Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI REFRAT

STROKE
Oleh :
Fadhila Kamayanti (01.209.5901)
Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
2014
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
RSD Tugurejo
Darah
mengalir ke
otak
2 arteri
Carotis
interna
2 arteri
vertebralis
VENA
ARTERI
Circulus Wilisi
Vena Vertebralis
eksterna
Vena cerebri
interna
2 arteri
Carotis
interna
2 arteri
vertebralis
Circulus Wilisi
Vena Vertebralis
eksterna
Vena cerebri
interna
A. Cerebri Anterior
A. Cerebri media
a. Vertebralis
beranastomosis
dgn a. vertebrasi
kontralateral a.
basilaris
v. Cerebri superior
V. Cerebri media
superficial
V. Cerebri media
profunda
A. CEREBRIANTERIOR
(ACA)
FACIES MEDIALIS HC
1. lob. front.
2. lob. pariet
3. korpus kolosum
4. nukleus cuadatus.
7
DISTRIBUSI ARTERIAL OTAK
OKLUSI (sumbatan)
ACA

Gangguan fungsi2
sensoris dan motoris
extremitas
kontralateral
1. A. CEREBRI ANTERIOR (ACA)
8
2. A. CEREBRI MEDIA (ACM)
A. CEREBRI MEDIA (ACM)

PERMUKAAN KONVEKSITAS HC
1. LOB. FRONT
2. LOB. PARIET.
3. LOB. TEMP.
(regio ant. + med.)
A. cerebri media (ACM)
OKLUSI ACM:
Mengganggu fungsi2 sensoris dan
motoris kontralateral (terutama
extremitas superior).
Jika capsula interna terganggu:
seluruh tubuh kontralateral
9
3. A. CEREBRI POSTERIOR (ACP)
A. CEREBRI
POSTERIOR (ACP)

1. LOB. OCCIP.
2. LOB. TEMP.
(facies inf.)
OKLUSI ACP:
Terutama
mengganggu fungsi-
fungsi visual lapang
pandang kontalateral
DEFINISI
Stroke adalah manifestasi
klinik dari gangguan
fungsi serebral, baik fokal
maupun menyeluruh
(global), yang
berlangsung dengan cepat,
berlangsung lebih dari 24
jam, atau dapat berakhir
dengan kematian, tanpa
ditemukannya penyebab
selain dari pada gangguan
vaskular ( WHO )
Epidemiologi
Di pusat-pusat pelayanan neurologi di indonesia jumlah penderita
gangguan peredaran darah otak (GPDO) selalu menempati urutan
pertama dari seluruh penderita rawat inap. Trombosis lebih sering pada
umur 50-an hingga 70-an. GPDO pada anak muda banyak dijumpai
akibat infark karena emboli, yaitu mulai dari usia di bawah 20 tahun
dan meningkat pada dekade ke-4 hingga ke-6 dari usia, lalu menurun
dan jarang dijumpai pada usia yang lebih tua
A .Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi :
1. usia
2. jenis kelamin
3. faktor genetik atau keturunan
4. Ras atau etnik
Faktor Resiko
B.Faktor resiko yang dapat dimodifikasi :
1. Hipertensi
2. Diabetes Melitus
3. Dislipedemia
4. Alkohol
5. Penyakit Jantung
6. Merokok

7. Kurangnya aktifitas fisik
8. Pola Diit
9. Kontrasepsi Oral
10. Obesitas
11.Stres Fisik dan Mental
HIPERTENSI
kondisi medis di mana terjadi peningkatan
tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu
lama). Penderita yang mempunyai sekurang
kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang
melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan
mempunyai keadaan darah tinggi.
Jenis Hipertensi
Hipertensi primer/esensial di mana tidak ada hal
spesifik yang menjadi penyebabnya. Sekitar 90-95%
hipertensi adalah jenis ini.
Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan
oleh kelainan atau penyakit lain, misalnya karena stress,
sakit ginjal, preeklamsia, atau apnea (sesak napas saat
tidur).
Tanda atau gejala hipertensi
Gejala hipertensi primer yang mungkin dirasakan:
Sakit kepala, biasanya di pagi hari sewaktu bangun tidur
Bingung
Bising (bunyi nging) di telinga
Jantung berdebar-debar
Penglihatan kabur
Mimisan
Hematuria (darah dalam urin)
Tidak ada perbedaan tekanan darah walaupun berubah
posisi
Hipertensi sekunder menunjukkan gejala
yang sama, dengan sedikit perbedaan yaitu
tekanan darah biasanya turun bila
pengukuran dilakukan pada posisi berdiri.
Hipertensi Sekunder
Faktor Resiko
Faktor Resiko Utama:
Rokok
DM
Jenis Kelamin (laki-laki dan wanita post menopouse)
Riwayat penyakit kardiovaskuler pada keluarga
Wanita usia di bawah 65 tahun dan laki-laki di bawah
55 tahun
Dislipidemia
Usia lebih dari 60 tahun
Kerusakan target organ
Penyakit jantung
Angina / miokard infark
Gagal jantung
Stroke atau kerusakan otak tidak
permanen (TI A)
Nephropathy (kelainan ginjal)
Penyakit pembuluh darah arteri perifer
Retinopathy

JNC VII : Klasifikasi hipertensi
Tekanan Sistole Tekanan Diastole
Normal

< 120 < 80
Pre Hipertensi 120-139 80-89
Hipertensi Derajat I 140 - 159 90 - 99
Hipertensi Derajat 2 > 160 > 100
Menurut National Institute of Neurologicals Disorders
and Stroke (NINDS) 1990 :
1. Perdarahan serebral
2. Perdarahan subarahnoid
3. Perdarahan intrakranial
4. Infark serebri
- TIA ( Transient Ischemic Attact)
- RIND ( Reversible Ischemic neurological
defisit)
- progressing stroke atau Stroke in
evolution
- completed stroke


Klasifikasi
Patofisiologi






GAMBARAN KLINIS UMUM
Gejala fokal neurologis dan
okular
1. Gejala motorik
HemiparesiS
Paraparesis/ tetraparesiS
Disfagia
Ataksia
2. Gangguan bicara atau bahasa
Disfasia
Disleksia
Disgrafia
Diskalkulia
Disartria

3. Gejala sensoris
- Somatosensoris, gangguan
hemisensoris
- Visual, hemianopia, kebutaan
bilateral, diplopia
4. Gejala vestibular
- vertigo
5. Gejala kognitif dan tingkah
laku
- Kesulitan berpakaian,
menyisir rambut, disorientasi
tempat, amnesia


GEJALA DAN TANDA
Tergantung pada : Topis Lesi
Derajat lesi (Luas Infark)
1. Gangguan Motoris
Abnomelitas Tonus
(Placcid atau Spastik)
Parese/plegia
(mono/ hemi)
Topis Lesi & Lenticulo Striata
Hemiplegia/ hemiparese
typica nn. Cranial VII & XII

2. Gangguan Sensoris
1) Hemidisesthesia
2) Hemikinesthesia
Pada kondisi tertentu kelainan sensoris terjadi tanpa kelainan motoris
Contoh : Pada gambaran angiografi terjadi :
Obstruksi dan penyempitan lumen
a. Carotis communis
a. Cerebre Media kiri didaerah siphon di basis cranii
terjadi keluhan hemiastesia sisi dextra tanpa adanya parese.
3) Central Pain ( Lesi pda kortex sensoris)
3. Gangguan Saraf Otonom dan Fungsi Luhur
1) Gangguan vasomotor (vasokontruksi, vasodilatasi pembuluh darah)
2) Gangguan aktivasi kelenjar sudorivera ( keringat berlebihan)
3) Fungsi luhur (aphasia motoris dan sensoris)
Gangguan lain yang berkaitan dengan fungsi kognitif dan memori serta fungsi
psikiatrik dan emosi.
Karakteristik gangguan tersebut diatas tergantung topis lesi dan derajat lesi
Langkah-Langkah mendiagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan
Klinis
Pemeriksaan
penunjang

Pemeriksaan
Neurologik
Angiografi Cerebral
CT scan
MRI
Pemeriksaan Penunjang
Penatalaksanaan
Pengelolaan stroke di bagi dalam
:
Pengobatan umum, pedoman 5 B
Pengobatan pada penyebabnya
Pengobatan pada faktor resiko
Pengobatan pada komplikasi

Pengobatan umum, pedoman 5 B
Bladder
Breathing
Brain
Blood
Bowel
Pengobatan pada penyebabnya
Farmakoterapi disini akan berhasil baik bila
mana dilakukan secara dini, 3 jam sesudah
awitan stroke.
Terapi dengan obat-obatan antikoagulasi,
antitrombotik dan platelet anti agregrasi.



Rehabilitasi

Tujuan rehabilitasi ialah :
Memperbaiki fungsi motoris, bicara, dan fungsi
Lain yang terganggu
Adaptasi mental; sosial dari penderita stroke,
sehingga hubungan interpersonal menjadi
normal.
Sedapat mungkin harus dapat melakukan
aktivitas sehari-hari.
Prognosis
Sepertiga penderita dengan infark otak akan
mengalami kemunduran status neurologiknya
setelah dirawat. Sebagian disebabkan edema otak
dan maturasi iskemi otak. Infark luas yang
menimbulkan hemiplegi dan penurunan kesadaran
30-40 %.Sekitar 10 % pasien dengan stroke iskemik
membaik dengan fungsi normal.Juga
dipermasalahkan apakah seseorang akan mengalami
stroke ulang. Prognosis lebih buruk pada pasien
dengan kegagalan jantung kongestif dan penyakit
jantung koroner. Penyebab utama kematian setelah
jangka panjang adalah penyakit jantung.