Anda di halaman 1dari 39

EVALUASI SISTEM PENGENDALIAN INTERN PENGELUARAN KAS

PADA PT. GLOBAL ENGINEERING TECHNOLOGY JAKARTA


Mahasiswa : Umi Maria Ulfa
Dosen Pembimbing : Dr. H. Sudarno, M.Si, Akt
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah sistem pengeluaran
kas pada perusahaan yang telah dilaksanakan selama ini telah dilaksanakan
secara memadai atau belum, dan juga menurut manajemen perusahaan dari
periode tahun 2009 sampai sekarang perusahaan belum pernah melakukan
evaluasi atas sistem pengeluaran kas, oleh karena itu penelitian ini berusaha
untuk mengevaluasi sistem pengeluaran kas perusahaan.
Sampel dalam penelitian ini adalah bukti kas keluar selama periode 1
J anuari 31 Desember 2009. Sampel penelitian adalah 100 buah bukti kas keluar
yang diambil secara acak dari populasi sebanyak 208 buah bukti kas keluar
dengan menggunakan alat bantu Microsoft Excel.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif yang bertujuan untuk menguji sejauh mana efektifitas sistem
pengendalian intern perusahaan dan analisis kuantitatif dalam penelitian ini
dalam bentuk pengujian pengendalian yaitu dengan menggunakan metode
Attribute Sampling. Attribute Sampling memilih secara acak dari seluruh anggota
populasi, dengan alat kuantitatif memakai metode Fixed-Sample-Size-Attribute
Sampling.
Hasil penelitian dengan analisis kualitatif dari jawaban kuesioner
menunjukkan bahwa sistem pengendalian intern pengeluaran kas pada
perusahaan sudah efektif. Sedangkan analisis kuantitatif dengan melakukan
pengujian pengendalian menggunakan metode Fixed-Sample-Size-Attribute
Sampling didapat hasil pemeriksaan bahwa AUPL sebesar 4% dengan DUPL
sebesar 5%, yang berarti AUPL <DUPL sehingga dapat disimpulkan bahwa
sistem pengendalian intern perusahaan dikatakan efektif.

Kata kunci : Pengendalian Intern, Sistem Akuntansi, Pengeluaran Kas.
1. PENDAHULUAN
Penerapan sistem akuntansi dalam sebuah perusahaan dapat
mengoptimalkan biaya operasional yang dikeluarkan dan dapat mengefektifkan
jumlah tenaga kerja yang dimiliki. Salah satu sistem akuntansi yang digunakan
1



oleh perusahaan adalah sistem pengeluaran kas. Sistem ini menangani
pengeluaran kas yang terjadi secara rutin pada sebuah perusahaan. Penerapan
sistem pengeluaran kas pada perusahaan sangatlah penting, mengingat kas adalah
aset yang mudah berubah dibandingkan dengan aset lain, sehingga kas
merupakan alat pembayaran yang bebas dan selalu siap sedia untuk digunakan.
Kas dilihat dari sifatnya merupakan aset yang paling lancar dan hampir
setiap transaksi dengan pihak luar selalu mempengaruhi kas. Kas merupakan
komponen penting dalam kelancaran jalannya kegiatan operasional perusahaan.
Karena sifat kas yang likuid, maka kas mudah digelapkan sehingga diperlukan
pengendalian intern terhadap kas dengan memisahkan fungsi-fungsi
penyimpanan, pelaksanaan dan pencatatan. Selain itu juga diadakan pengawasan
yang ketat terhadap fungsi-fungsi pengeluaran kas. Tanpa adanya pengendalian
intern akan mudah terjadi penggelapan uang kas.
Untuk menciptakan pengendalian intern yang baik, manajemen harus
menetapkan tanggung jawab secara jelas dan tiap orang memiliki tanggung jawab
untuk tugas yang diberikan padanya. Apabila perumusan tanggung jawab tidak
jelas dan terjadi suatu kesalahan, maka akan sulit untuk mencari siapa yang
bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.
Pengendalian intern yang baik terhadap kas memerlukan prosedur-
prosedur yang memadai untuk melindungi pengeluaran kas. Dalam merancang
prosedur-prosedur tersebut hendaknya diperhatikan tiga prinsip pokok
pengendalian intern. Pertama, harus terdapat pemisahan tugas secara tepat,
sehingga petugas yang bertanggungjawab menangani transaksi kas dan
menyimpan kas tidak merangkap sebagai petugas pencatat transaksi kas. Kedua,
semua penerimaan kas hendaknya disetorkan seluruhnya ke bank secara harian.
Ketiga, semua pengeluaran kas hendaknya dilakukan dengan menggunakan cek,
kecuali untuk pengeluaran yang kecil jumlahnya dimungkinkan untuk
menggunakan uang tunai, yaitu melalui kas kecil.
Untuk mengawasi pengeluaran kas, maka semua pengeluaran kas harus
dilakukan dengan menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran yang jumlahnya
2



kecil dapat dilakukan melalui kas kecil. J ika kewenangan untuk menandatangani
cek didelegasikan kepada seorang pegawai yang ditunjuk, maka pegawai tersebut
tidak diperkenankan untuk melakukan pencatatan transaksi kas. Hal ini untuk
mencegah adanya kecurangan dalam pengeluaran kas yang tidak nampak dalam
catatan akuntansi.
Prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengawasi kas, bisa berbeda-
beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Hal ini tergantung
pada berbagai faktor, seperti besarnya perusahaan, jumlah karyawan, sumber-
sumber kas, dan sebagainya.
Objek penelitian pada penulisan skripsi ini adalah PT. Global Engineering
Technologi J akarta. Adapun aktivitas transaksi perusahaan meliputi penerimaan
kas dan pengeluaran kas. Dalam menjalankan aktivitas transaksi perusahaan
tersebut sudah ada pemisahan fungsi. Pengeluaran kas merupakan transaksi
perusahaan yang paling banyak terjadi di perusahaan sehingga perlu adanya
pengawasan dan pengendalian intern meskipun sudah ada pemisahan fungsi.
Sistem pengeluaran kas pada perusahaan dilakukan dengan cek dan untuk
pengeluaran kas jumlahnya relatif kecil kurang dari Rp. 1.000.000,00 dilakukan
melalui dana kas kecil yang diselenggarakan dengan sistem imprest. Oleh karena
itu, penulis tertarik untuk mengevaluasi sistem pengeluaran kas perusahaan
apakah sudah dilaksanakan secara efektif/efisien atau tidak.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistem Pengendalian Intern
Menurut SA Seksi 319 mendefinisikan pengendalian intern sebagai suatu
proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain yang
didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga
golongan berikut ini :
1. Keandalan pelaporan keuangan
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
3. Efektifitas dan efisiensi anggaran
3



Definisi Internal Control menurut Statement on Auditing Standard (SAS
No. 78;1) yang dikutip dari buku J erry R Strawser, Robert H Strawser (2001:5-
3) adalah sebagai berikut:
Internal Control is a process-effected by an entitys board of directrors,
management, and other personal-designed to provide reasonable assurance
regarding the echievement of objectives in the following categories :
1. Reliability of financial reporting;
2. Effectiveness and Efficiency of operations, and;
3. Compliance with applicable laws and regulations.
Sedangkan pengertian pengendalian menurut Arens, J .Elder and Mark S.
Beasley (2003:295) adalah sebagai berikut :
A process designed to provide reasonable assurance regarding the
echievement of management objective in the following categories:
1. Reliability of financial reporting;
2. Effectiveness and Efficiency of operational, and;
3. Compliance with applicable laws and regulations."
Sedangkan Mulyadi menyebutkan bahwa sistem pengendalian intern
meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran ukuran yang dikoordinasikan
untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data
akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijaksaan
manajemen.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukan di atas, bahwa perusahaan
menginginkan tercapainya tujuan tersebut dan untuk mencapainya diperlukan
pengendalian intern. Pengendalian intern merupakan alat untuk meletakkan
kepercayaan auditor mengenai bebasnya laporan keuangan dari kemungkinan
kesalahan dan kecurangan. Perusahaan berusaha untuk membuat struktur
pengendalian intern dengan baik, melaksanakan, dan mengawasinya agar
efektivitas perusahaan bisa tercapai, pengendalian intern yang baik akan
menjamin ketelitian data akuntansi yang dihasilkan sehingga data tersebut dapat
dipercaya.
Pengendalian intern mempunyai tujuan untuk mendapatkan data tepat dan
dapat dipercaya, melindungi harta atau aktiva perusahaan, dan meningkatkan
4



efektivitas dari seluruh anggota perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Secara lengkap Arens dan Loebbecke (2000:271) mengemukakan tujuan
pengendalian intern sebagai berikut:
Management typically has the following three concern, or board
objectives, in designing on control system:
1. Reliability of financial reporting
2. Effeciency and effectiveness of operations
3. Compliance with applicable laws and regulations.
Pengendalian intern disusun berdasarkan tujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai
dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. Manajemen merancang
sistem pengendalian intern yang efektif dengan empat tujuan pokok berikut ini :
(Mulyadi, 2001)
1. Menjaga harta kekayaan perusahaan
Bila sistem pengendalian intern berjalan dengan baik maka akan dapat
mengantisipasi terjadinya kecurangan, pemborosan, ketidakefisienan, dan
penyalahgunaan terhadap aktiva perusahaan.
2. Mengecek keakuratan data akuntansi
Keandalan data / informasi akuntansi digunakan oleh manajemen dalam
pengambilan keputusan untuk meningkatkan ketelitian dan dapat
dipercayanya data akuntansi.
3. Mendorong efisiensi
Kebijakan perusahaan mampu memberikan manfaat tertentu dengan
memantau setiap pengorbanan yang telah dikeluarkan guna mendapatkan
hasil yang sebaik baiknya.
4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
Untuk mencapai tujuan perusahaan maka kebijakan, prosedur, sistem
pengendalian intern yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa kebijakan, prosedur yang ditetapkan perusahaan akan
dipatuhi oleh seluruh karyawan.
5



Suatu sistem terdiri dari sub-sub sistem atau unsure pembentuk sistem
yang saling berhubungan dan saling ketergantungan bahkan mungkin saja dapat
mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Begitu juga suatu pengendalian intern
yang memadai harus terdiri dari unsur-unsur yang membentuk pengendalian
intern tersebut.
Unsur pengendalian intern menurut Arens and Loebbecke (2000:292)
adalah sebagai berikut:
1. The control environment;
1. Risk assessment;
2. Control Activities;
3. Monitoring.
Dari uraian tujuan sistem pengendalian intern yang telah dijelaskan diatas,
maka unsur pengendalian intern terdiri dari lima unsur menurut Mulyadi (2002 :
183 195), yaitu :
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara
tegas.
Struktur organisasi merupakan rerangka pembagian tanggung jawab
fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan pokok perusahaan.
2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan
yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya.
Dalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari
pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi
tersebut. Oleh karena itu dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur
pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi.
3. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi.
Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur
pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak
diciptakan cara-cara untuk menjamin praktek yang sehat dalam
6



pelaksanaannya. Adapun cara-cara yang ditempuh oleh perusahaan dalam
menciptakan praktek yang sehat adalah :
a. Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus
dipertanggung jawabkan.
b. Pemeriksaan mendadak dilaksanakan tanpa pemberitahuan terleh dahulu
kepada pihak yang akan diperiksa.
c. Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu
orang atau satu unit organisasi, tanpa adanya campur tangan orang atau
organisasi lain.
d. Perputaran jabatan untuk menghindari terjadinya persengkongkolan.
e. Secara periodik diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan catatannya.
f. Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektifitas
unsur-unsur sistem pengendalian intern yang lain, unit organisasi ini
disebut satuan pengawas intern atau staf pemeriksa intern.
4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya
Bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi prosedur
pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktek
yang sehat, semua sangat tergantung kepada manusia yang melaksanakannya.
Untuk mendapatkan karyawan yang berkompeten dan dapat dipercaya, cara
berikut ini dapat ditempuh :
a. Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut
pekerjaannya.
b. Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan
perusahaan, sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.
Sistem pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas
merupakan faktor yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan
oleh entitas. Sebelum auditor memelakukan pemeriksaan terhadap laporan
keuangan diwajibkan atasnya untuk memahami struktur pengendalian intern
entitas, hal ini sesuai dengan standar pekerjaan lapangan kedua yang berbunyi
sebagai berikut :
7



Pemahaman memadai atas sistem pengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang
akan dilakukan . (Mulyadi, 2002)
Standar auditing kedua mewajibkan auditor mengumpulkan informasi
tentang sistem pengendalian intern dan menggunakan informasi tersebut sebagai
dasar perencanaan audit. Dalam memperoleh pemahaman atas sistem
pengendalian intern, auditor menggunakan tiga macam prosedur audit berikut ini:
1. Mewawancarai karyawan perusahaan yang berkaitan dengan unsur sistem
pengendalian,
2. Melakukan inspeksi terhadap dokumen dan catatan,
3. Melakukan pengamatan atas kegiatan perusahaan.
Informasi yang dikumpulkan oleh auditor dalam melaksanakan prosedur audit
tersebut diatas adalah :
1. Rancangan berbagai kebijkan dan prosedur dalam tiap - tiap unsur
pengendalian.
2. Apakah kebijakan dan prosedur tersebut benar benar dilaksanakan.
Beberapa prosedur yang dilaksanakan oleh auditor intern dapat
memberikan bukti langsung tentang salah saji material dalam asersi mengenai
saldo atau golongan transaksi tertentu. Kategori kategori prosedur pengendalian
intern mencakup pengendalian terhadap catatan kegiatan operasional dari harta/
kekayaan perusahaan. Arens dan Loebbecke (2000) menyebutkan bahwa
prosedur pengendalian intern terdiri dari 5 kategori, yaitu :
1. Pemisahan tugas yang cukup
Pemisahan tugas ini pada pinsipnya adalah :
Pemisahan fungsi penyimpanan aktiva dengan fungsi akuntansi,
Pemisahan fungsi otorisasi transaksi dari fungsi penyimpanan aktiva yang
bersangkutan,
Pemisahan fungsi otorisasi dengan fungsi akuntansi.
2. Otorisasi yang pantas atas transaksi dan aktivitas
Didalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari
yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi.
8



3. Dokumen dan catatan yang memadai
Didalam organisasi harus dibuat prosedur otorisasi atas terlaksananya setiap
transaksi, dengan formulir sebagai medianya. Penggunaan formulir ini harus
diawasi sedemikian rupa guna mengawasi pelaksanaan otorisasi. Prosedur
pencatatan yang baik akan menjamin data yang direkam didalam formulir
dicatat dalam catatan akuntansi dengan tingkat keandalan dan ketelitian yang
tinggi. Prosedur ini akan menghasilkan informasi yang dapat diandalkan oleh
perusahaan. Unsur pengendalaian yang diperhatikan, yaitu :
Perancangan dokumen bernomor urut tercetak,
Pencatatan transaksi harus dilakukan pada saat transaksi terjadi atau
segera setalah transaksi terjadi,
Perancangan dokumen dan catatan harus cukup sederhana untuk
menjamin kemudahan dalam pemahaman terhadap dokumen dan catatan
tersebut,
Sedapat mungkin dokumen dirancang untuk memenuhi berbagai
keperluan sekaligus,
Perancangan dokumen dan catatan yang mendorong pengisian data yang
benar.
4. Pengendalian fisik atas aktiva dan catatan
Pengendalian fisik atas kekayaan catatan disini adalah dengan sarana
menyediakan kekayaan dan catatan fisik, misalnya gudang yang melindungi
kerusakan dan pencurian.
5. Pengecekan independen atas pelaksanaan
Pengecekan secara intensif perlu dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan
prosedur intern. Cara yang digunakan diantaranya adanya pemisahan tugas
antara fungsi transaksi, fungsi penyimpanan, dan fungsi akuntansi. Pemisahan
tugas ini secara otomatis dapat menjadikan verifikasi independen terhadap
pelaksanaan suatu transaksi dalam setiap fungsi.
9



Auditor sangat berkepentingan dengan pengendalian untuk mencegah
kesalahan dalam laporan keuangan. Sasaran dalam pengendalian tersebut dapat
dibagi menjadi 5, yaitu :
1. Validitas transaksi yang dicatat adalah transaksi yang valid tidak fiktif,
2. Kelengkapan, bahwa semua transaksi yang valid telah benar benar tercatat
semua,
3. Keabsahan pencatatan transaksi transaksi telah dinilai, dievaluasi,
diklarifikasi, dicatat, dan diposting sesuai dengan prinsip akuntansi berterima
umum,
4. Pengamanan aktiva dan dokumen agar dapat diakses hanya oleh pihak yang
sesuai dengan otorisasi manajemen,
5. Purna tanggung jawab, saldo yang tercatat atas setiap aktiva dan hutang
dengan wujud yang nyata dari setiap aktiva dan hutang. Pembandingan
tersebut harus dilakukan pada setiap selang waktu tertentu.
Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas adalah suatu catatan yang dibuat
untuk melaksanakan kegiatan pengeluaran baik dengan cek maupun dengan
uang tunai yang digunakan untuk kegiatan umum perusahaan (Mulyadi,
2001:543).
2.2. Pengujian Pengendalian Intern
Dalam memenuhi standar auditing kedua, auditor melaksanakan prosedur
pemahaman pengendalian intern dengan cara mengumpulkan informasi tentang
desain pengendalian intern dan informasi apakah desain tersebut dilaksanakan.
Disamping itu, pelaksanaan standar tersebut juga mengharuskan auditor
melakukan pengujian terhadap efektifitas pengendalian intern dalam mencapai
tujuan tertentu yang telah ditetapkan perusahaan. Pengujian ini disebut dengan
pengujian kepatuhan atau disebut dengan pengujian pengendalian (test of
control), ada dua macam pengujian yang dilakukan oleh auditor :
1. Pengujian adanya kepatuhan terhadap pengendalian intern
2. Pengujian tingkat kepatuhan terhadap pengendalian intern

10



2.2.1. Pengujian Adanya Kepatuhan
Untuk menentukan apakah informsi mengenai pengendalian intern yang
dikumpulkan oleh auditor benar-benar ada, auditor melakukan dua macam
pengujian:
1. Pengujian transaksi dengan cara mengikuti pelaksanaan transaksi tertentu.
2. Pengujian transaksi tertentu yang telah terjadi dan yang telah dicatat.
2.2.2 Pengujian Tingkat Kepatuhan
Dalam pengujian terhadap pengendalian intern perusahaan, auditor tidak
hanya berkepentingan terhadap aksistensi unsur-unsur pengendalian intern namun
auditor juga berkepentingan terhadap tingkat kepatuhan klien tidak terhadap
pengendalian intern. Dalam pengujian tingkat kepatuhan klien terhadap
pengendalian intern, auditor dapat menempuh prosedur berikut ini :
1. Mengambil sampel bukti transaksi beserta dengan kelengkapan dokumen
pendukungnya dan kelengkapan tanda tangan pejabat yang berwenang.
Tujuan pengujian ini adalah untuk mendapatkan kepastian transaksi telah
mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang atas transaksi tersebut.
2. Melaksanakan pengujian bertujuan ganda ( purpose test ).
Yang merupakan kombinasi antara pengujian yang tujuannya menilai
efektivitas pengendalian intern (pengujian pengendalian) dan pengujian yang
tujuannya menilai kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan.
Dalam pengumpulan bukti audit, auditor tidak mengumpulkan semua
bukti untuk merumuskan pendapatnya melainkan melakukan pengujian terhadap
karakteristik sebagian bukti untuk membuat kesimpulan mengenai karakteristik
seluruh bukti. Dalam melakukan pengujian terhadap karakteristik sebagian bukti
tersebut dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu :
1. Melaksanakan Pengambilan Sampel 100%
Yaitu memeriksa semua bukti sampel yang digunakan, sehingga semua
anggota sampel merupakan bukti yang penting.

11



2. Melaksanakan Judgment Sampel
Yaitu memeriksa bukti berdasarkan pertimbangannya, sehingga semua
sampel yang masuk dalam pertimbangannya merupakan bukti yang penting.
3. Melakukan Representative Sampel
Yaitu melaksanakan pemeriksaan bukti secara acak dari seluruh anggota
populasi. Sehingga setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang
sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.
4. Melakukan Statistical Sampel
Yaitu memeriksa bukti secara acak dari seluruh populasi dan menganalisis
hasil pemeriksaan tehadap anggota sampel secara matematis.
Dalam melaksanakan pemeriksaan terhadap bukti audit cara yang paling
cocok digunakan oleh auditor adalah dengan menggunakan model statistical
sampling, karena dalam pemeriksaan ini auditor memilih anggota sampel secara
acak dari seluruh anggota populasi dan menganalisis hasil pemeriksaan terhadap
anggota sampel secara matematis. Statistical sampling sendiri dibagi menjadi dua
(Mulyadi, 2002) yaitu :
1. Attribute sampling (propotional sampling)
Digunakan dalam pengujian pengendalian, digunakan terutama untuk
menguji efektifitas sistem pengendalian intern.
2. Variable sampling
Digunakan untuk menguji nilai nominal rupiah yang tercantum dalam akun
atau digunakan dalam pengujian substantif.
Attribute Sampling dalam pengujian pengendalian digunakan terutama
untuk menguji efektifitas sistem pengendalian intern (dalam pengujian
pengendalian). Terdapat tiga model yang dapat digunakan dalam melakukan
audit dengan attribute sampling (Mulyadi, 2002) yaitu :
1. Fixed-Sampel-Size Attribute sampling.
Penggunaan model ini digunakan untuk memperkirakan presentase terjadinya
mutu tertentu dalam suatu populasi. Misalnya dengan model ini auditor dapat
memperkirakan berapa persen bukti pengeluaran kas yang terdapat dalam
12



suatu populasi tidak terlampir dengan bukti pendukung yang lengkap. Model
ini tertutama digunakan jika dilakukan pengujian pengendalian suatu unsur
sistem pengendalian intern, dan diperkirakan akan dijumpai beberapa
penyimpangan penyimpangan atau kesalahan oleh auditor.
Berikut ini akan dijelaskan tahap penggunaan pungujian pengendalian
terhadap sistem pengeluaran kas, prosedur pengambilan sampelnya adalah
sebagai berikut:
a. Penentuan atribut yang akan diperiksa untuk menguji efektifitas sistem
pengawasan intern.
Atribut adalah karakteristik yang bersifat kualitatif suatu unsur yang
membedakan unsur tersebut dengan unsur yang lain. Dalam hubungannya
dengan pengujian pengendalian, atribut adalah penyimpangan dari atau
tidak adanya unsur tertentu dalam sistem pengendalian intern yang
seharusnya ada.
b. Penentuan populasi yang akan diambil sampelnya.
Populasi yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sekelompok transaksi
yang berupa dokumen pengeluaran kas, dalam hal ini dokumen
pengeluaran kas adalah bukti pengeluaran kas.
c. Penentuan besarnya sampel
Untuk menentukan besarnya sampel yang akan diambil dari populasi
tersebut diambil secara statistik. Dalam hal ini harus dipertimbangkan
faktor faktor berikut ini :
1. Penentuan tingkat keandalan (Reliability level) atau confidence
level atau disingkat R%.
Tingkat keandalan adalah probabilitas benar dalam mempercayai
efektifitas pengendalian intern. Dalam pengujian pengendalian
umumnya auditor menggunakan tingkat keandalan atau R% =90%,
95% dan 99%. Sebagai contoh, jika auditor memilih tingkat
keandalan dalam suatu sistem pengendalian intern R% = 95%
13



berarti auditor tersebut mempunyai resiko 5% untuk mempercayai
suatu sistem pengendalian intern yang sebenarnya tidak efektif.
2. Penaksiran presentase terjadinya atribut dalam populasi
Penaksiran ini didasarkan pada pengalaman auditor di masa lalu
atau dengan melakukan percobaan. Dalam hal jika auditor tidak
mempunyai pengalaman mengenai besarnya tingkat kesalahan
dalam suatu populasi, auditor tersebut dapat mengambil sebanyak
50 lembar sample. J ika terdapat satu kesalahan, maka tingkat
kesalahan dalam populasi adalah sebesar 2 % (1:50).
3. Penentuan batas ketepatan atas yang diinginkan (Desired Upper
Precision Limit atau DUPL).
4. Penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan
besarnya sample (seperti tabel yang dapat dilihat di lampiran III)
yang merupakan tabel penentuan besarnya sampel untuk tingkat
keandalan 95%.
d. Pemilihan anggota sampel dari seluruh anggota populasi
Setelah ditentukan besarnya sampel auditor dapat memilih anggota
sampel secara acak dari seluruh anggota populasi, sehingga setiap sampel
memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel dalam
penelitian.
e. Pemeriksaan terhadap atribut yang menunjukkan efektifitas unsur sistem
pengendalian intern.
Sampel yang telah terpilih secara acak kemudian diperiksa atributnya, bila
dalam suatu pengambilan sampel ada penyimpangan dari sampel yang
diambil berarti merupakan suatu atribut. Kemudian auditor mencatat
berapa banyak jumlah atribut yang menyimpang dari prosedur atau aturan
yang telah ditetapkan perusahaan.
f. Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap anggota sampel.
Dengan tabel evaluasi hasil pemeriksaan R95% terhadap anggota sampel
(seperti dalam lampiran IV), auditor dapat menentukan berapa Achieved
14



Upper Precision Limit (AUPL). AUPL ini kemudian dibandingkan
dengan DUPL untuk menilai apakah unsur sistem pengendalian intern
tersebut efektif. J ika AUPL lebih rendah dari DUPL (AUPL<DUPL) atau
AUPL sama dengan DUPL (AUPL=DUPL), maka kesimpulan yang dapat
diambil dalam penelitian tersebut adalah adanya sistem pengendalian
intern yang efektif. Sedangkan Bila AUPL lebih besar dari DUPL
(AUPL>DUPL), maka kesimpulan yang dapat diambil dalam penilitan
adalah adanya sistem pengendalian intern yang tidak atau kurang efektif.
3. METODE PENELITIAN
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah segala sesuatu data
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dikumpulkan untuk diambil kesimpulan
dalam penelitian ini. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem
pengendalian intern pengeluaran kas. Pada masing-masing pengujian dilakukan
pengujian terhadap :
Pemisahan tugas yang cukup
Otorisasi yang pantas atas transaksi dan aktivitas
Pengecekan independen atas pelaksanaan
Dokumen dan catatan yang memadai
Pengujian terhadap hal faktor-faktor diatas dilakukan guna mendapatkan
hasil efektif atau tidaknya sistem pengendalian intern pada sistem pengeluaran
kas.
3.1. Jenis dan Sumber Data
Data adalah informasi yang didapat melalui pengukuran-pengukuran
tertentu, untuk digunakan sebagai landasan dalam menyusun argumentasi logis
menjadi fakta (Abdurrahmat Fathoni, 2006). Sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan data sekunder
a. Data Primer
Data primer merupakan data lapangan yang diperoleh langsung dari orang-
orang atau pelaku yang menjadi subjek dalam penelitian ini.

15



b. Data Sekunder
Dalam penelitian ini juga diperlukan data sekunder yang berfungsi sebagai
pelengkap atau pendukung data primer.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Data primer dikumpulkan melalui interview (wawancara) dengan
melakukan tanya jawab langsung pada bagian keuangan, bagian kasa, bagian
otorisasi dan bagian akuntansi. Daftar pertanyaan yang dibuat dalam bentuk
kuesioner dengan skala pengukuran sederhana yang membutuhkan jawaban ya
atau tidak.
3.3. Metode Analisis
Dalam penelitian ini digunakan dua metode analisis data, yaitu
menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif :
a. Analisis Data Kualitatif
Analisis data kualitatif merupakan proses analisa data yang tidak
memerlukan penyajian secara matematis dan sistematis namun bersifat
penjelasan berdasarkan landasan teori, pendapat, interpretasi terhadap data
tanggapan responden mengenai faktor-faktor sikap yang berhubungan
dengan sistem pengendalian intern terhadap pengeluaran kas. J ika jawaban
sebagian besar ya berarti pengendalian intern dapat diidentifikasikan baik,
sedangkan bila jawaban sebagian besar tidak berarti pengendalian intern
pada perusahaan dapat dikatakan lemah. Untuk keperluan interpretasi hasil
perhitunga persentase, Dean J . Champion (1990:302) mengemukakan
sebagai berikut:
1. 0%-25% No association or low association (weak association);
1. 26%-50% Moderately low association (moderately association);
2. 51%-75% Moderately high association (moderately strong assocition);
3. 76%-100% High assocition (strong association) up to perfect
association.
b. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah analisis yang menggunakan alat analisis bersifat
kuantitatif. Alat analisis yang bersifat kuantitatif adalah alat analisis yang
menggunakan model-model, seperti model matematika, model statistik dan
16



ekonometrik. Analisis data kuantitatif yang akan dilakukan yaitu dengan
menguji dokumen yang berhubungan dengan transaksi pengeluaran kas
perusahaan, yang akan dianalisis dengan menggunakan attribute sampling
dengan model fixed-sample-size attribute sampling. Tahap-tahap dalam
pelaksanaan analisis ini yaitu sebagai berikut :
1. Penentuan atribut yang akan diperiksa untuk menguji efektifitas sistem
pengawasan intern.
Sebelum melaksanakan pengambilan sampel, harus diketahui terlebih
dahulu atribut yang akan digunakan dalam pengujian pengendalian.
2. Penentuan populasi yang akan diambil sampelnya.
Populasi yang akan diambil yaitu bukti kas keluar beserta dengan bukti
pendukung yang berhubungan dengan transaksi pengeluaran kas.
3. Penentuan besarnya sampel
Untuk menentukan besarnya sampel yang akan diambil dari populasi
ada beberapa langkah sebagai berikut :
a. Menentukan dahulu tingkat keandalan (R%), yang dalam pengujian
ini menggunakan R=95% karena adanya kepercayaan dalam sistem
pengendalian intern perusahaan.
b. Menentukan tingkat kesalahan atau penaksiran presentase terjadinya
atribut dalam populasi.
c. Menentukan batas ketepatan atas yang diinginkan (Desired Upper
Precision Limit atau DUPL), dalam penelitian ini batas DUPL yang
digunakan adalah sebesar 5%.
d. Penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan
besarnya sampel, dalam penelitian ini digunakan tabel penentuan
besarnya sampel dengan tingkat keandalan 95%. seperti dalam
lampiran III.
4. Pemilihan anggota sampel dari seluruh anggota populasi
17



Dalam tahap ini setelah jumlah sampel yang akan diambil diketahui,
kemudian melakukan pemilihan terhadap anggota sampel dari seluruh
anggota populasi yaitu secara acak.
5. Pemeriksaan terhadap atribut yang menunjukkan efektifitas unsur
sistem pengendalian intern.
6. Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap anggota sampel.
Hasil evaluasi diketahui dengan menggunakan tabel evaluasi hasil
dengan tingkat keandalan sebesar 95% (seperti dalam lampiran VI).
Bila AUPL=DUPL atau AUPL<DUPL maka pengendalian intern dapat
dikatakan efektif dan sebaliknya, jika AUPL>DUPL maka
pengendalian intern dapat dikatakan tidak efektif.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Objek Penelitian
Perusahaan yang menjadi objek penelitian pada skripsi ini adalah
perusahaan engineering yang bergerak di bidang jasa konsultasi oil dan gas
dengan bentuk hukum perseroan terbatas Penanaman Modal Asing (PMA).
PT. Global Engineering Technology J akarta menawarkan solusi inovatif untuk
layanan teknik seluruh dunia didukung dengan tim muda dan pengalaman yang
siap menghadapi segala tantangan. Sebagai organisasi pelayanan teknik yang
bekerja sama dengan klien dan pemerintah untuk jasa dalam proyek inti atau
pemeliharaan di industri oil dan gas. Perusahaan ini berkantor dilokasi yang
sangat strategis yang merupakan jantung bisnis Ibukota tepatnya di Gedung
Setiabudi II Lantai 2 Ruang 201 B/C J alan. HR. Rasuna Said Kav.62 J akarta
Selatan, pertama kali didirikan pada tahun 2009 oleh seorang pengusaha swasta
yang bernama Lee Tae J ong. Adapun dasar pendirian sesuai dengan
perkembangan industrialisasi yang pada tahun itu sangat baik pertumbuhannya di
Indonesia.



18



4.2. Analisis dan Pembahasan
4.2.1. Pengujian Kualitatif Pengendalian Intern Pengeluaran Kas
Pemahaman terhadap sistem pengendalian intern adalah tahap pertama
yang dilakukan oleh auditor dalam melakukan audit, karena dalam sistem
pengendalian intern perusahaan dapat diketahui bagaimana keandalan informasi
yang diterapkan dalam perusahaan.
Pemahaman atas sistem pengendalian intern pengeluaran kas pada PT.
Global Engineering Technology J akarta dapat diketahui dalam jawaban kuesioner
pengendalian intern perusahaan. Selanjutnya akan dievaluasi dari pemahaman
atas sistem pengendalian intern pengeluaran kas pada PT. Global Engineering
Technology J akarta. Evaluasi yang akan dilakukan terhadap sistem pengendalian
intern meliputi : (1) Evaluasi terhadap struktur organisasi perusahaan, (2)
Evaluasi terhadap sistem otorisasi dan prosedur pencatatan, (3) Evaluasi terhadap
praktek yang sehat, (4) Evaluasi terhadap karyawan sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya. Pemahaman terhadap sistem pengedalian intern PT. Global
Engineering Technology J akarta adalah sebagai berikut :
1. Struktur Organisasi Perusahaan
a. Fungsi penyimpanan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
b. Transaksi penerimaan dan pengeluaran kas tidak boleh dilaksanakan
sendiri oleh bagian kassa sejak awal sampai akhir tanpa campur tangan
fungsi lain.
2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
a. Pengeluaran kas harus mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang..
b. Pembukuan dan penutupan rekening harus mendapatkan persetujuan dari
pejabat yang berwenang.
c. Pencatatan dalam jurnal pengeluaran kas (atau dalam metode pencatatan
tertentu register cek) harus didasarkan bukti kas keluar yang telah
mendapatkan otorisasi dari pejabat yang berwenang dan yang dilampiri
dengan dokumen pendukung lengkap .

19



3. Praktek Yang Sehat
a. Saldo kas yang ada ditangan harus dilindungi dari kemungkinan
pencurian atau penggunaan yang tidak semestinya.
b. Dokumen dasar dan dokumen pendukung pengeluaran kas harus dibubuhi
cap lunas oleh bagian kassa setelah transaksi pengeluaran kas
dilakukan.
c. Penggunaan rekening koran bank (bank statement), yang merupakan
informasi dari pihak ketiga, untuk mengecek ketelitian catatan kas oleh
fungsi pemeriksaan intern yang memerlukan fungsi yang tidak terlibat
dalam pencatatan dan penyimpanan kas.
d. Semua pengeluaran kas harus dilakukan dengan cek atas nama perusahaan
penerima pembayaran atau dengan pemidahbukuan.
e. J ika pengeluaran kas hanya menyangkut jumlah yang kecil pengeluaran
ini dilakukan dengan sistem akuntansi pengeluaran kas melalui dana kas
kecil yang akuntansinya diselenggarakan dengan imprest system.
f. Secara periodik diadakan pencocokan jumlah fisik kas yang ada ditangan
dengan jumlah kas menurut catatan akuntansi.
g. Semua nomor cek harus dipertanggungjawabkan oleh bagian kassa.
4. Karyawan Sesuai Tugas dan Tanggung jawabnya
a. Setiap karyawan mempunyai pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung
jawabnya disetiap bagian perusahaan.
b. Adanya pelatihan bagi karyawan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab
di setiap bagian perusahaan, agar terjadi peningkatan mutu karyawan.
c. Perekrutan karyawan baru disesuaikan dengan latar belakang pendidikan
yang dibutuhkan disetiap bagian dalam perusahaan.
d. Perekrutan karyawan baru dimulai dengan masa percobaan kerja selama
tiga bulan dan pengangkatan karyawan baru ditentukan berdasarkan
hasil percoban yang telah dilalui, agar perusahaan mendapatkan
karyawan baru yang berkompeten sesuai dengan tugas dan tanggung
jawabnya.
20



e. Perusahaan tidak memberikan penghargaan kepada karyawan berprestasi.
Secara garis besar pemahaman dan evaluasi dari sistem pengendalian
intern pengeluaran kas pada PT. Global Engineering Technology J akarta yang
dilihat dari jawaban kuesioner yang ada sudah dijalankan dengan baik sesuai
dengan prosedur kebijakan yang dibuat oleh manajemen perusahaan.
4.2.2. Pengujian Kuantitatif Pengendalian Intern Pengeluaran Kas
Pengujian pengendalian digunakan terutama untuk menguji efektifitas
sistem pengendalian intern, pengujian ini dilakukan terhadap dokumen-dokumen
yang berhubungan dengan transaksi pengeluaran kas PT. Global Engineering
Technology. Untuk menyakini hasil evaluasi perlu adanya pengujian
pengendalian untuk memberikan keyakinan atas hasil evaluasi sistem
pengendalian intern tersebut. Model yang digunakan dalam pengujian
pengendalian ini adalah dengan model fixed-sample-size attribute sampling.
Tahap pelaksanaan pengujian pengendalian dengan model fixed-sample-size
attrubute sampling adalah sebagai berikut:
4.2.2.1.Penentuan Atribut Yang Akan Diperiksa
Atribut dari transaksi pengeluaran kas telah disesuaikan dengan prosedur
yang telah ditetapkan dalam perusahaan. Atribut yang digunakan dalam
pengujian pengendalian ini adalah :
1. Kelengkapan dokumen pendukung yang sah.
2. Otorisasi pejabat yang berwenang.
3. Adanya ketepatan perhitungan dalam jumlah dan mata anggaran.
4. Telah dicatat ke dalam jurnal dan buku pembantu utang yang tepat.
4.2.2.2.Penentuan Populasi Yang Akan Diambil Sampelnya
Penentuan populasi yang akan dipilih untuk dijadikan sebagai sampel
dalam pengujian pengendalian ini adalah bukti transaksi pengeluaran kas selama
periode 1 J anuari 2009 sampai dengan periode 31 Desember 2009. Selama
periode tersebut terdapat 208 bukti kas keluar, maka akan dilakukan penentuan
populasi yang akan diambil sampelnya.

21




4.2.2.3.Penentuan Besarnya Sampel
Untuk menentukan besarnya sampel yang akan diambil dari jumlah semua
populasi sebesar 208 bukti kas keluar selama periode 1 J anuari sampai dengan 31
Desember 2009, sebelumnya akan dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini :
1. Penentuan Tingkat Keandalan (Reliability level) atau confidence level atau
disingkat R%.
Berdasarkan pemahaman dan evaluasi sebelumnya terhadap sistem
pengendalian intern pengeluaran kas PT. Global Engineering Technology
J akarta diketahui bahwa sistem pengendalian intern telah berjalan dengan
baik, sehingga dalam penentuan tingkat keandalan (Reliability level) dipilih
sebesar R%=95%, yang berarti besarnya tingkat resiko dijumpai kesalahan
dalam atribut sampel tidak melebihi sebesar 5%.
2. Penaksiran Presentase Terjadinya Atribut Dalam Populasi.
Penaksiran besarnya presentasi terjadinya atribut dapat ditaksir berdasarkan
pengalaman audit tahun lalu, karena penulis tidak memiliki pengalaman
mengenai besarnya tingkat kesalahan dalam populasi maka dalam pengujian
pengendalian ini diambil sampel 50 bukti kas keluar secara acak dalam
populasi sebanyak 208 buah selama 1 J anuari 2009 sampai dengan 31
Desember 2009. Dalam pemeriksaan terhadap 50 sampel secara acak
diketahui tidak ditemukan adanya atribut atau kesalahan. Karena besarnya
taksiran dengan menggunakan tabel penentuan besarnya sampel dengan
keandalan 95% (Mulyadi, 2002) tidak ada taksiran tingkat kesalahan
sebesar 0%, maka dalam penelitian ini diputuskan untuk diambil taksiran
sebesar 1%.
3. Penentuan batas ketepatan atas yang diinginkan (Desired Upper Precision
Limit atau DUPL).
Berdasarkan pertimbangan pemahaman dan evaluasi sistem pengendalian
intern transaksi pengeluaran kas PT. Global Engineering Technology J akarta
dipilih tingkat keandalan (Reliability level) sebesar R=95%, dengan ini maka
22



ditetapkan DUPL (Desired Upper Precision Limit) sebesar 5% yang berarti
batas maksimum kesalahan yang dijumpai dalam sampel tidak melebihi 5%.
4. Penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan besarnya
sampel.
Dengan menggunakan tabel penentuan besarnya sampel dengan tingkat
keadalan 95% dan taksiran kesalahan adalah sebesar 1%, maka dapat
diketahui bahwa besarnya sampel yang akan diambil dari populasi sebesar
208 buah yaitu sebanyak 100 buah sampel.
Tabel 1
Penentuan Besarnya Sampel dengan Tingkat Keandalan, 95%


Upper Precison Limit: Percent Rate of Occurrence, 95%
Expected
Percent
Rate of
Occurrence
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

0,25 650 240 160 120 100 80 70 60 60 50
0,50 * 320 160 120 100 80 70 60 60 50
1,00 600 260 160 100 80 70 60 60 50
1,50 * 400 200 160 120 90 60 60 50
2,00 900 300 200 140 90 80 70 50
2,50 * 550 240 160 120 80 70 70
3,00 * 400 200 160 100 90 80
Sumber : Mulyadi, 2002
J umlah sampel sebanyak 100 buah dapat diketahui dengan mempertemukan
kolom Expected Percent Rate Of Occurrence dalam penelitian ini taksiran
sebesar 1% dipertemukan dengan kolom Desired Upper Precision Limit
(DUPL) sebesar 5%, maka ditemukan titik pertemuan kedua kolom tersebut
pada angka sebesar 100.

4.2.2.4.Pemilihan Anggota Sampel Dari Seluruh Anggota Populasi
Setelah jumlah sampel yang akan diambil diketahui yaitu sebesar 100
buah sampel, pada langkah ini selanjutnya diambil sampel sebanyak 50 buah
sampel sebagai lanjutan dari langkah 4.2.6.3 yaitu mengambil dari anggota
23



populasi sejumlah 158 sampel bukti kas keluar. Pengambilan sampel dilakukan
secara acak dengan perbandingan proposional tiap bulan agar setiap anggota
populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
Setelah diketahui anggota populasi mana saja yang akan diambil sebagai sampel,
kemudian sampel yang telah diambil tersebut diberi nomor urut dan diurutkan
berdasar nomor terkecil untuk memudahkan dilakukan pemeriksaan adanya
atribut.
4.2.2.5.Pemeriksaan terhadap atribut yang menunjukkan efektifitas unsur
sistem pengendalian intern.
Setelah semua sampel sejumlah 50 buah bukti kas keluar diambil, langkah
berikutnya dilakukan pemeriksaan terhadap sampel satu persatu untuk mencari
adanya atribut untuk menguji efektifitas unsur pengendalian intern. Pemeriksaan
adanya atribut adalah sebagai berikut :
1. Kelengkapan dokumen pendukung yang sah.
Pengujian atribut ini dilakukan untuk menguji apakah pembuatan dokumen
pengeluaran kas telah melalui prosedur yang ditetapkan perusahaan dengan
didukung dengan dokumen pendukung yang sah. Dari pemeriksaan atas 50
buah sampel bukti kas keluar ada satu buah dokumen pengeluaran kas yang
tidak dilengkapi dengan bukti pendukung yang sah yaitu kuitansi, sehingga
dalam pemeriksaan 50 buah sampel bukti pengeluaran kas ditemukan adanya
penyimpangan.
2. Otorisasi pengeluaran kas oleh pejabat yang berwenang.
Pengujian terhadap atribut ini dilakukan dimaksudkan untuk menguji adanya
pelaksanaan prosedur otorisasi atas pengeluaran dari pejabat yang berwenang
memberikan otorisasi tersebut. Dari pemeriksaan terhadap 50 buah sampel
yang telah diperiksa, semua surat order telah mendapatkan otorisasi oleh
pejabat yang berwenang memberikan otorisasi tersebut. Sehingga dalam
pemeriksaan ini tidak dijumpai adanya penyimpangan.
3. Adanya ketepatan perhitungan dalam jumlah dan mata anggaran
24



Pengujian terhadap atribut ini dimaksudkan untuk menguji adanya ketepatan
perhitungan jumlah dan mata anggaran. Dari pemeriksaan. terhadap 50 buah
sampel yang telah diperiksa semua dokumen pengeluaran kas telah melalui
perhitungan dalam jumlah yang tepat, berarti dari 50 buah sampel yang
diperiksa tidak ditemukan adanya penyimpangan dari prosedur tersebut.
4. Telah dicatat ke dalam jurnal dan buku pembantu hutang yang tepat.
Pengujian terhadap atribut ini dimaksudkan untuk menguji prosedur
pencatatan pengeluaran kas ke dalam jurnal pengeluaran kas oleh bagian
akuntansi dan pencatatan hutang dengan account payable system oleh bagian
hutang. Dari pemeriksaan terhadap 50 buah sampel yang telah diperiksa
semua bukti kas keluar telah dicatat dalam jurnal yang tepat, berarti dari
pemeriksaan terhadap 50 buah sampel yang telah diperiksa tidak ditemukan
adanya atribut atau penyimpangan dari prosedur tersebut.
4.2.2.6.Evaluasi Hasil Pemeriksaan Terhadap Anggota Sampel.
Setelah pemeriksaan terhadap sampel untuk mencari adanya atribut-
atribut telah dicatat, kemudian tahap selanjutnya adalah dilakukan evaluasi
terhadap atribut yang ada untuk mengetahui presentasi adanya penyimpangan
yang ada. Dari pengujian terhadap 50 buah sampel bukti kas keluar, dari hasil
pemeriksaaan ditemukan adanya atribut atau adanya penyimpangan yaitu tidak
dilengkapi dengan bukti pendukung yang sah. Atribut yang ditemukan sebanyak
satu buah sampel bukti kas keluar tidak dilengkapi dengan bukti pendukung yang
sah yaitu No. BKK J V459-09/GET tidak dilengkapi kuitansi (kesalahan=1).
Dengan menggunakan tabel evaluasi hasil pemeriksaan sebesar R=95%
terhadap anggota sampel akan dapat menentukan berapa Achieved Upper
Precision Limit (AUPL). AUPL ini kemudian dibandingkan dengan Desired
Upper Precision Limit (DUPL), untuk menilai apakah unsur sistem pengendalian
intern pengeluaran kas yang dilaksanakan pada PT. Global Engineering
Technology J akarta adalah efektif atau tidak. Besarnya Achieved Upper Precision
Limit (AUPL) dapat diketahui dengan menggunakan tabel evaluasi hasil
keandalan 95% berikut ini:
25



Tabel 2
Tabel Evaluasi Hasil: Keandalan, 95%
Number of Observed Occurrence
Upper Precision Limit : Percent Rate of Occurrence
SS 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10
20
30 0
40 0
50 0 1
60 0 1 2
70 0 1 2
80 0 1 2 3 4
90 0 1 2 3 4 5 6
100 0 1 2 3 4
120 0 1 2 3 4 5 6
Sumber, Mulyadi, 2002
Dengan menggunakan tabel evaluasi hasil keandalan sebesar R=95%
diketahui Achieved Upper Precision Limit (AUPL) adalah sebesar 4%. AUPL
sebesar 4% didapat dari pemeriksaan terhadap sampel pengeluaran kas sebanyak
100 buah diketahui terdapat satu buah penyimpangan prosedur, dengan tabel
evaluasi hasil evaluasi sebesar R=95% kolom sampel sebanyak 100 buah
dipertemukan secara horisontal dengan jumlah adanya penyimpangan sebanyak
dua buah, kemudian dipertemukan secara vertikal keatas sehingga didapat kolom
Achieved Upper Precision Limit (AUPL) adalah sebesar 4%.
Berdasarkan pemahaman awal atas sistem pengendalian intern
pengeluaran kas yang dilakukan oleh PT. Global Engineering Technology J akarta
masih ada kelemahan yang ditemukan sehingga masih diperlukan adanya
perbaikan. Setelah dilakukan pengujian pengendalian pada bukti transaksi
pengeluaran ditemukan adanya Achieved Upper Precision Limit sebesar 4%
(AUPL=4%) yang berarti lebih kecil dari Desired Upper Precision Limit sebesar
5% (DUPL=5%), sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian intern
terhadap pengeluaran kas perusahaan adalah baik dan efektif karena
26



AUPL<DUPL. Meskipun ditemukannya satu penyimpangan terhadap transaksi
pengeluaran kas yaitu tidak dilampiri dengan dokumen pendukung yang sah.
Maka perusahaan harus dapat mengevaluasi terhadap setiap transaksi pengeluaran
kas dengan memeriksa setiap kelengkapan dokumen transaksi yang bersangkutan.
Dengan demikian diharapkan pelaksanaan sistem pengendalian intern
pengeluaran kas dalam Global Engineering Technology J akarta akan menjadi
lebih efektif.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dalam Bab IV, sistem pengendalian Intern
pada aktivitas pengeluaran kas pada PT. Global Engineering Technology J akarta
masih dijumpai adanya kelemahan-kelemahan yang masih perlu diperbaiki oleh
manajemen perusahaan, dan setelah dilakukan pengujian pengendalian dengan
menggunakan metode fixed-sample-size-attribute sampling dengan jumlah
sampel yang diuji adalah sebanyak 100 buah sampel dokumen pengeluaran kas
yang diambil secara acak. Dengan Tingkat keandalan ditentukan R%=95% yang
berarti tingkat resiko adalah 5% sehingga diketahui DUPL=5%. Setelah
dilakukan pemeriksaan terdapat satu buah penyimpangan, dengan menggunakan
tabel evaluasi hasil keandalan 95% diketahui AUPL=4%. Dengan demikian dapat
ditarik kesimpulan bahwa sistem pengendalian intern pengeluaran kas pada PT.
Global Engineering Technology J akarta adalah sudah baik karena AUPL<DUPL,
untuk itu manajemen PT. Global Engineering Technology J akarta masih dapat
mengembangkan lagi sistem pengendalian internnya agar menjadi lebih baik lagi.
5.1. Saran
Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan, secara keseluruhan sistem
pengendalian intern pengeluaran kas PT. Global Engineering Technology J akarta
adalah sudah memadai, untuk itu perusahaan dapat lebih memperhatikan dan
melakukan evaluasi pada setiap kelemahan ini agar tidak berkelanjutan untuk
jangka panjang yang dapat merugikan perusahaan. Oleh karena itu perlu
dilakukan adanya perbaikan dalam beberapa hal antara lain :
27



1. Pimpinan perusahaan memberikan suatu penghargaan kepada karyawan
perusahaan yang berprestasi, hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan
motivasi pegawai agar dapat bekerja lebih baik sesuai dengan prosedur yang
ditetepkan perusahaan.
2. Dalam hal pemeriksaan, harus selalu dilakukan pengawasan dan diadakan
pemeriksaan rutin terutama dalam pemeriksaan dokumen-dokumen transaksi
pengeluaran kas.
6. DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahmat Fathoni, 2006, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan
Skripsi, Cetakan 1, PT Rineka Cipta, J akarta
Arens, Alvin A and Loebbecke, 2000, Auditing An Integrated Approach, Eight
Edition, Englewood Cliffs, New J ersey: Prentice Hall International Inc
Arens, Alvin A, Randal J Elder, and Mark S Beasley, 2003, Auditing and
Assurance Services An Integrated, Ninth Edition, New J ersey: Person
Education International
Baridwan, Zaki, 2000, Intermediate Accounting, Yogyakarta: BPFE
____________. 1998 Sistem Akuntansi Penyusunan Prosedur dan Metode,
Yogyakarta:BPFE
Champion Dean J , 1990, Basic Statistic For Social Research, Second Edition,
New York : Milan Publishing Co
J erry R Starwser, Robert H Strawser, 2000, Auditing Theory & Practice, Ninth
Edition, by Dame a Division of Thomson Learning
Komite SAK, Ikatan Akuntan Indonesia, 2002, Standar Akuntansi Keuangan,
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, J akarta
Mulyadi, 2001, Sistem Akuntansi, edisi 3, Salemba Empat, J akarta
Mulyadi, 2002, Auditing, edisi 6, Salemba Empat, J akarta
Nurchamid, Tafsir,1989, Sistem Akuntansi II, Karunika, J akarta
Widjajanto Nugroho, 2001, Sistem Informasi Akuntansi, Erlangga, J akarta


28



Lampiran I
KUESIONER
Pengendalian Intern Pengeluaran Kas
PT. Global Engineering Technology Jakarta

No Pertanyaan Ya Tidak Keterangan




1.


2.


3.


4.


5.

6.




1.


2.


3.





ORGANISASI
Apakah bagian akuntansi terpisah dengan bagian
kasa ?
Apakah bagian akuntansi terpisah dengan bagian
utang?;-
Apakah bagian utang terpisah dengan bagian
kasa?
Apakah bagian akuntansi terpisah dengan fungsi
penerima kas ?
Apakah bagian penyimpanan terpisah dengan
bagian akuntansi?
Apakah ada pemeriksaan internal dalam siklus
pengeluaran oleh pimpinan perusahaan pada
semua bagian ?


OTORISASI DAN PROSEDUR PENCATATAN
Apakah setiap pengeluaran kas mendapat
persetujuan dari pejabat yang berwenang ?
Apakah setiap bukti kas keluar mendapatkan
persetujuan pejabat yang berwenang?
Apakah setiap pengeluaran cek mendapatkan
otorisasi dahulu oleh pihak yang berwenang ?

Apakah bukti pengeluaran kas dari pembayaran



X


X


X


X


X


X


X

X


X














































































29



4.


5.


6.









1.



2.



3.




4.

5.


1.


2.


tagihan diotorisasi oleh fungsi pengeluaran kas ?
Pembukuan dan penutupan rekening harus
mendapatkan persetujuan dari pejabat yang
berwenang?
Apakah pencatatan dalam jurnal pengeluaran kas
harus didasarkan bukti kas keluar yang mendapat
otorisasi dari pejabat yang berwenang dan disertai
dokumen pendukung yang lengkap?

PRAKTEK YANG SEHAT
Apakah bukti kas keluar dan dokumen pendukung
transaksi pengeluaran kas dibubuhi cap lunas
oleh bagian bagian pengeluaran kas?
Apakah semua pembayaran yang dilakukan
menggunakan cek atas nama perusahaan penerima
pembayaran?
Apakah diadakan pencocokan jumlah fisik kas di
tangan dengan jumlah kas menurut catatan
akuntansi secara periodik
Apakah disediakan lemari brankas untuk
mencegah terjadinya pencurian?
Apakah semua nomor cek harus
dipertanggungjawabkan oleh bagian kasa?

KARYAWAN YANG CAKAP
Apakah perusahaan mengadakan training secara
periodik untuk meningkatkan SDM?
Apakah perekrutan karyawan baru setiap bagian
disesuaikan dengan latar pendidikannya ?
Apakah perusahaan memberlakukan masa
X


X












X


X

X


X


X



X





X


X









X












































Hanya ada satu
yang tidak
disertai
dokumen
lengkap


























30



3.


4.
percobaan pada karyawan baru ?
Apakah perusahaan memberikan penghargaan
terhadap karyawan yang berprestasi ?
X









X







Keterangan :
Beri tanda silang (X) pada kolom jawaban Ya atau Tidak.
Berikan keterangan bila dianggap perlu.














31



Lampiran II
KERTAS KERJA LANGKAH I
PEMERIKSAAN BUKTI KAS KELUAR
Nama Perusahaan : PT. Global Engineering Technology J akarta
Alamat : Gedung Setiabudi II, Lantai II Ruang 201B/C
Jumlah Sampel : 50 buah bukti kas keluar

No
urut
Nomor
Voucher
Tanggal
Voucher 1 2 3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
J V011-09/GET
J V037-09/GET
J V047-09/GET
J V117-09/GET
J V055-09/GET
J V019-09/GET
J V131-09/GET
J V105-09/GET
J V184-09/GET
J V082-09/GET
J V191-09/GET
J V155-09/GET
J V160-09/GET
J V243-09/GET
J V238-09/GET
J V283-09/GET
J V294-09/GET
J V312-09/GET
J V321-09/GET
J V097-09/GET
J V064-09/GET
J V075-09/GET
J V384-09/GET
J V367-09/GET
10/01/09
24/01/09
28/01/09
13/03/09
02/02/09
15/01/09
24/03/09
04/03/09
27/04/09
23/02/09
29/04/09
04/04/09
12/04/09
20/05/09
19/05/09
23/06/09
29/06/09
07/07/09
10/07/09
27/02/09
12/02/09
21/02/09
20/08/09
11/08/09
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
ATRIBUT

32



No
urut
Nomor
Voucher
Tanggal
Voucher 1 2 3
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38
39.
40.
41.
42.
43.
44
45
46
47.
48.
49.
50.
J V380-09/GET
J V198-09/GET
J V174-09/GET
J V545-09/GET
J V541-09/GET
J V543-09/GET
J V025-09/GET
J V013-09/GET
J V042-09/GET
J V017-09/GET
J V438-09/GET
J V447-09/GET
J V008-09/GET
J V421-09/GET
J V246-09/GET
J V435-09/GET
J V225-09/GET
J V248-09/GET
J V592-09/GET
J V571-09/GET
J V271-09/GET
J V487-09/GET
J V528-09/GET
J V197-09/GET
J V143-09/GET
J V152-09/GET
19/08/09
29/04/09
23/04/09
09/11/09
05/11/09
06/11/09
20/01/09
11/01/09
28/01/09
15/01/09
11/09/09
30/09/09
07/01/09
09/09/09
28/05/09
11/09/09
14/05/09
29/05/09
20/12/09
08/12/09
17/06/09
07/10/09
03/11/09
29/04/09
07/08/09
03/04/09
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
ATRIBUT

33



KERTAS KERJA LANGKAH II (LANJUTAN)
PEMERIKSAAN BUKTI KAS KELUAR

Nama Perusahaan : PT. Global Engineering Technology
Alamat : Gedung Setiabudi II, Lantai 2, Ruang 201B/C
Jumlah Sampel : 50 buah Bukti Kas Keluar

No
urut
Nomor
Voucher
Tanggal
Voucher 1 2 3
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
J V148-09/GET
J V080-09/GET
J V054-09/GET
J V098-09/GET
J V372-09/GET
J V431-09/GET
J V285-09/GET
J V262-09/GET
J V420-09/GET
J V437-09/GET
J V598-09/GET
J V572-09/GET
J V060-09/GET
J V265-09/GET
J V485-09/GET
J V459-09/GET
J V492-09/GET
J V474-09/GET
J V585-09/GET
J V562-09/GET
J V145-09/GET
J V112-09/GET
J V359-09/GET
J V383-09/GET
29/03/09
22/02/09
02/02/09
27/02/09
11/08/09
10/09/09
27/06/09
10/06/09
09/09/09
11/09/09
29/12/09
08/12/09
10/02/09
11/06/09
07/10/09
01/10/09
09/10/09
06/10/09
15/12/09
04/12/09
28/03/09
11/03/09
06/08/09
20/08/09
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
X
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
ATRIBUT

34



No
urut
Nomor
Voucher
Tanggal
Voucher 1 2 3
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
J V347-09/GET
J V436-09/GET
J V446-09/GET
J V549-09/GET
J V563-09/GET
J V525-09/GET
J V527-09/GET
J V529-09/GET
J V311-09/GET
J V339-09/GET
J V597-09/GET
J V472-09/GET
J V371-09/GET
J V310-09/GET
J V224-09/GET
J V244-09/GET
J V322-09/GET
J V375-09/GET
J V597-09/GET
J V230-09/GET
J V249-09/GET
J V340-09/GET
J V381-09/GET
J V445-09/GET
J V296-09/GET
J V273-09/GET
J V385-09/GET
30/07/09
11/09/09
30/09/09
10/11/09
04/12/09
03/11/09
03/11/09
03/11/09
07/07/09
21/07/09
29/12/08
05/10/09
11/08/08
07/07/09
14/05/09
23/05/09
10/07/09
12/08/09
29/12/09
15/05/09
29/05/09
21/07/09
19/08/09
30/09/09
29/06/09
17/06/08
20/08/09
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
ATRIBUT
35



Keterangan Kertas Kerja Hasil Pemeriksaan :
V = Tidak ada penyimpangan
X = Ada penyimpangan

NO

KETERANGAN ATRIBUT KERTAS KERJA
1. Kelengkapan dokumen pendukung bukti pengeluaran kas yang sah.
2. Otorisasi pengeluaran kas dan ketepatan oleh pejabat yang berwenang.
3. Ketepatan pencatatan di buku jurnal dengan di buku transaksi




Dikerjakan oleh




( Umi Maria Ulfa)








36



Lampiran III
Tabel Penentuan Besarnya Sampel:Keandalan, 95%

Upper Precison Limit: Percent Rate of Occurrence, 95%
Expected
Percent
Rate of
Occurrence
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
0,25 650 240 160 120 100 80 70 60 60 50
0,50 * 320 160 120 100 80 70 60 60 50
1,00 600 260 160 100 80 70 60 60 50
1,50 * 400 200 160 120 90 60 60 50
2,00 900 300 200 140 90 80 70 50
2,50 * 550 240 160 120 80 70 70
3,00 * 400 200 160 100 90 80
3,50 * 650 280 200 140 100 80
4,00 * 500 240 180 100 90
4,50 * 800 360 200 160 120
5,00 * 500 240 160 120
5,50 * 900 360 200 160
6,00 * 550 280 180
6,50 * 1000 400 240
7,00 * 600 300
7,50 * * 460
8,00 * * 650
8,50 * *
9,00 *
9,50
PERHATIAN :
Upper precison limit umumnya harus lebih sebesar 5% atau kurang jika kepercayaan terhadap
Pengendalian intern cukup besar
* Besarnya sampel adalah lebih dari 1.000.

Sumber : Mulyadi, Auditing Edisi 6, 2002





37



Lampiran IV

Tabel Evaluasi Hasil: Keandalan, 95%

Number of Observed Occurrence
Upper Precision Limit : Precent Rate of Occurrence
SS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 14 16 18 20 25 30 35 40 45 50
10 0 1 2
20 0 1 2 3 4 5 6
30 0 1 2 4 5 6 8 9 10
40 0 1 2 3 4 6 7 9 11 13 15
50 0 1 2 3 4 5 8 10 12 15 17 19
60 0 1 2 3 4 5 6 7 10 13 15 18 21 24
70 0 1 2 3 4 5 6 8 9 12 15 18 22 25 29
80 0 1 2 3 4 5 6 8 9 10 14 18 22 25 29 33
90 0 1 2 3 4 6 7 9 11 12 16 20 25 29 23 38
100 0 1 2 3 4 5 7 9 10 12 14 19 23 28 33 38 43
120 0 1 2 3 4 5 6 7 9 11 13 15 17 23 29 34 40 46 52
140 0 1 2 3 4 5 6 7 9 11 13 16 18 21 27 34 41 48 54 61
160 0 1 2 4 5 6 8 9 10 13 16 19 22 25 32 40 47 55 63 71
180 0 2 3 4 6 7 9 10 12 15 18 22 25 28 37 45 54 63 71 80
200 0 1 2 4 5 7 8 10 12 14 17 21 24 28 32 41 51 60 70 80 90
220 1 2 4 6 8 10 12 13 15 19 23 27 31 35 46 56 67 78 89 99
240 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 21 26 30 35 39 50 62 74 85 97 109
260 0 1 3 5 8 10 12 14 17 19 24 28 33 38 43 55 68 80 93 106 119
280 0 2 4 6 8 11 13 16 18 21 26 31 36 41 46 60 73 87 101 114 128
300 0 2 4 7 9 12 14 17 20 22 28 33 39 45 50 64 79 93 108 123 138
320 0 2 5 7 10 13 16 18 21 24 30 36 42 48 54 69 85 100 116 132 148
340 0 3 5 8 11 14 17 20 23 26 32 38 45 51 58 74 90 107 123 140 157
360 0 3 6 9 12 15 18 21 25 28 34 41 48 55 61 79 96 113 131 149 167
380 0 3 6 9 13 16 19 23 26 30 37 44 51 58 65 83 102 120 139 158 177
400 1 4 7 10 14 17 21 24 28 31 39 46 54 61 69 88 107 127 146 166 186
420 1 4 7 11 14 18 22 26 29 33 41 49 57 65 73 93 113 134 154 175 196
460 1 4 8 12 16 20 24 28 33 37 45 54 63 71 80 102 124 147 170 192 215
500 1 5 9 13 18 22 27 31 36 40 50 59 69 78 88 112 136 160 185 210 235
600 2 7 12 17 22 28 33 39 44 50 61 72 84 95 107 135 165 194 224 253 283
650 2 8 13 19 24 30 36 42 48 54 66 79 91 104 116 147 179 211 243 275 308
700 3 8 14 20 27 33 39 46 52 59 72 85 99 112 126 159 194 228 262 297 332
800 4 10 17 24 31 38 46 53 61 68 83 99 114 129 145 183 22 262 301 341 381
900 4 12 20 28 36 44 52 61 69 78 95 112 129 146 164 207 251 296 340 385 430
1000 5 13 22 31 40 49 59 68 77 87 106 125 144 164 183 232 280 330 379 429 479

Sumber : Mulyadi, Auditing Edisi 6, 2002
38




39