Anda di halaman 1dari 41

1

BAGIAN ILMU FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

IDENTIFIKASI PRIMER DAN SEKUNDER



Oleh:
Santi Rahim C 111 09 411
Nurul Fitrawati Ridwan C111 09 333

Pembimbing:
dr. Roni Tobo

Supervisor :
drg. Peter Sahelangi, DFM

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
REFERAT
APRIL2014
2


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................................................i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ..............................ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................... ...............................1

BAB II PEMBAHASAN
A. Defenisi Identifikasi........................................................... . ...............................6
B. Dasar hukum identifikasi forensik ....................................... ...............................7
C. Identifikasi Primer...............................................................................................9
D. Identifikasi Sekunder.........................................................................................39

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................40












3

BAB I
PENDAHULUAN
Suatu bencana dapat terjadi kapan dan dimana saja. Namun pada prinsipnya hal tersebut
dapat diakibatkan baik oleh alam maupun manusia. Kondisi alam memegang peran penting akan
timbulnya suatu bencana, termasuk Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang
sangat luas dengan luas keseluruhan 5 juta kilometer persegi. Terletak pada pertemuan 3
lempeng tektonik utama duia yang memiliki setidaknya 400 gunung berapi dengan 150
diantaranya adalah gunung berapi aktif. Ditambah dengan iklim tropis yang membuat beberapa
bagian daerah basah oleh curah hujan yang melimpah sebaliknya pada daerah lain. Faktor
manusia juga turut berperan menimbulkan bencana. Hal ini sering terkait dengan timbulnya
banjir ataupun longsor akibat penggundulan hutan, kecelakaan lalu lintas dan terorisme.
1

Berbagai kejadian yang memakan banyak korban jiwa, terutama sejak kejadian Bom Bali
I membuat kegiatan Identifikasi Korban Bencana Massal (Disaster Victim Identification)
menjadi kegiatan yang penting dan dilaksanakan hampir pada setiap kejadian yang menimbulkan
korban jiwa dalam jumlah yang banyak.
1

Disaster Victim Identification (DVI) adalah suatu definisi yang diberikan sebagai sebuah
prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan dan mengacu pada standar baku Interpol. Proses DVI meliputi 5 fase
yang pada setiap fase memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Sedangkan dalam
melakukan proses tersebut terdapat bermacam-macam metode dan teknik yang dapat digunakan.
Namun Interpol telah menentukan adanya Primary Identifier) yang terdiri dari fingerprint (FP),
dental records (DR) dan DNA serta Secondary identifiers yang terdiri dari medical (M), property
(P) dan photography (PG), dengan prinsip identifikasi adalah membandingkan data antemortem
dan postmortem. Dan primary identifiers mempunyai nilai yang sangat tinggi bila dibandingkan
dengan secondary identifiers.
1,2

Setiap bencana massal yang menimbulkan banyak korban jiwa, baik akibat Natural
disaster ataupun Man made disaster tersebut, memiliki spesifikasi tertentu yang berbeda antara
kasus yang satu dengan yang lain sehingga diperlukan tindakan pemeriksaan identifikasi dengan
skala prioritas bahan yang akan diperiksa sesuai dengan keadaan jenazah yang ditemukan.
4

Adapun tujuan utama dari pemeriksaan identifikasi pada kasus musibah bencana massal adalah
untuk mengenal, yang kemudian dapat dilakukan upaya merawat, mendoakan serta akhirnya
menyerahkan kepada keluarganya, dengan dilakukan serangkaian metode identifikasi terutama
dengan identifikasi primer yang jelas dilakukan awal sebagai pembeda yang signifikan antar
individu.
1

Akibat adanya kejadian bencana massal tersebut, akan menghasilkan keadaan jenazah
yang mungkin dapat intak, separuh intak, membusuk, tepisah berfragmen-fragmen, terbakar
menjadi abu, separuh terbakar, terkubur ataupun kombinasi dari bermacam-macam keadaan.

Masalah akan timbul dengan tingkat kesulitan yang bervariasi manakala tindakan identifikasi
termudah, sederhana yaitu secara visual tidak lagi dapat digunakan. Demikian juga pada jenazah
yang membusuk lanjut dimana pemeriksaan identifikasi primer berdasarkan sidik jari sulit untuk
dilakukan, maka masih dapat diharapkan pemeriksaan gigi geligi karena bersifat lebih tahan
lama terhadap pembusukan. Namun keadaan gigi tersebut juga dipengaruhi faktor lingkungan
tempat jenazah itu berada. Fakta berdasarkan pengalaman di lapangan, identifikasi korban
meninggal massal melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan
identitas seseorang. Pada kasus Bom Bali I, dimana korban yang teridentifikasi berdasarkan gigi-
geligi mencapai 56%, korban kecelakaan lalu lintas bis terbakar di Situbondo mencapai 60%.
1

Hal ini pula yang terjadi pada jenazah korban tenggelamnya KM Senopati Nusantara,
jenazah mengalami pembusukan lanjut yang berarti disertai dengan tidak utuhnya jaringan tubuh.
Demikian pula pada jenazah korban terbakarnya Pesawat Garuda GA 200 PK-GZC Boeing 737-
400 jurusan JakartaYogyakarta, jenazah ditemukan terpanggang menjadi separuh arang. Namun
dari dua kasus yang berbeda tersebut dapat ditentukan prioritas penentuan identifikasi primer
yang berbeda pula, terutama terkait dengan keutuhan jaringan tubuh sesuai dengan modus
kejadian kecelakaan. Hal ini terutama akan sangat mempengaruhi pelaksanaan fase rekonsiliasi
dalam upaya pelepasan dan penyerahterimaan jenazah kepada keluarga yang bersangkutan.
Meskipun terdapat skala prioritas pemeriksaan namun prosedur dan tahap pemeriksaan harus
dikerjakan seluruhnya baik pemeriksaan primer dan pemeriksaan sekunder.
1



5

BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi Identifikasi
Identfikasi merupakan merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu
penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identfikasi personal sering merupakan suatu
masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat
amat penting dalam penyidik karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses
peradilan.
3
Identifikasi primer adalah Jenis metode identifikasi primer dan yang paling dapat
diandalkan, yaitu identifikasi sidik jari, analisis komparatif gigi dan analisis DNA. Jenis
metode identifikasi sekunder meliputi deskripsi personal, temuan medis serta bukti dan
pakaian yang ditemukan pada tubuh. Jenis identifikasi ini berfungsi untuk mendukung
identifikasi dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satu-satunya alat identifikasi.
1-3


Gambar 1. Identifikasi primer
2

Gambar 2. Identifikasi Sekunder
2

6

B. Dasar Hukum Identifikasi
Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah
adalah :
1. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam KUHP pasal
133:
4

a. Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
b. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
c. Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap
jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
2. Undang-undang Kesehatan Pasal 189
5

a. Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat
pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus
sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam
undang-undang ini.
b. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
1. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan.
2. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan.
3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha.
4. Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain.
5. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.
6. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan.
7. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengan
tindak pidana di bidang kesehatan.
7

c. Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut
UU No 8 tahun 1981 tentang HAP.

C. Identifikasi Primer
1. Sidik Jari
a. Definisi
Sidik jari adalah suatu impresi dari alur-alur lekukan yang menonjol dari
epidermis pada telapak tangan dan jari-jari tangan atau telapak kaki dan jari-jari kaki,
yang juga dikenal sebagai dermal ridges atau dermal papillae, yang terbentuk dari
satu atau lebih alur-alur yang saling berhubungan. Dari bayi pun, kita semua sudah
mempunyai sidik jari yang sangat identik dan tidak dimiliki orang lain. Alur-alur kulit
di ujung jari dan telapak tangan dan kaki mulai tumbuh di ujung jari sejak janin
berusia empat minggu hingga sempurna saat enam bulan di dalam kandungan.
6

Daktiloskopi adalah suatu sarana dan upaya pengenalan identitas diri seseorang
melalui suatu proses pengamatan dan penelitian sidik jari, yang dipergunakan untuk
berbagai keperluan/kebutuhan, tanda bukti, tanda pengenal ataupun sebagai pengganti
tanda tangan (cap Jempol).
6

Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari antemortem.
Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling
tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian harus
dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah untuk
pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan
jenazah dengan kantong plastik.
6

Ada tiga alasan mengapa sidik jari merupakan indikator identitas yang dapat
diandalkan:
6
Sidik jari unik: Tidak ada kecocokan mutlak antara papiler ridges pada jari dari
dua individu yang berbeda atau pada jari yang berbeda dari orang yang sama.
Sidik jari tidak berubah: papiler ridges terbentuk pada bulan keempat kehamilan
dan tetap tidak berubah bahkan setelah mati. Sidik jari tumbuh kembali dalam
pola yang sama setelah luka ringan. Luka yang lebih parah mengakibatkan
jaringan parut permanen.
8

Sidik jari dapat diklasifikasikan: Karena sidik jari dapat diklasifikasikan, maka
dapat diidentifikasi dan didata secara sistematis dan dengan demikian dapat
diperiksa dengan mudah untuk tujuan perbandingan.










Gambar 3. Contoh pola yang paling umum untuk dermal ridges. Lima kelas utama -left loop, right
loop, whorl, arch, dan tented arch- umum digunakan. Frekuensi perkiraan untuk setiap tipe dinyatakan
dalam tanda kurung. Untuk tiap tipe, posisi dari inti ditandai dengan kotak merah dan delta ditandai
segitiga hijau.
6

Detail anatomi ini memperkasar permukaan telapak tangan dan kaki hingga
memperkuat cengkeraman kala memegang atau berjalan. Benda yang dipegang tidak
mudah lepas. Secara resmi, istilah sidik jari digunakan pertama kali oleh Dr.
Nehemiah Grew yang memperkenalkan pada Royal Collage of Physicians, London
pada tahun 1684 tentang tanda-tanda penting yang ditemukan di ujung-ujung jari
manusia. Setahun kemudian, Gouard Bidloo membuat buku pertama pola sidik jari
lengkap. Pada tahun 1788, JCA Mayer menyatakan bahwa tak ada 2 orang, kembar
sekalipun yang memiliki sidik jari sama persis walaupun masing-masing mempunyai
kemiripan individu. Tahun 1823, John E Purkinje dari University of Breslau membuat
Gambar 2. Anatomi kulit: kelenjar ekrin melingkar, yang terletak di dermis, memiliki saluran
yang naik melalui lapisan epidermis dan berakhir di sepanjang papila dermal. Struktur papila
dermal memberikan pola sidik jari yang khas.
6

9

klasifikasi sidik jari dalam sembilan golongan utama, walau kemudian Francis Galton
berpendapat bahwa hanya ada 3 golongan utama, selebihnya adalah variasi.
6

b. Sifat sifat Sidik Jari
Biometrik merupakan cabang matematika terapan yang bidang garapnya untuk
mengindentifikasi individu berdasarkan ciri atau pola yang dimiliki oleh individu
tersebut, misalnya bentuk wajah, sidik jari, warna suara, retina mata, dan struktur
DNA. Sidik jari merupakan salah satu pola yang sering digunakan untuk
mengindentifikasi indentitas seseorang karena polanya yang unik, terbukti cukup
akurat, aman, mudah, dan nyaman bila dibandingkan dengan sistem biometrik yang
lainnya. Hal ini dapat dilihat pada sifat yang dimiliki oleh sidik jari yaitu guratan-
guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup, pola ridge
tidaklah bisa menerima warisan, pola ridge dibentuk embrio, pola ridge tidak pernah
berubah dalam hidup, dan hanya setelah kematian dapat berubah sebagai hasil
pembusukan. Dalam hidup, pola ridge hanya diubah secara kebetulan akibat, luka-
luka, kebakaran, penyakit atau penyebab lain yang tidak wajar. Dapat dikatakan
bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama, walaupun kedua
orang tersebut kembar satu telur. Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada 5
juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru
akan terjadi lagi 300 tahun kemudian, atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang
terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang.
6
Dibawah ini merupakan sifat-sifat khusus yang dimiliki sidik jari:
6
1) Perennial nature, yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit
manusia seumur hidup.
2) Immutability, yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah, kecuali
mendapatkan kecelakaan yang serius.
3) Individuality, pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap orang.

c. Macam Macam Sidik Jari
1) Latent prints (Sidik jari Laten). Walaupun kata laten berarti tersembunya atau
tak tampak, pada penggunaan modern di ilmu forensik istilah sidik laten berarti
kemungkinan adanya atau impressi secara tak sengaja yang ditinggalkan dari alur-
10

alur tonjolan kulit jari pada sebuah permukaan, tanpa melihat apakah sidik
tersebut terlihat atau tak terlihat pada waktu tersentuh. Teknik memproses secara
elektronik, kimiawi, dan fisik dapat digunakan untuk melihat residu sidik laten
yang tak terlihat yang ditimbulkan dari sekresi kelenjar ekrin yang berada di alur-
alur tonjolan kulit (yang memproduksi keringat, sebum, dan berbagai macam
lipid) walaupun impressi tersebut terkontaminasi dengan oli, darah, cat, tinta, dll.
6

2) Patent prints (Sidik jari Paten). Sidik ini ialah impressi dari alur-alur tonjolan
kulit dari sumber yang jak jelas yang dapat langsung terlihat mata manusia dan
disababkan dari transfer materi asing pada kulit jari ke sebuah permukaan. Karena
sudah dapat langsung dilihat sidik ini tidak butuh teknik-teknik enhancement, dan
diambil bukan dengan diangkat, tetapi hanya dengan difoto.
3

3) Plastic prints (Sidik jari Plastik). Sidik plastik adalah impressi dari sentuhan alur-
alur tonjolan kulit jari atau telapak yang tersimpan di material yang
mempertahankan bentuk dari alur-alut tersebut secara detail. Contoh umum: pada
lilin cair, deposit lemak pada permukaan mobil. Sidik-sidik seperti ini dapat
langsung dilihat, tapi penyidik juga tak boleh mengenyampingkan kemungkinan
bahwa sidik-sidik laten yang tak tampak dari sekongkolan pelaku mungkin juga
terdapat pada permukaan tersebut. Usaha untuk melihat impressi-impressi non
plastik pun harus dilaksanakan.
6

d. Klasifikasi Sidik Jari
Sebelum komputerisasi menggantikan sistem pendataan manual di operasi-operasi
pemrosesan sidikjari yang besar, klasifikasi sidik jari manual digunakan untuk
mengkatagorikan sidik jari berdasarkan formasi alur-alur tonjolan secara umum
(seperti ada atau tak adanya pola-pola sirkular pada jari-jari), oleh karena itu
pendataan dan pengambilan catatan laporan dalam jumlah besar berdasarkan pola-
pola tersebut, yang terlepas dari pertimbangan nama, tanggal lahir, dan data biografis.
Sistem-sistem klasifikasi sidik jari yang paling populer diantaranya sitem Roscher,
sistem Vucetich, dan sistem Henry. Dari sistem-sistem ini, sistem Roscher
dikembangkan di Jerman dan diaplikasikan di Jerman dan Jepang. Sistem Vucetich
dikemkangkan di Argentina dan diimplementasikan di seluruh Amerika Utara, dan
11

sistem Henry dikembangkan di India dan diimplementasikan di kebanyakan negara-
negara berbahasa Inggris.
6

Sistem Henry berasal dari pola ridge yang terpusat pola jari tangan, jari kaki,
khusunya telunjuk. Metoda yang klasik dari tinta dan menggulung jari pada suatu
kartu cetakan menghasilkan suatu pola ridge yang unik bagi masing-masing digit
individu.Dalam sistem klasifikasi Henry, terdapat tiga pola dasar sidik jari: Arch
(lengkungan), Loop (uliran), dan Whorl (lingkaran).
6
1) Tipe Arch, Pada patern ini kerutan sidik jari muncul dari ujung, kemudian mulai
naik di tengah, dan berakhir di ujung yang lain.
2) Tipe Loop, Pada patern ini kerutan muncul dari sisi jari, kemudian membentuk
sebuah kurva, dan menuju keluar dari sisi yang sama ketika kerutan itu muncul.
3) Tipe Whorl, Pada patern ini kerutan berbentuk sirkuler yang mengelilingi sebuah
titik pusat dari jari.
Dari ketiga klasifikasi diatas terdapat juga klasifikasi yang lebih kompleks yang
mengikutsertakan pola plain arches (lengkungan sederhana atau tented arches
(lekukan yang seperti tenda) . Pola Loop dapat berarah radial atau ulnar, tergantung
arah ekor dari loop tersebut. Pola Whorl juga dibagi dalam subgrup-subgrup: plain
whorl, accidental whorls, dan central pocket loop.
6







e. Cara Pengambilan Dan Pemeriksaan Sidik Jari
Dari sembilan metode identifikasi yang dikenal hanya metode penetuan jati diri
dengan sidik jari (daktiloskopi), yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter, melainkan
dilakukan oleh pihak kepolisian. Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan
oleh dokter, dokter masih mempunyai kewajiban yaitu untuk mengambilkan atau
mencetak sidik jari, khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan
mayatnya yang telah membusuk. Teknik pengembangan sidik jari pada jari yang
Gambar 4. Pola dasar sidik jari.
6

12

keriput, serta mencopot kulit ujung jari yang telah mengelupas dan memasangnya
pada jari yang sesuai pada jari pemeriksa, baru kemudian dilakukan pengambilan
sidik jari, merupakan prosedur standar yang harus diketahui dokter.
6
Cara pengangkatan sidik jari yang paling sederhana adalah dengan metode
dusting (penaburan bubuk). Biasanya metode ini digunakan pada sidik jari paten /
yang tampak dengan mata telanjang. Sidik jari laten biasanya menempel pada
lempeng aluminium, kertas, atau permukaan kayu. Agar dapat tampak, para ahli dapat
menggunakan zat kimia, seperti lem (sianoakrilat), iodin, perak klorida, dan
ninhidrin. Lem sianoakrilat digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari dengan cara
mengoleskannya pada permukaan benda aluminium yang disimpan di dalam wadah
tertutup, misalnya stoples. Dalam stoples tersebut, ditaruh juga permukaan benda
yang diduga mengandung sidik jari yang telah diolesi minyak. Tutup rapat stoples.
Sianoakrilat bersifat mudah menguap sehingga uapnya akan menempel pada
permukaan benda berminyak yang diduga mengandung sidik jari. Semakin banyak
sianoakrilat yang menempel pada permukaan berminyak, semakin tampaklah sidik
jari sehingga dapat diidentifikasi secara mudah.
6
Cara lainnya dengan menggunakan iodin. Iodin dikenal sebagai zat pengoksidasi.
Jika dipanaskan, iodin akan menyublim, yaitu berubah wujud dari padat menjadi gas.
Kemudian, gas iodin ini akan bereaksi dengan keringat atau minyak pada sidik jari.
Reaksi kimia ini menghasilkan warna cokelat kekuning-kuningan. Warna yang
dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus segera dipotret agar dapat
didokumentasikan. Zat kimia lain yang biasa digunakan adalah perak nitrat dan
larutan ninhidrin. Jika perak nitrat dicampurkan dengan natrium klorida, akan
dihasilkan natrium nitrat yang larut dan endapan perak klorida. Keringat dari pelaku
mengandung garam dapur (natrium klorida, NaCl) yang dikeluarkan melalui pori-pori
kulit. Pada praktiknya, larutan perak nitrat disemprotkan ke permukaan benda yang
diduga tersentuh pelaku. Setelah 5 menit, permukaan benda akan kering dan perak
nitrat pun terlihat. Lalu, sinar terang atau ultra violet yang disorotkan ke permukaan
benda akan membuat sidik jari yang mengandung perak nitrat terlihat. Seperti halnya
iodin, warna yang dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus segera dipotret agar
dapat didokumentasikan. Ninhidrin merupakan zat kimia yang dapat bereaksi dengan
13

minyak dan keringat menghasilkan warna ungu. Jika jari pelaku kejahatan
mengandung minyak atau keringat, lalu tertempel pada permukaan benda, sidik
jarinya akan terlihat dengan cara menyemprotkan larutan ninhidrin. Setelah dibiarkan
selama 10-20 menit, akan tampak warna ungu. Proses ini dapat dipercepat dengan
memanfaatkan panas lampu. Metode paling mutakhir yang digunakan untuk
mengidentifikasi sidik jari adalah teknik micro-X-ray fluorescence (MXRF). Teknik
ini dikembangkan oleh Christopher Worley, ilmuwan asal University of California
yang bekerja di Los Alamos National Laboratory. Dibandingkan dengan metode
lainnya yang biasa digunakan, teknik MXRF mempunyai beberapa kelebihan. MXRF
dapat mengidentifikasi sidik jari yang tidak dapat diidentifikasi metode lain.
6
2. Identifikasi gigi
Forensik Odontologi dapat merupakan suatu penerapan ilmu gigi dalam system hukum.
Ilmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain yaitu forensic dentistry dan odontology
forensic. Forensik odontologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari
cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan presentasi temuan
gigi tersebut untuk kepentingan peradilan.
7
Ruang lingkup forensik odontologi meliputi :
a. Identifikasi terhadap jenasah korban yang tidak diketahui melalui gigi, rahang dan tulang-
tulang kraniofasial

b. Analisa jejak bekas gigitan
c. Analisa trauma orofasial yang berhubungan dengan kekerasan
d. Dental jurisprudence, termasuk menjadi saksi ahli
Pelayanan dental forensic meliputi baik penyelidikan kematian maupun kedokteran
forensik klinis untuk mengevaluasi korban kekerasan hidup seperti kekerasan seksual,
kekerasan anak, dll.
7

Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai berikut:

a. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh
lingkungan yang ekstrim.
b. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi
menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.
14

c. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental
record) dan data radiologis.
d. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis, yang
mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi
trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.
e. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa gigi
manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar.
f. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C.
g. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan
direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh.

a. Anatomi dan Morfologi Gigi Manusia
8

1) Anatomi Gigi
Gigi manusia terdiri dari tiga:
- Akar gigi, yang berfungsi menopang gigi dan merupakan bagian gigi yang
terletak didalam tulang rahang.
- Mahkota gigi yaitu bagian gigi yang berada diatas ginggiva.
- Leher gigi, yaitu bagian yang menghubungkan akar gigi dengan mahkota gigi.
2) Struktur Gigi
Badan dari gigi terdiri dari :
a) Email, merupakan jaringan keras yang mengelilingi mahkota gigi dan berfungsi
membentuk struktur luar mahkota gigi dan membuat gigi tahan terhadap tekanan
dan abrasi. Email tersusun dari mineral anorganik terutama kalsium dan fosfor,
zat organic dan air.
b) Dentin, merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak dan berwarna
kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang tetapi lebih lunak dari
email. Dentin terdiri dari 70 % bahan organic, terutama Kalsium dan fosfor serta
30 % bahan organic dan air.
c) Sementum, merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi dan menutup
akar gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan ikat yang
15

memperkuat akar gigi pada alveolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri
dari 50% bahan organic berupa Kalsium dan Fosfor dan 50% bahan organic.
d) Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian ruang tengah
pulpa dan akar gigi. Pada pulpa terkandung pembuluh darah, syaraf, dan sel
pembentuk dentin. Pulpa berisi nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik.



3) Morfologi gigi.
7,8

Menurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Gigi susu
Gigi susu berjumlah 20 buah dan mulai tumbuh pada umur 6 -9 bulan dan lengkap
pada umur 2 2,5 tahun. Gigi susu terdiri dari 5 gigi pada setiap daerah rahang
masing masing adalah : 2 gigi seri (incicivus), 1 gigi taring.
2. Gigi permanen
Gigi permanen berjumlah 28 32 terdiri dari 2 gigi seri, 1 gigi taring, 2 gigi
premolar, dan 3 gigi molar pada setiap daerah rahang. Gigi permanen
menggantikan gigi susu. Antara umur 6 14 tahun 20 gigi susu diganti gigi
permanen. Gigi molar 1 dan 2 mulai erupsi pada umur 6 12 tahun sedangkan
gigi molar 3 mulai erupsi pada umur 17 21 tahun.
Gambar 5. Struktur gigi.
8
16

4) Nomenklatur Gigi
8

Nomenklatur yang biasa dipakai adalah :
1. Cara Zsigmondy

2. Cara Palmer : cara yang paling mudah dan universal untuk dental record

3. Cara Amerika : yaitu dengan menghitung dari atas kiri, ke kanan, ke bawah
kanan, lalu ke bawah kiri.

4. Cara Aplegate
17

Kebalikan dari cara Amerika yaitu dengan menghhitung dari atas kanan ke kiri,
kebawah kiri lalu ke bawah kanan

5. Cara Haderup

6. System Scandinavian (tidak begitu banyak digunakan)
+ : untuk gigi geligi atas
- : untuk gigi geligi bawah
Contoh : P2 atas kanan : +5 I2 bawah kiri : 2-
7. Cara G. B. Denton

8. Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )

5) Identifikasi Dental Perbandingan
Dogma sentral identifikasi dental yaitu bahwa gigi postmortem tetap dapat
dibandingkan dengan dental record antemortem, termasuk catatan tertulis, study casts,
radiografi dll, untuk mengkonfirmasi identitas korban. Seseorang yang sering
18

melakukan perawatan gigi biasanya lebih mudah diidentifikasi daripada seseorang
yang jarang melakukan perawatan giginya. Pada gigi geligi tidak hanya dapat
memperlihatkan perawatan yang melekat atau tertinggal pada gigi korban sebagai
sesuatu yang unik dan mudah dikenali, juga dapat bertahan selama postmortem
bahkan dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada jaringan tubuh yang
lainnya.
9

Biasanya, tubuh manusia yang ditemukan dan dilaporkan kepada polisi yang
kemudian akan meminta pemeriksaan identifikasi dental. Biasanya terdapat benda
pengenal pada korban (misalnya dompet atau izin mengemudi) pada tubuh korban
dan pada benda ini mungkin terdapat catatan antemortem korban. Pada kasus lain,
lokasi geografis dimana tubuh korban ditemukan atau karakter fisik lain maupun
bukti-bukti tak langsung mungkin dapat membantu dalam membuat identitas diduga,
biasanya dengan menggunakan data dari data orang hilang. Dental record antemortem
kemudian dapat diperoleh dari data seorang dokter gigi.
9
Seorang dokter gigi forensic membuat dental record postmortem dengan
menyusun dan menuliskan gambaran struktur maupun gambaran radiologis dental yang
didapatkan. Jika catatan dental record antemortem tersedia pada saat itu, gambaran
radiografis harus dilakukan untuk membuat replikasi tipe dan sudutnya.
9
19



Setelah dental record postmortem telah lengkap, dapat dilakukan perbandingan
antara kedua catatan tersebut, postmortem dan antemortem. Diperlukan pemeriksaan
perbandingan yang sistematis dan metodik, dengan memeriksa setiap gigi dan struktur
di sekitarnya. Walapun ditemukannya suatu bentuk restorasi gigi merupakan point
identifikasi yang penting, banyak bagian oral lain yang dapat dinilai. Semakin banyak
data ciri-ciri oral yang ditemukan semakin berarti data yang dikumpulkan khususnya
pada kasus dengan restorasi gigi minimal. Dengan semakin menurunnya kasus karies
gigi, maka kasus non-restorasi akan semakin sering ditemukan.
9






Gambar 7. Contoh perbandingan radiografi dental postmortem dan antemortem untuk menentukan
identitas. Pola, bentuk dan ukuran perawatan gigi tampak dalam satu gambar radiografi (record) yang
Gambar 6. Contoh catatan dental postmortem.
9

20

kemudian dibandingkan dengan sifat dan karakteristik yang serupa pada gambar radiografi lainnya. Pada
kasus diatas, tampak bahwa kedua foto tersebut berasal dari orang yang sama, menandakan identifikasi
positif.
9

Persamaan dan perbedaan yang didapatkan dari kedua dental record (postmortem
dan antemortem) harus dicatat. Ada dua jenis perbedaan, yaitu perbedaan yang dapat
dijelaskan dan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan. Perbedaan yang dapat dijelaskan
biasanya berhubungan dengan waktu diantara dental record antemortem dan
postmortem misalnya terdapat ekstraksi gigi atau restorasi gigi. Perbedaan yang tidak
dapat dijelaskan, misalnya pada antemortem record tidak terdapat gigi sedangkan pada
postmortem record terdapat gigi.
9
Beberapa kategori yang disarankan digunakan dalam menentukan hasil investigasi
identifikasi odontology forensik. American Board of Forensic Odontology
merekomendasikannya dalam 4 kesimpulan hasil, antara lain:
9
1. Positif I dentification (identifikasi posistif : jika dental record antemortem dan
postmortem memiliki kesesuaian untuk dapat diputuskan bahwa kedua data
tersebut berasal dari orang yang sama. Sebagai tambahan tidak terdapat perbedaan
yang tidak dapat dijelaskan.
2. Possible I dentification (kemungkinan identifikasi): jika pada dental record
antemortem dan postmortem memiliki bagian-bagian yang sesuai namun karena
kualitas keadaan sisa-sisa tubuh postmortem atau bukti antemortem sehingga tidak
memungkinkan mengambil keputusan identitas adalah positif.
3. I nsufficient Evidence (barang bukti kurang) : jika data-data yang didapatkan
tidak mencukupi untuk menjadi dasar dalam mengambil keputusan.
4. Exclusion (pengecualian): data antemortem dan postmortem jelas tidak sama.

6) Profil Dental Postmortem
Jika dental record antemortem tidak tersedia dan medote identifikasi lain tidak
dapat dilakukan, kedoteran gigi forensic dapat membantu mengurangi jumlah
kemungkinan populasi untuk mengidentifikasi jenasah. Metode ini dikenal sebagai profil
dental postmortem. Informasi yang didapatkan dari metode ini dapat membantu dalam
memfokuskan pencarian dental record antemortem. Dengan profil dental postmortem
dapat membantu dalam menemukan informasi mengenai umur, latar belakang keturunan,
21

jenis kelamin dan status ekonomi. Pada beberapa kasus, metode ini dapat memberikan
informasi tambahan mengenai pekerjaan, kebiasaan konsumsi makanan, perilaku sehari-
hari bahkan penyakit gigi maupun penyakit sistemik.
9
Dengan profil dental postmortem dapat membantu mengenali jenis kelamin
maupun latar belakang individu. Pada dasarnya, dari bentuk tengkorak, seorang dokter
gigi forensic dapat membedakan ras dalam tiga kelompok besar yaitu: Kaukasoid,
Mongoloid dan Negroid. Ciri tambahan pada gigi seperti tonjolan Carabelli, shovel-shape
incisor, dan multicusped premolar juga dapat membantu dalam membedakan ras.
Penentuan jenis kelamin biasanya dilakukan dengan melihat tampilan tengkorak, karena
jenis kelamin tidak memberikan bentuk morfologi ggi yang khas. Pemeriksaan
mikroskopi gigi dapat membantu mengenali jenis kelamin dengan melihat ada atau tidak
kromatin Y serta dengan pemeriksaan DNA.
9
Struktur gigi dapat memberikan informasi umur seseorang. Umur pada anak
(termasuk fetus dan neonatus) dapat ditentukan dengan analisa perkembangan gigi dan
membandingkannya dengan table perkembangan gigi geligi. Kesimpulan biasanya akurat
hingga sekitar 1,5 tahun. Tabel perbandingan yang biasa digunakan adalah table
Ubelaker, yang mengilustrasikan perkembangan gigi geligi dari umur 5 bulan antenatal
hingga umur 35 tahun. Oleh karena itu, table ini memperlihatkan gambaran susunan gigi
dari gigi susu, campuran gigi susu dan permanen, hingga susunan gigi permanen. Gigi
molar ketiga digunakan oleh beberapa ahli gigi forensik yang menandakan usia dewasa
muda. Terdapatnya tanda penyakit periodontal, pemakaian berlebihan, multiple
restoration, ekastraksi, dapat memberikan informasi usia yang lebih tua. Beberapa ahli
gigi forensic menggunakan pemeriksaan rasemisasi asam aspartat, metode SEM-EDXA
(pemeriksaan dentin untuk menentukan umur). Beberapa penelitian terbaru di Amerika
Serikat menggunakan panjang akar gigi dalam menentukan usia pada anak.
9

Didapatkan erosi pada gigi mengarahkan pada penggunaan alkohol atau
penyalahgunaan zat sedangkan noda pada gigi mengarahkan pada kebiasaan merokok,
pengunaan tetrasiklin atau kebiasaan mengunyah sirih. Kualitas, kuantitas serta ada
tidaknya perawatan dental memberikan informasi status ekonomi atau kemungkinan
negara tempat tinggalnya. Jika profil dental postmortem tidak dapat menunjukkan
22

kemungkinan identitas jenazah maka dibutuhkan rekonstruksi tampilan individu saat
hidup dengan bantuan profil dental.
9
6) Penentuan Umur Berdasarkan Pemeriksaan Gigi
Penentuan Umur pada anak :
a. Pendekatan Atlas (Morfologi)
10

Teknik ini menggunakan gambaran radiografi gigi dimana dapat dilihat perbedaan
tingkat mienralisasi pada setiap gigi. Dibandingkan mineralisasi tulang, proses
mineralisasi gigi kurang dipengaruhi oleh keadaan nutrisi dan status endokrin,
sehingga memberikan informasi yang lebih akurat dalam menentukan umur.
1) Tables Schour and Massler. Table Schour dan Massler merupakan pendekatan
atlas yang klasik. Schour dan Massler menggambarkan 20 urutan perkembangan
gigi dimulai sejak usia 4 bulan kelahiran hingga usia 21 tahun. Dilakukan
perbandingan perkembangan gigi seseorang dengan tabel hingga dapat
menentukan estimasi usia.
2) Moorrees et all, membuat tabel berdasarkan maturasi gigi permanen dalam 14
tingkat dimulai sejak awal pembentukan penonjolan gigi hingga penutupan
apeks sempurna, dan dibuat tabel berbeda untuk pria dan wanita.
3) Anderson et all, melanjutkan tabel Moorrees et all hingga gigi molar ketiga.
b. Sistem Skor
10

Demirjian et all menyederhanakan estimasi kronologi perkembangan gigi dalam 8
tingkat (A-H), dan membatasinya untuk 7 gigi pertama mandibula kiri. Tabel
perkembangan gigi Demirjian et all ini dibuat berbeda untuk anak laki-laki dan
perempuan. Untuk menentukan usia seorang anak kedelapan skor tersebut
dijumlahkan untuk mendapatkan kronologi usia.

23


Gambar 8. Tabel presentasi perkembangan gigi oleh Demirjian et all.
10
7) Penentuan umur pada orang dewasa :

a. Teknik Morfologi
1) Metode Gustaffson
Penentuan umur berdasarkan table Gustaffson pada umumnya bermanfaat
selama gigi masih dalam masa pertumbuhan. Untuk memperkirakan umur
seseorang setelah masa itu digunakan 6 metode, antara lain :
1.Atrisi
Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan yang sesuai
dengan bertambahnya usia.
2.Sekunder dentin
Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk
sekunder dentin untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia
maka sekunder dentin akan semakin tebal.
3.Ginggiva attachment
Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara perlekatan gusi
dan gigi.
24

4.Pembentukan foramen apikalis
Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.
5.Transparansi akar gigi
Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal ini
dipengaruhi oleh mineralisasi yang terjadi selama kehidupan.
6.Sekunder sement
Ketebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan bertambahnya
usia ketebalan sement pada ujung akar gigi juga semakin bertambah.
Setiap parameter diatas diberi skala berbeda (dari 1-3) dan dengan
menjumlahkan keenam parameter tersebut didapatkan perkiraan kronologi
usia.
b. Teknik Radiografi
1) Kvaal et all mengembangkan teknologi untuk menentukan perkiraan umur
menilai ukuran pulpa gigi dari gambaran radiografi periapical dari tipe gigi :
insisivus sentral dan lateral maksila, kaninus, dan premolar pertama. Perkiraan
umur berdasarkan jenis kelamin dan perhitungan beberapa ratio panjang dan
lebar pulpa untuk mengimbangi pembesaran dan angulasi dari gambar gigi yang
asli dengan gambaran radiografi.
2) Kvaal and Solheim juga mempresentasikan metode yang mengkombinasikan
teknik morfologi dan radiografi untuk menentukan perkiraan umur. Berdasarkan
gigi yang diukur, beberapa parameter yang dinilai : translusensi apical dalam
mm (T), retraksi ligamentum periodontal dalam mm (P), panjang pulpa yang
diukur dari gambar radiografi (PL), panjang akar gigi yang diukur dari
permukaan mesial gambar radiologi (RL), lebar pulpa pada daerah cementoenal
junction pada gambar radiografi (PWC), lebar akar pada daerah cementoenal
junction pada gambar radiografi (RWC), lebar pulpa pada daerah pertengahan
akar (RWM), lebar akar pada daerah pertengahan akar (RWM).
c. Metode Asam Aspartat
Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia berdasarkan pada
terdapatnya bahan tersebut pada dentin manusia. Komponen protein terbanyak pada
tubuh manusia berbentuk L-amino Acid, D-amino acid yang ditemukan pada tulang,
25

gigi, otak dan lensa mata. D-amino acid dipercaya mempunyai proses metabolisme
yang lambat dan tiap bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih lambat dan
mempunyai ratio dekomposisi yang lebih lambat juga. Asam aspartat mempunyai
kemampuan penghapusan paling tinggi dari semua asam amino.
Pada 1976 Helfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk mempelajari
perkiraan umur dengan membandingkan rasio D-Laspartat acid dengan 20 subyek
dengan hasil bagus (r = 0,979) rasio yang tinggi pada D/L rasio banyak ditemukan
pada usia muda dan menurun akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan.
Pada tahun 1990 Ritz et al. melaporkan adanya asam aspartat pada dentin untuk
menentukan usia pada orang yang telah meninggal, berdasarkan hal tersebut metode
ini dapat menyediakan informasi yang lebih akurat tentang penentuan usia
dibandingkan dengan parameter yang lain.
Untuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut :
Ln (1 + D/L) / (1 D/L) = 2k (aspartat)t + konstanta
K : first order kinetik
t : actual age
Gigi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian bawah dan
premolar pertama. Mereka menemukan perkiraan umur yang lebih baik dari fraksi
total asam amino dengan membagi menjadi fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi
peptide. Dibandingkan dengan total asam amino, fraksi kolagen yang tidak larut dan
fraksi peptide yang terlarut, mempunyai konsentrasi glutamine dan asam aspartat
yang lebih tinggi.
11

8) Peranan Forensik Odontologi Dalam menangani bencana Massal
Kematian yang tidak wajar atau tidak terduga, atau dalam kondisi bencana
massal, kerusakan fisik yang direncanakan, dan keterlambatan dalam penemuan jenazah,
bisa mengganggu identifikasi. Dalam kondisi inilah forensik odontologi diperlukan
walaupun tubuh korban sudah tidak dikenali lagi.
8
Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah
kemanusiaan dan hukum. Masalah kemanusian menyangkut hak bagi yang meninggal,
dan adanya kepentingan untuk menentukan pemakaman berdasarkan agama dan
26

permintaan keluarga. Mengenai masalah hukum, seseorang yang tidak teridentifiksi
karena hilang, tidak dipersoalkan lagi apabila telah mencapai 7 tahun atau lebih. Dengan
demikian surat wasiat, asuransi, masalah pekerjaan dan hukum yang perlu diselesaikan,
serta masalah status pernikahan menjadi tidak berlaku lagi. Sebelum sebab kematian
ditemukan atau pemeriksa medis berhasil menentukan jenazah yang sulit diidentifikasi,
harus diingat bahwa kegagalan menemukan rekaman gigi dapat mengakibatkan
hambatan dalam identifikasi dan menghilangkan semua harapan keluarga, sehingga
sangat diperlukan rekaman gigi setiap orang sebelum dia meninggal.
8

9) Identifikasi Forensik Odontologi
Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk
membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat membantu untuk
membatasi korban yang sedang dicari atau untuk membenarkan/memperkuat identitas
korban.
1. Penentuan Usia
Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun. Identifikasi melalui
pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada pemeriksaan
antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua diawali
pada minggu ke 6 intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 16 minggu dan
berlanjut setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang stress metabolik
yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. Kelainan sel ini akan mengakibatkan
garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin di sebut sebagai neonatal line.
Neonatal line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan dentin telah dibentuk.
Ketika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan bahwa mayat
sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan enamel dan dentin ini umumnya
secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan dengan melihat ketebalan dari
struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan gigi permanen diikuti dengan
penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar pertama dan dilanjutkan sampai akar
dan gigi molar kedua yang menjadi lengkap pada usia 14 16 tahun. Ini bukan
referensi standar yang dapat digunakan untuk menentukan umur, penentuan secara
klinis dan radiografi juga dapat digunakan untuk penentuan perkembangan gigi.
8
27


Gambar 9. Gambaran X-ray gigi pada seorang anak.
8
Gambar diatas memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada anak :
1. Gambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan
perkembangan pada usia 9 tahun (pada usia 6 tahun terjadi erupsi dari akar
gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh secara utuh).
2. Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan Massler pada
gambar (b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 9 tahun.
Penentuan usia antara 15 dan 22 tahun tergantung dari perkembangan gigi molar
tiga yang pertumbuhannya bervariasi. Setelah melebihi usia 22 tahun, terjadi
degenerasi dan perubahan pada gigi melalui terjadinya proses patologis yang lambat
dan hal seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.
8
2. Penentuan Jenis Kelamin
Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. Gigi geligi
menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. Anderson mencatat
bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm,
sedangkan pada pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA
dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.
8
3. Penentuan Ras
28

Gambaran gigi untuk Ras Mongoloid adalah sebagai berikut:
8
1. Shovel-shaped insisivus. Insisivus pada maksila secara nyata menunjukkan
bentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras kaukasoid dan 12
% ras negroid memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak
terlalu jelas.
2. Dens evaginatus. Tuberkel asecoris pada permukaan oklusal premolar bawah
pada 1-4% ras mongoloid.
3. Akar distal tambahan pada molar pertama mandibula ditemukan pada 20%
mongoloid dan hanya 1% pada kaukasoid..
4. Lengkungan palatum berbentuk elips dengan dasar yang lebih datar.
5. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

Gambar 10. Shovel-shaped incisors pada seorang wanita China.
8
Gambaran gigi untuk Ras Kaukasoid adalah sebagai berikut:
1. Cusp Carabelli, yakni berupa tonjolan tambahan pada permukaan mesiolingual yang
hamper selalu ditemukan pada gigi molar pertama permanen maksilaris dan pada
gigi susu molar kedua mandibularis.
2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari mandibula.
3. Maloklusi pada gigi anterior.
4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.
5. Dagu menonjol.
29


Gambar 10. Mesiolingual cusps of Carabelli pada gigi molar pertama
atas dari seorang ras Caucasoid.
8

Gambaran gigi untuk Ras Negroid adalah sebagai berikut:
1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan pada
permukaan lingual.
2. Sering terdapat open bite.
3. Palatum lebar, hiperbolik, dengan dasar palatum sempit.
4. Sering didapatkan maloklusi klas III
5. Palatum berbentuk lebar.
6. Protrusi bimaksila, tulang alveolar maksila dan mandibula menonjol dengan gigi seri
miring ke arah labium ras mongoloid dan non-Anglo Caucasoid juga dapat
memperlihatkan hal tersebut namun lebih sering ditemukan pada populasi negroid.
7. Sekitar 20 persen orang ras negroid sudah tidak menunjukkan cirri tersebut karena
telah terjadi perkawinan silang ras.
8. Tuberkulum intermedium, terdapat penonjolan tambahan diantara distolingual dan
mesiolingual pada gigi molar pertama.
8

3. DNA
Bukti DNA merupakan jenis bukti fisik, bukti ilmiah yang digunakan dalam
menyelidiki, pemecahan, dan penuntutan kasus-kasus kriminal, termasuk kasus-kasus
pemerkosaan. Ketika lembaga penegak hukum dan pengacara memanfaatkan bukti DNA, hal
itu seperti "silent witness" yang membantu untuk mengidentifikasi atau menghilangkan
tersangka tertentu. Asam deoksiribonukleat (DNA) adalah rantai kode informasi genetik
30

yang terdapat di dalam inti sel, yang menentukan karakteristik keturunan individu. Hal ini
seperti blueprint genetik dan identik di setiap sel individu. Penggunaan bukti DNA dalam
investigasi kriminal dan penuntutan berpusat pada teori bahwa tidak ada dua manusia,
kecuali untuk kembar identik, memiliki DNA yang sama persis, meskipun teori ini belum
benar-benar terbukti.
14

Ilmuwan pemenang Hadiah Nobel James Watson dan Francis Crick menemukan
struktur DNA pada tahun 1950. Sejak awal, analisis DNA telah memiliki dampak yang besar
pada pelaksanaan investigasi kriminal dan litigasi. Banyak kasus kekerasan seksual yang
kekurangan bukti identifikasi seperti sidik jari laten tetapi sering mengandung jejak bukti
seperti semen, rambut, darah, dan bukti karakteristik kelas lain yang ilmuwan dapat
melakukan ekstraksi DNA. Bukti ini merupakan salah satu target utama dari sekumpulan
bukti dalam kasus perkosaan.
14

Sumber utama dari bukti DNA dalam kasus kekerasan seksual adalah korban, TKP,
dan tersangka yang diketahui. Agar bukti DNA untuk menjadi berguna, peneliti perlu kedua
sampel DNA dari korban atau TKP dan sampel DNA dari tersangka pelaku kejahatan. Tanpa
kedua sampel, seorang peneliti tidak dapat menentukan kemungkinan individu tertentu atau
eliminasi sebagai tersangka. Meskipun pemeriksaan medis korban perkosaan adalah
kepentingan utama, penyidik seharusnya tidak mengabaikan kemungkinan bukti DNA di
TKP.
14

Dalam beberapa kasus, para ilmuwan telah bahkan menggunakan bukti DNA dari
korban orang tua dan dari darah dipulihkan di TKP untuk membuktikan pembunuhan korban
ketika tubuhnya tidak dapat dipulihkan. Kemajuan teknologi DNA memberikan wawasan
forensik yang lebih besar tetapi juga memberikan tantangan yang lebih besar untuk
digunakan dalam penuntutan karena semakin sulit bagi orang awam untuk memahami.
14
1. Definisi
Asam deoksi-ribonukleat (Deoxyribonucleic Acid = DNA), yang biasanya
dimaksud the blueprint of life membawa informasi geneetik yang dibutuhkan oleh
suatu organisme untuk berfungsi. Struktur DNA adalah untaian ganda (double helix),
yaitu dua untai bahan genetik yang membentuk spiral satu sama lain. Setiap untaian
terdiri dari satu deretan basa (juga disebut nukleotida), yang terdiri dari 3 grup bahan
31

kimia yang berbeda: basa, gula (deoxyribose), dan fosfat. Basa dimaksud adalah salah
satu dari keempat senyawa kimiawi berikut: Adenin, Guanin, Cytosine dan Thymine.
14

Struktur kimiawi DNA dari setiap orang adalah sama, yang berbeda hanyalah
urutan/susunan dari pasangan basa yang membentuk DNA tersebut. Ada jutaan pasangan
basa yang terkandung dalam DNA setiap orang, di mana urutan/susunan basa-basa
tersebut berbeda untuk setiap orang. Berdasarkan perbedaan urutan/susunan basa-basa
dalam DNA tersebut, setiap orang dapat diidentifikasi. Namun demikian, karena ada
jutaan pasangan basa, pekerjaan tersebut akan membutuhkan waktu yang lama. Sebagai
penggantinya, para ahli dapat menggunakan metode yang lebih pendek, yaitu berdasarkan
adanya pola pengulangan urutan/deretan basa dalam DNA setiap orang.
14

2. Pengambilan Sampel
a) Ante Mortem Sampel
Diperhitungkan risiko untuk informasi palsu pilihan sampel maka referensi DNA
Ante Mortem harus:
- Kerabat dekat pertama, jika mungkin lebih dari satu. DNA profil dari tingkat
pertama kerabat akan selalu memberikan informasi yang memadai untuk
pencocokan. Dalam kebanyakan kasus itu juga akan mungkin untuk menemukan
dan mengambil sampel dari lebih dari satu relatif. Donor yang cocok tercantum
dalam urutan preferensi di bawah ini:
1. Monozigot / kembar identik.
2. Ibu dan ayah biologis dari korban.
3. Ibu biologis atau ayah biologis dari korban dan jika mungkin saudara
kandung.
4. Anak-anak biologis dan pasangan korban.
5. Saudara kandung dari korban (beberapa)
Sampel yang biasa dipilih adalah apusan mukosa bukal dan tetes darah yang
diambil dari ujung jari.


32

- Darah atau biopsi sampel dari korban potensial.
Lain situasi yang ideal, DNA sampel referensi diperoleh dari sampel yang
diambil untuk pemeriksaan medis atau analisis yang sama sebelum kematian
almarhum dan disimpan dalam bio-bank atau lainnya bio-medis sumber DNA
(seperti rumah sakit, unit patologi, dan ayah dan darah laboratorium transfusi).
- Pribadi benda-benda yang telah digunakan oleh almarhum.
Hal ini juga mungkin untuk mendapatkan sampel referensi dari benda-benda
yang telah digunakan oleh almarhum. Penting untuk membangun sejak awal
apakah obyek diproses milik dan digunakan secara eksklusif oleh individu yang
bersangkutan. Jika suatu benda (misalnya sikat rambut) tidak digunakan hanya
oleh orang yang bersangkutan, identitas orang kedua harus ditentukan, dan
sampel DNA harus diambil dari orang untuk tujuan perbandingan. Sebagai
obyek sebanyak mungkin harus diperoleh untuk tujuan pengumpulan DNA AM,
karena mungkin bahwa item individu dari bukti tidak akan menghasilkan hasil
analisis yang diinginkan. Contoh barang-barang yang dimungkinkan untuk
mengekstrak DNA: pisau cukur, gelas, sikat gigi, sisir, lipstik, deodoran rol,
cangkir dan gellas yang digunakan, puntung rokok, helm dan topi, headphone,
kacamata, perhiasan, dan jam tangan.

Tabel 1. Bahan pengambilan sampel untuk profil DNA.
6
33

b) Post Mortem Sampel
Tingkat keberhasilan untuk sidik DNA tergantung pada seberapa cepat sampel diperoleh
dan dipelihara. Selama pengumpulan sampel, ahli genetika forensik atau patologi dengan
pengetahuan dasar tentang genetika forensik harus hadir untuk memberikan bimbingan
untuk koleksi DNA sampel. Tergantung pada kondisi korps, berbagai jenis jaringan
dikumpulkan:
Keadaan Tubuh Rekomendasi Sampel
Lengkap, mayat belum
membusuk
Darah (pada kertas FTA atau apusan) dan apusan
mukosa ukal
Termutilasi, mayat belum
memusuk
Jika memungkinkan: darah dan jaringan otot dalam.
Lengkap, mayat sudah
membusuk atau termutilasi

Sampel dari tulang kompak panjang (bagian 4-6
cm, bagian jendela, tanpa pemisahan shaft)
Atau.
Gigi sehat (sebaiknya molar)
Atau.
Setiap tulang lain yang tersedia jika mungkin;
sebaiknya tulang kortikal dengan jaringan padat)
Mayat yang terbakar hebat Semua sampel yang tercantum di atas dan gigi yang
impaksi atau akar gigi jika ada
atau
Apusan dari kandung kemih
Tabel 2. Pemilihan sampel berdasarkan keadaan mayat.
3. Pemeriksaan Polimorfisme DNA
Ada banyak yang jumlah sampel yang bisa diterima untuk pemeriksaan profil
DNA. Prosedur pastinya termasuk pengumpulan sampel, penyimpanan sampel, dan
ekstraksi DNA dari beragam sampel.
17

Pemeriksaan polimorfisme DNA meliputi pemeriksaan Sidik DNA (DNA
Fingerprint), VNTR (Variable Number of Tandem Repeats) dan RFLP (Restriction
Fragment Length Polymorphisms), secara Southern Blot maupun dengan PCR
(Polymerase Chain Reaction).
17



34

a. Variable Number Tandem Repeats (VNTR)
Setiap untaian DNA mempunyai bagian yang membawa informasi genetik yang
menginformasikan pertumbuhan suatu organisme, bagian ini disebut exons , dan
bagian yang tidak membawa informasi genetik, yang disebut introns . Namun
demikian, introns bukanlah sesuatu yang tidak berguna, telah ditemukan bahwa
introns mengandung deretan pasangan basa terulang. Deretan ini disebut
Variable Number Tandem Repeats (VNTR) yang dapat tersusun dari dua-puluh
hingga seratus pasangan basa.
16,17

Setiap manusia mempunyai beberapa VNTR. Untuk menentukan apakah
seseorang mempunyai VNTR khusus, dibuat suatu southern blot, kemudian
southern blot tersebut di-probe-kan, selanjutnya melalui reaksi hibridisasi dengan
suatu versi radioaktif dari VNTR yang dipertanyakan. Pola yang dihasilkan dari
proses ini dianggap sebagai sidik jari DNA.
17

VNTRs seseorang berasal dari informasi genetik yang diwariskan oleh kedua
orang tuanya (ibu dan bapak). Dia dapat memiliki VNTR yang diwariskan dari
bapaknya atau dari ibunya, atau kombinasi dari keduanya, tetapi mustahil tidak ada
dari keduanya.
17

Southern Blot adalah salah satu cara untuk menganalisis pola-pola genetik yang
muncul dalam DNA seseorang. Tahapan-tahapan pekerjaan Southern Blot,
meliputi:
17

1. Isolasi DNA, yang dipermasalahkan yang berasal dari sisa-sisa bahan sel di
dalam inti sel. Pekerjaan ini dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu dengan
menggunakan detergent khusus untuk mencuci bahan ekstra dari DNA, atau
secara mekanis, dengan menerapkan tekanan tinggi untuk melepaskan DNA
dari bahan-bahan sel lainnya.
2. Pemotongan DNA menjadi beberapa potongan dengan ukuran yang berbeda.
Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan satu atau lebih enzim
pemotong (restriction enzymes).
3. Penyortiran potongan DNA berdasarkan ukurannnya. Suatu proses di mana
dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran atau fraksinasi ukuran dengan
menggunakan cara yang disebut elektroforesis gel (gel electrophoresis). DNA
35

dimasukkan ke dalam gel (seperti agarose), dan muatan listrik diterapkan pada
gel tersebut, dengan muatan positif pada dasar wadah gel, dan muatan negatif
pada puncak wadah. Karena DNA bermuatan negatif, maka potongan DNA
akan tertarik ke arah dasar gel. Namun demikian, potongan-potongan kecil dari
DNA akan dapat bergerak lebih cepat, dan karenanya berada lebih jauh dari
dasar dibandingkan dengan potongan-potongan yang lebih besar. Berdasarkan
prinsip di atas, potongan DNA dengan ukuran yang berbeda akan terpisah,
potongan yang lebih kecil lebih dekat ke dasar, dan potongan yang lebih besar
lebih dekat ke puncak.
4. Denaturasi DNA, agar semua DNA berubah menjadi untai tunggal. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara pemanasan atau dengan perlakukan kimiawi
terhadap DNA yang terdapat di dalam gel.
5. Blotting DNA. Gel dengan DNA yang sudah terfraksinasi berdasarkan
ukurannya diterapkan pada lembaran kertas nitrosellulosa sehingga DNA
tersebut dapat melekat secara tetap pada lembaran tersebut. Lembaran ini
disebut Southern blot). Sekarang southern blot sudah siap dianalisis. Untuk
menganalisis suatu southern blot digunakan suatu probe genetik radioaktif
yang akan melakukan reaksi hibridisasi dengan DNA yang dipertanyakan. Jika
suatu sinar-X dikenakan pada southern blot setelah probe-radioaktif
dibiarkan berikatan dengan DNA yang telah terdenaturasi pada kertas, hanya
area di mana probe radioaktif berikatan yang terlihat pada film. Keadaan ini
yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi DNA seseorang dari
kejadian dan frekwensi pemunculan pola genetik khusus yang terkandung pada
probe.
36


Gambar . Analisi Southern Blot DNA
16,17

b) Restriction Fragment Length Polymorphisms (RFLP)
Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Length Polymorphisms
(RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat adanya variasi panjang
fragmen DNA setelah dipotong dengan enzim restriksi tertentu. Suatu enzim restriksi
memunyai kemampuan untuk memotong DNA pada suatu urutan basa tertentu
sehingga akan menghasilkan potongan-otongan DNA tertentu. Adanya mutasi
tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuat DNA yang biasanya dapat dipotong
menjadi tak dapat dipotong sehigga terbentuk fragmen DNA yang lebih panjang.
Variasi inilah yang menjadi dasar meted analisis RFLP.
17

VNTR yang telah dibicarakan di atas sesungghnya adalah salah satu jenis RFLP,
karena variasi fragmennya didapatkan setelah pemootongan dengan enzim rstriksi.
Metode pemeriksaan RFLP dapa dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat
juga dengan metode PCR.
17

37

c) Polymerase Chain Reaction (PCR)
Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode untuk
memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan menggunakan enzim
polymerase DNA. Secara prinsip, PCR merupakan proses yang diulang-ulang antara
2030 kali siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga tahap. Berikut adalah tiga tahap
bekerjanya PCR dalam satu siklus:
17

1) Tahap peleburan (melting) atau denaturasi. Pada tahap ini (berlangsung pada suhu
tinggi, 9496 C) ikatan hidrogen DNA terputus (denaturasi) dan DNA menjadi
berberkas tunggal. Biasanya pada tahap awal PCR tahap ini dilakukan agak lama
(sampai 5 menit) untuk memastikan semua berkas DNA terpisah. Pemisahan ini
menyebabkan DNA tidak stabil dan siap menjadi templat ("patokan") bagi primer.
Durasi tahap ini 12 menit.
2) Tahap penempelan atau annealing. Primer menempel pada bagian DNA templat
yang komplementer urutan basanya. Ini dilakukan pada suhu antara 4560 C.
Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu yang tidak tepat menyebabkan tidak
terjadinya penempelan atau primer menempel di sembarang tempat. Durasi tahap
ini 12 menit.
3) Tahap pemanjangan atau elongasi. Suhu untuk proses ini tergantung dari jenis
DNA polimerase (ditunjukkan oleh P pada gambar) yang dipakai. Dengan Taq-
polimerase, proses ini biasanya dilakukan pada suhu 76 C. Durasi tahap ini
biasanya 1 menit.
Lepas tahap 3, siklus diulang kembali mulai tahap 1. Akibat denaturasi dan
renaturasi, beberapa berkas baru (berwarna hijau) menjadi templat bagi primer lain.
Akhirnya terdapat berkas DNA yang panjangnya dibatasi oleh primer yang dipakai.
Jumlah DNA yang dihasilkan berlimpah karena penambahan terjadi secara
eksponensial.
17

38


Gambar 12. Siklus PCR.
17
Pada masa sebelum berkembangnya teknologi biomolekular, identifikasi
personal dilakukan hanya dengan memanfaatkan pemeriksaan polimorfisme,
seperti golongan darah, dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan pertama, ia
hanya dimungkinkan dilakukan pada bahan yang segar karena protein cepat rusak
oleh pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat memberikan kesimpulan
eksklusi yaitu pasti bukan atau mungkin.
17
Penemuan sidik DNA yang menawarkan metode eksklusi dengan
kemampuan eksklusi yang amat tinggi membuatnya menjadi metode pelengkap
atau bahkan pengganti yang jauh lebih baik karena ia mempunyai ketepatan yang
nyaris seperti sidik jari.
17
D. Identifikasi Sekunder
Identifikasi meliputi deskripsi pribadi, temuan medis serta bukti dan pakaian yang
ditemukan pada tubuh. Ini berarti identifikasi berfungsi untuk mendukung identifikasi
dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satu-satunya alat identifikasi.

7) Deskripsi pribadi/temuan medis
Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut,
warna mata, cacat atau kelainan khusus. Metode ini mempunyai nilai tinggi karena
39

selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara/modifikasi
(termasuk pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga ketepatannya cukup tinggi.
Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi
ini. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur
dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.
2
Deskripsi pribadi terdiri dari data dasar (usia, jenis kelamin, tinggi badan, etnis)
dan kekhasan tertentu. Temuan medis, seperti bekas luka dan operasi pengangkatan
organ dapat pro-vide informasi penting tentang riwayat kesehatan korban. Jenis-
jenis operasi yang memperlihatkan beberapa karakteristik individu (misalnya usus
buntu) harus diperhitungkan dalam konteks ini. Nomor unik yang ditemukan pada
jantung kecepatan pembuat dan perangkat palsu adalah fitur mengidentifikasi
handal. Tato, tahi lalat dan pengrusakan juga dapat berfungsi sebagai indikator
identitas.
2

8) Properti
Kategori ini mencakup semua efek yang ditemukan pada tubuh korban
(misalnya perhiasan, barang dari pakaian, dokumen identifikasi pribadi, dll). Item
yang terukir pada perhiasan dapat memberikan petunjuk penting mengenai
identitas korban. Penting untuk dipertimbangkan, bagaimanapun, bahwa item
tertentu mungkin tidak benar-benar bukti milik tubuh tertentu (misalnya surat-
surat identitas dapat dilakukan oleh orang yang berbeda, barang perhiasan atau
pakaian mungkin telah dipinjamkan sengaja untuk individu lain, selama
pengambilan, item mungkin tidak sengaja telah ditempatkan dalam satu kantong
mayat). Produk perhiasan memiliki nilai identifikasi yang lebih tinggi jika mereka
terpasang kuat ke tubuh korban (misalnya tindikan).
2





40

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawestiningtyas, Eriko. Identifikasi Forensik Berdasarkan Pemeriksaan Primer dan
Sekunder Sebagai Penentu Identitas Korban pada Dua Kasus Bencana Massal. Malang :
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya; 2009.
2. Interpol. Disaster Victim Identification Guide : Methods of identification. P 15-8; 2009.
3. Budiyanto, Arif. Ilmu Kedokteran Forensik : Identifikasi Forensik. Jakarta : Bagian
Kedokteran Forensik Universitas Indonesia. Hal 197-202
4. Presiden Republik Indonesia. Undang- Undang No.8 tahun 1981 tentang: kitab undang-
undang hukum acara Pidana. Indonesia. 31 Desember 1981.
5. Presiden Republik Indonesia. Undang- Undang Republik Indonesia No.36 tahun 2009
tentang kesehatan : Bab X Penyidikan pasal 189. 2009
6. Ashabaugh, David R. Ridgeology. Journal of forensic Identification Vol. 41; 1991
7. H.C. Lee, R.E. Gaenssken. Advances in Fingerprint Technology. Elsevier, 1991.
8. Hendarko, Gunar. Identifikasi Citra Sidik Jari Menggunakan alihragam Wavelet dan
jarak Euclidean.Universitas Dipenogoro ;2005
9. Idris Abdul, Tjiptomartono Agung, Penerapan Ilmu kedokteran forensik dalam
penyidikan. Jakarta 2008. Hal: 287-9
10. Knight, Bernard. Simpsons Forensic Medicine eleventh edition : indentification of living
and dead. New York : Oxford University. P 32-5 ;2001. (ebook)
11. Eckert, William G. Forensis Sciences Second Edition : Forensic Odontology. New York :
Elseiver. Page 37-8; 1992 ebook
12. Wagner, Glenn N. Forensic Dentistry: Scientific methods of investigation. New York:
CRC press. Page:16-18;1997.ebook
13. Harvey W. Dental Identfication and forensic odontology. First Ed London : Henry
Kimpton Pub 1976: 1-6
14. Linehan, Mary. Encyclopedia of Rape : DNA Collection and Evidence. New York :
Oxford University. P 57-60 ;2001. (ebook)
15. Kazuo, Murakami. The Devine Message of the DNA. Bandung : PT. Mizan Utama; 2008
16. Brown A, Terence. Southern Blotting and Related DNA Detection Techniques.
Manchester, UK : University of Manchester Institute of Science and Technology : 2001
41

17. Walter, Victor. Forensic Dentistry :DNA identfication. New York: CRC press. Page: 52-
54;1997
18. Duncan, George. Forensis Sciences Second Edition : Serology and DNA typing. New
York : Elseiver page 242-3; 1992
19. Nagy, Marion. Molecular Forensics : Automated DNA extraction techniques for forensic
analysis. Department of Biosciences, University of Hertfordshire, Hatfi eld, UK. Page 52; 2007
20. Djaja Surya Atmaja, Evi. Peranan analisis DNA pada penanganan kasus Forensik.
Jakarta: FKUI. Hal : 2; 200

Anda mungkin juga menyukai