Anda di halaman 1dari 27

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah


Dalam dasawarsa terakhir, Indonesia telah mengalami suatu transformasi politik
yang luar biasa namun masih berjuang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang
kokoh. Sementara negaranegara lain di kawasan Asia, seperti !ietnam dan "ina telah
mengalami peningkatan tingkat in#estasi, Indonesia terus menghadapi isuisu kemiskinan
dan tingkat pengangguran yang mencengangkan. $enanggapi hal ini, Pemerintah
Indonesia telah mendorong pembangunan ekonomi dengan pembentukan dan
pengembangan Pelayanan Peri%inan &erpadu Satu Pintu untuk menyederhanakan proses
peri%inan usaha. 'ari ini, &he Asia (oundation merilis dua laporan yang menyoroti
kesempatankesempatan utama untuk meningkatkan kualitas peri%inan usaha dan
menetapkan sistemsistem yang lebih baik untuk mengukur pelayanan peri%inan di
Indonesia. )aporanlaporan ini diharapkan memberi informasi mengenai upayaupaya
reformasi pemerintah.
*$enelaah Peri%inan +saha di Indonesia, Suatu &injauan atas -ebijakan Peri%inan +saha
dan Sur#ei atas Pelayanan &erpadu Satu Pintu. adalah suatu studi mengenai kerangka
peri%inan tingkat nasional yang kompleks di negara ini dan bagaimana kebijakan
kebijakan ini dilaksanakan di tingkat kota/kabupaten. )aporan kedua, *$engukur -inerja
Pusat Pelayanan Peri%inan &erpadu Di Indonesia,. menyajikan suatu pendekatan baru
untuk mengukur kinerja pelayanan peri%inan terpadu di Indonesia untuk menilai seberapa
jauh instansi ini berhasil meningkatkan pelayanan peri%inan usaha.
-edua laporan tersebut didasarkan pada pendampingan teknis dan penelitian ektensif
yang dilakukan oleh &he Asia (oundation di kabupaten/kota. Pelayanan peri%inan terpadu
adalah instansiinstansi pemerintah yang memproses peri%inan dan memberikan i%ini%in
usaha umum, serta bertujuan menyediakan layananlayanan publik yang lebih cepat, lebih
singkat, dan lebih murah. Sejak tahun 0111, para mitra lokal &he Asia (oundation telah
membantu mendirikan atau meningkatkan lebih dari 22 Pusat Pelayanan &erpadu Satu
Pintu di Indonesia. &he Asia (oundation juga telah menjalin kerja sama erat dengan
pemerintah di tingkat pusat, pro#insi, dan kota/ kabupaten dalam hal reformasireformasi
kebijakan ekonomi.
*Pertumbuhan ekonomi Indonesia dihambat oleh suatu birokrasi peri%inan yang
kompleks, mahal, dan korup. Alat ukur kinerja Pelayanan Peri%inan &erpadu dapat
membantu pemerintah pusat, pro#insi, dan kota/ kabupaten untuk meningkatkan kualitas
dan efisiensi layanan peri%inan usaha,. ungkap 3eil $c"ulloch, Direktur Program
4eformasi 5konomi &he Asia (oundation.
Dalam tahuntahun terakhir ini, perbaikan kebijakankebijakan peri%inan usaha di
Indonesia tampaknya menjadi perhatian penting bagi pemerintah pusat maupun daerah.
Sejak akhir tahun 0116an, pusatpusat layanan yang pembentukannya diprakarsai
pemerintah ini telah berdiri di sekitar 768 dari keseluruhan 9:; kota dan kabupaten,
sementara Peraturan $enteri Dalam 3egeri <9/<66: mengumumkan upaya untuk
mengembangkan Pusat Pelayanan &erpadu Satu Pintu di seluruh dari 9:; kabupaten/kota
di Indonesia untuk menyederhanakan prosedurprosedur, mengurangi biaya, dan
menggabungkan persyaratanpersyaratan peri%inan usaha. -ementeriankementerian di
tingkat pusat berupaya memberikan arahan yang lebih jelas mengenai pelaksanaan
kebijakan peri%inan untuk membantu memperkokoh iklim in#estasi dan mendorong
pertumbuhan ekonomi.
4eformasireformasi ini telah terbukti mempunyai tantangannya tersendiri.
)aporanlaporan &he Asia (oundation menunjukkan bahwa masih banyak kebijakan yang
bermasalah, serta bahwa memahami dan mengukur dampak peningkatan layanan tersebut
adalah sesuatu yang tidak mudah. &emuantemuan dan rekomendasirekomendasi
spesifik dari kedua laporan tersebut meliputi,
Prosedur peri%inan yang kompleks menghambat pendirian, formalisasi, dan ekspansi
perusahaan baru di Indonesia. Begitu berteletelenya prosedur birokratik ini
menyebabkan hampir =68 sektor swasta dalam negeri masih bersifat informal dan tak
terdaftar. 4eformasi peri%inan pun menjadi suatu bidang yang dapat memicu
perkembangan usaha dengan cepat. Sebagian besar Pusat Pelayanan Peri%inan &erpadu di
kota/kabupaten belum mencapai potensi maksimal mereka. Studi yang dilakukan &he
Asia (oundation menunjukkan bahwa banyak dari pusat pelayanan terpadu tersebut
sejauh ini belum memangkas waktu maupun mengurangi persyaratanpersyaratan
peri%inan. 3amun terdapat cakupan kinerja yang sangat luas, di mana pusatpusat
pelayanan terpadu terbaik menunjukkan peningkatan yang besar dalam pemberian
layanan mereka.Peningkatan kinerja PusatPusat Pelayanan Peri%inan &erpadu di
Indonesia memerlukan reformasi di tingkat daerah maupun pusat. Pemerintahpemerintah
daerah perlu mengurangi perhatian pada bentuk kelembagaan dan lebih memfokuskan
untuk memastikan agar pusatpusat pelayanan peri%inan terpadu memiliki kewenangan
yang mereka perlukan. Pemerintah pusat perlu menyederhanakan peri%inan dengan
menjadikan pendaftaran usaha sebagai langkah pertama dan bukan yang terakhir dalam
proses peri%inan usaha secara umum, serta menghapuskan peri%inanperi%inan yang tidak
perlu atau yang berlebihan. Indeks -inerja Pelayanan Peri%inan &erpadu >I-P?dari &he
Asia (oundation merupakan suatu alat yang komprehensif untuk memantau peningkatan
peningkatan dalam kualitas Peri%inan Peri%inan &erpadu. -arena mengukur adanya
perubahan dalam hal waktu dan biaya peri%inan saja tidak cukup memberikan suatu
gambaran yang utuh, I-P menelaah beragam faktor yang mempengaruhi kinerja
Pelayanan Peri%inan &erpadu untuk memberikan suatu gambaran yang multidimensi.
I-P ditujukan untuk memulai suatu diskusi mengenai pengukuran kinerja pelayanan
peri%inan usaha. Indeks ini tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang kaku, dan karenanya
dapat disesuaikan dengan lingkungan daerah. I-P dapat digunakan untuk menunjukkan
kemajuan kinerja PP&SP dari waktu ke waktu, sekaligus untuk membandingkan kinerja
PP&SP antara satu daerah dengan daerah lainnya. Informasi ini kemudian dapat
digunakan untuk mengarahkan upayaupaya perkembangan kelembagaan di masa
mendatang atau untuk menciptakan insentifinsentif untuk meningkatkan layanan
peri%inan.
B. Rumusan Masalah
0. Bagaimana mekanisme peri%inan >menurut ++/PP/Perpres/Per/Pergub/perturan
Bupati/dinas? @ persyaratan proposal, prosedur lembaga yang berwenang,
penyelesaian sengketa >jika ada sengketa? dll
<. bagaimana hak dan kewajiban masingmasing pihak >pemerintah dan orang/badan
hukum?
7. bagaimana peran pemerintah untuk mengawasi peri%inan tersebut
9. apakah kendala yang dihadapi >oleh pemerintah dan orang atau badan hukum?
ketika mengurus peri%inan dan ketika menjalankan akti#itas?
2. analisis bagaimana cara mengatasinya atas yang dihadapi
pemerintah/swasta/badan hukumA
Bawab
A. mekanisme peri%inan.
0. ++ nomor <2 tahun <66; tentang penanaman modal mengatur mengenai
pelayanan terpadu satu pintu. Dalam BAB I pasal 0 3omor 06 tentang
ketentuan umum bahwa , pelayanan terpadu satu pintu adalah kegiatan
penyelenggaraan suatu peri%inana dan non peri%inana yang mendapat
pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang
memiliki kewenanngan peri%inanan dan non peri%inan yang proses
pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap
ditebitkannya dokumen yang dalam satu tempat.
<. +ndang+ndang 3omor 9 &ahun <661 tentang pertambangan mineral dan
batubara
Pasal ;
Ayat >0? -ewenangan pemerintah pro#insi dalam pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara, antara lain, adalah,
a. pembuatan peraturan perundangundangan daerahC
b. pemberian I+P, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha pertambangan pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut
9 >empat? mil sampai dengan 0< >dua belas? milC
c. pemberian I+P, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada pada lintas
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 9 >empat? mil sampai dengan 0<
>dua belas? milC
d. pemberian I+P, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha pertambangan yang berdampak lingkungan langsung lintas
kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 9 >empat? mil sampai dengan 0< >dua
belas? milC
e. pengin#entarisasian, penyelidikan dan penelitian serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sesuai dengan
kewenangannyaC
f. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan
batubara, serta informasi pertambangan pada daerah/wilayah pro#insiC
g. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada daerah/wilayah
pro#insiC
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan di
pro#insiC
i. pengembangan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha
pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkunganC
j. pengoordinasian peri%inan dan pengawasan penggunaan bahan peledak di
wilayah tambang sesuai dengan kewenangannyaC
k. penyampaian informasi hasil in#entarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian
serta eksplorasi kepada $enteri dan bupati/walikotaC
l. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor
kepada $enteri dan bupati/walikotaC
m. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambangC dan
n. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah pro#insi dan pemerintah
kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan
pasal =
ayat >0? -ewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara, antara lain, adalah,
a. pembuatan peraturan perundangundangan daerahC
b. pemberian I+P dan IP4, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah
laut sampai dengan 9 >empat? milC
c. pemberian I+P dan IP4, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan
pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada di
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 9 >empat? milC
d. pengin#entarisasian, penyelidikan dan penelitian, serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubaraC
e. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi mineral dan batubara, serta
informasi pertambangan pada wilayah kabupaten/kotaC
f. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada wilayah
kabupaten/kotaC
g. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha
pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkunganC
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah dan manfaat kegiatan usaha
pertambangan secara optimalC
i. penyampaian informasi hasil in#entarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian,
serta eksplorasi dan eksploitasi kepada $enteri dan gubernurC
j. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor
kepada $enteri dan gubernurC
k. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambangC dan
l. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah kabupaten/kota dalam
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
Dari dua ketetuan pasal diatas dapat disimpulkan bahwa i%in usaha pertambangan
dapat dilakukan di tingkat kabupaten atau kota, sehinggah pelaksanaan i%innya
dilakukan secara parsial/ terbagibagi.
7. Peraturan Pemerintah nomor 7= tahun <66; tentang pembagian urusan
pemerintahan anatara pemerintah, pemerintah daerah propinsi dan pemeintah
daerah kabupeten atau kota.
9. P&SP ini dibentuk dan diatur berdasrakan peraturan presiden nomor <; tahun
<661 serta ditindaklanjuti dengan perturan kepala B-P$ nomor 00 tahun <600
dan nomor 0< tahun <600. dalam BAB I ketentuan umum pasal 0 peraturan
presidebn nomor <; tahun <661 tentang pelayanan terpadu satu pintu di bidang
penanaman modal menyebutkan bahwa , .pelayanan terpadu satu pintu, yang
selanjutnya di singkat P&SP adalah kegiatan pelaksanaan suatu peri%inan dan
non peri%inan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari
lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan peri%inan dan non peri%inan,
yang proses penegelolahannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan
tahap terbitnay dokumen, yang dilakukan dalam satu tempat.
Selanjutnya penyelenggaran P&SP di tingkat prop#insi diseerahkan pada PDPP$
>perangkat daerah propinsi bidang penananaman modal?
7. pada tahun <66: juga muncul suatu kebijakan mengenai konsep pelayanan
peri%inanan terpadu satu pintu yang dituangkan ke dalam bentuk peraturan
menteri dalam negeri nomor <9 tahun <66: tentang pedomaan penyelenggaraan
terpadu satu pintu,. Peraturan meneteri tersebut menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan penyelenggaraan terpadu satu pintu adalah kegiatan
penyelenggaraan suatu peri%inana dan non peri%inana yang proese
pengeleolalahannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap
diterbitkannya dokumen yang dilakukannya dalam satu tempat.
9. +ntuk menindaklanjuti kebijakan dalam bentuk peraturan sebagaimana yang
teretera di atas, Dubernur sebagai kepala daerah pro#insi DIE, telah
mengeluarakan peraturan gubernur daerah istimewah yogykarta 3omor 2=
tahun <66= tentang rincian tugas dan fungsi badan dan unit pelaksana teknis
pada badan kerjasama dan penanaman modal sebagaimana diubah dalam
peruturan gubernur daerah istimewah yogyakarta nomor 91 tahun <606 tentang
rincian tugas dan fungsi badan dan unit pelkasanan teknis pada badan kerja
sama dan penanaman modal.yang mana salah satu tugas dari B-P$D
yogyakarta adalah .memeberikan rekomendasi teknis peri%inanan penanaman
modal..
2. Perka nomor 0< tahun <661 tentang pedomaan tata cara permohonan
penanaman modal. Pasal 9 ayat < peraturan ini berbunyi , tata cara peri%inan
dan non peri%inanan meliputi ,
0. pesyaratan teknis dan non teknis
<. tahapan memperoleh peri%inan dan non peri%inanan
7. mekanisme pengawasan dan sanksi
pasal 07 peraturan ini berbunyi
ayat 0 jenis pelayananan penanaman modal adalah ,
a. pelayanan peri%inan
b. pelayanan non peri%inan
ayat < jenis peri%inan penanaman modal antara lain ,
a. pendaftaran penanaman modal
b. i%in prinsip penanaman modal
c. ijin prinsip perluasan penanaman modal
d. ijin prinsip prubahan penanaman modal
e. ijin usaha, ijin usaha perluasan, ijin usaha penggabungan prusahaan
penamanan modal dan i%in usah perubahan
f. i%in lokasi
g. persetujuan pemanfaatn ruang
h. I$B
i. ijin ganguan
j. surat i%in pengambilan air bawh tanah
k. tanda daftar prusahaan
l. hak atas tanah
m. ijinijin lainnya dalam rangka pelaksanaan penanaman modal
mengenai waktu pemberian dapat lihat dalam tabel dibawah ini >sesuai dengan
Perka 3omor 0< tahun <661?

Badi dapat disimpulkan dari beberapa perturan di atas bahwa segala bentuk peri%inanan
dan non peri%inan dapat dilakukan melalui P&SP.
B. Bagaimana 'ak dan kewajiban masingmasing pihakA
++ 3omor <2 tahun <661 tentang pelayanan publik Bab I! >pasal 09, 02,, 0= dan01?
isinya ,
B. 'ak dan kewajiban >pemerintah/orang/badan hukum?
pasal 14
peneyelenggara memiliki hak ,
a. memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya
b. melakukan kerja sama
c. mempunyai anggaran penyelenggaraan pembiayaan publik
d. melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai dengan
kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publikC dan
e. menolak permin taan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan perundang
undangan.
Pasal 15
peneyelenggara berkewajiban ,
a. menyusun dan menetapkan standar pelayanan
b. menyusun, menetapkan, dan memublikasikan maklumat pelayanan
c. menernpatkan pelaksana yang kompetenC
d. menyediakan sarana, prasarana, dan/ atau fasilitas pelayanan publik yang mendukung
terciptanya iklim pelayanan yang memadaiC
e. memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas penyelenggaraan
pelayanan publik
f. melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayananC
g. berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan perundangundangan yang terkait dengan
penyelenggaraan pelayanan publikC
I. memberikan pertanggungjawaban terhadap pelayanana yang diselenggarakan
B. membantu masyarakat dalam memahami hak dan tanggung jawabnyaC
k. bertanggung jawab dalarn pengelolaan organisasi penyelenggara pelayanan publikC
l. memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan hukum yang berlaku apabila
mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab atas posisi atau jabatanC dan
m. memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir atau melaksanakan
perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang dari lembaga
negara atau instansi pemerintah yang berhak, berwenang, dan sah sesuai dengan
peraturan perundangundangan.
Pasal 18
masyarakat berhak ,
a. menegetahui kebenaran isi standar pelayanan
b. mengawasi pelaksanaan standar pelayanan
c. mendapat tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan
d. mendapat ad#okasi/ perlindungan, dan atau pemenuhan pelayanan
e. memeberitahukan kepada pimpinanan peneyelenggara untuk
memperbaiki pelayananan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai
dengan standar pelayanan
f. memberitahukan kepada pelaksana untuk memperbaiki pelayanan apabila
pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan
g. mengadukan pelaksana yang melakukan penyimpangan standar
pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada penyelenggara
dan ombudsman
h. mengadukan penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar
pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina penyelenggara
dan ombusdman
I. mendapat pelayanan berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan
Pasal 19
masyarakat berkewajiban ,
a. mematuhi dan memenuhi ketentuan sebagaimana yang dipersyaratkan dalam
standar pelayanan
b. ikut menjaga terpeliharanya sarana, prasarana dan/atau fasilitas pelayanan
publik
c. berpartisipasi aktif dalam mematuhi peraturan yang terkait dengan
peneyelenggaran publik
". bagaimana peran pemerintah lebih khusus pemerintah untuk mengawasi
peri%inanA
Izin adalah kewenangan administratif yang dimiliki oleh pemerintah
sebagai salah satu sarana untuk mengawasi aktifitas masyarakat. Izin adalah
persetujuan yang didasarkan pada kekuasaan mengatur pemerintah
beralaskan hukum dimaksudkan sebagai alat untuk kebaikan bagi
masyarakat. Izin sebagai sarana pengendalian.
peri%inan merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan
puiblik, demikian juga peri%inan yang terkait dengan kegiatan usaha. Proses
peri%inan, khususnya peri%inan usaha, secara langsung akan berpengaruh
terhadap keinginan dan keputusan calon pengusaha maupun in#estor untuk
menanamkan modalnya. Demikan pula sebaliknya, jika proses peri%inan
tidak efisien, berbelitbelit, dan tidak transparan baik dalam hal waktu,
biaya, maupun prosedur akan berdampak terhadap menurunnya keinginan
orang untuk mengurus peri%inan usaha, dan mereka mencari tempat
in#estasi lain yang prosesnya lebih jelas dan transparan. 'al ini tentu saja
selanjutnya akan berdampak terhadap ketersediaan lapangan kerja dan
masalahmasalah ketenagakerjaan lainnya.
-omitmen pemerintah pusat untuk memperbaiki iklim in#estasi
faktanya menunjukkan bahwa dari sisi waktu, Indonesia masih menjadi
negara yang belum proin#estasi. $eskipun dari sisi potensi in#estasi di
Indonesia sangat besar, termasuk potensi pasarnya, namun jika hal ini tidak
diimbangi dengan pelayanan peri%inan yang responsif, maka in#estasi usaha
pun tidak akan maksimal. Diterbitkannya Surat -eputusan Bersama >S-B?
$enteri Perdagangan, $enteri Dalam 3egeri, $enteri &enaga -erja dan
&ransmigrasi, $enteri 'ukum dan 'A$, serta -epala B-P$ untuk
mempercepat proses pembuatan i%in usaha dari :6 hari menjadi 0; hari
mulai awal Banuari <606 menjadi angin segar bagi para pelaku bisnis,
apalagi bagi para calon in#estor. Apabila kita mengacu pada data
International (inance "orporation Indonesia justru memiliki jumlah hari
yang lebih banyak >;: hari?, 0; hari lebih banyak dari klaim pemerintah saat
ini >:6 hari?.
3o 3egara
&ahun
<662 <66: <66; <66= <661
0 Singapor
e
= : : 2 9
< &hailand 77 77 77 77 =
7 $alaysia 76 76 76 <9 07
9 filipina 26 9= 9= 9= 02
2 indonesia 020 020 1; 062 ;:
: kamboja 19 =: =: =: =2
; laos 01= 01= 01< 067 067
Sumber, International (inance "orporation, dalam 4PB$3 <606Bappenas
Falaupun dalam lima tahun terakhir, jumlah hari untuk memulai
usaha di Indonesia terus mengalami penurunan, tetapi saja masih kalah
dibandingkan dengan negaranegara AS5A3 utama. Indonesia masih kalah
dari Singapura, &hailand, (ilipina dan #ietnam yang menduduki peringkat
satu, dua, tiga dan empat sebagai negara yang paling cepat memberikan
pelayanan untuk memulai usaha. Pemangkasan waktu yang sangat besar >0;
hari? memang layak diapresiasi, selain akan menjadi daya tarik bagi in#estor,
pemangkasan ini juga akan meningkatkan peringkat Indonesia sebagai
negara tujuan in#estasi yang potensial di dunia. Ada sekitar ;6 peri%inan
yang dapat dipangkas agar proses memulai usaha di Indonesia dapat lebih
efisien dan murah. $unculnya konsep sistem pelayanan peri%inan satu atap
elektronik untuk peri%inan usaha diharapkan dapat memangkas ;6 peri%inan
yang tidak perlu karena seluruh proses peri%inan dapat dilakukan di satu
atap.
Gtonomi daerah sejatinya mendekatkan penyelenggaraan pelayanan
publik kepada masyarakat. Dalam bidang peri%inan, pendelegasian otoritas
kewenangan sebenarnya juga telah diatur dalam peraturan otonomi daerah.
Berdasarkan -eppres 3o.00;/0111, keterlibatan daerah dalam bidang
penanaman modal, khususnya pelayanan peri%inan yaitu penerbitan I%in
)okasi, I%in $endirikan Bangunan >I$B?, dan I%in Dangguan >'G?. I%in
i%in ini sebenarnya diperlukan oleh pemilik modal >in#estor? yang akan
melakukan kegiatan usaha di daerah. 3antinya, setelah i%ini%in selesai
dibuat, maka in#estor akan mendapatkan I%in +saha &etap. Pasca tahun
0111, kewenangan daerah menguat dalam penerbitan i%in penanaman modal
di daerah. -ewenangan peri%inan penanaman modal yang tadinya hanya
dimiliki oleh pemerintah pusat, pada akhirnya dapat menangani dan
menerbitkan i%in yang terkait dengan penanaman modal.
Iklim penanaman modal di daerah yang demikian kemudian menjadi pijakan pusat
untuk menarik kembali kewenangan di bidang penanaman modal yang telah
didesentralisasikan ke daerah. $elalui -eppres 3o.<1/<669, pelayanan
persetujuan, peri%inan dan fasilitas penanaman modal dalam rangka P$A dan
P$D3 kembali dilaksanakan terpusat pada B-P$ melalui Sistem Pelayanan Satu
Atap. -eppres 3o.<1/<669 tersebut memang bukan -eppres pencabutan
kewenangan daerah dalam pelayanan peri%inan penanaman modal hanya
menyebutkan bahwa gubernur/bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan
pelayanan persetujuan, peri%inan, dan fasilitas penanaman modal kepada B-P$,
tetapi merupakan prakondisi bagi proses resentralisasi.
Perihal kewenangan daerah di bidang penanaman modal ditegaskan
kemudian dalam ++ 3o.7</<669 &entang Pemerintahan Daerah bahwa lingkup
kewenangan daerah di bidang penanaman modal adalah dalam penyelenggaraaan
pelayanan administrasi penananaman modal. &idak ada penjelasan detail tentang
ketentuan tersebut, demikian pula belum ada kebijakan turunan untuk
menjabarkan ketentuan dimaksud. 3amun demikian, penggunaan istilah
*administrasi. tampaknya merupakan pembatasan terhadap kewenangan daerah di
bidang penanaman modal. -eluarnya keputusan presiden 3omor <1 &ahun <669
merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat dalam memberikan
kemudahan bagi para in#estor sekaligus sebagai daya tarik untuk menarik
in#estasi ke Indonesia.
Pertimbangan utama lahirnya -eppres ini dalam rangka meningkatkan
efekti#itas menarik in#estor berin#estasi di Indonesia. Banyaknya sur#ei dan
kajian yang memberikan gambaran tidak responsifnya aparatur pemerintah dalam
memberikan pelayanan peri%inan turut membentuk lahirnya pendekatan Sistem
Pelayanan Satu Pintu >Gne Stop Ser#ices? untuk pelayanan peri%inan. Selain itu,
perlunya penyederhanaan pelayanan penyelenggaraan penanaman modal turut
menguatkan implementasi pola Pelayanan Satu Atap.
sistem Pelayanan Satu Atap ini berdasarkan Pasal : -epres 3o.<1 &ahun
<669 dilaksanakan oleh -epala B-P$ pusat dan berkoordinasi dengan instansi
yang membina bidang usaha penanaman modal, seperti Departemen Perikanan dan
kelautan atau instansi terkait lainnya. Segala penerimaan yang timbul dari
pemberian penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap oleh B-P$, baik itu terkait
pemberian pelayanan persetujuan, peri%inan, dan fasilitas penanaman modal
diserahkan pada instansi yang membidangi usaha penanaman modal.
-eppres yang ditandatangani pada masa pemerintahan $egawati
Soekarno Putri ini memang masih terlihat ada sisi kelemahannya. Pertama,
B-P$ selaku instansi penyelenggara tidak diberikan kebijakan penuh untuk
menyelenggarakan Pelayanan Satu Atap di bidang penanaman modal. B-P$
harus selalu bekerja sama dengan instansi lain seperti Departemen Perindustrian
dan Perdagangan sebelum memutuskan layaknya tidaknya i%in yang akan
diberikan kepada calon in#estor. 'al ini membuat keberadaan B-P$ hanya
sebagai koodinator
saja dalam penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap. &idak ada pasal yang mengatur
secara jelas adanya pendelegasian wewenang dari instansi lain terkait otoritas
peri%inan in#estasi kepada B-P$. Selain itu, otoritas peri%inan lokal yang juga
tidak memiliki keharusan untuk mendelegasikan kewenangannya kepada B-P$
terkait penanaman modal tentunya tidak akan sukarela memberikan
kewenangannya. Dalam pasal 9 -eppres 3o.<2 &ahun <669,
Dubernur/Bupati/Falikota sesuai kewenangannya HdapatI melimpahkan
kewenangannya kepada otoritas penyelenggara Pelayanan Satu Atap >B-P$?
jika memang diperlukan. &idak ada pasal yang mengikat otoritas lokal wajib
mendelegasikan kewenangannya kepada B-P$. Gtoritas daerah dalam
menyelenggarakan peri%inan juga memiliki dasar hukum berdasarkan Peraturan
3o.<< &ahun 0111 dan Peraturan Pemerintah 3o.<2 &ahun <666. &idak ada
perubahan yang berarti di tingkat lokal, kecuali ada pendelegasian kewenangan
peri%inan dari otoritas local kepada B-P$.
Banyak pihak yang melihat -eppres 3o.<1 &ahun <669 Atap ini masih memiliki
kelemahan, baik regulatif maupun koordinatif. -elemahan pada aspek
regulatifnya bahwa -eputusan presiden 3o.<1 &ahun <669 merupakan contoh
lain dari regulasi legal yang gagal menyediakan dasar hukum yang jelas dan tidak
bermakna ambigu dalam masalah yang hendak ditangani. -eputusan ini memang
mengklarifikasi bahwa bagi pemerintah pusat, Pelayanan Satu Atap >Gne Stop
Ser#ice? merupakan pendekatan yang dianjurkan untuk berhubungan dengan
aplikasi in#estasi, dan bahwa BP-$ merupakan agen pemerintah yang
dianjurkan untuk menjalankan pelayanan GSS tersebut. 3amun demikian, dalam
melaksanakan peran itu BP-$ terus bergantung pada delegasi otoritas untuk
meluluskan in#estasi dari agen yang bersangkutan.
Adapun kelemahan dari sisi koordinatif, -eppres 3o.<1 &ahun <669
masih terkait dengan konsekuensi dari otoritas yang berbelit dan tumpang tindih,
seringkali dalam bentuk *pengambilalihan. kewenangan pelayanan yang bukan
kewenangannya oleh B-P$ selaku otoritas penyelenggara pelayanan Peri%inan
Satu Atap, dan dapat memengaruhi kurang maksimalnya kualitas pelayanan dan
adanya derajat perbedaan kualitas pelayanan pada berbagai tingkat in#estasi yang
ada mengingat banyaknya in#estasi yang harus diurus secara nasional.
Secara eksplisit, -eppres 3o.<1 &ahun <669 juga membawa implikasi
pada berkurangnya kewenangan daerah perihal pemberian persetujuan i%in dan
fasilitas penanaman modal karena dilimpahkan kembali ke pemerintah pusat,
termasuk proses pelayanan administrasinya. Daerah hanya menyelenggarakan
pelayanan administrasi di daerah >-abupaten/-ota? terkait penyelenggaraan
penanaman modal seperti I%in )okasi, I$B, I%in Dangguan >'G?. -etentuan ini
diatur mengikuti Instruksi $endagri 3o.<2 tahun 011= &entang Pelayanan
Peri%inan Satu Atap di Daerah. Selain tiga i%in di atas >I%in )okasi, I$B, dan I%in
Dangguan >'G?, Instruksi $endagri juga mengatur penyelenggaraan pelayanan
peri%inan lainnya, seperti Surat I%in +saha Perdagangan >SI+P?, I%in &rayek, I%in
Peruntukan Penggunaan &anah, -artu &anda Penduduk, dan Akta "atatan Sipil.
Alhasil, belum tiga tahun peraturan ini berjalan pemerintah kembali
mengeluarkan keputusan baru >instruksi perseiden nomor 7 tahun <66:?.
Deregulasi dan debiroktiasi sistem pelayananan peri%inan yang berlaku
saat ini, oleh beberapa badan, dinas, kantor terkait dalam bidang peri%inan
maupun dalam bidang lain merupakan hal yang mendesak dalam kaitannya
mempercepat pembangunan ekonomi kerakyatan dan pengentasan kemisikinan.
Pasal 1 ayat 0 Permendagri 3omor <9 tahun <66: menjelaskan bahwa
peneyelenggaraan pelayananan terpadu satu pintu adalah kegiatan
peneyelenggaraan peri%ianan dan non peri%inanan yang proses
penegelolahananya mulai dari tahap permohonan sampai ke tahap terbitnya
dokumen dilakukan dalam satu tempat. )ebih lanjut di dalam pasal <: ayat ><?
dan >7? ++ 3omor <2 &ahun <66; tentang penanaman modal disebutkan bahwa ,
><? * pelayanan terpadu satu pintu dilakukan oleh lembaga atau instansi yang
berwenang di bidang penanaman modal yang mendapat pendelegasian atau
pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan
peii%ianan dan non peri%inan di tingkat pusat atau lembaga atau instansi yang
berwenanag mengeluarkan peri%inan dan non peri%inan di pro#insi atau
kabupaten/kota.. >7? *ketentuan menganai tata cara dan pelaksanaan pelayanan
terpadu satu pintu sebagaimana dimaksud pada ayat ><? diatur dengan peraturan
presiden..
Pelayanan peri%inan dengan sistem terpadu satu pintu >one stop ser#ice?
ini membuat waktu pembuatan i%in menjadi lebih singkat, pasalnya dengan
pengurusan administrasi berbasis teknologi informasi, input data cukup dilakukan
sekali dan administrasi bias dilakukan simultan. Adanya kelembagaan pelayanan
terpadu satu pintu, seluruh peri%inan dan non peri%inan yang menjadi
kewenangan kabupaten/kota dapat terlayani dalam satu lembaga. Gleh karena itu,
diharapkan terwujud pelayanan publik cepat, murah, mudah, tranparan, pasti dan
terjangkau di samping untuk meningkatkan hakhak masyarakat terhadap
pelayanan publik.
Bentuk pelayanan terpadu ini bisa berbentuk kantor, dinas, ataupun badan.
Dalam penyelenggaraannya, bupati/walikota wajib melakukan penyederhanaan
layanan meliupti
0
,
0
0? Pelayanan atas permohonan peri%inan dan non peri%inan dilakukan P&SP
<? Percepatan waktu proses penyelesaian pelayanan tidak melebihi standar waktu
yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah
7? -epastian biaya pelayanan tidak melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan
dalam peraturan daerah
9? -ejelasan prosedur pelayanan dapat ditelusuri dan diketahui setiap tahapan proses
pemeberian peri%inan dan non peri%inan sesuai dengan urutan prosedurnya
2? $engurangi berkas kelengkapan permohonan peri%inan yang sama untuk dua atau
lebih permohonan peri%inan
:? Pembebasan biaya peri%inan bagi usaha mikro kecil menengah >+$-$? yang
ingin memulai usaha baru sesuai dengan peraturan yang berlaku
;? Pemberian hak kepada masyarakat untuk memperoleh informasi dalam kaitannya
dengan penyelenggaran pelayanan lingkup tugas PP&SP meliputi pemeberian
jadi dari penjelasan diatas terlihat dengan jelas begitu banyak kebijakankebijakan
melalui regulasi yang di tetapkan pemerintah untuk melakukan penyederhanaan proses
peri%inan sehinggah pengwasannyapun lebih mudah.
9. apakah kendala yang dihadapi >oleh pemerintah dan orang atau badan hukum?
ketika mengurus peri%inan dan ketika menjalankan akti#itasA
-endala yang dihadapi ketika mengurus peri%inanan ,
0. .satandarisasi sistem peri%inan yang kurang diterapkan oleh pemerintah
kabupaten atau kota padahal ini penting untuk mendukung data cadangan
kekayaan mineral dan batu bara yang dimiliki pemerintah. . menurut hemat
J
Pasal 9 ayat ><? Permendagri nomor <9 tahun <66:
saya, kewenangan untuk mengeluarkan peri%inan di bidang pertamabangan
harusnya dikeluarakan oleh pemerintah propinsi saja, agar standarirasi
peri%inan bisa lebih ketat sekaligus lebih mudah dikontrol oleh pemerintah
pusat, bayangkan kalau dilakukan di tingkat kabupaten atau kota maka
pengawasannya sangat sulit dilakukan, karena secara parsial. -ewenangan
pemberian i%in usaha diatur dalam ++ Pemerintah Daerah dan diturunkan
dalam Peraturan Pemerintah 3o. 7=/<66; tentang Pembagian +rusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Pro#insi, dan Pemerintah
-abupaten/-ota harus dire#isi lagi. 3amun mekanisme pemidahan
kewenanagan peri%inan harus dibahas lagi secara mendalam oleh pejabat
legislator agar tidak menyimpang dari prinsip otonomi daerah
<. Disisi lain saya juga berpendapat bahwa Pemindahan kewenanagan juga akan
mengacam PAD, hal ini justru tidak menciptakankan ketidakadilan antara
pendapatan kabupaten/kota dengan pendapatan propinsi padahal samapai saat
ini kabuypaten atau kota masih membutuhkan PAD yang besar untuk
membiayai belanja pegawainya.
7. Bagi orang atau badan hukum, cenderung menimbulkan ketidakpastian
terlebih lagi kalau IP4 dikeluarkan diatas tanah masyarakat ulayat, maka
kegiatan usahanya akan terhambat oleh karena masyarakat adat masih
mengakui kepemilikan tanah nenek moyang mereka, disisi lain proses
peri%inan yang berbelitbelit cenderung membuat in#estor enggan untuk
berin#estasi di Indonesia, hal yang sama dirasakan oleh in#estor yang
melakukan kegiatan pertambangan di lokasi Batu Dosok dan &ebedo, )abuan
bajo manggarai barat. -egiatan pertambangan ini dinilai liar karena in#estor
hanya mengantongi i%in kuasa pertambangan tanpa memegang surat i%in
lainnya saperti dokumen +-) dan surat i%in $enteri -ehutanan terhadap
kegiatan tambang di kawasan hutan &ebedo.
2. Analisisis cara mengatasinya
0. pemerintah, khususnya pemerintah daerah menurut hemat saya harus ada
standarisasi peri%inanan oleh pemerintah untuk mendukung data cadangan
kekayaan mineral dan batu bara yang dimiliki pemerintah.
<. 'arus dilakukan kajian secara mendalam berkaitan dengan lokasi potensi
pertambangan sehinggah tidak merusak lingkungan disekitar lokasi
pertambanagan yang dimaskud.
7. Bagi swasta/orang perorangan, hendaknya mematuhi perturan yang berlaku
agar kegiatan usahanya berjalan lancar dan tanpa hambatan
-5BIBA-A3 IKI3 P54&A$BA3ADA3 DI &I3D-A& DA54A'
Kasus
Geram Kecam Pemkab Mabar ( manggara Barat!
)AB+A3 BABG, PGS-+PA3D."G$ Derakan $asyarakat Anti &ambang >Deram?
mengecam sikap Pemerintah -abupaten $anggarai Barat >Pemkab $abar? yang dinilai
merusak kawasan hutan akibat kegiatan pertambangan.
-ecaman Deram ini disampaikan saat demonstrasi terhadap Pemkab $abar di )abuan
Bajo, Selasa ><;/06/<661?. Deram berharap kepolisian segera menuntaskan kasus
pelanggaran kegiatan pertambangan di wilayah hutan tutupan &ebedo.
Selain mengecam pemerintah, Deram meminta DP4D $abar memanggil Bupati $abar,
Drs. F. (idelis Pranda untuk memberikan penjelasan terkait kegiatan pertambangan yang
telah melanggar aturan. Aksi tersebut merupakan lanjutan kegiatan demo yang sudah
berlangsung empat kali.
Dalam pernyataan sikap, Deram menyebutkan bahwa kegiatan pertambangan di lokasi
Batu Dosok dan &ebedo sudah melanggar aturan yang berlaku. Pemberian i%in kuasa
pertambangan oleh bupati $abar kepada P& Drand 3usantara tidak sesuai prosedur.
-egiatan pertambangan juga dinilai liar karena in#estor hanya mengantongi i%in kuasa
pertambangan tanpa memegang surat i%in lainnya saperti dokumen +-) dan surat i%in
$enteri -ehutanan terhadap kegiatan tambang di kawasan hutan &ebedo. L -egiatan
tambang belum mendapat persetujuan publik. Bangan gunakan kekuasaan demi
kepentingan in#estor. Bangan rusak wilayah $anggarai Barat dengan kegiatan tambang
yang tidak jelas, L ujar (lorianus Adu, dalam orasinya.
Deram minta pemerintah bertanggung jawab terhadap semua kerusakan hutan yang
disebabkan kegiatan tambang. Dinas -ehutanan $abar dinilai tidak memiliki nyali dalam
menjaga kelestarian kawasan hutan sehingga membiarkan hutan rusak tanpa ada proses
hukum kepada pelanggar.
Dinas Pertambangan $abar juga dinilai turut terlibat dalam pelanggaran kerusakan hutan
&ebedo yana merupakan kawasan hutan tutupan namun ada akti#itas tambang yang
merusak wilayah itu.
Pantauan Pos -upang, Selasa ><;/06/<661?, aksi pendemo berjumlah sekitar 26 orang
melakukn long march dari lapangan -ampung +jung menuju -antor P&. Drand
3usantara, di 'otel Bajo Beach. $ereka lalu orasi <6 menit kemudian menuju Dedung
DP4D $abar, dan melanjutkan ke -antor Bupati $abar.
Di kantor bupati, Deram melakukan ritual potong ayam sebagai simbolis kematian
pemerintahan dan menaruh keranda mati di halaman kantor bupati. $ereka lalu bergerak
menuju Polres $abar untuk memberikan dukungan kepolisian dalam menuntaskan kasus
pelanggaran tambang yang tengah ditangani Polres $abar.
Bupati $abar, Drs. (idelis Pranda yang hendak dikonfirmasi soal aksi itu tidak berada di
tempat. Sementara -adis Pertambangan $abar, Bohanes Binus, tidak berhasil ditemui
wartawan >cc?