Anda di halaman 1dari 14

Pengertian Ergonomi

Ergonomi berasal dari kata ERGON (kerja) dan


NOMOS (hukum alam) dan dapat didefinisikan
sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam
lingkungan kerjanya yang ditinjau secara
anatomi, fisiologi, psikologi, engineering,
manajemen, dan desain perancangan. Ergonomi
juga berkaitan dengan optimasi, efisiensi,
kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan
manusia di tempat kerja, di rumah, dan tempat
rekreasi.
Ergonomi juga memberikan peranan penting
dalam meningkatkan faktor keselamatan dan
kesehatan kerja, mengurangi ketidaknyamanan
visual dan postur kerja, desain suatu perkakas
kerja untuk mengurangi kelelahan kerja,
meminimumkan resiko kesalahan serta supaya
didapatkan optimasi dan efisiensi kerja.
(Nurmianto, Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya, 2003,hal 1-2)
Biomekanika dalam Perancangan Sistem Kerja
Biomekanik adalah studi tentang mekanika yang diaplikasikan pada sistem biologi.
Biomekanika merupakan subdisiplin dari biofisika dan biomemedis. Biomekanika sendiri
dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Biostatik: Yaitu studi tentang struktur mahluk hidup yang berhubungan dengan gaya-
gaya ketika mereka berinteraksi.
2. Biodinamik: Yaitu studi tentang dasar-dasar dan pembagian gerakan (berhubungan
dengan gaya) yang dilakukan mahluk hidup.
3. Bioenergetik: Yaitu studi tentang transformasi energi yang terjadi dalam tubuh
mahluk hidup. Bioenergetik terkait dengan proses biothermodinamika.
(Philips, Human Factors Engineering, 2000,hal 35-36)
Biomekanika pada dasarnya mempelajari kekuatan, ketahanan, kecepatan, dan ketelitian
manusia dalam melakukan kerjanya. Faktor ini sangat berhubungan dengan pekerjaan yang
bersifat material handling, seperti pengangkatan dan pemindahan barang secara manual atau
pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh. Meskipun kemajuan teknologi telah
banyak membantu manusia, namun ada beberapa pekerjaan yang tetap membutuhkan fisik
yang cukup besar.
Sebuah lembaga di Amerika yang bernama NIOSH (Natinal Institute Of occupational Safety
and Health) melakukan analisa terhadap kekuatan manusia dalam mengangkat atau
memindahkan beban, merekomendasikan batas beban yang dapat diangkat oleh manusia
tanpa menimbulkan cedera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan secara berulangulang dan
dalam jangka waktu yang cukup lama. NIOSH dapat dihitung sebagai berikut :
RWLH =LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
Dimana :
RWLH : batas beban yang direkomendasikan
LC : konstanta pembebanan = 23 kg
HM : faktor pengali horizontal = 25 / H
VM : faktor pengali vertikal
DM : faktor pengali perpindahan = 0,82 + 4,5 / D
AM : faktor pengali asimetrik = 1 0,0032 A
CM : faktor pengali kopling
( Tarwaka, Solichul HA.Bakri, Lilik Sudiajeng, 2004, hal127-128 )
Recommended Weight Limit (RWLH)
Menyatakan berat badan yang dapat diangkat oleh hampir semua pekerja sehat selama
rentang waktu yang cukup lama (sampai 8 jam), tanpa terjadinya peningkatan risiko sakit
punggung yang berkaitan dengan pengangkatan.
Load Constant (LC)
Konstanta beban ini bernilai 51 lbs (23 kg). Besaran tersebut merupakan beban maksimum
yang direkomendasikan untuk pengangkatan pada lokasi standar, yaitu posisi diam pada 30 in
(76 cm) dari lantai dan berjarak horizontal 10 in (25 cm) dari titik tengah antara mata kaki,
dan pada kondisi optimal, yaitu posisi sagital, pengangkatan yang tidak terus menerus,
pemegangan yang baik, dan prpindahan vertikal kurang dari 10 in (25 cm). Beban seberat
konstanta beban dapat diangkat oleh 75% pekerja wanita (90% menurut snook dan Ciriello
(1991) dan 90% pekerja pria pada kondisi ideal.
Horizontal Multiplier (HM)
Faktor pengali horizontal ditentukan dari jarak horizontal dari titik tengah antara mata kaki
dan titik hasil proyeksi titik tengah pegangan kedua tangan ke lantai .
Faktor pengali horizontal dinyatakan dalam rumus:
HM = 10/H (untuk inci) dan HM = 25/H (untuk cm)
Batas-batas yang ditentukan untuk jarak horizontal adalah 10 in (25 cm) dan 25 in (63 cm).
Objek pada jarak lebih dari 25 in (63 cm) pada umumnya tidak dapat diangkat tanpa
terjadinya kehilangan keseimbangan.
Vertical Multiplier (VM)
Faktor pengali vertikal ditentukan dari jarak vertikal dari lantai ke titik tengah antara kedua
pegangan tangan. Faktor pengali vertikal dinyatakan dalam rumus:
VM = 1 (0.0075 V-30) (untuk inci)
VM = 1 (0.003 V-75) (untuk cm)

Batas-batas yang ditentukan untuk jarak vertikal adalah 0 (Objek diangkat dari permukaan
lantai) sampai 70 in (175 cm) (batas atas jangkauan vertikal untuk mengangkat).
Distance Multiplier (DM)
Faktor pengali jarak ditentukan dari perpindahan vertikal kedua tangan, mulai dari titik asal
sampai ke tujuan pengangkatan.
Faktor pengali jarak dinyatakan dalam rumus:
DM = 0.82 + (1.8 / D) (untuk inci)
DM = 0.82 + (4.5/D) (untuk cm)
Batas-batas yang ditentukan untuk jarak perpindahan vertikal adalah 0 sampai 70 in (175 cm)
Asymmetry Multiplier (AM)
Faktor pengali asimetri dinyatakan dalam rumus:
AM = 1 (0.0032 x A)
Frequency Multiplier (FM)
Faktor pengali frekuensi ditentukan berdasarkan banyaknya pengangkatan per menit
(frekuensi), lamanya waktu untuk aktivitas pengangkatan (durasi), dan jarak vertikal
pengangkatan dari lantai. Frekuensi pengangkatan dihitung dari rata-rata pengangkatan yang
dilakukan per menit selama rentang waktu 15 menit.
Pekerjaan digolongkan dalam durasi SINGKAT bila dilakukan selama 1 jam atau
kurang, lalu diikuti waktu istirahat selama 1-2 kali waktu kerja.
Pekerjaan digolongkan dalam durasi MODERAT bila dilakukan selama 1-2 jam,
diikuti dengan waktu istirahat setidaknya 0.3 kali waktu kerja.
Pekerjaan digolongkan dalam durasi PANJANG bila dilakukan selama 2-8 jam
dengan kelonggaran istirahat standar.
Coupling Multiplier (CM)
Persamaan NIOSH membagi pemegangan berdasarkan kualitas pemegangan dan posisi
vertikal beban.
Pemegangan yang baik (GOOD) berarti kontainer memiliki pegangan yang dirancang
secara optimal, nyaman dipegang
cukup (FAIR) berarti pegangan kurang optimal, kurang nyaman dipegang.
buruk (POOR) berarti kontainer berdimensi besar, sulit ditangani, atau memiliki sudut
tajam. Tidak nyaman dipegang.



Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pemindahan material:
1. Berat beban yang harus diangkat dan perbandingannya terhadap berat badan operator.

2. Jarak horizontal dari beban relatif terhadap operator.
3. Ukuran beban yang harus diangkat (beban yang berukuran besar) akan memiliki pusat
massa (centre of gravity ) yang letaknya jauh dari operator, hal tersebut juga akan
mempengaruhi pandangan operator.
4. Ketinggian beban yang harus diangkat dan jarak perpindahan beban (mengangkat
beban dari permukaan lantai akan relatif lebih sulit daripada mengangkat beban dari
ketinggian pada permukaan pinggang).
5. Beban puntir (twisting load) pada operator selama aktivitas angkat beban.
6. Prediksi terhadap berat beban yang akan diangkat. Hal ini adalah untuk
mengantisipasi beban yang lebih berat dari yang diperkirakan.
7. Stabilisasi beban yang akan diangkat.
8. Kemudahan untuk dijangkau oleh pekerja.
9. Frekuensi angkat, yaitu banyaknya aktifitas angkat.
Ada 4 batasan yang dalam pengangkatan yaitu :
1. Batasan angkatan secara legal ( Legal Limitation )
Batasan ini dipakai sebagai batasan angkat secara internasional yaitu :
Pria di bawah usia 16 th, maksimum angkat 14 kg.
Pria usia diantara 16 th dan 18 th, maksimum angkat 18 kg.
Pria usia lebih dari 18 th, tidak ada batsan angkat.
Wanita usia diantara 16 th dan 18 th, maksimum angkat 11 kg.
Wanita usia lebih dari 18 th, maksimum angkat adalah 16 kg.
Batasan ini dapat membantu mengurangi rasa nyeri, ngilu pada tulang belakang bagi para
wanita. Batasan angkat ini akan mengurangi ketidaknyamanan kerja pada tulang belakang,
terutama bagi operator untuk pekerjaan berat.
2. Batasan angkat dengan menggunakan biomekanika (Biomechanical Limitation)
Nilai dari analisa biomekanika adalah rentang postur atau posisis aktifitas kerja, ukuran
beban dan ukuran manusia yang dievaluasi.

3. Batasan angkat secara fisiologis
Metode pendekatan ini dengan mempertimbangkan ratarata beban metabolisme dari aktifitas
angkat yang berulang, sebagaimana dapat juga ditentukan dari jumlah konsumsi oksigen. Hal
ini haruslah benarbenar diperhatikan terutama dalam rangka untuk menentukan batasan
angkat. Kelelahan kerja yang terjadi akibat dari aktifitas yang berulangulang akan
meningkatkan resiko nyeri pada tulang belakang.
4. Batasan angkat secara psikofisik
Metode ini didasarkan pada sejumlah eksperimen yang berupaya untuk mendapatkan berat
pada berbagai keadaan dan ketinggian beban yang berbeda-beda. Ada tiga macam posisi
angkat :
Dari permukaan lantai ke ketinggian genggaman tangan.
Dari ketinggian genggaman tangan dan ke ketinggian bahu.
Dari ketinggian bahu ke maksimuman jangkauan tangan vertikal.
(Nurmianto, Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya, 2003, hal 149-152)
Lifting Index (LI)
Lifting Index menyatakan nilai estimasi relatif dari tingkat tegangan fisik dalam suatu
kegiatan pengangkatan-manual. Nilai estimasi tingkat ketegangan fisik tersebut dinyatakan
sebagai hasil bagi antara beban angkatan (load weight) dengan nilai RWLH hasil
perhitungan. Dinyatakan dengan :
LI = Berat Benda / RWLH
( Tarwaka, Solichul HA.Bakri, Lilik Sudiajeng, 2004,hal 129 )
Interpretasi atas nilai LI:
LI dapat digunakan untuk memprioritaskan perancangan ulang secara ergonomis
dengan cara mengurutkan pekerjaan berdasarkan besaran LI LI dapat digunakan untuk
mengestimasi besaran relatif dari tekanan fisik suatu tugas.
Tugas-tugas dengan nilai LI > 1.0 mengakibatkan peningkatan risiko cedera
punggung bawah (akibat pengangkatan) pada sebagian pekerja.
RWL dapat digunakan untuk merekomendasikan berat beban yang akan membuat
pekerjaan menjadi lebih aman.
Seiring dengan peningkatan nilai LI, maka tingkat risiko cederapun
meningkat, dan semakin besar persentase pekerja yang mungkin
berisiko terkena sakit punggung bawah akibat pekerjaan
mengangkat. Berdasarkan NIOSH, tugas pengangkatan dengan LI >
1.0 memiliki peningkatan risiko sakit punggung bawah akibat
pengangkatan bagi sebagian pekerja. NIOSH menyarankan agar
semua pekerjaan mengangkat dirancang agar memiliki LI bernilai
1.0 atau kurang. Para ahli sepakat bahwa hampir semua pekerja akan
mengalami peningkatan risiko ketika nilai LI melebihi 3.0.

Biomekanika merupakan suatu bidang kajian ilmu dalam Ergonomi yang berhubungan
dengan mekanisme pergerakan tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan/aktivitas.
Franklin & Nordin (1980) mendefinisikan biomekanika sebagai berikut:
Biomekanika menggunakan konsep fisika dan teknik untuk menjelaskan gerakan pada
bermacam-macam bagian tubuh manusia dan gaya yang bekerja pada bagian tubuh pada
aktifitas sehari-hari.
Chaffin (1991) membuat istilah biomekanika kerja (Occupational Biomechanic) yang
didefinisikan sebagai berikut:
Biomekanika kerja adalah studi mengenai interaksi pekerja dengan peralatan, mesin
dan material, sehingga pekerja dapat meningkatkan performansinya dan di sisi lain
dapat meminimalkan resiko cedera kerja (muskuloskeletal)
Biomekanika menggunakan konsep fisika dan teknik untuk menjelaskan gerakan
pada bermacam-macam bagian tubuh manusia dan gaya yang bekerja pada bagian
tubuh pada aktifitas sehari-hari. Hal ini mengandung pengertian bahwa biomekanika
menyangkut masalah faal tubuh, keilmuan fisika dan perilaku manusia. Biomekanika
kerja mengkaji perilaku tubuh manusia dan aspek-aspek mekanika gerakan anggota-
anggota tubuhnya.
Pengetahuan tentang biomekanika sangat diperlukan untuk mengetahui mekanisme terjadinya
kecelakaan kerja, sehingga pendekatan yang efektif dan ilmiah dapat membantu manusia
bekerja dengan aman.
Contoh aplikasi dari biomekanika adalah penetapan berat beban angkatan yang
direkomendasikan pada pekerjaan penanganan material secara manual, sehingga mengurangi
terjadinya cedera tulang belakang bagian bawah (lower back pain). (Rebecca, 2012)
Biomekanika diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
1. General Biomechanic
General Biomechanic adalah biomekanika yang membahas hukum dan konsep dasar yang
mempengaruhi tubuh organik manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. Dalam
General Biomechanic sendiri meliputi dua bagian, yaitu :
1. Biostatics adalah bagian yang hanya menganalisa tubuh pada posisi diam atau
bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).
2. Biodinamic adalah bagian yang berkaitan dengan gambaran gerakangerakan tubuh
tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gerakan yang disebabkan
gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik). (Tayyari, 1997)
2. Occupational Biomechanic
Occupational Biomechanic berkaitan dengan interaksi fisik antara pekerja dengan mesin,
material dan peralatan, dimana memiliki tujuan dalam meminimalisir keluhan/kelelahan pada
sistem kerangka otot untuk meningkatkan produktifitas kerja. Biomekanik ini kolaborasi
bagian-bagian tubuh untuk menghasilkan gerak seperti tulang, jaringan penghubung
(connective tissue), dan otot yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Tulang
Tulang sebagai alat untuk meredam dan medistribusikan gaya/tegangan saat melakukan
aktifitas kerja. Tulang yang besar dan panjang berfungsi sebagai pembanding terhadap beban.
Tulang juga terikat dengan otot, dan jaringan penghubung (connecive tissue) yakni ligamen,
cartilage dan tendon. Dalam aplikasinya di biomekanik berhubungan dengan kerangka
manusia
b. Connective Tissueatau jaringan penghubung
Connective Tissue atau jaringan penghubung meliputi tiga bagian, yaitu:
1. Cartilage
Cartilagenous adalah sambungan yang berfungsi dalam pergerakan yang relatif kecil.
Contoh: Sambungan tulang iga (ribs) dan pangkal tulang iga (sternum). Cartilage sendiri
memiliki bagian khusus antara vertebrata (ruas-ruas tulang belakang) yaitu dikenal sebagai
interveterbratal disc yang terdiri dari pembungkus dan dikelilingi oleh inti (puply core).
Verterbratae juga terdapat pada ligamen dan otot. Gerakan yang relatif kecil pada setiap ruas
mengakibatkan adanya fleksibelitas tubuh untuk membungkuk, menengadah, dan memutar.
Sedangkan disc berfungsi sebagai peredam getaran pada saat tubuh bergerak baik pada saat
translasi dan rotasi. (Eko Nurmianto,1996)
2. Ligament
Ligamen berfungsi sebagai penghubung antar tulang dalam stabilitas sambungan (joint
stability) atau untuk membentuk bagian sambungan dan menempel pada tulang. Ligamen
tersusun atas serabut yang letaknya tidak pararel. Oleh karenanya tendon dan ligamen bersifat
inelastic dan berfungsi pula untuk menahan deformasi. Adanya tegangan yang konstan akan
dapat memeperpanjang ligamen dan menjadikannya kurang efektif dalam menstabilkan
sambungan (joints). Adapun contoh sambungan ligamen diantaranya seperti: gerakan
mengangkat tangan, sambungan siku dan sambungan bahu, pergerakan rotasi seluruh tangan
pada sumbunya, dan gerakan lengan tangan pada sambungan pergelangan tangan. (Eko
Nurmianto,1996)
3. Tendon
Tendon memiliki fungsi sebagai penghubung antara tulang dan otot yang terdiri dari
sekelompok serabut collageno yang letaknya pararel dengan panjang tendon. Tendon
bergerak dalam sekelompok jaringan serabut dalam suatu area dimana adanya gaya gesekan
harus diminimalkan. Bagian dalam dari jaringan ini mengeluarkan cairan synovial untuk
pelumasan. (Eko Nurmianto, 1996)
a. Otot ( Muscle )
Otot terbentuk atas visber (fibre), dengan ukuran panjang antara 10 40 mm dan berdiameter
0,01 0,1 mm dan sumber energi otot berasal dari proses aerob maupun anaerob.
1. Anaerobic, yaitu proses perubahan ATP menjadi ADP dan energi tanpa bantuan
oksigen. Glikogen yang terdapat dalam otot terpecah menjadi energi dan membentuk
asam laktat. Asam laktat akan memberikan indikasi adanya kelelahan otot secara
lokal, karena kurangnya jumlah oksigen yang disebabkan oleh kurangnya jumlah
suplai darah yang dipompa dari jantung. Contoh: jika ada gerakan yang sifatnya tiba-
tiba (mendadak), lari jarak dekat (sprint), dan lain sebagainya.
2. Aerobic, yaitu proses perubahan ATP menjadi ADP dan eneggi dengan bantuan
oksigen. Asam laktat yang dihasilkan oleh kontraksi otot dioksidasi dengan cepat.
Sehingga beban pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan akan dapat berlangsung
cukup lama. Disamping itu aliran darah yang cukup akan mensuplai lemak,
karbohidrat dan oksigen ke dalam otot. Akibat dari kondisi kerja yang terlalu lama
akan menyebabkan kadar glikogen dalam darah akan menurun drastis di bawah
normal, dan kebalikannya kadar asam laktat akan meningkat, dan kalau sudah
demikian maka cara terbaik adalah menghentikan pekerjaan, kemudian istirahat dan
makan makanan yang bergizi untuk membentuk kadar gula dalam darah. Hal tersebut
di atas adalah merupakan proses kontraksi otot yang telah disederhanakan analisa
pembangkit energinya, dan sekaligus menandakan arti pentingnya aliran darah untuk
otot. Oleh karenanya para ergonom hendaklah memeperhatikan hal-hal seperti berikut
untuk sedapat mungkin dihindari :
3. Beban otot statis (static muscle loads).
1. Oklusi (penyumbatan aliran darah) karena tekanan, misalnya tekanan segi
kursi pada popliteal (lipat lutut).
2. Bekerja dengan lengan berada di atas yang menyebabkan siku aliran darah
bekerja berlawanan dengan arah gravitasi.
(Eko Nurmianto,Edisi Pertama,1996)
2.2 Pemodelan Biomekanika
Model biomekanika ini dikembangkan untuk memperkirakan gaya serta momen yang
digunakan tubuh saat pergerakkan, model ini juga memperkirakan postur tubuh saat
seseorang melakukan aktivitas yang beresiko menyebabkan cedera musculoskeletal, dalam
pengembangannya model biomekanika dapat dibedakan menurut tipe analisis gerakannya
yaitu statis dan dinamis, sedangkan analisis gaya pada model tersebut dapat melalui
pendekatan dua dimensi atau tiga dimensi. (Chaffin, 1999)
2.3 Pengukuran Kerja Biomekanika
Aktivitas yang dilakukan manusia tetap membutuhkan usaha fisik dan penanganan manual
terhadap material dan peralatan. Sehubungan dengan ini kegiatan Manual material Handling
(MMH) tetap diperlukan untuk kondisi-kondisi kerja. Adapun dampak negatif MMH adalah
kesehatan dan keselamatan kerja (K-3), 25% kecelakaan kerja terjadi akibat salah urat pada
punggung. Di negara industri, diperkirakan 70% 80% penduduk mengalami berbagai
macam sakit punggung (back pain). Berdasarkan data perkiraan terakhir, sekitar 10% 15%
populasi mengalami sakit punggung bagian bawah (low back pain).
Suatu lembaga yang menangani masalahan kesehatan dan keselamatan kerja di Amerika,
NIOSH (National Institute for Occupational Safety and Health) melakukan analisis terhadap
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap biomekanik, yaitu :

1. Berat dari benda yang dipindahkan, hal ini ditentukan oleh pembebanan langsung.
2. Posisi pembebanan dengan mengacu pada tubuh, hal ini dipengaruhi oleh :
1. Jarak horizontal beban yang dipindahkan dari lantai
2. Jarak vertikal beban yang dipindahkan dari lantai
3. Sudut pemindahan beban dari posisi sagital (posisi pengangkatan tepat di
depan tubuh)
4. Jarak perpindahan vertikal dari titik asal beban tujuan
5. Frekuensi pemindahan, hal ini dicatat sebagai rata-rata pemindahan/menit untuk
pemindahan yang berfrekuensi tinggi. Frekuensi terpisah layak diberikan untuk setiap
pemindahan yang berbeda.
6. Periode (durasi) total waktu yang diberlakukan dalam pemindahan pada suatu
pencatatan. Dapat ditentukan sebagai kurang dari 1-2 jam atau 2-8 jam.
Berdasarkan penelitian terakhir, yang dicantumkan dalam revisi NIOSH Guidelines,
dikemukakan dua buah faktor pengali yang mempengaruhi berat beban yang boleh diangkat
adalah :
1. Pengali asimetrik, yaitu pemindahan dengan postur diluar postur sagital dengan
membentuk suatu sudut (maksimal 900)
2. Pengali kopling, berdasarkan penelitian yang dilakukan, pengaruh adanya handel pada
RWL (Recommended Weight Limit) mengakibatkan pengurangan beban dalam
pemindahan beban.
Dapat segera dipahami bahwa tingkat kecelakaan muskulokeletal (jumlah kecelakaan perjam
orang pada pekerjaan) meningkat secara signifikan bila :
1. Benda yang dipindahkan semakin berat (L)
2. Benda yang dipindahkan jaraknya semakin jauh dari tubuh (H)
3. Benda yang dipindahkan semakin jauh dari ketinggian optimal pengangkatan beban
secara sagital (V) ; Ketinggian optimal pengangkatan beban 70 80 cm (Ketinggian
ujung jari dari lantai pada posisi tangan lurus ke bawah)
4. Benda yang dipindahkan semakin sering dipindahkan (F)
5. Benda yang dipindahkan semakin menyimpang dari posisi sagital (A)
6. Benda yang dipindahkan susah dipegang (C)
7. Pemindahan beban semakin jauh (D)
8. Durasi/lamanya waktu bekerja semakin besar
Rekomendasi NIOSH tahun 1991 memberikan perbaikan atas persamaan NIOSH yang
dikeluarkan pada 1981. Persamaan terdahulu dibagi menjadi 2 level batas pembebanan:
1. Action Limit (batas gaya angkat normal)
2. Maximum Permissible Limit (batas gaya angkat maksimum) yang memuat batas
pembebanan maksimum dimana:
Sebagai informasi tambahan bahwa variable-variabel tersebut diatas diasumsikan mempunyai
batasan-batasan sebagai berikut:
1. H antara 15 cm (6 in) dan 80 cm (32 in), suatu beban tidak dapat lebih dekat dari 15
cm tanpa bersentuhan dengan badan operator, sedangkan beban yang berposisi lebih
jauh dari 80 cm (32 in) akan sulit dijangkau oleh kebanyakan orang.
2. V diasumsikan antara 0 cm dan 175 cm (70 in), yang menggambarkan rentang jarak
untuk aktifitas angkat vertical pada kebanyakan orang.
3. D diasumsikan antara 25 cm (10 in) dan (200-V) cm atau (80-V) inchi.
4. F diasumsikan antara 0,2 (satu aktifitas angkat setiap 5 menit) dan Fmax (lihat table).
sedangkan aktifitas angkat yang kurang dari satu angkat per 5 menit, gunakan F = 0
2.3.1 Disc L5/S1 dalam Aktivitas Pengangkatan
Pada pembahasan sebelumnya (subbab 2.1, mengenai connective tissue) telah
dipaparkan bahwa disc berfungsi sebagai peredam getaran pada saat tubuh bergerak baik
pada saat translasi dan rotasi. Sedangkan disc L5/S1 merupakan pengertian dari lumbar 5 dan
sacrum 1, bagian ini merupakan titik rawan dalam sistem rangka. Analisa dari berbagai
macam pekerjaan yang menunjukkan rasa nyeri (ngilu) berhubungan erat dengan beban
kompresi (tekan) yang terjadi pada (L5/S1). (Chaffin and Park, 1973)
Pada segmen L5/S1 dari kegiatan pengangkatan dalam satuan Newton yang distandarkan
oleh NIOSH (National Instiute of Occupational Safety and Health) tahun 1981. Besar gaya
tekannya adalah di bawah 6500 N pada L5/S1. Sedangkan batasan gaya angkatan normal (the
Action Limit) sebesar 3500 pada L5/S1. Sehingga, apabila Fc < AL (aman), AL < Fc < MPL
(perlu hati-hati) dan apabila Fc > MPL (berbahaya). Batasan gaya angkat maksimum yang
diijinkan , yang direkomendasikan NIOSH (1991) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar
6500 N pd L5/S1 , namun hanya 1% wanita dan 25% pria yang diperkirakan mampu
melewati batasan angkat ini.
Perlu diperhatikan bahwa nilai dari analisa biomekanika adalah rentang postur atau posisi
aktifitas kerja, ukuran beban, dan ukuran manusia yang dievaluasi. Sedangkan kriteria
keselamatan adalah berdasar pada beban tekan (compression load) pada intebral disk antara
Lumbar nomor lima dan sacrum nomor satu (L5/S1). Untuk mengetahui lebih jelas lagi
L5/S1 dapat dilihat pada gambar 1.5 dibawah ini
Telah ditemukan pula bahwa 85-95% dari penyakit hernia pada disk terjadi dengan relatif
frekuensi pada L4/L5 dan L5/S1. Kebanyakan penyakit-penyakit tulang belakang adalah
merupakan hernia pada intervertebral disk yaitu keluarnya inti intervertebral (pulpy nucleus)
yang disebabkan oleh rusaknya lapisan pembungkus intervertebral disk. Karena pada bagian
disc L5/S1 terdapat selaput yang berisi cairan yang dapat pecah jika beban terlalu besar. Jika
disc pecah maka berpotensi mengalami kelumpuhan.
Evan dan Lissner (1962) dan Sonoda (1962) melakukan penelitian dengan uji tekan pada
spine (tulang belakang). Mereka menemukan bahwa tulang belakang yang sehat tidak mudah
terkena hernia, akan tetapi lebih mudah rusak/retak jika disebabkan oleh beban yang
ditanggung oleh segmen tulang belakang (spinal) dan yang terjadi dengan diawali oleh
rusaknya bagian atas/ bawah segmen tulang belakang (the castilage end-plates in the
vertebrae). Retak kecil yang terjadi pada vertebral akan menyebabkan keluarnya cairan dari
dalam vertebrae menuju kedalam intervetrebae disc dan selanjutnya mengakibatkan
degenerasi (kerusakan) pada disk. Dari kejadian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa
degenerasi adalah merupakan prasarat untuk terjadinya hernia pada intervertebral disc yang
pada gilirannya akan menjadi penyebab umum timbulnya rasa nyeri pada bagian punggung
bawah (low-back pain).
(Evan dan Lissner (1962) dan Sonoda (1962))
2.3.2 Action Limit (AL) dan Maximum Permissible Limit (MPL)
Action Limit merupakan kelanjutan tindakan untuk mengantisipasi, mencegah dan
mengkoreksi proses produksi yang tidak sesuai dan memastikan bahwa proses tersebut tidak
berulang. Untuk menghitung AL dan MPL hanya diperlukan untuk mengetahui berat obyek
yang diangkat, lokasi beban yang berhubungan dengan pekerja, jarak dan frekuensi angkat,
dan durasi dari kegiatan mengangkat.
Maximum permissible limit (MPL) merupakan batas besarnya gaya tekan pada segmen L5/S1
dari kegiatan pengangkatan dalam stauan newton yang distandarkan oleh NIOSH pada tahun
1981. Besar gaya maksimum tekannya (MPL) adalah dibawah 6500 N pada L5/S1.
Sedangkan batasan gaya angkatan normal (Action limit) sebesar 3500 N pada L5/S1.
Sehingga:
1. Fc<AL dikategorikan aman
2. AL<Fc<MPL dikategorikan perlu hati-hati, dan
3. FC<MPL dikategorikan berbahaya
Evan dan Lisner (1962) dan Sonoda (1962) melakukan penelitian dengan uji tekan pada spine
(tulang belakang). Mereka menemukan bahwa tulang belakang yang sehat tidak mudah
terkena hernia, akan tetapi lebih mudah rusak/retak jika disebabkan oleh beban yang
ditanggung oleh segmen tulang belakang (spinal) dan yang terjadi dengan diawali oleh
rusaknya bagian atas/bawah segmen tulang belakang (the castingend-plates in the vertebrae).
Dalam biomekanika perhitungan guna mencari momen dan gaya dapat dilakukan dengan cara
menghitung gaya dan momen secara parsialatau menghitung tiap segmen yang menyusun
tubuh manusia.
Besaran AL dapat Dihitung dengan rumus :
AL = k x HF x VF x DF x FF.(1.1)
Keterangan :
k = load constant, konstanta beban yang besarnya : 40 kg
HF = horizontal factor, faktor horizontal yang besarnya : 15/H
VF = vertical factor, faktor vertikal yang besarnya : 0,004 V-75
DF = distance factor, faktor jarak yang besarnya : 0,7+7,5 D
FF = frequency faktor, faktor frekuensi yang besarnya : 1-F/Fmax
H = jarak antara titik berat beban dan titik tengah antara kedua mata kaki pada titik awal
pengangkatan
V = jarak beban dari lantai pada titik awal pengangkatan
D = jarak perpindahan vertikal beban
F = frekuensi rata-rata aktivitas pengangkatan
2.3.3 Recommended Weight Limit (WRL) dan Lifting I ndex (LI)
Recommended Weight Limit (RWL) merupakan rekomendasi batas beban yang dapat
diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cidera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan
secara repetitive dan dalam jangka waktu yang cukup lama. RWL ini ditetapkan oleh NIOSH
pada tahun 1991 di Amerika Serikat. Persamaan NIOSH berlaku pada keadaan:
1. Beban yang diberikan adalah beban statis, tidak ada penambahan ataupun pengurangan
beban di tengah-tengah pekerjaan.
2. Beban diangkat dengan kedua tangan.
3. Pengangkatan atau penurunan benda dilakukan dalam waktu maksimal 8 jam.
4. Pengangkatan atau penurunan benda tidak boleh dilakukan saat duduk.
5. Tempat kerja tidak sempit.
Sebuah lembaga yang menangani masalah kesehatan dan keselamatan kerja di Amerika,
NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) melakukan analisis terhadap
kekuatan manusia dalam mengangkat atau memindahkan beban, serta merekomendasikan
batas maksimum beban yang masih boleh diangkat oleh pekerja yaitu Action Limit (AL) dan
MPL (Maximal Permissible Limit) pada tahun 1981. Kemudian Lifting Equation tersebut
direvisi sehingga dapat mengevaluasi dan menyediakan pedoman untuk range yang lebih luas
dari Manual Lifting. Revisi tersebut menghasilkan RWL (1991), yaitu batas beban yang dapat
diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cedera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan
secara berulang-ulang dalam durasi kerja tertentu (misal 8 jam sehari) dan dalam jangka
waktu yang cukup lama.
Persamaan untuk menentukan beban yang direkomendasikan untuk diangkat seorang pekerja
dalam kondisi tertentu menurut NIOSH adalah sbb:
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM.(1.2)
Keterangan:
LC = konstanta pembebanan = 23 kg
HM = faktor pengali horizontal = 25 / H
FM = faktor pengali frekuensi (Frequency Multiplier)
CM = faktor pengali kopling (handle)
VM = Faktor pengali vertical
VM = 1-0,03 |v-75|
DM = Faktor pengali perpindahan
DM = 0,82 + (4,5/D)
AM = Faktor pengali asimetrik
AM = 1-0,0032.A
H = jarak beban terhadap titik pusat tubuh
V = jarak beban terhadap lantai
D =jarak perpindahan beban secara vertical
A = sudut simetri putaran yang dibentuk tubuh
Untuk Frekuensi Pengali ditentukan dengan menggunakan tabel FM dibawah ini dengan
mengetahui frekuensi angkatan tiap menitnya dan juga nilai V dalam inchi.
Setelah nilai RWL diketahui, selanjutnya perhitungan Lifting Index, untuk mengetahui index
pengangkatan yang tidak mengandung resiko cidera tulang belakang, dengan persamaan :
LI = (1.3)
Keterangan:
Jika LI < 1, maka aktivitas tersebut tidak mengandung resiko cidera tulang belakang. Jika LI
> 1, maka aktivitas tersebut mengandung resiko cidera tulang belakang
Dalam tubuh manusia terdapat tiga jenis gaya: Winter, 1979 )
1. Gaya Gravitasi, yaitu gaya yang melalui pusat massa dari tiap segmen tubuh manusia
dengan arah ke bawah. Besar gayanya adalah massa dikali percepatan gravitasi ( F =
m.g )
2. Gaya Reaksi yaitu gaya yang terjadi akibat beban pada segmen tubuh atau berat
segmen tubuh itu sendiri.
3. Gaya otot yaitu gaya yang terjadi pada bagian sendi, baik akibat gesekan sendi atau
akibat gaya pada otot yang melekat pada sendi. Gaya ini menggambarkan besarnya
momen otot.
Biomekanika dan Teknik Industri
Seperti dijelaskan sebelumnya, biomekanika sangat erat kaitannya dengan ergonomi & K3
dan ergonomi merupakan bagian dari teknik industri. Jadi jelas bahwa biomekanika termasuk
banyak dipelajari di teknik industri. Namun ternyata ada satu hal lagi yang membuat
biomekanika sangat dipahami di teknik industri yakni adanya jenis mata kuliah mekanika
teknik (engineering mechanics) di teknik industri yang menjadi dasar ilmu dari biomekanika.
Memang ada bidang teknik lain yang mendapat mekanika teknik seperti teknik mesin dan
arsitektur atau sejenisnya, namun mereka tidak paham ergonomi & K3. Sedangkan ergonomi
dan K3 juga ada di bidang lain seperti kesehatan masyarakat dan sejenisnya, namun mereka
tidak paham mekanika teknik. Jadi di teknik industri lah bidang biomekanika ini sebenarnya
dapat sangat berkembang. Walaupun penerapan mekanika teknik di teknik industri biasanya
lebih mengarah ke kluster proses manufaktur atau desain produk namun bisa dikembangkan
dan dilebarkan secara optimal ke kluster ergonomi bekerja sama dengan jenis mata kuliah
fisiologi manusia kerja menjadi biomekanika.
Referensi:
Nurmianto, Eko. 2004. Ergonomi Konsep Dasar dan aplikasinya. Surabaya: penerbit guna
widya.