Anda di halaman 1dari 5

PENGUKURAN OUTCOME, BENEFIT, DAN IMPACT

A. PENDAHULUAN
Dalam bab sebelumnya telah dibahas mengenai pengukuran kinerja value for
money. Pengukuran kinerja value for money menyatakan bahwa sebelum pengukuran
ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dilakukan, organisasi harus membuat indikator kinerja
yang meliputi indikator input, output, outcome, benefit, dan impact. Setelah indikator-
indikator tersebut ditetapkan organisasi baru dapat melakukan pengukuran ekonomi,
efisiensi, dan efektivitas.
Dalam organisasi sektor publik, pengukuran input dan output relatif tidak
menghadapi kesulitan karena masih bersifat kuantitatif, tetapi apabila organisasi hendak
melakukan pengukuran outcome, benefit, dan impact akan muncul beberapa kesulitan
karena ukuran outcome, benefit, dan impact merupakan ukuran yang bersifat kualitatif.
Dengan munculnya berbagai kesulitan dalam pengukuran outcome, benefit, dan impact,
maka pada bab ini akan dibahas secara spesifik mengenai kerangka metodologis untuk
menganalisis pengukuran outcome, alasan dilakukan pengukuran outcome dan model
pengukuran outcome. Dalam pembahasan tersebut akan dilengkapi dengan beberapa
contoh pengukuran outcome untuk beberapa jenis pelayanan publik.

B. MENGAPA PERLU MENGUKUR OUTCOME?
Pengukuran outcome merupakan hal yang penting dan unik dalam organisasi sektor
publik. Berbeda dengan sektor swasta yang mengikuti mekanisme pasar murni, tuntutan
terhadap pengukuran outcome jarang terjadi. Asumsi pada sektor swasta adalah jika
semua manfaat dan biaya dari suatu produk dibebankan ke konsumen, maka kemauan
konsumen untuk membayar produk adalah indikasi kewajaran atas nilai minimal yang ia
berikan pada produk itu. Apabila produk terlalu mahal, maka keketidakmauan konsumen
untuk membayar adalah indikasi ketidakwajaran nilai produk nilai produk tersebut
dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan. Manfaat produk secara keseluruhan
akan dinikmati secara pribadi, maka suatu peristiwa transaksi pembelian produk
menunjukan adanya dampak terhadap masyarakat. Dalam kondisi normal, prinsip ini
akan tetap berlaku kecuali bila terjadi eksternalitas, misalnya polusi atau kerusakan
lingkungan. Apabila terjadi eksternalitas, misalnya polusi, maka masyarakat tidak
mendapatkan manfaat atau mengkonsumsi produk itu harus ikuut menanggung biaya
sosial berupa kerusakan lingkungan yang diakibatkan pihak yang mengkonsumsi produk
itu. Analisis mengenai dampak lingkunganyang ditimbulkan oleh sektor swasta ini
memiliki kemiripan dengan pengukuran outcome di sektor publik.
Pengukuran outcome di sektor publik adalah mengukur dampak atas aktivitas atau
pelayanan yang diberikan oleh organisasi sektor publik terhadap masyarakat. Organisasi
sektor publik tidak murni berada dalam mekanisme pasar sebagaimana sektor swasta.
Oleh karena itu, pengukuran outcome pun berbeda dengan di sektor swasta. Konsekuensi
dari mekanisme pasar adalah bahwa jika produsen gagal menghasilkan produk yang
bermanfaat bagi masyarakat pada tingkat harga dimana konsumen bersedia untuk
membayar, maka usaha produsen itu tidak dapat hidup, dan pada akhirnya akan berhenti
berproduksi. Ketidakmampuan produsen untuk bersaing di pasar akan mendapatkan
sanksi berupa bangkrutnya perusahaan yang berakibat ditutupnya perusahaan.
Mekanisme pasar akan menimbulkan dua dampak sosial yaitu: pertama, pasar hanya
akan memberikan produk yang bermanfaat bagi masyarakat dengan tingkat harga yang
konsumen bersedia untuk membayar. Kedua, Produsen dipaksa untuk memaksimalkan
kompetensinya dalam menghasilkan produk. Bila produsen tidak melakukannya makan
akan kalah bersaing.
Sektor publik tidak dapat sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. Dalam
mekanisme pasar murni, konsumen memiliki banyak pilihan dan preferensi untuk
membeli produk yang dihasilkan produsen. Namun di sektor publik konsumen atau
masyarakat sering kali tidak memiliki pilihan dan preferensi. Di samping itu, penentuan
konsumen/pelanggan di sektor publik tidaklah mudah. Sebagai contoh suatu barang
publik berupa jasa kepolisian cukup sulit menentukan siapa pelanggannya. Masyarakat
sebagai konsumen juga tidak memiliki pilihan karena tidak ada supplier lain yang
memberikan jasa keamanan serupa yang diberikan kepolisian. Karena tidak adanya
mekanisme pasar di sektor publik tersebut menyebabkan informasi yang menunjukkan
pilihan dan preferensi masyarakat bersumber dari berbagai proses politik, seperti
pemilihan dan lobi yang hasilnya sering bias. Oleh karena itu, untuk menciptakan efisiensi
alokatif di sektor publik sangat kompleks dan sulit. Di samping itu, tidak adanya sanksi
bagi penyedia layanan publik apabila gagal memberikan pelayanan yang berkualitas
sebagaimana sektor swasta, yaitu berupa kebangkrutan. Di sektor publik, kerugian suatu
institusi penyedia layanan publik akan disubsidi oleh pemerintah. Akibatnya, tidak ada
jaminan bahwa pelayanan akan diberikan pada tingkat efisiensi manajerial yang
maksimum. Hal inilah yang menjadikan sektor publik selalu dinilai tidak efisien, baik tidak
efisien secara alokatif maupun secara teknis.
Inefisiensi sektor publik menimbulkan gerakan reformasi sektor publik yang salah
satunya adalah munculnya konsep New Public Management (NPM). NPM menghendaki
sektor publik dikelola secara profesional dan mengadopsi mekanisme pasar. Konsep
Reinviting Government juga menghendaki digunakannya mekanisme pasar dalam
pelayanan publik. Bahkan konsep Reinviting Government terkesan lebih pro pasar
(kapitalis) dibandingkan dengan NPM yang cenderung sosialistis (social welfare).
Alasan perlunya penilaian outcome pada organisasi sektor publik adalah bahwa
pembuat kebijakan sektor publik perlu melakukan perencanaan dan pengendalian atau
pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka perlu membuat pertimbangan
mengenai kinerja program sektor publik di masa lalu dan mengenai alokasi sumber daya
di masa yang akan datang. Untuk melakukan pengendalian, pengukuran outcome
memiliki dua peran, yaitu pengendalian masa lalu (retrospective) dan pengendalian masa
depan (prospective).
Sebagai alat pengendali masa lalu, pengukuran outcome dapat digunakan untuk
menentukan apakah manfaat yang diharapkan dari suatu program telah tercapai. Untuk
tujuan ini biasanya digunakan analisis biaya manfaat dan efektivitas biaya. Sementtara
itu, sebagai pengendali masa depan, pengukuran outcome digunakan untuk memberikan
arahan dalam melakukan keputusan alokasi sumber daya publik

C. MANAJEMEN BERORIENTASI HASIL (OUTCOME)
Perkembangan manajemen kinerja sektor publik yang berorientasi pada hasil
menjadikan pengukuran outcome menjadi sangat penting. Pengukuran outcome tersebut
memungkinkan manajer publik untuk memberikan pertanggungjawaban atas aktivitasnya
secara lebih baik pada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Pengukuran yang
hanya berfokus pada input misalnya staf dan anggaran dan output aktivitas program,
jumlah orang yang dilayani, dan sebagainya belum dapat menunjukan efektivitas
program. Pengukuran efektivitas menuntut adanya spesifikasi tujuan karena hasil yang
diharapkan, pencapaiannya diukur dengan outcome.
Organisasi sektor publik yang akan menerapkan manajemen kinerja berbasis hasil
disyaratkan memiliki sistem pengukuran outcome. Sistem pengukuran outcome tersebut
harus memberikan informasi mengenai biaya hasil (cost-outcome) dan efektivitas (cost-
effectiveness). Biaya hasil menginformasikan apakah biaya yang telah dikeluarkan
memberikan hasil. Sementara itu, efektivitas biaya memberikan informasi apakah biaya
yang telah dikeluarkan telag mencapai tujuan yang diinginkan.

D. MENGUKUR COST-OUTCOME DAN COST-EFFECTIVENESS
Ada dua jenis teknik analisis biaya program atau aktivitas yang dapat dilakukan oleh
Organisasi sektor publik, yaitu cost-outcome dan cost-effectiveness. Cost-outcome
diartikan sebagai sumber daya program yang dikonsumsi untuk mencapai suatu
perubahan yang diharapkan. Perubahan yang diharapkan adalah outcome yang
diharapkan. Dengan demikian cost-outcome adalah biaya atau pengorbanan ekonomi
untuk mencapai outcome (hasil) yang diharapkan. Sementara itu cost-effectiveness
diartikan sebagai perbandingan antara cost-outcome dengan biaya program. Dengan
menggunakan informasi cost-outcome sebagai kerangka pengukuran kinerja, cost-
effectiveness akan diketahui sebagai hasil akhir lima tahap yang berurutan, yaitu:
1. Identifikasi tujuan yang akan dicapai untuk kelompok sasaran (target) tertentu
2. Spesifikasi pilihan atau alternatif program
3. Penentuan biaya tiap-tiap program, biaya per unit pelayanan, dan jumlah
pelayanan yang diberikan
4. Penilaian efek atau dampak program terhadap kelompok sasaran, misalnya
dengan membandingkan ada atau tidaknya perubahan sebelum dan setelah
dilakukan program
5. Pengkombinasian informasi biaya program dengan informasi hasil untuk
mengetahui cost-outcome dan menganalisis efektivitas biaya
Pengukuran cost-outcome pada organisasi sektor publik merupakan tantangan
tersendiri karena pada umumnya sektor publik dihadapkan pada pengukuran outcome
yang bersifat kualitatif dan nonkeuangan.

E. MASALAH-MASALAH YANG TERKAIT DENGAN OUTCOME
Dalam organisasi bermotif laba, segala keputusan difokuskan pada laba. Manajer
akan selalu berpikir terhadap dampak keputusan yang dilakukan terhadap laba yang
diperoleh. Pengukuran laba relatif tidak menghadapi kesulitan yang berarti. Pengukuran
laba dengan membandingkan pendapatan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan
untuk memperoleh pendapatan tersebut dalam satu periode yang sama. Organisasi
dengan mudah dapat menghitung efisiensi karena input dan output yang dihasilkan jelas.
Adanya ukuran laba tersebut memungkinkan organisasi unuk melakukan analisis laporan
keuangan melalui rasio keuangan, seperti rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio
rentablitas, rasio ekuitas, return on assets (ROA), return on investment (ROI), return on
equity (ROE), dan sebagainya.
Organisasi sektor publik adalah organisasi nonprofit yang tidak memiliki ukuran
kinerja keuangan yang komprehensif sebagaimana organisasi bermotif laba.
Permasalahan utama organisasi sektor publik adalah organisasi ini tidak memiliki ukuran
output yang mudah didefinisikan sebagaimana ukuran laba di sektor swasta. Karena
kelemahan dalam pengukuran output tersebut, maka organisasi sektor publik menambah
pengukuran outcome. Pengukuran outcome di sektor publik juga tidak mudah dilakukan.
Ada lima aspek yang terlihat di pengukuran outcome, yaitu:
1. Pola waktu
2. Outcome bertingkat
3. Dampak terhadap populasi yang berbeda
4. Penilaian sederhana vs kompleks
5. Masalah desain penelitian

1. Pola Waktu
Pengukuran outcome dipengaruhi oleh faktor waktu, kapan outcome diukur.
Efektivitas program dan hasil dari suatu pelayanan publik harus diukur pada berbagai
titik waktu. Misalnya keberhasilan suatu program rehabilitasi korban narkoba perlu
dievaluasi pada beberapa titik waktu dimana setiap titik waktu menunjukan tingkat
efektivitas yang berbeda-beda. Jangka waktu evaluasi outcome tersebut dapat
triwulanan, semesteran, tahunan, dan lima tahunan.
Namun harus diperhatikan bahwa jika periode evaluasi terlalu pendek perubahan
mungkin tidak teramati, sedangkan jika periodenya terlalu panjang dinamika penting
tertentu mungkin tertutupi, terlewatkan, atau teridentifikasi terlambat sehingga
tidak dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan. Pemilihan jangka waktu
tersebut tergantung pada fokus pengukuran

2. Outcome Bertingkat
Semua program pelayanan publik memiliki outcome yang bertingkat. Oleh karena itu
outcome diklasifikasikan sebagai outcome antara (intermediate outcome) dan
outcome akhir (final outcome). Outcome antara atau disebut juga surrogate
(throughoput) terdiri atas beberapa outcome antara, tidak satu outcome tunggal.
Suatu program penanggulangan penyalahgunaan obat-obat terlarang (NAPZA) efektif
mengurangi penggunaan heroin, akan tetapi tidak efektif menurunkan penggunaan
alkohol. Outcome mana yang akan digunakan sebagai ukuran kesuksesan? Secara
teoritis semua outcome dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan, bukan hanya
outcome tunggal. Namun secara praktis outcome yang paling penting menjadi fokus
tujuan program.

3. Dampak Terhadap Populasi Yang Berbeda
Pengukuran outcome perlu memperhatikan masyarakat (populasi) yang akan
menerima manfaat dari program. Suatu program akan memberikan hasil yang
berbeda untuk populasi yang berbeda-beda karena faktor demografi dan
sosiokultural. Oleh karena itu, organisasi perlu mengidentifikasi tujuan untuk
berbagai masyarakat penerima program dengan pengukuran outcome nya

4. Evaluasi Sederhana vs Kompleks
Perbedaan kompleksitas program akan mempengaruhi pengukuran outcome.
Program yang kompleks dengan prgram yang sederhana perlu dibedakan dalam
penilaian hasilnya. Program sederhana cukup membutuhkan outcome level satu,
sedangkan program yang kompleks membutuhkan pengukuran outcome yang lebih
berjangka panjang.

5. Masalah Desain Penelitian
Permasalahan dalam desain penelitian outcome terkait dengan desain yang dipilih
untuk mengevaluasi kinerja outcome. Desain penelitian outcome yang sederhana
tidak berarti buruk atau tidak valid. Dalam melakukan penelitian outcome yang perlu
diperhatikan adalah hasil dari program dapat diamati, pengambilan sampel
penelitian representatif, analisis perbaikan atas kelompok sasaran tertentu harus
didukung dengan perbandingan dengan kelompok yang sama mungkin memberikan
hasil yang berbeda, instrumen penelitian harus diuji keandalan dan validitasnya, dan
perbedaan amatan hendaknya tidak besar.
Masalah lain yang dihadapi organisasi sektor publik dalam melakukan pengukuran
outcome adalah hasil bukan merupakan outcome aktivitas atau program tunggal,
akan tetapi merupakan hasil bersama atau gabungan dari aktivitas atau program lain.