Anda di halaman 1dari 22

PEMBUATAN MIE ANEKA WARNA DARI EKSTRAK RUMPUT LAUT

(Eucheuma cottonii)



Disusun Oleh :
Tanti Yuniawati 107112001
Iqsanul Kurniawan 107112018
Royke Setiawan 1071120
Nirawan Herda Wibisono 1071120
Dedi Arifin 107112011
Arif Setiabudi 1071120
Umi Toyibah 1071120
Sodikin 1071120
Magfiroh 1071120
Mulyani 1071120


PRODI D-3 FARMASI
STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat strategis dan penting
karena pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Berbagai program
pemerintah dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional salah
satunya adalah diversifikasi pangan yang dimulai sejak tahun 50-an. Tujuannya
untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional sehingga tidak tergantung lagi
pada impor khususnya bahan makanan pokok seperti beras dan gandum.
Menindaklanjuti hal tersebut maka dikeluarkan Peraturan presiden nomor 22
tahun 2009 tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan
berbasis sumber daya lokal.
Badan Ketahanan Pangan bagian Pusat konsumsi dan keamanan pangan
telah mencanangkan salah satu program peningkatan Pemanfaatan Pangan Lokal
melalui tepung-tepungan. Tujuannya untuk meningkatkan penyediaan bahan
pangan lokal dari tepung-tepungan sebagai produk antara yang dapat
mendukung usaha kecil bidang pangan lokal. Di samping itu meningkatkan
produksi, produktifitas, mutu dan keanekaragaman produk pangan lokal yang
dihasilkan oleh usaha kecil bidang pangan. Mengoptimalkan pemanfaatan
sumber pangan lokal melalui peranan usaha kecil bidang pangan dalam
menyediakan bahan baku pangan olahan untuk percepatan penganekaragaman
konsumsi pangan dan gizi (Sinartani.com, 2011).
Indonesia kaya akan sumber daya laut berupa rumput laut yang dapat
dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan tepung-tepungan. Rumput laut
memiliki nilai ekonomi cukup tinggi apalagi jika telah melalui pengolahan lebih
jauh. Manfaat rumput laut dan hasil olahannya telah semakin meluas sebagai
bahan baku industri pangan, farmasi, kosmetik sebagai bahan penstabil,
pengental, pembentuk gel, pengemulsi dan lainnya, selain kaya akan kandungan
mineral rumput laut juga kaya akan vitamin A.
Salah satu produk yang bisa dibuat dari tepung rumput laut adalah mie.
Mie merupakan salah satu produk yang banyak disukai oleh semua kalangan
masyarakat baik anak-anak, dewasa, muda, kaya maupun miskin. Ada banyak
jenis-jenis mie yaitu mie basah, mie kering dan mie instant. Mie yang akan
dibuat dalam penelitian ini adalah mie kering. Selama ini, mie terbuat dari
tepung terigu. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan tepung terigu
adalah gandum yang bukan merupakan tanaman asli Indonesia jadi kita harus
mengimpor. Dalam penelitian ini akan dibuat mie kering dengan formulasi
tepung terigu dan tepung dari rumput laut yang tepat serta teknologi yang tepat
untuk menghasilkan mie kering dari rumput laut yang dapat diterima oleh
konsumen.

1.2 Rumusan Masalah
a. Rumput Laut banyak tumbuh di Indonesia, namun keberadaan Rumput Laut
ini tidak di manfaatkan dengan baik oleh masyarakat pesisir pantai. Padahal
Rumput Laut banyak mengandung gizi yang dapat diolah menjadi makanan
yang lebih bernilai tinggi seperti digunakan untuk membuat mie. Kandungan
gizi apa saja yang terdapat dalam Rumput Laut?
b. Masyarakat gemar mengkonsumsi mie instan, padahal mie instan banyak
mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Bagaimana cara
mengolah Rumput Laut menjadi mie yang sehat?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui kandungan gizi dari Rumput Laut.
b. Mengetahui cara mengolah Rumput Laut menjadi mie Rumput Laut.

1.4 Manfaat
a. Meningkatkan nilai ekonomis rumput laut.
b. Memberikan informasi pemanfaatan rumput laut dalam pembuatan produk
mie.
c. Penganekaragaman produk dari rumput laut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mie
Mie yang disukai masyarakat Indonesia adalah mie dengan warna
kuning, bentuk khas mie yaitu berupa pilinan panjang yang dapat
mengembang sampai batas tertentu dan lenting serta kalau direbus tidak
banyak padatan yang hilang. Semua ini termasuk sifat fisik mie yang sangat
menentukan terhadap penerimaan konsumen (Setianingrum dan Marsono,
1999).
Mie dibuat dengan mesin khusus, tetapi juga bisa dibuat tanpa
mesin. Proses pembuatan mie tanpa mesin memerlukan latihan yang cukup
lama. Adonan tepung terigu atau tepung yang lain ditarik, dibanting dan
dipelintir hingga terbentuk mie yang panjang. Di negara asalnya, mie diyakini
sebagai lambang panjang umur. Uniknya, agar harapan umur panjang bisa
terkabul, konon mie harus dimakan tanpa memotong helaiannya yang
panjang. Jadi cukup digulung dengan garpu atau sumpit (Pratitasari, 2007).

2.2 Jenis-jenis mie
Walaupun pada prinsipnya mie dibuat dengan cara yang sama, tetapi
di pasaran dikenal beberapa jenis mie seperti mie segar/mentah (raw chinese
noodle), mie basah (boiled noodle), mie kering (steam and fried noodle), dan
mie instant (instant noodle).
a. Mie Mentah
Mie mentah adalah mie yang tidak mengalami proses tambahan setelah
pemotongan dan mengandung air sekitar 35%. Oleh karena itu, mie ini
cepat rusak. Penyimpanan dalam refrigerator dapat mempertahankan
kesegaran mie ini hingga 50-60 jam. Setelah masa simpan tersebut, warna
mie akan menjadi gelap.
b. Mie Basah
Mie basah adalah jenis mie yang mengalami proses perebusan setelah
tahap pemotongan dan sebelum dipasarkan. Kadar airnya dapat mencapai
52% sehingga daya tahan simpannya relatif singkat (40 jam pada suhu
kamar). Di Indonesia, mie basah dikenal sebagai mie kuning atau mie
bakso.
c. Mie Kering
Mie kering adalah mie mentah yang telah dikeringkan hingga kadar airnya
mencapai 8-10%. Pengeringan umumnya dilakukan dengan penjemuran di
bawah sinar matahari atau dengan oven. Karena bersifat kering, maka mie
ini mempunyai daya simpan yang relatif panjang dan mudah
penanganannya. Mie kering sebelum dipasarkan biasanya ditambahkan
telur segar atau tepung telur sehingga mie ini dikenal dengan nama mie
telur. Penambahan telur ini merupakan variasi sebab secara umum mie
oriental tidak mengandung telur. Di Amerika Serikat, penambahan telur
merupakan suatu keharusan karena mie kering harus mengandung air
kurang
dari 13% dan padatan telur lebih dari 5,5%.
d. Mie Instant
Dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 3551-1994, mie instant
didefenisikan sebagai produk makanan kering yang dibuat dari tepung
terigu dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan
makanan tambahan yang diizinkan, berbentuk khas mie dan siap
dihidangkan setelah dimasak atau diseduh dengan air mendidih paling
lama 4 menit. Mie instant dikenal sebagai mie ramen. Mie ini dibuat
dengan penambahan beberapa proses setelah diperoleh mie segar. Tahap-
tahap tersebut yaitu pengukusan, pembentukan dan pengeringan. Kadar air
mie instant umumnya mencapai 5-8% sehingga memiliki daya simpan
yang cukup lama (Astawan, 2006).

2.3 Bahan-Bahan Pembuat Mie
a. Tepung Terigu
Tepung terigu yang digunakan sebaiknya yang mengandung
gluten 8-12%. Tepung terigu ini tergolong medium hard flour di pasaran
dikenal sebagai Segitiga Biru atau Gunung Bromo. Gluten adalah protein
yang terdapat pada terigu. Gluten bersifat elastis sehingga akan
mempengaruhi sifat elastisitas dan tekstur mie yang dihasilkan
(Widyaningsih dan Murtini, 2006).
b. Telur
Secara umum, penambahan telur dimaksudkan untuk
meningkatkan mutu protein mie dan menciptakan adonan yang lebih liat
sehingga tidak mudah putus-putus. Putih telur berfungsi untuk mencegah
kekeruhan saus mie waktu pemasakan. Penggunaan putih telur harus
secukupnya saja karena pemakaian yang berlebihan akan menurunkan
kemampuan mie menyerap air (daya dehidrasi) waktu direbus (Astawan,
2006).
c. Garam
Dalam pembuatan mie, penambahan garam dapur berfungsi member
rasa, memperkuat tekstur mie, meningkatkan fleksibilitas, dan elastisitas
mie serta untuk mengikat air. Selain itu garam dapur dapat menghambat
aktifitas enzim protease dan amylase sehingga pasta tidak bersifat lengket
dan tidak mengembang secara berlebihan.
d. Soda abu (Natrium karbonat dan kalium karbonat)
Soda abu merupakan campuran dari natrium karbonat dan kalium
karbonat (perbandingan 1:1). Berfungsi untuk mempercepat pengikatan
gluten, meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas mie, meningkatkan
kehalusan tekstur, serta meningkatkan sifat kenyal (Astawan 2006).
e. Air
Air berfungsi sebagai media reaksi antara gluten dengan karbohidrat
(akan mengembang), melarutkan garam, dan membentuk sifat kenyal
gluten. Air yang digunakan harus air yang memenuhi persyaratn air
minum, yaitu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa (Astawan,
2006).
2.4 Metode Pembuatan Mie
a. Pencampuran
Proses pencampuran bertujuan untuk menghidrasi tepung dengan air,
membuatnya merata dengan mencampur dan membuat adonan dengan bentuk
jaringan glutein dengan meremas-remas. Untuk membuat adonan yang baik
faktor yang harus diperhatikan adalah jumlah air yang ditambahkan, waktu
pengadukan dan temperature (Soenaryo, 1985).
Mixing berfungsi untuk mencampur secara homogen semua bahan,
mendapatkan hidrasi yang sempurna pada karbohidrat dan protein,
membentuk dan melunakkan glutein hingga tercapai adonan yang kalis.
Adapun yang dimaksud kalis adalah pencapaian pengadukan maksimum
sehingga terbentuk permukaan film pada adonan. Tanda-tanda adonan telah
kalis adalah jika adonan tidak lagi menempel di wadah atau di tangan atau
saat adonan dilebarkan (Mudjajanto dan Yulianti, 2004).
b. Pembentukan lembaran
Adonan yang sudah kalis sebagian dimasukkan ke dalam mesin
pembuat mie untuk mendapatkan lembaran-lembaran. Pembentukan lembaran
ini diulang beberapa kali untuk mendapatkan lembaran yang tipis
(Widyaningsih dan Murtini, 2006).
c. Pembentukan mie
Proses pembentukan mie ini umumnya sudah dilakukan dengan alat
pencetak mie (roll press) yang digerakkan tenaga listrik. Alat ini mempunyai
dua rol. Rol pertama berfungsi untuk menipiskan lembaran mie dan rol kedua
berfungsi untuk mencetak mie. Pertama-tama lembaran mie masuk ke rol
pertama kemudian masuk ke rol kedua. Mie yang keluar dari rol pencetak
dipotong tiap 1 m dengan menggunakan gunting (Astawan, 2006).
Teknologi pembuatan mie instan jagung secara umum terdiri dari
proses pencampuran, pengukusan, pencetakan & pemotongan, dan
pengeringan (Anonim, 2010).
Volume air yang digunakan untuk pembuatan adonan mie kering
adalah 60%. Presentasi air terbaik untuk pembuatan adonan mie basah yaitu
sebanyak 60% (Datu, D.Y.R., M. Bilang dan S.D. Amrullah/mempelajari
pengolahan mie dari campuran tepung sagu dan tepung jagung).
2.5 Rumput Laut
Rumput laut tergolong tanaman tingkat rendah, tidak mempunyai akar,
batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang disebut
thallus, tumbuh di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur,
pasir, batu dan benda keras lainnya. Secara taksonomi dikelompokkan ke
dalam divisio Thallophyta (Anggadiredja dkk, 2010). Rumput laut dikenal
pertama kali oleh bangsa Cina kira-kira tahun 2700 SM. Dimasa itu, rumput
laut digunakan untuk sayuran dan obat-obatan (Aslan, 1999).
2.6 Kandungan Rumput Laut
Secara kimia rumput laut terdiri dari protein (5,4%), karbohidrat (33,3%),
lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Selain itu juga
mengandung asam amino, vitamin, dan mineral seperti natrium, kalium,
kalsium, iodium, zat besi dan magnesium. Kandungan asam amino, vitamin
dan mineral mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat
(Murti, 2011).
2.7 Pengelompokkan Rumput Laut
Berdasarkan kandungan pigmennya, rumput laut dikelompokan ke dalam
empat kelas, yaitu:
1) Rhodophyceae (ganggang merah)
2) Phaeophyceae (ganggang coklat)
3) Chlorophyceae (ganggang hijau)
4) Cyanophyceae (ganggang biru)


Jenis rumput laut yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia adalah dari
kelas Rhodophyceae yang mengandung agar-agar dan karaginan. Alga yang
termasuk ke dalam kelas Rhodophyceae yang mengandung karaginan adalah
Eucheuma dengan nama lokal agar-agar. Sebagian besar rumput laut yang
diperjualbelikan yaitu jenis Eucheuma spinosum, hal ini disebabkan karena
spesies Eucheuma spinosum banyak terdapat di Indonesia dan dibutuhkan oleh
banyak industri farmasi: kosmetik, makanan dan minuman seperti saus, keju,
biskuit, es krim dan sirup (Winarno, 1990).
2.8 Rumput Laut Eucheuma spinosum
Taksonomi Eucheuma spinosum:
Divisio : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Bangsa : Gigartinales
Suku : Solieriaceae
Marga : Eucheuma
Spesies : Eucheuma spinosum (Anggadiredja dkk, 2010).
Nama daerah rumput laut jenis ini yaitu agar-agar (Sulawesi Selatan). Ciri- ciri
rumput laut ini yaitu thallus berbentuk silindris, percabangan thallus berujung
runcing atau tumpul dan ditumbuhi nodulus (tonjolan-tonjolan), berupa duri lunak
yang mengelilingi cabang. Habitat Eucheuma spinosum tubuh melekat pada
rataan terumbu karang, batuan, benda keras dan cangkang kerang. Eucheuma
spinosum memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis sehingga hanya
hidup pada lapisan fotik (Anggadiredja dkk, 2010). Rumput Laut terdiri dari air
(27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan
abu (22,25%). Selain karbohidrat, protein, lemak dan serat, Rumput Laut juga
mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K) dan
makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium serta mikro
mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium. Kandungan asam amino,
vitamin dan mineral Rumput Laut mencapai 10 -20 kali lipat dibandingkan
dengan tanaman daragepeng, bercabang berselang tidak teratur, di
atau tikotomous (DPK)
(Sumber: http://chaplain-zee.blog.friendster.com/2008/11/proses-pengepakan-
dan-transportasi-bibit-rumput-laut-eucheuma-cottonii-di-lombok-tengah-
nusa-tenggara-barat/)




BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, grinder,
baskom, blower, pencetak mie, panci, kompor, ayakan, sendok, oven, stopwatch,
desikator, timbangan analitik, erlenmeyer, gelas kimia, parut, cawan, stopwatch,
cawan porselin, pendingin balik, lumping dan penangas.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi gadung,
tepung terigu cap segitiga biru, minyak goreng sunco, garam, aquadest,
aluminium foil, alkohol, kertas saring, ether, HCl, NaOH, tissu roll, air bersih,
telur, soda abu.

C. Metode Penelitian
1. Pembuatan tepung gadung
Umbi gadung dikupas kemudian diparut. Setelah itu, direndam dengan
larutan garam 7,5% selama 72 jam (perlakuan terbaik penelitian
Muljo Hardjo, 2010). Kemudian ditiriskan dan dikeringkan dengan oven pada
suhu 60
0
C selama 24 jam. Dihaluskan dengan grinder kemudian diayak dengan
ukuran partikel 75 mesh.
2. Pembuatan Mie Kering
Prosedur pembuatan mie kering adalah sebagai berikut.
a. Semua bahan diukur sesuai yang dibutuhkan.
b. Dilakukan pencampuran bahan sampai homogen.
c. Dibuat lembaran tipis kemudian dikukus
d. Lembaran-lembaran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rol pencetak mi.
e. Untaian mie tersebut kemudian dikeringkan dalam blower pada suhu 60
0
C
sampai kadar air 8-10%.
f. Dilakukan analisa total pati, uji elastisitas mie, uji sensori meliputi rasa, warna,
aroma, dan tekstur.
D. Perlakuan Penelitian
Perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
M
1
= Tepung gadung 100%
M
2
= Tepung gadung 80% + tepung terigu
20%
M
3
= Tepung gadung 60% + tepung terigu
40%



E. Parameter Pengamatan
1. Kadar air
Contoh dihaluskan dan ditimbang sebanyak 2 gram dalam aluminium
foil yang telah diketahui beratnya. Kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu
105
0
C selama 4 jam. Kemudian didinginkan di dalam desikator selama 15 menit
dan ditimbang. Selanjutnya dipanaskan kembali selama 30 menit, didinginkan
kembali di dalam desikator dan ditimbang. Perlakuan ini diulangi sampai tercapai
berat konstant. Penguarangan berat merupakan banyaknya air yang diuapkan dari
bahan, dengan perhitungan (Sudarmadji, et al., 1989):
% Kadar Air :
2. Uji Organoleptik
Parameter uji organoleptik yang digunakan meliputi rasa, aroma, warna,
kenampakan dan tekstur. Metode pengujian yang digunakan adalah metode
hedonik (uji kesukaan) dengan skala 1-5 yaitu (1) sangat tidak suka, (2) tidak
suka, (3) agak suka, (4) suka, dan (5) sangat suka. Panelis diminta untuk
memberikan penilaian menurut tingkat kesukaannya.
3. Total Pati
Timbang 2-5 gram sampel (berupa bahan padat yang telah dihaluskan
atau bahan padat) dalam gelas piala 250 mL. tambahkan 50 ml alcohol 80% dan
aduk selama 1 jam. Saring suspense tersebut dengan kertas saring dan cuci dengan
air sampai volume filtrate 250 ml. filtrate ini mengandung karbohidrat yang
terlarut dan dibuang. Untuk bahan yang mengandung lemak, pati yang terdapat
sebagai residu pada kertas saring dicuci lima kali dengan 10 ml ether. Biarkan
ether menguap dari residu, kemudian cuci kembali dengan 150 ml alcohol 10%
untuk membebaskan lebih lanjut karbohidrat yang terlarut. Pndahkan residu
secara kuantitatif dari kertas saring ke dalam Erlenmeyer dengan cara pencucian
dengan 200 ml air dan tambahkan 20 ml HCl 25%. Tutup dengan pendingin balik
dan panaskan di atas penangas air sampai mendidih selama 2,5 jam. Biarkan
dingin dan netralkan dengan larutan NaOH 45% encerkan sampai volume 500 ml.
saring kembali campuran di atas pada kertas saring. Tentukan kadar gula yang
dinyatakan sebagai glukosa dari filtrate yang diperoleh. Penentuan glukosa seperti
pada penetapan atau penentuan gula pereduksi. Berat glukosa dikalikan faktor 0.9
merupakan berat pati (Anton, dkk.,1989).

F. Pengolahan Data
Rancangan percobaan pada penelitian ini menggunakan rancangan acak
lengkap dengan tiga kali ulangan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Mie Jagung. http://seafast.ipb.ac.id/research. Akses Tanggal 16
November 2011. Makassar.

Anonim, 2011. Gadung. http://id.wikipedia.org. Akses
Tanggal 12 September 2011. Makassar.

Apriyantono, Anton., Dedi Fardiaz, Ni Luh Puspitasari, Sedarmawati, dan Slamet
Budiyanto, 1989. Analisa Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat AntarUniversitas Pangan dan Gizi
Instituit Pertanian Bogor, Bogor.

Astawan, M., 2006. Membuat Mie dan Bihun. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hardjo, Muljo. 2010. Pembuatan Tepung Gadung (Diocorea Hispida Dennst) Bebas
Sianida Dengan Merendam Parutan Umbi Dalam Larutan
Garam.http://www.ut.ac.id. Akses Tanggal 14 Oktober 2011.

Mudjajanti, E.S. dan L.N. Yulianti, 2004. Membuat Aneka Roti. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Robsons, J., 1976. Some I ntroductory Thoughts On Intermediate Moisture Foods.
Dalam Davies, K., G.G. Birch and K.J. Parker. I ntermediate Mosture Food.
Aplied Science Publ, Ltd, London.

Sunaryo, E., 1985. Pengolahan Produk Serealia dan Biji-bijian. Fateta-IPB, Bogor.

Sukarsa, 2010. Tanaman Gadung. http://www2.bbpp-lembang.info. Akses
Tanggal 19 September 2011.

Widyaningsih, T.B.dan E.S. Murtini, 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada
Produk Pangan. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Wulandari, Dyah Retno. 2009. Pengembangan dioscorea spp. Sebagai bahan pangan
fungsional bebas gluten dan konservasinya secara in vitro :
dipa.http://www.biotek.lipi.go.id. Akses Tanggal 26 September 2011.


Mie Rumput laut
Bahan :
* 4 ons rumput laut
* 1 kg tepung terigu
* 2 butir kuning telor
* 1 sendok teh garam
Alat :
1.penggiling Mie
2.panci
3.serok
4.pisau
5.saringan
6.solet

Cara membuatnya
1.Persiapan alat dan bahan
2.Rumput laut direndam sampai putih (4-5 hari) dengan setiap hari airnya diganti
/memakai air cucian beras
3.Setelah putih dicuci bersih,dipotong kecil-kecil dan di blender dengan air
menyesuaikan
4.Setelah di blender dibuat jenang sampai berkadar air rendah
5.Tambahkan kuning telor dan garam lalu masukkan tepung terigu
6.Diuleni sampai kalis ,potong-potong gilig
7,siap dimasak.

keterangan
1.Untuk dibuat mie harus direbus dulu tetapi kalau pangsit mie langsung
digunakan
2.Untuk merebus mie tambahkan minyak goreng pd air rebusan
3.5 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tentang pembuatan mie rumput laut yang terbuat dari rumput
laut dan tepung casava dengan tepung terigu dilakukan di Laboratorium Kimia
SMAN 1 Gending dan di Desa Sebaung,Kecamatan Gending.Kabupaten
Probolinggo. Bahan baku rumput,tepung casava dan tepung terigu juga diperoleh
dari Desa Curahsawo Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo. Penelitian ini
dilakukan dari tanggal 22 Juni 4 Juli 2011.
3.6 Pemilihan Subjek
Subjek yang diteliti dalam karya tulis ini adalah pembuatan mie rumput laut.
Bahan pembuatanRumput Laut dan Tepung Singkong yang banyak terdapat di
Kabupaten Probolinggo. Bahan tersebut akan digunakan untuk
pembuatan,modalserta keuntungan yang didapat.
3.7 Alat dan Bahan
i. bahan yang digunakan
1. rumput laut 341,5 gram
2. tepung casava 500 gram
3. tepung terigu 250 gram
4. air 300 mL
5. telur 2 butir
ii. alat yang digunakan
1. blender
2. baskom plastik
3. pisau
4. loyang
5 mesin pasta
6. timbangan elektrik
7. sendok dan solet
2.1


4.3 Pembuatan Mie Rumput Laut
Dalam pembuatan mie Rumput Laut ini ada beberapa tahap, alat dan bahan yaitu
sebagai berikut:
Alat dan Bahan
Alat
Pisau
Timbangan
Baskom
Timba
Sendok
Kayu yang digunakan untuk menipiskan
Markatto
Saringan
Kompor
Rol kayu
Bahan
Rumput Laut ( 25 %)
Tepung Singkong
Rempah-rempah
Air kapur
Jeruk nipis
Telur
Air ( 250 ml)
Cara kerja
1. Rumput Laut dibersihkan terlebih dahulu dan direndam dengan air kapur
2. Setelah itu timbang Tepung Singkong dan Rumput Laut, Rumput Laut yang
digunakan sebanyak 25 %
3.Blender terlebih dahulu Rumput Lautnya.
4.Semua bahan kering (tepung singkong) dan Rumput Laut dicampur rata didalam
wadah
5. Rempah-rempah dilarutkan dalam air
6. Pada campuran tepung dalam wadah dibuat lekukan yang tengahnya diisi
dengan telur, bahan dan rempah-rempah dalam larutan air, kemudian semuanya
diaduk secara perlahan menggunakan tangan atau sendok.
7. semua campuran bahan harus tercampur dengan sempurna dan terbentuk
adonan.
8. Kemudian adonan disempurnakan atau dikalis, pengadonan dapat dilakukan di
atas meja menggunakan kayu.
9. Tutup adonan dengan plastik, kemudian diamkan selama 30 menit dan
setelah itu diadoni kembali.
10. Adonan dipotong dan dibagi menjadi beberapa ukuran yang sama, kemudian
pipihkan dengan menggunakan kayu.
11.Lembaran adonan ditipiskan menggunakan markatto dengan ketebalan 1-4
cm.
12.Potong lembaran adonan menggunakan markatto sehingga terbentuk tali-tali
mie. Di tahap ini mie masih terbentuk mie mentah. Kemudian olah mie menjadi
berbagai macam mie
Dalam pembuatan mie Rumput Laut, Rumput Laut yang dibutuhkan hanya 25 %
saja, karena jika lebih banyak Rumput Laut yang digunakan dalam pembuatan
mie ini, maka mie yang dihasilkan menjadi lembek. Dalam pembuatan mie
Rumput Laut ini, Rumput Laut yang digunakan yaitu Rumput Laut yang
ukurannya sedang, tidak terlalu tua dan muda dan berwarna coklat.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Khasiat dan Kandungan yang terdapat dalam Rumput Laut
Rumput Laut( Eucheuma cottonii) mempunyai banyak sekali khasiat salah
satunya yaitu sebagai makan diet dan dapat menyembuhkan penyakit
kanker. Kandungan Rumput Laut umumnya adalah mineral esensial (besi, iodin,
aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, chlor. silicon,
rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium, dan unsur-
unsur lainnya), asam nukleat, asam amino, protein, mineral, trace elements,
tepung, gula dan vitamin A, D, C, D E, dan K. Karena kandungan gizinya yang
tinggi, maka mampu meningkatkan sistem kerja hormonal, limfatik, dan juga
saraf.
(sumber: http://rumputlaut.web44.net/article/kandungan-dan-manfaat-
rumput-laut/
Rumput Laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar,
susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya. Oleh karena itu kami
menggunakan Rumput Laut sebagai bahan dasar dalam pembuatan mie. Karena
kandungan gizinya yang tinggi, maka mampu meningkatkan sistem kerja
hormonal, limfatik, dan juga saraf. Kandungan klorofil Rumput Laut bersifat
antikarsinogenik, kandungan serat, selenium dan seng yang tinggi pada Rumput
Laut dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat
mendorong timbulnya kanker, sehingga konsumsi Rumput Laut memperkecil
resiko kanker bahkan mengobatinya. Mengandung kalsium sepuluh kali lebih
tinggi dibandingkan dengan susu, sehingga Rumput Laut sangat tepat. Selain itu
juga kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar,
melancarkan pencernaan .
Sebagai Bahan obat-obatan (anticoagulant, Kaya akan kandungan serat yang dapat
mencegah kanker usus besar, melancarkan pencernaan, meningkatkan kadar air
dalam feses antibiotics, antihehmethes, antihypertensive agent, pengurang
cholesterol, dilatory agent, dan insektisida. Meningkatkan fungsi pertahanan
tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung dan peredaran darah, serta sistem
pencernaan. Obat tradisional untuk batuk, asma, bronkhitis, TBC, cacingan, sakit
perut, demam, rematik, kandungan protein dari Rumput Laut penting untuk
membentuk jaringan baru pada kulit. Sehingga Mencegah penuaan dini. bahkan
dipercaya dapat meningkatkan daya seksual. Kandungan yodiumnya diperlukan
tubuh untuk mencegah penyakit gondok. Selain itu juga baik untuk diet,
mengurangi resiko obesitas, serat pada Rumput Laut bersifat mengenyangkan dan
kandungan karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa
kenyang lebih lama.
Salah satu unsur yang terkandung dalam Rumput Laut ialah kalsium, diketahui
kandungan kalsium pada Rumput Laut mencapai 10 kali lebih tinggi ketimbang
susu.Karenanya, Rumput Laut acap kali dimanfaatkan sebagai obat anti-
osteoporosis. Tumbuhan yang habitatnya di laut itu juga kaya akan mineral, asam
amino, asam nukleat, karbohidrat, gula, dan aneka vitamin.Beberapa jenis mineral
yang terkandung di dalam Rumput Laut, antara lain besi, yodium, aluminium,
mangaan, kalsium, nitrogen, fospor, sulfur, silikon, klor, barium, titanium, dan
kalium.Dari sekian banyak unsur yang terkandung di dalam Rumput Laut, unsur
terbanyak ialah karbohidrat.Uniknya, karbohidrat pada Rumput Laut terdiri dari
senyawa gumi, yakni senyawa polimer polisakarida yang berbentuk serat.Oleh
karena itu tidak heran apabila Rumput Laut mengandung banyak serat. Serat
tersebut sifatnya dietary fiber, yakni serat dengan kandungan karbohidrat hanya
sedikit yang dapat diserap tubuh. Masyarakat Indonesia, baik di perkotaan
maupun di perdesaan, sangat menggemari makanan tersebut.Mi instan misalnya,
begitu digemari banyak kalangan karena terbilang murah dan mudah
dimasak,apabila kandungan Rumput Laut yang ditambahkan melebihi 30 persen,
maka mi akan menjadi lembek atau tidak kenyal lagi.
(sumber: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=56226)
3.8 Cara Kerja
i. rumput laut direndam dalam air kapur selama semalam
ii. rumput laut dicuci dengan air bersih kemudian potong rumput laut
dipotong kecil-kecil.
iii. setelah dipotong kecil-kecil, rumput laut diblender dengan ditambahkan
sedikit air kemudian rumput laut yang telah halus disaring dan diambil
airnya atau pastanya.
iv. siapkan tepung terigu kemudian tepung terigu disaring.
v. stelah selesai disaring, tepung terigu ditaruh di baskom plastik kemudian
campurkan dengan pasta rumput laut.
vi. sebelum adonan tercampur dengtan rata, tambahkan adonan dengan 2
butir telur kemudian aduk hingga rata.
vii. setelah adonan tercampur rata, adaonan dikatalis atau dihaluskan dengan
cara dilempar-lempar.
viii. setelah halus, cetak adoana pada mesin pembuat mie,
ix. setelah selesai dicetak mie yang sudah jadi diletakkan diloyang dengan
dibubuhkan dengan sisa tepung terigu supaya mie tidak lengket.
x. setelah semua adonan menjadi mie, mie siap dikemas dan dimasak.

4.2 Cara Menghilangkan Bau Amis pada Rumput Laut
Cara menghilangkan bau amis pada Rumput Laut yaitu dengan cara,
mencucinya terlebih dahulu hingga bersih kemudian diberi perasan jeruk nipis,
selain dengan memberikan perasan jeruk nipis juga dapat dilakukan dengan
merendam Rumput Laut dengan air kapur selama 12 jam. Setelah direndam dicuci
dan diberi jeruk nipis kembali. Dengan begitu bau amis pada Rumput Laut dapat
hilang

BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari kajian pustaka, Rumput Laut (Eucheuma cottonii ) dan Tepung
Singkong memiliki banyak kandungan protein sehingga dapat dibuat menjadi
suatu yang bernilai tinggi, yaitu mie Rumput Laut.karena bahannya yang mudah
didapat dan baik untuk dikonsumsi oleh pertumbuhan tubuh. Selain mudah
didapat Rumput Laut(Eucheuma cottonii ) dan Singkong juga ramah lingkungan
karena berasal dari bahan yang alami dan tidak membahayakan kesehatan.
Dalam pembuatan mie Rumput Laut ini , yang dipakai dalam pembuatan mie
Rumput Laut adalah Tepung Singkong dan Rumput Laut(Eucheuma cottonii)
yang masih segar. Rumput Laut yang sudah bersih dan tidak amis dan juga sudah
diblender dicampur dengan Singkong yang sudah menjadi tepung. Dari
pencampuran dan beberapa langkah yang digunakan untuk membuat mie Rumput
Laut.
Dari beberapa langkah diatas maka diperolehlah suatu olahan baru yang lebih
bermanfaat dan tidak berbahaya untuk tubuh yaitu mie Rumput Laut. Yang
banyak manfaatnya bagi kesehatan kita, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir
akan mie Rumput Laut ini. Di daerah pantai banyak sekali Rumput Laut, akan
tetapi masyarakat tidak memanfaatkannya.
5.2 Saran
Dalam pembuatan mie Rumput Laut ini memang diperlukan banyak Rumput
Laut, sedangkan Rumput Laut setiap tahunnya sedikit oleh karena itu sebaiknya
jangan hanya mengolah Rumput Laut menjadi makanan namun juga diperlukan
pembudidayaan terhadap Rumput Laut agar tidak punah.