Anda di halaman 1dari 11

Sejarah Penerapan Syariat Islam DI ACEH

Posted on Maret 14, 2011 by alainoengvoenna


Sejarah Penerapan Syariat Islam DI ACEH






4 Votes

Bab 1
Pendahuluan
Nanggroe Aceh Darussalam di kenal dengan sebutan seramoe mekkah (serambi mekkah). Nafas
islam begitu menyatu dalam adat budaya orang Aceh sehingga aktifitas budaya kerap berazaskan
islam. Contoh paling dekat adalah pembuatan rencong sebagai senjata tradisional di ilhami dari
Bismillah. Seni tari-tarian seudati konon katanya berasal dari kata syahadatain, dua kata untuk
meresmikan diri menjadi pemeluk islam.
Saat syariat islam secara kaffah dideklarasikan pada tahun 2001, pro dan kontra terus
bermunculan sampai sekarang. Keterlibatan pemerintah dituding ada unsur politik untuk
memblokir bantuan Negara non muslim terhadap kekuatan GAM ( gerakan Aceh merdeka ).
Nada-nada sinis kerap terdengar seperti pue payah awak jawa jak peu islam tanyoe, ka dari
jameun uroe jeh tanyoe ka islam (kenapa harus pemerintah pusat / jawa yang mengislamkan
orang Aceh, sedari zaman dulu Aceh adalah islam).
Ciri khas budaya dan sikap kontra yang diperagaka melahirkan pertanyaan sejak kapan syariat
islam sudah berlaku di NAD? Lazimnya bicara sejarah maka kita akan mengkaji 3 ( tiga)
dimensi waktu keberadaan hokum islam di bumi serambi mekkah ini. Masa dulu yaitu pada masa
orde lama dan orde baru. Sekarang ketika pemerintah melibatkan diri apa yang melatarbelakangi
penerapan syariat islam secara kaffah? Hokum apa saja yang di atur dalam syariat islam? Seperti
apa pola penerapannya agar menjadi awal masyarakat bertingkah laku? Bagaimana
perkembangannya sejak diterapkan tahun 2001-sekarang, baik dari segi perubahan yang terjadi
dalam masyarakat setelah syariat islam diterapkan maupun konstitensi lembaga yang berwenang
untuk menjalankan peraturan syariah yang sudah dicanangkan.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian syariat islam
Syariat ( legislasi ) adalah semua peraturan agama yang ditetapkan oleh ALLAH untuk kaum
muslimin, baik yang ditetapkan dengan Al-Quran maupun dengan sunnah Rasul ( Muhammad
Yusuf Musa,1998:131).
Menurut Ali dalam Nurhafni dan Maryam (2006:61) syariat islam secara harfiah adalah jalan
(ketepian mandi), yakni jalan lurus yang harus diikuti oleh setiap muslum, syariat merupakan
jalan hidup muslim, syariat memuat ketetapan Allah dan Rasulnya, baik berupa larangan maupun
suruhan yang meliputi seluruh aspek manusia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa syariat islam merupakan keseluruhan peraturan atau hokum yang
mengatur tata hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam
(lingkungannya), baik yang diterapkan dalam AL-quran maupun hadis dengan tujuan
terciptanya kemashlahatan, kebaikan hidup umat manusia di dunia dan di akhirat.
B. Sejarah penerapan syariat islam di Aceh.
1.
1. masa kerajaan Aceh.
Kerajaan Aceh mencapai gemilang masa pemerintahan iskandar muda (1607-1636). Salah satu
usaha beliau adalah meneruskan perjuangan sultan sebelumnya untuk melawan kekuasaan
portugis yang sangat membenci islam. Dia juga mendorong penyebaran agama islam keluar
kerajaan Aceh, seperti malaka dan pantai barat pulau sumatera. (Zakaria Ahmad, 1973:20-22).
Peradilan islam dibentuk untuk mengatur tatanan hokum yang di atur oleh ulama. Pengadilan
diberikan kewenangan sepenuhnya untuk mengatur jalan roda hokum tanpa meminta persetujuan
pihak atasan, peranan Qadhi malikul Adil (hakim agung kesultanan) di pusat kerajaan Aceh
memiliki kewenangan seperti Mahkamah Agung sekarang ini.
Setiap kawasan ada Qadhi ulee baling yang memutuskan perkara di daerah tersebut. Jika ingin
mengajukan banding diteruskan pada Qadli Maliku Adil. Kedua Qadhi ini diangkat dari
kalangan ulama yang cakap dan berwibawa.
( http//www.mahkamahsyariahaceh.go.id)
Sultan Aceh merupakan pelindung ajaran islam sehingga banyak ulama dating ke Aceh. Pada
masa itu hidup ulama seperti Hamzah fansuri, Syamsuddin As-samathrani dan syekh Ibrahim as-
syami. Pada masa iskandar thani (1636-1641) dating Nuruddin arraniri. Pada tahun 1603,
bukhari al jauhari mengarang buku tajussalatih (mahkota raja-raja), sebuah buku yang membahas
tata Negara yang berpedoman pada syariat islam ( zakaria ahmad, 1973: 22).
Di bawah perintah sultan juga ditulis buku mitat-uttullah karangan syekh abdurrauf disusun
pada masa pemerintahan sultanah safiattuddin syah ( 1641-1675 ), dan buku safinat-ulhukkamyi
takhlish khashham karangan syekh jalaluddin at-tarussani disusun masa pemerintahan sultan
alaiddin johansyah (1732-1760). Buku ini ditulis sebagai pegangan hakim dalam menyelesaikan
perkara yang berlaku di seluruh wilayah di seluruh kerajaan Aceh sendiri dan di seluruh rantau
takluknya. Kedua buku ini bersumber pada buku-buku fiqih bermazhab syafii.
Hukum berlaku untuk setiap lapisan masyarakat termasuk kaum bangsawan dan kerabat raja.
Dari cerita mulut ke mulut iskandar muda menjatuhkan hukuman rajam kepada anak kandungnya
sendiri karena terbukti berzina dengan salah seorang isteri bangsawan di lingkungan istana. Raja
ling eke XIV masa sultan alauddin riayatsyah-al qahhar (1537-1571) di jatuhi hukuman oleh
qadli malikul adil untuk membayar 100 ekor kerbau kepada keluarga adik tirinya yang dia bunuh
dengan sengaja ( al yasa abu bakar, 2006:389-390)
Masa Aceh di bawah tampuk kerajaan masa dulu sudah di terapkan syariat islam,buktinya
adalah:
a. datangnya ulama-ulama besar, berarti kebutuhan dan penghargaan terhadap ulama masa itu
sangat besar.
b. Di bentuknya peradilan islam yang di atur oleh ulama tanpa campur tangan penguasa, ada
keleluasaan untuk menjalankan hukum syariah.
c. Pengadilan di buat sistematis, dari tingkat daerah hingga pusat. Masalah yang tidak selesai
di tingkat daerah( qadhi ulee baling) diteruskan ke mahkamah yang lebih tinggi (qadhi malikul
adil).
d. Jika kisah iskandar muda yang menghukum anaknya berzina adanya, berarti hukum rajam
bagi pelaku zina sudah diberlakukan pada saat itu.
1.
1. Masa awal kemerdekaan Indonesia dan orde baru.
Ketika kemerdekaan Indonesia di deklarasikan soekarno pada 17 agustus 1945, aceh belum
menjadi bagian dari NKRI. Kesediaan bergabung dalam wilayah RI karena adanya janji
soekarno yang ingin memberikan kebebasan untuk mengurus diri sendiri termasuk pelaksanaan
syariat islam. Janji itu terucap pada tahun 1948, bung karno dating ke aceh mencari dukungan
moril dan materil bagi perjuangan bangsa Indonesia melawan belanda. Kebebasan melaksakan
syariat merupakan imbalan jika bangsa Aceh bersedia memberikan bantuan.
Gayung pun bersambut. Di bawah komando daud beureueh berhasil terkumpul dana sebanyak
500.000 dolar AS. Untuk membiayai ABRI 250.000 dolar,50.000 dolar untuk perkantoran
pemerintahan,100.000 dolar untuk biaya pengembalian pemerintahan RI dari Yogya ke Jakarta.
Bangsa Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membelia oblogasi pemerintahan dan dua
pesawat terbang, selawah agam dan selawah dara.
Janji yang di lontarkan sang presiden RI di wujudkan malah provinsi Aceh di satukan dengan
provinsi sumatera utara tahun 1951. Hak mengurus wilayah sendiri dicabut. Rumah
rakyat,dayah,menasah yang hancur porak-porandaakibat peperangan melawam Belanda
dibiarkan begitu saja. Dari sinilah daud beureueh menggulirkan ide pembentukan Negara islam
Indonesia( DII ), april 1953 dia bergerilya ke hutan. Namun pada tahun 1962 bersedia menyerah
karena di janjikan akan di buatkan UU syariat Islam bagi rakyat Aceh (majalah Era Muslim
untold history. ] 30 September 2009 jam 22:35)
Setelah itu di berikan otonomi khusus untuk menjalankan proses keagamaan, peradatan dan
pendidikan namun pelaksanaan syariat islam masih sebatas yang di izinkan pemerintah pusat.
Hal itu tertuang dalam keputusan penguasa perang (panglima militer 1 Aceh/ iskandar muda,
colonel M.Jasin) no KPTS/PEPERDA-061/3/1962 tentang kebijaksanaan unsure-unsur syariat
agama islam bagi pemeluknya di Daerah Istimewa Aceh yang berbunyi :
pertama: terlaksananya secara tertib dan seksama unsur-unsur syariat agama islam bagi
pemeluknya di Daerah Istimewa Aceh, dengan mengindahkan peraturan perundangan Negara.
Kedua: penertiban pelaksanaan arti dan maksud ayat pertama di serahkan sepenuhnya kepada
pemerintah Daerah Istimewa Aceh. (al yasa Abu Bakar, 2006:33).
Pada tahun 1966 orde baru yang berkuasa, di sahkan peraturan daerah nomor 1 tahun 1966
tentang pedoman dasar majelis permusyawaratan ulama. Fungsi majelis ini adalah sebagai
lembaga pemersatu umat, sebagai penasehat pemerintah daerah dalam bidang keagamaan dan
sebagai lembaga fatwa yang akan memberikan pedoman kepada umat islam dalam hidup
keseharian dan keagamaanya.
Langkah untuk mewujudkan syariat islam melalui PERDA yang mengatur rambu-rambu
pelaksanaan stariat islam di Aceh ditempuh dengan membuat panitia khusus yang terdiri dari
cendekiawan dan ulama di luar DPRD. Rancangan ini disahkan DPRD menjadi peraturan daerah
nomor 6 tahun 1968 tentang pelaksanaan unsure syariat islam Daerah Istimewa Aceh. Ketika
peraturan daerah ini di ajukan kedepartemen dalam negeri untuk mengesahkan namun di tolak
dan secara halus (tidak resmi) meminta DPRD dan PEMDA Aceh mencabut PERDA tersebut.
Tahun 1974 pemerintah mengesahkan undang-undang tentang pokok pemerintahan didaerah
yang antara lain menyatakan bahwa sebutan Daerah Istimewa Aceh hanyalah sekedar nama,
peraturan sama dengan daerah lain. Syariat islam yang berlaku di tingkat gampong dig anti
dengan undang-undang no:5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa ( alyasa abu bakar, 2006:31-
39)
Tidak ada penerapan syariat islam sama sekali baik pada masa orde lama maupun orde baru.
Syariat islam Cuma senjata politik untuk memuluskan rencana penguasa.
Periode orde lama, soekarno menggunakan janji keleluasaan penerapan syriat islam untuk
mencari dukungan dari pemimpin Aceh, Abu Beureueh dan berhasil. Saat janji yang tak pernah
di tepati itu ditagih melalui perlawanan bersenjata, kembali jurus syariat islam yang di
pergunakan dan sekali lagi berhasil. Beberapa PERDA yang mengatur tata pelaksanaan syariat
namun sebatas yang di bolehkan penguasa. Masa orde lama pun tak jauh beda. Syariat islam
Cuma sekedar usaha penguatan kedudukan di mata masyarakat yang sudah hilang kesabaran
menanti janji pemerintah. Setelah kepercayaan masyarakat tumbuh malah syariat islam yang di
laksnakan turun-temurun tingkat desa malah di hapuskan dan di ganti dengan peraturan yang
berlaku di seluruh Indonesia.
1.
1. Syariat islam era otonomi khusus (sekarang).
Penerapan syariat islam era otonomi khusus untuk aceh akrab dengan kata-kata penerapan
syariat islam secara kaffah di Aceh. Bisa di artikan usaha untuk memberlakukan islam sebagai
dasar hukum dalam tiap tindak-tanduk umat muslim secara sempurna.
Istilah kaffah digunakan karena Negara akan melibatkan diri dalam pelaksanaan syariat islam di
Aceh. Membuat hukum positif yang sejalan dengan syariat, merumuskan kurikulum yang islami,
dan masalah-maslah lain yang berkaitan dengan syariat.
Dasar hukum pelaksanaan syariat islam di Aceh adalah diundangkan UU no 44 tahun 1999 dan
UU no 18 tahun 2001. Dalam undang-undang nomor 44 syariat islam didefinisikan sebagai
semua aspek ajaran islam. Dalam undang-undang nomor 18 disebutkan bahwa mahkamah
syariyah akan melaksanakan syariat islam yang di tuangkan ke dalam qanun terlebih dahulu.
Qanun adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah daerah Aceh untuk melaksanakan syariat
islam bagi pemeluknya di Aceh ( al yasa abu bakar, 2004:61).
Pelaksanaan syariat islam secara kaffah mempunyai beberapa tujuan , di antaranya yaitu:
1. Alas an agama: pelaksanaan syariat islam merupakan perintah agama untuk dapat menjadi
muslim yang lebih baik,sempurna, lebih dekat dengan ALLAH.
2. Alas an psikologis: masyarakat akan merasa aman dan tenteram karena apa yang mereka
jalani dalam pendidikan, dalam kehidupan sehari-hari sesuai dan sejalan dengan kesadaran dan
kata hati mereka sendiri.
3. Alasan hukum: masyarakat akan hidup dalam tata aturan yang lebih sesuai dengasn
kesadaran hukum, rasa keadilan dan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di tengah
masyarakat.
4. Alas an ekonomi dan kesejahteraan sosial: bahwa nilai tambah pada kegiatan ekonomi,
serta kesetiakawanan sosial dalam bentuk tolong menolong, baik untuk kegiatan ekonomi atau
kegiatan sosial akan lebih mudah terbentuk dan lebih solid.
Lembaga yang terkait penerapan syariat islam.
a. Dinas syariat islam.
Dinas syariat islam provinsi diresmikan pada tanggal 25 feb 2002. Lembaga inilah yang
mengatur jalannya pelaksanaan syariat islam. Tugas utamanya adalah menjadi perencana dan
penanggung jawab pelaksanaan syariat islam di NAD.
b. Majelis permusyawaratan ulama (MPU)
Lembaga ini merupakan suatu lembaga independen sebagai suatu wadah bagi ulama-ulama
untuk berinteraksi, berdiskusi, melahirkan ide-ide baru di bidang syariat. Kaitannya dalam
pelaksanaan syariat islam adalah lembaga ini bertugas memberikan masukan pertimbangan,
bimbingan dan nasehat serta saran dalam menentukan kebijakan daerah dari aspek syariat islam,
baik kepada pemerintahan daerah maupun kepada masyarakat.
c. Wilayatul hisbah (WH)
Wilayatul hisbah merupakan lembaga yang berwenag member tahu dan mengingatkan anggota
anggota masyarakat tentang aturan-aturan yang ada yang harus di ikuti, cara menggunakan dan
menaati hukum tersebut, serta perbuatan yang harus di hindari karena bertentangan dengan
peraturan.
Tugas wilayatul hisbah.
Tugas yang harus di jalankan wilayatul hisbah antara lain:
1. Memperkenalkan dan mensosialisasi qanun dan peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan
dengan syariat islam dan juga mengingatkan atau memperkuatkan aturan akhlak dan moral yang
baik.
2. mengawasi masyarakat agar mereka memahami peraturan yang ada dan berakhlak dengan
akhlak yang luhur yang dituntun islam.
3. melakukan pembinaan agar para pelaku perbuatan pidana tidak melakukan perbuatan maksiat
(kejahatan) lanjut.
Wilayatul hisbah diangkat secara khusus oleh gubernur pada tingkat provinsi, tingkat kabupaten
atau kota oleh bupati atau walikota sedangkat tingkat gampong di angkat oleh petugas tuha peut
(tetua gampong) setempat. Jika dijabarkan tahapan tugas wilayatul hisbah dan kaitannya dengan
penegak hukum syariah lain adalah:
a. Tahap sosialisasi akan berhubungan dengan pimpinan gampong.
b. Tahap penyidikan bertugas sebagai PPNS (petugas penyidik negeri sipil) dan akan
berhubungan dengan polisi.
c. Tahap penjatuhan hukuman bertugas sebagai petugas pencambuk dan akan berhubungan
dengan kejaksaan.
d. Mahkamah syariah.
Mahkamah syariah merupakan pengganti pengadialan agama yang sudah di hapuskan.
Mahkamah ini akan mengurus perkara muamalah (perdata), jinayah (pidana) yang sudah ada
qanunnya. Pendek kata lembaga ini adalah pengadilan yang akan mengadili pelaku pelanggaran
syariat islam.
Tingkat kabupaten dibentuk mahkamah syariah dan tingkat provinsi mahkamah syariah provinsi
yang diesmikan pada tahun 2003 (dalam alyasa abu bakar, 2004 dan 2006).
Sistem penyusunan hukum syariat islam di NAD
Syariat islam yang akan menjadi hukum materil dituliskan dalam bentuk qanun terlebih dahulu,
untuk mencegah kesimpangsiuran. Penerapan hukum jika hakim mengambil langsung dari buku-
buku fikih dan berijtihad sendiri dari al-quran dan sunnah rasul.
Sebelum terbentuknya qanun terlebih dahulu di buat rancangan oleh sebuah team untuk
disosialisasikan kepada masyarakat untuk memperoleh masukan dan tanggapan. Setelah itu
dilakukan konsultasi antara DPRD dengan MPU.
Beberapa qanun yang telah disahkan
(agustus 2005)
Sampai tahun 2005 sudah ada beberapa qanun yang disusun dan disahkan bahkan sudah ada
pelaku pelanggar syariat yang ditindak dengan hukum ini, diantaranya :
1. Qanun nomor 11 tahun 2002 tentang pelaksanaan syariat islam bidang aqidah. Ibadah dan
syariat islam.
2. Qanun nomor 12 tahun 2003 tentang larangan khamar (minuman keras), pelaku yang
mengkonsumsi khamar akan dijatuhi hukuman cambuk 40 kali. Hakim tidak di beri izin untuk
memilih (besar kecil atau tinggi rendah) hukuman. Bagi yang mem[roduksi khamar dijatuhi
hukuman tazir berupa kurungan paling lama satu tahun, paling sedikit 3 bulan dan denda paling
banyak Rp. 75.000.000 (tujuh puluh lima juta) dan paling sedikit Rp. 25.000.000 (dua puluh lima
juta rupiah).
3. Qanun nomor 13 tahun 2003 tentang larangan maysir (perjudian).
4. Qanun nomor 14 tahun 2003 tentang larangan khalwat (perbuatan mesum).
5. Qanun nomor 7 tahun 2004 tentang pengelolaan zakat.
Hukuman cambuk
Hukuman cambuk merupakan salah satu hukum yang berlaku dalam syariat islam NAD.
Ketentuan dlam hukum cambuk antara lain:
a. Terhukum dalam kondisi sehat.
b. Pencambuk adalah wilayatul hisbah yang di tunjuk jaksa penuntut umum.
c. Cambuk yang digunakan adalah rotan dengan diameter 0.75 s/d 1.00 cm.
d. Jarak pencambuk dengan terhukum kira-kira 70 cm.
e. Jarak pencambuk dengan orang yang menyaksikan paling dekat 10 meter.
f. Pencambukan di hentikan jika menyebabkan luka, di minta dokter atas pertimbangan
medis, atau terhukum melarikan diri.
g. Pencambukan akan dilanjutkan setelah terhukum dinyatakan sehat atau setelah terhukum
menyerahkan diri atau tertangkap.
(al yasa abu bakar, 2006)
Kritik terhadap penerapan syariat islam
Penerapan syariat islam hamper jalan 10 tahun. Perlahan-lahan hukum positif yang dituangkan
dalam KUHP digantikan dengan hukum Allah yang terangkum dalam Al-Quran dan Hadish dan
di tuangkan dinas syariat islam ke dalam qanun. Pro dan kontra dari berbagai pihak terus saja
mengalir. Mereka berusaha mengkritisi, mengevaluasi dan mengajukan ide baru untuk perbaikan
system penerapan syariat islam ke depan.
Menurut Teuku Reiza Yuanda, penerapan syariat islam lebih berkorelasi dengan aspek politik,
yaitu sebagai upaya pemerintah menyelesaikan konflik Aceh. Syariat islam cenderung di
praktekkan dengan cara-cara kekerasan oleh masyarakat dan pihak pelaksana syariat islam
sendiri tidak berdaya mencegah aksi kekerasan masyarakat tersebut. Hala yang sering muncul
kepermukaan adalah kasus mesum, khalwat, judi, khamar yang direspon masyarakat melalui
sweeping di kafe dan jalan dengan penekana pada busana wanita. Pelaksanaan syariat telah
terjadi pelanggaran terhadap serangkaian aturan lainnya, apakah korupsi dan manipulasi
keuangan Negara dibenarkan dalam islam? Apakah menghujat orang lain, memukul dan
menghina pelaku pelanggar syariat islam tanpa proses hukum yang adil dibenarkan dalam islam?
Sebagian besar masyarakat Aceh membenci pelanggar syariat islam padahal justru si pembenci
sendiri terkadang jarang beribadah untuk melakukan kewajian sebagai seorang muslim.
Sedangkan H.Taqwaddin mengkritisi hukum rajam bagi pelaku zina dan di potong tangan untuk
mencuri yang sedang hangat diwacanakan di Aceh sekarang.
1. Negara tidak layak merajam orang yang berzina jka Negara tidak mampu menangkal
media yang menjurus kepada hal-hal yang berbau porno dan memicu zina. Negara harus
menjalankan fungsinya dengan baik.
2. Fungsi dan peranan hukum sering disamarkan sehingga seolah-olah masyarakat kalangan
bawah tidak berlaku bagi kalangan atas.
Pemberlakuan syariat islam secara kaffah, yaitu keikutsertaan pemerintah untuk menegakkan
agama islam secara semourna. Segala bidang baik hukum, kesenian, pendidikan, system
pemerintahan akan akan dijalankan sesuai tata aturan yang dituangkan dalamhukum syariat
islam. Membangkitkan semangat keagamaan dan memberikan ganjaran bagi merekan yang tidak
menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai tuntutan hidup.
Pada periode ini dibuatlah aturan dalam bentuk qanun sebagai rujukan hakim untuk mengadili
pelanggar syaariah. Pemerintah juga membentuk polisi khusus (wilayatul hisbah) untuk
mengawasi dan mensosialisasikan jalannya qanun tersebut. Dinas syariat islam dibentuk untuk
mengkoordinir terlaksananya syariat islam menjadi satu kesatuan. Peranan ulama sebagai
penuntun dalam menelaah agama islam juga tidak di abaikan. Maka di bentuklah MPU ( majelis
permusyawaratan ulama ). Sebagai pemberi masukan, saran dan kritik.
Beberapa kemajuan yang dicapai sejak dari pertama diberlakukan diantaranya, kedudukan
sekolah umum dengan sekolah madrasah menjadi setara. Kesempatan mengajar pelajaran agama
di sekolah oleh guru dayah. Tgk imum gampong, guru pengajian memperoleh honorarium dari
pemerintah. Pembangunan balai pengajian dan kegiatan penagjian di danai oleh pemerintah.
Pemerintah ingin memperbaiki kesalahan orde lama dan orde baru saat syariat islam secara
kaffah bukan tuntutan masyarakat Aceh umumnya. Hasil penelitian oleh bustami ( pasca sarjana
UGM, 2004 ) memperlihatkan bahwa kalangan ulama dan aktifis mahasiswa memang melakukan
tuntutan agar syariat diberlakukan di Aceh, sedangkan aktivis LSM, cendekiawan, dan
masyarakat kalangan bawah, tidak pernah melakukannya.
Jadi dalam penerapan syariat islam ini ada dua serangkai kuat dalam masyarakat. ulama sebagai
pemimpin dan pengarah hidup dalam masyarakat. mahasiswa meski sebagai intelektual muda,
pemerintahan setangguh rezim Soeharto bisa ditumbangkan, artinya peranan mahasiswa dalam
masyarakat sangat besar.
Jika dikaitkan dengan pendapat Teuku Reiza yuanda yang telah diuraikan sebelumnya,
penerapan syariat islam lebih berkorelasi dengan aspek politik. Maka kekuatan ulama dan
mahasiswa digunakan pemerintah untuk mempengaruhi masyarakat agar berpersepsi syariat
islamlah juru kunci perdamaian di Aceh karena ulama sebagai orang cerdik dan bijak saja berdiri
digaris depan.
Banyak kejanggalan dan kekurangan dari segi penerapan dari hukum syariat. Syariat islam yang
paling mengemuka dari tahun 2001-sekarang adalah khalwat, judi, khamar, jilbab wanita, celana
panjang bagi wanita. Akhir-akhir ini pun sempat di hebohkan dengan wacana pemberlakuan
rajam bagi pelaku zina dan potong tangan bagi pencuri.
Memang minuman keras dapat menjerumuskan seseorang untuk melakukan perbuatan keji lain
seperti pembunuhan, zina dan dosa-dosa besar lainnya. Judi dapat membawa kesengsaraan
karena sifatnya untung-untungan. Negitu juga dengan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuh
wanita yang merupakan aurat bagi mereka dan khalawat akan mendorong terjadinya
pemerkosaan, perzinaan, pelecehan terhadap kehormatan wanita. Lebih parah lagi zina akan
menghasilkan keturunan yang tidak diridhai oleh Allah, terlunta-luntanya anak-anak hasil zina,
Namun mengapa sampai sekarang tidak ada seorang pun pejabat pernah dihukum yang telah
ketahuan melakukan KKN terus merajalela. Untuk Pemkab Aceh Utara sendiri 22 milyar uang
rakyat lenyap, namun tidak ada sorotan dalam bidang syariat islam.
Lading ganja, pembunuhan, perampokan terus saja merajalela namun tidak pernah ada
penanganan yang serius dari pihak berwenang. Media massa yang tidak islami terus saja
bermunculan dan merupakan pencetak oplah terbanyak di Aceh. Seperti Pro haba, rakyat Aveh,
Metro Aceh. Koran ini menonjolkan berita seks, kriminalitas tanpa menghormati identitas
korban suatu kejahatan. Dalam panduan komunikasi massa umum saja sudah ditegaskan tidak
boleh memuat suatu berita dengan mengabaikan hak-hak orang yang diberitakan apalagi dalam
komunikasi islami.
Hal ini selaras dengan pendapat H.Taqwaddin yang mengatakan pemerintahan tidak layak
merajam orang yang berzina jika Negara tidak mampu menangkal mediayang menjurus kepada
hal-hal yang berbau porno. Percuma saja pelarangan zina jika hal-hal yang memicu terjadinya
zina terus menerpa umat islam.
Dari segi pakaian mengapa selalu celana panjang wanita yang menjadi sorotan dan rok menjadi
solusinya? Jika rok juga dapat menonjolkan aurat intinya kan sama saja. Mengapa kaum lelaki
yang memakai celana pendek tidak pernah dipermasalahkan? Padahal dia dalam islam jelas
diatur aurat wanita adalah seluruh tubuh dan laki-laki dari pusar hingga lutut. Mengapa pula
dalam VCD karya seni anak Aceh modelnya tidak memakai pakaian yang islami dan ceritanya
disajikan tidak islami. Mengapa hal itu tidak mendapat perhatian dari dinas syariat islam atau
pihak-pihak terkait lainnya. Ada apa dibalik semua itu???
Mungkin yang perlu dilakukan agar islam kembali jaya di Aceh sepeti pada masa Rasulullah
adalah mencoba bangkit dari hal-hal kecil tapi efeknya sangat besar. Seperti disiplin waktu,
menjaga kebersihan, ketertiban di jalan raya, penghormatan terhadap milik dan karya intelektual
orang lain, kesopanan, rasa cinta kepada Allah dan Rasul.
Sosialisasi syariat islam perlu dilakukan dengan cara modern. Di bidang pakaian harus digiatkan
seni merancang busana yang islami karena ada kecenderungan masyarakat kita berbusana sesuai
trend. Maka kita harus menciptakan trend yang islami.
Dapat juga dilakukan melalui pemanfaatan media milik pemerintah seperti TVRI dan RRI.
Produktivitas TVRI yang kurang berkembang perlu disokong dengan acara-acara yang
berbasiskan islam. Media cetak islami perlu digiatkan perkembangannya. Jadi intinya adalah kita
jangan hanya pandai melarang tanpa memberikan solusi, tapi solusi yang tepat akan
meminimalisir hal-hal yang menguras keimanan kepada Allah SWT.
Bab III
Kesimpulan
Syariat islam merupakan peraturan yang telah ditetapkan Allah dalam Al-Quran dan hadish bagi
umat islam tidak hanya segi ibadah namun juga bidang sosial, ekonomi, budaya agar tercipta
kehidupan teratur, aman sentosa dunia dan akhirat.
Syariat islam sudah di terapkan sejak Aceh masih dalam bentuk kerajaan. Ulama merupakan
ujung tombak pelaksanaan hukum tanpa harus meminta persetujuan dari penguasa. Pengadialn di
bentuk di tingkat daerah dan di teruskan ke pusat jika terdakwa mengajukan banding. Beberapa
hukum yang di laksanakan di antaranya rajam bagi pelaku zina dan denda dengan membayar
diyat oleh pelaku pembunuhan sengaja.
Masa orde lama dan orde baru tidak ada pelaksanaan syariat resmi dari pemerintah. Syariat
dilaksanakan sendiri oleh masyarakat di tingkat gampong. Pemerintah memahami betul sikap
orang Aceh yang menjunjung tinggi syariat islam sehingga digunakan sebagai senjata politik
untuk menarik simpati rakyat dan berhasil.
Setelah Aceh diberikan status otonomi khusus tahun 2001, pemerintah mencanangkan syariat
islam secara kaffah khusus wilayah Aceh. Syariat islam secara kaffah di artikan pelaksanaan
hukum syariah secara sempurna oleh pemrintah daerah. Beberapa lembaga yang di bentuk untuk
menjalankannya yaitu, dinas syariat islam yang mempunyai tanggung jawab utama pelaksanaan
hukum syariah, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) sebagai lembaga independen yang
bertugas memberikan masukan dan kritikan terhadap jalannya hukum syariat, dan polisi
wilayatul hisbah yang bertugas mensosialisasikan qanun, menangkap pelanggar qanun serta
menghukum pelaku yang melanggar syariat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,zakaria.1973.sejarah Indonesia jilid II.Medan: monora.
Abu Bakar. Al yasa.2004. bunga rampai pelaksanaan syariat islam (pendukung Qanun
pelaksanaan syariat islam). Dinas syariat islam : Banda Aceh.
Abu Bakar. Al yasa.2006. syariat islam di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam-paradigma,
kebijakan dan kegiatan. Dinas syariat islam: Banda aceh.
Musa, Muhammad yusuf.1988.islam: suatu kajian komprehensif. Jakarta: rajawali press.
Nurhafni dan maryam.2006. pro dan kontra penerapan syariat islam di NAd. SUWA IV (3):59-
66
Miswar sulaeman.www.mahkamahsyariatAceh.go.id(15 nov 2009,13:48)