Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Gelombang

Nama Mahasiswa : Eko Nita Yulia Rahmawati


NIM : 4201412035
Nomor Kelompok : 2
Jurusan : Fisika
Progam Studi : Pendidikan Fisika
Semester : IV




Nama Dosen : Bp. Sarwi
Kawan Kerja : 1. Jotti Karunawan (4201412037)
2. Fayeza Camalia (4201412076)


Laboratorium Fisika
Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Negeri Semarang
Gd. D9 Jln, Raya Sekaran Gunungpati
Semarang 50229, Telp. (024) 7499386
Sistematika : Judul, Tujuan, Landasan Teori, Alat dan Bahan, Langkah-Langkah
Percobaan, Data Pengamatan, Analisis Data, Pembahasan,
Kesimpulan, Daftar Pustaka, Lampiran.

RESONANSI
TABUNG RESONANSI
A. TUJUAN
1. Memahami gejala resonansi.
2. Menentukan cepat rambat bunyi di udara.
B. LANDASAN TEORI
1. Resonansi
Dua buah gelombang yang merambat dalam medium dapat dipandang sebagai
resultan dari penjumlahan kedua gelombang tersebut (superposisi gelombang).
Hasil dari superposisi ini menimbulkan berbagai fenomena yang menarik, seperti
adanya gelombang diam, pelayangan, interferensi, difraksi dan resonansi.
Superposisi dari suatu gelombang datang dengan gelombang pantulnya dapat
menghasilkan suatu gelombang yang dikenal dengan gelombang diam/stasioner.
Jika gelombang tersebut datang secara terus menerus maka superposisi antara
gelombang datang dan pantulan akan terus menerus terjadi dan akhirnya terjadi
resonansi. Resonansi umumnya terjadi jika gelombang mempunyai frekuensi
yang sama atau mendekati frekuensi alamiah sehingga terjadi amplitudo
maksimum. Resonansi sering juga diartikan dengan ikut bergetarnya molekul
udara dalam kolom udara akibat getaran benda lain apabila frekuensi dari benda
tersebut sama.
Di dalam tabung resonansi terjadi gelombang longitudinal diam (stasioner),
dengan sasarannya yaitu permukaan air sebagai simpul gelombang dan untuk
mulut tabung sebagai perut gelombang. Sebenarnya letak perut berada di sedikit
di atas tabung. Jaraknya kira-kira 0,3 kali diameter tabung. Resonansi terjadi jika
frekuensi nada dasar atau nada atas dari kolom udara sama dengan frekuensi
sumber bunyi.
Bila resonansi terjadi pada nada dasar, maka terdapat satu simpul dan satu
perut pada saat itu berarti berlaku :

.(1.1)

kolom udara


Dengan
l
1
: panjang kolom udara di dalam tabung minimum ketika terjadi resonansi
untuk yang pertama kali
: panjang gelombang bunyi di udara.
Bila yang beresonansi adalah nada atas pertama maka akan terdapat dua simpul
dan dua perut, maka berlaku :

.(1.2)

l
2
: panjang kolom udara yang kedua setelah panjang minimum saat terjadi
resonansi, atau panjang kolom udara ketika terjadi resonansi untuk kedua kalinya.
Selanjutnya untuk untuk nada dasar yang ke-n, terdapat n simpul dan juga n
perut, akan memberikan panjang kolom udara l
n
dengan (n = 1,2,3,) akan
memenuhi persamaan :

................................................................................................. .(1.3)
dimana n=1,2,3,...
Dengan demikian rata-rata dapat dihitung jika setiap terjadi resonansi panjang
kolom udara diukur. Jika cepat rambat bunyi di udara adalah v sedangkan
frekuensi garpu tala f dan panjang akan berlaku hubungan :
v = f ............................................................................................................ (1.4)
kombinasi antara persamaan (1.3) dan (1.4) akan memberikan hubungan :

................................................................................................ (1.5)
dimana n = 1,2,3, adalah orde resonansi
Cepat rambat bunyi pada percoban ini adalah cepat rambat bunyi ketika
suhunya tC atau T Kelvin yaitu suhu pada saat percobaan. Karena cepat rambat
bunyi di udara berbanding lurus dengan akar suhu mutlaknya, maka cepat rambat
bunyi pada suhu 0C atau 273 K (v
o
) dapat dicari dari hubungan

......................................................................................... (1.6)
Cepat rambat bunyi pada suhu kamar atau 27 C dapat dihitung dengan mengacu
ke vo.

2. Osiloskop
Osiloskop adalah sebuah alat untuk menampilkan tingkah laku dari besaran
listrik yang berubah-rubah terhadap waktu yang hendak dianalisa. Osiloskop
sering disebut juga CRO (Catoda Ray Oscilloscope) karena komponen utama
didalamnya adalah tabung sinar katoda untuk visualisasi dari gejala listrik yang
diukur. Tabung sinar katoda tersebut terdiri atas: tabung vakum, senapan
elektron, lensa fokus, keping pembelok, layer pendar. Selain itu juga dilengkapi
dengan seperangkat peralatan elektronik antara lain: penguat, tegangan, unit
sumber tegangan tinggi, switch pemutus/ pengatur.
Dalam analisa terhadap perilaku suatu rangkaian, osiloskop ini dilengkapi
dengan generator isyarat. Alat ini memiliki spesifikasi yaitu: jenis tegangan AC,
frekuensi dapat divariasi, variasi deatenuasi (pelemahan) sinyal, dan dapat
menampilkan bentuk gelombang persegi, kotak, maupun gergaji. Untuk
mengoperasikan osiloskop harus mengetahui panel-panel yang ada pada
osiloskop antara lain :
a. Power
Digunakan untuk menghidupkan dan mematikan osiloskop dengan memutus
sumber catu dayanya.
b. Time/ div
Tombol ini berfungsi menentukan besar waktu setiap skala horizontal dari
gambar yang ditampilkan di layer. Sehingga jika dilakukan pengubahan skala
ini, maka yang berubah hanya panjang gelombangnya, sedangkan
amplitudonya tetap.
c. Volt/ div
Berfungsi untuk menentukan besar tegangan setiap skala vertical.
d. Mode Switch
Digunakan untuk memilih masukan pada osiloskop antara lain
CH1 : masukan adalah chanel 1
CH2 : masukan adalah chanel 2
ADD : masukan adalah penjumlahan CH1 dan CH2
DUAL :kedua masukan ditampilkan bersama
e. AC-GND-DC
Switch ini untuk memilih jenis sinyal yang diukur AC atau DC. Sedangkan
GND adalah membawa masukan keawal (nol).
f. Position
Knop ini berfungsi untuk menggeser-geser posisi gambar kearah sumbu x
g. Position
Knop ini berfungsi untuk menggeser-geser posisi gambar kearah sumbu y
h. Inten
Knop ini berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya atau tebal tipisnya
gelombang yang terbentuk pada layar
i. Focus
Berfungsi untuk memfokus kan gambar
j. Cal 2Vpp
Merupakan fasilitas untuk melakukan kalibrasi. Jika input dihubungkan ke
panel ini harus menghasilkan tegangan 2 volt dari puncak kepuncak jika tidak
sesuai harus dilakukan kalibrasi CRO sampai bisa digunakan.
k. Trace rotation
Lubang ini digunakan untuk membenarkan posisi gambar jika miring dengan
mengunakan obeng.

3. Audio Frequency Generator (AFG)
Function Generator adalah instrument ukur elektronik untuk menghasilkan
berbagai jenis bentuk gelombang sinyal dengan frequensi tertentu.. Panel-panel
generator isyarat :Bagian-bagian dari generator isyarat antara lain:
a. Power
Saklar untuk menghidupkan dan mematikan generator.
b. Wave form
Berfungsi sebagai switch pemilih bentuk gelombang (kotak, segitiga,
sinusoidal).
c. Variator frekuensi
Knop yang berfungsi untuk memilih frekuensi keluaran sesuai skala yang
ditunjukkan.
d. Frequency range
Switch yang berfungsi sebagai pelipat frekuensi dari skala yang ditunjukkan
oleh variator frequency.
e. Attenuator (dB)
Knop ini berfungsi untuk memperlemah sinyal yang dikeluarkan oleh
generator pada skala dB.
f. Amplitudo
Berfungsi untuk mengatur tegangan keluaran dari generator isyarat.

C. ALAT DAN BAHAN
1. Tabung resonansi elektrik
2. Osiloskop
3. Audio Frekuensi Generator (AFG)
4. Mikrofon
5. Sound level meter

D. RANGKAIAN ALAT DAN PROSEDUR KERJA
1. Kalibrasi Osiloskop
a. Menghubungkan steker osiloskop dengan stop kontak untuk menghidupkan
osiloskop.
b. Masukkan probe 1 pada chanel 1.
c. Meletakkan ujung dari probe (pengait) dari CH
1
ke CALD yang berada di
bawah layar osiloskop.
d. Mengubah Tombol source dan mode ke CH1.
e. Mengkalibrasi tegangan dengan memastikan skala v/d kurang dari sama
dengan vcall, cek besar hcall = (vcall)/(skala v/d).
f. Mengkalibrasi periode. Apabila bentuk gelombang belum sesuai maka
putarlah tombol varr hingga memperoleh gelombang yang sesuai.
g. Melakukan hal yang sama untuk kalibrasi pada CH
2
, namun ganti source dan
mode pada CH
2.

h. Setelah pengkalibrasian tersebut, maka tombol VAR pada CH1, CH2 dan
trigger tidak boleh diubah-ubah
2. Resonansi
a. Merangkai tabung resonansi elektrik, AFG, dan osiloskop seperti skema
gambar di bawah ini.




b. Menghidupkan pembangkit frekuensi audio (AFG), osiloskop dan penguat pada
tabung resonansi elektrik.
c. Mengatur frekuensi pada AFG pada 600hz.
d. Menggerakan piston dan mikrofon secara perlahan menjauhi sumber bunyi
untuk mengatur panjang tabung resonansi. Menggerakan piston dan mikrofon
sampai terjadi resonansi pada tabung. Pada saat menggerakan piston dan
mikrofon, pada layar osiloskop dapat diamati perubahan amplitude jejak sinyal.
Pada jarak tertentu amplitude yang teramati minimum, posisi tersebut adalah
simpul untuk gelombang simpangan. Dan pada posisi lainnya yaitu amplitude
jejak maksimum, posisi tersebut adalah perut untuk gelombang simpangan .
jika jejak sinyal pada osiloskop terlalu rendah atau tinggi, ubahlah skala
penguat pada osiloskop.
e. Ketika intensitas bunyi tedengar keras, gelombang berdiri terjadi di dalam
tabung. Jangan mengubah frekuensi dan posisi piston. Menggerakan mikrofon
untuk mencari letak posisi perut dan simpul.
f. Mengukur letak posisi simpul dan perut dari ujung tabung dan mencatat hasil
pengukuran pada table. Panjang yang diukur dalam satuan meter.
E. DATA PENGAMATAN
Suhu Ruangan = 28
o
C = 301 K
No Frekuensi (Hz) l
1
(cm) l
2
(cm)
1 1500 13,6 25,8
2 1600 6,2 17,2
3 1700 9 19
4 1800 2,2 11,4
5 1900 4,8 13,9
6 2000 7,3 16,4

F. ANALISIS DATA

1. Mencari cepat rambat bunyi di dara
Besarnya cepat rambat bunyi di tabung resonansi dapat ditentukan dengan
rumus :

atau secara umum dapat dituliskan


persamaan-persamaan yang digunakan dalam ralat pengamatan

=



a. Untuk frekuensi 1500 Hz




b. Untuk frekuensi 1600 Hz



c. Untuk frekuensi 1700 Hz



d. Untuk frekuensi 1800 Hz


e. Untuk frekuensi 1900 Hz


f. Untuk frekuensi 2000 Hz

= 349,8

Ralat Pengamatan
a. Menghitung nilai
Tabel Untuk Mencari Setandar Deviasi

No Frekuensi (Hz) l
1
(cm) l
2
(cm)




1 1500 13,6 25,8 366 16,2 262,44
2 1600 6,2 17,2 352 2,2 4,84
3 1700 9 19 340 -9,8 96,04
4 1800 2,2 11,4 331,2 -18,6 345,96
5 1900 4,8 13,9 345,8 -4 16
6 2000 7,3 16,4 364 14,2 201,64
(

93,933

= 1,93 m/s



K








H.Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk memahami gejala resonansi yang terjadi pada
kolom udara di dalam tabung resonansi, sehingga dapat menetukan cepat rambat
gelombang bunyi di udara.
Alat yang digunakan adalah seperangkat tabung resonansi terdiri dari, tabung
berskala, piston, tongkat microphone, dan amplifier. Amplifier dihubungkan dengan
AFG sebagai sumber frekuensi bunyi, pada sambungan tersebut dihubungkan pula
dengan Osilator chanel 1 untuk mengetahui bentuk gelombang masukannya. Tongkat
piston dihubungkan dengan sound level meter, kemudian dengan osilator chanel 2,
sound level meter berfungsi untuk mengetahui penyimpangan gelombang resonansi,
sedangkan osilator chanel 2 memberikan visualisasinya.
Ketika alat sudah terangkai dengan benar dan aktif, AFG membangkitkan
frekuensi dan masuk ke mulut tabung, pada percobaan ini disetting salah satu ujung
tabung terbuka. Sumber frekuensi yang masuk pada tabung suatu ketika akan
menggetarkan partikel udara dengan frekkuensi yang sama, disaat inilah terjadi
resonansi. Gejala ini ditandai dengan bunyi yang terdengar paling nyaring,
penyimpangan terjauh pada jarum soundlevel meter, dan amplitudo paling besar pada
osiloskop chanel 2.
Pada percobaan ini , dicari posisi perut dan simpul untuk menentukan cepat rambat
gelombang bunyi di udara. Letak perut pertama ditentukan saat pertama kali terdengar
bunyi palinh nyaring, penyimpangan slm terbesar, dan amplitudo gelombang tertinggi
pada osiloskop chanel 2. Keadaan ini ditemukan dekat di mulut tabung, hal ini sesuai
dengan teori dimana pada ujung tebuka yang terbentuk adalah perut. Selanjutnya dicari
posisi simpul pertama, dengan suara paling lirih, soundlevelmeter tdak menyimpang dan
gambar diosiloskop menunjukan amplitudo paling kecil. Dicari pula letak perut kedua dan
simpul kedua. Praktikan melakukan variasi nilai frekuensi 1500 Hz, 1600 Hz, 1700 Hz,
1800 Hz, 1900 Hz,dan 2000 Hz. Perubahan nilai frekuensi mempengaruhi panjang jarak
antara perut pertama dengan perut kedua dan simpul pertama dengan simpul kedua.
Perubahan jarak tersebut menunjukan perubahan nilai panjang gelombang, karena jarak
antar perut maupun antar simpul merupakan panjang setengah gelombang. Berdasarkan
grafik hubungan panjang gelombang terhadap frekuensi terlihat bahwa panjang
gelombang bunyi berbanding terbalik dengan besarnya frekuensi yang digunakan.
Kemudian melalui nilai tersebut dapat dihitung besarnya cepat rambat bunyi di udara
(tertera dalam analisis data).
Melalui analisis data menggunakan metode pengamatan, diperoleh nilai cepat
rambat gelombang, yang berdasarkan jarak antar perut yaitu m/s
kedua nilai tersebut mendekati nilai cpat rambat gelombang bunyi diudara yang sudah
disepakati secara universal yaitu 340 m/s. Namun masih terdapat selisih angka yang
terjadi, hal tersebut karena ada beberapa faktor kesalahan saat praktikum, yaitu :
a. Tidak dapat mengukur letak simpul dan perut secara tepat dan akurat, karena letak
skala yang tertera pada tabung berada di bagian bawah sehingga cukup sulit untuk
diamati.
b. Nilai frekuensi masukan yang diinputkan tidak sepenuhnya tepat, karena sulit
mengatur frekuensi masukan dari AFG dengan nilai yag tepat. Sehingga
mempengrui letak terjadinya resonansi
c. Kurang tepat saat menentukan terjadi resonansi (posisi perut), karena simpangan
pada sound level meter dan amplitude pada osiloskop sangat peka terhadap
pergeseran speaker dalam tabung reksi.
d. Terdapat noise didekat tabung resonansi saat dilakukan pengukuran, sehingga
mempengaruhi frekuensi resonansi.

I. Kesimpulan
1. Resonansi adalah peristiwa bergetarnya suatu partikel akibat ada sumber
getar yang lain dengan frekuenis yang sama.
2. Gelombang bunyi di udara dapat ditentukan dengan persamaan v = .f
3. Cepat rambat gelombang bunyi di udara dari hasil praktikum sebesar
m/s untuk perhitungan dengan jarak antar perut . Nilai
ini mendekati nilai cepat rambat gelombang bunyi di udara secara teori
(diakui secara universal) yaitu 340 m/s.

I. REFERENSI
Khanafiyah, Siti dan Ellianawati. 2013. Fenomena Gelombang. Semarang: H
2
O
Publishing
Sudarmanto, Agus dan Joko Budi Purnomo.2011. Panduan Praktikum Gelombang.
Semarang: Laboratorium Fisika IAIN Walisongo Semarang