Anda di halaman 1dari 3

Memahami thermal konduktivitas zat padat dan cara

pengukurannya

Oleh
Helmi Abdulgani

Kita tau berdasarkan pengalaman bahwa bila sepotang kawat logam dipanaskan pada satu ujungnya, tidak
berapa lama kemudian ujung lainnya akan terasa panas juga. Berbeda dengan kawat logam, sepotong tongkat
kayu yang dipanaskan ujungnya, sama seperti pada kawat logam, ujung lain tidak akan terasa panas. Kenapa ada
perbedaan seperti ini, apa yang membedakan besi dengan dan kayu dalam dalam hal ini.
Mari kita lihat lebih jauh. Pada saat kita memanaskan satu ujung kawat logam, ujung lainnya juga menjadi
panas. Artinya panas dari satu ujung mengalir ke ujung lainnya, sedangkan pada tongkat kayu hal itu tidak
terjadi. Sifat apa yang dimiliki oleh logam sehingga panas dapat mengalir dari satu ujung ke ujung yang lain.
Kenapa tongkat kayu tidak memiliki sifat yang dimiliki oleh logam?
Sebenarnya petanyaan itu tidak tepat, karena dalam tongkat kayupun terjadi aliran panas, hanya saja aliran
panas dalam tongkat kayu tidak sebaik aliran panas dalam logam, sehingga ujung tongkat kayu tidak terasa
panas sedangkan ujung kawat lagam terasa panas. Dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa logam
mempunyai sifat penghantara panas yang baik sedangkan kayu dan sejenisnya tidak.
Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa setiap material memiliki sifat rambatan panas yang berberda,
tetapi pada umumnya semua logam mempunya sifat hantar panas yang baik, sedang non logam mempunyai sifat
hantaran panas yang jelek.
Apakah sifat hantaran panas ini dapat diukur atau tidak? Ya, tentu saja sifat hantaran panas ini dapat diukur
diquantifikasikan.
Pada tahun 1822, Fourier, seorang Ilmuan Perancis mempostulasikan bahwa kecepatan hantaran panas per unit
penampang area dalam suatu bahan berbanding lurus dangan tempertur gradian yang terjadi didalam bahan
tersebut. Jika diformulasikan dalam bentuk rumus thermodinamika, dapat dituliskan sebagai berikut
Q/A (T) (1)
Dimana
Q = Jumlah panas yang mengalir dalam bahan
A = luas penampang bahan
= simbol proposionalitas
(T) = tempertur gradian
Dalam hal aliran panas terjadi dalam satu arah (T) dapat ditulis dalam bentuk sederhana
(T)= (T
1
-T
2
)/L (2)

Sehingga persamaan (1) di atas dapat ditulis dalam bentuk lain:
Q A (T
1
-T
2
)/L (3)
Apabila kita menggantikan tanda proposional dengan tanda sama dengan (=) maka peramaan (3) dapat
dituliskan menjadi:
Q = kA (T
1
-T
2
)/L (4)
k = thermal adalah apa yang disebut dengan thermal konduktivitas bahan
A = Luas permukaan bahan yang dilalui oleh energi panas secara tegak lurus
T
1
= Temperatur pada permukaan pertama
T
2
= Temperatur pada permukaan ke dua
L = Tebal bahan searah dengan aliran panas
.
Apakah unit dari k itu? Nah untuk menjawab pertanyan ini kita harus menulis persamaan (4) dalam bentuk lain
seperti berikut ini
k=(Q/A)/(T
1
-T
2
)/L (8)
dimana
Q/A di sebut heat flux dengan unit (watt/m2)
(T
1
-T
2
)/L disebut temperatur gradian dengan unit Kalvin/m (K/m)
Sehingga jika unit-unit ini disubstitusikan dalam persaman diatas didapatlha unit thermal
konduktivitas ksebagai Watt/m-K
Thermal konduktivitas adalah sifat thermal material yang paling dikenal. Sifat ini menyatakan kemampuan
suatu bahan dalam hal penghantaran panas. Thermal konduktiviatas adalah juga sifat absolut material artinya dia
tidak tergantung pada ukuran dan bentuk. Selembar karet dengan ketebalan 0.1 mm mempunyai thermal
konduktivitas yang sama dengan yang berketebalan 10mm.
Jadi themal konduktivitas (k) didefinisikan sebagai kecepatan aliran panas per luas penampang (heat flux)
dalam kondisi study state per unit tempertur gradian dalam arah tegaklurus pada area penampang.
Jadi usaha untuk menentukan thermal konduktivitas suatu bahan selalu berhubungan pengukuran heat flux dan
pengukuran tempeatur gradian . Temperatur gradian dapat diukur dengan mudah, yang sulit hanya pada
pengukuran heat flux dimana kita harus betul-betul menjaga agar tidak ada panas yang masuk dan keluar dari
dalam sampel selain dari arah yang kita inginkan. Pada dasarnya teknik pengukuran heat flux di bagi dua. Bila
heat flux diukur secara lansung maka proses ini disebut proses pengukuran absolute. Dan bila heat flux didapat
dengan cara tidak langasun, maka proses ini disebut proses pengukuran comparative.
Dalam kedua kasus ini heat flux harus mengalir dalam satu arah di dalam bahan yang ditest.Jadi dengan kata
lain kehilangan panas, ataupun penyerapan panas ke dan dari arah radial harus seminimal mungkin. Untuk
temperatur sedang, hal ini dapat dilakukan dengan memasang isolasi disekeliling sample yang diuji. Sedangkan
pada temperatur tinggi dimana pemasangan bahan isolasi sulit dilaksanakan dan juga tidak eficient, temperatur
kontrol guard harus dipasangkan sedemikian rupa sehingga temperatur gradian dari guard sama
dengan temperature gradian sample yang thermal konduktivitasnya mau kita tentukan. Dengan ini engergi
panas yang mengalir ke arah radial silinder sampel dapat diminimalisir.
Bentuk sampel yang disiapkan untuk pengetesan ditentukan oleh berapa besar thermal konduktivitas bahan yang
hendak diukur. Bila thermal konduktivitas bahan yang ditest besar, maka sampelnya harus panjang (seperti
silinder misalnya), sedangkan bila themal konductivitasnya kecil, ketebalan sampel yang tipis saja (seperti
piring) sudah memadai. Panjang, pendek sampel ini tujuannya agar gradian temperatur dapat dilihat dengan
jelas. Bila thermal konduktivitas bahan besar, dan sampelnya tipis, maka perbedaan temperatur antara satu
permukaan dan permukaan yang lain tidak akan kelihatan jelas. sedangkan jika thermal konduktifitasnya kecil
sampel yang tipis saja sudah cukup untuk membaca gradian temperatur.
Berikut ini kita akan mempelajari beberapa cara pengukuran themal konduktivitas. Ada dua sistim pengukuran
thermal konduktivitas, yaitu sistim pengukuran steady state dan system pengukuran transient. Pada pengukuran
steady state temperature sampel hanya ditentukan oleh lokasi titik tersebut di dalam sample, waktu tidak
mempengaruhi temperatur sampel. Kelemahan sistim pengukuran steady state iniadalah bahwa kita
membutuhkan waktu yang lama menunggu temperature sampel mencapat titik keseimbangan, yaitu keadaan
dimana temperature sample hanya bergantung pada posisi saja dan tidak lagipada waktu. Set up equipment
sehingga mencapai temperatur steady state juga sulit. Sedangkan keuntungnya adalah hasilnya sangat mudah di
dapat dan dianalisa.
Pada sistim transient, kita tidak perlu menunggu lama, karana kita dapat mengambil data langsung pada saat itu,
sampel tidak perlu mencapai kondisi steady state. Hanya saja prosedur penganalisaan data pada sistim ini
untuk memperoleh suatu nilai themal konduktivias, jauh lebih rumit.
Ada beberapa cara untuk mengukur thermal konduktivitas
1. Absolute Axial flow method
Absolute exial flow method didasarkan pada pengukuran energy listrik yang terpakai. Dalam proses
menentukan besarnya energi listrik yang harus disediakan untuk untuk menjaga sampel spacimen tetap dalam
keadaan steady state. Pada metode ini sampel diapit diantara heater element dan cooling element. Energy yang
mengalir dalam sampel dapat diketahui dengan membaca besarnya arus listrik dan t egangannya yang
diperlukan untuk menjaga sistim tetap dalam keadaan steady state. Temperatur gradian dapat diukur dengan
mudah, dan tebal, dan penampang bahan diketahui maka k dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan.
k=(Q/A)/(T
1
-T
2
)/L
2. Comparative cut bar methode (ASTM 1225)
Pengukuran dengan cara comparative cut bar methode ini pada dasarnya sama dengan sistim pengukuran cara
absolute axial flow method, hanya saja bahan yang akan ditentukan thermal kondutivitasnya diapit atas bawah
oleh dua bahan lain (dengan panjang, dan diameter sama dengan sampel) dimana thermal konduktivitasnya
diketahui. Persamaan yang dipakai untuk mendapatkan thermal konduktivitasnya sedikit berbeda. Yaitu:
k
s
= k
r
(T
r1
+T
r2
)/2T
s

dimana
k
s
adalah thermal konduktivitass sampel yang ingin ditententukan.
k
r
adalah thermal konduktivitas bahan referensi
T
r1
adalah temperatur gradian dari bahan referensi pertama
T
r2
adalah temperatur gradian dari bahan referensi ke dua.
T
s
adalah temperatur gradian dari bahan yang di cari themal konduktivitasnya



Sebenarnya ada tiga method pengukuran lagi selain method yang telah kita bahas di atas yang lazin digunakan
juga yaitu method guarded heat flow meter (ASTM E1530), method guarde hot plate (ASTM C177) dan
method hot wire (ASTM C1113), sistim sistim pengukuran yang disebut belakangan akan kita bicarakan pada
halaman halaman lain.
Sekian