Anda di halaman 1dari 8

Dampak positif dan negatif bagi perkembangan remaja

Televisi sebagai salah satu buah dari kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi
telah banyak memberi hiburan, informasi dan nuansa edukatif terhadap khalayak umum.
Kecepatan dalam menyampaikan berita dan keefektifannya dalam menampilkan gambar
membuat kita lebih nyaman dalam mengakses informasi. Tapi juga tidak dapat dipungkiri dari
sekian banyak kenyamanan yang telah terasa juga membawa ekses negatif terhadap pola
kehidupan kita, terutama sekali pada pola perkembangan kehidupan anak-anak kita yang rata-
rata masih di usia dini. Selain pengaruh positif, pengaruh negatif pun juga tidak bisa terelakkan.
Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi
belakangan ini. hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara
(terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme),
pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba
demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin
bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak.
Rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu.
Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam
sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti
setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu
yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak
meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun,
kecuali tidur. Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan
media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton
televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan
anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi
berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program
Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari televisi, yang tidak didapat dari
tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi
anak. Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak
tayangan televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los
Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip
dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton
tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di TV membuat anak menganggap
kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah. Sementara itu sebuah penelitian di
Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7
tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun
terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan
waktunya untuk menonton tayangan yang sama. Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran.
Namun di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli,
Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian
pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan
juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa
bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang aneh-aneh
tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap
guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik. Dikawatirkan anak-anak
sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah
kemewahan itu. Menurut dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA (K), dokter spesialis anak konsultan
neurology dari RSCM, beliau mengatakan, Televisi memiliki dampak positif dan negatif bagi
anak. Tetapi membiarkan anak menonton televisi sepanjang hari, pastinya akan menurunkan
tingkat kecerdasan anak.Beliau menjelaskan, dengan hanya menonton televisi, otak kehilangan
kesempatan mendapat stimulasi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam hubungan
sosial dengan orang lain, bermain kreatif, dan memecahkan masalah. Selain itu, televisi bersifat
satu arah, sehingga membuat anak kurang mengeksplorasi dunia tiga dimensi dan kehilangan
peluang mencapai tahapan perkembangan yang baik. Ia menambahkan, sambungan-
sambungan antar synaps (jaringan dalam otak yang membuat cerdas seorang anak) sangat
ditentukan oleh gerakan tubuh. Bila anggota tubuh bergerak, maka otak akan membuat
jaringan tentang aktifitas itu terus menerus sehingga menjadi kebiasaan. Otak akan
mengabadikannya. Synap tidak berkembang dengan baik.Karena itu, para ahli neuroscience
sepakat, yang dkutip dari situsnya www.tvturnoff.com bahwa menggunakan mata menonton
televisi terlalu banyak akan membuat anak kesulitan membaca, tuturnya. Pengaruh Positif
Memang tidak semua tayangan televisi tidak berdampak buruk bagi perkembangan
anak, seperti tayangan discovery chanel yang berisikan mengenai seputar ilmu pengetahuan
seperti kehidupan hewan, biografi tokoh, pendidikan dalam menjaga alam, dan sebagainya. Hal
ini memang sangat membantu perkembangan motorik kerja otak bagi anak dalam belajar, yang
berguna untuk mengenal berbagi kehidupan yang ada dibumi ini, hal ini mungkin tidak didapat
didalam lingkungan kesehariannya melaikan didapat dari tayangan tersebut. Di Indonesia
sendiri ada juga tayangan yang mendidik bagi anak seperti tv education yang ditayangkan oleh
Televisi Republik Indonesia (TVRI) tayangan ini juga berisi mengenai pendidikan yang baik bagi
anak, dimana tayangan tersebut mengenai pembahasan pelajaran sekolah mulai dari tingkat
dasar sampai tingkat atas (SD-SMA). Jadi pemilihan program tayangan televise yang baik
kembali diserahkan kepada orang tua.
Pengaruh Negatif Kehadiran stasiun baru dalam pertelevisian nasional mau tidak
mau semakin mempertajam tingkat persaingin dalam bisnis di bidang ini. Sebagai
konsekuensinya, para awak televisi harus memilih strategi tepat dalam menggaet segmen
pemirsa. Upaya merebut hati penonton ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan
rating sekaligu menaikkan iklan yang masuk. Dalam iklim kompetisi tersebut, ternyata beberapa
televisi memilih jalan pintas antara lain dengan mengeksploitasi dunia anakanak dan remaja
secara berlebihan. Eksploitasi ini diindikasikan dalam empat hal.
1. Judul-judul sinetron remaja yang disajikan sering kali bertemakan vulgarisme,
menantang dan mengandung unsur pornografi.
2. Pemain sinetron yang dipilih rata-rata berasal dari kalangan remaja belia atau bahkan
sebagian masih berusia anak-anak.
3. Jenis-jenis peran yang dimainkan oleh para artis remaja sering kali bertabrakan dengan
norma pergaulan masyarakat dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan
psikologisnya. Salah satu buktinya, banyak artis usia remaja yang dari pengakuannya
belum pernah berperlukan dan berciuman dipaksa untuk memerankan adegan percintaan,
pacaran serta menjalankan adegan berciuman, berpelukan dan bergendongan sesuai
arahan skenario cerita.
4. Banyaknya alur cerita sinetron remaja yang mengambil seting anak-anak sekolah lengkap
dengan seragam sekolah, lokasi sekolah, aneka pergaulan di kelas dan luar kelas. Pada
hal jika dicermati, beberapa adegan sinetron yang berseting sekolahan ini tidak sesuai
dengan norma agama dan adat ketimuran yang berlaku. Praktik eksploitasi anak-anak dan
remaja dalam sinetron perlu dihindari. Pasalnya, tayangan sinetron remaja yang vulgar
dan menampilkan unsur pornografi dalam jangka panjang akan mengotori jiwa dan
pikiran anak-anak yang sebetulnya masih berada dalam tahap bimbingan dan
keteladanan.
Bukankah cara belajar anak-anak pertama adalah meniru terhadap apa yang dilihat
atau sering dikatakan para psikolog what they see is what they do (apa mereka lihat adalah apa
yang mereka kerjakan. Keadaan akan lebih parah jika orang tua sendiri tak mampu memberi
keteladanan karena anak-anak pasti akan mencari teladan dari tempat lain termasuk dari
tayangan sinteron, sehingga saat menonton sinetron, anak-anak akan mengalami proses
internalisasi (pengendapan) dan meresapi kesan-kesan, citra dan nilai-nilai yang terkandung
dalam alur cerita tersebut. Dalam keadaan psikologis yang masih labil tentu anakanak akan
gampang meniru gaya dan pola pergaulan yang dikisahkan tokoh-tokoh pada sinetron itu.
Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap prilaku seseorang telah dibuktikan lewat
penelitian ilmiah. Seperti diungkapkan oleh hasil penelitian American Psychological Association
(APA) pada 1995 bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk
berprilaku baik. Sedangkan tayangan kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk
berprilaku buruk. Bahkan, penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk
yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia
anak-anak. Cerita tentang prilaku negatif yang dilakukan anak-anak karena pengaruh tontonan
ini juga sudah sering kita dengar. Kita sering mendengar ucapan anak-anak yang menirukan
ucapan nakal dari tokoh film animasi Shincan yang kasar dan jorok. Belum lagi beberapa
contoh-contoh prilaku negatif lain seperti pergaulan bebas, merampok, memperkosa,
bertengkar dan lain-lain yang dilakukan remaja karena pengaruh tayangan televisi.
Ada beberapa sebab yang menjadikan tayangan televisi memberi dampak negatif
bagi para penontonnya. Sebuah tayangan televisi misalnya, yang mestinya ditonton oleh remaja
usia 17 tahun ke atas jika ditonton oleh anak-anak usia 16 tahun ke bawah tentu akan
membawa pengaruh buruk bagi mentalitas mereka. Penelitian para psikolog Amerika Serikat
telah membuktikan hal tersebut. Menurut hasil penelitian mereka yang dipublikasikan dalam
Jurnal Ef-fective Clinical Practice terungkap bahwa menonton film-tak perlu harus mengandung
material porno, asal dalam rating R-sudah cukup membuat anak berada di tepi kehancuran.
Sekadar informasi, rating R adalah film-film yang ditujukan untuk usia 17 tahun ke
atas. Memperoleh film ini tak sukar, karena ada video CD dan rental-rental yang
menyewakannya tanpa peduli usia. Di layar televisi, ada banyak film rating R yang diputar pada
jam-jam yang masih memungkinkan ditonton anak-anak. Anak-anak yang menonton tayangan
orang dewasa ini memiliki kecenderungan berprilaku negatif tiga kali dibandingkan jika mereka
tidak menonton. emikian kuatnya pengaruh film itu, hingga kecenderungan tersebut tak dapat
diubah atau dipengaruhi oleh para orangtua meski dengan hukuman ataupun larangan.
Peran Orangtua
orangtua dalam hal mengatur si anak untuk menonton televisi adalah kunci awal
untuk membendung berbagai program televisi yang tidak mendidik. Karena selama ini program
televisi sangat sarat dengan hal-hal yang tidak mendidik, maka dalam hal ini yang diperlukan
adalah bagaimana orang tua mampu memberikan alias mengatur dan memilih waktu dan
tayangan-tayangan yang terbaik untuk anaknya. Bagi orang tua yang sejatinya dipilih adalah
acara yang memang itu dunia anak-anak, seperti kartun, Unyil dan hal-hal yang bersifat
menghibur, permainan, dan mengarah pada penambahan perbendaharaan kata-kata yang
pantas untuk anak-anak. Program yang mengarah pada hal-hal yang edukatif dan sesuai
dengan dunia anak tidak apa-apa untuk digalakkan. Jangan sampai orang tua memberikan
waktu luang terlampau banyak pada anak-anak untuk menonton program televisi yang
diperuntukkan bagi orang dewasa, seperti adegan-adegan kekerasan, sinetron yang vulgar dan
sinetron yang berbau mistis. Semua itu akan mempengaruhi mentalitas anak untuk berbuat
layaknya apa-apa yang telah ditonton dan terekam dalam benaknya. Untuk memilih program
apa yang sebenarnya sesuai dengan dunia anak-anak, orang tua sejatinya mengetahui program
yang tepat untuk dunianya.
Hurlock dalam penelitiannya yang dikutip oleh Arini Hidayati (Televisi dan Perkembangan Sosial
Anak, 1998) memberi beberapa perincian program yang tepat sesuai dengan usia anak. Untuk
anak usia pra-sekolah lebih menyukai dramatisasi yang melibatkan hewan, musik, kartun dan
komedi sederhana. Anak kelas satu dan dua biasanya menyukai pertunjukan boneka, film koboi,
misteri dan humor. Anak kelas tiga dan empat biasanya lebih menyukai acara yang imajinatif
dan anak kelas lima dan enam lebih cenderung pada acara-acara yang berbau ilmu
pengetahuan dan hasta karya serta film-film yang imajinatif. Pembagian fase-fase potensial
tersebut hanyalah sebagai pemetaan saja akan kecendrungan dan kegandrungan anak dari
aspek usia.
Tapi yang jauh lebih penting untuk menjadikan televisi sebagai media pendidikan
anak adalah sejauh mana orangtua bisa mengetahui kegandrungan anak-anak dan dia
mengaturnya serta mengendalikan sebaik mungkin. Jangan sampai terpaku pada salah satu
konsepsi teoritis. Karena bagaimanapun tidak sedikit kita jumpai anak-anak yang mempunyai
perkembangan kecerdasan dan mental yang melampaui anak seusianya. Pada anak tipe inilah
dituntut kreatifitas orangtua dalam mengembangkan potensi kecerdasan anak secara maksimal.
Dalam hal ini orangtua mendapatkan peran yang paling strategis karena sejatinya memang
pendidikan anak usia dini dalam wilayah informal guru paling mengerti adalah orangtua. Maka
dari itu tantangan yang terberat saat ini adalah bagaimana peran orangtua tidak tergeser oleh
televisi, tapi bagaimana orangtua mampu menjadikan televisi sebagai media pendidikan untuk
anak-anaknya.
Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, namun
melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana
adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman
kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu
mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada
anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun
komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan
mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.Tidak ada suatu hal
pun yang meng-orkestrasi semua gaya anak-anak kecuali alam bawah sadarnya yang sudah
dibentuk oleh televisi. Bukti visual ini pun menangkap sebuah interaksi yang sangat mirip
dengan acara-acara perburuan dan penyergapan terhadap para penjahat yang acap kali
disiarkan di televisi. Seperti contohnya seorang anak yang meninggal akibat bermain smack
down.Sehingga tanpa pengawasan orang tua, televisi dapat berbahaya bagi anak-anak, dalam
cara pikir, perilaku, kebiasaanya, dll. Hali ini akan berpengaruh terhadap pembentukan watak
anak tersebut hingga ia dewasa nanti.
Bagaimanapun, TV merupakan salah satu media belajar bagi anak dan bisa
memberi pengaruh positif dan negatif terhadap tumbuh kembangnya. Yang penting,
mencegahnya agar tak sampai kecanduan nonton TV. karena anak usia ini sedang dalam tahap
mengembangkan perilaku sosial. Ia harus mendapat banyak kesempatan bermain dengan
teman-temannya. Karena itu jangan jadikan TV sebagai pengganti bentuk bermain. Menonton
TV itu cenderung pasif. Tak ada interaksi dua arah. Berbeda jika ia bermain dengan teman-
temannya. Ia akan aktif, entah fisiknya, komunikasi, atau sosial. Sehingga ada timbal-balik,
belajar saling memberi. Serta peran orang tua yang harus selalu mendampingi anak-anaknya
dalam menonton TV .

Peran Pemerintah
Peran pemerintah dalam mengantisipasi pengaruh televisi bagi masyarakat
khususnya anak-anak harus lebih ditingkatkan lagi, dalam hal ini pemerintah yang diwakili oleh
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih menyeleksi dan mendisiplinkan tayangan-
tayangan televisi yang yang memiliki pengaruh buruk pada anak, terlebih pada anak usia dini.
Berdasarkan Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Pasal 4
alinea b yang berbunyi :
Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi,
pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial Jelas tertulis dalam pasal ini bahwa
setiap tayangan yang disiarkan harus berisikan pendidikan bagi pemirsanya.
pasal 5 alinea b dan c yang berbunyi :
Alinea b : menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa
Alinea c : meningkatkan kualitas sumber daya manusia Didalam alinea b, saya mengartikan
bahwa semua tayangan televisi harus memuat atau menayangkan program yang dapat
meningkatkan moralitas pemirsanya dalam hal ini khususnya anak-anak yang berguna dalam
membangun jati diri bangsa. Namun sebaliknya masih banyak tayangan tayangan yang
berlawanan dengan pasal tersebut.
Alinea c, didalam alinea tertulis meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, dalam hal ini jelas
mempunyai makna bahwa setiapa tayangan televisi harus bisa membuat tayangan-tayangan
yang berguna bagi pemirsanya terlebih bagi anak-anak haruslah tayangan yang disiarkan
bersifat mendidik.

Oleh karena itu ada baiknya pemerintah melalui KPI kembali secara ketat
mengawasi segala macam program tayangan televisi dan dapat memberikan sanksi yang tegas
bagi setiap pelanggaran yang telah terjadi maupun yang akan datang.



Kesimpulan:

Dampak Positif
1. Memberikan hiburan yang menarik dan menyegarkan pikiran dan perasaan, sehingga
dapat menghilangkan kejenuhan.
2. Menambah wawasan dan pengetahuan karena terdapat pelajaran berharga mengenai
tata cara pergaulan di lingkungan masyarakat.
3. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai bergam karakter manusia melalui
kehidupan dan tingkah laku tokoh dalam sinetron.
4. Memberikan solusi untuk mengatasi masalah apabila secara kebetulan mengalami
peristiwa yang sama dengan kejadian dalam sinetron.

Dampak Negatif
1. Menjadikan remaja malas belajar karena jam tayang sinetron kebanyakan bersamaan
waktunya dengan jam belajar.
2. Menjadikan remaja tidak nyaman dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah karena
tidak seperti aktivitas sekolah di dalam sinetron.
3. Menjadikan remaja berbuat sekehendak hatinya, berpenampilan seenaknya, dan
berkata-kata semaunya meniru segala sesuatu yang melekat pada tokoh idolanya di
sinetron.
4. Memberikan mimpi yang menyesatkan remaja karena menampilkan kebebasan,
kemudahan, maupun kemewahan yang semuanya dapat diperoleh secara instan.









TUGAS BHS. INDONESIA





D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

KELOMPOK 3
KELAS VIII-7



MTsN. MODEL MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2013-2014




NAMA ANGGOTA KELOMPOK 3:
-YULIA JAMAATY BUSRAH
- KHAERUNNISA
- NURUL AL-QURANY
- DWI FACHRUL EFENDI
- DZIKRAH DZULHAJIT

Anda mungkin juga menyukai