Anda di halaman 1dari 34

SPESIFIKASI TEKNIS

1

SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR

1.1 PERSYARATAN UMUM PELAKSANAAN
1.1.1 Peraturan yang berlaku
Untuk pelaksanaan pekerjaan ini digunakan ketentuan-ketentuan
peraturan seperti yang tercantum dibawah ini :
a. Instruksi Menteri Pekerjaan Umum, Nomor 02/1N/M/20:S tentang
Penegasan Dalam Kontrak.
b. Peraturan Presiden RI. Nomor 70 Tahun 2012.
c. Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah RI
Nomor : 339/KPTS/M/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi oleh
Instansi Pemerintah.
d. Instruksi Presiden Rl Nomor 1 Tahun 1988.
e. Aigemene voorwearden voor de uitvoering bij aaneming van
openbare warken, yang disahkan dengan Surat Keputusan Pemerintah
Hindia Belanda nomor 28 tanggal 9 Mei 1941 dan Tambahan
Lembaran Negara Nomor 14571 (khusus pasal-pasal yang masih
berlaku).
f. SNI 1728-1989.SKBI 1.3.53.1989 tentang tata cara pelaksanaan
mendirikan bangunan gedung.
g. SNI 03-1734-1989; SNI 03-1734-189-F, tentang tata cara
perencanaan beton bertulang dan struktur dinding beton bertulang
untuk rumah dan gedung
h. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 1977 (oleh Yayasan
Normalisasi Indonesia)
i. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah Setempat
j. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
k. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 031/KPTS/1981.
l. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 02/KPTS/198: tentang
Penanggulangan Bahaya Kebakaran.

SPESIFIKASI TEKNIS
2

m. Surat Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah RI.
Nomor 332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002 Tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara
n. Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan tertulis yang
diberikan pengawas pekerjaan untuk mencapai tujuan
pembangunan.

Apabila ternyata terdapat revisi terakhir dari peraturan-peraturan
tersebut diatas, maka revisi terakhir yang menjadi acuan dalam
pelaksanaannya. Demikian pula apabila bertentangan dengan Spesifikasi
Teknik berikut ini maka yang berlaku adalah Spesifikasi atau
berdasarkan keputusan Direksi Pengawas.

1.1.2 Kualitas Bahan dan Pekerjaan
a. Kualitas Pekerjaan harus dari tingkat yang prima dan hasil kerja
harus memberikan penampilan dan kesan yang rapi dan baik.
b. Untuk itu tenaga kerja yang digunakan berpengalaman (pada
pekerjaan serupa terampil dan cakap)
c. Material yang digunakan adalah KW.1 atau Grad 1 untuk semua
item pekerjaan.
d. Spesifikasi material yang akan digunakan terlebih dahulu
disampaikan kepada direksi/konsultan pengawas dengan -
memperlihatkan brosur/keterangan yang menjelaskan kualitas
bahan tersebut.
e. Material yang ditolak oleh direksi/konsultan pengawas harus
diangkat keluar dari lapangan saat itu juga.
f. Apabila diperintahkan oleh Direksi, Kontraktor harus membuat
pembukaan/pembongkaran pada pekerjaan dan/atau bahan agar
dapat diadakan pemeriksaan.
g. Apabila dalam pemeriksaan itu Direksi menemukan kesalahan,
kerusakan atau cacat-cacat lain, Kontraktor harus segera
membongkar dan memperbaikinya sampai pada kondisi yang
sesuai dengan spesifikasi ini dan harus memikul biaya yang
diperlukan untuk pembukaan/pembongkaran pemeriksaan dan
perbaikan tersebut.
1.1.3 Pemeriksaan Pekerjaan dan Pengamanan
a. Peralatan Pelaksanaan.

SPESIFIKASI TEKNIS
3

1) Kontraktor harus mengadakan dan menyiapkan semua peralatan
pelaksanaan yang diperlukan dalam jumlah yang cukup dan
kondisi yang baik dan siap pakai, agar terjamin adanya kualitas
pekerjaan yang baik dan memenuhi persyaratan sehingga
seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu yang tepat
seperti ditentukan dalam pelelangan.
2) Apabila ternyata peralatan yang digunakan menurut pendapat
Direksi tidak efisien pengoprasiannya atau tidak sesuai
kegunaannya atau jumlahnya kurang, hingga mutu pekerjaan
yang dihasilkan tidak sesuai dengan persyaratan atau laju
pekerjaannya tidak memadai, Direksi berhak memerintahkan
Kontraktor untuk mengganti atau menambah peralatan
dimaksud.
3) Kegagalan Direksi dalam perintahnya pada Kontraktor tidak
membebaskan Kontraktor dari tanggung jawab atas pemenuhan
kualitas pekerjaan dan laju pekerjaan seperti yang diuraikan
dalam Dokumen Kontrak.

b. Perlindungan terhadap Bangunan dan Utilitas.
1) Kontraktor bertanggung jawab atas perlindungan terhadap
semua bangunan dan utilitas, baik milik pribadi maupun milik
negara/masyarakat termasuk semua sarana dan prasarananya,
baik yang tertera dalam gambar maupun tidak.
2) Kontraktor harus mengambil langkah-langkah yang dianggap
perlu untuk melindungi bangunan dari utilitas tersebut dari
segala macam kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat
kegiatan-kegiatan pelaksanaan oleh Kontraktor harus diperbaiki
oleh dan atas beban biaya Kontraktor, sesuai dengan kondisi
sebelumnya.
3) Dalam hal terjadi kerusakan, Kontraktor wajib segera
memberitahu pemilik bangunan dan utilitas agar diperoleh
kesepakatan tentang perbaikannya.

SPESIFIKASI TEKNIS
4

4) Kontraktor bertanggung jawab untuk memperoleh informasi
semua bangunan dan jaringan utilitas yang terletak didalam
tanah. Prasarana yang ada disekitar dan diperlukan oleh
bangunan dan utilitas harus dijaga agar tetap berfungsi.
5) Kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pelaksanaan
oleh Kontraktor, harus diperbaiki oleh dan atas beban biaya
Kontraktor sesuai dengan kondisi sebelumnya.

c. Penjagaan dan Pemeliharaan.
Untuk tahap pekerjaan yang telah selesai, Kontraktor bertanggung
jawab atas penjagaan, perlindungan dan pemeliharaannya, seperti
pekerjaan permukaan bagian dalam/luar, perlengkapan peralatan
dan lain-lainnya dari segala macam bentuk noda/kotoran,
kerusakan dan cacatcacat lainnya selama masa Kontrak berlangsung
sampai pada saat pekerjaan diserahkan untuk kedua kalinya kepada
pemilik. Persyaratan dan ketentuan khusus dibawah ini harus
dianggap sebagai standar kondisi akhir pekerjaan pada saat
penyerahan I (pertama) :
1) Halaman Bangunan
Setelah pekerjaan selesai, kecuali Direksi berpendapat lain,
Kontraktor harus membongkar semua bangunan sementara,
peralatan pelaksanaan, mesin-mesin kelebihan bahan, puing-
puing dan kotoran-kotoran lain dari halaman bangunan.
Kontraktor harus membuang bahan-bahan zat-zat organik yang
berada didalam. dibawah dan sekitar bangunan dan melakukan
desinfektan terhadap dan bekas-bekasnya. Halaman bangunan
harus diserahkan dalam kondisi yang rapi dan memuaskan.
2) Permukaan Beton, Pasangan dan Logam
Kontraktor harus membersihkan secara cermat semua
permukaan beton, pasangan dan logam serta ceceran adukan,
noda-noda bekas bocoran pada beton bekas-bekas bekisting,
ceceran aspal, cat dan lain-lain kotoran.

SPESIFIKASI TEKNIS
5

3) Kaca
Kontraktor harus memperbaiki/mengganti, apabila perlu
mencuci, menggosok, secara cermat semua permukaan kaca, dan
membersihkan/menghilangkan kelebihan bahan lapisan
kompon, ceceran cat dan goresan.Ruang antara pada bingkai
dengan kaca rangkap harus benar-benar bersih dari sisa-sisa
serutan, serbuk gergaji dan segala macam bentuk kotoran lain.
4) Permukaan Cat, Email dan Politur
Kontraktor harus membersihkan semua permukaan dari semua
tanda-tanda, noda, goresan, bekas jari dan kotoran lain.
5) Permukaan Lantai
Kontraktor harus menyingkirkan semua lapis/penutup
pelindung sementara dan membersihkan dari semua noda-noda
dan tanda-tanda dan apabila dianggap perlu oleh Direksi,
diberikan lapisan lilin lantai (wax) dan digosok.
6) Permukaan Dinding Glazuur
Kontraktor harus membersihkan dinding glazuur dari semua
noda, ceceran cat dan kotoran-kotoran lain.
7) Perlengkapan Listrik
Kontraktor harus membersihkan dan menggosok permukaan
peralatan-peralatan logam, perlengkapan penerangan dan
papan-papan pemasangan kabel dari ceceran cat, debu dan
kotoran-kotoran lain. Terlebih lagi pada komponen-komponen
yang tergantung.
8) Pekerjaan Ducting
Kontraktor harus membuang dan membersihkan puing-puing
dan kotoran lain dari pekerjaan ducting.
9) Permukaan Atap
Kontraktor harus membuang dan membersihkan puing-puing,
ceceran paku dan semua kotoran lain dari permukaan atap.

SPESIFIKASI TEKNIS
6

10) Plumbing dan Perlengkapannya
Kontraktor harus membersihkan pipa-pipa, fitting dar kotoran
dan puing-puing, membersihkan dengar menggosok semua
perlengkapannya, serta menjamir bahwa fasilitas ini dapat
berfungsi dengan baik.
11) Pemeriksaan, Penyediaan Bahan dan Barang
Bila dalam rencana kerja dan syarat-syarat disebutkan nama dan
pabrik pembuatan dari suatu bahan dan barang, maka hal ini
dimaksudkan untuk menunjukkan bahan dan barang yang
digunakan setiap penggantian sesuai nama bahan dan pabrik
pembuatan dari suatu bahan dan barang tersebut yang telah
disetujui oleh Konsultan Perencana. Bila tidak ditentukan dalam
rencana kerja dan syarat-syarat serta gambar kerja, maka bahan
dan barang tersebut diusahakan dan disediakan oleh Kontraktor
yang harus mendapat persetujuan dari pemberi tugas. Contoh
bahan dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus
disediakan atas biaya Kontraktor. Setelah disetujui pemberi tugas
atau direksi dan dianggap bahwa bahan dan barang tersebut
yang akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan nanti. Contoh
bahan dan barang tersebut, disimpan oleh Direksi atau pemberi
tugas untuk dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan
barang yang dipakai tidak sesuai kualitas maupun sifatnya.
Dalam pengajuan harga penawaran, Kontraktor/Pelaksana
harus sudah memasukan jumlah keperluan biaya untuk
pengajuan berbagai bahan dan barang. Tanpa mengingat
jumlah tersebut Kontraktor/Pelaksana tetap bertanggung jawab
pula atas baiya pengujian bahan dan barang yang tidak
memenuhi persyaratan yang dibuat oleh Pemberi Tugas/Direksi
Pengawas.

d. Persyaratan-persyaratan lain.
1) Catatan dan Laporan
Kontraktor harus selalu menjaga kelengkapan catatan dalam
buku Direksi yang sesuai dengan pelaksanaan dan memperoleh
persetujuan Direksi. Semua catatan yang berhubungan dengan
pekerjaan selalu harus disiapkan untuk Direksi. Dan satu set
copy gambar lengkap dar spesifikasi harus selalu tersimpan di
direksi keet. Kontraktor juga harus membuat buku tamu yang
akan melaporkan tentang keperluan tamu proyek tersebut.
Laporan harian berisi jumlah tenaga kerja, material yang masuk,

SPESIFIKASI TEKNIS
7

item pekerjaan yang dikerjakan, kondisi cuaca waktu kerja.
Semua Laporan diatas diserahkan kepada Direksi pada hari
Senin setiap mingggunya.
2) Gambar sesuai Pelaksanaan (As Built Drawings)
Semua yang belum terdapat dalam gambar kerja karena
perubahan atas perintah Pemberi Tugas/Direksi, maka Kontraktor
wajib membuat gambar kerja (shop drawing). Selanjutnya
sebelum penyerahan I (pertama) pekerjaan, Kontraktor bekerja
sama dengan Konsultan Pengawas membuat gambar hasil
pelaksanaan pekerjaan (as built drawing) guna memperlihatkan
dan menyerahkan kepada Direksi, tentang perbedaan-perbedaar
antara gambar kerja dan hasil pelaksanaan pekerjaan. Gambar
tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3.
3) Foto-toto Mengenai Kemajuan Pekerjaan
Kontraktor harus mengambil foto lapangan sebelum pekerjaan
dimulai (0 %). Selanjutnya saat akan mengajukan pembayaran
angsuran berkala (terminj) penyerahan I (pertama) dan
penyerahan II (kedua) Kontraktor wajib melampiri foto-foto
kondisi kemajuan pekerjaan di lapangan. Arah pengambilan toto
untuk setiap kemajuan pekerjaan harus sama. Foto-foto ini
hendaknya dicetak berwarna 3 (tiga) rangkap dan diserahkan
kepada Direksi dalam bentuk album.
4) Keamanan Proyek
Kontraktor harus menjaga keamanan proyek untuk memberikan
perlindungan dan pengamanan atas semua bahan, perlengkapan,
peralatan dan pekerjaan yang ada di dalam batas areal proyek
dan sekitarnya yang menjadi tanggungjawabnya, terhadap semua
bentuk kerusakan gangguan atau kerugian yang dilakukan oleh
orang-orang atau pihak-pihak tidak berwenang. Untuk
mempermudah pelaksanaan pengamanan, Kontraktor harus
membuat gudang penyimpan bahan, perlengkapan dan peralatan
sesuai dengan petunjuk Direksi. Untuk pengawasan dan
penjagaan keamanan, Kontraktor harus menugaskan penjaga
gudang dan petugas keamanan yang memada dan harus
melakukan penjagaan terus menerus selama 24 jam setiap hari.
5) Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
Kontraktor harus menyediakan semua fasilitas P3K yang
mencakup obat-obatan, peralatan medis dan tenagatenaga para
medis (sewaktu dibutuhkan) untuk memberikan pertolongan

SPESIFIKASI TEKNIS
8

pertama kepada personil Kontraktor, dan semua yang terlibat
dalam pekerjaan. Dalam hal pengamanan P3K Kontraktor harus
mengikut, semua ketentuan dan peraturan yang berlaku tentang
Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta petunjuk Direksi.
6) Papan Nama Kegiatan
Papan nama kegiatan dipasang ditempat strategis dengan ukuran
panjang minimal 1,5 meter dan lebar 1 meter. Tulisan dibuat
dengan huruf cetak yang jelas dan mudah dibaca Dalam papan
nama proyek harus jelas tercantum Nama Kegiatan, Pekerjaan,
Pemilik Proyek, Sumber Dana Konsultan Perencana, Konsultan
Pengawas serta Kontraktor Pelaksana, Pekerjaan Dimulai dan
Masa Pekerjaan Berakhir serta penjelasan lain yang diperlukan
dengan Jenis Huruf yang akan ditentukan Direksi.
7) Pengukuran Prosentase Kemajuan Pekerjaan dar Pembayaran
(a) Pengukuran untuk pekerjaan-pekerjaan yang tercakup dalam
persyaratan teknis ini ditentukan berdasarkan ketentuan
seperti ditunjukan dalam Spesifikasi atau RAB.
(b) Kecuali disebutkan lain dalam RAB pekerjaan-pekerjaan yang
tercakup didalamnya sudah termasuk dalam pekerjaan-
pekerjaan pokok yang bersangkutan.
(c) Dalam hal dihitung terpisah, pengukuran meliputi
penyediaan, pengadaan dan pengangkutan tenaga kerja,
bahan, perlengkapan, peralatan dan pelaksanaan,
pemeliharaan, perbaikan, termasuk pemeriksaan, pengujian
dan pekerjaan-pekerjaan penunjang yang diperlukan seperti
diuraikan dalam RAB.
(d) Bobot pengukuran (%) terhadap seluruh nilai
Kontrak/Adendum Kontrak, bersama-sama dengan
komponen-komponen pekerjaan yang lain akan merupakan
bobot prestasi yang dicapai Kontraktor pada saat tertentu, dan
akan dijadikan pedoman Kontraktor untuk mengajukan
penagihan pembayaran angsuran kepada Pemimpin Kegiatan.
(e) Perhitungan prosentase kemajuan pekerjaan yang akan
digunakan untuk pengajuan penagihan pembayaran angsuran
harus dilakukan bersama-sama antara Direksi dan Kontraktor.
(f) Prosentase kemajuan pekerjaan yang dinilai adalah
material/bahan terpasang.
(g) Pembayaran akan dilakukan apabila selisih bobot prestasi
Kontraktor pada saat tertentu dengan bobot prestasi pada

SPESIFIKASI TEKNIS
9

pembayaran angsuran yang lalu telah mencapai tidak kurang
dari angka seperti disebut dalam syarat-syarat kontrak.
(h) Pembayaran dilakukan dalam jumlah harga satuan dikalikan
dengan volume pekerjaan yang nyata dilaksanakan.

2.2 PEKERJAAN PERSIAPAN DAN PENUNJANG PROYEK
2.2.1 Umum
Pekerjaan persiapan dan penunjang merupakan pekerjaan sementara
yang harus dilaksanakan agar pekerjaan konstruksi dapat dilaksanakan
dengan mudah dan lancar. Pekerjaan-pekerjaan ini pada umumnya
bersifat darurat, tetapi semua struktural harus mampu memikul beban
yang ada dan harus dilaksanakan berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan serta sesuai dengan syarat-syarat teknis. Kontraktor harus
membuat dan menyerahkan spesifikasi dan gambar-gambar pekerjaan
sementara kepada Direksi untuk memperoleh persetujuan, selambat-
lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum pekerjaan dimulai.


SPESIFIKASI TEKNIS
10

2.2.2 Pembersihan Lapangan
Kontraktor harus menyingkirkan pohon-pohon, semak belukar, akar,
sampah, bahan-bahan organik dan benda-benda asing lainnya yang
dapat mengganggu jalannya pekerjaan dalam area pekerjaan seperti
diuraikan dalam Kontrak, termasuk lahan-lahan yang digunakan untuk
bangunan/struktur, jalan dan lahan yang akan digali atau diurug. Dan
Pemindahan tiang listrik menjadi tanggungjawab penyedia jasa /
Kotraktor

2.2.3 Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus melakukan pekerjaan
pengukuran untuk memastikan lokasi yang tepat untuk penempatan
komponen-komponen pekerjaan tertentu seperti ditunjukan dalam
gambar. Pengukuran meliputi pengukuran/penentuan koordinat dan
elevasi. Koordinat dan elevasi titik yang diperlukan, ditentukan
berdasarkan titik rujukan (Bench Mark) seperti yang ditetapkan oleh
Direksi. Aktualisasi dan Artikulasi titik-titik tersebut diatas berupa titik-
titik yang dipasang pada bouwplank (papan rujukan
bangunan/struktur) yang apabila dihubungkan (dengan benang) satu
dengan yang lain akan merupakan garis-garis sumbu bangunan
melalui titiktitik yang diperlukan. Bouwplank harus dibuat dan
dipasang oleh Kontraktor sedemikian rupa sehingga mempunyai elefasi
(rujukan) tertentu yang letaknya tidak mengganggu kegiatan
pelaksanaan, merusak dan merubah elevasinya.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan keakuratan yang
tinggi kontraktor harus menggunakan alat bantu pesawat theodolith.
Biaya akibat dari penggunaan alat bantu ini merupakan beban dan
tanggung jawab kontraktor pelaksana. Konstruksi maupun dimensi
bench mark akan ditentukan kemudian oleh Direksi.

2.2.4 Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi mencakup pengadaan, penyediaan, alat berat dan
pengangkutan tenaga kerja, perlengkapan dan peralatan yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan, termasuk pemasangan,
penyetelan dan pekerjaan penunjang lainnya, sehingga semua tenaga
kerja, perlengkapan dan peralatan kerja tersebut berada/terpasang
dilokasi pekerjaan dalam kondisi baik dan siap pakai. Mobilisasi
mencakup pengadaan, penyediaan dan pengangkutan :
a. Tenaga kerja yang diperlukan sebagai pelaksana-pelaksana

SPESIFIKASI TEKNIS
11

pekerjaan;
b. Peralatan pelaksanaan yang terdiri atas alat-alat pengangkutan alat-
alat berat, peralatan pengaduk dan pemadat beton dan sebagainya.
c. Peralatan penunjang seperti pembangkit listrik, pompa air, peralatan
laboratorium dan sebagainya disediakan oleh Kontraktor.
Dalam mobilisasi sudah termasuk pengadaan, penyediaan dan
pengangkutan suku cadang yang diperlukan agar perlengkapan dan
peralatan tersebut selalu siap dipakai. Demobiisasi dilakukan setelah
berakhirnya pelaksanaan pekerjaan, sebelum pekerjaan diserahkan
untuk pertama kalinya kepada pemilik. Demobilisasi adalah
pembongkaran, pengangkutan tenaga kerja, perlengkapan dan
peralatan yang telah dimobilisasi, keluar dari lokasi pekerjaan.

2.2.5 Izin-izin
Kontraktor harus mengurus semua izin yang diperlukan IMB dan ijin
lainnya sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan sebelum pekerjaan
dimulai. Biaya-biaya ijin tersebut menjadi beban dan tanggung jawab
Kontraktor.

2.2.6 Pemadam Kebakaran
Untuk mencegah terjadinya kebakaran, Kontraktor wajib menyediakan
1 (satu) unit alat pemadam kebakaran dengan kapasitas minimum 3 kg.

2.2.7 Biaya Asuransi
Dalam penawaran harga Kontraktor dianggap sudah memperhitungkan
biaya Asuransi Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) terhadap
pekerja, staf/pelaksana dilapangan, pengawas lapangan serta staf dari
Kegiatan yang ditempatkan di lapangan.

SPESIFIKASI TEKNIS
12

2.2.8 Personil Kontraktor
a. Kontraktor wajib menempatkan seorang kuasa atau wakil yang
cakap dan berpengalaman untuk memimpin pelaksanaan
pekerjaan dilapangan (Site Manager) minimal tamatan Sarjana
Teknik Sipil/Arsitek dengan pengalaman minimal 5 tahun,
Pelaksana Sipil (Sarjana Sipil), Pelaksana Arsitek (Sarjana Arsitek),
Pelaksana Elektrikal Mekanikal (Sarjana Elektro), Surveyor (D-III),
Administrasi dan Keuangan (Sarjana Ekonomi) masing-masing
pengalaman minimal 7 tahun, dan Drafter (D-III) dan
Logsistik dan Gudang (SMA/STM) masing-masing pengalamana
minimal 3 tahun.
b. Pelaksana yang ditunjuk Kontraktor harus mendapatkan kuasa
penuh dalam bertindak untuk dan atas nama Perusahaan yang
dinyatakan dengan Surat Tugas/Keterangan.
c. Kontraktor wajib laporkan secara tertulis kepada Direksi, tenaga
pelaksana. Jika suatu waktu dianggap kurang mampu/cakap
menurut Direksi, Kontraktor wajib mengganti pelaksana baru
dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari. Sebelum bekerja harus
dikonsultasikan untuk disetujui Direksi. Jika calon pelaksana
ditolak, harus dicari calon pelaksana lain paling lambat 14 (empat
belas) hari. Dalam tenggang waktu tersebut direktur/penanggung
jawab perusahaan yang memimpin pelaksanaan pekerjaan
dilapangan sehari-harinya

2.2.9 Dokumentasi
Kontraktor harus memperhitungkan biaya dokumentasi serta
pengirimannya ke kantor Direksi serta pihak-pihak lain yang
diperlukan. Yang dimaksud dengan pekerjaan dokumentasi ialah:
a. Membuat laporan-Iaporan perkembangan pelaksanaan yakni
Harian dan Mingguan
b. Untuk kelengkapan laporan, Kontraktor wajib membuat foto-foto
dokumentasi ukuran 4R, dibuat sebelum pekerjaan di mulai (0 %),
tahap mulai pelaksanaan suatu konstruksi hingga selesai (setiap
kali untuk pembuatan laporan) dan pada setiap kali akan
melakukan tagihan/terminj, foto dokumentasi harus selalu
diambil pada posisi yang sama untuk setiap kemajuan (tampak
depan, samping dan belakang) dan setiap bagian yang penting
antara lain penulangan, pondasi dan lain-lain.

SPESIFIKASI TEKNIS
13

c. Surat-surat dan dokumen lainnya.

2.3 BESTEK DAN GAMBAR KERJA
2.3.1 Kontraktor diwajibkan meneliti semua gambar-gambar dan bestek
mengenai pekerjaan ini.
2.3.2 Bila ternyata ada perbedaan antara gambar dan RKS, antara gambar satu
dengan gambar lainnya maka yang berlaku adalah :
a. Bestek (RKS)
b. Gambar dengan skala yang lebih besar (detail).
2.3.3 Bila perbedaan itu menimbulkan keragu-raguan yang mungkin
menimbulkan kekeliruan atau bahaya dikemudian hari, Kontraktor
wajib konsultasikan terlebih dahulu kepada Direksi untuk mendapatkan
petunjuk.

2.4 RENCANA KERJA
2.4.1 Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor wajib menyusun suatu
rencana kerja (jadwal pelaksanaan) sebanyak empat rangkap yang
diajukan paling lambat 14 (empat belas) hari setelah diterbitkan Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK), untuk disetujui oleh Direksi.
2.4.2 Setelah rencana kerja disetujui Direksi, 3 (tiga) salinan untuk Direksi
dan 1 (satu) salinan ditempel pada ruang Direksi Keet.
2.4.3 Kontraktor harus patuh pada rencana kerja tersebut yang menjadi
dasar bagi Direksi untuk menilai prestasi pekerjaan dan segala sesuatu
yang berhubungan pekerjaan.

2.5 PENGADAAN BAHAN BANGUNAN
2.5.1 Bahan-bahan yang boleh ditempatkan dalam kompleks pekerjaan
hanyalah bahan-bahan yang disyaratkan dalam RKS maupun gambar
kerja.
2.5.2 Cara dan tempat penimbunan/penyimpanan bahan harus memenuhi
syarat atau menurut petunjuk Direksi/Pengawas Teknik.

SPESIFIKASI TEKNIS
14

2.5.3 Bahan bangunan yang dipakai adalah yang sesuai dengan kualitas dan
kuantitas serta dimensi yang disyaratkan dalam RKS dan gambar kerja.
2.5.4 Brosur/keterangan yang menjelaskan kualitas bahan bangunan tersebut
harus diperlihatkan dan mendapat persetujuan Direksi sebelum bahan
bangunan tersebut diadakan.
2.5.5 Apabila suatu bahan yang disyaratkan tidak terdapat dipasaran,
sebelum diganti Kontraktor harus konsultasi terlebih dahulu dengan
Direksi Pengawas Teknik, dan pergantian dapat dilakukan setelah ada
persetujuan secara tertulis.
2.5.6 Pergantian bahan bangunan yang tidak terdapat dipasaran lokal
dapat diganti dengan bahan bangunan lain yang setara/setingkat
kualitasnya.
2.5.7 Bahan bangunan yang ditolak oleh Direksi karena cacat atau tidak
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan, harus segera dikeluarkan
dari lokasi pekerjaan saat itu juga.

2.6 PENGGUNAAN PERSYARATAN TEKNIS
2.6.1 Persyaratan teknis ini merupakan pedoman dalam pelaksanaan
pekerjaan (yang disebut sebagai proyek) termasuk seluruh bangunan
dan pekerjaan lainnya yang merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan.
2.6.2 Kecuali disebutkan lain, maka setiap bagian dalam persyaratan teknis
ini berlaku untuk seluruh bang un an yang termasuk dalam pekerjaan
ini, disesuaikan dengan gambar-gambar, keterangan-keterangan
tambahan tertulis dan perintah-perintah Direksi/Pengawas Teknis.
2.6.3 Standar-standar utama yang dipakai adalah yang dibuat dan berlaku
resmi di negara RI, apabila tidak terdapat standar yang dapat
diberlakukan terhadap suatu item pekerjaan, maka harus digunakan
standar internasional yang berlaku atas pekerjaan dimaksud atau
digunakan standar dari negara produsen bahan yang menyangkut
pekerjaan dimaksud.


SPESIFIKASI TEKNIS
15

2.7 PEKERJAAN GALIAN TANAH
2.7.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan galian ini meliputi galian tanah untuk pondasi bangunan serta
pekerjaan galian yang nyata-nyata tertera dalam gambar kerja.
2.7.2 Pelaksanaan :
a. Dimensi galian tanah pondasi minimal sama dengan gambar kerja
atau maksimal sampai mencapai tanah keras/asli. Kecuali tanah
dasar/keras melebihi dua kali kedalaman yang telah ditentukan,
maka Direksi/Pengawas Teknik dapat mengambil kebijaksanaan
untuk merubah konstruksi dan atau dimensi galian tanpa
mengurangi kekuatan pondasi nantinya.
b. Untuk menjaga keamanan pekerjaan, tanah galian dibuang sejauh
minimal 3 meter dari tepi lubang galian.
c. Jika pada galian terdapat air tergenang, harus dipompa keluar.
Untuk ini Kontraktor harus menyediakan pompa air yang siap
pakai.
d. Semua tanah galian yang tidak dipakai harus diangkut keluar lokasi
pekerjaan.
e. Apabila terjadi kesalahan dalam penggalian tanah untuk dasar
pondasi sehingga dicapai kedalaman yang melebihi apa yang telah
ditentukan dalam gambar, maka kelebihan pada galian harus
diurug kembali dengan pasir, dan dipadatkan biaya akibat
pekerjaan tersebut menjadi beban Kontraktor.

2.8 PEKERJAAN URUGAN
2.8.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi semua penimbunan kembali bekas galian, urugan
pasir bawah pondasi, urugan pasir dibawah lantai dan pekerjaan
urugan lainnya yang tertera dalam gambar.
2.8.1 Pelaksanaan :
a. Jika terdapat tempat-tempat tertentu pada lokasi bangunan yang
menurut Direksi perlu ditimbun, maka Kontraktor harus menimbun
sampai mencapai ketinggian yang ditentukan, dengan menggunakan
bahan timbunan yang cukup baik, bebas dari rumput, akar-akar dan
lain-lain serta harus mencapai nilai CBR 90% minimal 4% rendam.
b. Dalam hal ini harus mengikuti petunjuk-petunjuk Pengawas Teknik.

SPESIFIKASI TEKNIS
16

c. Urugan pasir/tanah harus disertai dengan pemadatan dengan
stamper, sehingga minimal sama dengan keadaan tanah sebelum
digali.
d. Ketebalan lapisan urugan tanah yang diperkenankan maksimum 20
cm setiap lapis, kemudian dipadatkan sehingga pada ketebalan yang
ditentukan urugan tanah tersebut mencapai tingkat kepadatan yang
diinginkan.
e. Semua urugan pasir/tanah harus dipadatkan sambil disiram air
sampai jenuh, sehingga mendapatkan angka kepadatan maksimal.
f. Pasir yang dipakai harus pasir kali dan bukan pasir laut, dengan
persyaratan bahwa pasir harus dalam keadaan bersih dari lumpur,
tanah dan tidak mengandung garam atau mineral lainnya.

2.9 PASANGAN BATU KALI
2.9.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pasangan batu kosong dan pondasi batu
kali untuk landasan sloof, pasangan batu kali sebagaimana dinyatakan
dalam gambar kerja.
2.9.2 Material :
a. Batu kali yang dipakai harus dari jenis yang keras, tidak keropos,
serta mempunyai gradasi baik dengan diameter maksimum 25 cm.
b. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC : 5 Pasir
c. Baik batu kali, pasir maupun air adukan yang dipakai pada
pekerjaan ini harus bersih dari lumpur dan kotoran-kotoran
lainnya.
d. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan jenis batu lain kecuali
atas izin Direksi.

SPESIFIKASI TEKNIS
17

2.9.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan sesuai dengan ukuran
dan bentuk yang ditunjukan dalam gambar kerja.
b. Antar satu batu kali dengan batu kali lainnya tidak boleh saling
bersentuhan, tetapi diantaranya diberi spesi 1 Pc : 5 Psr sampai
penuh sebagai perekat sambil ditekan agar padat.

2.10 PASANGAN BATU BATA
2.10.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan
untuk semua pasangan bata seperti yang tertera pada gambar,
pelaksanaan pemasangan harus benar-benar mengikuti garis-garis
ketinggian, siku dan bentuk-bentuk yang terlihat pada gambar dan
disebutkan dalam spesifikasi ini.
2.10.2 Referensi :
Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera
pada PUBI N-3 1970 dan N-10 1973 dan SNI 17281989; SKBI
1.3.53.1989, tentang Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan
Gedung.
2.10.3 Material:
a. Batu bata yang digunakan harus baru, dengan pembakaran yang
cukup sehingga masak, keras, kering dan tidak mudah patah.
Jika diketuk menimbulkan suara nyaring. Ukuran yang
dianjurkan adalah 5 cm x 11 cm x 22 cm dengan toleransi 0,5
cm.
b. Adukan yang digunakan untuk pasangan dinding biasa adalah
campuran 1 PC : 5 Pasir. Untuk dinding kedap air pada KM/WC,
ruang cuci dan 20 cm diatas lantai seluruh dinding
menggunakan spesi transram campuran 1 PC : 3 Pasir.
2.10.4 Pengerjaan dan Penyimpanan.
Bahan-bahan yang akan digunakan pada pekerjaan ini disimpan
dengan cara-cara yang disetujui Direksi, untuk menghindari dari
segala hal yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bahan-bahan
tersebut.
2.10.5 Contoh-contoh
Contoh bahan yang diusulkan untuk dipakai harus diserahkan
kepada Direksi dan persetujuan atas bahan-bahan tersebut sudah

SPESIFIKASI TEKNIS
18

ada sebelum bahan yang dimaksud dipergunakan. Pengambilan
contoh atas bahan yang telah ada dilapangan akan diadakan
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Direksi guna keperluan
pengujian.

2.10.6 Pelaksanaan :
a. Pasangan dinding batu bata umumnya adalah 1/2 batu, kecuali
Direksi memberikan petunjuk lain.
b. Pemasangan batu bata harus lurus dan tegak, lajur penaikannya
diukur tepat dengan tiang lot, kecuali bilamana tidak
diperlihatkan dalam gambar maka setiap lajur bata harus putus
sambungan dengan lajur dibawahnya. Selain itu pola ikatan
pasangan harus terjaga baik diseluruh pekerjaan.
c. Pada jarak-jarak tertentu atau luasan maksimum 10 M
pasangan batu bata perlu diperkuat dengan kolom praktis (beton
bertulang), dengan dimensi, penulangan dan penempatan sesuai
gambar.
d. Segera setelah pasangan batu bata selesai, siar-siarnya dikeruk
sedalam 1 cm agar plesteran dapat melekat dengan baik.
e. Sebelum bata dipasang hendaknya direndam dalam air sampai
jenuh, dan pemasangannya harus rapi sesuai dengan syarat
pekerjaan yang baik. Batu bata potongan tidak boleh
dipakai/dipasang, terkecuali pada pertemuan-pertemuan dengan
kosen/kolom.

2.11 PEKERJAAN BETON BERTULANG
2.11.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan dari semua
macam beton tidak bertulang, beton bertulang dengan penulangannya
termasuk bekisting, finishing dan pekerjaan-pekerjaan lain yang
nyatanyata termasuk dalam pekerjaan ini. Untuk beton bertulang
digunakan adukan mutu beton K175 menggunakan beton molen
pada :
a. Sloof, Kolom, balok dan pelat.
b. Apabila adukan beton secara munual agar mendapat petunjuk
dari direksi/pengawas (perkirakan 1 pc : 2 psr : 3 krl)
c. Lain-lain seperti ditentukan dalam gambar dan RAB.

SPESIFIKASI TEKNIS
19

2.11.2 Referensi:
Kecuali ditentukan lain, maka semua pekerjaan beton bertulang
harus mengikuti ketentuan-ketentuan seperti tertera dalam :
a. SNI 1734-1989-F
b. SKBI - Pedoman Perencanaan untuk Rumah dan Gedung
c. Petunjuk Peraturan Beton Indonesia, tahun 1971 dan PBI 1989.
d. Spesifikasi Bahan Bangunan
2.11.3 Material:
Bahan-bahan/material yang dipergunakan untuk pekerjaan ini harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1) Agregat :
Agregat merupakan batu pecah/kerikil terdiri dari gradasi-gradasi
yang halus sampai kasar denga dimensi > 2 < 3 cm, dan harus
sesuai dengan persyaratan dalam ketentuan-ketentuan beton
bertulang. Penampungan harus dilaksanakan sedemikian rupa,
sehingga bebas dari kontaminasi dengan bahan-bahan yang dapat
merusak.
2) Semen :
a) Semen yang dipakai harus bermutu baik, tidak berbatu, seperti
disyaratkan dalam SNI-8 Bab 3-2;
b) Semen ini harus dibawah ketempat pekerjaan dalam kemasan
standard dari pabrik dan terlindung.
c) Untuk pelaksanaan pekerjaan beton ini Kontraktor harus
mengusahakan hanya menggunakan satu merk semen saja.
3) Besi Tulangan :
a) Semua dimensi/ukuran besi tulangan yang akan digunakan
merupakan dimensi sebenarnya sesuai keterangan gambar
b) Besi untuk tulangan penampungannya harus bebas dari
kontaminas; langsung dengan udara bergaram, tanah lembab,
aspal, olie (minyak) dan gemuk.
c) Pengikat tulangan beton harus menggunakan kawat beton
yang berukuran garis tengah minimal 1 mm.
4) Air :
Air yang dipakai untuk adukan harus bersih, dalam arti tidak
mengandung lumpur dan bahan-bahan kimia yang dapat
mempengaruhi kekuatan beton khususnya garam.
5) Bekisting :
Bahan cetakan beton (bekisting) menggunakan kayu klas III,

SPESIFIKASI TEKNIS
20

kecuali Direksil Pengawas menegaskan lain.
2.11.4 Pelaksanaan
a. Sebelum melaksanakan pengecoran untuk konstruksi beton,
kontraktor terlebih dahulu meminta direksi/konsultan pengawas
untuk memeriksa dimensi, pembesian dan bekisting balok/plat
tersebut.
b. Penyambungan pembesian pada balok/kolom lama harus
mengikuti panjang penyaluran yang telah ditetapkan dalam
peraturan PBI-1971. Besi lama untuk ikatan harus dibersihkan
dari karat.
c. Untuk merekatkan beton baru dengan beton lama, kontraktor
menyiapkan bahan additive dalam hal ini adalah lem beton.
Spesifikasi bahan additive tersebut harus memenuhi syarat yang
telah ditetapkan dalam peraturan PB-1971.
d. Proporsi :
1) Adukan beton harus mencapai Kekuatan Tekan Beton minimal
K-175 kecuali ditentukan lain untuk semua beton bertulang.
2) Untuk mengontrol kekuatan/mutu yang dicapai pada
pelaksanaan, Kontraktor harus mengambil contoh kubus untuk
diadakan test laboratorium menurut syarat-syarat PBI 1971
pasal 4.6 dan 4.7.
e. Pengecoran Beton :
1) Sebelum pengecoran dilaksanakan, bekisting harus bersih dari
kotoran-kotoran dan bahan-bahan lain. Alatalat pengaduk
beton (beton molen) dan alat pembawa (kereta) juga harus
bersih. Penulangan harus dimatikan pada posisinya, serta harus
diperiksa terlebih dahulu. Dimensi semua bagian beton tertera
pada gambar bestek dan detail.
Jika terdapat ketidakcocokan pada ukuran Kontraktor wajib
untuk minta pertimbangan terlebih dahulu dari Direksi.
2) Ukuran diameter besi beton harus sesuai dengan ketentuan
dalam gambar. Jika suatu diameter tidak terdapat dipasaran,
Kontraktor diwajibkan membiearakan terlebih dahulu dengan
Direksi.
3) Adukan beton tidak boleh dijatuhkan dari ketinggian lebih dari
1,50 cm dan segera sesudah pengecoran dimulai, lapisan-
lapisan beton dipadatkan dengan penggetar (internal concrete

SPESIFIKASI TEKNIS
21

vibrator). Kecepatan vibrator dalam adukan harus tetap dan
konstan serta penggunaannya tidak boleh kena besi tulangan.
4) Peraturan-peraturan mengenai pelaksanaan pekerjaan beton
yang tidak tercantum dalam RKS ini, dipakai peraturan yang
termuat dalam PBI 1971 sebagai syarat.
5) Agar pemeriksaan dan persetujuan dari Direksi atas
pelaksanaan pengecoran beton dapat diberikan pada
waktunya, Kontraktor diwajibkan menyampaikan
pemberitahuan tentang rencana pengecoran 2 x 24 jam
sebelumnya.
6) Bekisting baru boleh dibongkar setelah beton bersangkutan
mengalami periode pengerasan sebagaimana diatur pada PBI
1971, dan sementara itu penyiraman beton harus selalu
dilaksanakan.
f. Penyambungan Beton
Apabila oleh karena sesuatu dan lain hal pengecoran beton
diputuskan sebelum selesai, sebelum melanjutkan pengecoran
pada beton yang telah mengeras, permukaan yang akan
disambung harus dikasarkan dan dibersihkan, dan
penyambungannya menggunakan bonding agent yang disetujui
Direksi/Pengawas.
g. Pemeliharaan Beton:
1) Beton yang sudah dicor pada tempatnya harus dijaga agar
selalu lembab dengan jalan menutup beton dengan karung
basah atau menyiraminya dengan air secara rutin, sampai
beton berumur satu minggu.
2) Pada umur sampai dengan 48 jam, beton harus dijaga dari air
hujan deras, air mengalir, getaran-getaran dan sinar matahari.
2.11.5 Bahan Additive :
Pemakainan bahan additive harus disertai percobaan laboratorium
guna mendapatkan hasil yang baik dan disetujui Direksi/Pengawas.
Bahan additive ini harus memenuhi persyaratan ASTM atau JIS.
2.11.6 Bekesting
a. Seluruh bahan bekisting menggunakan papan terentang (kayu klas
III) dan balok 5/7 cm, kecuali Direksi/Pengawas menegaskan lain,
dan untuk mendapatkan hasil cetakan yang menenuhi syarat
pekerjaan bekisting harus dikerjakan oleh tukang yang ahli.
b. Celah-celah antara papan bekisting harus cukup rapat, agar waktu

SPESIFIKASI TEKNIS
22

mengecor tidak ada air adukan yang lolos, sebelum mulai
mengecor bagian dari dalam bekisting harus disiram air dan
dibersihkan dari kotoran.
c. Bekesting harus direncanakan, dilaksanakan dan diusahakan
sedemikian rupa agar waktu pengecoran dan pembongkaran tidak
mengakibatkan cacat-cacat, gelombang-gelombang maupun
perubahan-perubahan bentuk, ukuran-ukuran, ketinggian-
ketinggian serta posisi dari pada beton.
d. Penyangga-penyangga harus diberi jarak antara yang dapat
mencegah defleksi bahan-bahan bekesting. Bekesting serta
sambungan-sambungan harus rapat, sehingga meneegah
kebocoran-keboeoran adukan selama pengeeoran. Lubang-lubang
permukaan sementara harus disediakan didalam bekesting untuk
memudahkan pembersihan.
e. Pembongkaran Bekesting :
Bekesting harus dibongkar dengan cara sedemikian rupa, sehingga
dapat menjamin keselamatan penuh atas struktur dan konstruksi
yang dicetak dengan memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut
:
1) Bagian struktur beton vertikal boleh dibongkar bekesting setelah
7 (tujuh) hari, dengan syarat bahwa betonnnya cukup keras dan
tidak cacat karena pembongkaran tersebut.
2) Bagian konstruksi beton yang disangga (horisontal) dengan
perancah tidak boleh dibongkar sebelum betonnya mencapai
kekuatan yang cukup (28 hari) untuk menyangga beratnya
sendiri dan beban-beban pelaksanaan atau beban-beban lain
yang akan menimpa bagian struktur beton tersebut.
2.11.7 Contoh-contoh
Sebelum pelaksanaan pemasangan, terlebih dahulu Kontraktor harus
memberikan contoh-contoh material yang akan dipakai guna
mendapatkan persetujuan dari Direksi/Pengawas.
2.11.8 Koordinasi dengan Pemasangan Instalasi :
Sebelum pengecoran dimulai, Kontraktor harus sudah
mengkoordinasikan pemasangan dan letak-letak instalasi listrik,
plumbing dan lain-Iainnya.




SPESIFIKASI TEKNIS
23

2.12 PEKERJAAN BETON TAK BERTULANG
2.12.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan-bahan, pemasangan
dan semua pekerjaan beton tak bertulang dan campuran yang
dipergunakan adalah 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr, dan dilaksanakan untuk neut-
neut kosen, neut-neut kolom kayu, lantai kerja, lantai cor beton, rabat
beton dan lainnya yang ditentukan dalam gambar.
2.12.2 Material:
Lihat uraian bagian 3.11.3. 3).

2.13 PEKERJAAN PLESTERAN
2.13.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan
persyaratan adukan sebagai berikut :
a. Untuk semua plesteran dinding biasa terdiri dari 1 Pe : 5 Ps.
b. Untuk semua plesteran dinding KM/WC, plesteran beton, kaki
pondasi digunakan 1 Pe : 3 Ps.
c. Untuk plesteran sudut tembok dan lantai ruang laboratorium
mikrobiologi harus dilengkungkan sesuai petunjuk Direksi/Pengawas.
2.13.2 Material:
a. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup halus, dan pasir laut
atau pasir yang memiliki kandungan tanah tidak diperkenankan
untuk digunakan.
b. Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian yang
membatu serta dalam kemasan standard pabrik dan terlindung.
2.13.3 Pelaksanaan:
a. Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, semua bidang yang akan
diplester harus disiram air sampai jenuh, dan siar-siarnya telah
dikeruk sedalam lebih kurang 1 cm.
b. Tebal plesteran dinding ditentukan dengan ketebalan minimal 1
cm, dikerjakan dengan lurus dan rata, juka terdapat bidang-
bidang dinding yang berombak/retak harus dibongkar dan
diperbaiki.



SPESIFIKASI TEKNIS
24

2.14 PEKERJAAN ALUMINIUM
2.14.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan Kusen
kayu cempaka untuk KM/WC pintu pabrikan exelent dor / setara,
entilasi aluminium, pekerjaan partisi yang tertera dalam gambar
kerja.
2.14.2 Material:
a. Jenis :
Rangka aluminium yang digunakan sesuai dengan ketentuan
perundangan yang berlaku dan mendapat persetujuan direksi.
b. Mutu :
Aluminium yang digunakan adalah KW.1 atau Gred 1 Anodais
warna hitam.
Ukuran :
Ukuran-ukuran aluminium yang dipergunakan harus sesuai
dengan yang terdapat pada gambar detail.


2.14.3 Pelaksanaan:
a. Semua pekerjaan aluminium dikerjakan sesuai dengan instruksi
Direksi/konsultan pengawas dan pada bagian-bagian pertemuan
harus dikerjakan dengan rapi dan tidak berongga.
b. Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik
dan rapi, untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong.
.

2.15 PEKERJAAN RANGKA DAN PENUTUP ATAP
2.15.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pemasangan rangka atap, atap, dan bubungan,
sebagimana dijelaskan dalam gambar dan dalam Rencana Anggaran Biaya
(R.A.B).

2.15.2 Material:
Untuk bahan atap kuda-kuda dengan baja ringan / Taso C.75.75
dengan jarak maximum 1,20 m, gording TR 32.45 kualitas baik.
Untuk bahan penutup atap digunakan Sakura roof ukurannya sesuai

SPESIFIKASI TEKNIS
25

standard yang ada dan merupakan produksi dalam negeri.
Untuk penutup bubungan digunakan seng plat BJLS 20 dialas papan.
2.15.3 Pelaksanaan :
Pemasangan atap harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga atap yang
terpasang tidak akan terbebani. Pemasangan atap harus rapi dan
dikerjakan oleh tukang yang benar-benar ahli dan berpengalaman.
Apabila atap yang terpsang tidak rapi dan terjadi kebocoran,
Direksi/Pengawas Teknik berhak menolak dan pemborong harus segera
membongkar dan memperbaiki.

2.16 PEKERJAAN PLAFOND
2.16.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan
pemasangan penggantung, rangka, dan penutup plafond pada
tempat-tempat yang sesuai dengan yang ditunjukan dalam gambar.

2.16.2 Material:
a. Jenis :
Material untuk penggantung dan rangka plafond menggunakan
kayu sesuai ketentuan dengan ukuran-ukuran yang sesuai dengan
yang ditentukan dalam gambar.
b. Mutu :
Mutu kayu merah kuat digunakan memenuhi standar peraturan
Kayu Indonesia yang telah ditetapkan.
c. Ukuran :
Untuk penutup plafond digunakan triplex tebal 5 mm buatan
dalam negeri, tidak cacat dan diusahakan warna yang digunakan
seragam.
2.16.3 Pelaksanaan:
a. Ketinggian, ukuran, pembidangan dan konstruksi plafond
dilaksanakan dengan modul rangka 60 x 120 atau sesuai
ketentuan-ketentuan dalam gambar kerja.
b. Rangka plafond harus rata, terutama pada bidang- bidang bawah
yang akan ditutup dengan triplex 4 mm, dan diberi penggantung
dalam jumlah yang cukup.

SPESIFIKASI TEKNIS
26

c. Rangka plafond sebelum ditutup dicek terlebih dahulu
kekuatannya oleh direksi termasuk jarak gantungan, jumlah baut
yang digunakan serta dimensi rangka plafond tersebut.
d. Pada sudut pertemuan antara plafon dan dinding dipasang list dari
kayu SP. 4 yang dicat dengan warna ditentukan kemudian.
e. Pemasangan plafond harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli,
lurus dan tidak lentur. Apabila terjadi platond terpasang ternyata
tidak lurus dan lentur, Direksi berhak menolak dan Kontraktor
harus segera membongkar dan memperbaiki kembali.
.
2.17 PEKERJAAN LANTAI
2.17.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan
pemasangan lantai dan dinding sesuai yang ditentukan dalam
gambar.
2.17.2 Material:
a. Material yang digunakan adalah sebagai berikut :
1) Lantai Keramik ukuran 40 x 40 cm pada semua lantai setara
mulia.
2) KM/WC menggunakan tegel keramik, dengan ketentuan
sebagai berikut :
Untuk lantai digunakan tegel 20 x 20 cm yang tidak licin,
merk setara Mulia.
Untuk dinding, digunakan tegel licin yang khusus untuk
dinding uk. 20 x 25 setara Mulia.
b. Tegel Keramik adalah yang mempunyai kualitas satu (KW.1)

2.17.3 Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar-
benar padat sehingga tidak terjadi penurunan/keretakan pada
lantai.
b. Pemasangan lantai/ubin harus rapi, dengan siar saling tegak lurus,
serta mengikuti peil-peil yang ditentukan dalam gambar.
c. Pada anak tangga dipasang List Step Nosing keramik ukuran 10 x

SPESIFIKASI TEKNIS
27

40 cm. Kualitas kramik adalah anti noda (sebelum dipasang harus
diuji).
d. Semua pemasangan Tegel Dinding harus menggunakan campuran
1 pc : 3 ps dengan perekat yang ditentukan oleh direksi
e. Pemasangan tegel pada lantai dan dinding harus dikerjakan dengan
rata dan datar serta dikerjakan oleh tukang yang benar-benar ahli.
Untuk pekerjaan pemasangan lantai KM/WC harus dibuat miring
(1 %) kearah saluran pembuangan air (floor drain).
f. Sebelum pemasangan Keramik KM/WC harus terlebih dahulu
menggunakan Waterprofing untuk menjaga rembesan air ke
dinding.
g. Pemasangan tegel lantai dipasang diatas lantai kerja (beton tidak
bertulang) dengan adukan 1 Pc : 3 Psr : 5 Krl setebal 7 cm.
h. Khusus untuk dinding KM/WC dipasang setinggi 1,75 m dari
lantai KM/WC (sesuai gambar).
i. Pemasangan tegel plint lantai tegak lurus dan rata dengan dinding.

2.18 PEKERJAAN KACA
2.18.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja
pemotongan dan pemasangan kaca bingkai, cermin maupun kaca mati
seperti yang ditunjukan dalam gambar.
2.18.2 Material:
a. Kaca yang digunakan pada pekerjaan ini adalah jenis kaca rayband
dengan tebal 5 mm untuk semua jendela dan ventilasi kecuali
jendela kaca mati kecuali jendela kaca mati antara ruangan
menggunakan kaca bening 5 mm.

b. Kaca yang digunakan adalah kaca buatan dalam negeri, tidak cacat
dan tidak retak.
2.18.3 Pelaksanaan:
a. Ukuran dan ketebalan kaca yang akan dipasang dilaksanakan
mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditentukan dalam gambar.
b. Sebelum kaca dipasang, sponing kaca pada kosen atau bingkai
pintu dan jendela harus diberi cat meni, selanjutnya diberi dempul
yang cukup padat.

SPESIFIKASI TEKNIS
28

c. Saat pemasangan kaca ditekan agar rata sebelum diikat dengan les
kaca untuk menghindari penggoyangan/pelonggaran.
d. Pada saat pekerjaan diserahkan, kaca yang terpasang dalam
keadaan utuh dan tidak pecah/retak. Apabila berdasarkan
pemeriksaan terdapat kaca yang retak, Kontraktor harus segera
mengganti.
e. Khusus pintu entrace utama, kaca yang digunakan adalah tebal 12
mm, frame dan gagang pintu dibuat dari stainless steel.

2.19 KUNCI DAN PENGGANTUNG
2.19.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan
pemasangan kunci serta alat-alat penggantung, seperti : engsel,
kunci, handle dan sebagainya.
2.192 Material:
a. Semua daun pintu dipasang kunci tanam buatan dalam negeri 2
(dua) slaag kualitas baik, setara Yale.
b. Engsel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah untuk daun
pintu engsel kuningan 4"
c. Grendel tanam lengkap untuk Pintu 2 daun, grendel biasa untuk
pintu tunggal dan jendela. Semua Grendel buatan dalam negeri
dengan kualitas baik.
d. Sebelum dipasang, kunci-kunci dan alat-alat penggantung harus
diperlihatkan contohnya kepada Direksi/Pengawas.
2.19.3 Pelaksanaan:
a. Semua daun pintu rnenggunakan engsel kuningan 4" buatan
dalam negeri masing-masing 3 (tiga) buah.
b. Untuk pintu-pintu 2 (dua) daun harus dilengkapi dengan grendel
tanam yang dipasang pada bagian atas dan bawah.
c. Semua daun jendela bingkai menggunakan engsel kuningan 3"
buatan dalam negeri masing-masing 2 (dua) buah, haq angin
2 (dua) buah dan untuk pengunci dipasang grendel 1 (satu) buah.
d. Kunci-kunci harus berfungsi dengan baik dan pada saat
diserahkan anak kunci harus diserahkan lengkap dengan
cadangannya.
e. Untuk utama digunakan engsel yang bisa membuka ke luar dan

SPESIFIKASI TEKNIS
29

ke dalam (floor hing)

2.20 PEKERJAAN CAT DAN POLITUR
2.20.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan
pengecatan partisi, tembok, plafond, list profil.
2.20.2 Material:
a. Jenis Cat tembok yang digunakan adalah merk
metrolite/catylac/Nippon atau setara.
b. Plamur yang digunakan adalah kualitas baik/bagus.
2.20.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan Cat Tembok/Plafond :
1) Permukaan dinding dan plafond sebelum dicat harus diplemur
kemudian diamplas dengan kertas pasir sampai rata dan halus.
2) Semua bidang tembok dan plafond dicat tembok minimal 3
(tiga) kali sampai kelihatan rata dan cukup tebal.
3) Warna cat tembok yang digunakan adalah warna putih (atau
akan ditentukan kemudian oleh pihak user).
4) Pada lantai ruang Laboratorium di cat dengan Epoxy. Sebelum
pengecatan, semua permukaan tembok diampelas dan dilapisi
dengan premiere. Kemudian di cat dengan Epoxy 3 kali.

2.21 PEKERJAAN SANITAIR
2.21.1 Kontraktor harus mengadakan dan memasang alat-alat yang
dibutuhkan untuk kelancaran pekerjaan dilapangan.
2.21.2 Untuk kelengkapan KM/WC seperti : closet jongkok CE.6 merek
TOTO.
Khusus untuk closet duduk dilengkapi dengan Shower.
2.21.3 Penempatan floor drain disesuaikan dengan posisi ruangan dan
kebutuhan, floor drain terbuat dari bahan Stainless Steel kualitas baik.
2.21.4 Perletakan sanitair yang tertera pada gambar dan pemasangannya
harus dilaksanakan dengan penuh keahlian sehingga memberikan
hasil yang sempurna.


SPESIFIKASI TEKNIS
30

2.22 PEKERJAAN SALURAN PEMBUANGAN
2.22.1 Saluran Air Hujan :
a. Saluran Air hujan dari atap diterima dan disalurkan melalui
saluran air hujan disekeliling bangunan, yang dibuat dari
pasangan batu bata seperti tertera dalam gambar.
b. Saluran air hujan dibuat dengan kemiringan 2 % dan pada tiap
jarak tertentu dibuat bak kontrol.
c. Air buangan dari saluran air hujan, wastafel dan urinoir
disalurkan ke saluran utama.

2.23 PEKERJAAN INSTALASI AIR
2.23.1 Lingkup Pekerjaan :
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah :
a. Sistem Pemipaan Air Bersih, dari jaringan air bersih keseluruh
bangunan, yang terdiri dari : Pantry, KM/WC, Wastafel, kran-kran
dalam ruangan dan sebagainya.
b. Pengujian (test run) sistem plumbing air bersih secara keseluruhan
untuk mengetahui sistem itu bekerja baik. benar dan aman.
c. Pengadaan dan pemasangan Acesories perlengkapan-perlengkapan
instalasi lainnya kuaalitas acesorisnya berkualitas dan dikerjakan
dengan dengan baik dan benar.
2.23.2 Bahan yang dipakai :
a. Semua instalasi air bersih menggunakan pipa PVC Wavin atau
setara kualitas AW 3/4 untuk jaringan diluar bangunan dan
untuk instalasi dalam bangunan.
b. Pipa PVC Wavin yang digunakan untuk air bersih harus
menggunakan yang memenuhi Standar Industri Indonesia (SII).
c. Semua kran yang terpasang harus menggunakan kran stainless
stell yang berkepala kristal, penempatan dan ukurannya
harus sesuai dengan gambar rencana/detail.

2.23.3 Pemasangan :
a. Pipa PVC Wavin penyambungannya dilakukan dengan sambungan
(draad) berulir, dan pada bagian ulir jantannya dilapisi dengan seal
tape.

SPESIFIKASI TEKNIS
31

b. Pemasangan pipa harus dilaksanakan dengan baik dan tertutup,
terkecuali apabila menggunakan water moer harus dipasang pada
tempat yang mudah dicapai dan tidak tertutup oleh dinding
maupun lantai.
2.23.4 Pengujian :
a. Semua instalasi pipa yang terpasang sebelum ditutup harus diuji
terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya kebocoran.
b. Bila dalam pengujian ditemukan adanya kerusakan, kebocoran atau
penyumbatan, Kontraktor harus segera mengganti/ memperbaiki
kerusakan tersebut, kemudian dilakukan pengujian/pemeriksaan
kembali.

2.24 PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
2.24.1 Lingkup Pekerjaan :
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah
a. Pengadaan Panel dan Pembagi, Lampu SL, Down Light, KabelKabel,
Stop Kontak, Saklar, Fitting, Pipa Instalasi, Material Bantu,
termasuk pemasangannya.
b. Penyerahan Surat Jaminan oleh Instalatur/Kontraktor beserta
pembuatan gambar instalasi yang terpasang
2.24.2 Bahan yang dipakai :
a. Kabel-kabel yang dipakai adalah dari jenisnya NYM yang
memenuhi standard PLN (SPLN) serta berinitial LMK.
b. Stop kontak, sacklar dan fitting serta peralatan listrik yang
digunakan harus buatan dalam negeri yang telah memenuhi
standard PLN, kemampuan minimal 10/16A.
2.24.3 Pemasangan:
a. Pemasangan instalasi listrik harus berpedoman pada Peraturan
Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 2000.
b. Untuk menangani pekerjaan Inl harus ditunjuk Instalatur yang telah
memiliki SPJT dan SBUJK Bidang E & M dari AKLI.
c. Inslatasi yang terpasang harus disesuaikan dengan tegangan listrik
yang terpasang di area proyek.
d. Untuk penerangan dan stop kontak biasa kabel yang digunakan
adalah jenis NYM diameter 2,5 mm

SPESIFIKASI TEKNIS
32

e. Untuk semua penyambung kabel harus menggunakan T Dos dan
ditutup dengan las dop, serta ditempatkan pada kedudukan yang
aman.
f. Pemasangan instalasi listrik umumnya dikerjakan sebelum plafon
ditutup dan pelesteran diding dikerjakan.
g. Pada semua stop kontak dan SDP harus di beri arde dengan
menggunakan kawat BC, dan khusus pentanahan harus dikerjakan
sampai mendapatkan tahanan yang disyaratkan, serta diberi
pelindung pipa Paralon ".
h. Untuk pemasangan instalasi penangkal petir harus mengikuti standar
PLN dan sesuai gambar.

2.26 DOKUMENTASI
Kontraktor harus membuat foto-foto dokumentasi dibuat sebelum pekerjaan
dimulai (0% ), tahap pelaksanaan hingga pengusulan terminj, penyerahan I
(pertama) dan penyerahan II (kedua), foto dokumentasi harus selalu diambil pada
posisi yang sama untuk setiap kemajuan (tampak depan, samping dan belakang)
dan setiap tahapan bagian pekerjaan yang penting antara lain penulangan beton,
pengecoran, pondasi dan lain-lain. Foto-foto tersebut dimasukan kedalam album
dan diserahkan kepada Pemimpin Proyek (Direksi/Pengawas) sebanyak 3 (tiga)
set.

2.27 GAMBAR PELAKSANAAN (AS BUILT DRAWING)
2.27.1 Setelah selesainya seluruh pekerjaan, Kontraktor bekerja sama dengan
Konsultan Pengawas membuat gambar terlaksana/as built drawing (jika
terdapat perubahan pelaksanaan dari perencanaan) berdasarkan shop
drawing dari seluruh sistem, struktur dan konstruksi, termasuk
perletakan, denah maupun instalasi.
2.27.2 Instalasi listrik, instalasi air bersih dan instalasi air kotor harus dibuat oleh
Kontraktor sesuai dengan keadaan yang terpasang dan diserahkan
kepada Pemberi Tugas pada saat Serah Terima Pekerjaan.

2.28 PENGAWASAN
2.28.1 Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan akan
dilakukan oleh Direksi/Konsultan Pengawas dan Pengelola Tehnis.
2.28.2 Setiap saat Konsultan Pengawas dan Pengelola Teknis harus dapat
mengawasi, memeriksa atau menguji setiap bagian pekerjaan, bahan

SPESIFIKASI TEKNIS
33

dan peralatan maupun tenaga kerja. Untuk itu Kontraktor harus
mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Dan membuat ijin
pemeriksaan pekerjaan dalam bentuk surat yang disampaikan kepada
Direksi/Pengawas.
2.28.3 Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari
pengamatan Konsultan Pengawas dan Pengelola Teknis adalah menjadi
tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan tersebut bila diperlukan harus
dapat diperiksa sebagian atau seluruhnya untuk
keperluan/kepentingan pemeriksaan.

2.29 PEKERJAAN AKHIR
2.29.1 Pada akhir pekerjaan, seluruh ruangan termasuk dinding, plafond,
lantai dan sebagainya harus bersih dari sisa-sisa semen, cat dan
kotoran lainnya.
2.29.2 Halaman bangunan harus dibersihkan dari sisa-sisa bahan-bahan
bangunan, kotoran-kotoran dan gundukan-gundukan tanah bekas
galian harus diratakan serta bahan-bahan yang tidak terpakai lagi
harus diangkut keluar lokasi pekerjaan.


SPESIFIKASI TEKNIS
34

P E N U T U P
Dokumen Pelaksanaan
Dokumen Kontrak yang dianggap mengikat dalam hubungan kerja ini adalah:
Rencana kerja dan syarat-syarat pekerjaan (RKS) beserta gambar-gambar.
Penawaran-penawaran beserta semua lampiran-Iampirannya.
Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) dan semua berita acara
pelelangan.
a. Pelaksana Pekerjaan/pemborong bertanggung jawab kepada pemberi tugas.
b. Pelaksana Pekerjaan/Pemborong tidak diperbolehkan mengalihkan seluruh
hak dan kewajiban atas pekerjaan yang menjadi tugasnya kepada
PihaklPemborong lain.
c. Dalam melaksanakan pekerjaan pemborong harus tunduk pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.