Anda di halaman 1dari 56

1

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Akuntansi berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sejarah perkembangan
pemikiran akuntansi (accounting thought) dibagi dalam tiga periode: tahun 4000 SM 1300
M; tahun 1300 1850 M, dan tahun 1850 M sampai sekarang. Masing-masing periode
memberi kontribusi yang berarti bagi ilmu akuntansi. Perubahan yang cepat dalam
masyarakat kita telah menyebabkan semakin kompleksnya pengelolaan badan usaha atau
perusahaan. Di samping itu adanya peningkatan aktivitas usaha suatu perusahaan baik yang
profit motif maupun yang non profit motif dirasakan sebagai beban yang berat. Oleh karena
itu agar semua kegiatan usaha dapat berjalan dengan baik dan lancar, suatu perusahaan
memerlukan informasi mengenai keadaan seluruh kegiatan perusahaan secara cepat dan dapat
diandalkan. Salah satu informasi yang sangat penting dan diperlukan oleh perusahaan adalah
informasi mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha yang telah dicapai. Informasi yang
menyajikan keadaan tersebut dikenal sebagai akuntansi. Pada periode pertama akuntansi
hanyalah bentuk record-keeping yang sangat sederhana, maksudnya hanyalah bentuk
pencatatan dari apa saja yang terjadi dalam dunia bisnis saat itu. Periode kedua merupakan
penyempurnaan dari periode pertama, dikenal dengan masa lahirnya double-entry
bookkeeping. Pada periode terakhir banyak sekali perkembangan pemikiran akuntansi yang
bukan lagi sekedar masalah debit kiri kredit kanan, tetapi sudah masuk ke dalam kehidupan
masyarakat. Perkembangan teknologi yang luar biasa juga berdampak pada perubahan ilmu
akuntansi modern pengguna akuntansi juga bervariasi, dari yang sekedar memahami
akuntansi sebagai:
1. Alat hitung menghitung;
2. Sumber informasi dalam pengambilan keputusan;
3. Sampai ke pemikiran bagaimana akuntansi diterapkan sejalan dengan (atau sebagai
bentuk pengamalan) ajaran agama.

Dengan perkembangan yang semakin pesat mengharuskan para ekonom untuk
mengetahui tentang teori akuntansi. Teori akuntasi itu sendiri adalah berisi keseluruhan
2

analisis dan komponennya yang menjadi sumber acuan untuk menjelaskan dan memprediksi
gejala atau peristiwa dalam akuntansi.
Dengan demikian, status teori akuntansi akan menjadi sains setara dengan teori dalam
astronomi, ekonomika, fisika, biologi, dsb. Ia juga dapat didefenisikan sebagai sains yang
berdiri sendiri yang menjadisumber atau induk pengetahuan atau praktik ekonomi.
Informasi akuntansi merupakan alat yang digunakan oleh pengguna informasi
untukpengambilan keputusan (Nicholls dan Holmes, 1988 : 57), terutama oleh pelaku bisnis.
Dimana informasi akuntansi diharapkan dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang
bisa mengukur dan mengkomunikasikan informasi keuangan tentang kegiatan ekonomi.
Informasi akuntansi sangat diperlukan oleh pihak manajemen perusahaan dalam merumuskan
berbagai keputusan dalam memecahkan segala permasalahan yang dihadapi perusahaan.
Informasi akuntansi yang dihasilkan dari suatu laporan keuangan berguna dalam
rangka menyusun berbagai proyeksi, misalnya proyeksi kebutuhan uang kas di masa yang
akan datang. Dengan menyusun proyeksi tersebut secara tidak langsung akan mengurangi
ketidakpastian, antara lain mengenai kebutuhan akan kas (Sutapa, Rusdi, dan Kiryanto, 2001
: 200).
Informasi akuntansi berhubungan dengan data akuntansi atas transaksitransaksi
keuangan dari suatu unit usaha, baik usaha jasa, dagang maupun manufaktur. Supaya
informasi akuntansi dapat dimanfaatkan oleh manajer atau pemilik usaha, maka informasi
tersebut disusun dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
Arus informasi akuntansi keuangan dari perusahaan kecil sangat bermanfaat untuk
mengetahui bagaimana perkembangan usaha perusahaan, bagimana struktur modalnya,
berapa keuntungan yang diperoleh perusahaan pada suatu periode tertentu.
Holmes dan Nicholls (1989) mengungkapkan bahwa informasi akuntansi yang banyak
disiapkan dan digunakan perusahaan kecil dan menengah adalah informasi yang diharuskan
menurut undang-undang atau peraturan (statutory). Selain itu, informasi akuntansi yang
seharusnya dibutuhkan oleh manajemen perusahaan kecil dan menengah dalam pengggunaan
informasi akuntansi sangat terbatas sekali. Philip (1977) mengungkapkan banyak kelemahan
dalam praktik akuntansi pada perusahaan kecil. Kelemahan tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain pendidikan dan overload standar akuntansi yang dijadikan
pedoman dalam penyusunan pelaporan keuangan (William et.al, 1989; Knutson dan Henry,
1985; Nair dan Rittenberg, 1983; Wishon, 1985; Murray et al, 1983).
Dari uraian tersebut jelas bahwa industri menengah banyak mengalami kesulitan
dalam memahami informasi akuntansi dengan baik. Padahal dengan semakin ketatnya
3

persaingan bisnis dalam era globalisasi ekonomi, hanya perusahaan yang memiliki
keunggulan kompetitif yang akan mampu memenangkan persaingan. Keunggulan tersebut
diantaranya adalah kemampuan dalam mengelola berbagai informasi, sumber daya manusia,
alokasi dana, penerapan teknologi, sistem pemasaran dan pelayanan. Sehingga manajemen
perusahaan yang profesional merupakan tuntutan yang harus segera dipenuhi untuk dapat
melaksanakan kegiatan-kegiatan perusahaan secara baik.



















4

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI AKUNTANSI
Akuntansi merupakan kumpulan konsep dan teknik yang digunakan untuk mengukur
dan melaporkan informasi keuangan dalam suatu unit usaha ekonomi. Informasi akuntansi
sangat potensial untuk dilaporkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, seperti: manajer
perusahaan, pemilik, kreditur, pemerintah, analisis keuangan dan karyawan. Manajer
perusahaan membutuhkan informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan manajerial dan
bisnis, Investor tentunya dalam ekspektasi dan harapan terhadap hasil investasinya dalam
bentuk hasil usaha dan keuntungan (deviden), kreditur berkepentingan terhadap kemampuan
bayar terhadap kewajiban perusahaan dalam menyelesaikan pinjamannya, pemerintah
memerlukan informasi terhadap pajak dan regulasi (peraturan), analis keuangan
menggunakan akuntansi untuk dasar menyatakan opini (pendapat) terhadap investasi yang
akan direkomendasikan, karyawan berharap ingin bekerja di perusahaan yang mampu untuk
mendukung pengembangan karir dan penghasilan yang lebih baik.
Untuk mengetahui akuntansi secara lebih mendalam sebaiknya mengerti terlebih dahulu
definisi atau batasan akuntansi. Berikut di bawah ini adalah beberapa definisi akuntansi:
AICPA (American Institute of Certified Public Accountans) pada tahun 1941, mendefinisikan
akuntansi sebagai :
seni mencatat, menggolongkan dan meringkas transaksi dan kejadian yang
bersifat keuangan dengan cara tertentu dan dalam bentuk satuan uang, serta
menafsirkan hasil-hasilnya.
Dari definisi ini ada 3 aspek penting yaitu :
1. Akuntansi adalah suatu proses, yaitu proses pencatatan, penggolongan dan peringkasan
transaksi.
2. Akuntansi memproses transaksi keuangan dengan cara yang mempunyai pola tertentu
(bukan sembarang atau acak-acakan) dan mengunakan satuan uang sebagai alat
pengukur.
3. Akuntansi tidak sekadar proses pencatatan, penggolongan dan peringkasan belaka,
melainkan meliputi juga penafsiran terhadap hasil dari prosesproses tersebut.


5

Definisi lain dinyatakan oleh Accounting Principles Board (APB) tahun 1970:
Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya menyajikan informasi
kuantitatif tentang lembaga-lembaga ekonomi, terutama yang bersifat
keuangan, yang bertujuan agar berguna dalam pengambilan keputusan
ekonomis.
Definisi menurut American Accounting Association tahun 1966, adalah sebagai berikut:
Proses mengenali , mengukur dan mengkomunikasikan informasi ekonomi
untuk memperoleh pertimbangan dan keputusan yang tepat oleh pemakai
informasi yang bersangkutan.
Definisi ini mengandung dua pengertian:
1. Kegiatan Akuntansi, bahwa akuntansi merupakan proses yang terdiri dari identifikasi,
pengukuran dan pelaporan informasi ekonomi.
2. Kegunaan Akuntansi, bahwa informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi
diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan mengenai kesatuan
usaha yang bersangkutan.
Dan definisi yang lainnya adalah menurut George A. Mac Farland :
Akuntansi adalah suatu seni pencatatan, penggolongan, penyajian, serta
penafsiran secara sistematis dari data keuangan perusahaan atau
perseorangan.
Dari definisi ini dapat ditarik pengertian bahwa :
1. Prosedur-prosedur yang digunakan dalam akuntansi adalah mencatat, menggolongkan,
menyajikan dan menafsirkan.
2. Sasaran dari akuntansi adalah data keuangan atau peristiwa yang bersifat finansial.
3. Prosedur mencatat, menggolongkan, dan menyajikan data keuangan haruslah disusun
secara sistematis, sehingga dapat digunakan untuk menafsirkan dan membuat analisis
terhadap laporan yang dibuat.
Akuntansi dapat dipandang sebagai seni (art), sains (science), atau teknologi.
Penempatan seperangkat pengetahuan akuntansi ke dalam salah satu kategori tersebut
menentukan karakteristik teori akuntansi.
Komite Terminologi AICPA (The Committee on Terminology of the American Institute
of Certified Public Accountants) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut: Akutansi adalah
seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat
keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan
menginterprestasian hasil proses tersebut.
6

Pada perkembangan saat ini, akuntansi didefinisikan dengan mengacu pada konsep
informasi: Akutansi adalah aktivitas jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi
kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomik yang diperkirakan
bermanfaat dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomik, dalam membuat pilihan
diantara alternatif tindakan yang ada.
Para akuntan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang proses akuntansi dalam
menguraikan perbedaan teori-teori. Pandangan-pandangan tersebut adalah akuntansi sebagai
bahasa, akuntansi sebagai catatan peristiwa yang lalu, akuntansi sebagai realitas ekonomi saat
ini, akuntansi sebagai sistem informasi, akuntansi sebagai komoditas, dan akhirnya, akuntansi
sebagai sebuah ideology.

1. Akuntansi sebagai sebuah ideology
Akuntansi telah dipandang sebagai fenomena ideologi sarana untuk mendukung
dan melegitimasi tatanan sosial, ekonomi dan politik saat ini. Karl Marx menegaskan
bahwa akuntansi melakukan suatu bentuk dan hubungan-hubungan sosial yang
membentuk usaha produktif. Akuntansi juga dipandang sebagai mitos symbol, dan
kegiatan ritual yang mengizinkan penciptaan suatu tatanan simbolis yang didalamnya
agen-agen sosial dapat saling berinteraksi. Kedua persepsi tersebut juga mewujudkan
dalam pandangan umum merupakan bahwa akuntansi juga instrument rasionalisasi
ekonomi dan alat sistem kapitalisme.
Persepsi bahwa akuntansi merupakan sebuah instrument rasionalisasi ekonomi
ditunjukkan dengan sangat baik oleh Weber, yang mendefinisikan tindakan
rasionalisasi ekonomi sebagai perluasan penghitungan kuantitatif atau akuntansi yang
secara teknis dapat dilakukan dan secara nyata dapat diaplikasikan.
Praktik yang kapitalis mengubah satuan uang ke dalam satuan alat penghitung cost-
profit yang rasional, dimana karya besarnya adalah pembukuan berpasangan yang
terutama merupakan produk evolusi rasionalisasi ekonomi, perhitungan cost-profit,
sebagai reaksi terhadap rasionalisasi tersebut, dengan merealiasikan dan mendefinisikan
dan secara numeric, praktik ini sangat mendukung logika perusahaan.

2. Akuntansi sebagai Sebuah Bahasa
Akutansi telah dipandang sebagai bahasa bisnis. Akuntansi merupakan suatu cara
pengkomunikasian informasi tetnang bisnis. Apa yang membuat akuntansi menjadi
7

sebuah bahasa? untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat kesejahteraan potensial
antara akuntansi dan bahasa. Hawes mendefinisikan bahasa sebagai berikut:
Simbol-simbol manusia bukan merupakan tanda-tanda yang disusun
secara acak, yang mengarahkan pada konseptualisasi rujukan yang
bersifat tertutup dan rahasia. Sebaliknya, symbol-simbol manusia disusun
secara yang sistematis dan berpola dengan aturan-aturan khusus yang
mengarahkan penggunaannya. Susunan symbol ini disebut bahasa, dan
aturan yang mempengaruhi pola dan penggunaan symbol tersebut
dinyatakan sebagai tata bahasa.
Jadi, pengakuan akutansi sebagai bahasa yang didasarkan pada identifikasi adanya
dua komponen tersebut, sebagai dua tingkatan akuntansi. Penjelasannya sebagai
berikut:
Simbol-simbol atau karakteristik leksikal suatu bahasa adalah unit-unit yang
mengandung arti atau kata-kata yang dapat diidentifikasi dalam setiap bahasa.
Tata bahasa suatu bahasa mengacu pada susunan sintaksis yang terdapat dalam
setiap bahasa. Dalam akuntansi, tata bahasa merujuk pada serangkaian prosedur
umum yang digunakan dan diikuti dalam penyusunan seluruh data keuangan
untuk keperluan bisnis. Jadi menetapkan hubungan antara tata bahasa dengan
aturan akuntansi dalam pernyataan berikut ini:
Penyandang gelar CPA (pakar dalam bidang akuntansi) mengesahkan
ketetapan penerapan aturan akuntansi sama seperti seorang pembicara suatu
bahasa mengesahkan ketetapan tata bahasa suatu kalimat. Aturan akuntansi
memformalisasikan struktur yang melekat pada suatu bahasa alamiah.

3. Akuntansi sebagai Catatan Peristiwa yang lalu
Umumnya akutansi dipandang sebuah cara penyajian sejarah perusahaan dan
transaksi yang dilakukannya dengan pihak lain. Konsep pertanggung jawaban pada
dasarnya merupakan ciri hubungan principal (pemilik) dengan agen (manajer).
Pengukuran konsep pertanggung jawaban telah dikembangkan dari waktu ke waktu.
Bimberg membedakannya dalam empat periode:
Periode pure custodial
Periode traditional custodial
Periode aset-utilization
8

Periode open-ended
Dua periode pertama mengacu pada kepentingan agen untuk mengembalikan
sumber-sumber daya secara lengkap kepada principal dengan menetapkan tugas-tugas
minimal dalam melaksanakan fungsi pemeliharaan (custodial). Periode ke tiga mengacu
pada kepentingan agen untuk menetapkan inisiatif pemakaian aset secara mendalam
agar sesuai dengan rencana yang telah disepakati.
Terakhir, periode open-ended berbeda dengan periode aset-utilization dalam hal
penetapan pemanfaatan aset yang lebih fleksibel dan memungkinkan agen untuk
merencanakan aliran pemanfaatan aset. Bimberg menguraikan konsep terakhir tersebut
dalam uraian sebagai berikut:
Konsep ini tidak menyangkut petunjuk awal, namun juga memastikan kapan batas
waktu sejumlah petunjuk harus diubah. Sama halnya dengan pengendalian strategis,
fungsi pertanggung jawaban mensyaratkan adanya asumsi tingkat pertanggungjawaban
yang signifikan, yang harus dimiliki oleh manajer. Tekanan kerja mungkin disebabkan
oleh adanya kesenjangan struktur dan adanya ketidakpastian dengan jumlah yang
signifikan. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin menyebabkan sistem pelaporan pada
pemilik perusahaan akan menemui hambatan dalam komunikasi. Di satu sisi adanya
kebutuhan pelaporan secara terperinci, disisi lain adanya resiko pelaporan yang terlalu
banyak dan kompleks.

4. Akuntansi sebagai Realitas Ekonomi Saat Ini
Akutansi juga dipandang sebagai cara untuk menggambarkan realitas ekonomi saat
ini. Argumen utama yang mendukung pandangan ini adalah bahwa baik neraca maupun
laporan laba-rugi seharusnya didasarkan pada taksiran yang menggambarkan realitas
ekonomi saat ini daripada cost histories.
Tujuan utama dari pandangan akuntansi ini adalah penetapan pendapatan
sesungguhnya (true income), suatu konsep yang menunjukkan perubahan kesejahteraan
perusahaan dari suatu periode ke periode selanjutnya.

5. Akuntansi sebagai Suatu Sistem Informasi
Akutansi selalu dipandang sebagai suatu sistem informasi. Pandangan ini
mengasumsikan akutansi sebagai suatu proses yang menghubungkan sumber informasi
atau transmitter (biasanya akuntan), saluran komunikasi, dan sekumpulan penerima
(pengguna eksternal). Dengan menggunakan istilah dalam proses komunikasi, akuntansi
9

dapat didefinisikan sebagai proses menyendikan sejumlah observasi ke dalam bahasa
sistem akuntansi, memanimpulasi sinyal sistem pelaporan, dan mengawasandikan
(decoding) serta mentransmisikan hasilnya. Pandangan tentang akuntansi ini
memberikan manfaat yang penting baik secara konseptual maupun secara empiris.
Pertama, pandangan ini mengasumsikan bahwa sistem akuntansi merupakan satu-
satunya sistem pengukuran formal dalam organisasi. Kedua, pandangan ini
memunculkan kemungkinan disain sistem akuntansi yang optimal, yang memiliki
kemampuan untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat (bagi pengguna). Perilaku
pengirim (sender) merupakan hal yang penting baik dalam reaksi terhadap informasi
yang disajikan maupun dalam pemanfaatan informasi yang dibuat. Kedua perilaku ini
merupakan subjek penelitian empiris dalam bidang akuntansi keperilakuan.

6. Akuntansi sebagai Komoditi
Komoditi yang dimaksud adalah output akuntasi dalam bentuk informasi yang
dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.

7. Akuntansi sebagai Sistem Pertanggungjawaban
Dengan akuntansi,sumber kekayaan yang dikelola dapat ditelusuri sehingga dapat
dijadikan media untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan perusahaan atau
lembaga.

8. Akuntansi sebagai Teknologi
Bambang Sudibyo (1987) pernah mengajukan argumen tentang posisi akuntansi
sebagai teknologi dan bukan sebagai science atau art. Sudibyo menyimpulkan sebagai
berikut:
Akuntansi adalah teknologi perangkat lunak. Akuntansi tidak ditujukan
untuk menerangkan dan meramalkan perilaku variabel-variabel
sosial/ekonomis tertentu melainkan untuk mengendalikan variabel-
variabel itu guna memperbaiki status ekonomis karenanya status sosial
dari pelakunya. Wujud yang lebih konkret dari akuntansi sebagai
perangkat lunak adalah bahwa akuntansi merupakan disiplin rekayasa
informasi dan pengendalian (kontrol) keuangan.
Dalam APB statement No. 4 dijelaskan beberapa sifat dan elemen dasar dari
akuntansi (keuangan) sebagai berikut:
10

a) Accounting entity, entity tertentu harus dipisahkan dari badan atau entity yang
lain.
b) Going concern, dalam menyusun laporan keuangan harus dianggap bahwa
perusahaan (entity) yang dilaporkan akan terus beroperasi di masa yang akan
datang.
c) Measurement, akuntansi adalah sebagai pengukuran sumber-sumber ekonomi
(Economic Resources) dan kewajiban (liability) beserta perubahannya yang
dimiliki perusahan.
d) Time Period, laporan keuangan menyajikan informasi untuk suatu waktu atau
suatu periode tertentu.
e) Monetary Unit, transaksi perusahaan dilaporkan dalam ukuran moneter.
f) Accrual, penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban
ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi Kas telah dilakukan ata tidak.
g) Exchange Price, Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan umumnya
didasarkan pada harga pertukaran.
h) Approximation, dalam akuntansi tidak dapat dihindarkan penaksiran-penaksiran,
nilai, harga, umur, penyisihan, dan sebagainya.
i) Judgment, dalam menyusun laporan keuangan banyak diperlukan pertimbangan-
pertimbangan berdasarkan keahlian yang dimiliki akuntan.
j) General Purpose, informasi yang dihasilkan ditujukan buat pemakai secara
umum.
k) Interrelated Statement, Neraca, Laba rugi, dan laporan Sumber dan Penggunaan
Dana mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan satu sama lain.
l) Substance Over Form, akuntansi leboh menekankan kenyataan ekonomis suatu
kejadian daripada bukti legalnya.
m) Materiality, Laporan Keuangan Hanya memuat informasi yang dianggap
penting, dan dalam setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat
signifikansinya.

Karakteristik seni:
1. Keterampilan mengerjakan sesuatu atau menerapkan suatu konsep/pengetahuan
yang memerlukan perasaan, intuisi, pengalaman, bakat, dan pertimbangan
(judgment).
11

2. Keahlian dan pengalaman untuk memilih perlakuan terbaik dalam rangka mencapai
suatu tujuan.
3. Nilai (moral, ekonomik, dan sosial) menjadi basis pertimbangan.
4. Pertimbangan harus dituntun oleh pengalaman dan pengetahuan (profesionalisma).
Karakteristik akuntansi sebagai sains:
1. Pengetahuan untuk menjelaskan dan meramalkan gejala alam dan sosial seperti apa
adanya dengan metoda ilmiah.
2. Menguji dan menetapkan kebenaran penjelasan atau pernyataan tentang suatu
masalah.
3. Bebas nilai (value-free).
4. Karakteristik: koherensi, korespondensi, keterujian, dan keuniversalan.
Karakteristik akuntansi sebagai sains:
1. Akuntansi sebagai bidang pengetahuan yang menjelaskan fenomena akuntansi
secara objektif, apa adanya, dan bebas nilai.
2. Penjelasan dinyatakan dalam bentuk aksioma, proposisi, prinsip umum, atau
hipotesis yang tidak langsung berkaitan dengan kebijakan (praktik).
3. Pertimbangan dan penyimpulan dituntun oleh kaidah ilmiah (rules of science).
Karakteristik teknologi:
1. Seperangkat pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu (produk) yang bermanfaat.
Teknologi meliputi teknologi lunak.
2. Penggunaan pengetahuan ilmiah dalam suatu masyarakat pada suatu saat untuk
memecahkan masalah nyata yang dihadapinya sesuai dengan budaya dan nilai yang
dianut.
3. Perekayasaan melekat pada proses pemikiran untuk menentukan cara terbaik.
Karakteristik akuntansi sebagai teknologi:
1. Penggunaan pengetahuan ilmiah dalam suatu wilayah negara untuk menyediakan
informasi keuangan dalam rangka mencapai tujuan sosial dan ekonomik.
12

2. Perekayasaan pelaporan keuangan dalam suatu masyarakat (negara) dalam rangka
pencapaian tujuan negara.
B. AKUNTANSI: KAPITALISME, KAMERA, NETRAL
ATAU BIAS
Untuk memudahkan pemahaman terhadap fungsi akuntansi itu, penulis
mengibaratkannya sebagai kamera yang mengambil fotodari berbagai objek kejadian. Dalam
konteks pengertian dari sudut lain, memang akuntansi itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang
bersifat netral karena ia hanya menangkap apa yang bisa ditangkap oleh lensa yang
dimilikinya. Akuntansi mencoba menangkap transaksi yang terjadi dalam perusahaan dan
mengangkat kejadian itu dalam bentuk foto yang bisa memberikan gambaran tentang posisi
keuangan perusahaan (neraca), hasil usaha (laba rugi) dan laporan sumber dan pengeluaran
arus kas (laporan arus kas). Informasi yang dikeluarkan oleh sistem akuntansi mestinya tidak
bisa berubah dari objek yang difoto. Perubahan itu merupakan penyimpangan terhadap
fungsinya selaku kamera. Pada saat yang sama akuntansi jangan dianggap mampu
memberikan informasi atau fungsi diluar fungsinya sebagai tukang foto.
Pada hakikatnya akuntansi itu adalah mengukur dan melaporkan informasi tentang
harta atau kekayaan. Dalam ideologi kapitalisme harta merupakan bukti kemakmuran, ukuran
keberhasilan hidup sehingga pemupukan harta merupakan sasaran dan tujuan hidup.
Sehingga semua tenaga dan resorsi harus diarahkan untuk mencari, memupuk kekayaan
dengan berbagai cara yang dilakukan. Dalam ideologi kapitalisme pemrakarsa penciptaan dan
pedistribusian harta diberikan kepada pemilik modal bukan kepada Negara atau kepada kaum
pekerja (buruh). Dalam kenyataannya, kapitalis berhasil bukan saja menjadi prosedur harta,
tetapi dia berusaha untuk terus-menerus menjadi penguasa dalam memupuk harta sehingga
semua kemampuannya diusahakan untuk menjaga perannya ini. Hal inilah yang membuat
kapitalis juga merambah ke bidang-bidang politik, social, dan keagamaan. Kapitalis
membiayai kegiatan elite politik dengan imbalan semua kebijakan politik harus
menguntungkan kapiitalis. Dibidang social juga demikian bahkan dalam bidang keagamaan
kapitalis mencoba memengaruhi ulama dalam pemahaman konsep keagamaan untuk
menjamin pemahaman agama tidak merusak penguasaannya pada kekayaan tadi.


13

C. KEGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI
Akuntansi menghasilkan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang
menyelenggarakan maupun pihak-pihak diluar perusahaan. Akuntansi memberikan informasi
keuangan kepada pihak yang berkepentingan (Stakeholders), untuk membantu dalam
membuat keputusan ekonomik yang menyangkut perusahan tersebut Akuntansi memberikan
informasi keuangan kepada pihak yang berkepentingan (Stakeholders), untuk membantu
dalam membuat keputusan ekonomik yang menyangkut perusahan tersebut Informasi-
informasi tersebut menjadi acuan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut
perusahaan.
Akuntansi mengidentifikasikan berbagai transaksi ekonomik dalam suatu perusahaan
melalui tahap: (a) Pengukuran (b) Pencatatan (c) penggolongan dan (d) peringkasan ,
sehingga hanya informasi yang relevan dan saling berhubungan , dan mampu memberikan
secara layak tentang keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan yang diintregasikan dan
disajikan dalam laporan keuangan. Berdasarkan rencana dan penerapan sistem akuntansi
yang baik, dapat dikontrol atau dinilai jalannya kegiatan perusahaan. Setelah diadakan
pencatatan terhadap semua transaksi dan kejadian, pada akhir periode disusun laporan
keuangan untuk disampaikan kepada pemilik atau pihak ekstern lain untuk mendapatkan
penilaian.

D. PEMAKAI INFORMASI AKUNTANSI
Informasi akuntansi digunakan oleh banyak pihak atau pengguna dengan masing-
masing kepentingannya. Kepentingan antara satu pengguna dengan pengguna lainnya tidak
sama sehingga informasi yang dicaripun berbeda. Para pengguna informasi akuntansi dapat
kelompokkan ke dalam dua golongan besar, yaitu :
1. Para pengguna yang berkepentingan langsung terhadap perusahaan : pemilik dan calon
pemilik, kreditor dan calon kreditor, manajemen, karyawan dan calon karyawan dan
pemerintah.
2. Para pengguna yang berkepentingan tidak langsung terhadap perusahaan : analis dan
konsultan keuangan, asosiasi dagang dan serikat buruh.

Penjelasan secara rinci adalah sebagai berikut :


14


Pemilik dan Calon Pemilik
Setiap pemilik perusahaan atau pemegang saham menghendaki dana yang ditanamkan
dapat terus berkembang. Pemilik perusahaan selalu mengevaluasi hasil operasi perusahaan
dari waktu ke waktu, dan mengevaluasi posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu.
Informasi akuntansi akan membantu untuk mengambil keputusan atas : tetap menanamkan
modalnya, menambah, mengurangi atau justru menarik dana yang telah disetorkan, dan
merupakan media untuk menaksir bagian laba yang akan diterimanya. Sedangkan bagi calon
pemilik atau calon pemegang saham informasi akuntansi digunakan sebagai tolok ukur
tingkat keuntungan yang akan diperolehnya jika ia membeli saham perusahaan tertentu. Jenis
informasi yang diperlukan : Neraca dan Laporan Rugi/Laba

Kreditor dan Calon Kreditor
Kreditor adalah pihak yang memberikan kredit (pinjaman) kepada perusahaan. Kreditor
berkepentingan terhadap keamanan dana yang dipinjamkannya dan tingkat penghasilan yang
akan diperolehnya. Para Calon Kreditor perlu mengevaluasi laporan akuntansi sebelum
memutuskan untuk memberikan pinjaman. Jenis informasi yang diperlukan : data tentang
likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas.

Manajemen
Manajemen memiliki tanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan. Bagi
manajemen, akuntansi memiliki peranan yang penting dalam hal :
- Melindungi harta perusahaan
- Penyusunan rencana kegiatan perusahaan di masa yang akan datang
- Pengukuran penghasilan perusahaan dalam kurun waktu tertentu
- Pengawasan kegiatan perusahaan
Jenis Informasi yang diperlukan : catatan-catatan finansial masa lalu dan sekarang, hasil
operasi perusahaan, serta perencanaan di masa yang akan datang.

Pemegang saham / pemilik perusahaan
Para pemilik perusahaan yang mempunyai bagian saham perusahaan membutuhkan informasi
keuangan perusahaan untuk dapat mengetahui sejauh mana kemajuan atau kemunduran yang
dialami perusahaan. Pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang akan
semakin besar jika perusahaan untung besar.
15


Karyawan dan Calon Karyawan
Kepentingan langsung karyawan terhadap perusahaan adalah upah yang sesuai dengan
kontribusi yang disumbangkannya. Bagi calon karyawan informasi akuntansi dapat
menunjukkan prospek perusahaan dan untung ruginya bekerja pada perusahaan tersebut.
Jenis informasi yang diperlukan : penjelasan tentang rencana perusahaan serta hasil yang
dicapai, dan laporan tentang usaha perbaikan fasilitas kesejahteraan karyawan.

Pemerintah
Pemerintah berkepentingan terhadap :
- Pembayaran pajak yang ditanggung perusahaan : Pajak Penghasilan Badan, maupun
yang harus dihitung, dipungut, disetor dan dilaporkan oleh perusahaan seperti pajak
Penghasilan Karyawan.
- Ketaatan perusahaan terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan tentang pemberian
upah minimum regional (UMR)
- Penetapan kebijaksanaan tertentu.
Jenis informasi yang diperlukan : besarnya kewajiban pajak, data-data akuntansi yang
bersangkutan dengan peraturan pemerintah yang menyangkut perusahaan.

D. Pekerjaan Akuntan dan Bidang-bidang Akuntansi
Secara garis besar akuntan dapat digolongkan menjadi:
a. Akuntan Publik, adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas dasar
pembayaran tertentu. Akuntan publik dapat memberikan jasa pemeriksaan (audit), jasa
perpajakan (tax service), jasa konsultasi manajemen (management advisory services)
dan jasa akuntansi (accounting services).
b. Akuntan Manajemen, adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau
organisasi. Tugas yang dikerjakan adalah penyusunan sistem akuntansi, penyusunan
laporan akuntansi kepada pihak intern maupun ekstern perusahaan, penyusunan
anggaran, menangani masalah perpajakan dan melakukan pemeriksaan intern.
c. Akuntan Pemerintah, adalah akuntan yang bekerja pada badan-badan pemerintah
seperti di departemen, BPKP dan BPK, Direktorat Jenderal Pajak dan lain-lain.
16

d. Akuntan Pendidik, adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi yaitu
mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi dan melakukan penelitian di
bidang akuntansi.

F. BIDANG-BIDANG AKUNTANSI
Akuntansi saat ini telah berkembang sangat pesat sejalan dengan perkembangan
teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Bidang-bidang akuntansi yang penting akan diuraikan
seperti berikut dibawah ini:
a. Akuntansi Umum dan Keuangan (General Accounting / Financial
Accounting)
Bidang akuntansi yang secara menyeluruh mencakup fungsi-fungsi pencatatan
transaksi-transaksi serta menyusun laporan keuangan dari catatan-catatan tersebut. Di
bidang ini menghasilkan laporan keuangan bagi pihak ekstern seperti investor, kreditor
dan Bapepam.
Bidang ini berkaitan dengan akuntansi untuk suatu unit ekonomi, secara
keseluruhan.Ia berhubungan dengan pelaporan keuangan untuk pihak-pihak di luar
perusahaan.Oleh karena pihak-pihak di luar perusahaan yang mempunyai kepentingan
yang bermacam ragamnya, maka laporan yang dihasilkan bersifat serba guna (general
purpose). Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menyusun laporan keuangan
untuk pihak-pihak ini adalah aturan-aturan yang telah disetujui bersama. Aturan-aturan
itu disebut Standar Akuntansi Keuangan. Adalah merupakan kewajiban
bagi perusahaan untuk mengikuti standard akuntansi keuangan tersebut dalam
menyusunlaporan mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan kepada pihak-
pihak diluar perusahaan. Standard akuntansi keuangan dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia dalam bentuk Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

b. Akuntansi Biaya (Cost Accounting)
Bidang ini menekankan pada penetapan dan control atas biaya. Ia
terutama berhubungan dengan biaya produksi suatu barang, tetapi perhatian yang makin
meningkat mulai diberikan atas biaya distribusi. Bahkan akuntansi biaya telah
mengarah pada penetapan biaya berdasarkan aktivitas. Fungsi utama akuntansi biaya
adalah mengumpulkan dan menganalisis data mengenai biaya, baik biaya yang
telahmaupun yang akan terjadi. Informasi yang dihasilkan berguna bagi-manajemen
17

sebagai alat control atas kegiatan yang telah dilakukan dan bermanfaat untuk membuat
rencana di masa mendatang.

c. Akuntansi Pemerintahan (Govermental Accounting)
Bidang ini mengkhususkan diri dalam pencatatan dan pelaporan transaksi-
transaksi yang terjadi di badan Pemerintah. Ia menyedi akan l aporan akuntansi
tentang aspek kepengurusan dari administrai keuangan Negara. Di samping itu,
bidang inimencakupi pengendalian atas pengeluaran melalui anggaran Negara.
Termasuk didalamnya adalah kesesuaian dengan ketentuan undang-undang yang
berlaku.
Merupakan bidang khusus akuntansi yang dipergunakan oleh lembaga-lembaga
pemerintah. Bidang ini berguna sebagai alat bagi pemerintah untuk menyelenggarakan
pencatatan yang teratur tentang penerimaan dan pengeluaran dana. Berguna juga
sebagai bentuk pertanggungjawaban pelasanaan APBN/APBD kepada rakyat melalui
lembaga legislatif serta untuk kepentingan pihak-pihak terkait.

d. Akuntansi Manajemen (Management Accounting)
Akuntansi Manajemen menggunakan data historis maupun data taksiran untuk
membantu manajemen dalam operasional sehari-hari dan perencanaan operasional
mendatang. Bidang ini mengolah kasus-kasus khusus yang dihadapi manajer perusahaan
dari berbagai jenjang organisasi. Titik manajemen adalah informasi untuk
manajemen perusahaan. Beberapa kegunaan dari akuntansi manajemen adalah
mengendalikankegiatan perusahaan, memonitor arus kas, dan menilai alternatif dalam
pengambilan keputusan. Pengendalian perusahaan melalui aktivitas yang dijalankan
merupakan trend baru dalam akuntansi manajemen. Keguanaan akuntansi manajemen
dalam pengambilan keputusan dapat dilihat, misalnya dalam hal yang diperlukan,
akuntasimanajemen tidak membatasi diri pada data historis saja. Ada kalanya digunakan
datayang baru terjadi dan bahkan data taksiran di masa datang.
Disamping itu, pemecahan masalah akuntansi manajemen kadang
memerlukan bantuan disiplin ilmu lain, misalnya: teori organisasi, ilmu perilaku, dan
teoriinformasi. Dalam tahun-tahun terakhir ini, akuntan public telah
mengembangkan penyediaan jasa konsultasi bisnis serta jasa konsultasi ekonomi dan
18

keuangan. Jasa- jasa tersebut banyak mendasarkan pada pengetahuan tentang akuntansi
manajemen.

e. Akuntansi Perpajakan
Laporan akuntansi yang digunakan untuk tujuan perpajakan berbeda dengan
laporanuntuk tujuan lain. Hal ini disebabkan oleh berbedanya konsep tentang transaksi
dankejadian keuangan, metode pengukuran dan cara pelaporan. Untuk tujuan pajak,konsep
tentang transaksi dan kejadian keuangan serta bagaimana mengukur danmelaporkannya
ditetapkan oleh peraturan pajak. Oleh karena setiap perusahaan akanselalu berurusan
dengan masalah perpajakan, maka seorang akuntan perlumengetahui konsep, metode, dan
cara pelaporan untuk perpajakan tersebut. Disamping itu, peraturan perpajakan
mempunyai pengaruh yang besar terhadapkeputusan usaha yang akan dilkakukan
perusahaan. Dalam menghadapi masalah pajak, akuntan dapat berperan dalam hal
perencanaan pajak (tax planning ), pelaksanaan peraturan perpajakan atau mewakili
perusahaan dihadapan kantor pajak.
Tugas akuntan dalam perencanaan pajak di antaranya adalah memberi nasihat
tentang bagaimana meminimalisasi pengaruh pajak, apabila secara hukum
dimungkinkan. Nasihat-nasihat tersebut di antaranya adalah pemilihan bentuk badan
usaha, metode akuntansi yang diterapkan dan cara menangani suatu transaksi. Dalam
pelaksanaan peraturan perpajakan seorang akuntan dapat membantu dalam perhitungan
pajak yangterutang, mengisi Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) dan kegiatan-
kegiatan administrasi perpajakan lainnya. jasa mewakili perusahaan berkaitan dengan
kegiatan pengurusan masalah perpajakan yang memerlukan hubungan langsung dengan
pihak pajak.

f. Pemeriksaan Akuntan (Auditing)
Merupakan bidang dalam aktivitas akuntansi yaitu pemeriksaan secara bebas atas
laporan keuangan dari perusahaan. Ini merupakan bidang pekerjaan akuntan publik yang
memeriksa laporan keuangan dan kemudian memberikan penilaiannya dan pendapatnya
mengenai kelayakan dan kewajaran laporan tersebut. Unsur penting dari kelayakan dan
kewajaran tersebut adalah enyangkut prinsip-prinsip akuntansi yang akan diterima umum.
Auditor dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
19

Auditor Pemerintah adalah auditor yang bertugas melakukan audit atas keuangan
pada instansi-instansi pemerintah. Di Indonesia, auditor pemerintah dapat dibagi
menjadi dua yaitu:
o Auditor Eksternal Pemerintah yang dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) sebagai perwujudan dari Pasal 23E ayat (1) Undang-undang
Dasar 1945 yang berbunyi Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung
jawab tentang keuangan negara diadakan satu badan Pemeriksa
Keuangan yang bebas dan mandiri.. ayat (2) Hasil pemeriksa keuangan
negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,sesuai
dengan kewenangannya. Badan Pemeriksa Keuangan merupakan badan yang
tidak tunduk kepada pemerintah, sehingga diharapkan dapat bersikap
independen.
o Auditor Internal Pemerintah atau yang lebih dikenal sebagai Aparat
Pengawasan Fungsional Pemerintah (APFP) yang dilaksanakan oleh Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal
Departemen/LPND, dan Badan Pengawasan Daerah.
Auditor Intern merupakan auditor yang bekerja pada suatu perusahaan dan oleh
karenanya berstatus sebagai pegawai pada perusahaan tersebut. Tugas utamanya
ditujukan untuk membantu manajemen perusahaan tempat dimana ia bekerja.
Auditor Independen atau Akuntan Publik adalah melakukan fungsi pengauditan
atas laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Pengauditan ini dilakukan
pada perusahaan terbuka, yaitu perusahaan yang go public, perusahaan-perusahaan
besar dan juga perusahaan kecil serta organisasi-organisasi yang tidak bertujuan
mencari laba. Praktik akuntan publik harus dilakukan melalui suatu Kantor Akuntan
Publik (KAP).
Auditor Pajak. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada dibawah Departemen
Keuangan Republik Indonesia, bertanggungjawab atas penerimaan negara dari sektor
perpajakan dan penegakan hukum dalam pelaksanaan ketentuan perpajakan. Aparat
pelaksanaan DJP dilapangan adalah Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor
Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karikpa). Karikpa mempunyai auditor-auditor
20

khusus. Tanggung jawab Karikpa adalah melakukan audit terhadap para wajib pajak
tertentu untuk menilai apakah telah memenuhi ketentuan perundangan perpajakan.
g. Akuntansi Lembaga Nirlaba (non profit motive organization)
Akuntansi yang mengkhususkan diri pada masalah-masalah pencatatan dan
pelaporan transaksi dari unit-unit pemerintah serta organisasi nirlaba lainnya, seperti :
yayasan, lembaga keagamaan, lembaga amal, lembaga pendidikan dan lembaga sosial
lainnya. Unsur penting dari akuntasi ini adalah sistem akuntansi yang menjamin pihak
manajemen akan adanya kecocokan dengan batasan-batasan dan persyaratan lainnya yang
digariskan oleh Undang-Undang, oleh lembaga-lembaga lain, atau oleh individu-individu
yang menjadi donor.
Bagi stakeholder, akuntansi dan laporan keuangan bertugas meminta
pertanggungjawaban pengurus, apa pun itikad batinnya. Para karyawan profesional
organisasi nirlaba diasumsikan ingin diperlakukan setara dengan karyawan profesional
organisasi komersial dalam hal imbalan, karier, jabatan, dan masa depan. Bagi mereka,
akuntansi bertugas menginformasikan kesinambungan hidup organisasi sebagai tempat
berkarier.
Para anggota diasumsikan secara serius ikut serta dalam suatu organisasi nirlaba
untuk mencapai suatu idaman tertentu organisasi bersangkutan yang sejalan dengan
aspirasinya, Maka laporan keuangan diharapkan memberikan informasi berkala, guna
memberikan gambaran, apakah idaman itu direalisasikan oleh raihan organisasi nirlaba.
Para pelanggan atau pihak yang menjadi sasaran yang akan diuntungkan serta
berharap untuk memperoleh manfaat yang dijanjikan organisasi perlu mendapat infermasi
mengenai sasaran yang berhasil diraih organisasi tersebut. Maka laporan keuangan perlu
menampilkan manfaat atau hasil yang diraih yang apabila mungkin didenominasikan
dalam besaran uang.

h. Sistem Informasi
Bidang ini menyediakan inforamsi keuangan maupun non-keuangan yang diperlukan
untuk pelaksanaan kegiatan organisasi secara efektif. Melalui sistem ini diprosesinformasi
yang diperlukan untuk menyusun laporan kepada pemegang saham,kreditur, badan-badan
Pemerintah, pimpinan perusahaan, pegawai dan pihak-pihak lain. Sistem yang dirancang
dengan baik akan memungkinkan pimpinan perusahaan mengidentifikasikan masalah dan
menelaahnya sehingga masalah tersebut dapat ditangani. Beberapa aspek dari suatu sistem
21

adalah bahwa ia harus dapat menghasilkan informasi pada waktu yang tepat, dalam bentuk
yang bermanfaat dan pada tingkat akurasi yang wajar.
Perlu diterapkan pengendalian dalam sistem sehingga dapat menghasilkan informasi
yang dapat dipercaya pada tingkat biaya yang layak. Bidang ini berhubungan
dengan perencanaan serta pelaksanaan prosedur pengumpulan dan pelaporan data
keuanganmaupun non-keuangan. Sistem yang dirancang haruslah menyediakan cara
untuk melindungi kekayaan perusahaan sedemikian rupa sehingga terdapat
adanyapengendalian intern dan sedapat mungkin mendapatkan arus laporan yang
efisiendan berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Ia
jugaharus mengetahui tentang penggunaan dan kegunaan dari beberapa
peralatan pemrosesan data (data processing equipment ). Tugas seorang akuntan dalam
bidang ini dapat meliputi perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi suatu sistem
dalam perusahaan.

i. Penganggaran (Budgeting)
Bidang ini berhubungan dengan penyusunan rencana keuangan mengenai
kegiatan perusahaan untuk jangka waktu tertentu di masa datang serta analisis
dan pengontrolannya. Anggaran adalah saran untuk menjabarkan tujuan perusahaan.
Ia berisi rencana kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di masa datang serta nilaiuang
yang terlibat di dalamnya. Apabila rencana ini dibandingkan dengan realisasinya, maka ia
dapat merupakan alat control di dalam perusahaan.

G. PENDIDIKAN AKUNTANSI
Akuntan adalah sebutan dan gelar profesional yang diberikan kepada seorang sarjana
yang telah menempuh pendidikan di fakultas ekonomi jurusan akuntansi pada suatu
universitas atau perguruan tinggi dan telah lulus Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk).
Ketentuan mengenai praktek Akuntan di Indonesia diatur dengan Undang-Undang
Nomor 34 Tahun 1954 yang mensyaratkan bahwa gelar akuntan hanya dapat dipakai oleh
mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi dan telah terdaftar
pada Departemen keuangan R.I.
Sejak 2001 diadakan pembenahan sistem pendidikan akuntansi. Sebelumnya, alumni
akuntansi dari fakultas ekonomi perguruan tinggi negeri otomatis memperoleh gelar akuntan
22

(Akt). Berbeda halnya dengan alumni perguruan tinggi swasta yang harus mengikuti Ujian
Nasional Akuntansi (UNA) untuk meraih gelar serupa.
Sistem ini dipandang merupakan diskriminasi terhadap perguruan tinggi swasta, bahkan
tidak menjamin standarisasi profesi akuntan. Oleh karena itu, berdasarkan SK Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 179/U/2001, gelar akuntan hanya bisa diperoleh melalui PPAk.
''Program PPAk bisa dibuka oleh PTN maupun PTS yang memenuhi syarat. Program ini
menjamin ada standarisasi profesi akuntan, termasuk dalam hal etika profesi. Pendidikan
akuntansi di Indonesia memasuki paradigma baru setelah terbit SK Mendiknas No
179/U/2001. PPAk bukan lagi milik Departemen Pendidikan Nasional, karena sudah
diserahkan kepada asosiasi profesi, dalam hal ini Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Ijin
penyelenggaraan tetap dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, namun hanya bisa
diberikan atas rekomendasi IAI. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh gelar akuntan
dan register akuntan dari Departemen Keuangan. Gelar itu bisa digunakan untuk meniti karir
sebagai akuntan publik, akuntan pendidik, akuntan manajemen, atau akuntan perpajakan.
Populasi perguruan tinggi yang menyelenggarakan PPAk relatif sedikit. Hanya ada 23 PPAk
di seluruh Indonesia, 17 di antaranya milik PTN. Kondisi ini kontras dengan banyaknya
populasi program studi akuntansi. Secara nasional ada 923 perguruan tinggi yang membuka
prodi akuntansi dalam berbagai jenjang.

H. PERKEMBANGAN PROFESI AKUNTANSI
Di awal masa kemerdekaan Indonesia, warisan dari penjajah Belanda masih dirasakan
dengan tidak adanya satupun akuntan yang dimiliki atau dipimpin oleh bangsa Indonesia.
Pada masa ini masih mengikuti pola Belanda masih diikuti, dimana akuntan didaftarkan
dalam suatu register negara. Di negeri Belanda sendiri ada dua organisasi profesi yaitu
Vereniging van Academisch Gevormde Accountans (VAGA) yaitu ikatan akuntan lulusan
perguruan tinggi dan Nederlands Instituut van Accountants (NIvA) yang anggotanya terdiri
dari lulusan berbagai program sertifikasi akuntan dan memiliki pengalaman kerja. Akuntan-
akuntan Indonesia pertama lulusan periode sesudah kemerdekaan tidak dapat menjadi
anggota VAGA atau NIvA.
Situasi ini mendorong Prof. R. Soemardjo Tjitrosidojo dan empat lulusan pertama FEUI
yaitu Drs. Basuki T.Siddharta, Drs. Hendra Darmawan, Drs. Tan Tong Joe dan Drs. Go Tie
Siem memprakarsai berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia yang dinamakan Ikatan
Akuntan Indonesia yang disingkat IAI pada tanggal 23 Desember 1957 di Aula Universitas
23

Indonesia. Situasi ini mendorong Prof. R. Soemardjo Tjitrosidojo dan empat lulusan pertama
FEUI yaitu Drs. Basuki T.Siddharta, Drs. Hendra Darmawan, Drs. Tan Tong Joe dan Drs. Go
Tie Siem memprakarsai berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia yang dinamakan Ikatan
Akuntan Indonesia yang disingkat IAI pada tanggal 23 Desember 1957 di Aula Universitas
Indonesia.
Dalam kurun waktu 17 tahun sejak dibentuknya Seksi Akuntan Publik, profesi akuntan
publik berkembang dengan pesat. Seiring dengan perkembangan pasar modal dan perbankan
di Indonesia, diperlukan perubahan standar akuntansi keuangan dan standar profesional
akuntan publik yang setara dengan standar internasional. Dalam Kongres IAI ke VII tahun
1994, anggota IAI sepakat untuk memberikan hak otonomi kepada akuntan publik dengan
merubah Seksi Akuntan Publik menjadi Kompartemen Akuntan Publik.
Setelah hampir 50 tahun sejak berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia, tepatnya
pada tanggal 24 Mei 2007 berdirilah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai
organisasi akuntan publik yang independen dan mandiri dengan berbadan hukum yang
diputuskan melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa IAI Kompartemen AkuntanPublik.
Berdirinya Institut Akuntan Publik Indonesia adalah respons terhadap dampak
globalisasi, dimana Drs. Ahmadi Hadibroto sebagai Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI
mengusulkan perluasan keanggotaan IAI selain individu. Hal ini telah diputuskan dalam
Kongres IAI X pada tanggal 23 Nopember 2006. Keputusan inilah yang menjadi dasar untuk
merubah IAI Kompartemen Akuntan Publik menjadi asosiasi yang independen yang
mampu secara mandiri mengembangkan profesi akuntan publik. IAPI diharapkan dapat
memenuhi seluruh persyaratan International Federation of Accountans (IFAC) yang
berhubungan dengan profesi dan etika akuntan publik, sekaligus untuk memenuhi persyaratan
yang diminta oleh IFAC sebagaimana tercantum dalam Statement of Member Obligation
(SMO).
Pada tanggal 4 Juni 2007, secara resmi IAPI diterima sebagai anggota asosiasi yang
pertama oleh IAI. Pada tanggal 5 Pebruari 2008, Pemerintah Republik Indonesia melalui
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 mengakui IAPI sebagai organisasi
profesi akuntan publik yang berwenang melaksanakan ujian sertifikasi akuntan publik,
penyusunan dan penerbitan standar profesional dan etika akuntan publik, serta
menyelenggarakan program pendidikan berkelanjutan bagi seluruh akuntan publik di
Indonesia.

24

I. AKUNTANSI DAN TATA BUKU
Bagi mereka yang awam di bidang akuntansi ataupun mereka yang baru mulai
mempelajari akuntansi sering mencampuradukkan pengertian akuntansi dan tata buku. Hal ini
adalah wajar karena akuntansi sendiri pada awal sejarahnya memang berpangkal tolak dari
bookkeeping atau tata buku.
Untuk menghindari salah pengertian atau mencampuradukkan pengertian akuntansi
dengan tata buku perlu dijelaskan bahwa pada tata buku kegiatan yang ada padanya hanyalah
pada fungsi
Pencatatan atas data perusahaan dengan demikian pada tata buku tidak ada fungsi
perencanaan sistem dan prosedur pencatatan maupun kegiatan penafsiran dan analisis
terhadap hasil laporan yang dibuat. Akuntansi lebih luas dari Tata Buku sebab Tata Buku
hanyalah bagian dari akuntansi berupa pencatatan secara sistimatis transaksi/kejadian yang
dinyatakan dengan nilai uang.

J. PRINSIP AKUNTANSI
Laporan keuangan diolah dari ratusan atau ribuan transaksi-transaksi dengan cara yang
sistematis dengan suatu dasar tertentu. Dasar ini dinamakan prinsip-prisip akuntansi yang
lazim (General Accepted Accounting Principles). Justru oleh karena sifat yang tidak eksak
dari akuntansi ini maka diperlukan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim . Tanpa adanya
prinsip yang berfungsi sebagai patokan atau pedoman ini, maka kemungkinan masing-masing
akuntan akan menggunakan caranya sendiri, sehingga laporan keuangan yang dihasilkan akan
menjadi simpang siur. Profesi akuntansi telah berusaha mengembangkan sekumpulan standar
yang pada umumnya diterima dan secara universal dipraktikkan. Usaha-usaha itu telah
menghasilkan dipakainya seperangkat aturan dan prosedur umum yang disebut sebagai
prinsip akuntansi berterima umum yang merupaka guideliness (standar) yang menunjukkan
tentang tata cara melaporkan kejadian ekonomis. Maksud dari prinsip ini agar terjadi
kesatuan pandang (standar umum) terhadap kondisi yang berbeda natar perusahaan. Selain itu
memudahkan dalam analisis pelaporan bagi pihak yang membutuhkan.
Oleh karena itu dalam pencatatan dalam kegiatan pencatatan, penggolongan transaksi
dan pelaporan keuangan diterapkan prinsip-prinsip dasar akuntansi, antara lain

a. Kesatuan Usaha (Business Entity)
25

Konsep ini sering disebut business entity concept. Konsep ini membatasi ruang lingkup
kepentingan. Dalam akuntansi keuangan, perusahaan dianggap sebagai kesatuan
ekonomi yang terpisah dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumber-sumber
perusahaan. Bahwa perusahaan harus memisahkan secara tegas antara usaha organisasi
yang satu dengan yang lainnya walaupun pemilinya mungkin sama. Jelasanya transaksi
satu perusahaan dengan perusahaan yang lain harus dipisahkan secara jelas agar
memudahkan perusahaan berkewajiban untuk mempertanggung jawabkan keuangan
perusahaannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

b. Kesinambungan Usaha (Going Concern)
Bahwa perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang tak dibatasi. Konsep ini
mengasumsikan suatu entitas ekonomi akan terus melanjutkan usahanya dan tidak akan
dibubarkan. Usaha yang dilakukan perusahaan harus diarahkan untuk mempertahankan
keberadaan perusahaan yang dioperasikan untuk menunjang kegiatan perusahaan harus
tercatat sebesar nilai pada saat perolehannya selama aktiva tersebut digunakan dan
belum mengalami perubahan.

c. Periode Akuntansi (Periodical)
Kaitananya dengan prinsip kesinambungan, maka untunk keprluan penilaian prestasi
kegiatan perusahaan, maka tidak mungkin penilaian tersebut dilakukan pada saat akhir
hidup perusahaan. Mengingat asumsi yang dipegang perusahaan yang didirikan untuk
waktu yang tak terbatas dan keberakhiran perusahaan tidak diharapkan. Untuk itu
diadakannya pembatasan waktu dengan membagi kegiatan perusahaan dalam periode-
periode tertentu untuk dapat menilai dan melaporkan hasil dari usaha yang dijalankan,
namun antara satu periode dengan periode selanjutnya merupakan kaitan yang tak
terputus dan saling berkesinambungan. Hal ini disebabkan karena perusahaan dianggap
akan terus hidup dimasa yang akan datang, sehingga tidak mungkin apabila untuk
mengetahui keuntungan atau kerugian dari usaha kita harus menunggu perusahaan
ditutup terlebih dahulu.

d. Satuan Mata Uang
Uang, dalam kegiatan akuntansi merupakan denominator umum untuk mengukur nilai
aktiva, hutang dan modal. Adapun mata uang yang disarankan untuk digunakan
biasanya mata uang yang nilainya relatif stabil.
26

Semua transaksi keuangan harus dapat dinilai dengan satuan mata uang yang
digunakan. Transaksi keuangan harus memiliki nilai yang materis, maksudnya nilainya
harus memberikan arti terhadap perubahan aktiva, hutang dan modal.
Ketentuan lain dalam prinsip ini adalah bila perusahaan memiliki transaksi dengan mata
uang yang digunakan. Misalnya, transaksi yang nilai mata uangnya dolar ($), maka
harus dikonversikan kedalam rupiah (Rp), bila rupiah digunakan sebagai dasar
pengukuran atau sebaliknya.

e. Obyektif
Catatan dan laporan akuntansi harus didasarkan pada data yang dapat dipercaya serta
disajikan secara teat dan berguna. Data yang dapat dipercaya adalah data yang
diverifikasi (dapat diperiksa kebenarannya) oleh pihak yang independent. Oleh karena
itu kegiatan akuntansi harus diawali dengan bukti yang sah dan obyektif.

K. BASIS AKUNTANSI
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis
akrual, untuk pengakuan pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban, dan ekuitas. Dalam hal
peraturan perundang-undangan mewajibkan disajikannya laporan keuangan dengan basis kas,
maka entitas wajib menyajikan laporan demikian (berbasis kas - Wikiapbn).
Basis akrual untuk LO berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk
memperoleh pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di Rekening Kas
Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang
mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun kas belum
dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Pendapatan
seperti bantuan pihak luar/asing dalam bentuk jasa disajikan pula pada LO.
Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis kas, maka LRA disusun
berdasarkan basis kas, berarti bahwa pendapatan dan penerimaan pembiayaan diakui pada
saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan; serta
belanja, transfer, dan pengeluaran pembiayaan diakui pada saat kas dikeluarkan dari
Rekening Kas Umum Negara/Daerah. Namun demikian, bilamana anggaran disusun dan
dilaksanakan berdasarkan basis akrual, maka LRA disusun berdasarkan basis akrual.
Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas diakui dan dicatat
pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh
27

pada keuangan pemerintah, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau
dibayar. Berikut prinsip akuntansi dalam laporan keuangan pemerintahan :

a. Nilai Historis (Historical Cost)
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai
wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat
perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan
akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam
pelaksanaan kegiatan pemerintah.
Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih
obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal tidak terdapat nilai historis, dapat
digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait.

b. Realisasi (Realization)
Bagi pemerintah, pendapatan basis kas yang tersedia yang telah diotorisasikan
melalui anggaran pemerintah suatu periode akuntansi akan digunakan untuk
membayar utang dan belanja dalam periode tersebut. Mengingat LRA masih
merupakan laporan yang wajib disusun, maka pendapatan atau belanja basis kas
diakui setelah diotorisasi melalui anggaran dan telah menambah atau mengurangi
kas.
Prinsip layak temu biaya-pendapatan (matching-cost against revenue principle)
dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan
dalam akuntansi komersial.

c. Substansi Mengungguli Bentuk Formal (Substance Over Form)
Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa
lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu
dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya
aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak
konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus diungkapkan
dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

d. Periodisitas (Periodicity)
28

Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi
periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber
daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Periode utama yang digunakan adalah
tahunan. Namun, periode bulanan, triwulanan, dan semesteran juga dianjurkan.

e. Konsistensi (Consistency)
Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode
ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak
berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode
akuntansi yang lain. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat
bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik
dibanding metode lama. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

f. Pengungkapan Lengkap (Full Disclosure)
Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh
pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat
ditempatkan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan atau Catatan atas
Laporan Keuangan.

g. Penyajian Wajar (Fair Presentation)
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran, Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas,
Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Dalam rangka penyajian wajar, faktor pertimbangan sehat diperlukan bagi penyusun
laporan keuangan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu.
Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya
dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan.
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan
dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu
tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian, penggunaan
pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan
tersembunyi, sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah, atau
29

sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan
keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.

Berikut prinsip yang dapat diterapkan dalam akuntansi non-pemerintahan :
Prinsip Harga Perolehan
Dalam prinsip ini ditekankan bahwa aktiva, hutang, modal, penghasilan, dan biaya
hendaknya dicatat sebesar harga perolehan yang disepakati oleh kedua belah pihak
yang bertransaksi. Penggunaan prinsip ini didasari bahwa harga tersebut ditentukan
secara obyektif, jumlahnya sudah diketahui dan dapat diuji kebenarannya melalui bukti-
bukti transaksi. Pengukuran harga historis adalah melalui jumlah kas atau setara kas
(ekuivalen).
Prinsip Realisasi Penghasilan
Prinsip ini pada dasarnya mencakup pengertian, pengukuran dan pengakuan
penghasilan. Penghasilan adalah setiap pertambahan aktiva atau penurunan hutang yang
timbul dari penjualan barang atau jasa selama periode akuntansi tertentu. Pengukuran
penghasilan dapat ditentukan melalui jumlah kas atau ekuivalennya, jumlah aktiva yang
diterima, dan jumlah penurunan hutang. Beberapa metode pengakuan penghasilan
adalah:
Pertama pada saat penjualan barang atau jasa. Bila penjualan barang dan jasa
sudah tersedia dan dapat diukur secara pasti, maka metode ini dapat diterapkan.
Contohnya adalah pada lembaga perbankan ketika memberikan kredit, maka
saat komitmen direalisasi seluruh pendapatan nonbunga (provisi, administrasi,
biaya perpajakan, dan lain-lain) dari kredit tersebut langsung dicatat sebagai
pendapatan.
Kedua adalah pengakuan penghasilan dapat dilakukan pada saat sebelum
melakukan penjualan. Metode ini dapat digunakan kalau pemasaran barang dan
jasa sudah terjamin misalnya sudah adanya kontrak/perjanjian tertentu dengan
pihak lain, kemudian harganya sudah relatif pasti dan sebagian besar kegiatan
untuk memperoleh penghasilan dimaksud sudah dilaksanakan. Contohnya
adalah dalam transaksi call option.
Ketiga adalah pengakuan penghasilan didasarkan pada saat penerimaan kas.
Metode ini dapat dilakukan kalau risiko terjadinya piutang tidak tertagih atau
jangka waktunya relatif lama. Metode ini digunakan bank terutama bila
mengakui pendapatan bunga yang berasal dari kredit bermasalah atau bahkan
30

macet. Untuk kredit macet, pendapatan bunga tidak akan diakui menjadi
rekening nominal (pendapatan bunga) sebelum benar-benar direalisasi.

Prinsip Mempertemukan Pendapatan dan Biaya
Prinsip ini menghendaki bahwa hasil aktivitas perusahaan selama periode tertentu yang
diuangkan dalam laporan keuangan merupakan hasil dalam periode yang sama.
Pendapatan dan biaya harus sesuatu hal yang terjadi dalam waktu yang sama. Untuk
dapat mempertemukan pendapatan dan biaya dalam periode yang sama maka
diperlukan metode pengakuan pendapatan dan biaya. Pengakuan tersebut bisa
menggunakan dasar waktu (akuntansi berbasis akrual).

Prinsip Obyektif
Prinsip ini memberikan pengertian bahwa laporan keuangan yang dihasilkan haruslah
didasarkan pada data akuntansi yang didukung oleh bukti-bukti transaksi yang obyektif.
Bukti transaksi yang obyektif dapat diperoleh bila transaksi yang dilakukan
berdasarkan kesepakatan antara pihak-pihak yang bertransaksi, serta didukung oleh
pengawasan dan pengendalian internal yang baik.

Prinsip Pengungkapan Penuh
Laporan keuangan hendaknya dapat memberikan semua informasi baik yang bersifat
kualitatif maupun kuantitatif yang dapat mempengaruhi interpretasi dan pengambilan
keputusan para pemakainya (pemangku kepentingan). Untuk mencapai ini maka
laporan keuangan harus disusun secara baik sesuai dengan standar akuntansi yang
disepakati umum, menggunakan istilah-istilah yang tepat, memberikan catatan
tambahan, memberikan lampiran, catatan kaki, dan sebagainya.

Prinsip Konsistensi
Prinsip ini pada dasarnya mengatakan bahwa laporan keuangan tersebut harus
mempunyai daya banding. Daya banding ini untuk perusahaan-perusahaan yang sama
dalam periode yang berbeda atau dalam perusahaan yang berbeda untuk periode yang
sama. Daya banding laporan keuangan akan ditentukan oleh konsistensi penggunaan
teori, metode, dasar, pedoman, dan praktik akuntansi yang sama dengan yang
diterapkan sebelumnya. Konsistensi ini bukanlah harga mati, artinya pada kasus
tertentu ada metode yang tidak cocok dengan kondisi saat ini, maka perusahaan dapat
31

mengganti metode tersebut asalkan perusahaan menjelaskan tentang perubahan metode
tersebut dan pengaruh penggunaan metode tersebut terhadap angka-angka dalam
laporan keuangan.

K. SIKLUS AKUNTANSI
Siklus adalah perputaran dari awal sampai akhir sesuatu hal. Yang dimaksud di sini
adalah perputaran/langkah-langkah dalam membuat pembukuan dari awal sampai akhir dan
nanti kembali ke awal lagi. Dimana pencatatan akuntansi berlaku dalam satu periode,
umumnya untuk akuntansi di Indonesia satu periode adalah satu tahun Kalender. Misalnya,
periode tahun 2012 artinya pencatatan akuntansi dimulai dari 1 Januari 2012 sampai 31
Desember 2012. Kenapa disebut siklus? Ya, karena periode hanya berlaku dalam satu tahun,
maka untuk tahun berikutnya mutar lagi seperti tahun sebelumnya dan begitu seterusnya
sampai tidak ada batasnya, kecuali perusahaan itu ditutup.
Dengan menggunakan persamaan kita sudah dapat membuat laporan keuangan (Laba-
rugi, Perubahan modal dan Neraca). Lalu, apa dan kenapa harus menggunakan siklus
Akuntansi? Memang dengan persamaan kita sudah bisa membuat laporan keuangan, tapi
masih bersifat terbatas dan bila ada penambahan kelompok data (akun), maka akan kesulitan
menambah data tersebut. Hal ini disebabkan karena pencatatan bersifat ke kanan (berkolom).
Dengan menggunakan persamaan akan mengalami kesulitan bilamana data yang diolah sudah
semakin banyak dan komplek.
Untuk mengatasi masalah ini, maka diperlukan suatau pencatatan yang rapi, terstruktur
dan mudah digunakan dan harus mengikuti prinsip dan langkah-langkah atau metode yang
telah disepakati bersama oleh pakar akuntansi Indonesia yang tergabung dalam IAI (Ikatan
Akuntansi Indonesia). IAI membuat prinsip dan metode pencatatan akuntansi yang sudah
standar dan diterima oleh masyarakat yang disebut SAK (Standar Akuntansi Keuangan).
Mengenai pencatatan transaksi keuangan dengan menggunakan teknik pencatatan
tabelaris dan perkiraan (akun), kita akan melakukan pencatatan transaksi keuangan secara
lengkap yang sesuai dengan prosedur akuntansi atau dengan kata lain yang lebih sederhana
kita akan mencatat transaksi tersebut menurut siklus akuntansi yaitu dimulai dari pencatatan,
penggolongan sampai dengan pelaporan dalam bentuk Laporan Keuangan.

32


Keterangan :
Langkah awal dalam proses akuntansi adalah pensurveian terhadap transaksi keuangan,
karena berkaitan dengan transaksi keuangan munculah bukti transaksi yaitu nota, cek,
memo, bon,dll, setelah diadakan survey terhadap transaksi keuangan langkah
berikutnya adalah perencanaan, dari perencanaan kita akan mengadakan Analisis Bukti
Transaksi sehingga menghasilkan saldo debet dan kredit, setelah analisis bukti transaksi
langkah berikutnya adalah pencatatan transaksi keuangan kedalam Buku Jurnal dan
mengelompokan transaksi-transaksi keuangan tersebut kedalam Buku Besar
(pempostingan), di dalam buku besar akan dijumlah seluruh transaksi keuangan yang
sudah dikelompokan dan akan menghasilkan jumlah debit dan kredit yang berbeda
karena itu otomatis akan muncul saldo, saldo inilah yang akan masuk pada Neraca
Saldo, selanjutnya adalah pencatatan data penyesuaian kedalam jurnal penyesuaian
yang kemudian dilakukan pengolahan angka angka neraca saldo dengan jurnal
penyesuaian hingga menghasilkan neraca saldo disesuaikan,rugi laba, dan neraca dalam
Neraca Lajur atau kertas kerja, tahap berikutnya adalah penyusunan Laporan
Keuangan, setelah laporan keuangan disusun maka diadakan penutupan buku yaitu
persiapan memasuki periode akuntansi berikutnya, yang tercakup didalamnya:
Penyusunan Jurnal Penutup, pempostingan jurnal penyesuian dan jurnal penutup
kedalam rekening-rekening buku besar, menjumlahkan rekening-rekening buku besar,
penyusunan neraca saldo setelah tutup buku dan penyusunan Jurnal Pembalik.
33


1. Analisis Bukti Transaksi
Analisis Bukti Transaksi Keuangan merupakan Kegiatan yang dilakukan pertama
kali dalam suatu siklus akuntansi. Setiap transaksi keuangan yang dilakukan perusahaan
akan memunculkan bukti transaksi, bukti transaksi tersebut harus dianalisis untuk
dilakukan pencatatan dalam jurnal umum yang selanjutnya dari analisis ini akan
menghasilkan informasi keuangan diahir tahap Siklus Akuntansi.
Transaksi Keuangan adalah kejadian yang dapat mempengaruhi posisi keuangan
dari suatu badan usaha dan juga sebagai hal yang handal/wajar untuk
dicatat.Transaksi ini biasanya dibuktikan dengan adanya dokumen, sebagai contoh
transaksi yang dapat terjadi dalam suatu perusahaan adalah: pembayaran rekening
telepon bulanan, pembelian barang dagangan secara kredit, pembelian tanah dan
gedung, dan lain sebagainya.Suatu transaksi tertentu dapat menimbulkan peristiwa
atau keadaan yang mengakibatkan transaksi lainnya. Misalnya, pembelian barang
dagangan secara kredit akan disusul dengan transaksi lainnya, yaitu pembayaran kepada
kreditor.
Sebagaimana disebutkan diatas transaksi yang terjadi biasanya dibuktikan
dengan adanya dokumen. Suatu transaksi baru dikatakan sah atau benar bila
didukung oleh bukti- bukti yang sah, akan tetapi harus pula disadari bahwa ada
transaksi-transaksi yang tidak mempunyai bukti secara tertulis, misalnya pencurian
barang dagangan. Transaksi ini merupakan transaksi yang bersifat luar biasa.
Semua transaksi baik yang terjadi secara rutin atau tidak merupakan bahan untuk
menyusun laporan keuangan dengan jalan mencatat dan mengolah transaksi itu lebih
lanjut, jadi dapat disimpulkan bahwa bukti transaksi adalah bukti adanya peristiwa atau
kejadian yang berhubungan dengan keuangan yang berfungsi sebagai dasar pencatatan
akuntansi, sebagai bukti tertulis bila terjadi peristiwa hukum dimasa yang akan datang
dan sebagai dasar pencatatan, penerimaan dan pengeluaran keuangan.
Untuk dapat mencatat bukti transaksi kedalam buku jurnal maka bukti-bukti ini
harus dianalisis sehingga dapat diketahui debet atau kredit perlakuan yang tepat untuk
akun yang terkait dengan bukti transaksi tersebut, jadi fungsi Analisis Bukti Transaksi
yaitu untuk mempermudah pencatatan dalam pengelompokan akun debet atau kredit.
Untuk dapat mengnalisis suatu akun masuk debet atau kredit maka harus mengetahui
aturanaturan yang diperkenankan dalam akuntansi yaitu sebagai berikut:
34


Bukti transaksi adalah bukti adanya peristiwa yang berhubungan dengan
keuangan, fungsi Bukti Transaksi adalah sebagai dasar pencatatan akuntansi,sebagai
bukti tertulis bila terjadi peristiwa hukum dimasa yang akan datang, dan sebagai dasar
pencatatan, penerimaan, dan pengeluaran keuangan. Bukti-bukti asli yang dapat
mendukung setiap terjadinya transaksi- transaksi antara lain :
a. Kuitansi
Kuitansi merupakan bukti bahwa seseorang atau badan hukum telah
menerima sejumlah uang tunai
b. Faktur Penjualan dan Pembelian
Setiap penjualan secara kredit memerlukan bukti yang disebut faktur.
Bagi si penjual faktur tersebut merupakan faktur penjualan sebaliknya
faktur yang dikirimkan kepada sipembeli merupakan faktur pembelian.
c. Bukti-Bukti Lain
Disamping kwitansi dan faktur terdapat bukti lain, misalnya: nota-nota dari
Bank (nota debet atau nota kredit) , serta bukti pengirirnan atau penerimaan
barang.

Jadi, Bukti transaksi keuangan merupakan bukti adanya peristiwa atau kejadian
yang berhubungan dengan keuangan yang berfungsi sebagai dasar pencatatan
akuntansi, Bukti transaksi ini harus dianalisis untuk mempermudah pencatatan dalam
pengelompokan akun debet atau kredit. Setelah diadakan analisis yang tepat maka
dilanjutkan dengan pencatatan ke dalam Jurnal Umum




AKUN/REKENING BERTAMBAH BERKURANG
Harta Debet Kredit
Hutang Kredit Debet
Modal Kredit Debet
Pendapatan/Penjualan Kredit Debet
Beban/Pembelian Debet Kredit
35

2. Jurnal Umum
Secara umum jurnal, dapat dikatakan sebagai, buku atau formulir
yang digunakan dalam mencatat semua transaksi perusahaan secara
kronologis. Kenapa buku atau formulir, karena hanya merupakan media pencatatan
yang paling penting adalah bahwa transaksi harus dicatat secara kronologis, sehingga
akan dapat menyajikan kondisi keuangan yang sebenarnya. Jurnal dapat juga
dikatakan sebagai suatu buku harian untuk mencatat segala transaksi
secara kronologis, dimana dalam pencatatan ini sudah ditentukan judul
akun yang diperlukan serta jumlah uang yang harus di debit dan jumlah uang
yang harus di kredit.
Adapun jenis jurnal yang biasa digunakan adalah jurnal umum dan
jurnal khusus. Jurnal khusus hanya digunakan untuk transaksi tertentu saja,
sedangkan jurnal umum dapat digunakan untuk semua jenis transaksi.
Selanjutnya akan kita pelajari dulu mengenai jurnal umum (general
journal). Jurnal ini dikatakan jurnal umum karena jurnal ini yang paling umum
dipakai oleh perusahaan. Jurnal umum ini dikenal juga dengan nama jurnal dua
kolom (teo column journal) dan dikatakan demikian karena jurnal ini
mempunyai 2 kolom, yaitu kolom debit dan kolom kredit.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka tujuan dibuatnya jurnal umum adalah
sebagai buku perantara, yaitu untuk mempermudah dalam memasukkan
transaksi ke dalam buku besar (general ledger).
Di dalam praktik akuntansi yang sesungguhnya, pencatatan atas suatu
transaksi atau sekelompok transaksi yang sama, harus didasari oleh tanda
bukti berupa dokumen transaksi seperti faktur, kwintansi, nota debet, nota kredit,
cek dan bukti lainnya. Dari dokumen ini transaksi di catat ke dalam jurnal baru
kemudian di posting ke buku besar.
Pengaruh transaksi tidak dicatat secara langsung dalam buku besar,
tetapi masing-masing transaksi dianalisi s dahulu pengaruhnya terhadap
elemen-elemen laporankeuangan (aktiva, kewajiban, modal, pendapatan atau biaya)
selanjutnya hasil analisis dicatat dalam jurnal dan kemudian baru dipindahkan ke buku
besar.
Buku Jurnal Adalah buku harian untuk mencatat transaksi keuangan menurut
urutan tanggal ke dalam kelompok akun debet dan akun kredit. Dalam akuntansi
36

keuangan dikenal dua jenis buku jurnal, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus. Jurnal
Umum digunakan sebagai media untuk mencatat seluruh jenis transaksi keuangan tanpa
terkecuali. Buku jurnal khusus digunakan sebagai media untuk mencatat transaksi-
transaksi tertentu yang menjadi bagian dari jurnal khusus yang bersangkutan. Dalam
Praktik, perusahaan dapat memilih penggunaan jenis buku jurnal sesuai dengan
kebutuhannya. Adapun dasar pemilihan jenis buku jurnal yang akan digunakan adalah
faktor efesiensi dan efektifitas bagi perusahaan tersebut.
Jurnal umum berfungsi untuk mencatat semua jenis transaksi perusahaan,
sedangkan bentuk jurnal umum terdapat berbagai bentuk mulai dari yang sederhana
sampai yangrumit.
Tujuan penjurnalan adalah untuk mengidentifikasi, menilai, dan mencatat
dampak ekonomi dari transaksi terhadap perusahaan secara kronologis, untuk
mempermudah pemindahan ke dalam perkiraan. Menjurnal atau penjurnalan adalah
proses pencatatan transaksi keuangan kedalam buku jurnal sesuai urutan terjadinya.
Pencatatan transaksi ke dalam jurnal umum ini merupakan tahap kedua dari Siklus
Akuntansi setelah kita Menganalisa Bukti Transaksi.
Kita perlu melakukan proses pencatatan dalam buku jurnal karena dengan jurnal
kita dapat mengetahui hal- hal sebagai berikut :
Dianalisa apakah itu akan berakibat bertambahnya atau berkurangnya satu
atau lebih perkiraan.
Dianalisa jumlah yang harus dicatat kepada satu perkiraan atau lebih.
Dianalisa apakah satu/atau lebih perkiraan di debet atau kredit.
Dianalisa bahwa akibatsuatu transaksi jumlah jangka rupiah yang harus di
debet dengan yang harus di kredit harus sama.
Dapat dibuat tanda/reference bahwa suatu jumlah telah diposting ke
perkiraan yang sesuai dengan di buku besar. Sesuai dengan nomor
perkiraan.
Bentuk-bentuk jurnal yang sangat kompleks biasanya adalah jurnal khusus
(dirancang dalam sistem informasi akuntansi). Sedangkan jurnal umum
biasanya merupakan bentuk jurnal yang paling sederhana dan merupakan
bentuk standar, yang disebut jurnal dua kolom. Sebenarnya kolom yang
terdapat dalam jurnal ini lebih dari dua buah, tetapi kolom yang tersedia untuk
37

mencatat jumlah rupiahnya hanya dua, yaitu satu kolom untuk mencatat jumlah rupiah
yang di debet dan kolom lain untuk mencatat jumlah rupiah yang di kredit.
Berikut kolom Jurnal umum :
Tanggal No Bukti Keterangan Ref Debit Kredit




Keterangan :
a. Tanggal, merupakan hal yang sangat penting karena memungkinkan kapan
terjadinya transaksi
b. Kolom nomor bukti Digunakan untuk mencatat nomor bukti transaksi yang
menjadi dasar terjadinya suatu transaksi
c. Nama perkiraan/ akun, atau rekening
d. Kolom referensi (ref)
Kolom referensi digunakan untuk mencatat nomor rekening yang
bersangkutan. Kolom referensi ini diisi jika rekening yang bersangkutan
angkanya telah dipindah kedalam buku besar.
e. Kolom debet, menunjukkan jumlah yang didebet
f. Kolom kredit, menunjukkan jumlah yang dikredit.

Proses pencatatan / penjurnalan mengikuti lima langkah berikut ini :
a) Mengidentifikasikan transaksi dari dokumen sumbernya, misalnya dari slip
deposito bank, penerimaan penjualan dan cek.
b) Menentukan setiap perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut dan
mengklasifikasikan berdasarkan jenisnya (aktiva, kewajiban atau modal).
c) Menetapkan apakah setiap perkiraan tersebut mengalami penambahan atau
pengurangan yang disebabkan oleh transaksi itu.
d) Menetapkan apakah harus mendebet atau mengkredit perkiraan.
e) Memasukkan transaksi tersebut kedalam jurnal

Contoh Jurnal Umum
Berikut ini adalah transaksi yang terjadi pada koperasi serba usaha LABS
CIBUBUR selama bulan April 2012 :
38

1 April menerima modal awal sebesar Rp 10.000.000
2 April menjual ATK sebesar Rp 1.200.000
4 April membayar sewa gedung Rp 800.000
5 April membayar listrik Rp 300.000
10 April menjual SEMBAKO Rp 500.000
11 April membayar gaji karyawan Rp 3.000.000
14 April menerima jasa usaha Rp 500.000
21 April menjual komputer 1 unit Rp 2.000.000
23 April membayar iuran sampah Rp 200.000
25 April membayar tagihan telepon Rp 400.000


3. Posting Dari Jurnal Umum Ke Buku Besar
Proses memindahkan ayat-ayat jurnal yang telah dibuat dalam buku jurnal ke
dalam buku besar disebut posting. Hal ini dilakukan dengan cara memindahkan jumlah
darikolom debit jurnal ke dalam sisi debit rekening dan memindahkan jumlah dari
kredit jurnal ke dalam sisi kredit rekening dan memindahkan jumlah dari kredit jurnal
kedalam sisi kredit rekening. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, nama
rekeningyang diposting di buku besar harus sesuai dengan nama rekening yang tertulis
didalam jurnal. Urutan kegiatan memindahkan ke rekening buku besar ini harus
sejalandengan urutan mendebit dan mengkredit dari jurnal.
Dalam perusahaan-perusahaan besar biasanya posting ke buku besar
dilakukandengan menggunakan mesin pembukuan atau secara otomatis dilakukan
39

dengankomputer. Apabila posting dilakukan dengan tangan (dengan secara manual),
makacara yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Tanggal dan jumlah yang dicatat dalam jurnal dicatat kembali dalam
rekeningyang bersangkutan. Apabila suatu jumlah yang dicatat di sisi debit
dalam jurnal, maka posting harus dilakukan ke sisi kredit rekening. Cara
mencatat tahun, bulan dan tanggal, sama dengan yang dilakukan dalam jurnal.
2. Apabila posting telah dilakukan, maka nomor halaman jurnal harus dituliskan
dalam kolom F (Folio) di rekening (buku besar).
3. Langkah berikutnya adalah menuliskan nomor rekening yang telah
diposting pada kolom Nomor Rekening di dalam jurnal. Prosedur ini
mempunyai duatujuan, yaitu:
a. Untuk menunjukkan bahwa jurnal tersebut sudah di posting.
b. Untuk menunjukkan hubungan antara jurnal dan rekening di buku besar.

Sistem akuntansi dirancang dengan sebaik-baiknya sehingga setiap kenaikan
dan penurunan pada setiap pos laporan keuangan akan selalu terdeteksi dan terlihat
dalam catatan terpisah. Catatan ini disebut dengan nama rekening (account/akun).
Masing-masing catatan ini untuk masing-masing pos tersebut. Kumpulan akun dalam
entitas usaha disebut buku besar (ledger), sedangkan nomor atau kode dalam buku
besar disebut kode rekening (chart of account).
Buku besar yang terdiri atas rekening-rekening adalah alat untuk mencatat
transaksi perusahaan. Dalam buku besar pengaruh transaksi-transaksi perusahaan
diklasifikasikan dan diringkas. Di dalam praktik akuntansi yang sesungguhnya.
Pencatatan atas suatu transaksi atau sekelompok transaksi yang sama, harus didasari
oleh tanda bukti berupa dokumen-dokumen transaksi seperti faktur, kwitansi dan
sebagainya. Pengaruh transaksi tidak dicatat secara langsung dalam buku besar,
tetapimasing-masing transaksi dianalisis dahulu pengaruhnya terhadap elemen-
elemen persamaan akuntansi (aktiva, kewajiban, modal, pendapatan atau biaya) dan
kemudian baru dipindahkan ke buku besar.
Buku besar merupakan buku referensi dari sistem informasi akuntansi yang
digunakan untuk mengklasifikasikan dan mengikhtisarkan transaksi-transaksi dan
menyiapkan data guna penyusunan laporan keuangan. Buku besar juga merupakan
sumber informasi yang berharga bagi kepentingan manajemen, misalnya, dapat
40

memberikan informasi mengenai jumlah penjualan periode tertentu atau saldo kas pada
akhir periode tertentu, dan informasi lainnya
Buku Besar merupakan daftar transakasi secara kronologis yang berupa
pengelompokkan masing-masing perkiraan, atau buku yang berisi semua rekening-
rekening (kumpulan rekening) yang ada dalam laporan keuangan yang sumbernya dari
Jurnal. Proses pengelompokkan akun dari jurnal ke buku besar disebut posting. Buku
besar mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada masing-masing rekening dan
pada akhir periode akan tampak saldo dari rekening-rekening tersebut. Setiap transaksi
yang telah dicatat dalam jurnal akan diposting atau dipindahkan ke Buku Besar secara
berkala.
Akun buku besar kadang-kadang tidak mencerminkan data secara rinci, seperti
rekening Utang, Piutang dan Persediaan Barang Dagang. Untuk mengetahui Utang,
Piutang dan Persediaan Barang Dagang secara rinci, diperlukan rekening-rekening lain
yang dikelompokkan dalam suatu buku atau kumpulan kartu-kartu yang disebut buku
besar pembantu (subsidiary ledger). Dengan demikian ada buku besar pembantu utang,
buku besar pembantu piutang dan buku besar pembantu barang dagang.
Buku besar memiliki kegunaan yaitu untuk memudahkan menyusun informasi
yang akan diberikan kepada pihak- pihak yang memerlukannya terutama pimpinan
perusahaan maka perkiraan- perkiraan yang sudah dihimpun didalam buku harian
tersebut harus pula dipisah-pisahkan atau digolongkan menurut jenisnya.
Menggolongkan perkiraan menurut jenis perkiraan tersebut dinamakan menyusun
buku besar, jadi buku besar itu merupakan penggolongan perkiraan menurut jenisnya.
Jumlah buku besar yang dimiliki perusahaan tergantung pada banyaknya jenis
perkiraan yang ditimbulkan oleh transaksi-transaksi perusahaan tersebut, karena
masing-masing jenis besarnya sendiri- sendiri.

Bentuk-bentuk buku besar :
Metode yang sistematis untuk mengidentifikasikan dan menempatkan setiap
rekening sangat diperlukan. Kode rekening merupakan daftar rekening-rekening
yangdiungkapkan dengan menggunakan angka-angka. Pada beberapa perusahaan,
nomor rekening bisa terdiri dari ratusan item. Nomor rekening dicantumkan di atas sub
judul masing-masing rekening.

41

1. Bentuk T (T account) Bentuk buku besar ini adalah yang paling sederhana
dan hanya berbentuk seperti huruf T besar. Sebelah kiri menunjukan sisi
Debet dan sebelah kanan menunjukan sisi Kredit. Nama akun diletakan di
kiri atas dan kode akun diletakan di kanan atas.


2. Bentuk Skontro; Buku besar bentuk skontro biasa disebut bentuk dua
kolom. Skontro artinyasebelah menyebelah(dibagi dua) yaitu sebelah debet
dan sebelah kredit. Contoh buku besar skontro :

Nama akun: kode:

3. Bentuk staffle (berkolom saldo tunggal) Bentuk ini digunakan jika
diperlukan penjelasan dari transaksi yang realtif banyak. contohnya
dibawah ini :

4. Bentuk Staffle berkolom saldo rangkap Bentuk ini hamper sama dengan bentuk
kolom saldo tunggal. Hanya perbedaannya kolom saldo dibagi dua kolom yaitu
kolom debet dan kolom kredit, contohnya di bawah ini :



42



Tata Cara Mendebet Dan Mengkredit
Akuntansi mempunyai konversi bahwa untuk rekening-rekening tertentu
penambahan diletakkan di sebelah kiri dan untuk beberapa rekening yang lain
penambahan diletakkan di sebelah kanan. Konvensi adalah suatu kebiasaan yang sudah
berjalanlama dalam praktik maupun disiplin pengetahuan sehingga dianggap sebagai
suatu kesepakatan yang berlaku dan menjadi pedoman umum. Konversi akuntansi yang
dimaksud di sini adalah aturan pencatatan jumlah dalam rekening dan penyajian dalam
laporan keuangan. Konvensi pencatatan dalam buku besar sebagai berikut:
1. Kolom atau sisi sebelah kiri disebut dengan debit dan kolom atau sisi sebelah
kanan disebut dengan kredit.
2. Aktiva disajian dalam neraca disebelah kiri (debit). Sebagai konsekuensinya,
kalau aktiva bertambah/ naik maka dicatat sebelah debit.
3. Pasiva disajikan dalam neraca disebelah kanan (kredit).
Sebagaikonsekuensinya, kalau pasiva bertambah/naik maka dicatat sebelah
kredit.
4. Akuntansi mendasarkan pada konsep kesatuan usaha yang
mengakibatkan pencatatan akuntansi menggunakan sistem berpasangan.
Dengan demikian,setiap transaksi minimal akan mempengaruhi dua pos atau
rekening.
5. Kalau suatu jumlah transaksi telah dicatat dalam suatu rekening di sebelah
debit maka jumlah yang sama harus dicatat disebelah kredit dalam satu
atau beberapa rekening dalam jumlah yang sama, demikian pula sebaliknya.
Berdasarkan konvensi akuntansi tersebut di atas, jika suatu jumlah dimasukkan di
sisi kiri suatu rekening atau sebelah debit, rekening tersebut disebut didebit. Jika
suatu jumlah dimasukkan di sisi kanan atau sebelah kredit dikatakan bahwa rekening
43

tersebut dikredit.

Penggolongan Buku Besar
Rekening (Akun) dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu:
a. Rekening riil/neraca, yaitu rekening yang dilaporkan ke neraca. Saldo rekening
terbawa dari periode ke periode berikutnya. Ada tiga kelompok rekening riil,
ialah harta/aktiva/asset, utang, dan modal/ekuitas.
b. Rekening nominal (laba/rugi), yaitu rekening yang disajikan dalam laporan
laba/rugi. Rekening nominal terbagi dalam dua kelompok, ialah pendapatan
dan beban. Saldo rekening pendapatan dan beban dipindahkan ke rekening
modal/ekuitas.
4. Neraca Lajur
Setelah seluruh transaksi selama periode dibukukan di buku besar, dihitung.
Setiap saldo masing-masing perkiraan dapat perkiraan akan memiliki saldo debet,
kredit, atau nol. Neraca saldo adalah suatu daftar dari saldo-saldo perkiraan ini, dan
karenanya menunjukkan apakah total debet sama dengan total kredit. Jadi suatu neraca
saldo merupakan suatu alat untuk mengecek atas kecermatan pencatatan dan
pembukuan.
Dalam neraca saldo terdapat hampir semua perkiraan pendapatan dan beban
perusahaan. Dikatakan hampir semua, karena masih ada pendapatan dan beban yang
mempunyai pengaruh lebih dari satu periode akuntansi. Itulah sebabnya neraca ini
disebut dengan neraca saldo yang belum disesuaikan. Untuk itu diperlukan jurnal
penyesuaian.

5. Jurnal Penyesuaian
Ayat jurnal penyesuaian atau disebut juga Adjusting Entries, biasanya dibuat
padasetiap akhir periode akuntansi, dengan tujuan untuk memperbaiki rekening-
rekening tertentu sehingga mencerminkan keadaan harta, hutang, modal, pendapatan,
dan biayayang sebesarnya dari suatu perusahaan.
Pada tiap akhir periode akuntansi, bila perusahaan ingin menyusun laporan
keuangan biasanya diadakan penyesuaian terhadap beberapa rekening karena belum
mencerminkan keadaan sebenarnya, sehingga bila tidak diadakan penyesuaianlaporan
keuangan akan menyesatkan pemakainya.
44

Penyesuaian dilakukan agar, memperlihatkan kondisi keuangan perusahaan yang
sebenarnya, karena selama ini ada anggapan bahwa semua neraca saldo yang sudah
seimbang, berarti sudah memperlihatkan kondisi yang sebenarnya. Padahal
masih banyak yang perlu disesuaikan atau diperbaiki, karena ada dua kondisi yang
akhirnya mengharuskan membuat ayat jurnal penyesuaian yaitu:
1. Suatu kondisi dimana suatu transaksi sudah terjadi, tetapi belum
dilakukan pencatatan pada rekening yang bersangkutan.
2. Kondisi dimana suatu rekening sudah dicatat, tetapi kondisi saldo
rekeningnya perlu dikoreksi, sehingga akan mencerminkan nilai yang
sebenarnya.

Ayat Jurnal Penyesuaian
Dibuatnya AJP terhadap perkiraan tertentu, pada intinya melakukan koreksi
terhadap perkiraan tersebut supaya mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari
aktiva, pasiva serta pendapatan dan biaya. Ada dua macam dimana perlu
dilakukan membuatAJP yaitu:
1. Transaksi telah terjadi tetapi belum dicatat dalam perkiraan contoh biaya
gaji.
3. Transaksi sudah dicatat dalam perkiraan, tetapi saldonya
perlu perlengkapannya.
Secara umum contoh langkah-langkah penyusunan AJP adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi rekening-rekening yang perlu dilakukan penyesuaian
b. Setelah rekening diketahui, maka dibuat debet dan kredit dari rekening
yangdiseduaikan
c. Menghitung angka / nilai dengan benar dalam rekening yang disesuaikan
Adapun perkiraan yang biasanya di adjustment pada akhir tahun
biasanya berpengaruh pada neraca dan rugi/laba, sehingga adjustment entries bisa
dibagi menjadi:
1. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi biaya dan hutang
Jurnal penyesuaian ini perlu dibuat karena adanya biaya yang telah
terjadi,tetapi belum dicatat, biaya-biaya masih harus dibayar (accrued
expense).


45

2. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi rekening biaya dan aktiva
Jurnal penyesuaian ini perlu dibuat karena saldo perkiraan yang ada
sudahtidak mencerminkan kedaan biaya dan aktiva yang sebernarnya.
3. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi rekening pendapatan dan aktiva.
Jurnal penyesuaian ini berhubungan dengan pendapatan yang telah
dihasilkantetapi belum dicatat. Kadang-kadang pendapatan ini disebut
pendapatan masihharus diterima (accrued revenue).
4. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi perkiraan dan utang
Jurnal penyesuaian ini berhubungan dengan saldo perkiraan pendapatan
atau hutang yang sudah tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
Penerimaan uang untuk pendapatan yang belum dihasilkan adalah contoh
dari jurnal penyesuaian penerimaan uang itu akan menjadi pendapatan di
masa datang.Pendapatan jenis ini disebut pendapatan diterima dimuka
(unearned revenue).
Dalam sebuah perusahaan dagang jurnal penyesuaian yang biasanya dilakukan
pada akhir tahun adalah:
a. Pemakaian biaya dibayar dimuka
b. Pemakaian aktiva tetap
c. Pemakaian biaya terhutang
d. Koreksi persediaan
Dari keempat jurnal penyesuaian tersebut koreksi terhadap persediaan
merupakan jurnal penyesuaian yang belum dibahas sebelumnya. Adapun masing-
masing contoh jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut :
a. Pemakaian biaya dibayar dimuka
b. Pemakaian aktiva tetap
c. Pengakuan biaya terhutang
d. Koreksi persediaan

Rekening Yang Harus Disesuaikan
Penyusutan / Depresiasi Aset Tetap
Seluruh aset tetap kecuali tanah yang dimiliki perusahaan harus
disusutkan/didepresiasi. Terdapat beberapa metode untuk menyusutkan aset
tetap, salah satunya adalah metode garis lurus.
Contoh :
46

Sebuah mobil seharga Rp 90.000.000,- diperkirakan umur ekonomisnya adalah
10 tahun, apabila disusutkan menggunakan metode garis lurus maka beban
depresiasinya per tahun adalah:
90.000.000 = Rp 9.000.000; per tahun
10

Pemakaian Biaya Dimuka
(biaya-biaya yang sudah dibayar tetapi sebenarnya harus dibebankan pada
periode yang akan datang).
Perusahaan kadangkala membayar suatu biaya yang belum terjadi yang lazim
disebut "biaya dibayar dimuka". Misalnya pada tanggal 1 Oktober Th X,
perusahaan membayar sewa ruangan untuk masa satu tahun ke depan sebesar
Rp 1.200.000,00. Pada saat dibayar, belum seluruh manfaat pembayaran
tersebut dirasakan oleh perusahaan. Terdapat dua pendekatan untuk mencatat
pembayaran itu yaitu "pendekatan harta" dan "pendekatan beban".
Dengan adanya pembayaran tersebut, uang perusahaan berkurang oleh karena
itu menurut kedua pendekatan tersebut, rekening "Kas" dikredit sebesar Rp
1.200.000,00. Perbedaannya terletak pada rekening yang didebet.
a. Pendekatan Harta
Rekening harta yaitu "Sewa dibayar di Muka" didebet.
Jurnal saat transaksi:
Tanggal No Bukti Rekening Ref D K
1/10 Sewa di bayar di muka
Cash
1.200.000
1.200.000

Selanjutnya sampai dengan 31 Desember th X, perusahaan baru
menggunakan ruangan selama 3 bulan, sehingga sewa untuk 3 bulan
(Rp 300.000,00) harus dicatat di rekening "Biaya Sewa" untuk
dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi.
Untuk itu dibuat jurnal penyesuaian sebagai berikut:
47

Tanggal No Bukti Rekening Ref D K
31/10 Beban sewa
Sewa di bayar dimuka
300.00
300.000

b. Pendekatan beban
Rekening beban/biaya yaitu "Beban/Biaya Sewa" didebet.
Jurnal saat transaksi :
Tanggal No bukti Keterangan Ref D K
1/10 Beban sewa 1.200.000
Kas 1.200.000

Selanjutnya sampai dengan 31 Desember 2002, perusahaan baru
menggunakan ruangan selama 3 bulan, sehingga sewa untuk 3 bulan
(Rp 300.000,00) harus dicatat di rekening "Biaya Sewa" untuk
dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi.
Untuk itu dibuat jurnal penyesuaian sebagai berikut:
Tanggal No bukti Keterangan Ref D K
1/10 Sewa di bayar dimuka 900.000
Beban sewa 900.000


Pengakuan Biaya
a. Hutang Gaji
Upah dan gaji yang telah menjadi hak pegawai tapi belum saatnya
dibayar merupakan hutang perusahaan hutang ini serta biaya yang
berhubungan dengannya belum dicatat, sehingga perlu dibuat ayat
jurnal penyesuaian upahdan gaji di suatu perusahaan misal akan
dilakukan pada tanggal 28 Desember 2005. Pembayaran berikutnya
dari tanggal 14 Januari 2006 tetapi upah dangaji tanggal 30 dan 31
Desember 2005 sudah merupakan biaya untuk bulantersebut karena
jasanya sudah diberikan upah dan gaji tersebut misalnya Rp.600.000.
Ayat jurnal yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:

48

b. Hutang Bunga
Sebagaimana hutang gaji, hutang bunga adalah hutang untuk beban
bungayang jasanya telah digunakan telah digunakan pembayarannya
belum tiba.Misalnya pada tanggal 27 Februari 2005 PT. B mendapat
pinjaman dari bank sebesar Rp.60.000 tahun bungan 18% per tahun
pembeban bunga dilakukantiap bulan. Pembebanan terakhir tanggal 27
Desember 2005, pembebananselanjutnya baru dilakukan tanggal 27
Januari 2006 bunga dari tanggal 28 s.d.31 Desember 2005 yang
seharusnya sudah menjadi biaya untuk bahantersebut belum dicatat.
Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat bunga sebesar Rp.400 adalah
sebagai berikut:

Pendapatan Diterima Dimuka
Dalam akuntansi, penerimaan uang yang jasanya belum diberikan kepada
pihak pembayar disebut "Pendapatan Diterima Dimuka". Terdapat 2 cara
pencatatan atas "Pendapatan Diterima Dimuka", yaitu: Pendekatan Hutang dan
Pendekatan Pendapatan. Misalkan untuk pembahasan berikut, Maskapai
Penerbangan Garuda pada tanggal 1 Desember th X menjual tiket pesawat
dengan total harga Rp 15.000.000,00. Sampai dengan 31 Desember th X harga
tiket atas penumpang yang sudah diberangkatkan berjumlah Rp 9.000.000,00.
Piutang pendapatan / Pendapatan yang masih harus diterima
(pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum dicatat)
Contoh:
Tanggal 31 Desember sebuah hotel belum menerima pembayaran sewa kamar
sebesar Rp 500.000; karena pembayaran baru dilakukan pada saat check out.
Dari kondisi tersebut maka dibuat jurnal penyesuaian sebagai berikut:

49

Tanggal No bukti Keterangan Ref D K
31/12 Piutang pendapatan 500.000
pendapatan 500.000

Biaya Pemakaian Perlengkapan
(bagian dari harga beli perlengkapan yang telah dikonsumsi selama periode
akuntansi)
Perlengkapan perlu dibuatkan jurnal penyesuaian karena perlengkapan yang
sudah terpakai dicatat / diakui sebagai beban yang akan dilaporkan dalam
laporan laba-rugi.
Contoh :
Pada neraca saldo tanggal januari 1988 Saldo perlengkapan sebesar 137.450
Perlengkapan yang masih tersisa tanggal 31 Desember 1998 sebesar Rp.
47.900.
Jawab :
Jumlah perlengkapan yang tersisa Rp. 47.900, berarti pemakaian perlengkapan
tahun 1998 adalah Rp. 89.550 (Rp. 137.450 Rp. 47.900), Maka jurnal
Penyesuaian yang dibuat adalah sbb:
Tanggal No bukti Keterangan Ref D K
31/12 Biaya perlengkapan 89.550
Perlengkapan kantor 89.550


6. Kertas Kerja dan Laporan Keuangan
Dalam melakukan penyusunan laporan keuangan pada akhir periode setelah
posting ke dalam buku besar, untuk mempermudah menyusun laporan keuangan
tersebut harus dibuat dulu worksheet (kertas kerja) yang memuat Trial Balance dari
hasil posting tersebut. Dalam work sheet tersebut biasanya terdapat kolom nomor
urut, penjelasan perkiraan, kolom trial balance, kolom Adjustment entries, kolom
trial balance sesudah adjustment entries, kolom R/L dan kolom balance sheet,
dalam pengisian kolom tersebut berasal dari buku besar dan data perkiraan yang harus
diadjustmentkan, sesudah selesai membuat adjustment kita dapat memilih
mana perkiraan Laba Rugi dan mana yang balance sheet, dari data tersebut kita dapat
menyusun laba-rugi, neraca dan laporan perubahan modal.
50

Penyusunan laporan keuangan tersebut bisa dilakukan secara cepat dan akurat,
karena worksheet ibarat peta yang bisa membantu kekurangan dan kesalahan yang ada
dalam pencatatan.

Tahap Penyusunan Laporan Keuangan
1. Membuat Trial balance datanya diambil dari buku besar data yang diambil
adalah saldo akhir kecuali untuk persediaan yang memakai sistem physical dan
laba ditahan dimana yang diambil datanya adalah saldo awal.
2. Melakukan adjustment terhadap sebagian saldo-saldo yang ada dalam
trial balance, data untuk adjustment barang diambil dari rekening-rekening
yangmemerlukan penyesuaian, tujuannya agar saldo-saldo yang
diadjusmentkanmencerminkan keadaan yang sebenarnya.
3. Menyusun trial balane yang sudah disesuaikan.
4. Menyusun laporan rugi laba.
5. Menyusun Laporan Neraca

Dari informasi yang ada dalam worksheet tersebut bisa disusun laporan
keuanganyang terdiri dari Neraca, laba-rugi dan laporan perubahan modal, adapun
contoh dari worksheet dan laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut:
Komponen-komponen yang dalam laporan laba-rugi terdiri dari:

Penjualan Bersih
Adalah jumlah yang dibebankan pada pembeli, karena penjualan barang dan jasa,
baik secara kredit maupun tunai, penjualan retur, pengurang harga sesuai potongan
penjualan dilaporkan sebagai pengurangan penjualan bruto yangmenghasilkan
penjualan bersih.

Harga Pokok Penjualan
Harga pokok penjualan dalam persediaan barang merupakan gabungankomponen-
komponen persediaan awal ditambah pembelian, dikurangi persediaan akhir.




51

Laba Bruto
Merupakan selisih antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualandisebut
laba bersih (Gross profit) atau margin kotor (gross margin) disebut bruto karena
jumlah bersih harus dikurangi dengan biaya-biaya usaha.

Biaya-biaya Usaha
Biaya usaha biasanya dikelompokkan lagi menjadi biaya penjualan
(sellingexpense) dan biaya administrasi umum (General dan administrative
expense) biaya paling penjualan adalah semua biaya yang terjadi dalam
hubungannyadengan kegiatan menjual dan memasarkan barang-barang yang
dijual,sedangkan biaya administrasi dan umum adalah biaya yang bersifat umum
dan muncul karena kegiatan administratif yang ada di tiap kantor.

Biaya Lain-Lain
Biaya yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dan pasti dalam
kegiatan pokok perusahaan tersebut dengan biaya lain-lain (other expense) atau
biaya non usaha (non operating expense) contoh biaya bunga.

Laba Bersih
Merupakan kenaikan bersih terhadap modal, sebaliknya apabila perusahaan
menderita rugi, maka angka terakhirnya adalah rugi bersih.

7. Jurnal Penutup
Jurnal Penutup ialah ayat jurnal yang memindahkan nilai sisa pendapatan, beban,
dan pengambilan pribadi dari masing-masing perkiraan ke dalam perkiraan modal.
Pendapatan yang akan menambah modal pemilik dan beban serta pengambilan pribadi
akan mengurangi modal pemilik. Pada saat ayat penutup dipindah bukukan maka
perkiraan modal akan menyerap dampak dari nilai sisa perkiraan sementara tersebut.
Walau demikian, pendapatan dan beban akan dipindahkan terlebih dahulu kedalam
perkiraan yang bernama Ikhtisar Laba Rugi, yang akan mengumpulkan jumlah total
debet dari seluruh jumlah beban dan total kredit dari seluruh jumlah pendapatan pada
periode tersebut. Perkiraan Ikhtisar lata rugi merupakan suatu tempat penyimpanan
sementara yang akan digunakan pada proses penutupan. Kemudian nilai sisa dari
52

Ikhtisar laba rugi tersebut akan dipindahkan kedalam modal. Langkah-langkah
penutupan perkiraan suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
Mendebet setiap perkiraan Pendapatan sebesar nilai sisa kreditnya.
Mengkredit Ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total pendapatan. Ayat jurnal
ini memindahkan jumlah total pendapatan kedalam sisi kredit dari Ikhtisar
laba rugi.
Mengkredit setiap perkiraan beban sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet
Ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total beban. Ayat jurnal ini memindahkan
jumlah total beban ke dalam sisi debet dari Ikhtisar laba rugi.
Mendebet Ikhtisar laba rugi sebesar nilai sisa kreditnya dan mengkredit
perkiraan modal.
Mengkredit perkiraan Pengambilan Pribadi sebesar nilai sisa debetnya.
Mendebet perkiraan modal pemilik perusahaan.

8. Neraca Saldo Setelah Penutupan
Siklus akuntansi akan berakhir dengan neraca saldo setelah penutupan. Neraca
saldo setelah penutupan adalah pengujian terakhir mengenai ketepatan penjurnalan dan
pemindah bukuan ayat jurnal penyesuaian dan penutupan. Seperti halnya neraca saldo
yang terdapat pada awal pembuatan neraca lajur, neraca saldo setelah penutupan adalah
daftar seluruh perkiraan dengan nilai sisanya. Langkah ini dilakukan untuk meyakinkan
bahwa buku besar berada pada posisi yang seimbang untuk memulai periode akuntansi
berikutnya. Neraca saldo setelah penutupan diberi tanggal perakhir periode akuntansi
dimana laporan tersebut dibuat.
Isi perkiraan Neraca adalah nilai sisa akhir dari daftar permanen yaitu perkiraan
neraca: aktiva, kewajiban dan modal. Didalamnya tidak termasuk perkiraan sementara,
seperti perkiraan pendapatan, beban atau pengambilan pribadi, karena nilai sisa
perkiraan tersebut telah ditutup.
Jika jumlah posisi debit suatu perusahaan lebih besar dari jumlah kredit, selisihnya
disebut saldo debit tetapi sebaliknya jika jumlah sisi kredit suatu rekening lebih besar
dari jumlah sisi debit, maka disebut saldo kredit. Jika hasil perhitungan dilakukan
dengan benar jumlah kolom debit harus sama dengan jumlah kolom kredit.
Setiap transaksi akan menghasilkan jumlah debit dan kredit yang seimbang di
buku besar, total jurnal debit di buku besar seharusnya seimbang dengan total semua
jurnal kredit. Pada akhir periode keseimbangan ini dicek dengan menyiapkan suatu
53

daftar berkolom dua yang disebut neraca percobaan atau neraca saldo yang
membandingkan total semua saldo debit dengan total semua saldo kredit. Prosedurnya
adalah sebagai berikut:
1. Majukkan rekening-rekening sesuai dengan nomor rekeningnya pada
daftar berkolom dua.
2. Catatlah saldo setiap rekening, masukkan saldo debit di kolom sebelah kiri dan
saldo kredit di kolom sebelah kanan. Rekening harta/aktiva dan biaya
atau beban didebit jika bertambah dan umumnya mempunyai saldo debit.
Utang,modal ekuitas dan pendapatan dikredit jika bertambah dan umumnya
mempunyai saldo kredit.
3. Jumlah kedua kolom, lalu catat totalnya.
4. Bandingkan total sebelah kiri (debet) dan sebelah kanan (kredit).
Jika totalnya sama, neraca saldo seimbang, menunjukkan keseimbangan debit dan
kredit ratusan atau ribuan transaksi yang dimasukkan dalam buku besar. Neraca saldo
dapat mencegah terjadinya kesalahan perhitungan dalam pencatatan tetapi tidak dapat
mencegah terjadinya kesalahan teoritis. Misalnya, jika pembelian mesin adalah
dibebankan sebagai biaya, neraca saldonya tetap seimbang, tetapi secara teoritis
rekeningnya salah, biaya akan lebih tinggi dari pada keadaan yang
sebenarnya,sedangkan mesin akan lebih rendah. Juga neraca saldo memungkinkan
penyiapan laporan keuangan periodic yang terhindar dari kesalahan perhitungan,
karena neracasaldo merupakan dua kolom pertama dari neraca lajur (worksheet) yang
akan dijadikan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.
Sebagai contoh, dari buku besar di atas kita buat neraca saldo, maka akan terlihat
seperti di bawah ini:









54









55

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Teori akuntansi tidak lepas dari praktik akuntansi karena tujuan utamanya adalah
menjelaskan praktik akuntansi berjalan dan memberikan dasar bagi pengembangan praktik
tersebut. Dilihat dari sifat dasarnya akuntansi memiliki 2 sifat dasar yaitu Prinsip-prinsip
yang menyajikan suatu kerangka acuan umum untuk menilai praktik akuntansi dan Prinsip-
prinsip untuk mengarahkan pengembangan praktik dan prosedur akuntansi yang baru. Bukan
itu saja dimana sifat dasar akuntansi juga dapat dilihat dari berbagai pandangan, Pandangan-
pandangan tersebut adalah akuntansi sebagai bahasa, akuntansi sebagai catatan peristiwa
yang lalu, akuntansi sebagai realitas ekonomi saat ini, akuntansi sebagai sistem informasi,
akuntansi sebagai komoditas, dan akhirnya, akuntansi sebagai sebuah ideology.


















56

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/search?query=akuntansi+dasar
http://akuntansipendidik.blogspot.com/2012/09/Cara-penyusunan-jurnal-penyesuaian-
dengan-penalaran.html
http://dasar-akuntansi.blogspot.com/2009/09/jurnal-penyesuaian-dasar-dasar.html
http://mengenalakuntasi.blogspot.com/2012/02/pengertian-jurnal-penyesuaian.html