Anda di halaman 1dari 15

TITRASI ASAM BASA (MONOPROTIK)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu:
- Melakukan standardisasi untuk larutan asam kuat dan basa kuat
- Melakukan penentuan konsentrasi larutan dengan titrasi asam basa

II. PERINCIAN KERJA
- Standardisasi larutan NaOH dengan KHP
- Standardisasi larutan HCl dengan Na
2
CO
3

- Penentuan konsentrasi larutan CH
3
COOH dengan larutan std. NaOH
- Penentuan konsentrasi larutan NH
4
OH dengan larutan std. HCl
- Penentuan konsentrasi larutan H
2
SO
4
dengan larutan std. NaOH
- Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan std. HCl

III. ALAT ALAT YANG DIGUNAKAN
- Neraca analisis
- Kaca arloji
- Erlenmeyer 250 ml
- Buret 50 ml
- Pipet ukur 25 ml
- Gelas kimia 100 ml, 250 ml
- Labu ukur 100 ml, 250 ml
- Spatula
- Pengaduk
- Bola karet
- Pipet tetes
- Desikator
- Corong
- Botol aquadest
IV. BAHAN YANG DIGUNAKAN
- Larutan baku sekunder NaOH 1 N
- Larutan baku sekunder HCl 1 N
- Kalium hidrogen ftalat, KHC
8
H40
4
(KHP)
- Natrium karbonat
- Indikator metil orange/metil jingga
- Indikator fenolftalien
- Larutan H
2
SO
4

- Larutan CH
3
COOH
- Larutan NH
4
OH
- Larutan NaOH

V. GAMBAR ALAT (TERLAMPIR)

VI. KESELAMATAN KERJA
Gunakan peralatan keselamatan kerja, seperti masker dan sarung tangan
dalam menangani larutan asam pekat dan basa kuat. Lakukan pengenceran di
dalam lemari asam dengan mengisi labu ukur dengan aquadest terlebih dahulu.

VII. DASAR TEORI
VII.I Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa merupakan titrasi yang didasarkan pada reaksi asam
basa yang terjadi antara analit dengan titran. Titran asam basa terdiri dari titrasi
antara :
- asam kuat dengan basa kuat
- asam kuat dengan basa lemah
- basa kuat dengan asam lemah
VII.II Pereaksi Asam Basa
Dalam praktikum di laboratorium adalah hal biasa untuk membuat atau
menstandardisasi satu larutan asam atau satu larutan basa. Karena larutan asam
lebih mudah diawetkan daripada lautan basa, maka suatu asam lah yang biasanya
dipilih sebagai standar pembanding tetap yang lebih baik daipada basa.
Dalam memilih asam untuk dipakai dalam larutan standar, faktor
faktor berikut harus diperhatikan :
1. asam harus kuat, yaitu terdisosiasi tinggi
2. asam tidak boleh mudah menguap
3. larutan asam harus stabil
4. garam dari asamnya harus larut
5. asamnya harus tidak merupakan suatu pereaksi oksidator yang cukup kuat
untuk merusak senyawa senyawa organik yang digunakan seperti indikator.
Asam asam klorida dan sulfat merupakan larutan asam yang paling
luas digunakan sebagai larutan standar, meskipun tidak satu pun mencukupi
semua persyaratan di atas. Garam klorida dan ion ion perak, timbal, dan merkuri
(I) adalah larut , seperti halnya sulfat dari logam logam alkali tanah dan timbal.
Namun hal ini biasanya tidak menyebabkan kesukaran pada kebanyakan
penggunaan titrasi asam basa. Hidrogen klorida merupakan gas tetapi tidak cukup
menguap dari larutan larutan pada batas batas konsentrasi yang biasanya
dipergunakan, karena terdisosiasi sangat tinggi dalam larutan air. Suatu larutan
0,5 N dapat dididihkan untuk beberapa lama tanpa kehilangan hidrogen klorida.,
jika larutannya tidak boleh dipekatkan dengan penguapan. Asam nitrat juga jarang
digunakan, sebab merupakan pereaksi oksidasi kuat, dan larutannya terurai
apabila dipanaskan atau dikenakan cahaya. Asam peklorat merupakan asam kuat
tidak menguap dan stabil terhadap reduksi dalam larutan larutan encer. Garam
garam kalium dan amonium dapat mengendap dari larutan larutan pekat apabila
terbentuk selama titrasi. Asam perklorat lebih disukai dalam titrasi yang bukan
air. Ia pada dasarnya suatu asam yang lebih kuat terdisosiasi dalam pelarut yang
bersifat asam, seperti asam asetat murni.
Natrium hidroksida merupakan basa yang paling umum digunakan.
Kalium hidroksida tidak memberikan keuntungan dibandingkan dengan natrium
hidroksida dan lebih mahal. Natrium hidroksida selalu terkontaminasi oleh jumlah
kecil zat pengotor , yang paling sering diantaranya adalah natrium karbonat.
VII.III Indikator untuk Tirasi Asam Basa
Indikator yang digunakan pada titrasi ini adalah indikator yang bekerja
sesuai dengan perubahan pH pada larutan. Indikator asam basa merupakan suatu
asam atau basa organik lemah yang bentuk tak terdisosiasinya berbeda warna
dengan ionnya. Indikator ini akan berubah warna pada perubahan pH larutan yang
menyebabkan indikator tersebut mengalami disosiasi.
Indikator yang terkenal adalah indikator fenolftalien. Indikator ini
merupakan asam diprotik dan tak berwarna dan kemudian kehilangan hidrogen
kedua, menjadi ion yang berwarna merah.
VII.IV Standardisai Larutan
Standardisasi adalah proses yang digunakan untuk menentukan secara
teliti konsentrasi suatu larutan. Terdapat dua macam larutan standar, yaitu standar
primer dan standar sekunder. Standar primer biasanya dibuat dengan cara
menimbang dengan teliti suatu solut kemudian melarutkannya ke dalam volume
larutan yang secara teliti diukur volumenya.
Syarat syarat dari standar primer adalah sebagai berikut:
1. Murni, jumlah pengotornya tidak lebih dari 0,01 0,02%
2. Stabil, tidak higroskopis, dan tidak mudah bereaksi dengan udara
3. Mempunyai berat ekivalen yang cukup tinggi untuk mengurangi kesalahan
pada waktu penimbangan
Larutan standar primer digunakan untuk menstandardisasi larutan
standar sekunder , larutan std. Sekunder selanjutnya digunakan untuk penentuan
suatu larutan atau cuplikan.
Senyawa kalium hidrogen ftalat, KHC8H404 (KHP) merupakan
standar primer, sangat baik untuk larutan larutan basa. Senyawa ini mudah
diperoleh dengan kemurnian 99,95% atau lebih. Zat ini stabil apabila dikeringkan,
tidak higroskopis dan mempunyai berat ekivalen yang tinggi 204,2 gr/ek.
Merupakan asam monoprotik lemah, maka hal ini bukannya suatu kerugian.
Indikator fenolftalien digunakan dalam titrasi dan larutan basanya harus bebas
karbonat.
Natrium karbonat, Na
2
CO
3
secara luas digunakan sebagai standar
primer untuk larutan asam kuat. Mudah dipeoleh dalam keadaan sangat murni,
kecuali hadirnya sejumlah kecil natrium bikarbonat. Bikarbonat dapat secara
lengkap diubah menjadi karbonat dengan memanaskan zatnya hingga berat tetap
pada 270C - 300C. Natrium karbonat sedikit higroskopis, tetapi dapat ditimbang
tanpa banyak kesulitan. Karbonat dapat dititrasi menjadi natrium bikarboant
dengan menggunakan indikator fenolftalien, berat ekivalennya sama dengan berat
molekulnya yaitu 106,0. Tetapi secara umum zat ini dititrasi menjadi asam
karbonat dengan menggunakan indikator metil orange dengan berat ekivalen
setengah dari berat molekulnya.

VIII. PROSEDUR PERCOBAAN
Standardisasi larutan std sekunder NaOH dengan KHP
- Memasukkan kira kira 4 5 gr KHP murni dalam botol timbang yang
bersih dan mengeringkan dalam oven pada temperatur 110C sekurang
kurangnya selama 1 jam
- Mendingingkan botol timbang beserta isinya dalam desikator
- Menimbang dengan teliti 3 Erlenmeyer bersih yang telah diberi nomor
sebanyak 0,7 0,9 gr KHP
- Pada tiap Erlenmeyer, menambahkan 50 ml air aquadest ke dalamnya
yang diukur dengan gelas ukur dan mengocok perlahan lahan sampai
KHP larut
- Menambahkan 2 tetes indikator pp pada tiap Erlenmeyer
- Menitrasi larutan dengan NaOH yang telah dibuat sampai berubah warna
menjadi merah muda
- Mencatat volume titran
Standarisasi larutan std sekunder HCl dengan Na
2
CO
3

- Membuat larutan yang mempunyai pH 4 dengan cara melarutkan 1 gr
KHP dalam 100 ml air aquadest. Menambahkan 2 tetes metil jingga ke
dalamnya
- Larutan ini digunakan sebagai larutan pembanding
- Menimbang dengan teliti 3 buah cuplikan dalam erlenmeyer masing
masing 0,2 0,25 gr Na
2
CO
3
murni yang sebelumnya telah dikeringkan
- Melarutkan dalam 50 ml air aquadest dan menambahkan 2 tetes metil
jingga
- Menitrasikan dengan HCl, sampai warnanya sama dengan larutan
pembanding
- Mencatat volume titran
Penentuan konsentrasi larutan CH
3
COOH dengan larutan std. NaOH
- Memipet 25 ml cuplikan ke dalam Erlenmeyer 250 ml
- Menambahkan indikator pp
- Menitrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna yang tetap
- Mengulangi untuk 3 kali percobaan
Penentuan konsentrasi larutan NH
4
OH dengan larutan std. HCl
- Memipet 25 ml cuplikan ke dalam Erlenmeyer 250 ml
- Menambahkan indikator m.o
- Menitrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna yang tetap
- Mengulangi untuk 3 kali percobaan
Penentuan konsentrasi larutan H
2
SO
4
dengan larutan std. NaOH
- Memipet 25 ml cuplikan ke dalam Erlenmeyer 250 ml
- Menambahkan indikator m.o
- Menitrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna yang tetap
- Mengulangi untuk 3 kali percobaan
Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan std. HCl
- Memipet 25 ml cuplikan ke dalam Erlenmeyer 250 ml
- Menambahkan indikator pp
- Menitrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna yang tetap
- Mengulangi untuk 3 kali percobaan

IX. DATA PENGAMATAN
Nomor
Percobaan
Volume Titran (ml)
Rata Rata
Volume Titran
(ml)
Perubahan
Warna
1.
Volume 1 = 0,8
0,70
Bening menjadi
ungu
Volume 2 = 0,6
Volume 3 = 0,7
2.
Volume 1 = 4,0
5,17
Orange menjadi
merah muda
Volume 2 = 8,0
Volume 3 = 3,5
3.
Volume 1 = 7,0
6,93
Bening menjadi
ungu
Volume 2 = 6,8
Volume 3 = 7,0
4.
Volume 1 = 7,5
4,83
Orange menjadi
merah muda
Volume 2 = 4,0
Volume 3 = 3,0
5.
Volume 1 = 9,0
8,47
Merah menjadi
kuning
Volume 2 = 8,0
Volume 3 = 8,4
6.
Volume 1 = 10,5
10,84
Merah muda
menjadi bening
Volume 2 = 11,0
Volume 3 = 11,0
X. PERHITUNGAN ANALISIS DATA
X.I Standardisasi larutan NaOH dengan KHP
g KHP/BE KHP = volume NaOH x N. NaOH
0,7 gr x 10/50 / 204,2 gr/ek = 0,7 x 10
-3
l x N. NaOH
6,86 x 10
-4
ek = 0,7 x 10
-3
l x N. NaOH
N. NaOH = 0,97 ek/l
% Kesalahan = N.praktek N.teori x 100
N.praktek

= 1 N 0,97 N x 100
1 N
= 3 %
X.II Standardisasi larutan HCl dengan Na
2
CO
3

g Na
2
CO
3
/BE Na
2
CO
3
= V. HCl x N. HCl
0.2 gr x 10/50 / 53 gr/ek = 5,17 x 10
-3
l x N. HCl
7,55 x 10
-4
ek = 5,17 x 10
-3
l x N. HCl
N. HCl = 0,146 ek/l
% Kesalahan = N.praktek N.teori x 100
N.praktek

= 1 N 0,146 N x 100
1 N
= 85 %

X.III Penentuan konsentrasi larutan CH
3
COOH dengan larutan std. NaOH
V. CH
3
COOH x N. CH
3
COOH = V. NaOH x N. NaOH
10 ml x N. CH
3
COOH = 6,93 ml x 0,97 mek/ml
10 ml x N. CH
3
COOH = 6,722 mek
N. CH
3
COOH = 0,672 mek/ml
% Kesalahan = N.praktek N.teori x 100
N.praktek

= 1 N 0,627 N x 100
1 N
= 37 %

X.IV Penentuan konsentrasi larutan NH
4
OH dengan larutan std. HCl
V. NH
4
OH x N. NH
4
OH = V. HCl x N. HCL
10 ml x N. NH
4
OH = 4,83 ml x 0,146 mek/ml
10 ml x N. NH
4
OH = 0,705 mek
N. NH
4
OH = 0,07 mek/ml
% Kesalahan = N.praktek N.teori x 100
N.praktek

= 1 N 0,07 N x 100
1 N
= 93 %

X.V Penentuan konsentrasi larutan H
2
SO
4
dengan larutan std. NaOH
V. H
2
SO
4
x N. H
2
SO
4
= V. NaOH x N. NaOH
10 ml x N. H
2
SO
4
= 8,47 ml x 0,97 mek/ml
10 ml x N. H
2
SO
4
= 8,21 mek
N. H
2
SO
4
= 0,821 mek/ml
% Kesalahan = N.praktek N.teori x 100
N.praktek

= 1 N 0,821 N x 100
1 N
= 17 %

X.VI Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan std. HCl
V. NaOH x N. NaOH = V. HCl x N. HCl
10 ml x N. NaOH = 10,83 ml x 0,146 mek/ml
10 ml x N. NaOH = 1,58 mek
N. NaOH = 0,158 mek/ml
% Kesalahan = N.praktek N.teori x 100
N.praktek

= 1 N 0,158 N x 100
1 N
= 84 %

XI. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum titrasi asam basa yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa:
Titrasi berperan penting dalam menstandardisasi larutan asam dan basa,
dan juga berperan penting dalam penentuan konsentrasi larutan.
Faktor faktor yang memengaruhi titrasi antara lain:
- Kebersihan alat percobaan
- Ketelitian dalam mentitrasi
- Perubahan warna
- Indikator asam basa
- Ketepatan dalam pengukuran dan penimbangan
Hasil konsentrasi:
- Pada percobaan 1 diperoleh konsentrasi larutan = 0,98 N
- Pada percobaan 2 diperoleh konsentrasi larutan = 0,15 N
- Pada percobaan 3 diperoleh konsentrasi larutan = 0,596 N
- Pada percobaan 4 diperoleh konsentrasi larutan = 0,072 N
- Pada percobaan 5 diperoleh konsentrasi larutan = 0,728 N
- Pada percobaan 6 diperoleh konsentrasi larutan = 0,162 N

XII. DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Kimia Analisis Dasar. 2011. Petunjuk Praktikum Kimia
Analisis Dasar. Politeknik Negeri Sriwijaya: Palembang.
















PERTANYAAN
1. Tuliskan 5 macam standar primer untuk titrasi asam basa!
2. Tuliskan 5 macam indikator untuk titrasi asam basa!
3. Tuliskan 5 macam penerapan dari titrasi asam basa!
4. Suatu standar primer, kalium hidrogen ftalat (KHP) seberat 0,8426 gram
dititrasi dengan 42,14 ml NaOH. Hitung normalitas larutan!
Jawab:
1. 5 macam standar primer, yaitu:
- kalium hidrogen ftalat (KHP)
- Na
2
CO
3

- HCl
- NaOH
- SO
4
2-

2. 5 macam indikator untuk titrasi asam basa, yaitu:
- Indikator pp
- Indikator metil merah
- Indikator metil orange
- Indikator bromthymol biru
- Kertas lakmus
3. 5 macam penerapan dari titrasi asam basa, yaitu:
- Penentuan zat zat organik, anorganik, dan biologis
- Penentuan unsur
- Analisis bahan anorganik
- Analisis bahan organik
- Penentuan garam
4. Penyelesaian:
g KHP / BE KHP = V. NaOH x N. NaOH
0,8426 gr / 204,2 gr/ek = 0,0412 l x N. NaOH
0,004 ek = 0,0412 l x N. NaOH
N. NaOH = 0,097 ek/l
LAPORAN TETAP PRAKTIKUM KIMIA
KIMIA ANALISIS DASAR
TITRASI ASAM BASA (MONOPROTIK)


Oleh :
1. Agung Pratomo Nugraha (061130400290)
2. Faradila Ayu Ningtyas (061130400294)
3. Handoko Pratama Putra (061130400297)
4. Indah Dwi Astuti (061130400298)
5. Mariani Sihombing (061130400302)
6. Pebri Suendra Wanri (061130400305)
7. Reta Triprima Nindianti (061130400308)
8. Tria Anggraini (061130400311)

Kelompok / Kelas : 2 (Dua) / 1 KA
Instruktur : Ir. Fatria, M.T

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2011
LAPORAN TETAP PRAKTIKUM KIMIA
KIMIA ANALISIS DASAR
TITRASI ASAM BASA (MONOPROTIK)


Oleh :
1. Agung Pratomo Nugraha (061130400290)
2. Faradila Ayu Ningtyas (061130400294)
3. Handoko Pratama Putra (061130400297)
4. Indah Dwi Astuti (061130400298)
5. Mariani Sihombing (061130400302)
6. Pebri Suendra Wanri (061130400305)
7. Reta Triprima Nindianti (061130400308)
8. Tria Anggraini (061130400311)

Kelompok / Kelas : 2 (Dua) / 1 KA
Instruktur : Ir. Fatria, M.T.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2011
GAMBAR ALAT


Desikator Erlenmeyer Botol aquadest Kaca arloji

Labu ukur Pipet tetes Pipet ukur

Spatula Pengaduk Corong kaca


Gelas kimia Bola karet Buret