Anda di halaman 1dari 7

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

DEMOGRAPHICAL ENVIRONMENT

PENGARUH POLA KONSUMSI MASYARAKAT INDONESIA
TERHADAP PERTUMBUHAN INDUSTRI PETERNAKAN UNGGAS

Dosen: Dewi Haryani Susilastuti, M.Sc., Ph.D.








Oleh:
Okkytania Etikaningrum Parsetiorini
13/358200/PEK/18489

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
1

Dalam aktivitas perekonomian suatu negara, konsumsi mempunyai peran penting di
dalamnya serta mempuyai pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas perekonomian.
Konsumsi keluarga merupakan salah satu kegiatan ekonomi keluarga untuk memenuhi berbagai
kebutuhan barang dan jasa. Dari komoditi yang dikonsumsi itulah akan mempunyai kepuasan
tersendiri. Oleh karena itu, konsumsi seringkali dijadikan salah satu indikator kesejahteraan
keluarga. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi tingkat perubahan kegiatan ekonomi
dan perubahan dalam pendapatan nasional suatu negara.
1

Dari Tabel 1, tabel pengeluaran menurut kelompok barang, dapat dilihat bahwa konsumsi
makanan dan non pangan memiliki proporsi yang masing-masing hampir sama, berkisar 50%
pada setiap tahunnya dari tahun 2007-2013. Hal ini menandakan barang pangan yang dikonsumsi
jumlahnya hampir sama dengan jumlah konsumsi barang non-pangan dan tingkat kebutuhan di
antara keduanya dapat dikatakan sama. Namun jika ditarik ke belakang, dari tahun 1999 hingga
2006, konsumsi barang pangan proporsinya berkisar 62% hingga 53% dengan tren menurun.
Tergambar dari tren tersebut, dari tahun ke tahun, kebutuhan pangan yang merupakan kebutuhan
dasar atau primer proporsinya semakin rendah, dan kebutuhan masyarakat akan barang-barang
pemenuh kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi (barang sekunder dan tersier) semakin tinggi.
Pergeseran proporsi kebutuhan ke tingkat yang lebih tinggi ini menggambarkan tingkat
kesejahteraan yang meningkat signifikan dari 2006 ke 2007.
Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang berguna sebagai sumber energi
untuk menunjang semua aktifitasnya. Manusia yang kekurangan makanan, kegiatan, pekerjaan
fisik atau daya pemikirannya akan terganggu karena kurangnya zat-zat makanan yang diterima
tubuhnya yang dapat menghasilkan energi. Jika seseorang tidak mendapatkan energi yang
melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan, akan meminjam atau menggunakan cadangan
energi dalam tubuh, namun kebiasaan ini akan dapat mengakibatkan kekurangan gizi.
2









1
Marzuki,Miskat.2005.Pola Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Makassar di Kecamatan Tamalanrea. Skripsi
Universitas Hassanudin
2
Suhardjo, 2003, Sosial Budaya Gizi. IPB, Bogor.
2

Tabel 1.Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan
Menurut Kelompok Barang, Indonesia, 2006-2013
3


2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Makanan:
- Padi-padian 11.37 10.15 9.57 8.86 8.89 7.48 8.52 8.24
- Umbi-umbian 0.59 0.56 0.53 0.51 0.49 0.51 0.43 0.45
- Ikan 4.72 3.91 3.96 4.29 4.34 4.27 4.14 4.03
- Daging 1.85 1.95 1.84 1.89 2.1 1.85 2.16 1.88
- Telur dan susu 2.96 2.97 3.12 3.27 3.2 2.88 2.87 3.06
- Sayur-sayuran 4.42 3.87 4.02 3.91 3.84 4.31 3.7 4.43
- Kacang-kacangan 1.63 1.47 1.55 1.57 1.49 1.26 1.325 1.34
- Buah-buahan 2.1 2.56 2.27 2.05 2.49 2.15 2.36 2.33
- Minyak dan lemak 1.97 1.69 2.16 1.96 1.92 1.91 1.87 1.64
- Bahan minuman 2.5 2.21 2.13 2.02 2.26 1.8 1.705 1.9
- Bumbu-bumbuan 1.37 1.1 1.12 1.08 1.09 1.06 0.99 0.96
- Konsumsi lainnya 1.27 1.34 1.39 1.33 1.29 1.07 1.055 1.04
- Makanan jadi 10.29*) 10.48*) 11.44*) 12.63*) 12.79*) 13.73*) 13.11*)
- Minuman beralkohol - - - - - - -
- Tembakau dan sirih 5.97 4.97 5.08 5.26 5.25 5.16 6.08 6.24

Jumlah makanan 53.01 49.24 50.17 50.62 51.43 49.45 49.895 50.66

Bukan makanan:
- Perumahan dan fasilitas
rumahtangga
22.56 20.78 20.21 19.89 20.36 19.91 20.455 20.2
- Barang dan jasa 14.99 17.01 17.12 17.49 16.78 17.92 17.97 18.51
- Pakaian. alas kaki dan tutup
kepala
4.42 3.33 3.37 3.33 3.38 2.02 3.845 2.06
- Barang-barang tahan lama 2.98 6.47 6.37 5.88 5.14 7.52 5.21 5.38
- Pajak dan asuransi 0.97 1.27 1.25 1.41 1.57 1.64 1.605 1.67
- Keperluan pesta dan upacara 1.06 1.89 1.51 1.36 1.32 1.53 1.52 1.51

Jumlah bukan makanan 46.99 50.76 49.83 49.38 48.57 50.55 50.605 49.34
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional . Modul Konsumsi 1999. 2002 dan 2005 (2003. 2004 dan 2006 hanya
mencakup panel 10.000 rumahtangga. sedangkan 2007. 2008. 2009. dan 2010 mencakup panel 68.800 rumah
tangga). Tahun 2011-2012 merupakan data Susenas Triwulan I dan Triwulan III (Maret dan September ) dengan
sampel 75.000 rumah tangga.

3
Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang, Indonesia, 1999, 2002-2013
(tabel) diakses pada 8 April 2014.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=05&notab=7
3

Catatan : *) Termasuk minuman beralkohol


Protein merupakan salah satu zat makanan yang diperlukan oleh manusia agar dapat
bertumbuh kembang dengan baik dan tetap sehat. Fungsi protein antara lain untuk membuat dan
memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Agar tubuh kita memperoleh asupan gizi yang seimbang,
bahan makanan sumber protein harus tersedia dalam menu makanan sehari-hari.
4


Tabel 2. Rata-rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita
Menurut Kelompok Makanan Tahun 2006- 2013
5


Komoditi 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Padi-padian 23.33 22.43 22.75 22.06 21.76 21.57 21 20.57
Umbi-umbian 0.41 0.40 0.42 0.33 0.32 0.36 0.28 0.27
Ikan 7.49 7.77 7.94 7.28 7.63 8.02 7.85 7.34
Daging 1.95 2.62 2.40 2.22 2.55 2.75 3.41 2.47
Telur dan susu 2.51 3.23 3.05 2.96 3.27 3.25 3.01 3.08
Sayur-sayuran 2.66 3.02 3.01 2.58 2.52 2.43 2.36 2.27
Kacang-
kacangan
5.88 6.51 5.49 5.19 5.17 5.17 5.28 4.93
Buah-buahan 0.39 0.57 0.52 0.41 0.47 0.42 0.39 0.4
Minyak dan
lemak
0.45 0.46 0.39 0.34 0.34 0.31 0.27 0.25
Bahan minuman 1.00 1.13 1.06 0.98 1.05 1.07 0.85 1.04
Bumbu-
bumbuan
0.81 0.76 0.73 0.68 0.69 0.69 0.6 0.62
Konsumsi
lainnya
0.95 1.43 1.37 1.21 1.21 1.21 1.05 1.09
Makanan jadi 5.83 *) 7.33 *) 8.36 *) 8.10 *) 8.03*) 8.36 8.36 8.75*)
Minuman
beralkohol
- - - - - - - -
Tembakau dan
sirih
- - - - 0 0 0 0
53.65 57.66 57.49 54.35 55.01 56.25 53.14 53.08
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) . Modul Konsumsi 1999. 2002 dan 2005 (Data Susenas tahun 2003.
2004 dan 2006

4
Setiawan, Nugraha. Daging dan Telur Ayam Sumber Protein Murah .Pustaka Unpad. Diakses pada 11 April 2014.
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/daging_dan_telur_ayam_sumber_protein_murah.pdf
5
Rata-rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita Menurut Kelompok Makanan 1999, 2002 - 2013 (tabel) diakses
pada 8 April 2014. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=05&notab=4
4

Pada masa orde baru, pemerintah menetapkan rencana jangka panjang Repelita VI yang
berlaku tahun 1994 1999. Dalam rencana tersebut salah satu sasaran perbaikan gizi adalah
harus tersedia energi per orang per hari sebesar 2500 Kal dan 55 gram protein, dimana 15 gram
berasal dari protein hewani yang terdiri atas 9 gram protein ikan dan 6 gram protein yang berasal
dari ternak. Tingkat konsumsi energi, protein dan zat gizi lainnya bagi penduduk Indonesia perlu
dipantau secara periodik. Membandingkan dengan rencana di atas, rata-rata konsumsi protein
pada 2006-2013 dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.
Dari tabel 2, dapat dipelajari bahwa konsumsi sumber protein terbesar ada pada padi-
padian, serealia yang juga merupakan sumber karbohidrat. Mengacu pada Repelita VI, konsumsi
55 gram protein telah tercapai pada tahun 2007, 2008, 2010 dan 2011 namun pada tahun
selanjutnya terjadi penurunan dan angka tersebut tidak tercapai. Dilihat dari sumber proteinnya,
kebutuhan akan protein hewan dari ikan, sebesar 9 gram, belum tercapai dan konsumsinya baru
mencapai rata-rata 7,73 gram. Begitu pula dengan kebutuhan 6 gram protein yang berasal dari
ternak. Rata-rata pemenuhan kebutuhan akan protein hewani yang tercapai pada 2006-2013
hanyalah 2,88 gram. Untuk mencapai sasaran perbaikan gizi, masyarakat harus mengonsumsi
lebih banyak protein hewani yang berasal dari ikan dan ternak.
Kebutuhan pemenuhan protein hewani ini merupakan peluang yang besar bagi industri
peternakan unggas, mengingat jumlah penduduk sebanyak 242.325.638 jiwa dan penyerapan
produk-produk olahan daging unggas yang masih jauh tertinggal jika dibandingkan Negara
ASEAN lain. Data lain meyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia sekitar 8 kg per kapita
per tahun, sedangkan di negara berkembang dan maju lain sudah 38 kg per kapita per tahun.
Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) memperkirakan konsumsi daging ayam pada
2014 sebesar 9,7 kilogram (Kg) per kapita per tahun, meningkat menjadi 14,99 kilogram per
kapita per tahun pada 2017.
6





6
Wiranti, Dyah Joshie. 2013. Konsumsi Daging Ayam per Kapita Diperkirakan 9,7 Kg di 2014. Idonesia Finance
Today. Diakses pada 31 Maret 2014. http://www.indonesiafinancetoday.com/read/55080/Konsumsi-Daging-Ayam-
per-Kapita-Diperkirakan-97-Kg-di-2014
5

Tabel 3. Jumlah Perusahaan Peternakan Unggas Menurut Status Permodalan,Tahun 2006 - 2012
7


Status Permodalan 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
PMA 9 8 11 11 28 36 119
PMDN 157 157 80 83 89 112 85
Lainnya 4153 4185 176 189 216 203 197
Jumlah 4319 4350 267 283 333 351 401
Sumber: Badan Pusat Statistika
Dengan peluang tersebut, bertumbuh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang
peternakan unggas. Menurut status permodalannya, peternakan unggas di Indonesia terdiri dari
permodalan asing dan dalam negeri. Tiga tahun terakhir menunjukkan adanya perubahan tren
status permodalan dimana hingga tahun 2011, peternakan unggas masih dikuasai oleh dalam
negeri, tahun selanjutnya terjadi kebalikannya. Kepemilikan modal dalam negeri mengalami
penurunan dan kepemilikan modal asing mengalami kenaikan drastis mengalahkan angka
penanaman modal dalam negeri. Hal ini diperkirakan karena adanya akuisisi perusahaan-
perusahaan dalam negeri yang kurang modal oleh perusahaan atau investor asing yang padat
modal, seperti PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT
Sierad Produce Indonesia, Tbk dan PT Malindo Feedmill Tbk.













7
Jumlah Perusahaan Peternakan Unggas Menurut Status Permodalan, 2000 2012. (tabel). Diakses pada 3 April
2014. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=24&notab=2
6

DAFTAR PUSTAKA

Jumlah Perusahaan Peternakan Unggas Menurut Status Permodalan, 2000 2012. (tabel).
Diakses pada 3 April 2014.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=24&notab
=2

Marzuki,Miskat.2005.Pola Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Makassar di Kecamatan
Tamalanrea. Skripsi Universitas Hassanudin

Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang, Indonesia,
1999, 2002-2013 (tabel) diakses pada 8 April 2014.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=05&notab=7

Rata-rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita Menurut Kelompok Makanan 1999, 2002 - 2013
(tabel) diakses pada 8 April 2014.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=05&notab
=4

Setiawan, Nugraha. Daging dan Telur Ayam Sumber Protein Murah .Pustaka Unpad. Diakses
pada 11 April 2014. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2009/03/daging_dan_telur_ayam_sumber_protein_murah.pdf

Suhardjo, 2003, Sosial Budaya Gizi. IPB, Bogor.

Wiranti, Dyah Joshie. 2013. Konsumsi Daging Ayam per Kapita Diperkirakan 9,7 Kg di 2014.
Idonesia Finance Today. Diakses pada 31 Maret 2014.
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/55080/Konsumsi-Daging-Ayam-per-Kapita-
Diperkirakan-97-Kg-di-2014

Anda mungkin juga menyukai