Anda di halaman 1dari 10

Hubungan Umur dan Status Imunisasi Terhadap Kejadian ISPA pada Balita

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat-Nya jualah
sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul
Hubungan Umur dan Status Imunisasi Terhadap Kejadian ISPA pada Balita
Dalam penulisan proposal karya tulis ilmiah ini, penulis menyadari sepenuhnya
bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan, baik dari segi penulisan
maupun materi. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca
yang sifatnya membangun guna penyempurnaan dimasa yang akan datang.



















ABSTRAK

Daftar Isi
Halaman Judul
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Metode Penalitian
1.6 Sistematika Penulisan
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 ISPA
2.1.1 Definisi Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ).........................
2.1.2 Klasipikasi ISPA....................................................................................
2.1.3 Cara Penularan ISPA..............................................................................
2.1.3 Tanda Dan Gejala Klinis ISPA............................................................
2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ISPA..........................................
2.2 Defenisi Umur.............................................................................................
2.3 Defenisi Balita.............................................................................................
2.4 Konsep Imunisasi
2.4.1. Pengertian...............................................................................................
2.4.2. Tujuan Imunisasi.....................................................................
2.4.3. Macam-macam Imunisasi...................................................................
2.4.4. Cara Pemberian Imunisasi..................................................................
2.4.5. Jenis Imunisasi yang Dianjurkan Pemerintah.......................................

BAB III Analisis

3.1 Terjadinya Penyakit ISPA
3.2 Hubungan Umur Dengan Terjadinya Penyakit ISPA
3.3 Hubungan Status Imunisasi Dengan Terjadinya ISPA

BAB IV Kesimpulan

4.1 Kesimpulan

Daftar Pustaka
























Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Sistem pernapasan merupakan salah satu system vital bagi
kelangsungan hidup manusia. Setiap manusia harus bisa menjaga dan
merawat organ-organ pernapasannya. Organ pernapasan manusia tak
luput dari serangan berbagai penyakit. Salah satunya adalah infeksi
pada saluran pernapasan. Untuk mengatasi penyakit tersebut, lebih
baik dilakukan antisipasi sejak usia dini misalnya dengan cara
imunisasi pada balita.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah distribusi frekuensi ISPA pada balita?
2. Adakah Hubungan Umur Terhadap Kejadian ISPA pada
Balita?
3. Adakah Hubungan Status Imunisasi Terhadap Kejadian
ISPA pada Balita?

1.3 Tujuan
Untuk Mengetahui Hubungan Umur Dan Sataus Imunisasi
Terhadap Kejadian ISPA pada Balita

1.4 Manfaat Penelitian
Menambah wawasan serta pengetahuan bagi siswa mengenai
ISPA.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian mengenai Hubungan Umur dan Status Imunisasi
Terhadap Kejadian ISPA pada Balita ini dilakukan dengan metode
studi pustaka.



Bab II
Tinjauan Pustaka
2.1 ISPA
2.1.1 Definisi Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA )
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut,
istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory
Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan
pleura (WHO, 2003).
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena
sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian psenyakit batuk pilek pada
balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang
balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun
(Depkes RI, 2001).

2.1.2 Klasifikasi ISPA
Berdasarkan P2 ISPA Mengklasifikasi ISPA sebagai berikut :
a) Pneumonia berat : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing) pada saaat bernapas.
b) Pneumonia : ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
c) Bukan pneumonia : ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas
cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia (Erlien,
2008).

2.1.3 Cara penularan ISPA
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, cipratan bersin, udara
pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran
pernapasannya (Erlien, 2008).

2.1.4 Tanda dan gejala klinis ISPA
Tanda dan gejala berdasarkan derajat keparahan penyakit dapat dibagi tiga
tingkat:
a. ISPA Ringan
Adapun tanda dan gejala ISPA ringan antara lain adalah:
1) Batuk
2) Pilek (keluar ingus dari hidung)
3) Serak (bersuara parau pada waktu menangis atau berbicara)
4) Demam (panas)

b. ISPA Sedang
Tanda dan gejala ISPA sedang antara lain:
1) Pernapasan yang cepat (lebih dari 50 x/menit)
2) Wheezing (napas menciut-ciut)
3) Panas 38
o
C atau lebih
4) Sakit telinga atau keluar cairan
5) Bercak-bercak menyerupai campak

c. ISPA Berat
Tanda dan gejala ISPA berat antara lain:
1) Chest indrawng (pernafasan dada kedalam)
2) Stridor (pernafasan ngorok)
3) Tidak mau makan
4) Sianosis (kulit kebiru-biruan)
5) Nafas cuping hidung
6) Kejang
7) Dehidrasi
8) Kesadaran menurun (Depkes RI, 2001)

2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi ISPA
Terjadinya infeksi saluran pernafasan akut pada anak dapat di pengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain :
a. Faktor agent atau disebut pula faktor penyebab penyakit dimana faktor ini yang
menyebabkan adanya penyakit.
b. Faktor host dalam hal ini manusia sebagai objek dari penyakit
c. Faktor lingkungan dimana lingkungan sebagai medianya (Noor, 2008).


2.2 Definisi Umur
. Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan
suatubenda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal,
umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak dia lahir hingga waktu umur
itu dihitung (http://id.wikipedia.org/wiki/Umur).
Anak berumur di bawah 2 tahun mempunyai resiko terserang Infeksi Saluran
Pernafasan Akut lebih besar dari pada anak di atas 2 tahun sampai 5 tahun,
keadaan ini karena pada anak di bawah umur 2 tahun imunitasnya belum sempurna
dan lumen saluran nafasnya relatif sempit (Daulay, 2008).


2.3 Definisi Balita
Balita adalah bayi yang berumur di bawah 5 tahun atau masih kecil yang
perlu tempat bergantung pada orang dewasa yang mempunyai kekuatan untuk
mandiri dengan usaha anak balita yang tumbuh ( Soetjeningsih, 2003).

2.4 Konsep Imunisasi
2.4.1 Pengertian
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi
adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukan
sesuatu kedalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah
atau berbahaya bagi seseorang (Fuath, 2008).

2.4.2 Tujuan diberikan imunisasi
a. Untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan
kesehatan bahkan bisa menyebapkan kematian pada penderitanya.
b. Mencega terjadinya penyakit
c. Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi

2.4.3 Macam-macam imunisasi
a. Imunisasi pasif, kekebalan yang di peroleh dari luar tubuh bukan oleh individu
itu sendiri misalnya bayi yang di peroleh dari ibu.
b. Imunisasi aktif
Dimana kekebalan harus di dapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah
di kalahkan oleh kekebalan tubuh biasa. Guna membentuk antibodi terhadap
penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.

2.4.4 Cara pemberian imunisasi
Cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau
bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau
minum/telan. Setelah bibit penyakit masuk kedalam tubuh kita maka tubuh akan
terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membentuk antibodi.

2.4.5 Jenis imunisasi yang dianjurkan oleh pemerintah
Pada anak dibawah umur 1 tahun yang harus dilakukan yakni :
a. BCG (Bacillus Colmtte Guerin)
Imunisasi BCG dilakukan sekali debelum anak berumur 2 bulan. Vaksin
disuntikan secara intrakutan pada lengan atas sebanyak 0,05 ml.
b. DPT (Dipteri Pertusis Tetanus)
Vaksi DPT biasanya terdapat dalam bentuk suntikan yang disuntikan pada
otot lengan dan paha. Imunisasi DPT diberikan sebanyak tiga kali yaitu pada saat
anak berumur 2 bulan (DPT 1), 3 bulan (DPT 2) dan 4 bulan (DPT 3), selang
waktu tidak kurang dari 4 minggu.
c. Polio
Imunisasi polio diberikan 4 kali pada balita usia 0-11 bulan dengan interval
minimal 4 minggu.
d. Campak
Imunisasi campak diberikan 1 kali pada balita usia 9-11 bulan karena masih
ada anti bodi yang diperoleh dari.Vaksin disuntikan secara subkutan sebanyak 0,5
ml.

e. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B harus diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir atau
jika ibunya memiliki HbsAg negatif harus diberikan saat hamil berumur 2
bulan.Imunisasi dasar di berikan 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara HB1
dengan HB2 serta selang waktu 5 bulan antara HB2 dan HB3
( http://www.imunisasi.com).











Bab III
Pembahasan

3.1 Terjadinya Penyakit ISPA
Angka penderita ISPA di Indonesia cukup tinggi, jika dilihat cukup
besar perbedaan proporsi antara anak balita yang mempunyai riwayat penyakit
ISPA dan yang tidak mempunyai riwayat penyakit ISPA, hal ini disebabkan
karena masyarakat kurang memahami cara pencegahan penyakit ISPA hal ini
didukung pula dengan ststus ekonomi dan status pendidikan yang masih rendah
pada umumnya, sehingga orang tua kurang memperhatikan kondisi kesehatan
anaknya.

3.2 Hubungan Umur Dengan Terjadinya Penyakit ISPA
Anak berusia di bawah 2 tahun mempunyai risiko mendapat ISPA lebih
besar dari pada anak yang lebih tua, keadaan ini mungkin karena pada anak di
bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasanya
relatif sempit.

3.3 Hubungan Status Imunisasi Dengan Terjadinya ISPA
Anak dengan status imunisasi lengkap dengan status imunisasi tidak lengkap
tidak ada hubungan secara bermakna, hal ini disebapkan karena keadan status
imunisasi tidak menjamin bagi balita untuk tidak terkena penyakit ISPA, karena
kejadian ISPA banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan, keadan
ekonomi keluarga dan pengetahuan keluarga.

Bab IV
Kesimpulan
1. Tidak ada hubungan antara umur anak balita terhadap terjadinya penyakit ISPA.
2. Tidak ada hubungan antara status imunisasi balita terhadap terjadinya ISPA.

Anda mungkin juga menyukai