Anda di halaman 1dari 4

1

1. Rasionalisme
Rasionalisme adalah pemikiran hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari
akal saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya. Menurut kaum rasionalis,
sumber pengetahuan satu-satunya, adalah akal budi manusia. Akal budilah yang menberi kita
pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Dengan demikian, akal budi saja bisa
membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan kita, bahwa kita boleh merasa pasti dan
yakin akan pengetahuan yang kita peroleh.
Plato
Rasionalaisme sesungguhnya telah muncul dalam pemikiran-pemikiran Plato. Bahkan
, kita dapat mengatakan bahwa Plato adalah pemikir rasional pertama. Menurut Plato, satu-
satunya pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu penegetahuan
tunggal da tak berubah sesuai dengan ide-ide abadi. Oleh karena itu, apa yang kita tangkap
melalui panca indra hanya merupakan tiruan cacat dari ide-ide tertentu yang abadi. Hanya
ide-ide itu saja yang bersifat nyata dan sempurna. Segala hal lain hanya tirua dan karena itu
tidak nyata dan tidak sempurna.
Rene Descrates
Sasaran utama dari descrates adalah bagaimana kita bisa sampai pada pengetahuan
yang pasti benar. Menurutnya, kita perlu meragukan segala sesuatu sampai kita mempnyai
ide yang jelas dan tepat. Empirisme merupakan paham yang menyatakan bahwa pengetahuan
diperoleh dari pengalaman inderawi manusia. Tidak ada pengetahuan yang tidak berasal dari
pengalaman. Contoh: Teori tabula rasa yang dikemukakan oleh John Locke. Ia mene-gaskan
bahwa jiwa atau pikiran manusia pada dasarnya adalah seperti kertas kosong, pengalamanlah
yang mengisi jiwa atau pikiran itu. Misalnya, seseorang tumbuh menjadi manusia yang jahat
ketika ia tinggal di lingkungan yang memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi, karena
pengetahuan yang dimilikinya itu berhubungan dengan kejahatan .Dengan kata lain descrates
menghendaki bahwa kita tetap meragukan untuk sementara waktu apa saja yang tidak bisa
dilihat dengan terang akal budi sebagai yang pasti benar dan tidak diragukan lagi. Ini disebut
sebagi keraguan metodis yang berfungsi sebagai alat untuk menyingkirkan semua prasangka,
tebakan dan dugaan yang menipu dan karenanya menghalangi kita ntuk sampai pada
pengetahuan yang benar-benar punya dasar yang kuat. Atas dasar ini descrates beranggapan
bahwa hanya akal budi yang dapat membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan manusia,
ada dasar untuk merasa pasti dan yakin akan apa yang diketahui.

2
Akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur
dengan akal. Manusia,menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal
menangkap objek. Dan kesimpulannya adalah segala sesuatu yang masuk akal disebut dengan
rasional.

Dalam uraian diatas kita dapat merumuskan beberapa hal penting mengenai rasionalisme,
pertama, kaum rasionalis lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika yang
memiliki aksioma-aksioma umum lepas dari pengamatan atau pengalaman pancaindra kita.
Bagi kaum rasionalis matematika dan ilmu ukur adalah model bagi pengetahuan dan
pemahaman manusia. Kedua, Konsekuensinya, kaum rasionalis meremehkan peran
pengalaman dan pengamatan pancaindra bagi pengetahuan. Bagi mereka, pancaindra bisa
menipu kita.
Kata descrates sampai saat ini saya telah menerima sebagai paling benar dan pasti semua
yang saya pelajari entah dai pancaindra atau melalui pancaindra. Maka jauh lebih bijaksana
kalau kita tidak mempercayai sepenuhnya apa yang pernah sekali menipu kita artinya kalau
sekali pancaindra pernah menipu kita, kita tidak boleh percaya begitu saja pada pancaindra
itu dan sebaliknya harus meragukan apa saja yang diungkapnya. Atau sebagaimana dikatakan
Plato yang ditangkap pancaindra hanyalah gejala dunia yang semu yang tidaknyata dan tidak
sempurna.
2. Empirisme
Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi.
Oleh karena itu empirisme dapat dikatakan sebagai faham yang memilih pengalaman sebagai
sumber utama pengenalan. Dan yang dimaksudkan dengan pengalaman adalah baik
pengalaman lahiriyah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniyah yang
menyangkut pribadi manusia.
Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme
mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi
merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa
pengenalan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan
yang paling jelas dan sempurna.Tokoh-tokohnya yaitu Thomas Hobbes, Jhon Locke,
Berkeley, dan yang terpenting adalah David Hume. Berbeda dengan rasionalisme yang
memberikan kedudukan bagi rasio sebagai sumber pengetahuan, maka empirisme memilih

3
pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriyah maupun
pengalaman batiniyah.
Prinsip-prinsip dan metode empirisme pertama kali diterapkan oleh John Locke,
penerapan tersebut terhadap masalah-masalah pengetahuan dan pengenalan, langkah yang
utama adalah Locke berusaha menggabungkan teori emperisme seperti yang telah diajarkan
Bacon dan Hobbes dengan ajaran rasionalisme Descartes. Penggabungan ini justru
menguntungkan empirisme. Ia menentang teori rasionalisme yang mengenai ide-ide dan asas-
asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia, segala pengetahuan
datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Menurutnya akal manusia adalah pasif pada
saat pengetahuan itu didapat. Akal tidak bisa memperolah pengetahuan dari dirinya sendiri.
Akal tidak lain hanyalah seperti kertas putih yang kosong, ia hanyalah menerima segala
sesuatu yang datang dari pengalaman. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi
dan pengetahuan akali, satu-satunya objek pengetahuan adalah ide-ide yang timbul karena
adanya pengalaman lahiriah dan karena pengalaman bathiniyah. Pengalaman lahiriah adalah
berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar kita. Sementara pengalahan bathinyah berkaitan
dengan hal-hal yang ada dalam diri/psikis manusia itu sendiri.
Jika kita memandangnya pandangan tersebut harus kita akui bahwa kaum empirisis,
seperti lokce dan hume, tidak terlalu ekstrem seperti halnya kaum rasionalis karena sementara
kaum rasional melecehkan sama sekali peran pengalaman atau beranggapan bahwa
pengalaman dapat menipu manusia, kaum empirisis sebaliknya memberi tempat yang cukup
pentig bagi akal budi manusia. Hanya saja, menurut kaum empirisis, akal budi bukan satu-
satunya sumber pengetahuan manusia akal budi memang punya peran penting, sebagaimana
diakui oleh Locke dan Hume , tapi bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
Ternyata kaum empiris tidak bisa memberikan jawaban yang meyakinkan mengenai
hakikat pengalaman itu sendiri. Sedangkan mengenai kekurangan pancaindera manusia ini
bukan merupakan sesuatu yang baru bagi kita. Pancaindera manusia sangat terbatas
kemampuannya dan terlebih penting lagi pancaindera manusia bisa melakukan kesalahan.
Pengetahuan apriori dan pengetahuan aposteriori
Rasio adalah sumber pengetahuan dari analisis pikiran rasionalisme atau gerakan
rasionalis. Rasionalisme sendiri adalah sebuah faham atau aliran atau ajaran atau doktrin

4
dalam filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian.
Sedangkan empirisme sendiri adalah suatu faham atau aliran dalam filsafat yang menyatakan
bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian dari pengalaman dan panca
inderamanusia.
Ilmu pengetahuan, tentu saja mendasarkan diri pada fakta-fakta empiris. Namun, ilmu
pengetahuan pun mengakui adanya pengetahuan a priori. A priori merupakan pengetahuan
yang tidak diperoleh dari pengalaman, melainkan dari rasio atau akal. Menurut immanuel
kant, analitik apriori bukan ilmu, dan sintetik aposteriori juga bukan merupakan ilmu. Mereka
hanya merupakan separuh ilmu, agar menjadi ilmu yang utuh maka analitik apriori
diturunkan sedikit, sedangkan sintesis a posteriori dinaikkan, sehingga ilmu yang utuh itu
adalah sintesis apriori. Sintesis apriori menurut kant pengetahuan harus permanen dan
sifatnya universal. Ia permanen tetapi tidak memberikan pengetahuan baru. Pengetahuan
adalah yang diambil dari pengalaman pribadi yang partikular tapi saat yang sama bentuknya
harus bisa di universalkan.

Ada yang sifatnya berubah berawal dari sesuatu yang real. Sehingga muncul aliran
realisme. Ada yang sifatnya berubah berawal dari pengalaman, pengetahuan merupakan
sesuau hasil dari pengalaman seseorang. Sehingga ada yang berubah ini, dari realisme
berkembang aliran empirisme. Ada yang berubah ini sifatnya sintetik aposteriori, sintetik
berkaitan dengan memberikan informasi baru, subjek dan predikat adalah dua hal yang
berbeda, dua hal yang berbeda tetapi ia bukanlah pengetahuan karena bersifat partikular. A
posteriori setelah pengalaman , ia adalah pengalaman indera dan bersifat partikular.