Anda di halaman 1dari 29

KIMIA ANORGANIK II

SENYAWA KOMPLEKS DAN HIBRIDISASI UNSUR TRANSISI


(V dan Cr)




Dosen pengampu :
Drs. Nofrizal, Jhon, M.Si

Di susun oleh :
ARDIAN FAZRI (F1C111005)
DEBBY MUTIARA ANANDA (F1C111006)
APRIADI (F1C111007)
WIDYA SULASTRI (F1C111008)
ZIERNA YESSI (F1C111054)
LEGENDA OCTA FEBRINA (F1C111056)


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2013/2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Vanadium pertama kali ditemukan oleh Andres Manuel Del Rio, orang Spanyol yang
menjadi ahli pertambangan di Meksiko, pada tahun 1801. Del Rio mengesktrak logam
tersebut dari sampel bijih timbale berwarna coklat, yang kemudian dinamakan Vanadinite.
Dia menemukan bahwa garam tersebut memperlihatkan bermacam-macam warna, dan karena
itu dia menamakan unsure tersebut panchromium (Greek: all colors). Del Rio mengganti
nama unsure tersebut menjadi erythonium karena garam berwarna merah saat dipanaskan.
Pada tahun 1781 Shceele dan juga T.Bergmann mengisolasi oksida baru yang lain
dari mineral yang kemudian disebut skelit, CaWO
4
. Hasilnya disebut tungsten yang artinya
batu berat. Dua tahun kemudian dua bersaudara, J.J. dan F.dElhuyar dari Spanyol
menunjukkan bahwa oksida yang sama merupakan konstituen dari mineral wolframit, dan
pemanasan dengan batubara berhasil mereduksi oksida ini menjadi logam yang kemudian
diberi nama wolfram dengan symbol W yang direkomendasikan oleh IUPAC, namun
komunikasi bahasa Inggris memilih memakai nama tungsten.
Akhirnya pada tahun 1797, L.N.Vauquelin dari Perancis menemukan oksida unsure
baru dalam suatu mineral dari Siberia yaitu krokoit (crocoite) yang kemudian dikenal sebagai
PbCrO
4
. Satu tahun kemudian unsur logam baru ini dapat diisolasi melalui reduksi dengan
batubara atau charcoal, dan diberi nama dengan bahasa Yunani kroma (chroma) yang artinya
warna, karena banyaknya macam warna dalam senyawaannya.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SENYAWA KOORDINASI ( SENYAWA KOMPLEKS )
Salah satu keistimewaan logam transisi adalah dapat membentuk senyawa klompeks,
yaitu senyawa yang paling sedikit terdiri dari satu ion kompleks (terdiri dari kation logam
utama atau logam transisi sebagai atom pusat yang berikatan dengan molekul dan (anion
yang disebut sebagai ligan) yang berikatan dengan ion lainnya yang disebut ion counter.

Keterangan gambar : bagian dari senyawa koordinasi; model (atas), gambar perspektif
(tengah), rumus kimia (bawah).
senyawa kompleks mempunyai atom pusat yang dikelilingi oleh ligan. Ketika
[Co(NH
3
)
6
]CI
3(s)
larut dalam air ion kompleks dan ion conter akan terpisah, sedangkan
ligan tetap terikat dengan atom pusat. Pada gambar sebelah kiri 6 ligan pada atom pusat
ion [Co(NH
3
)
6
]
3+
memberikan bentuk oktahedral, sedangkan pada gambar sebelah kanan 4
ligan pada ion [Pt(NH
3
)
4
]
2+
memberikan bentuk persegi planar.

2.2 ION KOMPLEKS; BILANGAN KOORDINASI, GEOMETRI DAN
LIGAN-LIGAN
Ion kompleks terdiri dari atom logam yang merupakan atom pusat yang berikatan
dengan ligan-ligan yang berupa ion netral maupun ion yang bermuatan.
Bilangan koordinasi : jumlah ligan yang terikat secara langsung pada atom pusat,
contohnya pada ion [Co(NH
3
)
6
]
3+
bilangan koordinasinya adalah 6 .
Geometri; bentuk geometri ion kompleks tergantung pada bilangan koordinasinya dan
sifat dari ion logam pada ion kompleks itu sendiri.
Donor atom per ligan; ligan suatu ion kompleks adalah molekul atau anion yang
menyumbangkan satu atau lebih pasangan elektron bebas kepada ion logam yang membentuk
ikatan kovalen.
Ligan diklasifikasikan berdasarkan jumlah pasanga elektron bebas yang
didonorkannya, yaitu monodentat yang mendonorkan satu pasang elektron, bidentat yang
mendonorkan dua pasang elektron dan polidentat yang mendonorkan lebih dari dua
pasaang elektron.







2.3 RUMUS DAN PENAMAAN SENYAWA KOORDINASI
Untuk penulisan rumus senyawa koordinasi disusun dengan aturan sebagai berikut:
Nama kation ditulis terlebih dahulu sebelum anion.
1. Nama kation ditulis terlebih dahulu sebelum anion. Contoh: K
2
[Co(NH
3
)
2
CI
4
] terdiri
dari kation K
+
dan [Co(NH
3
)
2
CI
4
]
2-
sehingga K
+
ditulis terlebih dahulu.
2. Muatan kation sama dengan muatan anion. Contoh: pada senyawa K
2
[Co(NH
3
)
2
CI
4
],
NH
3
merupakan molekul netral Cl
-
memberi muatan dengan jumlah 4- maka Co
harus bermuatan 2+ sehingga mbentuk ion [Co(NH
3
)
2
CI
4
]
2-
yang berikatan dengan
K
+
.
3. Dalam ion kompleks, ligan netral ditulis terlebih dahulu baru kemudian ligan anion,
dan rumus untuk seluruh ion ditempatkan dalam tanda kurung. Contoh: pada senyawa
K
2
[Co(NH
3
)
2
CI
4
], NH
3
merupakan molekul netral sehingga ditulis terlebih dahulu
baru kemudian Cl
-
yang bermuatan negatif (anion).
Sedangkan aturan untuk penamaan senyawa kompleks adalah:
1. Nama kation ditulis terlebih dahulu,
2. Nama ligan ditulis berdasarkan urutan abjad dan ditulis sebelum nama ion logam,
3. Untuk ligan netral ditulis dengan namanya sendiri kecuali beberapa molekul seperti
air yang menjadi aqua, sedangkan untuk anion akhiran ida diganti menjadi o seperti
klorida menjadi kloro.
4. Jumlah ligan ditulis sebelum nama ligan tersebut dengan penomoran yunani.
5. Bilangan oksidasi atom pusat ditulis dengan angka romawi di dalam kurung.
6. Jika ion kompleks merupakan anion, maka nama ion logam diakhiri dengan at.
Contoh : K
2
[Co(NH
3
)
2
CI
4
] = kalium diamina tetra kloro kobaltat (II)
[Co(NH
3
)
6
]CI
3
= heksaamina kobalt (III) klorida



2.4 SEBUAH SEJARAH PERSPEKTIF : ALFRED WERNER DAN
TEORI KOORDINASI
Senyawa koordinasi telah diketahui sejak 200 tahun yang lalu, pertama kali
ditemukan oleh seorang kimiawan muda asal Swiss Alfred Werner. Dia mengusulkan dua
macam valensi, yaitu :
" valensi primer adalah muatan positif pada ion logam yang harus disetarakan oleh ion
negatif sehingga menemukan bilangan koordinasi dari susunan jumlah ligan dan valensi
sekunder yang disebut bilangan koordinasi yang menunjukkan jumlah ligan terikat pada
atom pusat. "
Isomer Dalam Senyawa Kompleks
ISOMER
rumus kimia sama tetapi sifatnya berbeda



Isomer Koordinasi









ISOMER OPTIK

Isomer
KoordinasiTerjadi
ketika adanya
pertukaran
sebagian atau
seluruh ligan.
Contoh :
[Pt(NH
3
)
4
Cl
2
](NO
2
)
2
dan
[Pt(NH
3
)
4
(NO
2
)
2
]Cl
2

Isomer linkage
Terbentuk ketika
komposisi
senyawa
kompleks tetap
tetapi keterkaitan
donor ligan
berubah.
Isomer Stereo







ISOMER GEOMETRIK
isomer geometri
perbedaan letak
atom atau gugus
atom dalam
ruang.
isomer optis
perbedaan arah
pemutaran
bidang
polarisasi
cahaya
2.5 DASAR TEORI IKATAN KOMPLEKS

a. Dasar Teori Ikatan dan Sifat Kompleks
Ligan pada ion kompleks menyumbangkan sepasang elektron untuk membentuk suatu
ikatan kovalen dengan atom pusat. Jika suatu atom menyumbangkan sepasang elektron untuk
digunakan bersama disebut sebagai ikatan kovalen koordinasi. Jenis dan jumlah orbital
hibridisasi ion logam bergantung pada pasangan elektron bebas yang menentukan bentuk
geometri ion kompleks.
Beberapa contoh bentuk geometri dan hibridisasinya:
1. Oktahedral; biasanya ion kompleks yang memiliki hibridisasi d2sp3 mempunyai bentuk
geometri oktahedral.
Gamabr hibridisasi dan bentuk geometri [Cr(NH
3
)
6
]
3+

2. Segiempat planar; ion kompleks dengan hibridisasi dsp2 akan memiliki bentuk geometri
ini.

Gambar hibridisasi dan bentuk geometri [Ni (CN)
4
]
2-


3. Tetrahedral; hibridisasi sp3 dari ion kompleks akan memberikan bentuk geometri seperti
ini.
Gambar hibridisasi dan bentuk geometri [Zn(OH)
4
]
2-







b. Teori Bidang Kristal
Teori bidang kristal menyempurnakan teori VB yang menjelaskan tentang bentuk dan
ikatan dalam suatu senyawa tetapi tidak dapat memprediksikan warna koordinasi dan juga
terkadang saja dapat dipakai untuk memprediksi tentang sifat kemagnetan senyawa,
sedangkan teori bidang kristal hanya memberikan sedikit gambaran mengenai ikatan logam-
ligan tetapi mampu menjelaskan tentang warna dan sifat kemagnetan dengan jelas.
Warna; cahaya diserap dalam berbagai macam panjang gelombang yang akan
menghasilkan berbagai macam spektrum warna, seperti yang tertera dalam tabel
berikut:
Penjelasan





Penjelasan : tentang warna pada logam transisi; warna senyawa koordinsi sangat beragam,
hal ini dipengaruhi oleh perbedaan energi () orbital set t
2g
dan e
g
dalam ion kompleksnya.
Dua hal yang dapat mempengaruhi warna senyawa:
1. Untuk ligan tertentu, warna tergantung pada kondisi oksidasi ion logamnya.
2. Dan untuk beberapa ligan lain, warna bergantung pada ligan itu sendiri.
Penjelasan tentang sifat kemagnetan pada logam transisi kompleks; sifat kemgnetan
logam transisi deipengaruhi oleh jumlah elektron tidak berpasangan pada orbital d.
Penempatan orbital dipengaruhi oleh satu dari dua cara berikut:
1. Ligan medan lemah dan kompleks spin tinggi
Ligan medan lemah (seperti H
2
O) menyebabkan pemisahan energi kecil, sehingga hanya
memakai energi yang lemah dari orbital d untuk berpindah ke set e
g
dan kemudian untuk
berpasangan pada set t
2g
. Dengan jumlah elektron tidak berpasangan maksimum ligan medan
lemah membentuk komplek spin tinggi.
2. Ligan medan kuar dan kompleks spin rendah
Karena ligan medan kuat (seperti CN
-
) memerlukan energi yang lebih besar untuk berpindah
ke set e
g
dan kemudian untuk berpasangan pada set t
2g
, serta jumlah elektron tidak
berpasangan pada ion kompleks lebih sedikit dibanding pada ion bebas sehingga
menimbulkan kompleks spin yang rendah. Senyawa kompleks dengan bentuk geometri
tetrahedral adalah contoh dari senyawa yang mempunyai kompleks spin yang tinggi,
sedangkan untuk senyawa dengan bentuk geometri segiempat planar adalah contoh senyawa
dengan kompleks spin yang rendah.









2.6 FAKTOR-FKTOR YANG MEMPENGARUHI KESTABILAN
KOMPLEKS
Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks. Kestabilan suatu
kompleks akan berhubungan dengan :
1. Kemampuan mengkompleks logam-logam.
Kemampuan mengkompleks relatif (dari) logam-logam digambarkan denganb baik
menurut klarifikasi Schwarzenbach, yang dalam garis besarnya didasarkan atas pembagian
logam menjadi asam Lewis (penerima pasangan elektron) kelas A dan kelas B. Logam kelas
A dicurikan oleh larutran afinitas (dalam larutan air) terhadap halogen F- >Cl- > Br- > I-, dan
membentuk kompleks terstabilnya dengan anggota pertama (dari) grup Tabel Berkala (dari)
atom penyumbang (yakni, nitrogen, oksigen dan fluor). Logam kelas B jauh lebih mudah
berkoordinasi dengan I- daripada dengan F- dalam larutan air, dan membentuk kompleks
terstabilnya dengan atom penyumbang kedua (atau yang lebih berat) dari masing-masing
grup itu (yakni P, S, Cl). Klasifikasi Scwarzenbach, mendefinisikan ketiga kategori ion logam
penerima (pasanag elektron).
a. Kation dengan konfigurasi gas mulia. Logam-logam alkali, alkali tanah, dan alumunium
termasuk dalam grup ini, yang memperlihatkan sifat-sifat penerima kelas A. Gaya
elektrostatik dominan dalam pembentukan kompleks itu, sehingga interaksi antara ion-ion
kecil yang bermuatan tinggi, istimewa kuatnya, dan menimbulkan kompleks-kompleks yang
stabil. Kompleks-kompleks fluoro istimewa stabil, air diikat lebih kuat daripada amonia yang
mempunyai momen dipol kecil dan ion sianida hanya memiliki kecenderungan kecil untuk
membentuk kompleks karena mereka hanya berada dalam larutan basa,dimana mereka tak
dapat bersaing denganb ion-ion hidroksil.
b. Kation dengan sub-kulit d yang terisi lengkap. Yang khas dari grup ini adalah tembaga(I),
perak(I), dan emas(I) yang memperlihatkan sifat-sifat penerima kelas B. Ion-ion ini
mempunyai daya polarisasi yang tinggi, dan ikatan-ikatan yang terbentuk dalam kompleks-
kompleks merah memiliki watak kovalen yang cukup berarti.
c. Ion-ion logam transisi dengan sub-kulit dyang tak lengkap. Dalam grup ini baik
kecenderungan kelas A maupun kelas B dapat dikenali. Unsur dengan cirri-ciri kelas B
membentuk suatu kelompok yang kira-kira berbentuk segitiga dalam Tabel Berkala, dengan
puncaknya pada tembaga dan alasnya memebentang dari renium sampai bismut. Disebelah
kiri kelompok ini, unsure-unsur dalam keadaan oksidasi yang tinggi, cenderung
memeprlihatkan sifat-sifat kelas A, sementara di sebelah kanan kelompok ini, keadaan
oksidasi yang lebih tinggi (dari) suatu unsure lebih memiliki watak kelas B.
2. Ciri-ciri khas ligan.
Di antara cirri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan kompleks
dalam mana ligan itu terlibat, adalah :
a. kekuatan basa dari ligan itu,
b. sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan
c. efek-efek sterik (ruang).
Dari sudut pandangan aplikasi kompleks secara analisis, efek penyepitan mempunyai arti
yang teramat penting, maka hendaklah diperhatikan secara khusus.
Istilah efek sepit mengacu pada fakta bahwa suatu kompleks bersepit, yaitu
kompleks yang dibentuk oleh suatu ligan bedentat atua multidentat, adalah lebiih stabil
disbanding kompleks padanannya denga ligan-ligan monodentat: semakin banyak titik lekat
ligan itu kepada ion logam,semakin besar kestabilan kompleks. Efek sepit ini sering dapat
disebabkan oleh kenaikan entropi yang menyertai penyempitan; dalam hubungan ini,
penggantian molekul-molekul air dari ion terhidrasi haruslah diingat-ingat.
Efek sterik yang paling umum adalah efek yang menghambat pembentukan kompleks yang
disebabkan oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada berdekatan
dengan atom penyumbang.
Suatu faktor lanjut yang juga harus dipertimbngkan dari sudut pandangan aplikasi
secara analitis dari kompleks-kompleks dan reaksi-reaksi pembentukkan kompleks adalah
laju reaksi: agar berguna secara analitis, biasanya reaksi diperlukan cepat.
Keinertan atau kelabilan kinetik dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi pengamatan
umum berikut ini merupakan pedoman yang baik akan perilaku kompleks-kompleks dari
berbagai unsur.
a. Unsur grup utama, biasanya membentuk kompleks-kompleks labil.
b. Dengan kekecualian Cr(III) dan Co(III), kebanyakan unsur transisi baris-pertama,
membentuk kompleks-kompleks labil.
c. Unsur transisi baris kedua dan baris ketiga, cenderung membentuk kompleks-kompleks
inert.

2.7 KESTABILAN SENYAWA KOMPLEKS
Dikenal 2 macam kestabilan senyawa kompleks, yaitu kestabilan termodinamika dan
kestabilan kinetika. Kestabilan termodinamika menunjuk pada perubahan energi bebas Gibs
(G) yang terjadi dalam perubahan dari reaktan menjadi produk, sedang kestabilan kinetika
menunjuk pada enetgi aktivasi (G
#
) pada substitusi reaksi pertukaran ligan.
1. Kestabilan Termodinamika
Kestabilan termodinamika senyawa kompleks lebih sering dinyatakan dengan konstanta
kesetimbangan (ingat G = -RT ln K) dalam reaksi ion logam terhidrasi dengan ligan yang
sesuai selain air. Harga K memberikan gambaran tentang konsentrasi relatif masing-masing
spesies dalam kesetimbangan. Jika harga K besar berarti konsentrasi kompleks jauh lebih
besar dibanding konsentrasi komponen-komponen pembentuknya. Suatu kompleks stabil
bilamana harga K dalam reaksi pembentukan kompleks tersebut besar.
Kompleks logam terbentuk dalam larutan melalui tahap-tahap reaksi, dan konstanta
kesetimbangan dapat ditulis untuk masing-masing tahap. Misalnya untuk reaksi pembentukan
Cu(NH
3
)
4
2+
:
[Cu(H
2
O)
4
]
2+
+ NH
3
[Cu(H
2
O)
3
(NH
3
)]
2+
K
1
= ( [Cu(H
2
O)
3
(NH
3
)]
2+
)/([Cu(H
2
O)
4
]
2+
) (
NH
3
)
[Cu(H
2
O)
3
(NH
3
)]
2+
+ NH
3
[Cu(H
2
O)
2
(NH
3
)
2
]
2+
K
2
= ( [Cu(H
2
O)
2
(NH
3
)
2
]
2+
) /
[Cu(H
2
O)
3
(NH
3
)]
2+
(NH
3
)
[Cu(H
2
O)
2
(NH
3
)
2
]
2+
+ NH
3
[Cu(H
2
O)(NH
3
)
3
]
2+
K
3
= ( [Cu(H
2
O)(NH
3
)
3
]
2+
) /
[Cu(H
2
O)
2
(NH
3
)
2
]
2+
( NH
3
)
[Cu(H
2
O)(NH
3
)
3
]
2+
+ NH
3
[Cu(NH
3
)
4
]
2+
K
4
= ([Cu(NH
3
)
4
]
2+
)/[Cu(H
2
O)(NH
3
)
3
]
2+
( NH
3
)
Konstanta kesetimbangan juga dapat ditulis secara keseluruhan (over-all stability consant)
denga notasi . Untuk reaksi tersebut di atas :
[Cu(H
2
O)
4
]
2+
+ NH
3
[Cu(H
2
O)
3
(NH
3
)]
2+

1
= ( [Cu(H
2
O)
3
(NH
3
)]
2+
) / ([Cu(H
2
O)
4
]
2+
) (
NH
3
).
[Cu(H
2
O)
4
]
2+
+ 2NH
3
[Cu(H
2
O)
2
(NH
3
)
2
]
2+

2
= ([Cu(H
2
O)
2
(NH
3
)
2
]
2+
)/([Cu(H
2
O)
4
]
2+
) (
NH
3
)
2

[Cu(H
2
O)
4
]
2+
+ 3NH
3
[Cu(H
2
O)(NH
3
)
3
]
2+

3
= ([Cu(H
2
O)(NH
3
)
3
]
2+
)/([Cu(H
2
O)
4
]
2+
) (
NH
3
)
3

[Cu(H
2
O)
4
]
2+
+ 4NH
3
[Cu(NH
3
)
4
]
2+

4
= ([Cu(NH
3
)
4
]
2+
)/([Cu(H
2
O)
4
]
2+
)

( NH
3
)
4

Dengan sedikit penjabaran matematis akan diperoleh hubungan :

1
= K
1

2
= K
1
. K
2

3
= K
1
. K
2
.K
3

4
= K
1
. K
2
.K
3
.K
4

Dalam reaksi pembentukan kompleks tersebut seringkali ligan H
2
O tidak ditulis
karena jumlah molekul H
2
O yang menghidrasi masing-masing ion pada umumnya belum
diketahui secara pasti, molekul-molekul air tidak mempengaruhi konstanta kesetimbangan
(walaupun terlibat dalam reaksi), dan dalam larutan encer aktivitas air dapat dianggap 1.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Ion Kompleks
1. Aspek ion pusat
a. Rapat muatan (perbandingan muatan dengan jari-jari atom)
Stabilitas ion kompleks bertambah jika rapat muatan ion pusat bertambah
b. CFSE (energi psntabilan medan ligan)
Stabilitas ion kompleks bertambah dengan adanya CFSE, karena CFSE pada dasarnya
merupakan energi penstabilan tambahan yang diakibatkan oleh terjadinya splitting orbital d.
Pengaruh CFSE terhadap K dapat dilihat pada diagram berikut.
Bulatan-bulatan pada gambar tersebut adalah harga log K relatif masing-masing logam
bedasarkan eksperimen, sedang garis putus-putus merupakan kecenderungan harga log K
secara teoritis dengan tanpa memperhitungkan CFSE.
c. Polarisabilitas
Ion-ion logam klas a (asam keras) yaitu yang memiliki muatan tinggi dan ukuran kecil akan
membentuk kompleks ysng stabil jika ligannya berasal dari basa keras, yaitu yang
elektronegatifitasya besar dan berukuran kecil

2. Aspek ligan
a. Efek khelat
Kompleks khelat lebih stabil dibanding kompleks nonkhelat analog (yang atom donornya
sama). [Ni(en)
3
]
3+
dengan
3
sebesar 4.10
18

adalah

lebih stabil dibanding [Ni(NH
3
)
6
]
3+

6

sebesar 10
8

b. Ukuran cincin
Jika ligan tidak memiliki ikatan angkap, ikatan cincin 5 adalah yang paling stabil, tetapi jka
ligan memiliki ikatan rangkap, maka yang paling stabil adalah ikatan cincin 6.
c. Hambatan ruang (steric effect)
Ligan-ligan bercabang pada umumnya kurang stabi dibanding ligan-ligan tak bercabang
yang analog.
d. Polarisabilitas
Ion-ion logam klas a (asam keras) yaitu yang memiliki muatan tinggi dan ukuran kecil akan
membentuk kompleks ysng stabil jika ligannya berasal dari basa keras, yaitu yang
elektronegatifitasya besar dan berukuran kecil.
3. Kestabilan Kinetika.
Kestabilan kinetika menunjuk pada enetgi aktivasi (G
#
) pada substitusi reaksi
pertukaran ligan. Kestabilan kinetika bertambah jika G
#
semakin besar. Kompleks yang
ligannya dapat digantikan oleh ligan lain dengan cepat (kurang dari 1 menit pada suhu 25
o
C
dan konsentrasi larutan 0,1 M) disebut kompleks labil, sebaliknya jika reaksi pertukarannya
berlangsung lambat disebut kompleks inert (lembam).
Seringkali kompleks stabil bersifat inert dan kompleks tidak stabil bersifat labil,
namun hal itu tidak berhubungan. Bisa saja suatu kompleks stabil namun labil. Sebagai
contoh, CN
-
membentuk kompleks yang sangat stabil dengan Ni
2+
, hal ini tercermin dari
harga K yang besar untuk reaksi berikut :
[Ni(H
2
O)
6
]
2+
+ 4CN
-
[Ni(CN
-
)
4
]
2-
+ 6H
2
O
Namun jika ke dalam larutan ditambahkan ion berlabel
13
CN
-
, ternyata terjadi reaksi
pertukaran ligan yang sangat cepat antara CN
-
dengan
13
CN
-
seperti ditunjukkan pada
persamaan reaksi berikut :
[Ni(CN
-
)
4
]
2-
+ 4
13
CN
-
[Ni(
13
CN
-
)
4
]
2-
+ 4CN
-

Kasus sebaliknya, kompoleks [Co(NH
3
)
6
]
3+
tidak stabil dalam larutan asam, sehingga reaksi
berikut hampir sempurna berjalan ke kanan.
4[Co(NH
3
)
6
]
3+
+ 20H
+
+ 26H
2
O 4[Co(H
2
O)
6
]
3+
+ 24NH
4
+
+ O
2

Akan tetapi [Co(NH
3
)
6
]
3+
dapat tinggal dalam larutan asam pada suhu kamar selama
beberapa hari dengan tanpa terjadi perubahan. Ini berarti bahwa kestabilan suatu kompleks
tidak menjamin keinertannya, sebaliknya kompleks yang tidak stabil dapat saja inert..
Kestabilan kinetika kompleks oktahedral dapat diprediksi berdasarkan Aturan Taube, yaitu :
Kompleks oktahedral labil bilamana pada atom pusatnya
- mengandung elektron pada orbital e
g
atau
- mengandung elektron pada orbital d kurang dari 3.
Kompleks oktahedral inert bilamana pada atom pusatnya
- tidak mengandung elektron pada orbital e
g
dan
- mengandung elektron pada orbital d minimal 3.
Aturan Taube tersebut logis dan dapat dinalar. Kompleks yang mengandung elektron
pada orbital e
g
labil, karena elektron tersebut posisinya dekat (behadapan langsung) dengan
ligan sehingga memberikan tolakan yang signifikan terhadap ligan dan dengan demikian
ligan tersebut relatif mudah lepas dan digantikan oleh ligan lain. Kompleks yang
mengandung elektron pada orbital d kurang dari 3 labil, karena pada kompleks tersebut masih
terdapat minimal 1 orbital t
2g
yang kosong dimana ligan pengganti dapat mendekati ion pusat
dengan tolakan yang relatif kecil.


2.8 UNSUR-UNSUR TRANSISI (V DAN Cr)
Unsur-unsur transisi adalah :
a. Terletak antara unsur golongan alkali tanah dan golongan boron.
b. Merupakan unsur logam
c. Merupakan unsur-unsur blok d dalam sistem periodik

Sifat-sifat yang khas dari unsur transisi :
a. Mempunyai berbagai bilangan oksidasi
b. Kebanyakan senyawaannya bersifat paramagnetik
c. Kebanyakan senyawaannya berwarna
d. Unsur transisi dapat membentuk senyawa kompleks

Dalam bentuk logamnya umumnya bersifat :
a. Keras, tahan panas
b. Penghantar panas dan listrik yang baik
c. Bersifat inert

Beberapa kekecualian :
a. Tembaga (Cu) bersifat lunak dan mudah ditarik
b. Mangan (Mn) dan besi (Fe) : bersifat sangat reaktip, terutama dengan oksigen, halogen,
sulfur, dan non logam lain (seperti dengan karbon dan boron).








2.8.1 VANADIUM
2.2.1 SEJARAH VANADIUM

Vanadium berasal dari kata vanadis,yaitu nama dewi kecantikan di Skandinavia, pada
mulanya ditemukan oleh N. G. Selfstrom di Swedia pada tahun 1830, bersama sama dalam
bijih besi. Disebut demikian karena senyawaannya kaya akan warna. Sesungguhnya, unsure
ini telah dikenali oleh A.M.del Rio pada tahun 1801 yang ditemukan dalam bijih timbel yang
disebut eritronium. Namun sayangnya beliau sendiri yang membatalkan penemuan ini.Logam
ini tampak bersinar cemerlang, cukup lunak sehingga mudah dibentuk seperti pembuluh,
mempunyai titik leleh 1915
0
C titik didih 3350
0
C, serta tahan terhadap korosi.



Vanadium adalah unsur kimia dengan lambang V dan nomor atom 23. Ini adalah
lembut, abu-abu keperakan, ulet logam transisi. Pembentukan sebuah menstabilkan lapisan
oksida logam terhadap oksidasi. Andrs Manuel del Ro vanadium menemukannya pada
tahun 1801 dengan menganalisis mineral vanadinite, dan menamainya erythronium. Empat
tahun kemudian, ia diyakinkan oleh Nils Gabriel Sefstrm pada tahun 1831. Pada 1831, ahli
kimia Swedia, Nils Gabriel Sefstrm, menemukan kembali unsur oksida yang baru
ditemukan saat ia bekerja dengan bijih besi. Kemudian pada tahun yang sama, Friedrich
Whler dikonfirmasi sebelumnya del Ro bekerja. Sefstrm memilih nama yang diawali
dengan V, yang tidak ditugaskan untuk setiap elemen. Dia memanggil unsur vanadium
setelah Vanadis (nama lain untuk Freya, yang Norse dewi keindahan dan kesuburan), karena
banyaknya berwarna indah senyawa kimia yang dihasilkan. Pada 1831, para ahli geologi
George William Featherstonhaugh menyarankan agar vanadium harus diganti "rionium"
setelah del Ro, namunsaraninitidakdiikuti. Isolasi logam vanadium ternyata sulit. Pada 1831,
Berzelius melaporkan produksi logam, tapi Henry Enfield Roscoe Berzelius telah
menunjukkan bahwa sebenarnya menghasilkan nitrida, vanadium nitrida (VN). Roscoe
akhirnya menghasilkan logam pada tahun 1867 oleh pengurangan vanadium (III) klorida,
VCL 3, dengan hidrogen. Pada tahun 1927, vanadium murni diproduksi dengan mengurangi
vanadium pentoxide dengan kalsium. Yang pertama industri skala besar penggunaan
vanadium dalam baja ditemukan di chassis dari Ford Model T, terinspirasi oleh mobil balap
Perancis. Baja diperbolehkanuntuk mengurangi beratbadansekaligusvanadium
meningkatkankekuatantarik.

(http://zeiniszzn17.blogspot.com/2010/03/siklus-boigeokimia-vanadium-v.html)

Vanadium juga merupakan suatu logam lembut dan silver-gray unsur metalik.
Nomor-Atom nya adalah 23 dan lambang V. Henry Roscoe mengasingkan vanadium metalik
tahun 1867. Ia mengambil klorid vanadium (VCL3) dan menguranginya dengan hidrogen
untuk membentuk vanadium yang metal dan zatair-khlor (HCL).Vanadium merupakan
sumber daya di Amerika Serikat, dimana pada umumnya dengan bijih uranium di (dalam)
batu pasir yang cukup besar untuk menyediakan U.S. kebutuhan vanadium. Mengimport
produk vanadium dan ferrovanadium itu ternyata lebih murah dan sering dilakukan di
Amerika. Ferrovanadium yang diimport dibeli dari Canada, Negeri China, Cekoslovakia
Republik, Selatan Afrika, dan negara-negara lain. Mayoritas vanadium pentoxide digunakan
di (dalam) pabrikasi gelas diimport dari Selatan Afrika. Ilmuwan sudah menemukan bahwa
suatu campuran yang menyangkut galium dan vanadium unsur-unsur adalah bermanfaat di
dalam membuat superconductive magnit.
(http://geo-student.blogspot.com/2010/01/macam-macam-mineral-dan-kegunaannya.html)
Vanadium boleh diperolehi secara komersil dan penghasilan sampel di dalam makmal
biasanya tidak diperlukan. Dari segi penghasilan komersil pula, kaedah penghasilan logam
vanadium sebagai hasil utama biasanya tidak diperlukan kerana jumlah yang mencukupi
boleh didapati dalam bentuk hasil sampingan proses-proses lain.
Dalam bidang industri, pemanasan bijih vanadium atau baki daripada proses-proses
lain bersama garam, NaCl, atau natrium karbonat, Na
2
CO
3
, pada kira-kira 850 C
memberikan natrium vanadat NaVO
3
. Ia dilarutkan dalam air dan diasidkan untuk
menghasilkan pepejal merah yang kemudiannya dileburkan menjadi bentuk mentah
vanadium pentoksida, "V
2
O
5
". Penurunan vanadium pentoksida dengan kalsium, Ca,
menghasilkan vanadium tulen. Satu cara alternatif sesuai bagi penghasilan skala kecil adalah
penurunan vanadium pentaklorida, VCl
5
, dengan hidrogen, H
2
, atau magnesium, Mg.
Terdapat bermacam lagi kaedah yang boleh digunakan.
Secara industrinya, kebanyakan vanadium digunakan sebagai penambah untuk
memperbaiki ciri keluli. Biasanya tindak balas besi mentah dengan vanadium pentoksida
mentah "V
2
O
5
" sudah mencukupi, dan tidak perlu menggunakan logam vanadium tulen. Ini
menghasilkan ferovanadium yang sesuai untuk kerja-kerja seterusnya.
2.2.5.SIFAT KIMIA VANADIUM

Sifat-sifat :
Dipanaskan dalam H
2
(tanpa gas lain) pada 1100
0
C membentuk vanadium
hibrida yang stabil.
Logam ini reaktif dalam keadaan dingin, bila dipanaskan terbentukV
2
O
(coklat), dipanaskan terus terbentuk V
2
O
3
(hitam), V
2
O
4
(biru), akhirnya V
2
O
5

(orange). Logam ini terbakar dengan nyala terang dengan oksigen.
Bila dipanaskan dengan C1
2
kering terbentuk VC1
4
.
Logam ini tidak bereaksi dengan air brom, HCl / dingin,melepaskan H
2

dengan HF dan membentuk larutan hijau.
Vanadium(V)oksida sebagai katalis Proses Contact
2.3. KROMIUM
2.3.1. SEJARAH KROMIUM
Ditemukan pada tahun 1797 oleh Vauquelin, yang membuat logam khrom pada tahun
berikutnya.. Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang Cr dan nomor atom 24. Khrom juga berwarna abu-abu, berkilau, keras sehingga
memerlukan proses pemolesan yang cukup tinggi.
Pada 1781 ia berhasil mengisolasi logam. Vanquelin kemudian memperoleh oksida
oleh penguapan dan akhirnya terisolasi kromium oksida dengan memanaskan dalam oven
arang. Vanquelin juga mengidentifikasi sejumlah kecil krom di ruby dan batu zamrud.
Vauquelin melanjutkan untuk menemukan Berilium pada tahun 1798.
Kromium berasal dari kata Yunani 'kroma', yang berarti warna karena membentuk
berbagai senyawa berwarna-warni.
(http://www.chemicool.com/elements/kromium.html)
Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cr
dan nomor atom 24. Kromium trivalen (Cr(III), atau Cr
3+
) diperlukan dalam jumlah kecil
dalam metabolismegula pada manusia. Kekurangan kromium trivalen dapat menyebabkan
penyakit yang disebut penyakit kekurangan kromium (CHROMIUM DEFICIENCY).
Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat.
Dengan sifat ini, kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen
bangunan maupun pada komponen kendaraan seperti knalpot pada sepeda motor. Perpaduan
Kromium dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan karat. Logam kromium murni tidak
pernah ditemukan di alam, umumnya berada dalam bentuk persenyawaan padat atau mineral
dengan unsur lain.
Kromium adalah logam yang tahan korosi oleh karena itu banyak digunakan sebagai
pelapis elektrolit dan inhibitor korosi dalam campuran baja (ALLOY). Senyawa kromium
dalam bentuk kromat dan dikromat sangat banyak digunakan oleh industri tekstil, fotografi,
pembuatan tinta dan industri zat warna. Tingkat bilangan oksidasi kromium yang sering
dijumpai adalah III dan VI. Cr(III) dalam larutan asam berupa ion Cr(H
2
O)
6
3+
, sedangkan
dalam larutan yang basa berupa ion Cr{(OH)
5
(H
2
O)}
2-
dan CR(OH)
6
3-
Cr(VI) dalam larutan
asam (pH lebih kecil dari 6) berupa ion HCrO
4
-
dan Cr
2
OH
4
2-
yang berwarna jingga,
sedangkan dalam larutan basa berupa ion CrO
4
2-
uang berwarna kuning. Pada pH yang rendah
(sangat asam) hanya ion Cr
2
O
7
2-
yang ada di dalam larutan. Kromium yang telah ditemukan
di alam kemudian masuk ke lingkungan melalui limbah industri dari lumpur elektroplating
seperti limbah penyamakan dan pabrik inhibitor korosi.
( http://id.wikipedia.org/wiki/Kromium)
2.3.2. KARAKTERISTIK KROMIUM
Kromium adalah unsure dengan nomor atom 21 yang paling banyak dalam kerak
bumi dengan konsentrasi rata-rata 100 ppm. Senyawa Kromium terdapat di dalam
lingkungan, karena erosi dari batuan yang mengandung kromium dan dapat didistribusikan
oleh letusan gunung berapi. Rentang konsentrasi dalam tanah adalah antara 1 dan 3000 mg /
kg, dalam air laut 5-800 g / liter, dan di sungai dan danau 26 g / liter dengan 5,2 mg / liter.
Hubungan antara Cr (III) dan Cr (VI) sangat tergantung pada pH dan oksidatif sifat lokasi,
tetapi dalam banyak kasus, Cr (III) adalah spesies dominan, meskipun di beberapa daerah di
tanah air dapat mengandung sampai 39 g dari total kromium dari 30 g yang hadir sebagai
Cr (VI).
Kromium merupakan logam perak, berkilau, sangat keras yang dapat mengambil
cermin semir tinggi. Hal ini juga tidak berbau, tawar, dan lunak. Logam membentuk lapisan
tipis oksida pelindung di udara, dan luka bakar ketika dipanaskan untuk membentuk oksida
kromium hijau (Cr
2
O
3).


(http://lovekimiabanget.blogspot.com/2010/04/kromium-cr.html)
)
2.3.5. SIFAT SIFAT KIMIA KROMIUM
Nomor Atom 24
Massa Atom 51,9961 g/mol
Golongan, periode, blok VI B, 4, d
Konfigurasi elektron [Ar] 3d
5
4s
1

Jumlah elektron tiap kulit 2, 8,13, 1
Afinitas electron 64,3 kJ / mol
-1

Ikatan energi dalam gas 142,9 5,4 kJ / mol
-1.

Panjang Ikatan Cr-Cr 249 pm
Senyawa beracun dan mudah terbakar
TUGAS LOGAM TRANSISI VANADIUM DAN KROMIUM DENGAN LIGANNYA
(V DAN CR)
UNSUR TRANSISI PEMBENTUK IKATAN VALENSI SENYAWA
KOMPLEKS

Menurut teori asam basa lewis , ion logam transisi menyediakan orbital d yang
kosong sehingga berperan sebagai asam lewis (akseptor pasangan elektron bebas) dan
ion atau molekul netral yang memiliki pasangan elektron bebas untuk didonorkan
berperan sebagai basa lewis.

Senyawa kompleks dengan atom pusat vanadium (V) dan kromium (Cr)

1. VANADIUM

Vanadium berasal dari kata vanadis,yaitu nama dewi kecantikan di Skandinavia,
pada mulanya ditemukan oleh N. G. Selfstrom di Swedia pada tahun 1830,
bersama sama dalam bijih besi. Disebut demikian karena senyawaannya kaya
akan warna. Sesungguhnya, unsure ini telah dikenali oleh A.M.del Rio pada tahun
1801 yang ditemukan dalam bijih timbel yang disebut eritronium. Namun
sayangnya beliau sendiri yang membatalkan penemuan ini.Logam ini tampak
bersinar cemerlang, cukup lunak sehingga mudah dibentuk seperti pembuluh,
mempunyai titik leleh 1915
0
C titik didih 3350
0
C, serta tahan terhadap korosi.

DENGAN ATOM PUSAT V DAN LIGAN KUAT

[V(CN)
6
] :
Atom V dengan konfigurasi ektron [Ar] 3d
3
4s
2


Oleh karena itu atom V dapat mengikat enam molekul CN
-

Atau Atom V
harus menyediakan enam buah orbital kosong. Proses hibridisasinya adalah
sebagai berikut :

23
V = 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
3
4s
2
23
V= [Ar] 3d
3
4s
2


3s 4s
Hibridisasi ion
23
V

dengan ligan kuat (CN
-
) membentuk senyawa kompleks
[V(CN)
6
]



23
V= [Ar] 4s
0
3d
5


3d 4s

23
V

tereksitasi= 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
5
4s
0
4p
0


23
V dalam

[V(CN)
6
]

=

CN CN CN CN CN CN

3d
2
4s

4p

Hibridisasi d
2
sp
3
(kompleks oktahedral) atau ion kompleks spin rendah / inner
orbital komplex karena orbital d yang dipakai dalam hibridisasi energinya lebih
rendah dari orbital s dan p

Karena orbital d yang digunakan dalam hibridisasi ini berasal dari orbital d yang
berada disebelah dalam orbital s dan p, maka kompleks dengan orbital hibrida
semacam ini disebut sebagai kompleks orbital dalam (inner orbital complex)

DENGAN ATOM PUSAT V DAN LIGAN LEMAH

[V(H
2
O)
6
]
2+
:

Atom V bermuatan 2+ dengan konfigurasi ektron [Ar] 3d
3
4s
2


Oleh karena itu atom V dapat mengikat enam molekul H
2
O

Atau Atom V
harus menyediakan enam buah orbital kosong. Proses hibridisasinya adalah
sebagai berikut :

23
V = 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
3
4s
2
23
V= [Ar] 3d
3
4s
2


3s 4s
Hibridisasi ion
23
V
+2
dengan ligan kuat (H
2
O) membentuk senyawa kompleks
[V(H
2
O)
6
]
2+




23
V
+2
= [Ar] 4s
0
3d
3


3d 4s

23
V
+2
tereksitasi= 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
3
4s
0
4p
0


23
V
+2
dalam

[V(H
2
O)
6
]
2+


=

H
2
O H
2
O H
2
O H
2
O H
2
O H
2
O

3d
2
4s

4p

Hibridisasi d
2
sp
3
(kompleks oktahedral) atau ion kompleks spin rendah / inner
orbital komplex karena orbital d yang dipakai dalam hibridisasi energinya lebih
rendah dari orbital s dan p

Karena orbital d yang digunakan dalam hibridisasi ini berasal dari orbital d yang
berada disebelah dalam orbital s dan p, maka kompleks dengan orbital hibrida
semacam ini disebut sebagai kompleks orbital dalam (inner orbital complex)

2. KROMIUM
Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang
Cr dan nomor atom 24. Kromium trivalen (Cr(III), atau Cr
3+
) diperlukan dalam
jumlah kecil dalam metabolismegula pada manusia. Kekurangan kromium
trivalen dapat menyebabkan penyakit yang disebut penyakit kekurangan kromium
(CHROMIUM DEFICIENCY). Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan
karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat.




DENGAN ATOM PUSAT Cr DAN LIGAN KUAT
1. ([Cr(NH3)
6
]
+
)


Atom Cr dengan konfigurasi ektron [Ar] 3d
4
4s
2


Oleh karena itu atom Cr dapat mengikat enam molekul en

Atau Atom Cr
harus menyediakan enam buah orbital kosong. Proses hibridisasinya adalah
sebagai berikut :

24
Cr = 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
4
4s
2
24
Cr = [Ar] 3d
4
4s
2


3s 4s
Hibridisasi ion
24
Cr
+
dengan ligan kuat (NH
3
) membentuk senyawa kompleks
([Cr(NH3)
6
]
+
)




24
Cr
+1
= [Ar] 4s
0
3d
5


3d 4s


24
Cr
+1
tereksitasi= 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
5
4s
0
4p
0



24
Cr
+1
dalam ([Cr(NH3)
6
]
+
)

=

NH
3
NH
3
NH
3
NH
3
NH
3
NH
3


3d
5
4s

4p

Hibridisasi d
2
sp
3
(kompleks oktahedral) atau ion kompleks spin rendah / inner
orbital komplex karena orbital d yang dipakai dalam hibridisasi energinya lebih
rendah dari orbital s dan p



DENGAN ATOM PUSAT Cr DAN LIGAN LEMAH
1. ([Cr(H
2
O)
6
]
3+)

Atom Cr dengan konfigurasi ektron [Ar] 3d
4
4s
2


Oleh karena itu atom Cr dapat mengikat enam molekul en

Atau Atom Cr
harus menyediakan tiga buah orbital kosong. Proses hibridisasinya adalah sebagai
berikut :

24
Cr = 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
4
4s
2
24
Cr = [Ar] 3d
4
4s
2


3s 4s
Hibridisasi ion
24
Cr
3+
dengan ligan kuat (H
2
O) membentuk senyawa
kompleks

([Cr(H
2
O)
6
]
3+)



24
Cr
+3
= [Ar] 4s
0
3d
3

3d 4s



24
Cr
+3
tereksitasi= 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
3
4s
0
4p
0



24
Cr
+3
dalam ([Cr(H
2
O)
6
]
3+
)

=

H
2
O H
2
O H
2
O H
2
O H
2
O H
2
O

3d
2
4s

4p
3


Hibridisasi d
2
sp
3
(kompleks oktahedral) atau ion kompleks spin rendah / inner
orbital komplex karena orbital d yang dipakai dalam hibridisasi energinya lebih
rendah dari orbital s dan p




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a. Senyawa koordinasi adalah senyawa yang mengandung satu atau lebih ion kompleks
dengan sejumlah kecil molekul atau ion di seputar atom atau ion logam pusat,
biasanya dari logam golongna transisi.
b. Vanadium adalah logam berwarna putih kelabu yang lembut dan mulur. Ia
mempunyai daya tahan kakisan yang baik terhadap al-kali, asid sulfurik dan asid
hiroklorik. Ia bersedia untuk teroksida pada kira-kira 933 K. vanadium mempunyai
kekuatan struktur yang baik dan keratin rentas belahan neutron yang rendah,
menyebabkannya berguna dalam aplikasi nuclear. Walupun ia sejenis logam,
vanadium bersama dengan kromium dan mangan mempunyai cirri-ciri oksida valensi
yang bersifat asid.
c. Kromium logam masif, berwarna putih perak, dan jika murni dengan titik leleh kira-
kira 1900
o
C dan titik didih kira-kira 2690
o
C. Logam ini sangat tahan terhadap korosi,
karena reaksi dengan udara menghasilkan lapisan Cr
2
O
3
yang bersifat nonpori
sehingga mampu melindungi logam yang terlapisi dari reaksi lebih lanjut. Dengan
sifat logam yang tahan korosi, manfaat utama kromium yaitu sebagai pelapis logam
atau baja.












DAFTAR PUSTAKA

http://wanibesak.wordpress.com/2010/11/14/senyawa-kompleks-dan-tatanama-senyawa
kompleks/

http://www.ilmukimia.org/2013/04/tata-nama-senyawa-kompleks.html

http://imamrezpector79.wordpress.com/2012/07/25/makalah-unsur-unsur-transisi-periode-
keempat/

Maulana Irfan. 2008. Pembentukan Senyawa Kompleks dari Logam Gadolinium Dengan
Ligan Asam Dietilenrriaminpentaasetat (DTPA). Jurnal Universitas Padjajaran, Bandung.

Mudasir. 2009. Memahami Interaksi Senyawa Kompleks Dengan DNA: Langkah maju
Mencari Senyawa Kandidat Antikanker. Jurnal Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.