Anda di halaman 1dari 11

ENERGI TERBARUKAN

(Makalah Kimia Dalam Kehidupan)




Oleh

Anita Sari 1317011003
Ezra Rheinsky Tiarsa 1317011019
Inggit Borisha 1317011029
Monica Dhamayanti 1317011047
Nessia Kurnia 1317011049
Nurul Fatimah 1317011055




JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
I.PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Energi merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia, rasanya tanpa adanya
energi akan sangat sulit sekali bagi manusia untuk hidup, dalam kehidupan keseharian
semuanya kita lakukan menggunakan energi, sebagian besar kebutuhan energi yang
sekarang masih didominasi dari minyak bumi atau bahan bakar fosil. Kondisi minyak
bumi pada saat ini persediaan semakin menipis dan dengan diiringi harga semakin
meningkat, dengan adanya keadaan yang demikian, kita segera memulai mengembangkan
energi alternatif selain minyak bumi dan gas bumi yang tidak akan bertahan lama karena
persediaannya yang terbatas di alam. Sumber energi alternatif adalah sumber energi yang
bukan merupakan sumber energi konvensional ( yaitu bahan bakar fosil seperti batubara,
minyak dan gas alam).

Pendefinisian energi terbarukan atau yang lebih dikenal dengan energi alternatif pada
beberapa kamus, misalnya kamus Oxford menempatkan sumber energi alternatif
berkorelasi dengan lingkungan dan menyatakan bahwa istilah sumber energi alternatif
mengacu pada sumber energi yang tidak merugikan lingkungan. Banyak sumber energi
yang dapat digunakan sebagai bahan bakar fosil dan sifatnya terbarukan diantaranya
adalah tenaga air, energi panas bumi, energi matahari, bioefuel, tenaga angin. Pencegahan
dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber sumber daya yang ada dan
pengolahan limbah (contohnya tumbuhan getah jarak yang jarang dimanfaatkan) selain
ramah lingkungan, namun juga dapat menjadi pengganti penggunaan energi yang berasal
dari fosil.

Beberapa tahun belakangan ini terjadi kelangkaan bahan bakar minyak, yang disebabkan
oleh kenaikan harga minyak dunia yang signifikan, yang mendorong pemerintah untuk
mengajak masyarakat mengatasi masalah energi bersama-sama. Penghematan telah kita
gerakkan sejak dahulu, karena pasokan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi
adalah sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenweable) jika memang dapat
didapatkan kembali butuh jutaan tahun, sedangkan kebutuhan masyarakat semakin
meningkat, yang diimbangi dengan harga yang semakin meningkat sehingga tidak ada
stabilitas keseimbangan permintaan dan penawaran. Salah satu jalan untuk menghemat
bahan bakar minyak (BBM) adalah mencari sumber energi alternatif yang dapat
diperbarui (renweable).

Pada dasarnya sumber energi alternatif tersedia di alam secara melimpah dan dapat
dijumpai secara berkelanjutan. Misalnya, energi matahari, energi angin, energi air, energi
panas bumi atau yang biasa disebut geothermal dan energi yang berasal dari limbah. Saat
ini energi yang berasal dari air memang paling banyak dimanfaatkan dalam bentuk
pembangkit listrik tenga air (PLTA), namun bagi sumber energi lainnya belum terlihat
peningkatan pemanfaatan secara signifikan. Energi terbarukan lain yang dapat dihasilkan
dengan teknologi tepat guna yang relatif lebih sederhana adalah energi biogas, energi
bioetanol dan solar.





















II.TINJAUAN PUSTAKA



Merupakan suatu kenyataan bahwa kebutuhan akan energi, khususnya energi listrik di
Indonesia, makin berkembang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebutuhan hidup
masyarakat sehari-hari seiring dengan pesatnya peningkatan pembangunan dibidang
teknologi, industri dan informasi. Namun, pelaksanaan penyediaan energi listrik yang
dilakukan oleh PT. PLN (Persero), selaku lembaga resmi yang ditunjuk oleh pemerintah
untuk mengelola masalah kelistrikan di Indonesia, sampai saat ini masinh belum dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik secara keseluruhan. Kondisi
geografis negara Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan kepulauan menyebabkan
tidak meratanya penyebaran pusat-pusat beban listrik, rendahnya tingkat permintaan
listrik dibeberapa wilayah, tingginya biaya marginal pembangunan sistem suplai energi
listrik, serta terbatasnya kemampuan finansial, merupakan faktor-faktor penghambat
penyediaan energi listrik dalam skala nasional (Ramani, 1992).

Selain itu makin berkurangnya ketersediaan sumber daya energi fosil khususnya minyak
bumi yang sampai saat ini masih merupakan tulang punggung dan komponen utama
penghasil energi listrik di Indonesia, serta makin meningkatnya kesadaran akan usaha
untuk melestarikan lingkungan, menyebabkan kita harus berpikir untuk mencari alternatif
penyediaan energi listrik yang memiliki karakter sebagai berikut :
Dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian energi fosil, khususnya
minyak bumi.
Dapat menyediakan energi listrik dalam skala lokal regional.
Mampu memanfaatkan potensi sumber daya energi setempat.
Cinta lingkungan, dalam artian proses produksi dan pembuangan hasil
produksinya tidak merusak lingkungan hidup disekitarnya.
Sistem penyediaan energi listrik yang dapat memenuhi kriteria diatas adalah sistem
konversi energi yang memanfaatkan sumber daya energi terbarukan seperti, matahari,
angin, air, biomas, dan lain sebagainya. Tak bisa dipungkiri bahwa kecendrungan untuk
mengembangkan dan memanfaatkan potensi sumber-sumber daya energi terbarukan
dewasa ini telah meningkat dengan pesat khususnya di negara-negara sudah maju yang
menguasai rekayasa dan teknologinya serta mempunyai dukungan finansial yang kuat.
Oleh sebab itu merupakan hal yang menarik untuk disimak lebih lanjut bagaimana
peluang dan kendala pemanfaatan sumber-sumber daya energi terbarukan ini di negara-
negara sedang berkembang khususnya di Indonesia. Dengan memperhatikan
pertumbuhan ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir, skenario ekspor-impor dan
pertumbuhan penduduk, pada tahun1990 diramalkan bahwa tingkat pertumbuhan
kebutuhan energi listrik nasionaldapat mencapai 8,2 persen rata-rata pertahun.

Kebutuhan energi listrik tersebut diharapkan dapat dipenuhi oleh pusat-pusat pembangkit
tenaga listrik baik yang dibangun oleh pemerintah maupun non-pemerintah. Sebagai
ilustrasi pada tahun 1990 kebutuhan energi listrik sebesar 51.919 GWh telah dipenuhi
oleh seluruh pusat pembangkit listrik yang ada dengan kapasitas daya terpasang sekitar
22.000 MW. Sehingga pada tahun 2010 dari kebutuhan energi listrik, yang diramalkan
mencapai 258.747 GWh per tahun, diharapkan dapat dipenuhi oleh sistem suplai energi
listrik dengan kapasitas total sebesar 68.760 MW. Penggunaan minyak bumi termasuk
solar/minyak disel, sebagai bahan bakar produksi energi listrik akan sangat berkurang,
sebaliknya pemanfaatan sumber-sumber daya energi baru dan terbarukan, seperti air,
matahari, angin dan biomas, mengalami peningkatan yang cukup tajam. Kecendrungan
ini tentu akan terus bertahan seiring dengan makin berkurangnya cadangan minyak bumi
serta batubara yang pada saat ini masih merupakan primadona bahan bakar bagi
pembangkit listrik di Indonesia. Akan tetapi sejak tahun 1992 kebutuhan energi listrik
nasional meningkat mencapai 18 persen rata-rata per tahun, atau sekitar dua kali lebih
tinggi dari skenario yang dibuat pada tahun 1990. Hal ini disebabkan oleh tingginya
pertumbuhan ekonomi nasional yang kaitannya dengan pertumbuhan industri dan jasa
konstruksi. Jika keadaan ini terus bertahan berarti diperlukan pula pengadaan sistem
pembangkit tenaga listrik tambahan guna mengantisipai peningkatan kebutuhan tersebut.
Dilema yang timbul adalah bahwa disatu sisi, pusat-pusat pembangkit energi listrik yang
besar tentu akan diorientasikan untuk mencukupi kebutuhan beban besar seperti, industri
dan komersial. Disisi lain perlu juga dipikirkan agar beban kecil, seperti perumahan dan
wilayah terpencil dapat dipenuhi kebutuhan energi listriknya. Salah satu alternatif yang
dapat adalah dengan membangun pusat-pusat pembangkit kecil sampai sedang, yang
memanfaatkan potensi sumber daya energi setempat, khususnya sumber energi baru dan
terbarukan (Djojonegoro, 1992).

Setelah terjadinya krisis energi yang mencapai puncak pada dekade 1970, dunia
menghadapi kenyataan bahwa persediaan minyak bumi, sebagai salah satu tulang
punggung produksi energi terus berkurang. Bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa
dengan pola konsumsi seperti sekarang, maka dalam waktu 50 tahun cadangan minyak
bumi dunia akan habis. Keadaan ini bisa diamati dengan kecenderungan meningkatnya
harga minyak di pasar dalam negeri, serta ketidak stabilan harga tersebut di pasar
internasional karena beberapa negara maju sebagai konsumen minyak terbesar mulai
melepaskan diri dari ketergantungannya kepada minyak bumi sekaligus brusaha
mengendalikan harga agar tidak meningkat. Sebagi contoh pada tahun 1970 negara
Jerman mengosumsi minyak bumi sekitar 75 persen dari total konsumsi energinya, namun
pada tahun 1990 konsumsi tersebut menurun hingga tinggal 50 persen (Pinske, 1993).

Jika dikaitkan dengan penggunaan minyak bumi sebagai bahan bakar sistem pembangkit
listrik maka kecenderungan tersebut berarti akan meningkatkan pula biaya operasional
pembangkitan yang berpengaruh langsung terhadap biaya satuan produksi energi
listriknya. Dilain pihak biaya satuan produksi energi listrik dari sistem pembangkit listrik
yang memanfaatkan sumber daya energi terbarukan menunjukkan tendensi menurun,
sehingga banyak ilmuwan percaya bahwa pada suatu saat biaaya satuan produksi tersebut
akan lebih rendah dari biaya satuan produksi dengan minyak bumi atau energi fosil
lainnya. Pmanfaatan sumber daya energi terbaruakn sebagai bahan baku produksi energi
listrik mempunyai kelebihan anatra lain :
1. Relatif mudah didapat.
2. Dapat diperoleh dengan gratis, biaya operasional sangat rendah.
3. Tidak mengenal masalah limbah.
4. Proses produksinya tidak menyebabkan kenaikan temperatur bumi.
5. Tidak terpengaruh kenaikan harga bahn bakar (Jarass, 1980).

Akan tetapi bukan berarti pengembangan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan ini
terbebas dari segala kendala. Khususnya di Indonesia ada beberapa kendala yang
menghambat pengembangan energi terbarukan bagi produksi energi listrik seperti :
1. Rekayasa dan teknologi pembuatan sebagian besar komponen utamanya belum
dapat dilaksanakan di Indonesia, jadi masih harus mengimpor dari luar negeri.
2. Biaya investasi pembangunan yang tinggi menimbulkan masalah finansial pada
penyediaan modal awal.
3. Belum tersedianya data potensi sumber daya yang lengkap, karena masih
terbatasnya studi dan penelitian yang dilakukan.
4. Secara ekonomis belum dapat bersaing dengan pemakaian energi fosil.
5. Kontinuitas penyediaan energi listrik rendah, karena sumber daya energinya
sangat bergantung pada kondisi alam yang perubahannya tidak menentu.
Potensi sumber daya energi terbarukan, seperti; matahari, angindan air, ini secara prinsip
memang dapat diperbarui, karena selalu tersedia di alam.Namun, pada kenyataannya
potensi yang dapat dimanfaatkan adalah terbatas.Tidak di setiap daerah dan setiapwaktu;
matahari bersinar cerah air jatuh dari ketinggan dan mengailir deras serta angin bertiup
dengan kencang Disebabkan oleh keterbatasan keterbatasan tersebut, nilai sumber daya
energi sampai saat ini belum dapat begitu menggantikan kedudukan sumber daya energi
yang berasal dari fosil sebagai bahan baku produksi energi listrik. Oleh sebab itu, energi
terbaruk n ini lebih tepat disebut sebagai energi aditif, yaitu sumber daya energi tambahan
untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energi listrik, serta menghambat atau
mengurangi peranan sumber daya energi fosil.

Berdasar atas kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya mengembangkan dan
meningkatkan peran energi terbarukan pada produksi energi listrik khususnya, maka
beberapa strategi yang mungkin diterapkan, antara lain:
1. Meningkatkan kegiatan studi dan penelitian yang berkaitan dengan; pelaksanaan
identifikasi setiap jenis potensi sumber daya energi terbarukan secara lengkap di
setiap wilayah; upaya perumusan spesifikasi dasar dan standar rekayasa sistem
konversi energinya yang sesuai dengan kondisi di Indonesia; pembuatan "prototype"
yang sesuai dengan spesifikasi dasar dan standar rekayasanya; perbaikan kontinuitas
penyediaan energi listrik; pengumpulan pendapat dan tanggapan masyarakat tentang
pemanfaatan energi terbarukan tersebut.
2. Menekan biaya investasi dengan menjajaki kemungkinan produksi massal sistem
pembangkitannya, dan mengupayakan agar sebagian komponennya dapatdiproduksi
di dalam negeri, sehingga tidak semua komponen harus diimport dari luar negeri.
Penurunan biaya investasi ini akan berdampak langsung terhadap biaya produksi.
3. Memasyarakatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengadakan analisis dan
evaluasi lebih mendalam tentang kelayakan operasi sistem di lapangandengan
pembangunan beberapa proyek percontohan .
4. Meningkatkan promosi yang berkaitan dengan pemanfaatan energy dan upaya
pelestarian lingkungan.
5. Memberi prioritas pembangunan pada daerah yang meliki potensi sangat tinggi, baik
teknis maupun sosio-ekonominya.
6. Memberikan subsidi silang guna meringankan beban financial pada tahap
pembangunan. Subsidi yang diberikan, dikembalikan oleh konsumen berupa rekening
yang harus dibayarkan pada setiap periode waktu tertentu. Dana yang
terkumpuldarirekeningtersebutdigunakanuntukmensubsidipembangunansistempemba
ngkitenergilistrik di wilayah lain.
Pembangunan system pembangkit energy listrik yang memanfaatkan sumber daya
energy terbarukan, terutama air, sudah banyak dilaksanakan di Indonesia.Pemanfaatan
energy angin banyak diterapkan di daerah pantai, seperti di Jepara, pulau Lombok,
Sulawesi dan Bali.Sementara energy matahari telah dimanfaatkan di beberapa wilayah di
JawaTimur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan wilayah timur Indonesia.Sebagian besar dari
pembangunan tersebut berupa proyek proyek percontohan (Zuhal, 1995).

Indonesia memiliki berbagai sumber energi alternatif dalam jumlah yang cukup besar
seperti gas, batubara, tenaga hidro, panas bumi dan tenaga surya. Di beberapa daerah di
Indonesia memang telah ada yang memberdayakan energi alternatif tetapi di dalam
penyebarannya menemui banyak kendala. Oleh karena itu, bisa dimaklumi apabila dalam
pengembangannya belum sesuai dengan harapan dan terlihat masih berjalan ditempat
investasi di bidang pengembangan sumber energi alternatif masih perlu
dikembangkan.Pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri melakukan investasi pada
bidang ini, itulah sebabnya pemerintah mendorong pihak swasta baik dalam maupun luar
negeri agar secara aktif melakukan investasi di bidang energi alternatif ini. Pemerintah
juga sedang menyusun langkah - langkah pengembangan energi altrenatif berbasis
nabatiatau biofuel.Program nasional ini telah dimulai sejak tahun 2005 dengan
pengembangan energy berbahan dasar kelapa sawit, jagung, tebu, singkong, dan jarak.
Dengan demikian, desa-desa tersebut diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan
energinya tanpa harus tergantung kepada solar dan minyak tanah (Kurniawan, 2007).






























III.KESIMPULAN


Dari hasi diskusi kami dapat disimpulkan bahwa :

1. Pemakaian sumber energi bahan bakar terus menerus menyebabkan menipisnya
sumber daya bahan bakar minyak atau batubara

2. Untuk mengatasi menipisnya sumber daya alam kita perlu memanfaatkan dan
mengembangkan sumber energi alternatif dan terbarukan

3. Energi alternatif yang saat ini sedang dikembangkan oleh manusia
diantaranya adalah energi matahari, energi panas bumi, energi angin,
energi air, energi laut (energi ombak, energi pasang surut, dan hasil
konversi energi panas laut), energi biogas, energi biomassa, energi
biodiesel, PLTA, PLTU, PLTS, PLN.

4. Kita dapat mencari dan menemukan sumber energi terbarukan dengan
mengadakan riset











DAFTAR PUSTAKA



Bauki, Kurniawan. 2007. Mengapa Hidromikro. PT. GramediaPustaka
Utama : Jakarta.

Djojonegoro, W. 1992. Pengembangan dan Penerapan Energi Baru dan
Terbarukan Untuk pengembangan Masyarakat Pedesaan .Jakarta :
BPPT.

Jarass.1980. Strom aus Wind-Integration einer regenerativen Energie Quelle.Berlin:
Springer-Verlag.

Pinske, J.D.1993.Elektrische Energieerzeugung. Stuttgart : BG Teubner.

Ramani, K.V. 1992. Rural Electn Ecation and Rural Development. Bangkok: Asia & Pasific
of guide books.
Zuhal.1995.Policy & Development Program on Rural ElectrScation for next 10 year. Jakarta
: Departemen pertambangan dan energi.