Anda di halaman 1dari 7

SPESIALIS PONDASI BORED PILE

Seiring perkembangan jaman, pembangunan di Indonesia telah menyebar, tidak hanya terpusat di kota-
kota besar saja, tapi telah merambah ke daerah-daerah, di seluruh pelosok tanah air.

Dalam pembangunan tersebut banyak bangunan besar seperti gedung, jembatan, menara dan
bangunan lain didirikan. Untuk menahan beban bangunan yang berat tersebut tentunya diperlukan
pondasi yang kokoh.

Apabila kondisi tanah di permukaan tidak mampu menahan bangunan tersebut, maka beban bangunan
harus diteruskan ke lapisan tanah keras di bawahnya. Untuk itu sering dipakai konstruksi pondasi dalam
berupa tiang pancang atau bored pile.

Pondasi tiang pancang sering dipakai pada lahan yang masih luas dan kosong, dimana getaran yang
ditimbulkan pada saat aktifitas pemancangan berlangsung tidak mengganggu lingkungan sekitarnya,
Namun jika bangunan tersebut didirikan di lokasi yang telah padat penduduknya, maka getaran yang
ditimbulkan akan menimbulkan masalah karena sangat mengganggu dan dapat merusak bangunan di
sekitarnya. Dalam hal ini pemakaian pondasi bored pile merupakan pilihan pondasi yang tepat.

Pada proyek besar dimana sarana transportasinya mendukung, dalam pembuatan bored pile sering
digunakan alat berat berupa crane. Namun untuk proyek kecil apalagi jika sarana transportasinya kurang
mendukung, penggunaan crane sering mengalami kesulitan karena untuk mobilisasinya dibutuhkan
pendanaan yang cukup besar, sehingga biaya proyek menjadi tidak ekonomis lagi.

MESIN BORED PILE
keunggulan sebagai berikut :

Ringkas dan praktis sehingga mudah dan murah dalam mobilisasinya.
Mudah dioperasionalkan pada medan-medan yang sulit seperti :
- Daerah rawa-rawa
- Di atas sungai dan laut.
- Daerah yang berbukit atau pegunungan.
Tidak menimbulkan getaran. Hal ini sangat penting, terutama untuk pembuatan pondasi di daerah
perkotaan yang bangunannya cukup rapat dan tidak memungkinkan dipakainya tiang pancang.

Kemampuan mesin ini secara umum adalah sebagai berikut :

Dapat melakukan pengeboran mulai dari diameter 30 cm sampai dengan 100 cm
Kedalam pengeboran dapat mencapai 30 meter atau bahkan lebih ( sesuai kondisi tanah dan kedalaman
tanah keras di daerah tersebut) .
Dapat dioperasionalkan dengan dua cara, baik sistem wash boring maupun dry drilling tergantung
kedalaman air tanah di daerah tersebut. Kedalaman pengeboran dapat mencapai 30 meter atau bahkan
lebih ( sesuai kondisi tanah dan kedalaman tanah keras di daerah tersebut) .
Kapasitas pengeboran per unit mesin bor, jam kerja normal ( 8 jam kerja) dapat menyelesaikan
pekerjaan pengeboran dan pengecoran dalam ukuran volume beton sebanyak 2-5 M3 dengan sistem
wash boring dan 1-3 M3 dengan sistem dry drilling.
Kecepatan pelaksanaan pekerjaan tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
- Kondisi lapisan tanah setempat
- Lokasi kerja
- Kelancaran pasokan material
- Cuaca dll.

SPESIFIKASI TEKNIS ALAT BOR :
a. Rangka Mesin

Rangka mesin ini mempunyai lebar 1, 20 meter dengan panjang 3, 00 meter terbuat dari besi kanal UNP
yang berfungsi sebagai dudukan winch dan diesel penggerak.
Menara bor yang ditempatkan pada ujung rangka, terbuat dari pipa besi galvanis ber-diameter 3-4 inch
dengan ketebalan medium SII, berfungsi sebagai line / pengarah gear box terutama untuk pelurus
vertikal pada saat pengeboran. Panjang menara bor ini bervariasi antara 6 sampai 9 meter tergantung
kondisi lapangan. Kadang menara bor dipotong pendek apabila harus dioperasikan di dalam ruangan
yang tingginya terbatas. Menara bor ini berfungsi juga sebagai penahan kerangka tulangan bored pile
saat akan dimasukkan ke lubang bor. Kerangka tulangan bored pile yang dapat ditarik panjang
maksimumnya 12 meter.

b. Penggerak Bor

Rotasi pengeboran digerakkan oleh elektromotor kapasitas 7, 50 HP dengan kecepatan rotasi 1.500 rpm.
Rotasi ini diperlambat dengan speed reducer dengan ratio 1 : 40 sehingga diperoleh out put 90 kgm
pada 37, 50 rpm.
Sumber listrik penggerak elektro diperoleh dari pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas 10 sampai
dengan 15 KVA.

c. Pipa Bor / Rod

Pipa / Rod bor terbuat dari pipa besi galvanis / baja diameter 2, 50 dengan ketebalan medium SII, yang
mempunyai kekuatan moment torsi > 90 kgm.

d. Mata bor

Jenis mata bor yang dipakai disesuaikan dengan kondisi tanah yang dibor. Ada 2 jenis mata bor yang
sering dipakai, antara lain :
Cross bit
Digunakan pada pengeboran dengan sistem wash boring, disini air berfungsi sebagai media pengangkut
/ pendorong tanah hasil pengeboran.
Bor Spiral
Digunakan pada saat pengeboran dengan sistem dry drilling

e. Katrol / Diesel Winch

Diesel winch yang dipakai, dilengkapi dengan tambang baja ( wire rope) yang mempunyai kekuatan
angkat 2 ton dengan kecepatan 8 meter / per menit.

f. Pompa

Pompa hanya digunakan pada sistem wash boring. Dalam hal ini sering dipakai pompa sentrifugal yang
berdiameter isap 33 dan mempunyai tekanan 1, 1 kg/ cm2 yang dihubungkan ke stang bor
menggunakan selang tekan berdiameter 23.

g. Corong Cor

Corong cor digunakan sebagai penampung adukan beton yang akan dimasukkan ke dalam pipa tremi.
Corong cor ini terbuat dari plat besi tebal 3 mm dan ber diameter 60 cm. Penyambungan corong cor
dengan pipa tremie memakai sistem drat.

h. Pipa Tremi

Pipa tremi sebagai penghantar adukan beton terbuat dari pipa galvanis berdiameter 6 dengan
ketebalan medium SII, panjang setiap pipa 2 meter yang disambung dengan sistem drat

i. Alat Bantu

Alat bantu yang sering diperlukan dalam pekerjaan pengeboran antara lain :
- Kunci pipa dan kunci rantai
- Kunci pas dan kunci inggris
- Cangkul, linggis, ember
- Travo las, gerinda potong
- Gegep dll.

j. Roller / Perakit Baja Tulangan :

Roller adalah alat untuk menggulung tulangan spiral jarak / sengkang spiral. Biasanya yang digunakan
untuk spiral adalah tulangan polos karena baja tulangan ini memiliki sifat elastis. Diameter roller dibuat
lebih kecil dari diameter bored pile sehingga didapat selimut / penutup beton yang tebalnya sekitar 5 7,
5 cm. Untuk pemotongan dan pembengkok baja tulangan biasa digunakan mesin potong atau gunting
tulangan konvensional. Untuk mengikat baja tulangan digunakan kawat beton dengan memakai alat
gegep atau tang

MATERIAL BORED PILE :

Material bored pile terdiri dari :

a. Beton :

Cement Portland type 1.
Aggregate kasar dari batu pecah / crushed stone ukuran 1 - 2 cm dan 2 - 3 cm.
Aggregate halus / pasir ukuran 0, 1 - 4 mm dan bergradasi baik.

Pencampurannya diaduk memakai mixer dengan perbandingan volume 1 : 2 : 3 atau disesuaikan dengan
hasil trial mix dari laboratorium.
Catatan : Apabila memungkinkan disarankan memakai beton readymix .

b. Baja Tulangan :

Untuk tulangan pokok biasanya digunakan besi ulir BJTD 30 - 40
Untuk spiral / sengkang biasanya digunakan besi polos BJTD 24 atau tergantung kebutuhan struktur
bangunan diatasnya.

c. Air :

Air yang digunakan adalah air bersih sesuai ketentuan Peraturan Beton Indonesia .

ALAT PENGADUK BETON :

Untuk beton digunakan beton ready mix atau beton site mix. Pengadukan beton, site mix menggunakan
mixer beton kapasitas minimal 0, 125 M3 sekali aduk yang digerakkan dengan mesin diesel /
elektromotor.
Alat takar campuran beton dibuat dari kotak kayu / besi plat dengan volume sesuai kebutuhan untuk
campuran 1 zak semen.
Adukan dari mixer beton dituangkan kedalam bak penampung beton yang terbuat dari papan yang
kedap air dengan ukuran 1 x 2 x 0, 30 cm. Dari bak penampung beton ini, adukan beton diisikan ke
corong tremi dengan menggunakan sekop / ember cor.

PROSEDUR :
Prosedur pelaksanaan pekerjaan bored pile secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pekerjaan Persiapan :

Persiapan lahan untuk merakit dan mendirikan mesin bor pada titik yang akan di bor
Pembuatan sumur air bila di dekat lokasi tersebut tidak terdapat air ( untuk pengeboran dengan sistem
wash boring) .
Pengadaan bak sirkulasi ( untuk pengeboran dengan sistem wash boring) .
Pengadaan material
Perakitan baja tulangan.

2. Pengeboran :

Pengeboran dengan sistem dry drilling : tanah dibor dengan menggunakan mata bor spiral dan diangkat
setiap interval kedalaman 0, 5 meter. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai kedalaman yang
ditentukan.
Pengeboran dengan sistem wash boring : tanah dikikis dengan menggunakan mata bor cross bit yang
mempunyai kecepatan putar 375 rpm dan tekanan + / - 200 kg. Pengikisan tanah dibantu dengan tiupan
air lewat lubang stang bor yang dihasilkan pompa sentrifugal 33. Hal ini menyebabkan tanah yang
terkikis terdorong keluar dari lubang bor.

Setelah mencapai kedalaman rencana, pengeboran dihentikan, sementara mata bor dibiarkan berputar
tetapi beban penekanan dihentikan dan air sirkulasi tetap berlangsung terus sampai cutting atau
serpihan tanah betul-betul terangkat seluruhnya. Selama pembersihan ini berlangsung, baja tulangan
dan pipa tremi sudah disiapkan di dekat lubang bor.

Setelah cukup bersih, stang bor diangkat dari lubang bor. Dengan bersihnya lubang bor diharapkan hasil
pengecoran akan baik hasilnya.

3. Pemasangan kerangka Baja Tulangan dan Pipa Tremie.

Kerangka baja tulangan yang telah dirakit diangkat dengan bantuan diesel winch dalam posisi tegak
lurus terhadap lubang bor dan diturunkan dengan hati-hati agar tidak terjadi banyak singgungan dengan
lubang bor.
Baja tulangan yang telah dimasukan dalam lubang bor ditahan dengan potongan tulangan melintang
lubang bor. Apabila kebutuhan baja tulangan lebih dari 12 meter bisa dilakukan penyambungan dengan
diikat kawat beton dengan panjang overlap 30 - 40 D atau dengan cara las.
Setelah rangka baja tulangan terpasang, pipa tremi disambung dan dimasukkan kedalam lubang dengan
panjang sesuai kedalaman lubang bor.
Apabila pada waktu pemasangan baja tulangan terjadi singgungan dan terjadi keruntuhan di dalam
lubang bor, maka diperlukan pembersihan ulang dengan memasang head kombinasi diameter 63 ke
diameter 23. Dengan memompakan air kedalam stang bor dan pipa tremi, maka runtuhan-runtuhan dan
tanah yang menempel pada besi tulangan dapat dibersihkan kembali.
Pada saat pembersihan dilakukan, pengadukan beton bisa mulai dilakukan.

4. Pekerjaan Pengecoran :

Setelah pembersihan lubang bagian akhir selesai, head kombinasi dibuka dan diganti corong cor yang
disambung dengan pipa tremi.

Pengecoran awal :

Pengecoran adalah bagian akhir dari pekerjaan bored pile dimana langkah pengecoran awal adalah
bagian terpenting dari pekerjaan ini.

Prosedur pengecoran yang biasa dilaksanakan pada pekerjaan bored pile adalah sebagai berikut :

Untuk memisahkan adukan beton dari lumpur bor pada pengecoran awal, digunakan kantong plastik
yang telah diisi adukan beton dan diikat dengan kawat beton yang digantung di bagian dalam lubang
tremi.
Setelah tenaga cor siap, beton ditampung di dalam corong cor dan ditahan oleh bola-bola beton pada
kantong plastik. Setelah cukup penuh, bola kantong plastik dilepas sehingga terdorong beton yang ada
di dalam lubang tremi. Selanjutnya penuangan beton dilakukan dengan cepat sehingga cukup untuk
mendorong air lumpur bor yang ada di dalam lubang tremi. Slump adukan beton untuk bored pile tidak
boleh terlalu rendah ( minimal 16 cm) sehingga mudah mengalir dan mendorong lumpur yang ada di
dalam lubang bor.
Pengecoran selanjutnya dilakukan secara kontinyu dan tidak terputus lebih dari 10 menit. Dengan
sistem tremi ini pengecoran dimulai dari dasar lubang dengan mendorong air / lumpur dari bawah
keluar lubang.
Setelah pipa tremi penuh dan ujung pipa tremie tertanam beton biasanya beton tidak dapat mengalir
karena ada tekanan dari bawah. Untuk memperlancar adukan beton didalam pipa tremi, dilakukan
hentakan hentakan pada pipa tremi. Pipa tremi harus selalu terbenam dalam adukan beton dan
pengisian di dalam corong harus dijaga terus menerus agar corong tidak kosong.
Pipa tremi dilepas setiap 2 meter dan dilakukan setelah pipa tremi naik ke permukaan lubang lebih dari
2 meter.
Pengecoran dihentikan setelah adukan beton yang naik ke permukaan telah bersih dari lumpur. Bila
pengecoran dihentikan di bawah permukaan tanah ( karena perhitungan adanya galian tanah) , maka
tinggi pengecoran minimal harus 0, 5 meter di atas level rencana bagian atas bored pile ( sampai beton
pada rencana bagian atas tidak tercampur Lumpur lagi) .
Pembersihan dan pemasangan kembali.

Setelah pekerjaan pengecoran selesai, semua peralatan dibersihkan dari sisa beton dan lumpur dan
disiapkan kembali untuk dipakai pada titik bor berikutnya.

TESTING MATERIAL :

Semua material yang digunakan seperti : semen, air, aggregat kasar, agregat halus dan besi beton dapat
ditest di laboratorium untuk memeriksa kualitasnya.
Slump test : pengujian slump biasa dilakukan untuk mengetahui workability adukan beton yang ada.
Pengujian kubus : test kubus dengan compressive strength test biasanya dilakukan pada umur beton 7
hari, 14 hari dan 28 hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mutu beton yang dihasilkan.

LOADING TEST DAN PILE DRIVING ANALYSIS :

Untuk mengetahui daya dukung bored pile biasa dilaksanakan test beban secara langsung ( Loading
Test) dengan beban minimal 2 kali beban rencana atau test beban secara simulasi ( Pile Driving Analysis)
dilakukan untuk mengetahui daya dukung sesungguhnya dari tiang yang di test.

PERSONIL :

Pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan bored pile harus dilakukan oleh tenaga kerja yang ahli dan
berpengalaman dalam bidang bored pile.