Anda di halaman 1dari 12

Materi Akidah Akhlak MTs kelas 7

1. Penjelasan Materi Akidah Akhlak Kelas VII MTs



a. Semester I Kelas VII
Bab I : Akidah Islam
A. PENGERTIAN AKIDAH ISLAM
1. Pengertian Akidah Islam Menurut Bahasa
Akidah adalah kata sifat dalam bahasa Arab yang berarti dari kata aqada Menurut bahasa, kata
tersebut mempunyai arti ikatan.
2. Pengertian Akidah Islam Menurut Istilah
Akidah menurut istilah adalah beberapa urusan yang harus dibenarkan oleh hati yang
mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan, dan tidak tercampur sedikitpun dengan
keraguan.
B. DASAR-DASAR HUKUM AKIDAH ISLAM
1. Al-Quran
Al-Quran adalah firman Allah swt. Yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Dengan
perantara malaikat Jibril. Di dalam kitab suci Al-Quran diterangkan akidah islam yang sesuai
kehendak Allah swt. Akidah islam termuat didalam kedua kalimah syahadat yang artinya sebagai
berikut.
Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.
2. Hadist
Hadist ialah segala ucapan, perbuatan dan takrir (sikap diam) nabi Muhammad saw. Hadist dijadikan
sebagai dasar hukum kedua dengan beberapa alasan, antara lain sebagai berikut.
a. Segala yang diucapkan rasulullah saw berdasarkan petunjuk wahyu dari Allah swt sebagai berikut
firman-Nya dalam Q.S. al-Haqqah/69:44-46
b. Allah SWT telah member petunjuk kepada manusia agar menguti kebenaran yang disampaikan
Rasulullah SAW sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al-Hasyr/59:7
c. Banyak hadist yang menjelaskan maksud beberapa Al-Quran yang masih bersifat global, termasuk
masalah akida Islam. Contohnya Allah SWT berfiman dalam Q.S. an-Nisa/4:36



C. Tujuan Mempelajari Akidah Islam
1. Untuk mengetahui petunjuk hidup yang benar dan dapat membedakan mana yang benar dan
yang salah sehingga hidupnya diridhoi AllahSWT. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-
Baqarah/2:185.
2. Untuk menghindarkan diri dari pengaruh kehidupan yang sesat atau jauh dari petunjuk hidup yang
benar. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Anam/6:153.
D. Manfaat Mempelajari Akidah Islam
1. Dapat memperoleh petunjuk hidup yang benar, yang sesuai kehendak Allah SWT yang telah
mencipta alam semesta, termasuk diri kita sendiri.
2. Selamat dari pengaruh kepercayaan lain yang hanya akan membawa kerusakan dan hidup yang
jauh dari kebenaran.
3. Memperileh ketentraman dan kebahagiaan hidup yang hakiki karena mempunyai hubungan batin
yang dekat dengan Allah SWT.
E. Hubungan Iman, Islam, dan Ihsan
1. Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan
a. Iman
Pengertian iman terungkap dalam percakapan antara rasulullah SAW dan malaikat Jibril sebagai
berikut.
Jibril bertanya, Apakah iman itu? Beliau menjawab, Engkau beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat, kitab, nabi-nabi, kematian dan hisup sesudah mati, surge dan neraka, hisab dan mizan,
serta takdir yangbaik maupun yang buruk. (H.R.Ahmad nomor 16851dari Abi Malik)
Menurut hadist diatas, iman meliputi enam perkara, yaitu
1) Iman kepada Allah SWT
2) Iman kepada hari akhir (termasuk kematian dan hidup sesudah mati, surga dan neraka, hisab dan
mizan)
3) Iman kepada malaikat
4) Iman kepada kitab-kitab Allah
5) Iman kepada rasu-rasul Allah
6) Iman kepada takdir
b. Islam
Pengertin islam terungkap dalam hadist berikut ini
Islam dibangun (ditegakkan) di atas lima pekara, yaitu persaksian bahwa tiada Ilah selain Allah dan
Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, melaksanakan haji, dan puasa
Ramadan. (H.R. al-Bukhari nomor 8dan dari ibnu Umar)

c. Ihsan
Ihsan ada dua macam, yakni Ihsan kepada Allah dan Ihsan kepada sesame manusia. Pengertia Ihsan
kepada Allah terungkap dalam hadist berikut.
Apakah Ihsan? Ihsan adalah bahwasannya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-
Nya (di depanmu) . Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.
(H.R. al-Bukhari nomor 48 dari Abu Hurairah)
2. Hubungan Islam, Iman, Ihsan
Untuk mengetahui hubungan iman, islam, dan ihsan, kita perlu memerhatikan sunnah (praktik)
Rasulullah SAW sebagai pengemban amanah dari Allah SWT. Dalam praktiknya, Rasulullah SAW
menyatukan ketiga hal tersebut. Iman sebagai landasan keyakinannya, sedangkan islam dan ihsan
sebagai bukti nyata adanya keimanan tersebut. Islam dan ihsan berupa perbuatan nyata dalam
kehidupan sehari-hari.
Pengakuan iman seseorang tidak ada artinya sama sekali apabila tidak dibuktikan dengan amal nyata
dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, islam dan ihsan (perbuatan nyata) dalam kehidupan sehari-
hari tidak diterima Allah apabila tidak dilandasi dengan iman yang benar. Dengan demikian, jelaslah
kiranya bahwa iman, islam, dan ihsan merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
F. Perilaku yang Sesuai dengan Nilai-NIlai Akidah Islam
1. Beribadah kepada Allah SWT dengan hati yang ikhlas, tanpa perasaan terpaksa dan terbebani. Dan
Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memurnikan niat dalam beribadah hanya kepada
AllahSWT.
2. Berusaha menghindarkan diri dari segala bentuk kemusyrikan, baik dalam beribadah maupun
perbuatan lain dalam kehidupan sehari-hari, senagaimana pernyataan pada setiap melakukan shalat
yang berbunyi sebagai berikut.
Bab II : Sifat-sifat Allah SWT
A. Sifat - Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz Allah SWT
Sifat-sifat Allah berarti keadaan yang berhubungan dengan zat Allah, sesuai dengan keagungan-Nya.
Zat dan sifat Allah tidak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia. Sifat Allah dibagi menjadi tiga
macam, yaitu sifat wajib, mustahil dan jaiz.

1. Sifat wajib Allah SWT
Yang dimaksuk sifat wajib Allah SWT ialah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah SWT yang sesuai
dengan keagungan-Nya sebagai pencipta alam seisinya. Dalam ilmu aqaid, disebutkan bahwa sifat
wajib Allah SWT ada 13, antara lain sebagai berikut.
a. Allah SWT bersifat Ada (wujud)
Adanya Allah SWT dapat dibuktikan dengan adanya alam ini. Semua barang yang ada di lingkungan
kita pasti ada yang menbuat. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali Imran/3:2
b. Allah SWT bersifat Terdahulu (Qidam)
Allah SWt adalah pencipta alam semesta. Dia lebih dahulu ada sebelum ala mini ada. Sebagaimana
Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Hadid/57:3
c. Allah SWT berdifat Kekal (Baqa)
Semua mahkluk ciptaan Allah SWT akan rusak, sedangkan Dia sebagai pencipta tidak akan rusak.
Allah SWT akan kekal selamanya dan Dia tidaka akan pernah mati, sebagaimana firman Allah SWT
dalam Q.S. ar-Rahman/55:26-27
d. Allah SWY berdifat Berbeda dengan Ciptaan-Nya (Mukhalafatu lil Hawadisi)
Allah SWY memiliki sifat yang sempurna dan istimewa. Sifat Allah SWT berbeda dengan sifat
makhluk-Nya. Jika ada kesamaan, hanya sama namanya, sedangkan kesempunaan-Nya tidak sama.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. asy-Syura/42:11
e. Allah SWT berdifat berdiri dengan sendirinya (Qiyamuhu Binafsihi)
Allah SWT sebagai pencipta alam adalah Mahakuasa. Dia tidak memerlukan bantuan dari kekuatan
lain karena mempunyai kekuatan yang ada pada diri-Nya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam
Q.S. Ali Imran/3:2
f. Allah SWT bersifat Maha Esa (Wahdaniyyah)
Manusia dituntut untuk meyakini bahwa wujud Allah Naha Esa, artinya Dia tidak terbilang dua, tiga,
dan seterusnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Ikhlas/112:1-4
g. Allah SWT bersifat Maha Kuasa (Qudrah)
Dia kuasa menciptakan alam, mampu memelihara, dan sanggup menghancurkannya tanpa bantuan
kekuasaan lain. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2:20
h. Alah SWT bersifat Berkehendak (Iradah)
Jika Allah berkehendak, tidak satu pun yang dapat menolak. Sebagaimana Allah berfirman dalam
Q.S. Yasin/36:82
i. Allah SWT bersifat Maha Mengetahui (Alim)
Allah SWT adalah pencipta alam ini dan Dia mengetahui semua cptaan-Nya. Allah berfirman sebagai
berikut.
.dan Allah Maha Mengetahui segala sesuati. (Q.S. al-Hujarat/ 49:16)
j. Allah SWT bersifat Hidup (Hayat)
Seluruh kehidupan makhluk tunduk kepada Allah SWT. Dia yang mengatur semua kehidupan
makhluk hidup. Allah tidak akan mati dan kekal selamanya. Firman Allah dalam Q.S.Ali Imran/3:2
k. Allah SWT bersifat Maha Mendengar (Sama)
Tidak ada sesuatu yang tidak didengar oleh Allah SWT. Walaupun jumlah suara manusia ratusan juta,
semua akan didengar oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Hujarat/49:1
l. Allah SWT bersifat Maha Melihat (Basar)
Allah yang mengatur, yang menjalankan , dan mengawasi benda-benda, seperti matahari, bulan,
bintang, dan planet-planet lainnya. Semua itu bagi Allah tidak ada yang lepas dari penglihatan-Nya.
Allah SWT berfirman sebagai berikut.
..Akkah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Baqarah/2:265)
m. Allah SWT bersifat Berfirman (Kalam)
Kalam berarti Allah berbicara melalui firman-Nya yang berupa wahyu. Allah berfirman sebagai
berikut.
..Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung. (Q.S. an- Nisa/4:164)
Adapun sebagian ulama yang menambahkan dengan tujuh sifat wajib Allah sehingga menjadi dua
puluh. Tujuh sifat wajib yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Qadiran
Berarti Allah maha kuasa
b. Muridan
Berarti Allah maha berkehendak
c. Aliman
Berarti Allah maha menegtahui
d. Hayyan
Berarti Allah maha hidup
e. Samian
Berarti Allah maha mendengar
f. Basiran
Berarti Allah maha melihat
g. Mutakalliman
Berarti Allah maha berbicara
2. Sifat Mustahil Allah SWT
Sifat mustahil Allah berarti sifat yang secara akal tidak mungkin dimiliki Allah. Dalam ilmu Tauhid ,
dinyatakan bahwa sifat mustahil Allah ada 13, yaitu
a. adam, artinya tidak ada
b. Hudus, artinya tidak ada
c. Fana, rudak
d. Mumasalatu lil-hawadisi, artinya menyerupai makhluk
e. Qiyamuhu bigairihi, artinya membutuhkan sesuatu selain diri-Nya f. Taaddud, artinya lebih dari
Satu
g. ajzun, artinya lemh
h. Karahah, rtinya terpaksa
i. Jahlun, artinya bodoh
j. Mautun, artinya mati
k. Summun, artinya tuli
l. umyun, artinya buta m. Bukyun, artinya bisu
3. Sifat Jaiz Allah SWT
Sifat jaiz Allah berarti sifat kebebasan Allah, yakni bebas yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan semesta
alam. Sifat jaiz Allah ialah kebebasan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai
dengan kehendak-Nya yang mutlak. Berikut ini kebebasan-kebebasan mutlak yang diiliki Allah.
a. Kebebasan untuk Menciptakan atau tidak Menciptakan Sesuatu
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Qasas/28:68
Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang hendak diciptakan Allah tergantung pada kehendak-Nya
semata.
Manusia hanya diberi hak untuk memohon kepada-Nya. Jika Allah mengabulkan, jadilah apa yang
dikehendaki manusia. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki, apapun yang diinginkan manusia
tidak akan terjadi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. an-Nur/24:45
b. Kebebasan untuk Mengatur Semua Makhluk Sesuai yang Dia Kehendaki
Kebebasan Allah dalam mengatur semua makhlik telah ditegaskan dalam firman-Nya yang sekaligus
merupakan doa tuntunan bagi kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran/ 3:26
Semua perjalanan hidup yang dialami manusia ada pada kekuasaan Allah SWT. Naiknya seseorang ke
derajat yang tinggi atas turunnya dari derajat rendah tidak terlepas darikuasa dan kehendak-Nya.
B. Klasifikasi Sifat-Sifat Allah SWT
1. Sifat Nafsiyah
Sifat nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan zat Allah semata,. Yang tergolong sifat nafsiyah
adalah difat wujud. Wujud adalah zat Allah yang mutlak atas diri-Nya, bukan merupakan tambahan
dari zat-Nya. Allah SWT sebagai penyebab pertama adanya sesuatu dengan sendiri-Nya. Seandainya
wujud Allah disebabkan atau dicptakan oleh sesuatu selain Dia, berarti Allah tidak sempurna sifat-
Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. as-Sajadah/32:4-5
Dari kedua ayat tersebut, dapat diambil pokok-pokok pengertian sebagai berikut.
a. Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, yakni
1) Masa pertama, semua alam masih berupa asap atau kabut raksasa, lalu kabut raksasa pecah dan
sakah satunya menjadi bumi;
2) Masa kedua, asap atau kabut berubah menjadi air;
3) Masa ketiga, mulai timbul kekeringan yang akhirnya menjadi perbukitan;
4) Masa keempat, mulai ada kehidupan di air dan di bumi;
5) Masa kelima dan kekenam, seperti yang kita saksikan sekarang ini.
b. Tidak ada penolong dan pemberi syafaat selain Allah SWT. Ini berarti kekuasaan tunggal ada pada
Allah.
c. Semua urusan ada di tangan Allah dan tidak ada pihak lain yang ikut campur tangan dengan-Nya.
2. Sifat Salbiyah
Salbiyah berarti negative atau buruk. Sifat salbiyah berarti sifat yang tidak sesuai atau tidak layak
untuk zat Allah. Sifat salbiyah ada lima macam yang berlawanan dengan sifat qidam, baqa,
mukhalafatu lil hawadisi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyyah.
Kelima sifat itu adalah sebagai berikut.
a. Hudus
Hudus berarti permilaan. Sifat qidam menolak adanya sifat hudus. Berdasarkan teori ad-Daur, alam
ini adalah ciptaan Allah, adanya Allah juga karena adanya alam. Pendapat demikian adalah mustahil
karena Allah disamakan dengan makhluk ciptaan-Nya.
Allah SWT berfirman.
Dialah Yang Awal, dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu. (Q.S. al-Hadid/57:3)
Allah tidak berawal dan tidak berakhir. Jika Allah berawal, sebelum Allah berarti ada kekosongan. Hal
ini sangat bertentangan dengan akal. Oleh karena itu, sifat qidam menolak sifat qudum.
b. Fana
Jika Allah SWT bersifat fana, berarti Allah mengalami kerusakan dan kepunahan. Dia tidak akan
mengalami kerusakan dan kepunahan sebagaimana makhluki-Nya.
.segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah .(Q.S. al-Qasa/28:88)

c. Mumasalatu lil Hawadisi
Jika Allah bersifat Mumasalatu lil Hawadisi yang artinya Allah serupa dengan makhluk-Nya. Allah
tidak akan pernah memerlukan apa yang diperlukan makhlk-Nya. Allah berfirman
tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.
(Q.S. asy-Syura/42:11)
d. Ihtiyajun ila Ghairihi atau qiyamuhu Ligairihi
Jika Allah bersifat ini berarti Allah memerlukan bantuan pihak lain. Allah tidak memerlukan bantuan
pihak lain dalam menciptakan alam seisinya. Allah berfirman sebagai berikut.
.Sunnguh Allah Maha Kaya.. (Q.S. al-Ankabut/29:6)
e. Taaddud
Taadud berarti bebilang dua, tiga, atau lebih. Seandainya Allah lebih dari satu, pasti timbul
perebutan kekuasaan dan aturan-aturan yang berbeda. Tuhan yang satu akan menyaingi Tuhan yang
lain sehingga akan mengakibatkan kehancuran. Allah berfirman dalam surat al- Ikhlas/112:1
3. Sifat Maani
Sifat maani adalah sifat wajib Allah yang dapat digambarkan olah akal pikiran manusia dan dapat
meyakinkan orang lain karena kebenarannya dapat dibuktikan dengan panca indra. Sifat wajib
Allahyang tergolong dalam sifat maani ialah qudrah, iradah, ilmu, hayat, sama, basar, dan kalam.
a. Qudrah
Allah bersifat qudrah berarti Mahakuasa. Mustahil Allah bersifat ajzun yang berarti lemah atau tidak
berdaya.
Alla SWT berfirman.
Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha bijaksana, Maha Mengetahui.
(Q.S. al-Anam/6:18)
b. Iradah
Allah SWT bersifat iradah yang berarti berkehendak, mustahil bersifat karahah yang berarti dipaksa.
Allah adalah zat yang mengatur segala-galanya karena Dialah yang berkuasa dan memiliki alam ini.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S.an-Nahl/16:40
c. Ilmu
Ilmu berarti mengetahui segala sesuatu. Lawan katanya adalah jalun yang berarti bodoh. Allah
mengetahui segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Sebagaimana Allah
berfirman dalam Q.S. al-Hujarat/49:18
d. Hayat
Hayat berarti hidup, sedangkan kebalikannya adalah mautun yang berarti mati. Allah adalah zat yang
hidup dan muastahil mati. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Furqan/25:58
e.Sama
Sama berarti mendengar, sedangkan kebalikannya adalah summon yang berarti tuli. Allah Maha
Mendengar segala macam bunyi dan suara makhluk, baik yang keras maupun yang pelan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2:127

f. Basar
Basar berarti melihat sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Penglihatan Allah
tidak dibatasi oleh alat dan waktu. Kebalikannya adalah umyun yang berarti buta. Sebagaimana
Allah berfirman dalam surat al-Hujarat/49:18.
g. Kalam
Kalm berarti berbicara, sedangkan kebalikannya adalah bukmun yang berarti bisu. Karena Allah
berbicara, Dia dapat berfirman, member janji, dan peringatan yang ditunjukkankepada makhluk-Nya.
Firman-firman-Nya tersusun dengan rapi di dalam kitab suci yang diturunkan lepda rasul-rasul-Nya.
Hal itu menunjukkan bahwa Allah tidak mungkin brsifat bisu. Allah berfirman dalam surat an-
NIsa/4:164
4. Sifat Manawiyah
Sifat manawiyah adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan sifat maani atau merupakan
kelanjutan sifat-sifat maani. Dengan kata lain, adanya tujuh sifat maani berarti ada tujuh sifat
manawiyah. Ketujuh sifat manawiyah dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Qadiran (Mahakuasa)
Allah SWT bersifat qadiran yang berarti Dia Mahakuasa.
Allah berfirman dalam surat al- Anam/6:37.
b. Muridan (Maha Berkehendak)
Allah bersifat muridan yang berarti Dia Maha Berkehendak. Allah berfirman dalam surat an-
NIsa/4:26.
c. Aliman (Maha Mengetahui)
Allah bersifat aliman yang berarti Dia Maha Mengetahui.
Allah berfirman dalam suratal-Hujarat/49:16.
d. Hayyan (Maha Hidup)
Allah bersifat hayyan yang berarti Dia maha hidup.
Allah berfirman dalam surat Ali Imran/3:2.
e. Samian (Maha Mendengar)
Allah bersifat samian yang berarti Dia Maha Mendengar. Allah berfirman dalam surat an
NIsa/4:134.
f. Basiran (Maha Melihat)
Allah bersifat basiran yang berarti Dia Maha Melihat.
Allah berfirman dalam surat al-Isra/17:17.
g. Mutakalliman (Maha Berbicara)
Allah bersifat mutakalliman yang berarti Dia Maha Berbicara. Allah berfirman dalam surat at
Taubah/9:6.
C. Perilaku Orang Yang Beriman kepada Sifat-Sifat Alla SWT
1. Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya denganselain Dia ksrena Dia berbeda dengan
semua makhluk ciptaan-Nya.
2. Tidak berprasangka buruk krpada Allah walaupun hanya dalam hati karena Dia Maha Mendengar
terhadap segala sesuatu meskipun tidak bersuara.i dari segala yang buruk. Dan berusaha tidak
sombong.
Bab III : Akhlak Terpuji Kepada Allah SWT
A. Ikhlas
1. Pengertian Ikhlas
Kata ikhlas kata ikhlas berasal dari bahasa arab akhlasa, yukhlisu, ikhlasan yang artinya memurnikan
niat hanya semata-mata mencari rida Allah. Atau semata-mata menaati perintah-Nya. Sebagaimana
terungkap dalam surat al-Anam/6:162.
2. Perintah untuk Beramal secara Ikhlas
Orang yang beramal baik, tetapi tidak ikhlas, ia akan rugi sendiri. Allah tidak akan menerima amal
tersebut, dalam hadis Qudsi Allah berfirman.
Aku adalah sebaik-baik sekutu (teman). Barang siapa memperskutukan Aku bersama yang lain, dia
(diserahkan) kepada sekutu itu. Wahai sekalian manusia, ikhlaskan amalmu karena Allah tidak akan
menerima akal seseorang, kecuali amal yang diikhlaskan kepada-Nya. (H.R. al- Bazzar)
3. Bentuk-Bentuk (contoh) Perilaku Ikhlas
a. Tidak pernah mengeluh dan tak mengharapkan penghargaan setiap ia menjalankan tugas
b. Melaksanakan sesuatu karena semata-mata melaksanakan perintah Allah dalam kandungan Surah
al-Maun.
4. Dampak Positif Beramal secara Ikhlas
a. Memperoleh kepuasan batin karena merasa bahwa kebaikan yang dilakukan sesuai kehendak
Allah yang menyuruhnya.
b. Merasa senang karena adanya harapan rida dari sisi-Nya.
c. Dapat menjaga kerutinan dalam berbuat baik, walaupun amal baiknya tidak dilihat orang lain.
5. Membiasakan Diri Beramal secara Ikhlas
a. Melatih diri agar tidak merasa bangga jika perbuatan baiknya dipuji orang.
b. Tidak kecewa apabila perbuatan baiknya diremehkan orang lain.
c. Melatih diri untuk beramal baik saat tidak dilihat orang lain, misalnya sedekah secara sembunyi
sembunyi.
d. Tidak suka memuji perbuatan baik yang dilakukan seseoranga karena hal itu dapat mendorong
pelakunya menjadi ria.
B. Taat
1. Pengertian Taat
Kata taat berasal dari bahasa Arab yang berarti tunduk, patuh, dan setia kepada si fulan atau Allah
dan rasul-Nya, baik dalam bentuk pelaksanaan perintah Maupin meninggalkan larangan-Nya.
2. Perintah untuk Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Taat termasuk perkara yang diwajibkan dalam islam. Dengan demikian, seorang mukmin adalah
orang yang setia dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman dalam surat an-Nisa/4:59.
3. Bentuk-Bentuk (Contoh) Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
a. Taat kepada syariat Islam dalam pembagian warisan
b. Meskipun saling mencintai, Karena Islam muslimah melarang menikah dengan lelaki nonmuslim,
akhirnya Nur Hasanah menolak lamaran tersebut dengan sopan.


4. Dampal Positif Ketaatan kepada Allah dan Rasul-NYa
a. Memperoleh kepuasan batin karena telah mampu melaksanakan salah satu kewajibannya
lepadaAllah dan Rasul-Nya.
b. Memperoleh ida Allah karena telah mampu menaati perintah-Nya, dan
c. Memperoleh kemenangan (keuntungan) yang besar sesuai firman Allah dalam surat an
Nisa/4:13.
5. Membiasakan Diri Taat lepada Allah dan Rasul-Nya
a. Segera mempersiapkan diri untuk salat apabila sudah tiba waktunya.
b. Melatih diri untuk disiplin dalam berbagai hal, termasuk belajar dan mengrjakan tudas sekolah.
c. Selalu disiplin dalam mengikuti tata tertib sekolah, baik dilihat guru maupun tidak.
C. Khauf
1. Pengertian Khauf
Kata khauf berasal dari bahasa arab khafa, yakhafu, khaufan yang artinya takut. Islam mendidik
umatnya agar memiliki sifat khauf, yakni takut akan murka Allah apabila terkena ancaman atau siksa-
Nya.
2. Perintah untuk Memiliki Khauf
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Araf/7:56
Yang dimaksud rasa takut dan penuh harap pada ayat di atas ialah sebagai berikut.
a. Takut akan dilepaskan oleh Allah hidup sendirian sehingga tersesat dari jalan yang benar, yakni
tuntunan Islam.
b. Takut akan mendapat siksa karena melanggar aturan-arturan-Nya.
c. Sangat mngharapkan rida Allah sehingga hidupnya senantiasa memperoleh bimbingan dari wahyu
Nya.
3. Contoh khauf
Senantiasa meningkatkan kualitas beribadah, baik yang berhubunagn secara langsung kepada Allah
maupun yang berhubungan dengan sesama manusia.
4. Dampak Positif Khauf
a. Dapat menjaga kerutinan perbuatan baiknya karena belum yakin bahwa kebaikan yang telah lalu
diterima dan diridai Allah.
b. Dapat meningkatkan kualitas perbuatan baiknya karena mengharapkan rida Allah.
5. Membiasakan Diri Bersifat Khauf
a. Mengingat-ingat dosanya si masa lalu sebab belum tentu dimaafkan Allah.
b. Melupaka kebaikan di masa lalu karena belum tentu Allah berkenan menerimnya.
c. Mengukur dirinya dengan orang orang yang saleh agar bersemangat untuk mengikuti amal baik
seperti mereka.
D. Tobat
1. Pengertia Tobat
Kata tobat berasal dari kata taba, yatubu, taubatan yang berarti kembali, menyesali perbuatan dosa
yang telah dilakukan.
Orang yang bertobat berarti berhenti dari perbuatan dosa yang telah dilakukan, kemudian kembali
kejalan yang benar.
2. Hukum Bertobat
Bertobat termasuk pekara yang diwajibkan dalam agama. Firman Allah dalam surat an-Nur/24:31.
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda sebagai berikut.
Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia dan Mhaagungmembentangkan tangan-Nya diwaktu malam
untuk menerima tobat hamba yang berbuat dosa pada siang harinya, dan membentangkan tangan-
Nya diwaktu siang untuk menerima tobat hamba yang berbuat dosa pada malam hrinya sehingga
matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari akhir) . (H.R . Muslim)
Tobat nasuha harus memenuhi tiga perkara yakni :
a. Harus segera menghentikan perbuatan disa yang dilakukan.
b. Harus menyesali sedalam-dalamnya atas perbuatan dosa tersebut.
c. Harus bertekad yang sungguh-sungguh tak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut.
3. Contoh Perilaku Tobat Kepada Allah
a. Memperbanyak membaca istigfar dan menemui orang yang pernah dijahtinya untuk minta maaf.
b. Menyesali perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan serta berjamji tidak akan mengulangi lagi
perbuatannya.
4. Dampak Positif Perilaku Bertobat
a. Bagi Pelakunya Sendiri
1) Memperoleh semangat dan gairah hidup baru karena Allah berkenan menerima tobatnya
2) Dapat memperoleh kembali jalan yang benar
3) Memperoleh simpati msyarakat lagi, seperti dahulu sebelum bertobat.

b. Bagi Orang lain Termasuk keluarga
1) Lambat laun dapat mengembalikan nama baik keluarga.
2) Hilangnya kecemasan keluarga dan masyarakat.
5. Perilaku Membiasakan Diri Bertobat
a. Tidak memandang remeh terhadap perbuatan dosa sekecil apapun,
b. Berusaha menutup perbuatan dosanya dengan perbuatan baik sesuai kemampuan yang dimiliki
c. merasa tidak senang apabila melihat oramg lain berbuat dosa

Menurut hasil telaah kami tentang materi penjelasan pada semester I kelas VII MTs, penjelasannya
sudah baik, akan tetapi terdapat kekurangan dalam penyusunannya.

b. Semester II Kelas VII
Bab IV : Asmaul Husna
A. Pengertian Asmaul Husna
1. Arti secara bahasa dan istilah
Kata asmaul husna berasal dari bahasa arab al asma yang berarti nama, beberapa nama dan al
husna yang berarti baik, indah. Menurut istilah, asmaul husna berarti nama-nama yang indah bagi
Allah.
2. Sejarah diturunkannya Ayat tentang Asmaul Husna
Di dalam kitab asbabunnuzul diterangkan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw melakukan shalat di
mekkah dan berdoa dengan kata-kata, Ya Rahman, Ya Rahim. Doa tersebut terdengar oleh
sebagian kaum musyrikin. Kala itu berkatalah mereka, perhatikan orang yang murtad dari
agamanya! Ia melarang kita menyeru dua Tuhan, dan dia sendiri menyeru dua Tuhan. Dengan
adanya ucapan mereka itu, turunlah Ayat sbb:
Yang artinya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia
mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)..(Q.S. al-isra/17:110)
B. Memahami Sepuluh Asmaul Husna
Asmaul Husna Allah swt. Amat banyak, namun menurut keterangan yang masyhur ada 99 macam.
Sepuluh diantaranya adalah Al- Azi, Al-Gaffar, Al-Basit, An-Nafi, Ar-Rauf, Al-Barr, Al-Hakim, Al-
Fattah, Al-Adl, dan Al-Qayyum.
1.

(Yang Maha Perkasa)


Allah maha perkasa atas segala mahluk-Nya. Segala yang dikehendaki Allah swt pasti terlaksana, tak
satupun mahluk yang dapat menghalangi-Nya.
2. )

Yang Maha Pengampun)


Allah adalah zat yang maha pengampun, ampunan Allah diberikan kepada siapapun yang bersalah,
selama orang tersebut mau bertobat, memohon ampun atas dosa-dosanya.
3.

(Yang Melapangkan Rezeki)


Allah swt. senantiasa membentangkan rahmat-Nya (kasih sayang-Nya) untuk menerima taubat
hamba yang terlanjur berbuat dosa. Dia membentangkan rezeki (memperbanyak rezeki) yang
dibutuhkan hamba-Nya, dan Dia pula mempersempit rezeki kepada hamba yang dikehendaki.
4.

(Yang Memberi Manfaat)


Allah swt. mencipta segala sesuatu yang dikehendaki dan memberi manfaat atas sesuatu buat siapa
yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dialah yang mampu memberi manfaat dan Dialah yang
mampu memberi madarat ( kerugian ) atas sesuatu.
5. ( Yang Maha Pengasih)
Allah swt. adalah zat Yang Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya.
6.

(Yang Melimpahkan Kebaikan)


Allah Maha Pengasih dan Allah juga yang Maha Melimpahkan kebaikan.
7.

(Yang Maha Bijaksana)


Allah zat yang Maha Bijaksana, kebijaksanaan Allah mencakup segala hal.
8.

(Yang Maha Memberi Keputusan)


Pada hari akhir kelak, Allah swt akan memutuskan perkara hamba-Nya, kemudian memasukkan
hamba-Nya ke jannah atau nar.
9.

(Yang Maha Adil)


Dalam hidup didunia ini, Allah memberlakukan hamba-Nya secara adil. Ia memberikan rezeki
terhadap semua manusia, baik yang taat maupun yang durhaka kepada-Nya. Diakhirat kelak Allah
juga berlaku adil. Hamba yang taat selama hidupnya di dunia akan diberi balasan nikmat di jannah,
sedangkan hamba yang durhaka diberi balasan siksa di nar.
10.

(Yang Terus-menerus Mengurus)


Sesuai dengan kebesaran dan kekuasaan-Nya, Allah tidak memerlukan bantuan dari siapapun dalam
mencipta, mengatur, dan memelihara alam semesta.

C. Bukti Tanda-Tanda Kebesaran Allah Melalui Pemahaman terhadap Sepuluh Asmaul Husna
a. Al-Aziz : Apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, tak satupun mahluk yang dapat
menghalangi kehendak-Nya.
b. Al-Gaffar : Allah senantiasa membuka kesempatan bertobat bagi hamba-Nya yang berbuat salah
sampai datangnya yaumus-saah.
c. Al-Basit : Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada hamba yang di kehendaki-Nya.
d. An-Nafi : Hanya Allah yang dapat memberi manfaat atau madarat terhadap sesuatu buat hamba
Nya.
e. Ar-Rauf : Allah tidak menyia-nyiakan iman hamba-Nya, terbukti Dia memberi bimbingan hidup
berupa petunjuk agama.
f. Al-Barr : Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba yang beriman, baik di dunia maupun
diakhirat dengan kenikmatan di jannah.
g. Al-Hakim : Allah bijaksana dalam mencipta dan mengatur alam semesta serta memberi balasan
manusia di akhirat sesuai amalnya selama hidup di dunia.
h. Al-Fattah : Allah yang menentukan keberhasilan usaha manusia sesuai kehendak-Nya.
i. Al-Adl : Allah adil dalam memberi rezeki terhadap hamba-Nya. Manusia yang memiliki
kemampuan berusaha secara baik dan menggunakan teori yang baik dapat memperoleh hasil yang
baik pula.
j. Al-Qayyum : Allah swt mencipta dan mengatur alam semesta dengan sendiri-Nya, tanpa bantuan
pihak lain.
D. Perilaku Orang yang Mengamalkan Asmaul Husna
a. Tunduk dan rela menerima ketentuan Allah yang berlaku atas dirinya.
b. Tidak putus asa atas perbuatan dosa yang terlanjur dilakukan dan memohon ampunan-Nya.
c. Bersikap qanaah, tidak mengangan-angan nikmat yang diterima orang lain.

Bab V : Iman Kepada Malaikat Allah SWT. Dan Makhluk Gaib selain Malaikat
A. Malaikat-Malaikat Allah swt.
1. Pengertian Iman Kepada Malaikat Allah swt.
Malaikat adalah mahluk yang diciptakan Allah swt. dari cahaya. Dia selalu menaati perintah Allah
swt. dan tidak mendurhakai-Nya. Adapun inti beriman kepada malaikat ialah meyakini
keberadaannya sebagai mahluk ciptaaan Allah swt. Serta meyakini jenis-jenis tugas yang
diamanahkan kepadanya. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan perbuatan sehari-hari.
2. Sifat-Sifat Malaikat Allah swt.
Al-Quran menjelaskan bahwa malaikat adalah hamba Allah swt. yang mulia karena Allah
memuliakannya, tidak pernah durhaka, tidak pernah maksiat, dan tidak pernah menentang perintah
Allah swt.
3. Nama-Nama Malaikat dan Tugasnya
a. Jibril : menyampaikan wahyu Allah swt. kepada para rasul-Nya.
b. Mikail : bertugas untuk menurunkan hujan dan membagi rezeki.
c. Israfil : bertugas meniup sangkakala.
d. Izrail : bertugas mencabut nyawa.
e. Munkar dan Nakir : bertugas menanyai manusia di alam kubur.
f. Raqib dan Atid : bertugas mencatat amal perbuatan manusia selama hidup di dunia.
g. Malik : bertugas menjaga neraka.
h. Ridwan : bertugas menjaga surga.
B. Mahluk Gaib Selain Malaikat
Mahluk gaib yang diciptakan Allah bermacam-macam, antara lain: jin, iblis atau setan.
1. Jin
Jin adalah Mahluk Allah mahluk gaib yang diciptakan dari nyala api. Sebagian taat kepada Allah swt.
(seperti yang menjadi tentara Nabi Sulaiman a.s.) dan sebagian lagi kafir serta durhaka kepada Allah
swt.
2. Iblis atau Setan
Iblis adalah Mahluk gaib yang dicipta Allah dari api. Sifat dasar iblis adalah sombong dan durhaka
kepada Allah swt. Setan adalah mahluk yang sifatnya menggoda manusia agar terjerumus ke lembah
dosa.
3. Perbedaan antara Malaikat, Jin, dan Iblis atau Setan
No. Nama Asal Kejadian Sifatnya
1. Malaikat Cahaya Selalu taat kepada Allah swt. Dan tidak mendurhakai-Nya.
2. Jin Nyala Api Ada yang beriman dan ada pula yang kafir.
3. Iblis atau Setan Api Mendurhakai Allah swt. Dan selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia
ke jalan yang sesat.

C. Perilaku yang Mencerminkan Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah swt. dan Mahluk Gaib Selain
Malaikat.
Iman terdiri dari tiga unsur, yaitu kemantapan hati, ucapan, dan perbuatan. Iman kepada
malaikatpun perlu dibuktikan dengan perbuatan nyata setiap hari, antara lain meneladani sifat taat
malaikat kepada Allah swt.
Adapun sikap meneladani ketaaatan malaikat kepada Allah swt. antara lain:
a. Senantiasa berusaha untuk menaati Allah swt. sebagaimana ketaatan malaikat kepada Allah swt.
b. Bersikap tawaduk kepada Allah swt. dan mengagungkan-Nya.
c. Bersikap hati-hati dalam hidup ini, tidak melanggar hukum Allah swt. sebagaimana malaikat tidak
maksiat kepada-Nya.
Bab VI : Akhlak Tercela kepada Allah SWT
A. Ria
1. Pengertian Ria
Ria berarti beramal baik dengan tujuan memperoleh pujian dari orang lain.
2. Contoh Perbuatan Ria
Seorang siswa mau melaksanakan tugas piketnya secara baik sesudah guru masuk ke kelas, dengan
harapan agar guru menilai bahwa siswa tergolong siswa yang rajin melaksanakan tugas.
3. Larangan Berbuat Ria
Ria termasuk larangan dalam islam. Islam mendidik umatnya agar perbuatan baik yang dilakukan
didasari dengan niat ikhlas, yakni semata-mata mencari ridha Allah atau menaati perintah-Nya.
4. Akibat Buruk Ria
a. Menghapus pahala amal baik
b. Mendapat dosa besar karena ria termasuk perbuatan syirik
c. Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena ria sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir.
5. Perilaku Menghindari Ria
a. Melatih diri untuk beramal secara ikhlas, walaupun sebesar apapun yang dilakukan.
b. Mengendalikan diri agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang
dilakukan.
B. Nifak
1. Pengertian Nifak
Secara bahasa nifak berarti pura-pura pada agamanya. Secara istilah berarti sikap yang tidak
menentu, tidak sesuai antara ucapan dan perbuatannya. Orang yang mempunyai sifak nifak disebut
munafik.
2. Ciri-Ciri Sifat Nifak
Perlu diketahui bahwa orang yang munafik pandai bersilat lidah dan memutar balikkan persoalan
sehingga banyak orang terpedaya karenanya. Kepandaian bersilat lidah sebagai hasil dari sikapnya
yang selalu mendua (bermuka dua). Disamping itu munafik juga suka mengobral janji terhadap orang
lain, tetapi janji-janji-Nya banyak yang di ingkari sendiri.
3. Larangan Bersifat Nifak
Islam melarang umatnya bersifat nifak. Sebaliknya, islam mewajibkan bersifat jujur atau benar. Allah
swt. berfirman yang terjemahnya Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada
Allah dan ucapkanlah petkataan yang benar. (Q.S. al-Ahzab/33: 70).
4. Akibat Buruk Sifat Nifak
a. Bagi Diri Sendiri
1) Tercela dalam pandangan Allah swt. dan sesama manusia sehingga dapat menjatuhkan nama
baiknya sendiri.
2) Hilangnya kepercayaan dari orang lain atas dirinya
3) Tidak disenangi dalam pergaulan hidup sehari-hari.
4) Mempersempit jalan untuk memperoleh rezeki karena orang lain tidak mempercayai lagi.
5) Mendapat siksa yang amat pedih kelak di hari akhir.
b. Bagi Orang Lain
1) Menimbulkan kekecewaan hati sehingga dapat merusak hubungan persahabatan yang terjalin
baik.
2) Membuka peluang munculnya fitnah karena ucapan atau perbuatannya yang tidak menentu.
3) Mencemarkan nama baik keluarga dan masyarakat sekitarnya sehingga merasa malu karenanya.
5. Membiasakan Diri Menghindari Sifat Nifak
a. Nifak merupakan larangan agama yang harus di jauhi dalam kehidupan sehari-hari.
b. Nifak akan merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga dibenci dalam kehidupan masyarakat.
Menurut hasil telaah kami, Pada semester II kelas VII MTs, dalam penjelasan materinya sudah baik,
akan tetapi terdapat kurangnya penjelasan dalam bab IV tentang asmaul husna.