oleh Patiens Bill of Right, sehungga hak-hak
pasien diakui oleh pengadilan. Hak tersebut antara lain, hak untuk menolak cara perawatan
tertentu; sebagaimana dikatakan oleh Werthmann (1984:184): it is a principle of the common
law that every being edult years and sound mind has to determina what shall be done with his
own body. In the confext of medicalcare, this means it is the patient, not the physician, who has
the final legal right to makertreatment decisions. Thus, the physician may act only within the fair
limits of the patiens consent. A vilation of the patiens right of self-determination may give rise
to a common law action against the physician for battery or lack of informed consent.
Berbicara mengenai hak-hak pasien dalam pelayanan kesehatan, secara umum hak pasien
tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
1. Hak pasien atas perawatan
2. Hak untuk menolak cara perawatan tertentu
3. Hak untuk memilih tenaga kesehatan dan rumah sakit yang akan merawat pasien.
4. Hak atas informasi.
5. Hak untuk menolak perawatan tanpa izin.
6. Hak atas rasa aman.
7. Hak atas pembatasan terhadap pengaturan kebebasan perawatan.
8. Hak untuk mengakhiri perjanjian perawatan.
9. Hak atas twenty-for-a-day-visitor-rights
10. Hak pasien menggugat atau menuntut.
11. Hak pasien mengenai bantuan hokum.
12. Hak pasien untuk menasihatkan mengenai percobaan oleh tenaga kesehatan atau ahlinya.

Khusus mengenai hak informasi dalam pelayanan kesehatan sebagaimana dikatakan oleh Bailey
(1972:278) bahwa: In a true life threatening emergency there is no problem with the obtaining of
an informed consent. In the absence of a valid consent from a sane and sober adult patient, or
from the parent or committee of a minor of incompetent person, consent is implied and the
physician has a positive duty to proceed with any reasonable effort to savage life or limb.
Berbarengan dengan hak tersebut pasien juga mempunyai kewajiban, baik kewajiban secara
moral maupun secara yuridis. Secara moral pasien berkewajiban memelihara kesehatannya dan
menjalankan aturan-aturan perawatan sesuai dengan nasihat dokter yang merawatnya. Beberapa
kewajiban pasien yang harus dipenuhinya dalam pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut.

1. Kewajiban memberikan informasi.
2. Kewajiban melaksanakan nasihat dokter atau tenaga kesehatan.
3. Kewajiban untuk berterus terang apabila timbul masalah dalam hubungannya dengan dokter
atau tenaga kesehatan.
4. Kewajiban memberikan imbalan jasa.
5. Kewajiban memberikan ganti-rugi, apabila tindakannya merugikan dokter atau tenaga
kesehatan.
Berdasarkan pada perjanjian terapeutik yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak,
dokter juga mempunyai hak dan kewajiban sebagai pengemban profesi. Hak-hak dokter sebagai
pengemban profesi dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Hak memperoleh informasi yang selengkap-lengkapnya dan sejujur-jujurnya dari pasien yang
akan digunakannya bagi kepentingan diagnosis maupun terapeutik.
2. Hak atas imbalan jasa atau honorarium terhadap pelayanan yang diberikannya kepada pasien.
3. Hak atas itikad baik dari pasien atau keluarganya dalam melaksanakan transaksi terapeutik.
4. Hak membela diri terhadap tuntutan atau gugatan pasien atas pelayanan kesehatan yang
diberikannya.
5. Hak untuk memperoleh persetujuan tindakan medik dari pasien atau keluarganya.
Disamping hak-hak tersebut, dokter juga mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan. Jika
diperhatikan Kode Etik Kedokteran Indonesia yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri
Kesehatan R.I. No. 34 Tahun 1983, didalamnya terkandung beberapa kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh dokter di Indonesia. Kewajiban-kewajiban tersebut meliputi:

1) Kewajiban umum;
2) Kewajiban terhadap penderita;
3) Kewajiban terhadap teman sejawatnya;
4) Kewajiban terhadap diri sendiri.
Berpedoman pada isi rumusan kode etik kedokteran tersebut, Hermien Hadiati Koeswadji
mengatakan bahwa secara pokok kewajiban dokter dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Bahwa ia wajib merawat pasiennya dengan cara keilmuan yang ia miliki secara adekuat.
Dokter dalam perjanjian tersebut tidak menjanjikan manghasilkan satu resultaat atau hasil
tertentu, karena apa yang dilakukannya itu merupakan upaya atau usaha sejauh mungkin sesuai
dengan ilmu yang dimilikinya. Karenanya bukan merupakan inspanningssverbintenis. Ini berarti
bahwa dokter wajib berusaha dengan hati-hati dan kesungguhan (met zorg eh inspanning)
menjalankan tugasnya. Perbedaan antara resultaatverbintenis dengan inspanningserbintenis ini
yakni dalam hal terjadi suatu kesalahan.
2. Dokter wajib menjalankan tugasnya sendiri (dalam arti secara pribadi dan bukan dilakukan
oleh orang lain) sesuai dengan yang telah diperjanjikan, kecuali apabila pasien menyetujui perlu
adanya seseorang yang mewakilinya (karena dokter dalam lafal sumpahnya juga wajib menjaga
kesehatannya sendiri).
3. Dokter wajib memberi informasi kepada pasiennya mengenai segala sesuatu yang
berhubungan dengan penyakit atau penderitaannya. Kewajiban dikter ini dalam hal perjanjian
perawatan (behandelingscontract) menyangkut dua hal yang ada kaitannya dengan kewajiban
pasien.
Di samping itu ada beberapa perbuatan atau tindakan yang dilarang dilakukan oleh dokter,
karena perbuatan tersebut dianggap bertentangan dengan etik kedokteran. Perbuatan atau
tindakan yang dilarang tersebut adalah sebagai berikut.
1. Melakukan suatu perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri.
2. Ikut serta dalam memberikan pertolongan kedokteran dalam segala bentuk, tanpa kebebasan
profesi.
3. Menerima uang selain dari imbalan yang layak sesuai dengan jasanya, meskipun dengan
sepengetahuan pasien atau keluarganya.
Dengan demikian jika diperhatikan isi kode etik kedokteran tersebut dapat disimpulkan bahwa:
kode etik kedokteran mengandung tuntutan agar dokter menjalankan profesinya berdasarkan
nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Apalagi sebagian besar dari masyarakat, terutama yang
tinggal dipedesaan belum memiliki pengertian yang cukup tentang cara memelihara kesehatan.
Oleh karena itu, upaya untuk memberikan bimbingan dan penerangan kepada masyarakat tentang
kesehatan, merupakan salah satu tugas dokter yang tidak kalah pentingnya dari pekerjaan
penyembuhan. Malahan tugas dokter tidak terbatas pada pekerjaan kuratif dan preventif saja,
jabatan profesi dokter, lebih-lebih di pedesaan, sebetulnya meliputi semua bidang kegiatan
masyarakat, artinya dokter harus ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Atas dasar hal tersebut, jika motivasi seorang dokter dalam bekerja karena uang dan kedudukan,
dokter tersebut dapat di golongkan dalam motivasi rendah. Jika dokter cenderung untuk bekerja
sedikit dengan hasil banyak, dokter yang bersangkutan akan tergelincir untuk melanggar kode
etik dan sumpahnya. Sebaliknya jika motivasinya berdasarkan pada keinginan untuk memenuhi
prestasi, tanggung jawab dan tantangan dari tugas itu sendiri, akan mudah baginya untuk
menghayati dan mangamalkan kode etik dan sumpahnya. Di samping itu dia senantiasa akan
melakukan profesinya menurut ukuran yang tertinggi, serta meningkatkan keterampilannya
sehingga kemampuan untuk melaksanakan tugasnya tidak perlu disangsikan lagi.
STANDAR PROFESI MEDIS DAN AUDIT MEDIS
A. Standar Profesi Medis
Dalam hukum kesehatan diakui adanya otonomi profesi yang hanya berlaku bagi suatu anggota
profesi dokter, adanya ketentuan yang bersifat otonom ini, karena profesi kedokteran memiliki
komunitas tersendiri, sehingga menampilkan suatu sistem nilai yang memiliki sejumlah kaidah
yang turut menggerakkan dan mengendalikan profesi kedokteran. Di samping itu juga dikenal
adanya kontrol profesional yang berfungsi untuk mempertahankan dan menjunjung tinggi
martabat profesi kedokteran.
Jadi, dari sekian banyak lingkungan masyarakat yang mengemban profesi seperti guru, jurnalis,
advokat, hakim, jaksa, dan sebagainya. Profesi kedokteran merupakan profesi khusus yang
berbeda dengan profesi lainnya. Kekhususan profesi kedokteran terletak pada sifat otonom dan
ukuran mengenai kemampuan rata-rata dari pengemban profesi, ketelitian, ketekunan, kehati-
hatian dan pengabdian yang tinggi.
Berbicara mengenai profesi, secara umum dikenal adanya beberapa ciri atau identitas tentang
profesi yang membedakannya dengan kelompok masyarakat umum, adapun ciri-ciri profesi yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kelompok disiplin ilmu yang khusus dan terorganisir.
2. Kegiatan profesi atau pelaksanaan fungsi profesi memerlukan profesi berpikir yang pada
umumnya bersifat intelektual dan menunjukkan suatu proses penilaian.
3. Memerlukan pendidikan profesional untuk menjalankan profesi
4. Melayani kebutuhan masyarakat dan bukan kepentingan kelompok.
5. mengembangkan secara terus-menerus ilmu yang di bina dan dapat di uji kesahihannya serta
digunakan dalam praktik untuk memberi pelayanan kepada masyarakat.
6. Memiliki identitas dan keyakinan kelompok yang di kenal oleh masyarakat.
7. Memiliki dan memberlakukan kode etik di lingkungan profesinya.
8. Menarik orang-orang dengan kecerdasan tinggi dan kepribadian baik, untuk memilih profesi
ini sebagai pekerjaan dan atau pengabdian seumur hidup, bukan sekedar sebagai batu loncatan
untuk memperoleh pekerjaan lain.
Sebenarnya etika profesi merupakan bagian dari etika masyarakat, dimana antara etika profesi
dan etika masyarakat tidak boleh bertentangan. Jika terjadi pertentangan antara etika profesi dan
etika masyarakat, maka etika masyarakatlah yang harus di utamakan. Dalam banyak hal antara
etika profesi dengan etika masyarakat saling isi mengisi. Etika profesi dapat berubah dan di
tentukan kembali oleh etika masyarakat yang berlaku pada suatu waktu tertentu, demikian pula
sebaliknya perkembangan etika masyarakat mendapat pengaruh dari etika profesi.
Dasar atau landasan yang menjadi cikal bakal terbentuknya etika profesi di kalangan para
pengemban profesi, adalah karena dalam kehidupan bermasyarakat terdapat hal-hal yang oleh
hukum tidak perlu di atur dengan peraturan perundang-undangan. Pandangan dan pemikiran ini
bertolak pada adagium yang ditemukan dalam ilmu hukum, dimana secara tersirat di gariskan
bahwa hukum tidak mengatur hal-hal yang kecil (deminimis non curat lex). Jadi, masyarakat
pengemban profesi dianggap untuk mengendalikan segala sesuatu yang terjadi di lingkungan
mereka tanpa suatu gejolak peraturan intern yang sudah di sepakati bersama, sehingga
pengaturan hukum tidak di perlukan untuk mengatur apa yang mereka sepakati tersebut.
Hal-hal kecil yang di maksud oleh hukum di sini, termasuk bagian-bagian tertentu dan spesifik
yang melingkupi ruang gerak anggota profesi kedokteran dalam melakukan pelaynan kesehatan.
Oleh karena itu dalam perjanjian terapeutik, selain harus memenuhi ketentuan perundang-
undangan yang berlaku, juga harus mengindahkan kepatutan atau kebiasaan yang berlaku dalam
bidang kesehatan. Jadi, apabila seorang dokter dianggap bertindak melakukan kesalahan atau
kelalaian, penilaiannya tidak semata-mata didasarkan pada aspek hukum, tetapi juga harus di
lihat dari aspek etika profesi.
Bagi kalangan pengemban profesi kedokteran, untuk melihat kemampuan dan atau keahlian
profesionalnya, dapat di ukur daro segi keterampilan serta hak dan kewenangan mereka
melakukan tugas profesi tersebut, sebab terjadinya suatu kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan atau menjalankan profesi, tidak jarang di sebabkan kurangnya pengetahuan,
kurangnya pemahaman, dan pengalamannya. Sehubungan dengan itu untuk menilai ada tidaknya
suatu kesalahan atau kelalaian dokter, digunakan standar yang berkaitan dengan aturan-aturan
yang di temukan dalam profesi kedokteran dan yang berhubungan dengan fungsi sosial
pelayanan kesehatan.
Pasal 53 Ayat (2) UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan menentukan bahwa dalam
melakukan tugasnya, tenaga kesehatan berkewajiban mematuhi estndar profesi dan
menghormati hak pasien. Dokter termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan sebagaimana yang
di tentukan dalam penjelasan ketentuan tersebut. Salah satu bentuk kegiatan dokter dalam
melaksanakan profesinya adalah melakukan tindakan medis. Dalam pelaksanaan tugasnya
melakukan perawatan atau tindakan medis harus mengikuti estndar profesi serta menghormati
hak-hak pasien.
Standar profesi tersebut menurut penjelasan Pasal 53 Ayat (2) UU No. 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, berlaku sebagai pedoman yang harus di gunakan sebagai petunjuk dalam
melaksanakan profesi secara baik dan benar. Apabila dokter melakukan kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dan akibat dari kelalaian itu menimbulkan kerugian bagi pasien atau
keluarganya, pasien berhak untuk memperoleh ganti rugi sesuai dengan ketentuan Pasal 55 Ayat
(2) UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Pekerjaan profesi kedokteran di landasi oleh dua prinsip perilaku pokok, yaitu kesungguhan
untuk berbuat demi kebaikan pasien, dan tidak ada niat untuk menyakiti, mencederai, dan
merugikan pasien. Sebagai bagian dari rasa tanggung jawabnya dan sebagai manifestasi dari dua
prinsip perilaku pokok diatas, dokter wajib menghargai hak pasien. Hak tersebut terdiri dari hak
untuk dirawat, diobati, ditangani oleh dokter yang dalam mengambil keputusan profesional
secara klinik dan etis dilakukan secara bebas. Hak lain yang wajib dihargai dari pasien, adalah
hak untuk dilindungi rahasia pribadinya yang telah dipercayakannya lepada dokter.
Seorang dokter yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan, sekalipun dia di satu pihak
mempunyai otonomi profesi, Namur dilain pihak kemandirian dokter berdasarkan otonomi
tersebut perlu dikendalikan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Salah saty dari peraturan
tersebut adalah standar pelayanan medis.
Masalahnya Semarang, di Indonesia belum ada standar pelayanan medis yang berlaku secara
nasional. Jika di tinjau dari sudut hukum kesehatan, Belem adanya estndar pelayanan medis
yang berlaku secara nasional ini, akan merugikan tidak hanya bagi kalangan profesi kedokteran,
tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa
memang banyak terjadi perbedaan dalam penanganan penderita pada saat pemeriksaan, maupun
perbedaan mengenai sarana atau peralatan yang digunakan, sehingga semua hal itu bisa
menyebabkan terjadinya penyimpangan yang merugikan masyarakat. Dalam praktik sehari-hari
sering terjadi tindakan atau perbuatan yang kurang terpuji dalam pelayanan kesehatan. Tindakan
atau perbuatan yang kurang terpuji tersebut antara lain bisa dilihat dari tindakan dokter yang
mengutamakan kepentingan bisnis daripada kepentingan kemanusiaan, misalnya, demi untuk
mencari keuntungan secara ekonomis dokter melakukan diagnosa terhadap pasien dengan
menggunakan peralatan laboratorium atau radiologi, padahal sesuai dengan tingkat penyakit
yang di derita oleh pasien hal tersebut sebenarnya tidak perlu di lakukan.
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia, di tegaskan bahwa seorang dokter harus senantiasa
mengingat kewajibannya melindungi hidup makhluk insani, mempergunakan segala ilmu dan
keterampilannya untuk kepentingan penderita. Jika ia tidak mampu melakukan statu pemeriksaan
atau pengobatan, ia wajib merujuk penderita lepada dokter lain yang mempunyai keahlian dalam
menangani penyakit tersebut. Seorang dokter tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas statu
kegagalan untuk menyembuhkan pasien, CACAT atau meninggal, bilamana dokter telah
melakukan segala upaya sesuai dengan keahlian dan kemampuan profesionalnya.
Bertolak dari hal tersebut diatas, dapat dibedakan antara apa yang dimaksud sebagai upaya yang
baik dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab, lalai atau ceroboh. Artinya apabila seorang
dokter telah melakukan segala upaya, kemampuan, keahlian, dan pengalamannya untuk merawat
pasien atau penderita, dokter tersebut dianggap telah berbuat upaya yang baik dan telah
melakukan tugasnya sesuai dengan etik kedokteran. Sebaliknya, jika seorang dokter tidak
memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau tidak meninggalkan hal-hal yang seharusnya
ditinggalkan oleh sesama dokter lain, pada umumnya di dalam situasi yang sama, dokter yang
bersangkutan dapat dikatakan telah melanggar standar profesi kedokteran.
Menurut Koeswadji (1992 : 104), standar profesi adalah nilai atau itikad baik dokter yang
didasari oleh etika profesinya, bertolak dari suatu tolak ukur yang disepakati bersama oleh
kalangan pendukung profesi. Wewenang untuk menentukan hal-hal yang dapat dilakukan dean
yang tidak dapat dilakukan dalam statu kegiatan profesi, merupakan tanggung jawab profesi itu
sendiri.

Dalam rangka menunjang kemandirian dan pelaksanaan profesi kedokteran dalam pelayanan
kesehatan, pemerintah menetapkan berlakunya estndar pelayanan medis di rumah sakit dan
standar pelayanan rumah sakit. Estndar pelayanan medis tersebut merupakan tonggak utama
dalam upaya peningkatan mutu pelayanan medis di Indonesia. Tujuan ditetapkannya estndar
pelayanan medis ini adalah untuk melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak sesuai
dengan standar profesi.
Di tinjau dari sudut hukum kesehatan, standar pelayanan medis ini mempunyai tujuan ganda. Di
satu pihak bertujuan untuk melindungi masyarakat dari praktik-prsktik yang tidak sesuai dengan
standar profesi kedokteran, sedang di lain pihak bertujuan melindungi anggota profesi dari
tuntutan masyarakat yang tidak wajar. Di samping itu juga berfungsi sebagai pedoman dalam
pengawasan praktik dokter, pembinaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang efektif
dan efisien.
Standar pelayanan medis ini merupakan hukm yang mengikat para pihak yang berprofesi di
bidang kesehatan, yaitu untuk mengatur pelayanan kesehatan dan mencegah terjadinya kelalaian
staff medis dalam melakukan tindakan medis. Dalam kaitannya dengan profesi dokter di
perlukan estndar pelayanan medis yang mencakup: standar ketenangan, standar prosedur,
standar sarana, dan standar hasil yang di harapkan. Selain itu standar pelayanan medis ini tidak
saja untuk mengukur mutu pelayanan, tetapi juga berfungsi untuk kepentingan pembuktian di
pengadilan apabila timbul sengketa.
Standar pelayanan medis terdiri dari dua bagian. Pertama, memuat tentang standar penyakit
dengan duabelas spesialisasi kasus-kasus penting. Kedua, memuat tentang standar pelayanan
penunjang dengan tiga spesialisasi yang masing-masingnya di rinci berdasarkan prosedur
tindakan yang harus di tangani oleh spesialisasi yang bersangkutan. Bagian standar pelayanan
medis yang pertama meliputi:
1) Bagian bedah;
2) Bagian bedah ortopedi;
3) Bagian jiwa;
4) Bagian kardiologi;
5) Bagian kulit dan kelamin;
6) Bagian obstetri dan ginekologi;
7) Bagian paru;
8) Bagian penyakit dalam;
9) Bagian penyakit anak;
10) Bagian saraf;
11) Bagian mata;
12) Bagian telinga, hidung, dan tenggorokan.
Sedangkan bagian standar pelayanan medis yang kedua meliputi;
1) Bagian anestesi;
2) Bagian patologi, anatomi, forensik, klinik;
3) Bagian radiologi.