Anda di halaman 1dari 27

By : NOVINDRA

STAF PENGAJAR
DEPARTEMEN ESL IPB
SHADOW PRICE
(Harga Bayangan atau Harga
Sosial)
Pendahuluan
Meliputi bermacam-macam barang dan jasa,
baik hasil produksi maupun sumber2 untuk keg.
Produksi.
Memerlukan pengukuran serta peramalan data
secara tepat, padahal data itu sendiri umumnya
tidak pasti dan tidak tepat.
Bagi seorang penilai proyek, analisis tersebut
menghabiskan banyak waktu pemborosan
Definisi
Shadow price dari suatu produk atau
faktor produksi merupakan social
opportunity cost nilai tertinggi suatu
produk atau faktor produksi dalam
penggunaan alternatif terbaik.
Output dibagi barang atau jasa
tradeable dan nontradeable, dimana
digunakan suatu kombinasi input baik
tradeable maupun nontradeable

Tradeable output dinilai berdasarkan
harga paritas (border price), yaitu harga
c.i.f untuk produk yang menjadi sasaran
impor dan harga f.o.b untuk produk yang
dapat diekspor shadow price adalah
modifikasi dari border price tersebut.
Nontradeable output shadow price-nya
berdasarkan interaksi permintaan dan
penawaran di pasar, dikurangi pajak tidak
langsung dan ditambah subsidi.
Harga Sosial untuk Output dan Input
Tradabel
Harga sosial (harga efisiensi) untuk barang-
barang tradabel harga internasional (harga
dunia) untuk barang sejenis (comparable) yang
merupakan ukuran social opportunity cost
terbaik bagi barang-barang tersebut.
Untuk sebuah barang yang diimpor, harga impor
barang tersebut opportunity cost untuk
menghasilkan tambahan satu unit produk untuk
memenuhi permintaan dalam negeri.
Untuk sebuah barang yang diekspor, harga
ekspor barang tersebut opportunity cost satu
unit tambahan produksi domestik untuk
diekspor, bukan untuk konsumsi dalam negeri.
Banyak komoditas di pasar internasional yang
amat dipengaruhi oleh kebijakan harga,
terutama di negara-negara industri (Uni Eropa,
Jepang, dan Amerika Serikat).
Pasar dunia untuk komoditas-komoditas tersebut
dengan sendirinya tidak berjalan secara efisien
dilihat dari sudut alokasi sumberdaya dunia.
Proteksi dan subsidi komoditas pertanian di
negara-negara kaya telah membuat excess
supply dan menekan harga dunia komoditas-
komoditas pada tingkat yang lebih rendah dari
harga yang seharusnya, seandainya tidak ada
kebijakan-kebijakan tersebut.
Meskipun harga dunia tersebut telah terdistorsi
namun tetap merupakan approximasi yang baik
untuk mengukur social opportunity cost, baik
importabel maupun exportabel, bagi negara
berkembang seperti Indonesia.
Bila kebijakan negara lain diduga tidak akan
berubah dalam waktu dekat, maka harga dunia
yang telah terdistorsi inipun tetap dapat
digunakan untuk mengukur opportunity cost
bagi substitusi impor maupun promosi ekspor
Indonesia.
Dalam perspektif ini, efisiensi bagi Indonesia
merupakan sebuah konsep nasional, bukan
global, karena kebijakan perekonomian
Indonesia hanya mempengaruhi pasar domestik
dan tidak mempengaruhi pasar Internasional
pada hampir seluruh komoditas tradabel.
Harga Sosial untuk Output dan Input Tradabel
Harga paritas impor untuk barang-barang
substitusi impor dan harga paritas ekspor untuk
barang-barang yang memasuki pasar ekspor.
Untuk harga paritas impor, biaya transportasi
dan handling di dalam negeri harus ditambahkan
kepada harga impor di tingkat pelabuhan karena
barang impor tersebut harus dibawa ke pasar
pedagang besar terdekat untuk berkompetisi
dengan produk dalam negeri.
Sebaliknya, untuk harga paritas ekspor, biaya
transportasi dan handling domestik harus
dikurangkan dari harga di pelabuhan karena
produk dalam negeri harus dibawa ke pelabuhan
dari pasar pedagang besar terdekat untuk bisa
diekspor.
Contoh perhitungan harga sosial atau
harga paritas impor untuk padi.

Dimulai dengan harga fob (free on board) yaitu
harga ekspor di negara pengekspor (misal, $150
per ton untuk kualitas beras dengan kadar pecah
25 persen di Bangkok, Thailand).
Untuk mendapatkan harga cif (cost, insurance,
freight) atau harga impor di pelabuhan dalam
negeri ditambahkan biaya pengapalan dan asuransi
kepada harga fob tersebut (misal $15 per ton beras
dari Bangkok ke Jakarta).
Harga cif Jakarta tersebut di nilai dalam Rupiah
dengan mengalikannya dengan nilai tukar (misal,
Rp. 9.000/US$).
Seandainya perhitungan selanjutnya akan
dilakukan dengan satuan unit per kilogam maka
konversikan nilai tersebut kedalam Rupiah per
kilogram. Kemudian tambahkan biaya
transportasi dan handling dari pelabukan ke
pasar pedagang besar terdekat.
Karena harga di tingkat petani adalah harga
dalam bentuk yang berbeda yaitu padi, bukan
beras, maka faktor konversi (padi ke beras)
harus digunakan untuk mengkonversikan harga
Rupiah per kilogram beras menjadi harga Rupiah
per kilogram padi (misal 1 kg padi = 0.64 kg
beras).
Faktor koreksi juga harus dimasukkan untuk
biaya penggilingan, susut dan kadar air.
Langkah terakhir dalam menghitung harga
paritas impor padi ini adalah memasukkan biaya
transportasi dari petani ke penggilingan.

F.o.b. Thailand ($/ton)

150.00
Freight & Insurance ($/ton)

20.00
C.i.f. Indonesia ($/ton)

170.00
Nilai tukar (Rp/$) 9.000
Premium Nilai Tukar (%) 0%
Nilai Tukar Keseimbangan (Rp/$)

9.000
C.i.f. Indonesia dalam mata uang domestik (Rp/ton) 1.530.000
Faktor konversi berat (kg/ton) 1000
C.i.f. Indonesia dalam mata uang domestik (Rp/kg)
1530.0
Biaya transportasi dan handling ke pedagang besar (Rp/kg) 133
Harga setelah pengolahan (Rp/kg) 1663.0
Faktor konversi pengolahan (%) 0.64
Ongkos penggilingan, net (bekatul diperhitungkan) Rp/kg) 50
Nilai paritas impor (Rp/kg) 1014.3
Biaya distribusi ke tingkat petani (Rp/kg) 50
Harga paritas di tingkat petani (Rp/kg) 964.3
Harga di pedagang besar
Rp 1.014/kg GKP
1. Harga dikonversi dengan nilai tukar resmi
(9.000 Rp/$)
2. Ton dikonversi ke kg (1 ton = 1.000 kg.)
Harga = Rp 1.530/kg
3. Transportasi dan handling ke pasar
pedagang besar Rp 133/kg.
4. Setelah penerapan faktor konversi (64%)
Rp/kg = 1.014
5. Penggilingan = Rp/kg 50
CIF Jakarta
(US$/ton) $170/ton
FOB Bangkok
(US$/ton)
$150/ton
Harga di tingkat petani
Rp 964/kg
International Freight dan
Insurance =$15
Distribusi ke
tingkat petani
= Rp 50/kg
Gambar 1. Penyesuaian Harga Internasional ke
Harga Tingkat Petani
Harga Sosial Untuk Output Non-tradabel
Perhitungan harga sosial untuk barang
non tradabel berbeda dengan barang
tradabel.
Harga sosial untuk barang non tradabel
diestimasi dengan mengurangkan
divergensi yang terjadi (baik karena
distorsi kebijakan maupun kegagalan
pasar) dari nilai privatnya.
Namun, seringkali efek divergensi, terutama
sebagai akibat kegagalan pasar bahkan juga
distorsi kebijakan, hampir tidak mungkin diukur.
Bila efek divergensi tidak bisa diestimasi, langkah
berikutnya adalah mencari harga barang
substitusinya untuk digunakan sebagai proxy dari
harga sosial barang-barang non tradabel.
Bila langkah ini pun tidak bisa dilakukan maka
langkah terakhir yang mungkin dilakukan adalah
menggunakan harga barang (atau barang
substitusinya) di negara tetangga.
Harga Sosial Untuk Output Non-tradabel
Harga Sosial Untuk Input Non-tradabel
(Faktor Domestik)
Biaya faktor domestik diperlakukan berbeda
dengan input tradabel karena tidak ada harga
internasional untuk faktor domestik, yang
seharusnya digunakan sebagai nilai sosial
opportunity cost nya.
Pemecahan yang mungkin dilakukan dengan
mendekomposisikannya, yaitu dengan membagi
biaya input non tradable (faktor domestik) ke
dalam unsur-unsur tenaga kerja terampil dan
tidak terampil, modal, serta lahan.

Pendekatan Dalam Mengkaji Pasar Faktor
Domestik

Sebagian dari faktor domestik, seperti modal dan tenaga
kerja, memang ada yang bekerja dan mendapat
penghasilan yang bersumber dari luar negeri.
Namun opportunity cost dari faktor domestik tersebut
ditentukan di dalam negeri, bukan di pasar internasional.
Upah, tingkat bunga, dan sewa lahan amat ditentukan
oleh permintaan dan penawaran (atas faktor domestik)
di dalam negeri, bukan oleh opportunity mempekerjakan
faktor-faktor tersebut di luar negeri.
Dengan kata lain, faktor domestik tersebut tidak
sepenuhnya tradabel secara internasional, dan tidak ada
harga internasional yang dapat digunakan sebagai angka
perkiraan yang baik untuk opportunity cost dalam
negeri.
Estimasi Harga Faktor Domestik
Harga sosial (harga efisiensi) untuk faktor domestik (lahan, tenaga
kerja, dan modal) diestimasi dengan menerapkan prinsip social
opportunity cost.
Karena faktor domestik tidak diperdagangkan secara internasional,
dan dengan sendirinya tidak punya harga internasional (harga
dunia), social opportunity cost- nya diestimasi melalui observasi
pasar faktor domestik di pedesaan.
Tujuannya adalah untuk mengetahui berapa besar output dan
pendapatan yang hilang karena faktor tersebut digunakan untuk
memproduksi komoditas yang sedang kita teliti (dalam hal ini beras)
dibandingkan apabila faktor tersebut digunakan untuk memproduksi
komoditas alternatif terbaik lainnya (misalnya, tebu atau kedele).
Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi
seberapa jauh fragmentasi di pasar faktor
domestik telah terjadi dan apa penyebabnya -
alamiah (yang bersifat immutable), kegagalan
pasar (berhubungan dengan ketersediaan
kelembagaan), dan distorsi kebijakan (policy
induced).
Fragmentasi terjadi apabila harga salah satu
faktor domestik berbeda dengan harga faktor
domestik yang sama di seluruh sub-pasar.
Untuk melihat berapa besar fragmentasi yang
terjadi, harus dibandingkan harga untuk faktor
domestik dengan jenis dan kualitas yang sama
diantara pasar-pasar yang berbeda.
Bukti penting yang harus dicari dalam melihat
apakah kegagalan pasar telah terjadi atau tidak,
dilakukan dengan melakukan pengecekan
tingkat kebebasan untuk masuk atau keluar dari
pasar (barriers to entry).
Jika pelaku pasar bisa dengan bebas untuk
masuk atau keluar dari pasar tersebut maka
monopoli atupun monopsoni bukanlah penyebab
terjadinya perbedaan harga faktor tersebut.
Bila kegagalan pasar bukan merupakan
penyebab fragmentasi pasar, maka divergensi
tentulah disebabkan oleh distorsi kebijakan.
Maka berarti kebijakan yang bisa menyebabkan
terjadinya fragmentasi pasar tersebut
Estimasi Tingkat Upah Privat dan Sosial
Tenaga kerja bisa di klasifikasikan kedalam
beberapa kategori, misalnya menurut jenis
kelamin (wanita atau pria), golongan umur
(anak-anak atau dewasa), tingkat keterampilan
(tenaga tidak terampil, setengah terampil,
terampil, atau tingkat menejer).
Isu utamanya adalah untuk melihat apakah
terdapat perbedaan produktivitas antar kategori,
yang bisa menyebabkan tingkat upah yang
berbeda.
Ada dua jenis kegagalan pasar yang bisa
mempengaruhi sub-pasar tenaga kerja pedesaan
di negara berkembang, yaitu monopsoni atau
oligopsoni (dimana satu atau beberapa
pengguna tenaga kerja (perusahaan) berkolusi
untuk menekan upah) dan kekuatan serikat
buruh (ketika kelompok serikat buruh
memberikan tekanan yang menyebabkan
naiknya upah).
Apabila buruh mudah untuk masuk dan keluar
dari pasar tenaga kerja pada masing-masing
sub-pasar, maka hal itu merupakan bukti tidak
efektifnya kekuatan yang mempengaruhi pasar,
baik yang dimiliki oleh perusahaan maupun
serikat buruh pasar efisien
Dua jenis distorsi kebijakan yang bisa
mempengaruhi sub-pasar tenaga kerja pedesaan
di negara berkembang adalah peraturan upah
minimum serta tunjangan (pajak) pensiun dan
kesehatan (dimana pemerintah mengharuskan
perusahaan atau pengguna tenaga kerja untuk
berkontribusi dan program kesehatan dan
pensiun yang dengan sendirinya akan
meningkatkan biaya upah buruh).
Kebijakan semacam ini berkembang baik di
negara berkembang maupun negara maju,
namun umumnya tidak bisa diterapkan di pasar
tenaga kerja pertanian kecuali di perkebunan
besar dan pabrik pengolahan hasil pertanian.
Estimasi Harga Sewa Lahan Sosial
Lahan merupakan faktor produksi atau aset tak bergerak
(fixed factor) dalam proses produksi pertanian. Berbeda
dengan tenaga kerja dan modal yang bersifat bergerak
(mobile) dan bisa berpindah kepada aktivitas lainnya, lahan
bersifat tetap atau tak bergerak (immobile).
Kecuali lahan tersebut terletak di dekat pusat kota, menjadi
pusat perumahan atau perindustrian, opportunity cost dari
lahan yang ditanami satu komoditas (atau satu pola tanam)
adalah pendapatan yang diperoleh dari komoditas altertatif
terbaiknya.
Petani akan menggunakan lahannya untuk suatu komoditas
sesuai dengan keuntungan yang akan diperoleh dari
berbagai komoditas (termasuk kebutuhan pangan rumah
tangga dan resiko yang harus ditanggung). Nilai lahan di
pasar lahan (baik jual lepas maupun sewa-menyewa)
tergantung kepada tingkat produktivitas lahan tersebut,
dan dengan sendirinya juga tingkat keuntungan yang akan
diperoleh petani pembeli atau penyewa lahan tersebut.
Penentuan harga sosial dari lahan mengikuti
prinsip-prinsip social opportunity cost. Dilihat
dari sudut pandang perekonomian nasional, nilai
sosial dari sewa lahan adalah sama dengan
keuntungan sosial (H) lahan yang diperoleh dari
komoditas alternatif terbaik sebelum dikurangi
nilai sewa lahan.
Sebagai contoh, biaya sosial penggunaan lahan
untuk menanam padi pada suatu musim adalah
sama dengan keuntungan sosial yang hilang
karena tidak menanami lahan tersebut dengan
komoditas yang akan memberikan keuntungan
terbaik setelah padi (misalnya, tebu atau
kedele).
Estimasi Tingkat Bunga Privat
dan Sosial
Modal :
1. Modal investasi
2. Modal kerja

Sumber modal bagi petani :
1. Tabungan keluarga OCnya bunga tabungan
2. Lembaga perkreditan formal
3. Pemilik kios/toko/warung serta pedagang yang menjual
pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya seringkali
merupakan sumber kredit yang amat penting bagi petani
meskipun dengan tingkat bunga yang cukup tinggi
4. Pelepas uang (rentenir) yang umumnya merupakan sumber
kredit dengan tingkat bunga tertinggi
Karena kompleksitas dari kemungkinan terjadinya kegagalan
pasar dan distorsi kebijakan yang mempengaruhi pasar kredit
keuangan, hampir-hampir tidak mungkin mengukur tingkat
divergensinya.

Pada prinsipnya, pendapatan sosial untuk modal (social return to
capital) adalah pendapatan atas investasi publik atau privat yang
akan dilakukan seandainya ada dana untuk melakukan investasi
tersebut.

Pada prakteknya, untuk mengestimasi tingkat bunga sosial
modal kerja dan modal investasi, digunakan cara yang bersifat
kira kira (arbitrary rule of thumb) pengalaman dari negara
berkembang atau negara maju lainnya pada saat negara-negara
tersebut berada pada tingkat pembangunan yang sama dengan
negara yang sedang menjadi fokus penelitian.