Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Osteoporosis adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan penurunan massa dan
densitas tulang serta gangguan arsitektur tulang normal. Berkurangnya kekuatan tulang,
maka risiko terjadinya fraktur akan meningkat.
1
Di negara berkembang insidensi penyakit degeneratif terus meningkat sejalan
dengan meningkatnya usia harapan hidup. Dengan bertambah usia harapan hidup ini,
maka penyakit degeneratif dan metabolik juga meningkat, seperti penyakit jantung
koroner, diabetes melitus, hipertensi, obesitas, dislipidemia, dan termasuk osteoporosis.
Di Cina, osteoporosis mencapai proporsi epidemik, terjadi peningkatan 300% dalam
waktu 30 tahun.13 Pada tahun 2002 angka prevalensi osteoporosis adalah 16,1%.
Prevalensi di antara pria adalah 11,5%, sedangkan wanita sebesar 19,9%.
2
Di negara maju seperti Amerika Serikat, kira-kira 10 juta orang usia diatas 50 tahun
menderita osteoporosis dan hampir 34 juta dengan penurunan massa tulang yang
selanjutnya berkembang menjadi osteoporosis. Empat dari 5 orang penderita
osteoporosis adalah wanita, tapi kira-kira 2 juta pria di Amerika Serikat menderita
osteoporosis, 14 juta mengalami penurunan massa tulang yang menjadi risiko untuk
osteoporosis.
3
World Health Organization (WHO) memasukkan osteoporosis dalam daftar 10
penyakit degeneratif utama di dunia.1 Tercatat bahwa terdapat kurang lebih 200 juta
pasien di seluruh dunia yang menderita osteoporosis.
3
Prevalensi osteoporosis di Indonesia tidak diketahui secara pasti. Untuk memberikan
gambaran umum terjadinya osteoporosis di Indonesia, telah dilakukan tes saring
menggunakan ultrasound bone density yang diadakan pada tahun 2002 di 5 kota besar.
Hasilnya menunjukan bahwa dari keseluruhan masyarakat yang dilakukan tes saring,
35% menunjukkan hasil yang normal, 36% menunjukkan adanya osteopenia, sedangkan
29% telah terjadi osteoporosis.
3
B. Tujuan
C. Manfaat


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Osteoporosis
Osteoporosis adalah suatu penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan
menurunnya massa tulang, dikarenakan berkurangnya matriks dan mineral yang disertai
dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan tulang, sehingga terjadi penurunan
kekuatan tulang.
4
World Health Organization (WHO) secara operasional mendefinisikan
osteoporosis berdasarkan Bone Mineral Density (BMD), yaitu jika BMD mengalami
penurunan lebih dari -2,5 SD dari nilai rata-rata BMD pada orang dewasa muda sehat.
3
B. Faktor Risiko Osteoporosis
Faktor risiko Osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak dapat
dikendalikan dan yang dapat dikendalikan. Berikut ini faktor risiko osteoporosis yang
tidak dapat dikendalikan :
5
1. Jenis kelamin
Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar dibandingkan
kaum pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun
kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
2. Usia
Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara alamiah
tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Osteoporosis pada usia
lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan menurunnya
kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium.
3. Ras
Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis. Karena
itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih tinggi
terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam. Ras Afrika memiliki massa tulang
lebih padat dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot yang
lebih besar sehingga tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon
estrogen yang lebih tinggi pada ras Afrika.


4. Menopause
Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena tubuh tidak lagi
memproduksinya. Padahal hormon estrogen dibutuhkan untuk pembentukan tulang
dan mempertahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon estrogen seiring
dengan bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan tulang sehingga terjadi
pengeroposan tulang, dan tulang mudah patah.
5. Riwayat Keluarga
Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa tulang
yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi terkena osteoporosis.
Berikut ini faktor faktor risiko osteoporosis yang dapat dikendalikan. Faktor-faktor
ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup.
1. Kurang Kalsium
Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang maka tubuh
akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain,
termasuk yang ada di tulang.
2. Aktivitas Fisik
Latihan beban akan memberikan penekanan pada rangka tulang dan menyebabkan
tulang berkontraksi sehingga merangsang pembentukan tulang. Kurang aktifitas
karena istirahat di tempat tidur yang berkepanjangan dapat mengurangi massa tulang.
Hidup dengan aktifitas fisik yang cukup dapat menghasilkan massa tulang yang lebih
besar.
3. Merokok
Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan perokok.
Telah diketahui bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen lebih rendah dan
mengalami masa menopause 5 tahun lebih cepat dibanding wanita bukan perokok.
Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam hal
penyerapan dan penggunaan kalsium. Akibatnya, pengeroposan tulang/osteoporosis
terjadi lebih cepat.
4. Minuman beralkohol atau bersoda
Konsumsi alkohol yang berlebihan selama bertahun-tahun mengakibatkan
berkurangnya massa tulang. Alkohol dapat secara langsung meracuni jaringan tulang
atau mengurangi massa tulang karena adanya nutrisi yang buruk. Hal ini disebabkan
karena pada orang yang selalu menonsumsi alkohol biasanya tidak mengkonsumsi
makanan yang sehat dan mendapatkan hampir seluruh kalori dari alkohol.
Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein (caffein). Fosfor akan
mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang, sedangkan kafein
meningkatkan pembuangan kalsium lewat urin.
5. Stres
Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang
diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan
meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan
tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis.
6. Bahan Kimia
Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan (sayuran
dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah industri seperti
organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel
tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan membuat
pengeroposan tulang
C. Patofisiologi Osteoporosis
Penyebab utama osteoporosis adalah gangguan dalam remodeling tulang sehingga
mengakibatkan kerapuhan tulang. Terjadinya osteoporosis secara seluler disebabkan oleh
karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi dari jumlah dan aktivitas sel osteoblas
(sel pembentukan tulang). Keadaan ini mengakibatkan penurunan massa tulang.
4
D. Gejala dan Tanda Osteoporosis
Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai puluhan
tahun tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi
kolaps atau hancur, akan timbul nyeri dan perubahan bentuk tulang. Jadi, seseorang
dengan osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan atau gejala sebagai berikut:
5
Keluhan-keluhan utama yang dapat mengarah kepada osteoporosis kesemutan dan
rasa kebal di sekitar mulut dan ujung jari yang terjadi pada hipokalsemia. Pada anak-
anak, gangguan pertumbuhan atau tubuh pendek, nyeri tulang, dan kelemahan otot, dan
kalsifikasi ekstraskeletal dapat mengarah pada penyakit tulang metabolik.
6
Selain dengan anamnesis keluhan utama, pendekatan menuju diagnosis
osteoporosis juga dapat dibantu dengan adanya riwayat fraktur yang terjadi karena
trauma minimal, adanya faktor imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada orang tua,
kurangnya paparan sinar matahari, asupan kalsium, fosfor dan vitamin D, dan faktor-
faktor risiko lainnya.
5,6,7
Obat-obatan yang dikonsumsi dalam jangka panjang juga dapat digunakan untuk
menunjang anamnesis, yaitu misalnya konsumsi kortikosteroid, hormon tiroid,
antikonvulsan, heparin.
4,5,6,7
E. Pencegahan Osteoporosis
1. Asupan Kalsium Cukup
Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan
dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan vitamin D
setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang
sebelumya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap
hari. Dosis yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari,
sedangkan untuk lansia 1200 mg per hari. Kebutuhan kalsium dapat terpenuhi dari
makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju
dan kacang-kacangan.
5,6
2. Melakukan Olah Raga
Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat
berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olahraga beban
misalnya senam aerobik, berjalan dan menaiki tangga. Olahraga yang teratur
merupakan upaya pencegahan yang penting. Tinggalkan gaya hidup santai, mulailah
berolahraga beban yang ringan, kemudian tingkatkan intensitasnya.
Latihan yang tidak boleh dilakukan oleh penderita osteoporosis adalah sebagai
berikut:
6,7
a. Latihan atau aktivitas fisik yang berisiko terjadi benturan dan pembebanan pada
tulang punggung. Hal ini akan menambah risiko patah tulang punggung karena
ruas tulang punggung yang lemah tidak mampu menahan beban tersebut.
Hindari latihan berupa lompatan, senam aerobik dan joging.
b. Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan membungkuk kedepn dengan
punggung melengkung. Hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan cedera
ruas tulang belakang. Juga tidak boleh melakukan sit up, meraih jari kaki, dan
lain-lain.
c. Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan menggerakkan kaki kesamping
atau menyilangkan dengan badan, juga meningkatkan risiko patah tulang,
karena tulang panggul dalam kondisi lemah.
Berikut ini latihan olahraga yang boleh dilakukan oleh penderita osteoporosis :
a. Jalan kaki secara teratur, karena memungkinkan sekitar 4,5 km/jam selama 50
menit, lima kali dalam seminggu. Ini diperlukan untuk mempertahankan
kekuatan tulang. Jalan kaki lebih cepat (6 km/jam) akan bermanfaat untuk
jantung dan paru-paru.
b. Latihan beban untuk kekuatan otot, yaitu dengan mengangkat dumbble kecil
untuk menguatkan pinggul, paha, punggung, lengan dan bahu. Latihan untuk
meningkatkan keseimbangan dan kesigapan.
c. Latihan untuk melengkungkan punggung ke belakang, dapat dilakukan dengan
duduk dikursi, dengan atau tanpa penahan. Hal ini dapat menguatkan otot-otot
yang menahan punggung agar tetap tegak, mengurangi kemungkinan bengkok,
sekaligus memperkuat punggung.
3. Paparan Sinar Matahari
Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang
dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Berjemurlah dibawah
sinar matahari selama 20-30 menit, 3x/minggu. Sebaiknya berjemur dilakukan pada
pagi hari sebelum jam 9 dan sore hari sesudah jam 4. Sinar matahari membantu
tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan
massa tulang.
5,6
4. Menghindari merokok dan Minuman Beralkohol
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan upaya penting dalam
mengurangi faktor risiko terjadinya osteoporosis. Terlalu banyak minum alkohol
juga bisa merusak tulang.
5,6












BAB III
METODE
































DAFTAR PUSTAKA
1. Macdonald HM NS, Campbell MK, Reid DM. Influence of weight and weight change
on bone loss in perimenopausal and early postmenopausal Scottish women.
2005:16371.
2. Haussler B GH, Gol D, Glaeske G, Pientka L, Felsenberg D. Epidemiology, treatment
and costs of osteoporosis in Germany-the BoneEVA Study. 2007:7784.
3. Ross PD. Osteoporosis frequency, consequences and risk factors: Arch. Internal Med.;
1996; 156(13):1399-411
4. Lindsay R CFOIFA, Braunwald e, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL.
Osteoporosis. In: Fauci AS Be, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, et al.,
editor. Harrisons principle of internal medicine 17 ed: Mc Grow-Hill USA; 2008. p.
2397-408.
5. Johnell. Advances in osteoporosis: Better identification of risk factors can reduce
morbidity and mortality: J. Internal Med.; 1996. 239(4): 299304.
6. Buttros Dde A N-NJ, Nahas EA, Cangussu LM, Barral AB, Kawakami MS. Risk
factors for osteoporosis in postmenopausal women from southeast Brazilian. 2011.
Juni; 33(6):295-302.
7. 10. Teb C DRL, Casas L, Estrada MD, Kotzeva A, Di Gregorio S, Espallargues M.
Risk factors for fragility fractures in a cohort of Spanish women. 2011. 25(6):507-12
58.