Anda di halaman 1dari 31

II.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Gangguan Bipolar

A. Defenisi
Gangguan bipolar yaitu gangguan mood yang kronis dan berat yang
ditandai dengan episode mania, hipomania, campuran dan depresi.
Sebelumnya gangguan bipolar disebut dengan manic depresif, gangguan
afektif bipolar, atau gangguan spectrum bipolar.

B. Epidemiologi
Dapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar antara
0,3-1,5%. Namun, angka itu belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko
kematian terus membayangi penderita bipolar. Biasanya kematian itu
dikarenakan mereka mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Risiko
bunuh diri meningkat pada penderita bipolar yang tidak diterapi yaitu 5,5
per 1000 pasien. Sementara yang diterapi hanya 1,3 per 1000 pasien.

Gangguan pada lelaki dan perempuan sama, umumnya timbul di usia
remaja atau dewasa. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru
menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis
pada remaja dan bahkan anak-anak.

C. Manifestasi Klinik
Di bawah ini adalah jenis-jenis GB sesuai dengan kriteria diagnostik yang
terera dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-
Text Revision (DSM-IV TR)
1. Episode manik :
Mood elasi, ekspansif atau iritabel yang menetap, secara
abnormal,selama periode tertentu, berlangsung paling sedikit satu
minggu (atau waktunya bisa kurang dari satu minggu bila dirawat
inap)
Selama periode gangguan mood tersebut, tiga (atau lebih) gejala
dibawah ini menetap dengan derajat berat yang signifikan:
1) grandiositas atau percaya diri berlebihan
2) berkurangnya kebutuhan tidur (merasa segar dengan hanya
tidur 3 jam)
3) cepat dan banyaknya pembicaraan (adanya desakan untuk
tetap berbicara)
4) lompatan gagasan atau pengalaman subjektif adanya pikiran
berlomba
5) perhatian mudah teralih terhadap stimulus eksternal yang
tidak relevan atau tidak penting (distraktibilitas)
6) peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor
7) keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan yang berpotensi merugikan misalnya investasi
bisnis yang kurang perhitungan, hubungan seksual yang tidak
aman, sembrono dijalan raya atau terllau boros.
Gejala-gejala yang tidak memenuhi criteria episode campuran
Gangguan mood sangat berat sehingga menyebabkan hendaya
yang jelas dalam fungsi pekerjaan, aktivitas sosial yang biasa
dilakukan, hubungna dengan orang lain, atau memerlukan
perawatan untuk menghindari melukai diri sendiri atau orang lain,
atau dengan gambaran psikotik.
Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung
penggunaan zat (misalnya penyalahgunaan zat, obat, atau terapi
lainnya) atau kondisi medik umum (misalnya hipertiroid).

2. Episode Depresi Mayor
Lima atau lebih gejala berikut terdapat, palng sedikit dalam dua
minggu, dan memperlihatkan terjadinya perubahan fungsi, paling
sedikit satu dari gejala ini harus ada yaitu (1) mood depresi atau
(2) hilangnya minat atau rasa senang.
1) Mood depresi yang terjadi hampir sepanjang hari, hampir
setiap hari, yang ditunjukkan baik laporan subjektif 9misalnya
merasa sedih atau hampa), atau yang dapat diobservasi oleh
orang lain (misalnya terlihat menangis)
2) Berkurangnya minat atau rasa senang yang sangat jelas pada
semua atau hampir semua aktivitas sepanjang hari, hampir
setiap hari (yang diindikasikan oleh laporan subjektif atau
diobservasi oleh orang lain)
3) Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang
diit atau peningkatan berat badan (misalnya perubahan berat
badan lebih dari 5% dalam satu bulan) atau penurunan atau
peningkatan nafsu makan setiap hari
4) Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
5) Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat
diobservasi oleh orang lalin, tidak hanya perasaan subjektif
adanya kegelisahan atau perasaan menjadi lamban)
6) Letih atau tidak bertenaga hampir setiap hari
7) Rasa tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan, tidak
sesuai ( mungin bertaraf waham ) hampir setiap hari (tidak
hanya merasa bersalah karena berada dalam keadaan sakit)
8) Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau kosentrasi,
ragu-ragu, hampir setiap hari
9) Berulangnya pikiran tentang kematian (tidak hanya takut
mati), berulangnya ide bunuh diri tanpa rencana spesifik, atau
tindakan bunuh diri atau rencana spesifik melakukan bunuh
diri.
Gejala-gejala yang ada tidak memenuhi criteria campuran
Gejala-gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara
klinik atau terjadinya hendaya sosial, pekerjaan atau fungsi
penting lainnya.
Gejala tidak disebabkan oleh efek fisiiologik langsung dari zat
(misalnya penyalahgunaan zat atau obat) atau kondisi medik
umum (misalnya hipotiroid)
Gejala bukan disebabkan oleh berkabung, misalnya kehilangan
orang yang dicintai, gejala menetap lebih dari dua bulan, atau
ditandai oleh hendaya fungsi yang jelas, preokupasi dengan rasa
tidak berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik atau retardasi
psikomotor.

3. Episode Campuran
Memenuhi kriteria episode manik dan depresi mayor (kecuali
untuk durasi) hampir setiap hari selama paling sedikit satu
minggu
Gangguaan mood cukup berat sehingga menyebabkan hendayaa
nyata dalam fungsi pekerjaan atau aktivitas sosial yang biasa
dilakukan atau hubungan dengan orang lain, atau memerlukan
perawatan untuk mencegah melukai diri sendiri atau orang lain,
atau terdapat gambaran psikotik
Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung
penggunaan zat (misalnya penyalahgunaan zat, obat) atau kondisi
medik umum (misalnya hipertiroid).

4. Episode Hipomanik
Mood elasi, ekspansif atau iritabel, menetap, paling sedikit empat
hari, mood jelas terlihat berbeda dengan mood biasa atau ketika
tidak sedang depresi.
Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut
menetap (empat bila mood hanya iritabel), dengan derajat berat
cukup bermakna:
1) Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
2) Berkurangnya kebutuhan tidur (merasa segar dengan hanya
tidur tiga jam)
3) Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya desakan untuk
tetap berbicara
4) Loncatan gagasan atau pengalaman subjektif adanya pikiran
yang berlomba
5) Distraktibiltas (perhatian mudah teralih kepada stimulus
eksternal yang tidak relevan atau tidak penting)
6) Meningkatnya aktivitasyang bertujuan (sosial,pekerjaan,
sekolah, seksual) atau agitasi psikomotor
7) Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan yang berpotensi merugikan (misalnya
investasi bisnis yang kurang perhitungan, hubungan seksual
yang tidak aman, sembrono atau terlalu boros)
Episode yang terjadi dikaitkan dengan perubahan yang jelas
dalam fungsi yang tidak khas bagi orang tersebut ketika ia
agejalatik
Perubahan mood dan fungsi tersebut dapat terlihat oleh orang lain
Episode yang terjadi tidak cukup berat untuk menyebabkan
hendaya yang jelas dalam fungsi sosial atau pekerjaan, atau tidak
memerlukan perawatan, atau tidak ada gambaran psikotik
Gejala-gejala tidak disebabkan oeleh efek fisiologik langsung
penggunaaan zat (misalnya penyalahgunaan zat, obat, atau terapi
lainnya) atau kondisi medik umum (misalnya, hipertiroid).

5. Siklus Cepat
Siklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode depresi,
hipomania atau mania dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus
cepat jarang mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat hendaya
berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan.




6. Siklus Ultra Cepat
Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat
cepat dalam beberapa hari. Gejala dan hendaya lebih berat bila
dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi.

7. Simtom Psikotik
Pada kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik. Gejala
psikotik yang paling sering yaitu:
- halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya)
- waham
Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania
sedangkan waham nihilistik terjadi pada episode depresi. Ada kalanya
simtom psikotik tidak serasi dengan mood. Pasien dengan GB sering
didiagnosis sebagai skizofrenia.

D. Diagnosis dan Klasifikasi
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan
bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan
bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik
dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik
dan depresi. PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu
menurut episode kini yang dialami penderita.

Tabel 1. Gangguan Afektif Bipolar menurut PPDGJ III
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala
psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala
psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau
sedang
.30 tanpa gejala somatik
.31 dengan gejala somatic
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa
gejala psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan
gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar YTT

F31 Gangguan Afektif Bipolar
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya
dua) yang menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat
aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri
dari peninggian suasana perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan
aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan
suasana perasaan (mood) serta pengurangan enersi dan aktivitas depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar
episode, dan insidensi pada kedua jenis kelamin kurang lebih sama
disbanding dengan gangguan suasana perasaan (mood) lainnya. Dalam
perbandingan, jarang ditemukan pasien yang menderita hanya episode
mania yang berulang-ulang, dan karena pasien-pasien tersebut
menyerupai (dalam riwayat keluarga, kepribadian pramorbid, usia onset,
dan prognosis jangka panjang) pasien yang mempunyai juga episode
depresi sekali-sekali, maka pasien itu digolongkan sebagai bipolar.

F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini hipomanik
Pedoman diagnostic
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania
(F30.0) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik atau campuran di masa lampau.
F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik tanpa Gejala
Psikotik
Pedoman diagnostic
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa
gejala psikotik (F30.1) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.

F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau
Sedang
Pedoman diagnostic
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1), dan
b. harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.

F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa
Gejala Psikotik
Pedoman diagnostic
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.

F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan
GejalaPsikotik
Pedoman diagnostic
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.

F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
Pedoman diagnostic
a. Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik
dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala
mania/hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa
terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu) dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.

F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi
Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa
bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu
episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau dan
ditambah sekurangkurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif atau campuran).

F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya

F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

Jenis-jenis gangguan Bipolar

1. Gangguan mood bipolar I
Awitan GB I biasanya mulai pada masa remaja atau dewasa muda.
Episode pertamanya dapat berupa manik, depresi atau campuran.
Adakalanya awitan pertama berbentuk depresi dengan retardasi ringan
atau hipersomnia yang berlangsung selama beberapa minggu atau
bulan dan kemudian berpindah ke episode manik. Episode manik
dengan ciri psikotik dapat pula ditemukan sebagai episode pertama.
Gambarannya sangat mirip skizofrenia. Gambaran GB lebih jelas
terlihat bila yang muncul adalah episode manik yang klasik. Beberapa
episode depresi dapat terjadi sebelum episode manik pertama muncul.
Riwayat hiperteimik atau siklotimik sebaiknya ditanyakan kepada
keluarga karena gangguan ini sering mendahului gejala manik.
Kriteria GB I sesuai dengan DSM-IV TR

Gangguan Mood Bipolar I, Episode Manik Tunggal
A. Hanya mengalami satu kali episode manik dan tidak ada riwayat
episode depresi mayor sebelumnya.
B. Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform,
skizoafektif, gangguan waham, atau dengan gangguan psikotik
yang tidak dapat diklasifikasikan.
C. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau
kondisi medik umum.
D. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup
bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan,
atau aspek fungsi penting lainnya.

Gangguan Mood Bipolar I, Episode Manik Saat Ini
A. Saat ini dalam episode manic
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu kali episode
manik, depresi, atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan skizoafektif dan tidak
bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, gangguan
waham, atau dengan gangguan psikotik yang tidak dapat
diklasifikasikan
D. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat
atau kondisi medik umum
E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup
bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan,
atau aspek fungsi penting lainnya.

Gangguan Mood Bipolar I, Episode Campuran Saat Ini
A. Saat ini dalam episode campuran
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik,
depresi, atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan
skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau dengan gangguan psikotik
yang tidak dapat diklasifikasikan
D. Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat
atau kondisi medik umum Gejala mood menyebabkan penderitaan
yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya
dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.


Gangguan Mood Bipolar I, Episode Hipomanik Saat Ini
A. Saat ini dalam episode hipomanik
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik
atau campuran
C. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup
bermakna atau hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi
penting lainnya.
D. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan
sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan
gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.

Gangguan Mood Bipolar I, Episode Depresi Saat Ini
A. Saat ini dalam episode depresi mayor
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik
atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan
sebagai skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan
gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan
D. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau
kondisi medik umum
E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup
bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan,
atau aspek fungsi penting lainnya.

Gangguan Mood Bipolar I, Episode Yang Tidak Dapat
Diklasifikasikan Saat Ini
A. Kriteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi kriteria untuk manik,
hipomanik, campuran, atau episode depresi.
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik
atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan
sebagai skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan
gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat
lain.
D. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup
bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan,
atau aspek fungsi penting lainnya.

2. Gangguan Mood Bipolar II
Gangguan mood bipolar II sebenarnya cukup sering ditemukan.
Ditandai dengan episode berulang sindrom depresi mayor dan episode
hipomanik. Hipomania yaitu keadaan mania dengan intensitas lebih
rendah bila dibandingkan dengan mania. Disebut dengan bipolaritas
ringan (soft bipolarity).

Prevalensi GB II, sepanjang kehidupan adalah 0,5%. Gabungan angka
prevalensi GB I dan GB II adalah 2%. Angka ini lebih besar bila
dibandingkan skizofrenia. Satu per tiga GB memiliki episode pertama
pada masa remaja dan 50% memperlihatkan komorbiditas dengan
penyalahgunaan zat. Sekitar 50% pasien dengan gangguan depresi
mayor sebenarnya adalah GB II. Meskipun kadang-kadang hipomania
dapat berlangsung beberapa minggu, hipomania pada akhir episode
depresi, pada sebagian besar GB II, berlangsung tidak lama tetapi
beberapa hari saja. Bentuk lain GB II adalah gangguan depresi mayor
yang bertumpang tindih dengna siklotimia.

Individu dengan perjalanan yang tidak stabil tersebut mempunyai
risiko bunuh diri lebih tinggi. Beban yang tinggi untuk bunuh diri
lebih sering pada GB II. Hipomania pada GB II dapat dikatakan
sebagai episode manik ringan yang terjadi spontan. Gangguan mood
bipolar II lebih sering muncul pada individu dengan dasar
temperamen hipertimik atau sikotlimik sedangkan GB I sering
berkembang dari temperamen depresi. Pasien dengan gangguan
depresi mayor yang berpindah menjadi bipolar II memperlihattkan
mood yang labil (siklotimia) atau aktif-energi (ciri temperamen
hipertemik). Ciri-ciri ini merupakan prediktor yang spesifik (86%)
dan sensitif untuk menentukan perpindahan menjadi bipolar II.

3. Siklotimia
Siklotimia adalah GB ringan (attetuated) yang awitannya berangssur-
angsur, biasanya sebelum usia 21 tahun. Gangguan siklotimia ditandai
dengan depresi subsindrom dan hipomania yang siklusnya pendek.
Selain itu terdapat pula pergantian mood, kognisi, dan aktivitas.
Perjalanan siklotimia biasanya berkelanjutan atau intermiten. Jarang
sekali ditemukan periode eutimik diantara episode. Perpindahan mood
dapat terjadi akibat faktor presipitasi yang tidak begitu bermakna.

Siklotimia pada beberapa pasien diduga disebabkan oleh faktor
sirkadian. Pasien akan sangat bersemangat saat masuk tidur tetapi
ketika bangun tidur dipagi hari muncul keinginan untuk bunuh diri.
Performa akademik dan pekerjaannya seringkali terganggu. Hidupnya
dipenuhi serangkaian aktivitas yang tidak bermanfaat. Emosi mereka
sangat tidak stabil. Perhatiannya mudah berpindah ke suatu hal yang
baru, baik pekerjaan atau pasangan. Penyalahgunaan zat dapat terjadi
pada sekitar 50% penderita sebagai usaha mengobati diri sendiri.

Kriteria diagnostik gangguan siklotimia
a. Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan
gejala gejala hipomania dan beberapa periode dengan gejala-
gejala depresi yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan
depresi mayor. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling
sedikit satu tahun.
b. Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari
gejala-gejala pada kriteria A lebih dari dua bulan pada suatu
waktu.
c. Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode
campuran, selama dua tahun gangguan tersebut.
Catatan: Setelah dua tahun awal, siklotimia dapat bertumpang
tindih dengan manik atau episode campuran (diagnosis GB I dan
gangguan siklotimia dapat dibuat) atau episode depresi mayor
(diagnosis GB II dan gangguan siklotimia dapat ditegakkan).
d. Gejala-gejala pada kriteria A bukan skizoafektif dan tidak
bertumpangtindih dengan skizofrenia, skizofreniform, gangguan
waham, atau dengan gangguan psikotik yang tidak dapat
diklasifikasikan.
e. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat
atau kondisi medik umum.
f. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau
kondisi medik umum.
g. Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik
cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial,
pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.

E. Penatalaksanaan

Tabel 2. Penatalaksanaa Kedaruratan Agitasi Akut pada GB
Lini I Injeksi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi
pada pasien dengan episode mania atau campuran akut.
Dosis adalah 9,75mg/injeksi. Dosis maksimum adalah
29,25mg/hari (tiga kali injeksi per hari dengan interval
dua jam). Berespons dalam 45-60 menit.
Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien
dengan episode mania atau campuran akut. Dosis 10mg/
injeksi. Dosis maksimum adalah 30mg/hari. Berespons
dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah
dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali
injeksi dalam 24 jam pertama.
Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum
lorazepam 4mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan
injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur
dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas
antipsikotika.
Lini II Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat
diulang setelah 30 menit. Dosis maksimum adalah 15
mg/hari.
Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat
diberikan bersamaan dengan injeksi haloperidol IM.
Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

Tabel 3. Terapi farmakologi episode mania akut
Lini I Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin,
quetiapin XR, aripiprazol, litium atau divalproat +
risperidon, litium atau divalproat + quetiapin, litium
atau divalproat + olanzapin, litium atau divalproat +
Aripiprazol
Lini II Karbamazepin, TKL*, litium + divalproat, paliperidon
Lini III Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat
haloperidol, litium + karbamazepin, klozapin
Tidak
direkomendasikan
Gabapentin, topiramat, lamotrigin, risperidon +
karbamazepin, olanzapin + karbamazepin
*TKL: terapi kejut listrik

Tabel 4. Terapi farmakologi episode depresi akut GB I
Lini I Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium
atau divalproat + SSRI, olanzapin + SSRI, litium +
divalproat
Lini II Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat +
Lamotrigin
Lini III Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin,
litium atau divalproat + venlafaksin, litium + MAOI,
TKL, litium atau divalproat atau AA + TCA, litium
atau divalproat atau karbamazepin + SSRI +
lamotrigin, penambahan topiramat.
Tidak
direkomendasikan
Gabapentin monoterapi, aripiprazol monoterapi


Tabel 5. Terapi farmakologi untuk depresi akut GB II
Lini I Quetiapin
Lini II Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat +
antidepresan, litium + divalproat, antipsikotika atipik +
antidepresan
Lini III Antidepresan monoterapi (terutama untuk pasien yang jarang
mengalami hipomania)

1) Mood Stabilizer

a. Litium
Litium sudah digunakan sebagai terapi mania akut sejak 50 tahun
yang lalu. Ia lebih superior bila dibandingkan dengan plasebo.


Farmakologi
Sejumlah kecil litium terikat dengan protein. Litium dieksresikan
dalam bentuk utuh hanya melalui ginjal.
Indikasi
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat
sebagai terapi rumatan GB.
Dosis
Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan
menitrasi dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar
antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari. Dosis
awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut
lebih tinggi bila dibandingkan dengan untuk terapi rumatan. Untuk
terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEql/L. Dosis kecil
dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya,
gejala toksisitas litium dapat terjadi bila dosis > 1,5 mEq/L.
Efek samping
Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor,
somnolen, penambahan berat badan, dan penumpulan kognitif.
Neurotoksisitas, delirium, dan ensefalopati dapat pula terjadi akibat
penggunaan litium. Neurotoksisitas bersifat ireversibel. Akibat
intoksikasi litium, defisit neurologi permanen dapat terjadi
misalnya, ataksia, defisist memori, dan gangguan pergerakan.
Untuk mengatasi intoksikasi litium, hemodialisis harus segera
dilakukan. Litium dapat merusak tubulus ginjal. Faktor risiko
kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya
penyakit fisik lainnya. Pasien yang mengonsumsi litium dapat
mengalami poliuri. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk
banyak meminum air.
Pemeriksaan Laboratorium
Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin)
dan fungsi tiroid, harus diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien
yang berumur di atas 40 tahun, pemeriksaan EKG harus dilakukan.
Fungsi ginjal harus diperiksa setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid
dalam enam bulan pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal dan
tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau bila ada indikasi.
Wanita Hamil
Penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan
malformasi janin. Kejadiannya meningkat bila janin terpapar pada
kehamilan yang lebih dini. Wanita dengan GB yang derajatnya
berat, yang mendapat rumatan litium, dapat melanjutkan litium
selama kehamilan bila ada indikasi secara klinis. Kadar litium
darahnya harus dipantau dengan seksama. Pemeriksaan USG untuk
memantau janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita
tersebut harus disupervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater.
Sebelum kehamilan terjadi, risiko litium terhadap janin dan efek
putus litium terhadap ibu harus didiskusikan.

b. Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA
sebagai antimania. Valproat tersedia dalam bentuk:
- Preparat oral; Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara
asam valproat dan sodium valproat adalah sama (1:1). Asam
valproat, Sodium valproat, kapsul yang mengandung partikel-
partikel salut yang dapat dimakan secara utuh atau dibuka dan
ditaburkan ke dalam makanan. Divalproat dalam bentuk lepas
lambat, dosis sekali sehari.
- Preparat intravena
- Preparat supositoria
Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian
oral. Konsentrasi puncak plasma valproat sodium dan asam
valproat dicapai dalam dua jam sedangkan sodium divalproat
dalam 3-8 jam. Awitan absorbsi divalproat lepas lambat lebih cepat
bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi menjadi lambat
bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat
dengan protein meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan
menurun bila diet mengandung tinggi lemak.
Dosis
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat
dalam serum berkisar antara 45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan
siklotimia diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma < 50
mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari
atau 250 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga
mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping,
misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit
serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum > 100 mg/mL.
Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang
dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.
Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor
akut, terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons
dengan litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB
pada lanjut usia.
Efek Samping
Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi,
misalnya anoreksia, mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan
(derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan tremor. Efek
samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan bekurang
dengan penurunan dosis atau dengan berjalannya waktu. Efek
samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan asam
valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut
sodium divalproat.




c. Lamotrigin
Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia
menghambat kanal Na+. Selain itu, ia juga menghambat pelepasan
glutamat.
Farmakokinetik
Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Ia dengan cepat melewati
sawar otak dan mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam.
Sebanyak 10% lamotrigin dieksresikan dalam bentuk utuh.
Indikasi
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik
akut maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus
cepat.
Dosis
Berkisar antara 50-200 mg/hari.
Efek Samping
Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan
berbagai bentuk kemerahan di kulit

2) Antipsikotik Atipik
Antipsikotika atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif
sebagai terapi lini pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik
tersebut adalah olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol.

a. Risperidon
Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan
antipsikotika atipik pertama yang mendapat persetujuan FDA
setelah klozapin.
Absorbsi
Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia
dimetabolisme oleh enzim hepar yaitu CYP 2D6.
Dosis
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan
yaitu tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2
mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4
mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari.
Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan
untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang
dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak
berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg -
50 mg per dua minggu.
Indikasi
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk
terapi rumatan.

b. Olanzapin
Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki
afinitas terhadap dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2
(5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1), dan a1- adrenergik.
Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode
akut mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk
terapi rumatan GB.
Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.

c. Quetiapin
Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja
sebagai antagonis 5-HT1A dan 5-HT2A, dopamin D1, D2,
histamin H1 serta reseptor adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya
rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap
serotonin 5-HT2A.


Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800
mg/hari. Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release)
dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan
pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia quetiapin-XR
dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.
Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi,
campuran, siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.

d. Aripiprazol
Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamin-serotonin.
Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-
HT1A serta antagonis 5-HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang
tinggi pada reseptor D3, afinitas sedang pada D4, 5-HT2c, 5-HT7,
a1- adrenergik, histaminergik (H1), dan serotonin reuptake site
(SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik.
Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg.
Kisaran dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal
yang direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan
sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia,
dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus
mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan
tolerabilitas.
Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran
akut. Ia juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga
efektif sebagai terapi tambahan pada GB I, episode depresi.


2. Baby Blue Syndrome

A. Defenisi
Baby blues syndrome atau post partum blues dapat didefenisikan yakni
perubahan suasana hati pada wanita yang setelah melahirkan. Satu menit
mereka merasa bahagia, menit berikutnya mereka mulai menangis.
Siswuharjo & Chakhrawati (2002) mengatakan bahwa baby blues
syndrome adalah suatu gangguan psikologi sementara yang ditandai
dengan memuncaknya emosi pada minggu pertama pasca persalinan.
Penderita akan merasakan suasana hati yang bahagia namun menjadi
labil.

B. Epidemiologi
Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang member
perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita
pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai
faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut.
Berbagai studi mengenai baby blue syndrome diluar negeri melaporkan
angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%,
yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan
kriteria diagnosis yang digunakan. Di Indonesia dari penelitian
Wratsangka pada tahun 1996 di RS Hasan Sadikin Bandung, ditemukan
33% wanita pasca persalinan mengalami baby blue syndrome. Hasil
penelitian di berbagai tempat yang di telaah Bagian Obstetri dan
Ginekologi FKUI-RSCM menunjukkan, paling sedikit terdapat 26%
kasus.

C. Etiologi
Penelitian menunjukkan penyebab baby blue syndrome adalah faktor
hormonal yang akan mempengaruhi keadaan kimiawi otak. Itu merupakan
proses biologis dan bukan merupakan kesalahan seorang ibu atau
bergantung pada kepribadian yang lemah. Baby blue syndrome terjadi 50-
80 % pada ibu baru. Kondisi ini ditunjukan dengan peningkatan respon
emosi. Ibu baru akan menunjukan mood yang gampang berubah ,mudah
menangis, gelisah, irritabilitas, kesulitan tidur dan merasa tidak sehat.
Lebih dari 50 % dari ibu yang mengalami depresi sebelumnya setelah
melahirkan anak akan menjadi depresi kembali pada kelahiran berikutnya.
Wanita akan lebih rentan apabila pada saat hamil mereka sudah
mengalami depresi atau memiliki gejala mood premenstruasi sebelum
hamil. Apabila wanita tersebut mengalami depresi selama hidupnya,
resiko untuk berkembang menjadi postpartum depression juga akan
meningkat dari 10 sampai 25 % begitu pula dengan wanita yang
mengidap penyakit bipolar (manic-depressive-illness) akan menempatkan
wanita pada peningkatan resiko untuk mengalami post partum depression.

Ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan di bawah normal cenderung
3,64kali berpeluang lebih besar mengalami baby blues dibandingkan
dengan ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal.

Ketidak seimbangan hormonal. Jumlah hormon wanita seperti estrogen
dan progesteron meningkat secara tajam pada saat kehamilan. Pada mingg
-minggu setelah melahirkan, jumlah hormon estrogen dan progesteron
lebih menurun dari jumlah sebelum kehamilan. Fluktuasi tiba
tiba pada tingkat hormonal ini berhubungan dengan gejala dari depresi
yang dialami seorang ibu baru.

Hormon Thyroid. Kelenjar thyroid berukuran kecil dan terletak di leher.
Beberapa wanita mengalami penurunan hormon thyroid setelah
melahirkan. Rendahnya hormone thyroid akan menyebabkan gejala
depresi, irritabilitas, berkurangnya minat pada aktivitas biasa, kelemahan
dan peningkatan berat badan. Akan tetapi tidak semua wanita mengalami
baby blue syndrome akibat ketidakseimbangan hormon thyroid.


D. Patofisiologi
Baby blues bisa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor
biologis dan faktor emosi. Ketika bayi lahir, terjadi perubahan level
hormon yang sangat mendadak pada ibu. Hormon kehamilan (estrogen
dan progesteron) secara mendadak mengalami penurunan 72 jam setelah
melahirkan dan juga disertai penurunan kadar hormon yang dihasilkan
oleh kelenjar tiroid yang menyebabkan mudah lelah, penurunan mood,
dan perasaan tertekan serta di lain sisi terjadi peningkatan dari hormon
menyusui.

Perubahan hormon yang cepat inilah bisa mencetuskan terjadinya baby
blue syndrome. Level neurosteroid berasal dari hormon progesteron yang
mengalami fluktuasi selama siklus menstruasi dan memuncak saat
kehamilan. Hormon sex yangdinamakan neurosteroid berikatan dengan
beberapa tipe reseptor termasuk reseptor GABAa untuk memodulasi
eksitabilitas dari sel otak. Kekurangan delta subunit reseptor GABAa
pada wanita menunjukkan sikap depresi dan gangguan cemas setelah
melahirkan. Pemberian antidepresan saat kehamilan akan berefek
panjang pada sistem serotonin dan berpengaruh pada sensitivitas reseptor
GABAa.Sebagian besar ibu tidak siap untuk untuk menghadapi kelahiran
bayinya, mereka juga sangat khawatir bayi mereka yang terkena penyakit
jaundice dan kesulitan makan yang merupakan memiliki masalah
kesehatan yang umum bagi bayi. Selain itu, ibu
yang pertama kali memiliki bayi merasa tidak sanggup merawat bayinya
seorang diri dirumah baik itu dari segi kasih sayang maupun dari segi
finansial. Baby blue syndrome juga sangat mungkin terjadi oleh para ibu
yang pernah mengalami trauma melahirkan atau mengalami kejadian
yang sangat menyedihkan selama mengandung.

E. Gambaran klinis
Baby blue syndrome ditandai perasaan sedih, seperti menangis, perasaan
kesepian atau menolak bayi, cemas, bingung, lelah, merasa gagal dan
tidak bisa tidur. Baby blue syndrome relatif ringan dan biasanya
berlangsung 2 minggu. Perbedaan dengan Post partum Depression adalah
pada frekuensi, intensitas dan lamanya durasi gejala. Dalam
Post partum Depression, gejala yang lebih sering, lebih intens dan lebih
lama. Beberapa Gejala Kasus Baby blue syndrome:
1. Dipenuhi oleh perasaan kesedihan dan depresi disertai dengan
menangis tanpa sebab.
2. Mudah kesal, gampang tersinggung dan tidak sabaran.
3. Tidak memiliki tenaga atau sedikit saja.
4. Cemas, merasa bersalah dan tidak berharga.
5. Menjadi tidak tertarik dengan bayi anda atau menjadi terlalu
memperhatikandan kuatir terhadap bayinya.
6. Tidak percaya diri.
7. Sulit beristirahat dengan tenang bias juga tidur lebih lama.
8. Peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan.
9. Penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan.
10. Perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya

F. Diagnosis
Baby Blues Syndrome adalah tekanan atau stress yang dialami oleh
seorang wanita pasca melahirkan karena penderita beranggapan bahwa
kehadiran bayi akan mengganggu atau merusak suatu hal dalam hidupnya
seperti karier, kecantikan/penampilan dan aktifitas rutin yang dianggap
penting dalam hidupnya. Penderita baby blue syndrome kebanyakan
adalah kalangan wanita karier, artis, model dan wanita modern tetapi
syndrom ini tidak menutup kemungkinan menyerang wanita muda
(pernikahan dini) dan semua wanita pasca melahirkan. Perubahan sikap
yang negatif dengan kondisi emosional yang kurang terkontrol seperti
sering marah, cepat tersinggung, dan menjauh dari bayi yang baru
dilahirkan, susah tidur dan tiba-tiba sering menangis. Apabila ini tidak
segera ditangani berdampak negatif terhadap kesehatan jiwa penderita.
Sindrom ini umumnya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan,
dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau empat setelah
persalinan.

Seseorang terdiagnosis baby blue syndrome apabila terlihat secara
psikologis kejiwaannya seperti di bawah ini:
Perasaan cemas, khawatir ataupun was was yang berlebihan, sedih,
murung,dan sering menangis tanpa ada sebab (tidak jelas
penyebabnya).
Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala dalam beberapa kasus
seringmigrain.
Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus anak.
Adanya perasaan putus asa
Jika pasien mengalaminya lebih dari 2 minggu, bisa jadi pasien mengalami
Post partum Depression. Apabila gejala diatas tidak disadari dan lama
kelamaan tekanan atau stres yang dirasakan semakin kuat atau semakin
besar maka penderita akan mengalami depresi pasca melahirkan yang
berat. Jika telah mengalami hal ini maka diperlukan penanganan secara
berkala, gejala dari depresi tersebut adalah :
Kelelahan yang berkepanjangan, susah tidur, dan insomnia.
Hilangnya perasaan bahagia dan minat untuk melakukan hal-hal yang
menyenangkan.
Tidak memperhatikan diri sendiri dan menarik diri dari keluarga dan
teman.
Tidak memperhatikan atau bahkan perhatian yang berlebihan pada
anak.
Perasaan takut telah menyakiti anak.
Tidak tertarik pada seks.
Perasaan berubah-ubah dengan ekstrim, terganggu proses berpikir dan
konsentrasi.
Kesulitan dalam membuat keputusan sederhana

Berikut adalah perbedaan gejala klinis dari Baby blue syndrome,
Postpartum Deppression dan Postpartum Psychotic.

Babyblue syndrome Post partum
depression
Post partum psychotic
Terjadi pada 30-75%
ibu melahirkan
Gangguan suasana
hati& pikiran (Mood)
Munculnya rasa sedih
Murung, gelisah,
tidak nyaman
Kebingungan yang
subjektif
Menjadi
mudah/sering
menangis
Kadang sulit tidur
Terjadi 3-5 hari
setelah melahirkan
Berlangsung
selama beberapa hari
sampai beberapa
minggu
Tanpa pemicu khusus
Tidak dipengaruhi
kondisi sosial budaya
dan tingkat ekonomi
Bisa terjadi pada
orang yang tidak
pernah dan berasal
dari anggota
keluarganya yang
tidak pernah
mengalami penyimpa
ngan mood
Tidak berpikir
ingin bunuh diri
Jarang ada yang
berpikir ingin
menyakiti sang bayi
Hampir tidak pernah
merasa bersalah dan
tidak berdaya.
Bisa kembali normal
Terjadi pada 10-
15% ibu
melahirkan
Gangguan
suasana hati&
pikiran,
dengan perasaan
tertekan yang
merata
Mudah/sering
menangis
Hampir selalu
sulit tidur
Terjadi antara 3-
6 bulan setelah
melahirkan, bias
anya 12 minggu
Berlangsung
selama beberapa
bulan, bila tidak
mendapatkan
perawatan bisa
mencapai bebera
pa tahun
Pemicu utama
terjadi bila tidak
mendapatkan
dukungan dari
suami dan/atau
anggota keluarga
Sangat
dipengaruhi
kondisi sosial
budaya dan
tingkat ekonomi
Sangat erat
hubungannya
dengan
pengalaman
penyimpangan
Terjadi pada 0,1-0,2%
ibu melahirkan
Depresi dengan
gangguan mood
Khayalan yang kacau
(bayi cacat/
meninggal,
mengingkari
kelahiran,
menganggap
dirinya belum
menikah, perawan,
terus menerus
meragukan keyakinan
diri, mudah
terpengaruh,
memberontak)
Mengeluh letih,
tidak bisa tidur,
gelisah, menangis,
emosi
tidak terkendali,
curiga, bingung,
bukan dirinya sendiri,
kata-kata
menyakitkan,
obsesi pada kesehatan
bayi.
Mengeluh tidak bisa
berdiri, tidak
bisa berjalan/bergerak
Terjadi beberapa hari,
rata-rata 2-3 minggu
setelah kelahiran,
hampir selalu dalam
kurun 8 minggu
50% berasal dari
keluarga yang pernah
mengalami penyimpa
ngan mood
dengan sendirinya
bila dukungan dan
bantuan anggota
keluargalain bisa
membuat sang
ibu baru tersebut
tenang

mood yang
pernah/sedang
dialami.
Bisa terjadi pada
ibu yang anggota
keluarga lainnya
pernah
mengalami
penyimpangan
mood.
Kadangberpikir
ingin bunuh diri.
Sering berpikir
ingin menyakiti
sang bayi
Sering merasa
berlebihan
merasa bersalah
dan tidak
berdaya
Perlu
mendapatkan
bantuan dan
treatment
Ingin bunuh diri atau
membunuh sang bayi.
Bisa merasa ada
suara-suara yang
menyuruhnya bunuh
diri atau membunuh
sang bayi
Dari populasi
penderita, 5% bunuh
diri, 4 % membunuh
bayinya, 67%
mengalami kejadian
kedua kali
penyimpangan
emosional (affective
disorder) sepanjang
tahun
Proses kelahiran
menjadi salah satu
ketegangan yang
berkembang menjadi
penyimpangan
mood yang hebat
Harus
mendapatkan bantuan,
pengawasan dan
treatment

Berikut adalah perbedaan antara baby blues syndrome dengan post partum
depression.

Karakteristik Baby blue syndrome Post partum depression
Insiden 30-75% pada ibu yang
melahirkan

10-15% pada ibu yang
melahirkan
Onset 3-5 hari setelah melahirkan 3-6 bulan setelah
melahirkan
Durasi Hari sampai minggu Mingguan bulanan jika
tidak mendapat perawatan
Stressor yang
berhubungan
Tidak ada yang
berhubungan
Ada, terutama kurangnya
dukungan
Pengaruh sosial
dan budaya
Tidak ada hubungan Ada hubungan yang kuat
Riwayat mood
disorder
Tidak ada hubungan Ada hubungan yang kuat
Riwayat
keluarga mood
disorder
Tidak ada hubungan Ada beberapa hubungan
Rasa sedih Ya Ya
Mood lability Ya Sering pada awalnya
kemudian depresi secara
bertahap
Anhedonia Tidak Sering
Gangguan tidur Kadang-kadang Sering
Keinginan
untuk bunuh
diri
Tidak ada Kadang-kadang
Adanya
perasaan
bersalah dan
ketidak
mampuan
Tidak ada dan jika ada
biasanya ringan
Sering dan biasanya berat























DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. Mood Disorders. Dalam: Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Ed, Text Revision, DSM-IV-TR,
Washington DC, 2005: hal. 345-429.

American Psychiatric Association. Practice guidelines for the treatment of
patients with bipolar disorder. Am J Psychiatry 2002; 159: 1-50.

Depkes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta. Departemen Kesehatan.
1993. 145-156.

Maslim, R.Dr. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa; Rujukan Ringkas dari PPDGJ-
III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, Jakarta. PT Nuh Jaya-
Jakarta.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis Edisi Ketujuh Jilid Dua. Jakarta. Binarupa Aksara. 1997.809-
816.

Soref S. Bipolar Affective Disorder. http://www.emedicine.com (diunduh tanggal
17 mei 2014).

Sylvia, D. E. (2006). Depresi pasca persalinan. Jakarta: FK UI.

Hadisukanto, G dan Sylvia, D.E. 2006. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Zan, H & Lumongga, N. (2010). Pengantar psikologi untuk kebidanan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Zein, A.Y & Suryani, E. (2005). Psikologi ibu dan anak. Yogyakarta: Fitrayama