Anda di halaman 1dari 82

http://www.slideshare.

net/aseranikurdi/membuka-usaha-kecil
BAB I KARAKTERISTIK USAHA KECIL A. Pengertian Usaha Kecil
Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan
memenuhi kriteria kekayaan bersih atau penjualan tahunan, serta
kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Undang
undang tentang Usaha Kecil yang sedang berlaku di negara kita
adalah Undang-undang Nomor 9 tahun 1995. Menurut undang-undang
ini, sebagaimana di- sebutkan pada Bab III Pasal 5 bahwa, kriteria
usaha kecil adalah memiliki kekayaan bersih (asset dikurangi kewajib-
an/utang dll.) maksimal Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan (laba bersih)
per tahun maksimal Rp 1 milyar. Usaha kecil adalah usaha yang
dimiliki mutlak dan sepenuhnya oleh Warga Negara Indonesia (WNI),
bukan dimiliki oleh warga negara asing dan atau pemiliknya campuran
antara WNI dengan WNA. Usaha kecil adalah usaha yang berdiri sen-
diri, bukan merupakan bagian atau anak cabang perusahaan lain.
Tidak dikuasai oleh perusahaan lain, tidak berafiliasi langsung maupun
tidak langsung (dibawah kendali oleh) dengan perusahaan lain, baik
perusahaan kecil lainnya, menengah maupun besar. Tidak termasuk
usaha kecil yang mendapat suntikan dana dari perusahaan menengah
atau 1 besar yang kita kenal dengan usaha kecil yang mempunyai
bapak angkat dari perusahaan menengah atau besar seper- ti
misalnya sebuah industri rumah tangga yang mempunyai bapak
angkat seperti PT.PLN. Suntikan dana yang diberi- kan oleh
perusahaan lain ini semata-mata hanya ingin membantu bagi
kelangsungan dan pengembangan usaha ke- cil, bukan kerjasama
dalam usaha atau saling membawahi. Antara usaha kecil dengan
bapak angkatnya tidak ada hu- bungan usaha dalam arti secara
organisasi maupun admi- nistrasi. Bentuk usaha kecil adalah usaha
perseorangan (badan usaha yang tidak berbadan hukum) dan atau
dalam bentuk koperasi baik yang belum maupun yang sudah berbadan
hukum. Secara umum dapat kita katakan bahwa usaha ke- cil adalah
perusahaan kecil yang melakukan usaha seperti di bidang
perdagangan eceran berupa toko, kedai, kios, warung dan atau di
bidang industri kecil (industri rumah tangga) seperti usaha kerajinan,
usaha pengolahan/produksi makanan dan minuman maupun usaha
jasa seperti penjahit pakaian, pertukangan, transportasi darat (punya
usaha mo- bil taxi) dan sebagainya. Pada umumnya usaha kecil
adalah usaha yang modalnya dikumpulkan dari tabungan pemiliknya
dan ter- kadang ditambah dari modal keluarga. Biasanya usaha kecil
relatif tidak memiliki karyawan yang banyak. Areal pema- saran
produknya pun bersifat lokal. Usaha kecil merupakan usaha yang
paling banyak dilakukan oleh masyarakat kita dan ia merupakan tulang
punggung perekonomian bangsa. 2
B. Fungsi dan Peranan Usaha Kecil Pada umumnya fungsi dan
peranan didirikannya usaha kecil adalah untuk mencari
nafkah/penghasilan da- lam rangka menopang kehidupan ekonomi
keluarga agar diperoleh kehidupan yang berkecukupan menuju
kesejah- teraan. Keluarga adalah pusat kehidupan ekonomi. Kebu-
tuhan yang relatif kecil dan sederhana dapat dipenuhi de- ngan usaha
kecil, seperti usaha pertanian, perkebunan, pe- ternakan, perikanan,
usaha dagang, industri kecil / rumah tangga dan usaha-usaha jasa.
Dalam perkembangannya secara ekonomi, nampak- nya fungsi dan
peranan usaha kecil tidak sekedar untuk mencari penghasilan sebagai
penopang kehidupan ekonomi keluarga, tetapi dengan adanya usaha
kecil, juga dapat berfungsi sebagai penghubung (menjembatani)
sekaligus penyalur antara produsen (dalam arti perusahaan menengah
atau besar) dengan konsumen. Pengelola usaha kecil inilah yang
langsung berhubungan dengan konsumen untuk me-
nawarkan/memasarkan/menjual hasil produk para produ- sen,
sehingga usaha kecil dapat berperan langsung secara aktif dalam
rangka melancarkan roda usaha dan siklus per- ekonomian secara
umum. Usaha kecil yang bergerak dibidang industri/peng- olahan,
biasanya hasil produk yang dibuat adalah barang/ja- sa yang langsung
menyentuh keperluan masyarakat/ 3 konsumen, seperti usaha-usaha
produk kerajinan, produk makanan dan minuman, produk pakaian, jasa
angkutan dan sebagainya, sehingga dengan adanya usaha kecil ini
dapat membantu masyarakat dalam memenuhi keperluannya se- hari-
hari. Dari sekian pengusaha kecil, produk yang dihasil- kan ada pula
berupa bahan mentah atau bahan setengah jadi yang tentunya sangat
diperlukan oleh perusahaan industri menengah atau besar. Seperti
misalnya usaha perkebunan karet, sangat diperlukan oleh perusahaan
yang memproduk- si barang-barang berbahan karet. Usaha
penangkapan ikan, sangat diperlukan oleh perusahaan pengalengan
ikan. Usa- ha pembuatan batu bata, batako, genteng, atap sirap, usaha
wantilan/penyediaan kayu/papan untuk bahan bangunan, usaha
mebeler dsb. sangat diperlukan oleh perusahaan pe- ngembang
perumahan, bahkan usaha kasar yang dilakukan oleh para pemulung,
justeru merupakan ujung tombak bagi kelancaran produksi bagi usaha-
usaha tertentu, seperti per- usahaan/pabrik plastik, perusahaan/pabrik
kertas dan seba- gainya. Dari uraian ini dapat kita katakan, usaha kecil
me- megang peranan penting di dalam kelancaran usaha perusa- haan
menengah atau besar, terutama dari segi penyediaan bahan baku.
Pada sisi lain, fungsi dan peranan usaha kecil adalah sebagai
penyerap tenaga kerja. Kendati memang pada umumnya kebutuhan
tenaga kerja pada tiap-tiap usaha kecil relatif sedikit, namun karena
pengusaha kecil relatif banyak jumlahnya, dan usaha yang dijalankan
pada 4
umumnya bersifat padat karya (banyak menggunakan tena- ga kerja),
maka kontribusinya di dalam penyerapan tenaga kerja cukup besar.
Dengan terserapnya tenaga kerja berarti jumlah pengangguran dapat
dikurangi. Ini dimungkinkan pemerataan pendapatan masyarakat
semakin dapat diwu- judkan. Usaha kecil yang sudah maju selalu
menantang atau mendorong para pengelolanya untuk lebih kreatif dan
inovatif, sehingga produk yang dihasilkan selalu terjaga dan terpelihara
mutunya yang pada gilirannya akan me- nambah jumlah pelanggan,
tidak saja pelanggan lokalan, tetapi sudah menyebar ke berbagai
daerah, bahkan produk yang dihasilkan perusahaannya sudah dikenal
di mana-ma- na. Hal yang semacam ini tidak saja berdampak positif
bagi kelangsungan usahanya, secara tidak langsung juga akan
memberi nilai tambah bagi daerah di mana usahanya ber- ada. Lebih
global lagi, fungsi dan peranan usaha kecil secara nasional dapat
dijadikan sebagai tulang punggung perekonomian, dimana usaha kecil
dapat menggalang keku- atan ekonomi secara mendasar dengan
rakyat banyak seba- gai subyeknya sekaligus obyeknya. Jika semua
atau seti- daknya sebagian besar rakyat Indonesia telah mempunyai
masing-masing usaha, kendati usaha kecil, dan dapat men- jalankan
serta menekuni usahanya, maka insyaAllah akan dapat meningkatkan
taraf hidup dan kemakmuran rakyat secara umum. 5 Dari uraian di atas
dapat kita butiri beberapa fung- si dan peranan usaha kecil, antara lain
: 1. Usaha kecil sebagai penghubung/penyalur/distribu- tor produk
yang dihasilkan perusahaan menengah atau besar; 2. Usaha kecil
sebagai penghasil produk barang dan jasa yang sangat diperlukan
oleh masyarakat; 3. Usaha kecil sebagai penyedia bahan baku bagi
kelangsungan produksi perusahaan industri mene- ngah atau besar; 4.
Usaha kecil dapat menyerap banyak tenaga kerja, sehingga dapat
mengurangi pengangguran; 5. Usaha kecil dapat menunjang bagi
upaya-upaya pe- merataan pendapatan masyarakat; 6. Usaha kecil
dapat memberikan nilai tambah bagi pemerintah daerah setempat, baik
moril maupun materiil; 7. Usaha kecil merupakan tulang punggung
perekono- mian nasional yang dapat meningkatkan tarap hidup dan
tingkat kesejahteraan masyarakat. C. Beberapa Keunggulan Usaha
Kecil Dibandingkan dengan usaha menengah dan atau be- sar, usaha
kecil memiliki beberapa keunggulan, antara lain : 1. Keberadaan usaha
kecil bagi usaha menengah/besar merupakan mitra usaha yang sangat
menentukan, karena dari merekalah bahan baku diperoleh; 6
2. Mendirikan usaha kecil lebih mudah, permodalan bisa
menyesuaikan dan tidak terlalu birokratif; 3. Usaha kecil didalam
kegiatan usahanya nampak lebih kreatif serta mampu menyesuaikan
dengan situasi dan kondisi bisnis (fleksibel), sehingga kebe- radaan
pengusaha menengah/besar tidak dipandang sebagai saingan, tetapi
justeru dijadikan sebagai peluang usaha/bisnis; 4. Usaha kecil pada
umumnya mempunyai daerah pe- masaran yang relatif sempit,
sehingga ia lebih me- ngenal watak, tabiat dan kesenangan
konsumennya, hal ini dapat memudahkan dalam kegiatan pemasar- an
hasil produksi; 5. Pengusaha kecil biasanya lebih akrab dengan kon-
sumen, sehingga keinginan-keinginan dan keluhan- keluhan dari para
konsumennya lebih mudah dide- ngar. Hal ini akan mendorong
pengusaha usaha ke- cil agar lebih selektif dan inovatif; 6. Didalam
pelaksanaan usahanya, usaha kecil nampak lebih luwes dan praktis.
Demikian juga bentuk usa- hanya lebih sederhana, sehingga mudah
mengorga- nisasikannya; D. Kebijaksanaan Pemerintah dan Dunia
Usaha Tentang Usaha Kecil Berdasarkan ketentuan Undang-undang
Nomor 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, disebutkan bahwa kebi-
jaksanaan pemerintah dan dunia usaha terhadap usaha kecil 7 kecil ini
dilakukan dalam bentuk pemberdayaan, penum- buhan iklim usaha,
pembinaan dan pengembangannya, pembiayaan dan penyediaan
dana serta penjaminan dan kemitraan, sehingga usaha kecil mampu
tumbuh dan ber- kembang serta memperkuat dirinya menjadi usaha
yang tangguh dan mandiri. Pemberdayaan usaha kecil bertujuan : 1.
Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha ke- cil menjadi
usaha yang tangguh dan mandiri serta ber- kembang menjadi usaha
menengah; 2. Meningkatkan poeranan usaha kecil dalam membentuk
produk nasional, perluasan kesempatan kerja dan ber- usaha,
peningkatan ekspor, serta peningkatan dan peme- rataan pendapatan
untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta
memperkukuh struktur pereko- nomian nasional; Usaha kecil
hendaknya diselenggarakan secara bersama dan kekeluargaan, agar
diperoleh suasana keakrab- an dan iklim usaha yang menyenangkan.
Pemerintah me- numbuhkan iklim usaha bagi pengusaha kecil ini
dengan mengeluarkan dan menetapkan peraturan perundang-un-
dangan yang dirangcang sedemikian rupa agar usaha kecil
memperoleh kepastian, kesempatan yang sama dan du- kungan
berusaha yang seluas-luasnya sehingga usaha kecil dapat
berkembang menjadi usaha yang tangguh dan man- diri. Penumbuhan
iklim yang kondusif ini tentunya juga harus didukung oleh seluruh
lapisan masyarakat, terutama pihak dunia usaha dan pengambil
kebijakan (pemerintah 8
setempat) terlebih-lebih di era otonomi daerah seperti seka- rang ini.
Penumbuhan iklim usaha berdasarkan UU No. 9 tahun 1995 ini
meliputi 7 aspek, yaitu : 1. Aspek pendanaan, dimana pemerintah
berusaha memperluas sumber-sumber pendanaan dan me- ningkatkan
aksesnya melalui fasilitas kredit bank pemerintah dan bantuan dana
lewat pemerintah daerah/instansi pemerintah, perusahaan daerah ma-
upun BUMN dan BUMS bahkan kebutuhan dana dapat pula diperoleh
dari pinjaman kredit melalui koperasi simpan pinjam dan melalui bank-
bank syariah yang dibuka oleh beberapa bank, yang dikelola oleh
organisasi Muhammadiyah dengan program BTM-nya dan oleh ICMI
dan BKPRMI melalui BMT-nya. Disamping memperluas sum- ber-
sumber dana, pemerintah juga berupaya mem- berikan pelayanan
yang terbaik dan termudah bagi pengurusan dana tersebut; 2. Aspek
persaingan, dimana pemerintah menganjur- kan agar pengusaha kecil
dapat meningkatkan ker- ja sama dengan sesama pengusaha kecil
lainnya, baik dalam bentuk koperasi, asosiasi maupun him- punan
kelompok usaha, sehingga posisi usaha kecil lebih kuat didalam
menghadapi berbagai persaing- an usaha. Disamping itu, pemerintah
juga akan se- lalu berusaha membentuk struktur pasar yang sehat agar
tidak tumbuh dan berkembang persaingan yang tidak sehat/wajar,
seperti adanya monopoli, 9 oligopoli dan monopsoni serta penguasaan
pasar dan pemusatan usaha yang dilakukan oleh sese- orang atau
kelompok tertentu yang tentunya sangat merugikan pengusaha kecil;
3. Aspek prasarana, dimana pemerintah menyediakan berbagai
prasarana umum dengan tarif yang relatif ringan / terjangkau, seperti
lokasi pasar, sarana transportasi, pembuatan dan perbaikan jalan raya,
penyediaan sarana telekomunikasi, listrik, penye- diaan air bersih,
lokasi usaha (seperti lahan per- tanian/perkebunan) dsb. yang mana
sarana-sarana tersebut dapat mendorong dan memperlancar kegi-
atan usaha kecil 4. Aspek informasi, dimana pemerintah membentuk
dan memanfaatkan bank data dan jaringan infor- masi bisnis melalui
instansi terkait, seperti infor- masi harga sembako, sayur mayur,
informasi bursa kerja dan tenaga kerja serta menyebarluaskan in-
formasi tersebut ke tengah-tengah masyarakat, me- lalui pasar,
teknologi informasi komunikasi (mass media baik cetak maupun
elektronik), sehingga para pengusaha kecil tidak ketinggalan informasi,
terutama informasi yang berhubungan dengan usaha yang
dijalankannya; 5. Aspek kemitraan, dimana pemerintah memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada pengusaha kecil untuk
menjalin mitra kerja dengan pengusaha kecil lainnya maupun dengan
pengusaha menengah atau besar dengan selalu memperhatikan
prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling 10
menguntungkan, serta mencegah terjadinya kerja sama/kemitraan
yang merugikan pihak pengusaha kecil; 6. Aspek perizinan usaha,
dimana pemerintah mela- kukan penyederhanaan tata cara dan jenis
perizinan dengan mengupayakan terwujudnya sistem pela- yanan satu
atap, serta memberikan kemudahan per- syaratan untuk memperoleh
izin usaha tersebut; 7. Aspek perlindungan, dimana pemerintah
menyedia- kan lokasi pasar, lokasi usaha berupa ruang toko, lokasi
sentra industri, lahan pertanian rakyat, loka- si pertambangan rakyat
dan lokasi yang wajar bagi pedagang kali lima serta lokasi-lokasi usaha
lain- nya, agar pengusaha kecil lebih aman dan nyaman dalam
melakukan kegiatan usaha. Disamping itu, pemerintah juga melakukan
bantuan konsultasi dan perlindungan hukum; Dalam melakukan
pembinaan dan pengembangan usaha kecil, pemerintah, dunia usaha
dan masyarakat ikut bertanggung jawab dan diminta partisipasinya.
Pembinaan dan pengembahan usaha kecil dilaku- kan pada aspek
produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia dan
teknologi. Dari aspek produksi dan pengolahan dilakukan dengan : 1.
Meningkatkan kemampuan manajemen serta teknik pro- duksi dan
pengolahan; 11 2. Meningkatkan kemampuan rancang bangun dan
pereka- yasaan; 3. Memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana
dan prasarana produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong
dan kemasan; Dari aspek pemasaran, dilakukan dengan : 1.
Melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran; 2. Meningkatkan
kemampuan manajemen dan teknik pe- masaran; 3. Menyediakan
sarana serta dukungan promosi dan uji co- ba pasar; 4.
Mengembangkan lembaga pemasaran dan jaringan dis- tribusi; 5.
Memasarkan produk usaha kecil; Dari aspek sumber daya manusia,
dilakukan de- ngan : 1. Memasyarakatkan dan membudayakan
kewirausahaan; 2. Meningkatkan ketrampilan teknis dan manajerial; 3.
Membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan, pelatihan dan
konsultasi usaha kecil; 4. Menyediakan tenaga penyuluh dan konsultan
usaha ke- cil; Dari aspek teknologi, dilakukan dengan : 1.
Meningkatkan kemampuan di bidang teknologi produksi dan
pengendalian mutu; 2. Meningkatkan kemampuan di bidang penelitian
untuk meningkatkan desain dan teknologi baru; 12
3. Memberikan insentif kepada usaha kecil yang mene- rapkan
teknologi baru dan melestarikan lingkungan hi- dup; 4. Meningkatkan
kerja sama dan alih teknologi; 5. Meningkatkan kemampuan memenuhi
standardisasi tek- nologi; 6. Menumbuhkan dan mengembangkan
lembaga penelitian dan mengembangkan di bidang desain teknologi
bagi usaha kecil. Pembiayaan, penyediaan dana dan penjaminan
terhadap usaha kecil dilakukan secara bersama-sama yang melibatkan
unsur pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, yang meliputi : 1.
Kredit perbankan; 2. Pinjaman lembaga keuangan bukan bank; 3.
Modal ventura; 4. Pinjaman dari dana penyisihan sebagian laba
BUMN; 5. Hibah dan; 6. Jenis pembiayaan lainnya. Untuk
mendapatkan sejumlah dana di atas dan termanfaatkannya dengan
baik dana tersebut, kepada pe- ngusaha kecil diharapkan : 1. Dapat
meningkatkan kemampuan pemupukan modal sendiri; 2. Dapat
menyusun proposal studi kelayakan usaha dengan baik; 3. Dapat
mengelola manajemen keuangan dengan baik; 4. Menumbuhkan dan
mengembangkan lembaga penjamin. 13 Lembaga penjamin adalah
lembaga yang dimiliki pemerin- tah maupun swasta yang menjamin
segala pembiayaan usa- ha kecil dalam bentuk kredit perbankan,
pemberian modal dengan sistem bagi hasil, dan sebagainya. Lembaga
penja- min ini biasanya dari instansi pemerintah, seperti misalnya
BKKBN memberikan jaminan modal kepada kelompok akseptor KB
yang berstatus prasejahtera dalam rangka meningkatkan pendapatan
keluarga melalui usaha-usaha produktif. Dinas Pertanian, Perikanan
dan Peternakan memberikan bantuan modal kepada petani, nelayan
mau- pun peternak dalam rangka meningkatkan dan mengem-
bangkan usahanya. Lembaga penjamin bisa juga dari kalangan
perusahaan menengah/besar, dari organisasi ma- syarakat dan
sebagainya. Dalam rangka peningkatan usaha, setiap usaha kecil
hendaknya menjalin usaha kemitraan dengan perusa- haan menengah
atau besar, baik yang mempunyai hubung- an usaha maupun yang
tidak ada keterkaitan usaha. Hu- bungan kemitraan dilaksanakan
dengan disertai pembinaan dan pengembangan dalam salah satu atau
lebih bidang pro- duksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan,
sumber da- ya manusia dan teknologi. Pola kemitraan dapat
dilaksanakan sbb. : 1. Pola Inti-plasma, adalah hubungan kemitraan
antara u- saha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usaha
menengah/besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil sebagai
plasma. Perusahaan inti melaksanakan pembi- naan, mulai dari
penyediaan sarana produksi, bimbingan 14
teknis sampai kepada pemasaran hasil produksi. Contoh usaha
perkebunan karet (PIR), usaha perkebunan kelapa sawit, usaha
perkebunan tebu dsb. dimana para petani hanya bertugas
melaksanakan penanaman dan pemeli- haraan, sedangkan seluruh
sarana prasarana dan segala pembiayaan lainnya dijamin oleh
perusahaan mene- ngah/besar, dalam hal ini perusahaan/pabrik gula
misal- nya; 2. Pola Subkontrak, adalah hubungan kemitraan antara
usaha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usa- ha kecil
bertugas melakukan produksi barang tertentu yang diperlukan oleh
usaha menengah/besar sebagai salah satu komponen produksinya,
atau usaha kecil melakukan tugas/kegiatan tertentu untuk menunjang
ke- giatan usaha perusahaan menengah / besar. Contoh : perusahaan
subkon PT. Pama Persada Nusantara atau PT. Adaro Indonesia. 3.
Pola Dagang Umum, adalah hubungan kemitraan an- tara usaha kecil
dengan usaha menengah/besar, dimana usaha kecil bertindak sebagai
pemasok dan usaha me- nengah/besar bertindak sebagai pengumpul
yang se- lanjutnya kumpulan hasil produksi ini dipasarkan oleh usaha
menengah/besar. Contoh : Para petani yang menghasilkan buah-
buahan dibeli oleh pembeli pe- ngumpul (misalnya koperasi atau
sebuah usaha kecil). Kemudian buah-buahan yang sudah terkumpul
dengan jumlah tertentu dikirim kepada sebuah perusahaan pe-
masaran buah-buahan (perusahaan menengah), selanjut- nya dijual
kepada perusahaan pengalengan buah, peru- sahaan makanan dsb.
(perusahaan besar); 15 4. Pola Waralaba, adalah hubungan kemitraan
antara u- saha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usaha
menengah/besar memberikan hak pengguna lisensi me- rek dagang
dan saluran distribusi perusahaan kepada penerima waralaba (usaha
kecil) dengan disertai ban- tuan bimbingan manajemen. Contoh :
sebuah perusaha- an elektronik dipercayakan menggunakan merek
pro- duknya dengan nama Sony (seperti VCD dengan merek by Sony,
padahal tidak dibuat langsung oleh perusahaan Sony). Barang-barang
yang bermerek perusahaan luar negeri dibuat oleh perusahaan dalam
negeri. Berarti perusahaan dalam negeri mendapat waralaba dari per-
usahaan luar negeri tersebut; 5. Pola Keagenan, adalah hubungan
kemitraan antara usa- ha kecil dengan usaha menengah/besar,
dimana usaha kecil diberikan hak khusus untuk memasarkan barang
dan jasa yang diproduksi oleh usaha menengah/besar. Contoh : usaha
agen koran dan majalah. E. Izin Usaha Kecil Membuka usaha kecil,
ada yang harus mendapat izin dari pemerintah (instansi berwenang),
ada pula usaha kecil yang tidak perlu mendapat izin. Hal ini tergantung
jenis usaha yang akan dijalankan dan besar kecilnya usaha. Sebaiknya
jika kita ingin membuka usaha kecil, meminta izin terlebih dahulu
kepada pemerintah/instansi terkait. Hal ini dimaksudkan agar usaha
yang kita jalankan 16
terdaftar pada lembaga resmi pemerintah, sehingga diha- rapkan
adanya perhatian dari pemerintah terutama dari segi bimbingan,
pembinaan dan pengawasan serta bantuan modal dan fasilitas, juga
agar tercapai tertib usaha, kelan- caran usaha dan pemerataan
kesempatan berusaha. Adapun bentuk perizinan yang perlu dimiliki
oleh usaha kecil bergantung pada jenis usahanya. Saat ini peme-
rintah telah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan kemudahan
dalam pemberian izin usaha kecil. Hal ini sesu- ai dengan Inpres
nomor 5 tahun 1984 tentang penyederha- naan dan pengendalian
perizinan di bidang usaha kecil, ser- ta dijabarkan secara praktis
(operasional) melalui surat ke- putusan menteri perdagangan nomor
1458/KP/XII/1984 tanggal 19 De-sember 1984. Ada lima perizinan
usaha yang sedang berlaku hingga saat ini, yaitu : 1. Izin Prinsip (IP),
adalah izin persetujuan usaha yang di- keluarkan pemerintah setempat
untuk usaha dibidang industri; 2. Izin Penggunaan Tanah (IPT), adalah
izin yang diberi- kan oleh kantor agraria/pertanahan nasional
pemerintah setempat dengan syarat, tanah yang akan digunakan su-
dah jelas kepemilikannya atau setelah izin pembebasan tanah dimiliki
(bukan tanah sengkekata/tak bertuan). Izin ini diberikan kepada
kegiatan usaha yang menggunakan lahan/tanah, seperti usaha
pertanian, perkebunan, peter- nakan, perikanan darat, pertambangan
dan sebagainya; 3. Izin Mendirikan bangunan (IMB), adalah izin yang
17 diberikan oleh pemerintah setempat melalui instansi/di- nas yang
berwenang seperti misalnya Dinas Pengawasan dan Pembanguan
Kota (setiap daerah mungkin berbeda nama instansi/dinasnya),
dengan syarat, bangunan yang akan dibuat harus sesuai dengan
sketsa/denah gambar- nya yang sudah mendapat persetujuan kepala
dinas ter- sebut. Surat izin ini diberikan kepada usaha-usaha yang
menggunakan bangunan, seperti usaha pertokoan, mem- bangun
pabrik dsb; 4. Izin Gangguan/Surat Izin Tempat Usaha (SITU), adalah
surat izin yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat (instansi/dinas
yang berwenang), dengan syarat sudah mendapat izin dari ketua RT,
RW dan kepala desa / ke- lurahan setempat serta mendapat
persetujuan warga / tetangga setempat. Surat izin ini wajib dimiliki oleh
usa- ha-usaha yang mungkin dapat mengganggu ketentraman,
ketenangan dan keamanan masyarakat sekitar, seperti usaha pabrik
penggilingan padi, pabrik tahu, pemeliha- raan binatang ternak yang
dekat masyarakat, dsb; 5. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP),
adalah surat izin yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Koperasi setempat. Surat izin ini diberikan kepada
usaha dibidang perdagangan; 6. Wajib Daftar Perusahaan (WDP),
adalah surat izin yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Koperasi setempat. WDP ini dilakukan paling lambat
ti- ga bulan setelah usaha dijalankan. Dalam proses pengurusan izin
usaha ini, ada be- berapa formuler isian yang harus diisi yang biasanya
sudah 18
sudah disediakan oleh instansi/dinas yang bersangkutan. Formuler ini
pada umumnya memuat data tentang : 1. Nama perusahaan dan
bentuk badan usahanya; 2. Alamat perusahaan; 3. NPWP (Nomor
Pokok Wajib Pajak); 4. Identitas pemilik dan pengurus/karyawan; 5.
Jenis usaha yang dijalankan; 6. Ketenagakerjaan; 7. Golongan usaha
(Contoh CV. kelas A, B. C dsb); 8. Mesin dan peralatan usaha yang
digunakan; 9. Surat permohonan dan akta pendirian usaha; Dokumen
permohonan izin usaha yang perlu di- persiapkan tentunya disesuaikan
dengan persyaratan yang berlaku bagi setiap jenis surat izin yang
dikeluarkan peme- rintah/instansi berwenang). Dokumen yang
dipersiapkan, antara lain : 1. Salinan/photocopy KTP; 2. Pas photo
pemilik/pengurus; 3. Salinan/photocopy akta pendirian usaha; 4.
Fohocopy NPWP; 5. Fhotocopy sketsa/denah/lokasi/gambar tempat
usa- ha; 6. Fhotocopy Kartu keluarga; 7. Surat Persetujuan Warga
setempat, Ketua RT. RW. Kepala Desa/kelurahan; dan sebagainya. 19
BAB II MEMILIH PRODUK DAN JASA A. Sumber Informasi dan Cara
Melihat Peluang Tak ada seorangpun yang tidak membutuhkan infor-
masi, apapun jenis dan pekerjaan orang itu. Pejalar, maha- siswa,
guru, dokter, birokrat, seniman, wartawan, pengu- saha, penulis, ahli
hukum, petani, nelayan dan sebagainya, semuanya memerlukan
informasi. Informasi memang kadang-kadang bisa datang sen- diri
(diperoleh dengan mudah), karena berbagai media in- formasi telah
banyak dan beragam jenisnya dan ada di se- kitar kita, namun
informasi juga perlu kita cari, kita harus proaktif mencarinya. Terlebih-
lebih jika kita ingin mendiri- kan sebuah usaha, kendati hanya usaha
kecil-kecilan, infor- masi bisnis perlu kita cari, kita analisa yang pada
gilirannya informasi yang kita peroleh tersebut menjadi sebuah pe-
luang usaha. Sumber informasi itu sebenarnya ada di mana-ma- na,
baik informasi lisan langsung, rekamam maupun infor- masi tulisan.
Informasi dapat kita peroleh di pasar, di keru- munan orang, di kedai,
warung, di sekolah, di tempat kerja, di tempat diskusi, seminar, loka
karya, di pengajian, poster, papan penguman, majalah, surat kabar,
radio dan televisi. Ketika kita jalan-jalan, melihat sesuatu, mendengar
sesuatu 20
merasakan sesuatu, semuanya dapat kita jadikan informasi dan
sumber informasi. Tinggal kita saja lagi, apakah mampu memilih dan
memilah, mana informasi yang sekira- nya dapat kita manfaatkan untuk
dijadikan peluang di dalam memilih produk atau jasa usaha kecil kita
nanti. Keberhasilan dunia usaha dan bisnis dewasa ini sangat
tergantung pada kejelian melihat peluang melalui berbagai sumber
informasi serta memanfaatkan peluang itu sebelum orang lain melihat
dan memanfaatkannya. Sebagai calon usahawan kecil, kita harus
mampu berpacu dalam menyerap informasi serta memperluas
cakrawala berpikir dan wawasannya. Dalam menggali berbagai
informasi untuk men- cari peluang usaha, kepada kita disarankan : 1.
Sering-seringlah pergi ke pasar untuk melihat dan meng- amati
berbagai prilaku penjual dan pembeli. Jenis pro- duk/jasa apa kira-kira
yang paling diminati dan dibutuh- kan pembeli dan bagaimana
persediaannya di pasar; 2. Sering-seringlah berkonsultasi/dialog
dengan para peda- gang mengenai aktivitas jual beli yang
dijalankannya; 3. Datanglah ke tempat usaha yang ada di sekitar kita,
la- kukan pengamatan dan jalinlah persahabatan dengan pimpinan dan
para karyawannya; 4. Jika perlu, ikutlah magang di tempat usaha untuk
men- dapatkan pengalaman kerja; 5. Manfaatkan berbagai media
seperti koran, majalah, radio televisi dsb. sebagai sumber informasi
dan ikuti acara- acara yang berkaitan dengan dunia usaha; 21 Jika ke
lima hal di atas dapat kita lakukan dan kita manfaatkan seoptimal
mungkin, kita tentu akan banyak memperoleh informasi dan dari
berbagai informasi tersebut insyaAllah kita akan mampu menentukan
peluang usaha yang dapat kita garap. Bagaimana sebuah informasi
dapat kita jadikan sebagai peluang usaha, dapat kita lihat tabel berikut
ini : Informasi Peluang Usaha - Ada penambahan lokasi pasar. -
Membuka toko untuk ber- jualan. - Membuka usaha transpor- tasi
(taxi). - Pembangunan hotel baru - Membuka toko/kios/wa- rung di
sekitar lokasi ho- tel. - Membuka usaha jasa transportasi (taxi). -
Didirikan pabrik tahu - Membuka usaha pertani- an kedelai. - Membuka
usaha pemasar- an tahu (jual tahu). - Didirikan terminal kenda- raan
antar daerah/propinsi - Membuka toko/kios/wa- rung. - Membuka
usaha jasa transportasi (taxi). - Mendirikan Wartel. - Membuka WC
umum. 22
Peluang bisnis memang ada di mana-mana. De- ngan mengamati
dinamika kehidupan masyarakat, di sana ada peluang. Dengan
memperhatikan potensi alam dan po- tensi daerah yang ada, juga
merupakan peluang. Dengan adanya pergantian musim dan
pergeseran tata nilai, pun merupakan peluang. Pendeknya peluang
untuk berusaha terbuka luas buat kita. Tinggal kita saja lagi yang
menentu- kan peluang usaha seperti apa yang kita inginkan dan seki-
ranya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, baik ke- mampuan
mental maupun kemampuan pisik, termasuk per- modalan. Jika kita
telah berhasil memilih jenis usaha/ pro- duk yang akan kita garap nanti,
maka hendaknya kita ta- namkan ke dalam diri kita masing-masing : 1.
Sifat optimis akan kemampuan diri untuk melaksanakan- nya; 2.
Berusaha menyukai jenis usaha tersebut dan punya ke- mauan yang
keras untuk mewujudkannya; 3. Perjuangan yang tidak mengenal lelah
dan putus asa; 4. Kesediaan menghadapi berbagai kemungkinan
risiko; 5. Berpikir positif dan menjauhkan pikiran-pikiran yang negatif; 6.
Dapat menerima saran-saran orang lain demi kemajuan usaha; 7.
Tidak lekas puas terhadap hasil yang telah diperoleh; 8. Punya
keinginan untuk maju dan berkembang serta op- timis terhadap masa
depan. Seseorang yang akan menggarap suatu produk/ 23 jasa
(membuka usaha), seyogyanya mempunyai tiga ktram- pilan (skill),
yaitu : 1. Ketrampilan memimpin, yaitu kemampuan seseorang di-
dalam memanej (mengelola) usaha, mengorganisir fak- tor-faktor
produksi yang digunakan, memanfaatkan ber- bagai peluang bisnis
dan kreatif dalam mencari teknik baru dalam berusaha/berproduktif; 2.
Ketrampilan teknik, yaitu keahlian yang dimiliki sese- orang terhadap
bidang usaha yang dijalankannya. Jadi, kalau jenis usaha yang akan ia
garap dibidang ternak itik, maka seyogyanya ia mengerti benar
bagaimana me- melihara/berternak itik yang baik; 3. Ketrampilan
mengelola (organisir), yaitu kemampuan seseorang dalam mengatur
kegiatan usaha, mengatur/ mengelola para karyawan, mengelola
segala peralatan kerja dsb. B. Teknik Pemilihan Jenis Usaha/Produk
Untuk menentukan jenis usaha/produk apa yang akan kita garap, kita
dapat menggunakan suatu teknik ana- lisis yang disebut Analisis
SWOT. Analisis SWOT adalah sebuah analisis untuk mengamati suatu
keadaan dan masalah tertentu dengan melihat sisi kekuatannya
(strength), kelemahannya (we- akness), peluangnya (opportunity) dan
segi ancamannya (threath). Dari analisis ini, segala kekuatan kita
manfaatkan kelemahan kita atasi atau minimal kita perkecil, ancaman
24
kita antisipasi/tanggulangi, dan peluang kita munculkan untuk dijadikan
kekuatan baru. Penerapan Analisis SWOT untuk menentukan je- nis
usaha/produk yang akan kita garap, dapat kita kemuka- kan contoh
berikut ini. Kita tahu bahwa kondisi alam daerah kita Taba- long cukup
luas dan potensial. Tidak sedikit potensi alam yang dapat kita garap
dan dijadikan lahan bisnis/usaha. Daerah kita disamping dikenal
sebagai daerah tambang minyak dan batubara, sejak dulu kita juga
dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan seperti duku (langsat)
dan cempedak (tiwadak). Sehingga bila orang mendengar langsat
Tanjung, tiwadak Tanjung maka terbanyang dibenaknya, bahwa
langsat atau tiwadak tersebut enak dan manis. Nah, mari kita analisis
keberadaan duku dan cempe- dak ini dengan pendekatan Analisis
SWOT. 1. Kekuatannya (Strength) a. Pohon duku dan cempedak
banyak tumbuh di daerah Tabalong; b. Rasanya manis dan disukai
banyak orang; c. Jika musim tiba jumlahnya sangat banyak dan harga-
nya murah; d. Banyak orang-orang, baik daerah setempat maupun dari
daerah lain datang untuk membelinya; e. Buah duku dan cempedak
tersebut sering di kirim dan dijual ke daerah lain, sehingga
keberadaanya semakin terkenal. 25 2. Kelemahannya (Weakness) a.
Sebagian besar pohon duku dan cempedak berada di hutan-hutan dan
ditanam tidak beraturan serta tidak dipelihara sebaik mungkin; b.
Pemilik pohon duku dan cempedak sebagian besar masih bersifat
perorangan; c. Pohon duku dan cempedak bagi pemiliknya, masih
dianggap sebagai tanaman sampingan, tidak dimanfa- atkan menjadi
sebuah usaha; d. Penjualan buah duku dan cempedak masih bersifat
tradisional secara turun temurun; 3. Peluangnya (Opportunity) a.
Memungkinkan untuk peningkatan budidaya perke- bunan duku dan
cempedak, dengan membuka lahan perkebunan; b. Memungkinkan
buah duku dan cempedak dijadikan sebagai komuditi penambah
penghasilan; c. Memungkinkan melakukan perdagangan duku dan
cempedak lebih besar dan profesional; d. Menungkinkan mendirikan
usaha pengalengan buah duku dan cempedak; 4. Ancamannya
(Threath) a. Jika tidak dikelola dengan baik, buah duku dan cem-
pedak terancam kepunahan; b. Akibat perluasan kota/pemukiman
penduduk, dan ku- rangnya pemeliharaan, tanaman duku dan
cempedak mengalami penurunan kuantitas dan kualitas; c. Munculnya
daerah-daerah lain penghasil duku dan 26
cempedak; Dari contoh analisis di atas, apa yang dapat kita jadikan
peluang untuk memilih jenis usaha/produk bagi usaha kecil kita. 1.
Pada musim duku dan cempedak, kita bisa ikut jualan; 2. Buah
cempedak dapat kita jadikan kue, buat menambah kue yang ada di
warung kita, atau kita jual ke warung- warung lain; 3. Buah cempedak
dapat kita olah menjadi selai cempedak dan jenis makanan lainnya; 4.
Buah duku dapat kita olah menjadi minuman berupa sirup buah duku;
5. Kulit cempedak dapat kita jadikan mandai tiwadak; 6. Mandai
tiwadak juga dapat kita jadikan kerupuk dengan nama kerupuk mandai
tiwadak. C. Pemasaran Hasil Usaha/Produk Barang/jasa yang akan
dipasarkan hendaknya : 1. Benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat
bagi konsumen; 2. Dapat menyesuaikan selera konsumen dan daya
belinya; 3. Kuantitasnya mencukupi konsumen dan kualitasnya ter-
jamin; 4. Model dan bentuk barang menarik dan tidak ketinggalan
zaman; 5. Relatif dapat memuaskan konsumen (tidak mengecewa-
kan). 6. Dapat bersaing dengan barang/produk lain yang sejenis; 27 7.
Mudah dalam pemakaiannya (praktis); 8. Efesien dalam
penggunaanya; 9. Hemat dan awet dalam pemakaiannya; Di dalam
memasarkan hasil usaha/produk, hen- daknya dipertimbangkan sbb. :
1. Siapa yang akan membeli produk dan berapa jumlahnya; 2. Di mana
pembeli itu berada (kota desa) dan bagaimana penghasilan mereka
(untuk mengetahui tingkat daya beli masyarakat); 3. Di mana dan siapa
calon pesaing usaha kita; 4. Bagaimana perkembangan pemasaran
produk tersebut dalam beberapa hari / bulan ini. Apakah ada
peningkatan atau bagaimana; 5. Bagaimana perkembangan antara
produksi dengan pe- masaran, apakah ada keseimbangan; 6. Perlukah
menjalin kerjasama dengan pihak lain dalam pemasaran hasil
usaha/produk; 28
BAB III MEMILIH BENTUK USAHA KECIL A. Proses Pemilihan Bentuk
Usaha Kecil Dalam proses ini, setelah memperoleh berbagai informasi
dan menganalisanya sehingga terbukalah peluang usaha, yang
kemudian memanfaatkan peluang itu dengan memilih suatu
produk/jasa untuk dijadikan bidang garapan usaha kecil, lalu
menyiapkannya untuk di pasarkan. Proses selanjutnya adalah
bagaimana memilih bentuk usaha kecil, apakah dikelola secara
informal yaitu usaha kecil yang di- kelola masyarakat banyak secara
perorangan, tidak terorga- nisir secara modern, tanpa nama usaha,
tanpa tempat usaha khusus, contohnya seperti petani karet, pedagang
asongan, pedagang kaki lima, penjual sayur, ikan, pedagang di kios/
toko kecil, para tukang, buruh bangunan bebas, tukang cukur
tradisional, usaha rumah tangga seperti membuat kue untuk di
pasarkan ke warung-warung, pedagang pentol, es dan sebagainya.
Apakah usaha kecil dikelola secara formal, yaitu usaha kecil yang
dikelola dengan menggunakan alat/ sarana usaha/produksi,
terorganisir, punya nama usaha dan jelas jenis usahanya, tempat
usahanya jelas, ada susunan/ struktur organisasinya dsb. Contoh UD.
Maju, usaha per- cetakan dan sablon seperti Rafi Abadi off sett, Prima
kom- puter, LPP Bavon, Wartel Abdi Jaya, rumah makan Tama- ra,
Perusahaan Kopi cap Tiga Kunci, usaha kecil rumah tangga yang
memproduksi dudul, keripik, kerupuk, roti ( ada merek perusahaannya),
usaha rumah tangga pembuatan 29 pakaian jadi, seperti pakaian
muslim/muslimah bordir Bunga Tanjung, Ar-Raudah, usaha-usaha mini
market dsb. Kemudian, berhubungan dengan bentuk usaha ke- cil ini
juga, adalah bidang usahanya, apakah di bidang per- dagangan,
industri maupun jasa. Apakah dikelola sendiri dan terpusat, tanpa
cabang. Apakah bekerja sama dengan pengusaha lain (menjalin
kemitraan), dalam bentuk/pola inti-plasma, sub kontrak, dagang umum,
waralaba atau ke- agenan. Kendati usaha kecil pada umumnya
berbentuk usaha perseorangan, namun tidak menutup kemungkinan
usaha kecil dapat pula berbentuk CV. Fa. PT. atau koperasi, karena
dalam pasal 5 UU No.9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, disebutkan
bahwa salah satu kriteria usaha kecil adalah berbentuk perseorangan,
badan usaha yang tidak berbadan hukum maupun yang berbadan
hukum dan kope- rasi. Namun dalam pembahasan mata pelajaran
Membuka Usaha Kecil ini orientasi kita lebih terfokus pada Usaha Kecil
yang berbentuk Usaha Perseorangan, karena bentuk usaha semacam
ini yang paling mudah dan praktis serta da- pat dipraktekkan oleh
siswa. Di dalam memilih bentuk usaha kecil seperti yang dijelaskan di
atas, ada beberapa bahan pertimbangan yang perlu diperhatikan, yaitu
: 1. Permodalan yang dimiliki dan pengembangannya; 2. Risiko usaha
yang mungkin terjadi; 3. Strategis tidaknya usaha yang dijalankan; 30
4. Prakiraan prospek masa depan usahanya; 5. Peralatan usaha,
teknis, dan tenaga kerja yang tersedia; 6. Ketersediaan bahan baku
dan bahan penolong; 7. Birokrasi pengurusan pendiriannya dan
besarnya pajak; 8. Keahlian/ ketrampilan teknis yang dimiliki; 9.
Kemungkinan keuntungan yang diperoleh; 10. Persaingan yang
muncul di pasaran; 11. Kemungkinan pemasaran hasil produk; B.
Menyusun Studi Kelayakan Usaha Kecil Menetapkan jenis usaha/
produk dan bentuk usa- ha kecil yang tepat dan sesuai keinginan
sebenarnya tidak- lah mudah. Ia memerlukan analisa yang cermat,
pemikiran yang tepat dan pertimbangan yang matang. Agar di dalam
pemilihan produk, jenis usaha dan bentuk usaha kecil dapat lebih
akurat, kiranya perlu menyu- sun sebuah studi kelayakan usaha kecil
Tahapan-tahapan di dalam menyusun studi kela- yakan usaha kecil
adalah sebagai berikut : 1. Mempelajari hal-hal yang berkenaan
dengan jenis usaha/ produk dan bentuk usaha yang akan dipilih serta
perma- salahannya; 2. Menyusun rencana studi kelayakan secara rinci
dan ber- urutan; 3. Mengumpulkan berbagai informasi data lapangan
ber- kenaan dengan jenis produk dan bentuk usaha, kemudian 31
melakukan analisis; 4. Membuat laporan hasil analisis; 5. Membuat
kesimpulan; Dalam menyusun Studi Kelayakan Usaha Kecil, perlu
mencantumkan caara dan teknik pengumpulan infor- masi misalnya
dengan membuat daftar pertanyaan, daftar kebutuhan informasi,
sumber informasi dsb. Studi kelayakan usaha kecil sangat diperlukan,
karena dari studi ini akan dapat diramal bagaimana kelang- sungan
hidup usaha yang akan dipilih, sejauhmana keun- tungan yang bakal
diperoleh, seberapa besar minat masya- rakat terhadap produk yang
akan kita hasilkan. Di dalam menyusun studi kelayakan usaha kecil,
kiranya perlu dipertimbangkan beberapa aspek berikut ini : 1. Aspek
Hukum, meliputi : a. Kemudahan dalam pengurusan perizinan; b.
Adanya dukungan dari masyarakat setempat; c. Adanya dukungan dari
pemerintah daerah; d. Adanya kebutuhan masyarakat terhadap produk
yang akan digarap; e. Adanya manfaat ekonomis terhadap masyarakat
sekitar f. Dapat membantu dalam pengentasan kemiskinan ter- hadap
masyarakat sekitar; g. Dapat meningkatkan sosial budaya masyarakat
sekitar; h. Dapat menunjang pembangunan pemerintah daerah; i.
Adanya sarana prasarana yang mencukupi; 32
j. Tersedianya bahan baku, bahan penolong dan sejumlah tenaga
kerja; 2. Aspek Pasar dan Pemasaran, meliputi : a. Informasi tentang
kondisi permintaan pasar; b. Keadaan konsumen, meliputi identitasnya,
statusnya, jumlahnya, tingkat penghasilannya, daya belinya, ke-
butuhannya, seleranya dsb; c. Kedudukan dan posisi produk di
pasaran; d. Situasi persaingan yang bakal terjadi; e. Gambaran masa
depan pemasaran produk; f. Cara-cara promosi produk; g. Sistem
distribusi, komisi, penjualan dan transaksi yang berlaku; h. Tanggapan
balik konsumen tentang produk yang di- suguhkan (riset pemasaran);
3. Aspek Teknis dan Teknologi, melipti : a. Membuat rencana jangka
pendek, menengah dan pan- jang; b. Menentukan sistem produksi,
urutan proses produksi, bahan-bahan dan mesin peralatannya; c.
Perencanaan gedung atau bangunan dan tata letak mesin
peralatannya; d. Menentukan tenaga kerja yang dibutuhkan; e.
Menentukan lokasi usaha yang strategis; f. Pemilihan sistem dan alat
transportasi dan komuni- kasi; g. Menetapkan prakiraan dana yang
diperlukan; h. Mengusahakan agar produk yang dihasilkan dapat 33
memenuhi jumlah dan kualitas yang diinginkan de- ngan biaya
produksi sehemat mungkin; 4. Aspek Ekonomis dan Keuangan,
meliputi : a. Perolehan dana awal usaha seperti modal tetap dan modal
kerja; b. Usulan investasi dan pinjaman modal awal; c. Usulan investasi
dan pinjaman modal dalam rangka perluasan usaha; d. Berapa jumlah
dana yang diperlukan untuk modal awal dan perluasan usaha; e.
Bagaimana struktur pembiayaan usaha; f. Bagaimana perhitungan
biaya, harga, laba yang di- inginkan; g. Bagaimana teknis investasi dan
peminjaman dana, sumbernya dari mana, berapa jumlahnya,
persyaratan- nya bagaimana, dan bagaimana teknik dan aturan serta
kemampuan pengusaha dalam pengembaliannya. 5. Aspek Lokasi,
meliputi : a. Bagaimana mengurus IMB-nya; b. Menentukan lokasi
usaha yang strategis; c. Lay out dan denah lokasi usaha; d. Bentuk
bangunan dan tata letaknya; C. Format Studi Kelayakan Usaha Kecil 1.
Pengantar, menjelaskan tentang : manfaat umum, man- faat ekonomis
dan manfaat lainnya; 34
2. Umum, berisi tentang : nama usaha, pemiliknya, bentuk usaha,
bidang usaha dan tempat kedudukan/lokasi usa- ha; 3. Perizinan,
meliputi : izin usaha, izin prinsip, izin peng- gunaan tanah, izin
mendirikan bangunan, izin undang- undang gangguan dan izin lainnya
yang diperlukan; 4. Rencana Produksi, memuat tentang : jenis
produksi, bentuk produksi, ukuran/volume usaha/produksi, model
produksi, kapasitas produksi, bahan pembungkus/kema- san dan
rencana produksi riil; 5. Pemasaran dan Saingan, meliputi : daerah
pemasaran, jumlah produk yang dapat dipasarkan, sistem pema- saran
produk, saingan produk sejenis, dan jumlah in- dustri/ usaha/produk
sejenis; 6. Modal tetap yang Diperlukan, terdiri dari : tanah dan
bangunan, mesin dan peralatan pengolahannya; 7. Modal Kerja yang
Diperlukan, terdiri dari : modal untuk persediaan bahan baku dan
bahan pembantu, modal untuk keperluan administrasi usaha dan
operasional usaha lainnya; 8. Biaya Produksi, meliputi : biaya
persediaan bahan baku dan bahan pembantu, biaya gaji dan upah
pimpinan dan karyawan, biaya gaji pemilik dsb, biaya penyusutan,
biaya bunga dan pinjaman modal dan biaya lain-lain 35 seperti biaya
listerik, air bersih, asuransi, transportasi, kebersihan dan pemeliharaan
gedung dan peralatan kan- tor dan sebagainya; 9. Rencana
Pemasaran/Penjualan, terdiri dari : kegiatan pemasaran/penjualan
produk, biaya pemasaran dan hasil penjualannya; 10. Pendapatan/laba
sebelum dikurangi bunga dan pajak; 11. Pendapatan/laba setelah
dikurangi bunga dan pajak; 12. Laba bersih usaha. 36
BAB IV MEMBUAT RENCANA USAHA DAN RENCANA KERJA
USAHA KECIL A. Membuat Rencana Membuka Usaha Kecil
Perencanaan usaha adalah keseluruhan proses ten- tang hal-hal yang
akan dikerjakan sehubungan dengan usa- ha yang akan dibuka untuk
mencapai tujuan. Dengan perencanaan usaha diharapkan : 1. Ada
kepastian tentang : a. Usaha apa yang akan dikerjakan; b. Kapan
usaha itu dilaksanakan; c. Bagaimana cara melaksanakan usaha
tersebut; d. Siapa saja yang terlibat dalam usaha tersebut; e. Di mana
lokasi usaha dilakukan; 2. Dapat menjadi pedoman kegiatan usaha; 3.
Menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan pimpinan/ pengelola usaha;
Membuat rencana membuka usaha kecil, diperlukan langkah-langkah
yang tepat dan sistematis de- ngan berpedoman pada konsep 5 W 1 H
yang merupakan kata tanya dalam bahasa Inggeris, yang selanjutkan
dite- rapkan ke dalam rencana membuka usaha kecil. Penerapan 5 W
1 H ini dapat kita jelaskan sbb. 37 1. WHAT ? (APA?) Pertanyaan inilah
yang mula-mula muncul dalam pikiran kita manakala kita ingin
berencana. What? (Apa?), maksudnya rencana apa yang ingin kita
lakukan?. Kalau berhubungan dengan usaha kecil, pertanyaannya
adalah : - Jenis usaha apa yang ingin kita lakukan. Apakah di- bidang
industri, perdagangan atau jasa. Bentuk per- usahaan yang akan kita
buka, apakah berbentuk perseroan (PT), perusahaan komanditer (CV),
Firma (Fa), Koperasi, maupun perusahaan perorangan, misalnya
berupa UD (usaha Dagang), Industri Ru- mah Tangga, kerajinan dsb.
Apa nama perusahaan yang kita dirikan tersebut, misalnya CV.
Karunia, UD. Maju dan sebagainya; - Apa maksud, sasaran dan tujuan
yang ingin/akan ki- ta capai dari usaha yang akan kita lakukan
tersebut. 2. WHERE ? (DI MANA ?) Setelah pertanyaan what? (apa?),
sudah terjawab, dalam artian kita sudah dapat menentukan jenis usaha
yang akan dibuka, bentuk perusahaan yang dipilih, bidang usaha yang
akan dikerjakan, nama perusahaan yang kita tentukan, maksud,
sasaran serta tujuan usaha yang ingin kita capai, maka pertanyaan ke
dua biasanya muncul adalah di mana lokasi usaha tersebut kita
dirikan. Pertanyaan ini menunjukkan tempat/lokasi/areal usaha yang
akan dikerjakan. Pertanyaannya adalah : 38
- Di mana tempat/lokasi usaha yang akan kita dirikan. Apakah di desa
A, desa B, kota C, kota D, di daerah pantai/pesisir, di lokasi wisata, di
dekat terminal, sta- sion, lapangan terbang, pelabuhan dan
sebagainya. - Lokasi usaha yang akan kita pilih, apakah hanya ter-
fokus satu tempat, dua tempat atau beberapa tempat. 3. WHEN ?
(PABILA/KAPAN ?) Setelah kita menentukan jenis, macam/bidang usa-
ha, nama usaha dan maksud, sasaran dan tujuan yang akan dicapai,
juga penentuan lokasi/tempat beroperasinya per- usahaan kita nanti,
maka pertanyaan berikutnya adalah : - Kapan / pabila operasional
usaha tersebut mulai dikerjakan dan sampai kapan berakhirnya; 4.
WHO ? (SIAPA ?) Pertanyaan ini berhubungan dengan
personalia/para pelaksana atau orang-orang yang terlibat di dalam
usaha yang akan kita garap. Pertanyaannya : - Berapa jumlah personil
yang kita butuhkan dalam kegiatan usaha kita nanti; - Dari mana dan
bagaimana penjaringan (merekrut) personil-personil tersebut. Apakah
kita pasang iklan di media masa, kita sebarkan selebaran, 39
pengumunanan dan kita tempel di tempat-tempat strategis, atau kita
cari sendiri (mungkin kita ajak beberapa orang keluarga, beberapa
orang teman/ sahabat) dan sebagainya; - Siapa-siapa orangnya yang
menurut kita cocok dan pantas serta dapat diajak kerja sama dalam
menja- lankan usaha kita nanti; - Ketrampilan apa yang kita perlukan
dari personil- personil tersebut. Misalnya kita membutuhkan tena- ga
pemasaran. Kita memerlukan personil yang te- rampil dalam kegiatan
pembukuan/akuntansi, dan sebagainya; 5. WHY ? (MENGAPA ?)
Pertanyaan ini berhubungan dengan analisa usaha. Bisa juga
merupakan pertanyaan koreksi dari empat per- tanyaan di atas.
Pertanyaan yang berhubungan dengan why (mengapa) ini, seperti : -
Mengapa jenis usaha yang akan dikerjakan dibidang industri? yaitu
industri kerajinan rumah tangga. Mengapa bidang usaha ini yang di
pilih, apa alasan- nya, bagaimana prospek masa depan usaha ini; -
Mengapa perusahaan yang akan didirikan berbentuk CV. dengan
nama CV. Mekar Sari? Apakah nama ini sudah cocok, atau mungkin
bisa dicari nama lain; - Mengapa maksud, sasaran dan tujuan usaha ini
40
sedemikian rupa, apa sudah cocok; - Mengapa lokasi usaha di daerah
pasar/pusat perbe- lanjaan? Mengapa hanya satu tempat?; - Mengapa
operasional usaha ini baru bisa dimulai tahun depan? Kenapa tidak
segera saja dimulai?; 6. HOW ? (BAGAIMANA ?) Pertanyaan ini
menunjukkan cara, metode, teknik, dan prosedur kerja yang akan
dikerjakan. Yaitu, bagaimana cara, teknik dan prosedur kerja yang
sebaik-baiknya dalam melaksanakan usaha nanti. Pertanyaannya : -
Usaha yang akan kita kerjakan apakah mengguna- kan teknik
tradisional, modern, atau campuran (semi modern); - Usaha yang akan
kita kerjakan apakah bersifat padat modal atau padat karya; Dari enam
pertanyaan yang terhimpun dalam rumus 5 W 1 H tersebut dapat kita
terapkan ke dalam Rencana Membuka Usaha seperti bagan berikut ini
: What? (Apa?) Jenis, bentuk dan nama usaha Maksud, sasaran dan
tujuan usaha 41 Where?(Di mana) Lokasi usaha When? (Kapan?)
Waktu Usaha Who? (Siapa?) Pelaksana Why? (Mengapa?) Analisa
Usaha How? (Bagaimana?) Cara Pengerjaan Di dalam menyusun
rencana membuka usaha ke- cil, hendaknya diperhatikan beberapa hal
sebagai berikut : Jenis usaha yang dipilih hendaknya disesuaikan
dengan tersedianya sumber-sumber bahan yang cu- kup, tenaga kerja
yang mudah di dapat, pemasaran yang lumayan serta prospek masa
depannya (ke- langsungan usaha); Sebelum usaha dijalankan,
hendaknya secara tegas kita sudah menentukan sasaran/target yang
akan di- capai dari usaha kita tersebut dalam jangka waktu tertentu,
baik secara kuantitas maupun secara kuali- tas; 42 CV. BATA INDAH
JAYA Usaha Industri Batu Bata Untuk Keperluan Bahan Bangunan Di
desa Pembataan Tanjung Mulai Januari 2003 - dst. Unit Produksi
SMKN 1 Bata Sangat Diperlukan Dan Mudah Dikerjakan Secara
Tradisional
Rencana usaha yang kita susun, hendaknya sudah terprogram
secara sistematis (punya tahapan-tahap- an operasional), dari tahap
awal hingga tahap pe- nyelesaian; Rencana usaha yang akan digarap
hendaknya dise- suaikan dengan pendanaan yang ada. Jangan sekali-
kali memaksakan diri dengan berbuat spekulasi. B. Membuat Rencana
Kerja Usaha Kecil Sejak usaha kecil didirikan, maka sejak itu pula perlu
disusun rencana kerja usaha, untuk menentukan : 1. Produk/jasa apa
yang akan dibuat atau dipasarkan/jual; 2. Berapa jumlah dana yang
diperlukan; 3. Berapa jumlah produk yang akan dibuat; 4. Berapa
karyawan atau tenaga kerja yang diperlukan dan; 5. Ke mana produk
itu akan dijual atau di pasarkan. Sasaran rencana kerja usaha kecil
hendaknya ha- rus menyangkut / memperhatikan : 1. Kelangsungan
hidup usaha; 2. Perolehan laba / keuntungan yang memadai; 3.
Penambahan modal dan kekayaan perusahaan; 4. Dapat memacu laju
pertumbuhan usaha; 5. Upaya untuk menampung dan memperluas
kesempatan kerja; 6. Upaya untuk memberikan pelayanan konsumen;
7. Sebagai upaya untuk mencapai sasaran lainnya yang lebih luas; 43
Bentuk-bentuk rencana kerja sekaligus merupakan tahapan-tahapan di
dalam menyusun rencana kerja, adalah sbb.: 1. Rencana Kerja Jangka
Panjang, adalah rencana yang dibuat untuk kurun waktu 5 s/d 25
tahun. Rencana jangka panjang ini berfungsi sebagai penunjuk arah
atau gambaran kegiatan ke depan, dalam artian akan di bawa ke mana
perusahaan ini nanti; 2. Rencana Kerja Jangka Pendek, adalah
rencana yang dibuat untuk kurun waktu maksimal 1 tahun. Rencana ini
biasanya berkenaan dengan rencana perolehan laba (profitabilitas),
rencana produksi, rencana peningkatan/ inovasi usaha, rencana
pemasaran, budget (anggaran biaya), rencana
personalia/kekaryawanan dsb; 3. Rencana Anggaran, adalah sebuah
rencana kerja yang berfungsi sebagai alat kendali atau pengawasan
yang sangat efektif di dalam mengelola sebuah usaha. Renca- na
Anggaran ini terdiri dari : a. Anggaran penjualan; b. Anggaran promosi;
c. Anggaran distribusi; d. Anggaran produksi; e. Anggaran biaya
produksi; f. Anggaran pembelian; g. Anggaran biaya karyawan; h.
Anggaran biaya umum dan administrasi; i. Anggaran laba rugi; j.
Anggaran lainnya yang diperlukan. 44
4. Rencana Pemasaran, adalah sebuah rencana yang dibuat dalam
rangka memasarkan produk/jasa kepa- da konsumen. Rencana
pemasaran bagi usaha kecil dikelompokkan menjadi tiga : a. Rencana
pemasaran bagi usaha kecil yang ber- gerak di bidang penjualan
barang eceran (toko, kios, warung, pedagang kaki lima dsb); b.
Rencana pemasaran bagi usaha kecil yang ber- gerak di bidang
produksi/industri barang (indus- tri rumah tangga, pabrik tahu, pabrik
jamu dsb); c. Rencana pemasaran bagi usaha kecil yang ber- gerak di
bidang jasa (tukang service jam, service radio/TV, bengkel sepeda
motor/sepeda, tukang jahit pakaian dsb); 5. Rencana Keuangan,
adalah suatu rencana yang di- tujukan untuk mengatur keadaan
keuangan, baik da- ri segi pemasukan/pendapatan maupun dari segi
pe- ngeluarannya. Rencana keuangan ini sering disebut Rencana
Pendapatan dan Belanja; 6. Rencana Produksi, adalah suatu rencana
untuk me- ngatur kegiatan produksi, baik mengenai jumlah- nya,
kualitasnya maupun waktu dan lama pelaksa- naannya; 7. Rencana
Organisasi dan Personalia, adalah suatu rencana yang berhubungan
dengan pengelolaan kar- yawan, administrasi kantor dan administrasi
usaha; C. Contoh Rencana Kerja Usaha Kecil Di bidang
Produksi/Pengolahan 45 CONTOH PEMBUATAN ABON DAGING
Abon daging merupakan hasil olahan dari daging yang dapat disimpan
lama (awet), rasanya enak, banyak di- gemari dan mudah cara
pembuatannya. Abon bisa dibuat dari bermacam-macam daging,
antara lain : daging sapi, kerbau, kambing, rusa, ayam, kelinci dan
bahkan dari ikanpun dapat dibuat abon. Oleh karena itu usaha
pembuat- an abon dapat dilakukan sebagai salah satu dari kegiatan
usaha kecil. A. Bahan dan Peralatan 1. Bahan-bahan yang diperlukan :
NO. NAMA BAHAN BANYAKNYA 1. Daging 20 kg 2. Garam 10
senduk makan 3. Kelapa 2 biji 4. Gula merah 2 kg 5. Bawang merah
0,5 kg 6. Bawang putih 2,5 ons 7. Daun salam Secukupnya 8.
Ajinomoto Secukupnya 9. Kemiri halus 6-7 senduk makan 10. Laos
halus 1 ons 11. Minyak goreng 0,5 liter 2. Peralatan yang digunakan :
a. Alat penumbuk/penggiling bumbu/cobek; b. Parutan kelapa; c.
Pisau; 46
d. Kompor; e. Panci; f. Wajan/penggorengan dan; g. Baskom. B.
Proses Pembuatan Abon 1. Daging sapi dibersihkan dari lemak dan
noda lainnya; 2. Kemudian daging dipotong-potong menjadi ukuran
yang lebih kecil; 3. Selanjutnya daging dimasukkan ke dalam panci
yang berisi air secukupnya dan di godog/rebus dengan me-
nambahkan daun salam dan laos hingga empuk/lunak; 4. Setelah
daging empuk/lunak, lalu diangkat dari kom- por dan didinginkan; 5.
Setelah dingin, daging ditumbuk pelan-pelan dan di- suwiri (dibelah-
belah kecil sesuai seratnya); 6. Buatlah campuran bumbu yang terdiri
dari : a. Bawang putih halus 6 senduk makan; b. Bawang merah halus
6 senduk makan; c. Garam 10 senduk makan; d. Santan kelapa kental
dari 2 biji kelapa; e. Kemiri halus 6-7 senduk makan; f. Laos halus 1
ons; g. Ajinomoto secukupnya. Bahan-bahan ini dicampur hingga
merata dengan cara diaduk-aduk. 7. Daging yang telah ditumbuk dan
disuwiri kemudian dimasukkan ke dalam adonan bumbu dan diaduk
hingga merata; 8. Daging yang telah tercampur rata dengan bumbu 47
digoreng dalam wajan dengan menggunakan minyak kelapa hingga
matang dan kering; 9. Setelah masak, daging adonan tersebut
diangkat dari kompor dan diperas untuk menghilangkan minyak.
Pengepresan dilakukan selagi daging masih panas sehingga lemak
yang masih cair dapat dikeluarkan. Sebab abon yang terlalu banyak
minyak tidak tahan lama, cepat tengik/racit/marat; 10. Setelah diperas,
abon didinginkan dan ditimbang ser- ta dibungkus sesuai dengan yang
diinginkan; 11. Abon daging siap untuk dipasarkan. Dari hasil
penimbangan abon daging diperkirakan sebanyak 20 kg. C. Kalkulasi
Biaya dan Keuntungan Usaha Pembuatan Abon Daging. 1. Biaya
pembuatan : a. Pembelian 20 kg daging sapi Rp 700.000,00 b.
Pembelian 2 ons bawang putih Rp 3.000,00 c. Pembelian 0,5 kg
bawang merah Rp 3.000,00 d. Pembelian kemiri Rp 2.000,00 e.
Pembelian 2 kg gula merah Rp 5.000,00 f. Pembelian 2 biji kelapa Rp
6.000,00 g. Pembelian Ajinomoto Rp 1.000,00 h. Pembelian 2 liter
minyak tanah Rp 3.000,00 i. Pembelian minyak goreng 0,5 kg Rp
3.500,00 Jumlah biaya pembuatan Rp 726.500,00 48
2. Hasil Penjualan : Penjualan abon daging sebanyak 20 kg a Rp
50.000,00 = Rp 1.000.000,00 3. Laba kotor : Hasil penjualan Rp
1.000.000,00 Biaya pembuatan Rp 726.500,00 Laba kotor Rp
273.500,00 49 DAFTAR KEPUSTAKAAN Ating Tedjasutisna, H. MBA,
Membuka Usaha Kecil, Armico Bandung, 1999; Aserani, S.Pd. Bahan
Pelajaran Ekonomi Tingkat II Se- mester 3, SMK Negeri 1 Tanjung,
2002; Budi Noegroho, Ir. dkk. Teknologi Pasca Panen dan Indus- tri
Rumah Tangga, Mahkota Jakarta 1991; Departemen Koperasi dan
PPK Kal-Sel. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
1995 tentang Usaha Kecil, Banjarmasin, 1996; Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kewiras- wastaan jilid I dan II,
Jakarta, 1982; Direktorat Penyuluhan dan Bimbingan Sosial, Materi
Penyuluhan Sosial Bagi Pekerja Sosial Masyara- kat, Depsos RI
jakarta, 1993; Pawit M. Yusup, MS. Pedoman Praktis Mencari Informa-
si, PT. Remaja Rosdakarya Bandung, 1997; Tom Gunadi, Ekonomi
dan Sistem Ekonomi Menurut Pan- casila dan UUD 45, Angkasa
bandung, 1995; 50

http://shelmi.wordpress.com/category/uncategorized/
Aspek Lingkungan
Dalam setiap pelaksaan usaha, setiap perusahaan tidak akan pernah bisa
melepaskan diri dari tanggung jawab lingkungan sekitarnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Beberapa aspek lingkungan yang perlu kita perhatikan
adalah:

1. Aspek Ekonomi
Aspek ekonomi merupakan faktor yang sangat penting. Jika aspek ekonomi sedang
membaik dan sektor rill yang sedang berjalan kondisinya baik, total
perekonomiaanya sedang booming, maka permintaan produk dan konsumsi
masyarakat juga meningkat sehingaa di istilahkan kalau kita jualan apa saja bisa
laku.
Ketika terjadi krisis global, hampir semua perekonomian di dunia menggalami
pertumbuhan yang negatif, hanya indonesia cina dan india yang masih mencatat
pertumbuhan positif di tahun 2009.
Ekspor indonesia diluar negeri menggalami pertumbuhan negatif karena negara-
negara yang tadi mengimpor dari indonesia menggalami resisi.

1. Aspek Sosial Budaya
Perhatian akan faktor sosial menjadi penting, hasil produk atau jasa kita, wajib
memperhatikan akan budaya masyarakat setempat. Setiap masyarakat memiliki ciri
khas dan budaya yang berbeda-beda.
Selain itu, perusahaan juga bisa menjalankan progam corporate social resposibility
yakni menunjukan tanggung jawab pada lingkungan sekitar baik melalui
sumbangsih untuk masyarakat maupun penggembangan komunitas.

1. Aspek Politik
Pertumbuhan usaha akan tergantung juga pada suhu politik. Jika terjadi ketidak
stabilan politik maka permintaan akan produk akan menurunse hingga perusahaan
juga akan menggalami hambatan dalam menjual.
Selain kondisi politik secara makro, perlu diperhatikan juga kondisi regulasi
disetiap bidang industri.

1. Aspek Lingkungan Hidup
Bagi kebanyakan perusahaan terutama yang bersifat manufaktur dan
pertambangan, aspek lingkungan hidup menjadi sangat penting, berbagai lembaga
swadaya masyarakat juga berfungsi sebagai kontrol akan lingkungan seperti halnya
green peace.
Aspek Hukum
Semua warga harus taat pada hukum yang berlaku dinegara dimana warga negara
berdomisili begitu juga setiap usahan yang didalam bentuk perusahaan. Setiap
usaha yang berjalan tanpa adanya pencatatan atau pendaftaran secara hukum, akan
dianggap sebagai usaha ilegal dan akan dikenai sanksi jika terdeteksi dikemudian
hari.
1. Bentuk Badan Usaha
Hal pertama yang harus dilakukan adalah bentuk badan usaha yang mau
dijalankan, dalam penentuan bentuk badan usaha, kita perlu mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Kepentingan pemegang saham
2. Keterbatasan akan kewajiban pemegang saham
3. Masa jangka panjang usaha
Adapaun bentuk-bentuk badan usaha adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan pribadi
2. Perusahaan CV atau kerjasama Partnership
3. Perusahaan Terbatas (PT)
Selain bentuk di atas, ada satu lagi bentuk badan usaha lainnya yakni perusahaan
milik pemerintah.
Khususnya untuk Perseroan Terbatas, ada pengaturannya di Undang-undang
Nomer 40 Tahun 2004 tentang Perseroan Terbatas beserta penjelasanya.
Bab I Ketentuan Umum
Bab II Pendirian, Anggaran Dasar dan Perubahan Anggaran Dasar,
Daftar Perseroan dan Pengumuman.
Bab III Modal dan Saham
Bab IV Rencana Kerja, Laporan Tahunan dan Penggunaan Laba
Bab V Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Bab VI Rapat Umum Pemegang Saham
Bab VII Direksi dan Dewan Direksi
Bab VIII Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan dan Pemisahan
Bab IX Pemeriksaan terhadap Perseroan
Bab X Pembubaran, Likuidasi dan Berakhir Status Badan Hukum
Bab XI Biaya
Bab XII Ketentuan Lain-lain
Bab XIII Ketentuan Peralihan
Bab XIV Ketentuan Penutup
Setelah kita menetapkan akan badan usahan, selanjutnya kita wajib mempelajari
akan UU ataupun peraturan berlaku di Industri masing-masing baik secara nasional
maupun daerah.
Untuk Industri tertentu akan ada peraturan atau undang-undang tertentu yang wajib
ditaati, tingkatan peraturan yang berlaku bisa berbentuk Undang-undang maupun
Keputusan Menteri Keuangan.
Dalam pengaturannya beberapa bidang di atur dalam bentuk Undang-undang
seperti Undang-undang perbankan, ada juga Undang-undang Kehutanan. Selain
regulasi yang wajib diikuti, biasanya untuk bidang tertentu ada badan khusus yang
mengawasi kegiatan usaha kita, seperti bidang perbankan di bawah pengawasan
dan peraturan Bank Indonesia. Sedangkan untuk lembaga keuangan di bawah
pengawasan menteri keuangan.
Selain regulasi dalam industri, kita juga harus memperhatikan beberapa peraturan
yang memiliki keterkaitan dengan bidang usaha terutama perizinan.
Pada dasarnya setiap usaha harus memiliki izin usaha sebagai berikut:
1. Surat izin Usaha Perdagangan
2. Tanda Daftar Perusahaan
3. Nomor Pokok Wajib Pajak
Sesudah berjalannya usaha, maka perusahaan perlu memperoleh izin dari instansi
terkait seperti:
1. Perizinan dari departemen tenaga kerja, atas jumlah tenaga kerja.
2. Perizinan pemda setempat.
3. Pendaftaran jamsostek.
4. Perpajakan.
Setelah kelengkapan izin semuanya, perusahaan juga memerlukan adanya
pemebentukan anggaran dasar perusahaan yang disahkan oleh para pemegang
saham dan membentuk organ-organ organisasi seperti dewan direksi dan dewan
komisaris untuk Perseroan Terbatas.

1. Anggaran Dasar Perusahaan
Dalam Aggaran Dasar Perusahaan akan mengatur mengenai hal-hal sebagai
berikut:
1. Tujuan Pemebentukan Organisasi
2. Izin dan Industri bergeraknya Organisasi
3. Fungsi-fungsi Organ seperti Dewan Direksi dan Dewan Komisaris
4. Kewajiba, Hak dan Wewenang masing-masing organ organisasi
5. Proses pemilihan dan pengunduran diri organ organisasi
6. Proses Penggambilan Keputusan
7. Proses Pelaksanaan Rapak Dewan Direksi, Dewan Komisaris dan Pemegang
Saham
8. Proses Likuidasi Perusahaan



1. Pendaftaran Nama dan Merk
Semua perusahaan diharuskan memiliki nama perusahaan, nama perusahaan ini
harus didaftarkan ke departemen kehakiman untuk mendapatkan pengesahan.
Dalam pendaftaran, kita harus mencantumkan kategori industri apa yang akan kita
golongkan, dan dari situ kita akan melakukan registrasi dan menunggu waktu
tertentu untuk mendapatkan pengesahan, sampai tidak adanyha nama mendekati
atau sejenis yang melakukan klaim.
Begitu juga merk harus kita daftarkan sehingga tidak terjadi sengketa kemudian,
menggigat belakangan ini banyak timbul sengketa merek di pengadilam karena
adanya pihak lain yang klaim akan kepemilikan terutama yang telah dikenal secara
internasional, tapi juga nama lokal yang mendekati kesamaan nama.

Leave A Comment
SKB (bagian 6) aspek financial
Posted in Uncategorized on June 12, 2013 by shelmi
Aspek Financial
Untuk memulai maupun mengembangkan usaha, kita memerlukan modal baik dari
sumber internal maupun eksternal. Modal besar dan kecil tidak akan menjadi
hambatan, asal selama model bisnis kita menarik, investor pasti ingin berinvestasi
ke proposal bisnis kita.
1. Sumber Modal
Kita bisa memperoleh modal dengan beberapa cara yakni
1. Meminjam kepada lembaga keuangan
2. Mengajak investor lainnya.

1. Cara Perolehan Dana
Kita mesti mempersiapkan proposal studi kelayakan yang lengkap termaksud
anggaran dan proyeksi keuangan, minimal sampai dengan jangka waktu menengah.
Kreditor akan menganalisis kesehatan usaha dan kemampuan untuk
mengembalikan hutangnya. Sumber dana tidak ada yang gratis semakin beresiko
sebuah bisnis maka bunga yang dikenakan akan semakin tinggi.

1. Bunga
Biaya bunga merupakan biaya penting dalam investasi. Kreditur mendapatkan
keuntungan dari bunga pinjaman namun perusahaan peminjam dana menanggung
beban bunga pinjaman. Bunga pinjaman yang tinggi akan membebankan
keuntungan perusahaan bahka bisa merugikan perusahaan.

1. Jaminan
Hampir semua pinjaman memerlukan jaminan. Dengan adanya jaminan, bank atau
keridut akan menilai jaminannya dan memberikan pinjaman. Bank melihat
pinjamannya itu memiliki resiko dan agar meminimalkan resiko, jaminan dinilai
harganya. Biasanya bank hanya memberikan nilai pinjaman maksimal 80% dari
nilai jaminan tersebut.

1. Perjanjian
Dalam pinjaman akan diatur beberapa hal sebagai berikut:
1. Jumlah dan tipe pinjaman
2. Jangka waktu pinjaman
3. Jaminan yang diberikan
4. Bunga yang dikenakan
5. Kewajiban dan hak pihak peminjam
6. Kewajiban dan hak pihak yang meminjamkan
7. Keabsahan para pihak
8. Antisifasi kemungkinan sengketa para pihak
9. Keadaan force majeure
10. Pihak yang mewakili
Sedangkan untuk infestor, biasanya dibuatkan perjanjian join yang memuat hal-hal
berikut:
1. Usaha yang akan dijalankan
2. Hak dan kewajiban para pihak
3. Pembagian hasil
4. Penyelesaian sengketa
5. Cara penjualan saham dan pembelian saham
6. Cara pembubaran
7. Masa hidup perusahaan

1. Persiapan Investasi Awal
Dalam perencanan, kite perlu mempersiapkan hal berikut:
1. Asumsi kondisi makro perekonomian. Sebagaimana dibahas dalam bab
sebelumnya bahwa pasar dan pemasaran kita tidak bisa lepas dari kebijakan
ekonomi makro, sehingga kita perlu menggumpulkan data makro ekonomi
seperti kurs rupiah dengan mata uang asing.
2. Analisa industri. Kita akan menelusuri pertumbuhan industri secara
keseluruhan dan implikasi makro terhadap industri.
3. Proyeksi pasar. Kita akan menganalisa pasar yang menjadi target terkait
faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dan potensi
pertumbuhan pasar.
4. Proyeksi pemsaran. Akan berisikan mengenai pangsa pasar, harga yang akan
diterapkan, wilayah pemasaran, cara distribusi produknya. Proyeksi atau
angaran pemasaran ini harus bisa sejalan dengan ketiga proyeksi
sebelumnya.
5. Proyeksi atau kapasitas produksi. Setelah mengetahui jumlah pemasaran
selanjutnya kita aklan menetapkan jumlah produksi yang diperlukan beserta
dengan bahan bakunya dan bahan variabelnya masing-masing dan juga
variasi produksi.
6. Anggaran biaya termaksud biaya investasi atau kapital expenditure,
selanjutnya adalah biaya-biaya yang diperlukan termaksud juga investasi
tambahan yang diperlukan seperti pendirian pabrik atau pembelian alat
produksi baru karena kapasitas tidak mencukupi untuk menunjang penjualan
yang di tetapkan.
7. Proyeksi laba atau rugi. Setelah semua data tersebut didapatkan, kita kan
mendapatkan angka proyeksi keuntungan tahun berjalan.
8. Proyeksi neraca, ini akan menunjukan kepada kita menggenai posisi
perusahaan dari segi aset, hutang dan modal yang dimiliki.
9. Proyeksi arus kas. Dalam proyeksi ini kita akan menentukan jumlah modal
tambahn yang diperlukan atau tidak diperlukannya tambahn modal.
Setelah selesai dengan penggangaran maka tahap berikuitnya adalah melakukan
analisis terhadap berjalannya kelayakan usaha atau bisnis ini bagaimana akan
menjadi layak, jika layak maka dijalankan, jika tidak, perlu dipertimbangkan
kembali, misalnya:
1. Meninjau kembali pasar yang akan dimasuki
2. Meninjau kembali pengeluaran biaya-biaya
3. Alternatifnya adalah menaikan harga jual produk, jika biaya tidak bisa
dikurangi
4. Meninjau kembali struktur industri lainnya.

1. Alat Analisi Kelayakan
Untuk menganalisis kelayakan aspek keuangan pengembangan usaha ada beberapa
alat atau metode analisis keuangan yang mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Metode tersebut adalah.
1. Pengembalian investasi
2. Penyesuaian nilai sekarang
3. Indeks keuntungan
4. Tingkat balikan interal
Penjelasan metode analisis keuangan secara ringkas.
1. Metode pengembalian investasi
Merupakan metode analisis kelayakan onvestasi dengan menjumlahkan semuia
yang di hasilkan dalam jangka waktu tertentu di bandingkan dengan modal atau
investasi awal. Metode ini menggunakan kreteria kelayakan sebagai berikut :
- Proyek dinyatakan layak jika mesa pemulihan modal onvestasi lebih
pendek Dari usia ekonomis.
- Proyek dinyatakan tidak layak jika masa pemulihan modal investasi lebih
lama di bandingkan usia ekonomisnya.
Kelebihannya :
- Mudah dalam penggunaan dan penghitungan
- Berguna untuk memilih proyek yang mempunyai masa pemulihan
tercepat.
- Masa pemulihan modal dapat digunakan untuk alat prediksi resiko
ketidakpastian pada masa mendatang.
Kelemahannya :
- Mengabaikan adanya perubahan nilai uang dari waktu ke waktu.
- Mengabaikan arus kas setelah periode pemulihan modal di capai.
- Mengabaikan nilai sisa proses.

1. Metode nilai sekarang (Net Present Value )
Merupakan metode analisis keuangan yang memasukan faktor nilai waktu uang
karena nilai uang akan bertambah sejalan dengan jalannya waktu.
Kreteria kelayakan :
- Proyek dinilai layak jika net prisent value bernilai posotip
- Di nilai tidak layak dari aspek keuangan jika net prisent value bernilai
negatip
Kelebihannya :
- Memperhitungkan nilai uang karna faktor waktu sehingga lebih realistik
terhapat perubahan harga.
- Memperhitungkan arus kas selama usia ekonomis proyek.
- Memperhitungkan adanya nilai sisa proyek.
Kelemahannya :
- Lebih sulit dalam penggunaan perhitungan
- Derajat kelayakan selain di pengaruhi arus kas juga oleh faktor usia ekonomis
proyek.

1. Profitability Index
Index profitabilitas adalah rasio atau perbandingan antara jumlah nilai sekarang
arus kas selama umur ekonimisnya dan pengeluaran awal proyek. Jumlah nilai
sekaran g arus kas selama umur ekonomis hanaya memperhitungkan arus kas pada
tahun pertama hingga tahun terakhir, dan tidak termasuk pengeluaran awal.

1. Metode tingklat balikan internal ( internal read of reten IRR )
Merupakan metode penilaian kelayakan proyek dengan menggunakan perluasan
metode nilai sekarang.
Kreteria kelayakan :
- Proyek di nilai layak jika IRR lebih besar dari presentase iaya modal atau
sesuai dengan presentase keuntungan yang di tetapkan investor.
- Proyek di nilai tidak layak jika IRR lebih kecil dari biaya modal atau lebih
rendah dari tingkat keuntungan yang diinginkan investor.
Kelebihan :
- Sudah memperhitungkan nilai uang yang di sebabkan oleh faktor waktu.
- Memperhitungkan usia ekonomis proyek.
- Memperhitungkan adanya nilai sisa proyek.
- Bank lebih mudah menentukan presentase tingkat suku bunga maksimum
yang bisa di tutup proyek.
Kekurangannya :
- Lebih sulity dalam proses penghitungannya, namun dengan program
komputer, mnasalah kesulitan perhitungan ini bisa di atasi
1. Analisa rasio keuangan
Guna menilai usaha kesehatan sebuah perusahan atau usaha, kita perlu menilai
rasio- rasio keuangan dan arus kas yang di gasilkan oleh usaha yang di
jalankannya. Rasio- rasio tersebut di kelompokan ke dalam :
PENILAIAN LIKUIDITAS
1. Rasio likuiditas
Penilaian likuiditas adalah mengukur kemampuan pengusaha, perorangan atau
badan dalam menghadapi hutang jangka pendek dari harta atau aktiva jangka
pedek.
1. Inventory trun over dan sales trunover
Rumusan ini digunakan untuk mengukur perputaran barang.
1. Acid tes ratio
Pengukuran ini dilakukan dengan menghitung aktiva lancar diluar persediaan yang
bisa digunakan untukj membayar hutang jangka pendek yang akan jatuh tempo.

PENILAIAN PROFITABILITAS
Penilaian prifitabilitas adalah penilaian tentang ukuran kemampuan perusahaan
perorangan atau badan untuk menghasilkan laba dengan memperhatikan modal
yang di gunakan.
Ada tiga metode yang sering di gunakan dalam menganalisa profitabilitas yaitu :
1. ROE ( RETUN ON EQUITY )
Adalah perbandingan antara laba bersih dengan modal sendiri.
1. ROI ( RETURN ON INVESTMENT )
Adalah pembanding antara bersih dan bunga pinjaman dengan modal sendiri dan
modal pinjaman.
1. ROA ( RETURN ON ASSET )
Adalah perbandingan antara laba bersih dengan total altiva yang ada di neraca.
PENILAIAN SOLVABILITAS
Penilaian solvabilitas adalah pengukuran kemampuan perusahaan baik perorangan
atau badan untuk mebayar hutang hutangnya baik hutang jangka pendek maupun
hutang jangka panjang.
PENILAI ACID TEST
Acid test ratio (ATR ) merupakan kemampuan perushaan dalam membayar hutang
lancar. Rasio keuanga n ini umumnya di pergunakan pada perusahaan supplier atau
perdangangan atau industri yang jumlah hutang jangka panjangnya kecil.



PENILAIAN LEVERAGE
Rasio ini dipakai untuk mengukur kemampuan atau ketahanan perusahaan terhadap
hutang yang di peroleh dengan membagi total hutang perusahaan dengan total
modal perusahaan.
EBITDA ( EARNING BEFORE INTEREST, TAX, DEPRECIATION, AND
AMORTIZATION )
Pada laba rugi perusahaan tidak bisa mencerminkan kondisi sebenarnya, karna
pemberlakuan metode menyusutan dan amortisasi sebagai komponen biaya banyak
jenisnya dan juga umur ekonomis barang modal dapat di perlambat atau di
percepat yang mengakibatkan besaran biaya penyusutan berbeda. Karena itu para
analis bisnis menggunakan ebitda sebagai salah satu pengganti analisa laporan laba
rugi.
INTEREST COVERAGE RATIO on EBITDA
Interet coverage ratio adalah perbandingan ebitda dengan interet expenses. Rasio
ini merupakan analisa terhadap kemamopuan perusahaan dalam pembayaran bunga
dan hutan. Besar nilai rasio yang layak berbeda setiap negara, tergantung besar
bunga yang berikan. Untuk indonesia pada kondisi normal nilai rasio yang layak
minimal 2 hingga 3 kali.
1. AKUISISI BISNIS BARU
Dalam penyusunan anggaran di atas lebih kebentuk usaha baru dan usaha yang
akan di jalankan, sedangkan dalam pembelian atau akuisisi perusahaan baru, maka
kita perlu melakukan proyeksi laporan keuangan ke depan. Khusus untuk penilai
perusahaan yang sedang berjalan bisa di tempuh dengan beberapa metode seperti
di bawah ini :

Discounted cash flow
Dalam sebuah investasi kita pasti mengharapkan adanya return atau pengembalian
hasil dari yang kita investasikan.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam discounted chas flow ini :
1. Usahanya akan berjalan terus menerus sehingga chas flow yang kita analisa
biasanya cukup panjang kurang lebih 10 tahun.
2. Firn valuation
Yang biasanya di sebutkan dengan free chas flows to the firn dijalankan dengan
menilai keseluruhan bisnis perusahaan baik aset maupun pertumbuhan asetnya.
1. Equity valuation, dimana free chas flow to equity yakini arus kasnya setelah
pembayaran hutang dan keperluan investasi yang di kenal dengan sebutan
free chas flow to equity.



Relative valuation
Dalam penilaian perusahaan, kita juga bisa melakukan perbandingan dengan
perusahaan sejenis atau usaha sejenis yang ada di pasar, yakini dengan melihat
retrun dan hasil yang di hasilkan. Biasanya di lakukan pengelompokan sebelum di
lakukan perbandimngan sebagai berikit ini :
1. Direct comparison
Mebandingkan langsung dengan perusahaan sejenis atau yang paling mendekati,
bisa hanya satu perusahaan atau dua perusahaan.
1. Peer group average
Membandingkannya dengan satu kelompok perusahaan yang ada di pasar dan di
paki rata- ata industri nya untuk di jadikan rujukan.
1. Peer group average adjusted for differences
Beberapa analis juga melakukan pengelompokan seperti rata rata dalam
kelompok industri dengan dilakukannya penyesuaian mengingat adanya
perusahaan yang berada di atas atau di bawah range yang tidak sesuai dengan
industri total.
Ada beberapa keuntungan dengan mengaku sisi usaha yang telah berjalan bagai
inbestor dari pada ,enjalankan usha yang abru sama sekali yakini :
1. Usaha telah berjalan dengan perijinan yan g telah ada
2. Sumber daya manusia.
3. Suplayer dan konsumen yang ada.
4. Pengembakian hasil yang lebih cepat.
5. Mendapatkan modal tambahan.
Akan tetapi dalam kenyataannya kita juga harus berhati hati dengan pembelian
perushaan berjalan karna dalam perudahaan berjalan biasanya ada hal hal yang
tersembunyi yang tidak di ketahui sampai kita membelinya seperti :
1. Kemungkinan adanya contingent liabilities
2. Masalah karyawan dan budaya kerja yang tidak kondusip
3. Adanya kasus dalam pengadilain yang harus di selesaikan.








Leave A Comment
SKB (bagian 5) aspek tehnik dan produksi
Posted in Uncategorized on June 12, 2013 by shelmi
Aspek Teknik dan Produksi
Analisi aspek teknik dan produksi bertujuan untuk menentukan bentuk teknologi
yang akan dipakai dengan desain produk yang mau dipasarakan, kebutuhan
investasi fisik baik itu mesin, lokasi, kendaraan maupun lainnya. Pada dasarnya
aspek ini dapat dibagi kedalam tiga bagian utama, yakni:
1. Penentuan produk yang akan diproduksi dan bagaimana memproduksinya
2. Lokasi produksi yang akan digunakan dan layout
3. Hambatan-hambatan yang perlu diperhatikan dalam menjalankan produksi

1. Penentuan produk dan proses produksi
Rancangan produk adalah suatu proses yang melibatkan semua bagian di
perusahaan, karena produk itu akan dipasarkan kekonsumen dan juga
mempengaruhi harga dan biaya produksi. Dengan produk yang sudah disetujui dan
mau diluncurkan, akan ditentukan keperluan material perunit, harga material
perunit, kapasitas sumber daya manusia yang diperlukan, cara penjualan, harga dan
keuntungan yang akan didapat.
1. Lokasi produksi yang digunakan dan layout
Penentuan lokasi merupakan hal yang sangat penting untuk diprtimbangkan
dengan baik dan mendalam dengan memperhatikan sumber daya yang mau dipakai
baik sumber daya bahan baku, sumber daya manusia, transfortasi, dampak terhadap
lingkungan sekitar, dan lainnya.
Begitu juga untuk produk jasa, penentuan lokasi sangat penting sehinga
menjadikannya sebagai salah satu P yakni Physical apperance. Penentuan lokasi
perusahaan didasarkan atas pertimbagan berikut:
1. Dekat dengan sumber bahan baku yang akan diproduksi
2. Dekat dengan sumber daya manusia
3. Dekat dengan tarnsfortasi
4. Lokasi sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah
5. Insentif pajak
6. Harga properti
7. Biaya tenaga kerja
8. Sumber permintaan produk
1. Site analysis
Perlu pengkajian yang sangat mendalam sebelum mebangun sebuah pabrik atau
perusahaan, karena harus selalu difikirkan jangka panjang dan dampaknya secara
luas. Kadang-kadang kita lupa akan hal yang kecil tapi berakibat fatal. Jika
perusahaan mendirikan pabrik di sebuah daerah, akan tetapi didaerah tersebut
belum tersedia transfortasi untuk karyawannya, akibatnya karyawan sering
terlambat masuk kerja akan tetapi pulang selalu tepat waktu karena tidak adanya
kendaraan umum, akibatnya perusahaan harus menyediakan kendaraan
pengangkut.
1. Pengunaan tanah untuk produksi dan penunjang
Dalam setiap pembangunan alat produksi perlu diperhatikan akan pembangunan
untuk minimal 5 tahun kedepan, bagaimana dengan dampak lingkungan terhadap
limbah, bagaimana dengan keadaan lingkungan kerja yang menyenangkan,
sirkulasi udara yang baik, tempat pembuangan, tempat istirahat, tempat makan
siang, tempat ibadah dan lainnya.
Disain yang baik, termasuk dalamnya mempertimbangkan akan
1. Fasilitas utama seperti pabrik, gudang dan kantor
2. Fasilitas penunjang seperti
1. Tempat istirahat karyawan
2. Tempat beribadah
3. Tempat makan siang karyawan
4. Transfortasi untuk karyawan
5. Tempat parkir
6. Fasilitas pembuangan limbah
7. Tempat kesehatan karyawan
8. Fasilitas tambahan lainnya seperti penginapan karyawan
9. Tata letak (layout) pabrik dan proses produksi
Tata letak menjadi penting karena jika memunculkan hambatan dan bisa
meningkatkan biaya produksi, menjadikan penghamburan sumber daya yang sia-
sia, tata letak yang ada, penumpukan produk-produk, serta menghambat produksi
maka perlu dilakukan pembenahan tata letak. Layout dapat diatur berdasarkan
kriteria berikut:
1. Product oriented layout
2. Process oriented layout
3. Standard operating
Untuk memastikan semua proses berjalan sesuai dengan standar yang di tetapkan
baik untuk produksi barang dan jasa, diperlukan penetapan akan standar operating
prosedur yang ada untuk aktifitas yang krusial dan rutin, sehingga karyawan akan
dengan mudah mempelajarinya dan membacanya jika diperlukan.

1. Hambatan-hambatan Dalam Proses Produksi
2. Jadwal produksi
Jadwal produksi sangat krusial bagi susksenya sebuah produk. Produksi
merupakan satu proses yang panjang dan keterkaitan yang tinggi antar bagian
mulai dari prediksi penjualan, pencarian bahan baku, pemesanan bahan baku,
hingga pemesanan bahan penunjang. Jika salah satu bahannya tidak tersedia sesuai
dengan jadwal maka keseluruhan proses produksi akan terganggu.
1. Jumlah produksi
Terjadinya kelebihan produksi akan menjadi biaya tambahan akibatnya bukan saja
apa yang diproduksi tidak laku tatapi juga bisa menimbulkan kerugian.
1. Skala produksi
Ada kalanya kita menyimpulkan bahwa semakin banyak produksi akan semakin
laku dan semakin efesien seperti prinsip biaya tetap produksi, akan tetapi biaya
tetap produksi memiliki skala maksimum juga. Seperti mesin produksi jika kita
paksakan produksi terus dan tidak ada masa perawatan bisa berakibat fatal.
1. Kontrol kualitas
Pengawasan akan kualitas produk sangat penting, hampir semua pabrik
menyediakan bagian yang diberikan nama quality control atau QC.

Produk cacat
Pembuangan produk cacat juga wajib di kontro agar tidak terjadi hal-hal yang
merusak reputsi perusahaan dan prosuk. Dalam bebrapa produk, melakukan
penarikan kembali produknya karena produknya cacat sring kita dengar.
Leave A Comment
SKB ( bagian 4) Aspek Manajemen dan SDM
Posted in Uncategorized on June 12, 2013 by shelmi
Aspek Manajemen
Aspek manajeman merupakan faktor yang terpenting. Diaspek inilah ide
pengembangan usaha akan menjadi kenyataan di bawah kepemimpinan sebuah tim
manajemen. Pada saat awal, manajemwen akan menentukan visi, misi dan nilai
nilai dasar dari perusahaan. Visi dan misi akan manjadi pegangan dan arahan
seluruh organisasi bergerak dalam pencapaian tujuan. Nilai nilai dasar akan
menjadi pegangan bagi seluruh anggota organisasi dalam menjalankan usaha.
Ketiga hal tersebut di ataslah, yang akan membentuk budaya organisasi, budaya
yang agresif, budaya yang kekeluargaan, budaya yang kompetitif, budaya yang
invidualistis.
1. Planning
Perencanaan merupakan tahapan pertama bagi sebuah tim manajemen dalam
menjankan pungsinya. Perencanaan ini meliputi perencanaan bisnis mulai dari
pruduksi, perencanaan anggaran keuanggan, sampai dengan biaya biaya produksi,
penjualan dan administrasi. Dalam menyusun perencanaan, adfa beberapa
pendekatan yakni :
1. Pendekatan dari atas ke bawah
2. Pendekatan dari bawah ke atas
3. Pendekatan bersama sama
Dalam penyusunan sebuah studi kelayakan,perlu disusun nya sebuah perencanaan
anggaran jangka pendek sampai minilmal jangka menengah, jika tidak bisa
merencanakan anggaran jangka panjang.
1. Perencanaan jangka pendek
2. Perencanaan jangka menengah
3. Perencanaan jangka panjang
Dalam beberapa kondisi tertentu, perencanaan ini di perlukan untuk restrukturisasi
utang sampai sebuah hutang bisa lunas. Adapun jenis jenis perencanaan yang
harus di siapkan sebelum sebuah usaha dimulai, diantaranya adalah sebagai berikut
:
1. Rencana pemasaran
Rencana ini berisi tentang target pasar, karakteristik produk, strategi harga, cara
penjualan, salurn distribusi dan strategi promosi.
1. Rencana keuangan
Rencana ii berisikan sumber pendanaan, kelayakan secara keunagan, proyeksi arus
kas, proyeksi neraca, proyeksi laba rugi.
1. Rewncana produksi
Dalam rewncan ini akan di cantumkan mengani rencana produksi, rencana
keperluan bahan baku, bahan penunjang danrencana hasil produksi.
1. Rencana sumber daya manusia (Man Power Planning )
Rencana sumber daya manusia mencantumkan akan keperluan jumlah sumber daya
manusia yang di perlukan dan waktu kapan di perlukannya.

1. Organizing
Organizing menyangkut pengorganisasian sumber daya yang terarah, sehingga
tercipta sebuah orkestra yang harmonis guna mancaopai tujuan yang di inginkan.
Berikut ini adalah beberpa bentuk organisasi :
1. Organisasi garis
Organisasi ini merupakan organisasi garis paling sederhana dalam menjalankan
tugasnya, dengan jumlah karyawan yang sedikit dan organisasi yang kecil.
1. Organisasi fungsional
Organisasi ini di bentuk atas dasar fungsi masing masing bagian atau kelompok
dalam menjalankan tugasnya.
1. Organisasi staf
Organisasi ini merupakan pengembangan dari organisasi garis, dimana para
pengambil keputusan memerlukan beberapa staf untuk memberikan nasehat
kepadanya seblum mengambil keputusan.
1. Matriks
Sejalan semakin kompleknya sebuah organisasi maka munculah organisasi matriks
yang mana seorang menejer bisa melapor kepasa dua orang atasan karna fungsi
dan dudukannya. Dala penentuan organisasi tipe apa yang akan kita gunakan, kita
perlu mempertimbangkan beberapa hal yakni :
1. Pendelegasian wewenang
Penentuan akan wewenang dalam sebuah organisasi, apakah dalam bentuk
sentralisasi wewenang ataupun dalam bentuk desentralisasi wewenang.
1. Pembagian kerja
Pembagian kerja yang jelas antar bagian akan memudahkan dalam memilih
organisasi seperti apa yang akan di bentuk.
1. Koordinasi
Perlu koordinasi antar bagian yang melakukan kegiatan termasuk tersedianya
forum komunikasi formal dan informal.
1. Sistem komunikasi
Semakin lebar dan panjang jenjang organisasinya, semakin sulit terjadinya
komunikasi antar bagian.
1. Rentang kendali
Jumlah bawahan dalam satu organisasi perlu di pertimbangkan, semakin banyak
jumlah bawahan maka semakin tidak efesien rentang kendali.
1. Jenjang organisasi
Jenjang organisasi juga penting, semakin tinggi jenjang organisasi makan
komunikasi semakin sulit.
1. Fleksibilitas
Organisasi harus cukup fleksibel dan sesual dengan perkembangan jaman,
organisasi juga tidak bisa kaku.
1. Kompetensi pasar
Organisasi juga harus sesuai dengan kompetensi pasar dan reaksi terhadap
permintaan konsumen.

1. Leading
Dalam tahapan ini kepemimpinan menjadi faktor terpenting bagaimana
memotofasi, mengarahkan dan menggerkan semua faktor organisasi yang ada
untuk mencapai sasaran. Pemimpin juga di katagorikan dalam beberapa tipe seperti
:
1. Autocratic
Wewenang ada pada level pengambi, keputusan, bawahan memiliki sedikit
wewenag maupun kemampuan untuk mempengaruhi keputusan pimpinan.
1. Free rein
Tipe ini cenderung kebalikan dari autocratic dan mendelegasikan hampir semua
wewenag kepada lever bahawan untuk mengambil keputusan.
1. Participative
Meminta masukan dari bawahan dalam pengambilan keputusan aklan tetapi
keputusan akhir tetap ada pada pimpinan.
Manajemen memerlukan empat keahliaan untuk menunjukan kinerja yang baik
1. Keahlian konseptual
2. Keahlian interpersonal
3. Keahlian teknis
4. Keahlian pengambilan keputusan

1. Controlling
Dalam kenyataanya pelaksanan harus selalu diikuti denga pengawas atau
perbandingan kedalam rencana awal. Pelaksanan akan selalu menimbulkan hal
hal yang belum di perkirakan dalam perencanaan awal, yang mana bisa
menimbulkan biaya biaya tambahan mauoun resiko- resiko tambahan.
Beberapa organisasi besar membentuk beberapa bagian yang berfungi untuk
mengendalikan fungsi organisasi seperti bagian internal kontrol, audit dan juga
bagian antisipasi resiko, selain itu untuk perusahaan publik juga menunjuk anggota
direksi yang independen dan juga anggota komisaris yang independen.





Bab 7
Aspek Sumber Daya Manusia
Dalam setiap pelaksanaan ide usaha, kita pasti memerlukan adanya aspek sumber
daya yang akan menjalankan usaha atau ide menjadi usaha. Dalam beberapa
perencanaa sumber daya manusia, perlu menganalisis hal-hal berikut:

1. Desain Pekerjaan
Setelah penentuan organisasi, maka kita akan menjalankan design pekerjaan apa
saja yang diperlukan untuk menjalankan organisasi. Perusahaan di bidang jasa
akan sangat berbeda dengan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur,
apalahi untuk manufaktur teknologi tinggi.

1. Deskripsi Pekerjaan.
Deskripsi pekerjaan wajib dilakukan menggingat fungsi setiap departemen harus
jelas, tidak terjadi tumpang tindih dalam kegiatan pekerjaan dan menghindari
adanya pengulangan pekerjaan yang sama oleh bagian yang berbeda.

1. Job Value
Tujuan dari job value adalah penentuan nilai jabatan dengan kapasitas atas orang
yang diperlukan. Nilai jabatannya akan dihubungkan dengan penghasilan yang
akan diterima dengan tunjangan-tunjangan yang akan diterima, termaksud juga
kesempatan jenjang karier.

1. Kapasitas Sumber Daya Manusia
Kapasitas akan menentukan produktivitas dan profitabilitas perusahaan, kapasitas
yang sesuai dengan kemampuan produksi perusahaan menjadi sanggat penting.

1. Rekrutmen
Pencarian sumber daya manusia menjadi penting karena disinilah dimulainya
tahapan pertama penggenalan usaha kita. Sumber daya yang tepat akan bertumbuh
di posisi yang tepat dalam organisasi yang tetap.
Perusahaan akan menentukan kriteria penyeleksian karyawan baru baik untuk nilai
indeks prestasi waktu kuliah, harus lulus psikologi test dan wawancara serta harus
lulus test kesehatan.
Dalam rekrutmen perusahaan juga harus menganut beberapa hal yang harus
diperhatikan seperti misalnya:
1. Pemberian kesempatan yang sama untuk semua golongan dan ras
2. Pemberian kesempatan kepada kelompok wanita untuk bisa serta kerja
dengan kaum pria
3. Memperhatikan himbauan pemerintah setempat untuk mempekerjakan
karyawan yang berasal dari daerah setempat

1. Productivity
Setelah seseorang bergabung dalam organisasi, maka produktivitasnya menjadi
perhatian kita, karena konstribusi positif daripada setiap individu akan
menghasilakan organisasi yang positif dan bertumbuh.
Sejalan dengan kapasitas yang sesuai, maka produktivitas menjadi penting karena
pengukuran produktivitas harus terprnuhi agar perusahaan efisien.

1. Training and Development
Sejalan dengan tuntutan lingkungan dan perkembangan teknologi, maka setiap
sumber daya semetinya diberikan pelatihan dan pengembangan yang sesuai dengan
tuntutan jaman dan pekerjaan. Pelatihan dan pengembangan juga akan membawa
apresiasi kepada sumber daya manusia karena merasa dihargai dan dibimbing.
Pelatihan bisa diberikan dalam bentuk soft skil dan hard skil. Soft skil adalah
pelatihan untuk memperkaya pengetahuan karyawan akan hal-hal yang
berhubungan dengan personal karywana seperti motivasi. Sedangkan hard skil
lebih ke pelatihan yang berhubungan langsung dengan pekrjaan agar bisa bekerja
lebih lagi dari waktu ke waktu.

1. Performance Appraisal
Biasanya dalam masa setahun, setiap karyawan akan mengalami masa-masa
konsultasi dengan mendapatkan umpan balik dan kinerja yang dicapai selama masa
waktu tertentu. Dalam penilaian karyawan ini, yang dinilai tidak semata-mata
pencapaian hasil yang kuantitatif tapi juga faktor-faktor process dan kuantitati
lainnya. Yang akan dinilai ada faktor kepuasan konsumen, cara management dan
juga kerja sama team.

1. Compensation and Benefit
Dalam setiap industri pasti terdapat struktur kompetisi yang akan diberikan kepada
karyawannya. Setiap perusahaan harus bisa memberikan kompetisi yang kompetitif
kepada karyawannya yang terbaik. Selain gaji dasar, perusahaan juga akan
memberikan tunjangan-tunjangan yang disesuaikan dengan tingkat jabatan dan
kompetisi di pasar.
Selain tunjangan, perusahaan juga biasanya memberikan tunjangan kesehatan,
tunjangan jamsostek dan tunjangan dana pensiun. Biasanya juga karyawan yang
berperstasi bagus akan diberikan bonus pada akhir tahun.

1. Career Planning
Selain pengembangan akan kemampuan karyawan, perlu diperhatikan juga
penggembangan karir yang akan dicapai karyawan. Sebelum penentuan karir,
perusahaan biasanya juga akan mengkatagorikan karyawan kedalam beberapa
kelompok misalnya kelompok bintang. Kompensasi dan tunjangan-tunjangan
bukan satu-satunya yang dicari karyawan, mereka juga ingin mencapai kemajuan
untuk dipromosikan ke jabatan yang semakin tinggi, maka diperlukan sebuah
perencanaan karir yang lebih jelas untuk setiap individu yang ada dalam
perusahaan, khusunya untuk karyawan yang sangat bagus.

1. Retrenchment
Setelah seorang karywan berbakti dalam waktu tertntu, maka karywan juga akan
memasuki tahapan berpisah yakni pensiun. Dalam hal pemutusan hubungan kerja
ini, perusahaan semestinnya memberikan kompensasi yang sesuai baik itu uang
jasa maupun uang pisah sesuai dengan perundang-undang berlaku.
Dalam rangkan memgembangkan dan mempertahankan karyawan agar karyawan
tidak mudah tertarik untuk pindah kerja keperusahaan lain, selain memberikan
kompensasi dan tunjangan, karyawan juga bisa di motivasi dengan
1. Memperluan cangkupan pekerjaan (job enlargement)
2. Rotasi pekerjaan (job rotation)
3. Pemberdayaan dan partipasi management
4. Open book management
Pada saat ini, perusahaan memiliki dua jenis kerja sama dengan karyawan takni:
1. Karyawan telah berpengalaman kerja biasanya akan diterima dengan
memberikan masa percobaan selama 3 bulan untuk melihat perstasi
kerjannya.
2. Karyawan yang belum berpengalaman akan diterima dengan masa kerja
kontrak untuk masa tertentu seperti 12 bulan misalnya. Kontrak bisa
diperpanjang dengan maksimal satu kali untuk jangka waktu yang sama
dengan sebelumnya.
Selain kedua tipe tersebut, beberapa perusahaan menempuh cara out sourcing
untuk pekerjaan yang di anggap penting, biasanya out sourcing yang dilakukan
seeperti untuk bagian keamanan perusahaan, bagian general affaier tetapi ada juga
untuk bagian pembayaran gaji.
Semua hal tersebut dilakukan harus sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku dimana saat ini yang berlaku adalah undang-undang No.13 tahun 2003.




Leave A Comment
SKB ( bagian 3) aspek Industri, Pasar dan Pemasaran
Posted in Uncategorized on June 12, 2013 by shelmi
Aspek Industri
Setiap perusahaan dipastikan berada dalam satu struktur industri persaingan yang
memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan industri lainnya, terkecuali
kalau perusahaan tersebut memang melakukan monopoli sehingga hanya ada satu
perusahaan dalam satu industri.
Sebagai titik awal setelah penemuan akan ide, maka kita wajib menentukan visi
dan misi dari produk atau perusahaan kita ini, karena hal ini yang nantinya
membedakan usaha atau produk kita dengan kompetitor terdekat kita.
Penentuan visi dan misi yang jelas dan tepat, akan menentukan posisi kompetisi
kita di industri persaingan dan membedakan barang atau jasa yang kita tawarkan
dengan pesaing terdekat. Bila didalam barang dan jasa kita terdapat sebuah jiwa
visi dan misi kita, maka setiap produk atau jasa kita akan dengan mudah dikenali
dan dibeli oleh konsumen.
Penentuan stategi usaha dan bisnis model menjadi penting, karena hal ini akan
menentukan semua aspek studi kelayakan usahan selanjutnya, jika salah penentuan
maka kita akan tejebak dalam analisa yang keliru juga.
1. Persaingan Industri
Agar tidak terjebak dalam kompetisi yang ada maka kita wajib untuk menentukan
posisi pasar kita.
1. Kekuatan dan Penawaran Pembeli
Setelah mengetahui mengenai struktur persaingan yang telah ada, maka tahapan
berikutnya adalah mengganalisa bagaimana kekuatan dan penawaran pembeli. Jika
pada industri, yang mana pembeli mempunyai kekuatan yang menentukan pilihan
dan industri yang sanggat kompetitif dan efesien, dimana diperisisasi produk
sanggat kecil perbedaanya dan pembeli dengan mudah menggantikan suplayer dari
yang satu ke yang lainnya, maka perusahaan baru yang akan masuk perlu
mempertimbangkan dengan sanggat matang. Sebaliknya untuk industri yang
kekuatan pembeli masih lemah, maka secara tidak langsung kekuatan penjual
masih kuat, dan memunggkinnkan keuntungan yang didapatkan lebih tinggi,
sehingga industri ini memunggkinkan untuk dimasuki.

1. Bentuk Barang Subsitusi
Di samping persainggan industri dan kekuatan pembeli, maka selanjutnya adalah
barang subsitusi yang ada untuk produk yang akan ditawarkan, dan bagaimana
stategi dan kompetisi dari barang subsitusi yang ada termasuk bauran
pemasarannya. Kita menggenal adanya Ipot yang mana bentuknya jauh lebih kecil
dan juga data pemuatan lagu yang banyak. Setelah munculnya Ipot maka banyak
juga perusahaan pembuat alat telekomunikasi seperti Handphone juga memberikan
vitur untuk memutar lagu.
Selain produk, penjualan jasa juga ada yang subsitusi, kita jika membeli voucer
handphone prabayar kita bisanya bisa membeli di kios telekomunikasi atau wartel.
Akan tetapi pada saat ini beberapa bank juga menawarkan Anjungan Tunai
Mandiri (ATM) sebagai salah satu tempat pembelian voucer handphone.
1. Kekuatan Suplayer
Selanjutnya bagaimana dengan kekuatan suplayer bahan baku, apakah ada
perusahaan yang sebenarnya telah terjadi integrasi vertikal, sehingga perusahaan
lain yang masuk sebenarnya sanggat tergantung pada suplayer yang monopoli atau
oligopoli.
1. Kemampuan Pesaing Baru Untuk Masuk
Selain keempat hal tersebut diatas, selanjutnya perlu dipertimbangkan akan
hambatan dalam industri untuk jangka pendek, menenggah dan panjang. Jika
dalam janggak pendek, industri ini sanggat tidak mudah dimasuki, maka kompetisi
akan sedikit, sehingga profitabilitas akan mengguntungkan.
Sebelum kita memutuskan untuk masuk dalam industri seperti apa, maka kita perlu
menentukan terlebih dahulu menggenai bisnis model atau model usaha yang akan
dijalankan. Dalam hal ini termaksud penentuan misi dan visi dari usaha kita. Visi
dan misi produk atau usaha, harus jelas dan harus bisa diturunkan kepada seluruh
jajaran manajemen dan karyawan. Jika visi dan misi tidak jelas, maka perjalanan
perusahaan akan menggalami kebinggunggan kompetisi dan posisi didalam
industri, sehinggta kita akan kehilanggan arah persainggan dan mejadi tidak fokus
pada produk apa yang sebenarnya kita jual

Aspek Pasar
1. Penggertian Pasar
Pasar merupakan tempat berkumpul para penjual yang menawarkan barang
ataupun jasa kepada para pembeli yang mempunyai keingginan dan kemampuan
untuk memiliki barang atau jasa tersebut hingga terjadinnya kesepakatan transaksi
atau transfer atas kepemilikan barang atau kenikmatan jasa.

1. Permintaan dan Penawaran
Permintaan disini merupakan perkiraan akan kemunggkinan kebutuhan konsumen
yang bisa kita penuhi dengan produk kita. Penawaran merupakan jumlah produk
yang akan kita tawarkan kepada pasar berdasarkan kemampuan produk kita,
perkiraan akan permintaan dan penawaran sanggat diperlukan terutama
akurasinnya, jika permintaan melebi penawaran, maka konsumen aka kecewa dan
berdampak jelek pada proses berikutnya. Sebaliknya juka penawaran melebihi
permintaan, juga akan tidak baik, karena kerugiian financial akan muncul, karena
barang akan menjadi bertumpuk dan tidak laku, akhirnya kiyta harus meberikan
discount atau harus dibuang jika barangnnya telah kadarluasa.
Permintaan barang dan penawaran produk akan ditentukan oleh hal-hal sebagai
berikut:
1. Nilai produk yang diberikan kepada konsumen
Setiap produk harusnya memberikan satu nilai kepuasan kepada konsumen yang
memakainnya atau menikmatinya.
1. Harga yang dikenai kepada konsumen
Harga ini akan dihubungkan dengan nilai kepuasan yang dinikmati, semakin tinggi
nilai kepuasan maka meninggkat pula kesedian konsumen untuk membelu dengan
harga lebih.
1. Harga produk sejenis maupun subsitusi
Sebuah produk bisa dihargai lebih kalau produk tersebut memberikan nilai lebih
dibandingkan produk sejenis maupun produk subsitusinya.
1. Kualitas produk yang ditawarkan
Kualitas produk yang ditawarkan akan mempernggaruhi juga hargannya dan
permintaan. Harga rendah dengan kualitas rendah bisa laku diminati oleh
konsumen yang memang memerlukan produk tersebut. Sebaliknya jika harga
tinggi dan kualitas super maka permintaan akan juga meninggkat.
1. Teknologi yang dipergunakan
Untuk beberapa jenis produk, teknologi memegang peranan penting, maka
teknologi yang dipakai akan sanggat mempenggaruhi biaya produksi, dengan biaya
produksi yang tinggi, amak harga penjualan akan tinggi. Akibatnya permintaan dan
penawaran akan ikut terpenggaruhi juga.

1. Bentuk Pasar
Untuk katagori pasar, bisa dibagi kedalam dua katagori yakni katagori pasar
produsen dan pasar konsumen.
Pasar produsen dikatagorikan sebagai berikut:
1. Pasar Persaingan Sempurna
2. Pasar Monopoli
3. Pasar Ogopoli
4. Pasar Persaingan Monopolistik
Dari segi konsumen, maka pasdar bisa digolongkan ke dalam beberapa pasar
konsumen sebagai berikut ini:
1. Pasar Konsumen
2. Pasar Industri
3. Pasar Penjual Kembali
4. Pasar Pemerintah

1. Meramal Permintaan
1. Mengukur permintaan dan penawaran pasar saat ini.
Sebelum melakukan suatu usaha, kita perlu mempelajari permintaan dan
penawaran pasar saat ini. Bagaimana dengan kondisi pasar saat ini, apakah over
supply atau under supply. Salah satu cara paling memudahkan melihat permintaan
penawaran saat ini adalah melihat sales turnover daripada produknya.
1. Meramal permintaan mendatang
Untuk memulai peramalan permintaan, kita perlu melakukan penelitian dengan
1. Sumber dari internal
2. Sumber dari eksternal
1. Sumber konsumen sendiri

Aspek Pemasaran
1. Proposisi Nilai Produk atau Jasa di Pasar
Kita perlu menentukan proposisi nilai (value proposition) produk atau jasa pesaing
kita di pasar, melalui:
1. Segmentasi
Kita perlu menentukan dengan jelas segmentasi dipasar, segmen seperti apa yang
ada dan yang akan kita masuki. Beberapa jenis segmentasi, yaitu:
1. Segmentasi geographis
2. Segmentasi demographis
3. Segmentasi psikotrapis
4. Segmentasi perilaku
5. Pasar Target
Pasar sasaran di kata gorikan dalam tiga kelompok, yakni:
1. Pemasaran serba sama
2. Pemasaran serba aneka
3. Pemasaran terpadu
4. Posisi Pasar
Dalam sebuah pasar, kita bisa memposisikan produk kita dan perusahaan kita, mau
mencari posisi apa, apakah kita ingin menjadi market lider, atau follower ataupun
juga hanya main di market niche. Semua posisi pasar tersebut akan menentukan
stategi produk kita maupun bauran pemasaran yang akan kita lakukan. Guana
menentukan posisi pasar, kita harus menggetahui juga menggenai kemampuan
bersaingnya produk kita dibandingkan dengan pesaing.

1. Sikap, Perilaku dan Kepuasan Konsumen
Selanjutnya kita akan menentukan bagaimana sikap konsumen, perilaku
konsumen, kepuasan konsumen dalam pasar ini.
1. Sikap konsumen
Sikap konsumen didasarkan pada hal-hal di bawah ini :
1. Karakteristik sikap
2. Sumber sikap
3. Fungsi sikap
4. Komponen sikap
5. Perilaku konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang dinamis ditunjukan dalam bentuk
peilaku yang diperlihatkan oleh konsumen baik perorangan maupun kelompok
dalam mencari, mengevaluasi, membeli, menggunakan dan membuang suatu
produk, jasa dan ide yang mereka harapkan akan memuasakan kebutuhan mereka.
Adapun beberapa karakteristik yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :
1. Faktor budaya
2. Faktor sub budaya
3. Faktor sosial
4. Faktor kepribadian
5. Faktor psikologi
6. Kepuasan konsumen
Kepuasan konsumen merupakan sebuah ukuran dari apa yang dirasakan oleh
konsumen setelah menikmati atau menggunakan produk yang kita jual.

1. Bauran pemasaran
Setelah jelas dengan segmentasi, target dan posisi pasar, maka selanjutnya adalah
penentuan strategi pemasaran. Dalam hal ini kita perlu menentukan :
1. harga
atas dasar struktur harga di pasar saat ini, dan kualitas yang ada, maka selanjutnya
kita akan menentukan strategi harga untuk produk kita.
Ada beberapa hal yang akan mempengaruhi posisi harga yakni :
1. Tujuan dalam menentukan posisi pasar
2. Tujuan memaksimalkan laba
3. Tujuan merangsang permintaan barang
4. Tujuan mempengaruhi persaingan
5. Promosi
Kita juga harus menentukan mengenai promosi yang ada, bagaimana efesiensi dan
efektifitas komunikasi yang ada sekarang, dan bagaimana dengan rencana
komunikasi yang kita lakukan serta bagaimana penyampaiaan informasi sehingga
bisa sampai ke konsumen dan menjadikan pembelian.
1. Produk
Produk akan menjadi hal yang penting, karna produk akan dinikmati oleh para
konsumen sehingga penentuaan kualitas dan kuantitas sangat prusial. Setiap
produk memiliki siklus hidup produk (product life cycle) siklus hidup produk bisa
dikatagorikan sebagai berikut ;
1. Tahap pengenalan ( Introduction )
2. Tahap pertumbuhan ( Growth )
3. Tahap kedewasaan ( Maturity )
4. Tahap menurun ( Decline )
5. Pleace
Jalur distribusi produk dan jasa akan menentikan sukses tidaknya penyampaian
samopai ke tangan konsumen. Kalau jalur distribusi terlalu jauh makan biaya akan
menjadi mahal dan memerlukan waktu yang panjang. Berikut ini adalah beberapa
contoh jalur distribusi :
1. Produsen langsung ke konsumen
2. Produsen retailer konsumen
3. Produsen distributor retailer konsumen
Untuk jasa, selain keempat bauran pemasaran tersebut di atas, kita juga mengenal
adanya tambahan tiga bauran pemasaran lainnya yakni :
1. People
Untuk jasa, halini menjadi penting untuk kita pelajari dalam studi kelayakan,
bagaimana pasar yang ada dan bagaimana kemampuan orang dalam memproduksi
jasa.
1. Physical
Jasa biasanya akan mengundang kosumen untuk datang dan langsung meniknmati
jasa di tempat, sehingga lokasi atau tempat terjadi transaksi menjadi sangat penting
karna konsumen harus merasakan cukup nyaman saat terjadi transaksi.



1. Process
Setelah orang dan physical, proses, mengingat jasa itu adalah senuah pengalaman
dan kenikmatan langsung oleh konsumen, maka kita perlu siapkan sebuah proses
yang nyaman buat konsumen.
























Leave A Comment
SKB (bagian 2)
Posted in Uncategorized on June 12, 2013 by shelmi
Pengembangan Ide Usaha

1. Ide Pengembangan Usaha Perorangan
Ide pengembangan usaha biasanya didapatkan dari
1. Lingkungan
Lingkungan hidup sekitar lazim menjadi sumber ide misalnya jika orang tua yang
memang memiliki usaha, maka anaknya ingin melanjutkan usaha orang tuanya
atau mengembangkan usaha orangtuannya menjadi lebih besar.
1. Minat
Minat atau hobi dapat menjadi ide usaha. Dari sesuatu aktifitas menyenangkan,
sampai timbul ide untuk menjadikannya sebagai bisnis karena teman-teman juga
menyenanggi hasil karyanya seperti memulai usaha kue atau roti.
1. Pendidikan
Latar belakang pendidikan juga menjadi salah satu faktor munculnya ide usaha,
seperti seorang interior disain lazimnya akan memulai usahanya dengan
menerapkan apa yang dipelajar untuk dikemudian di tawarkan kepada para
konsumen.
1. Kesempatan (Oppertunity)
Adanya keperluan atau permintaan dari lingkungan akan satu produk dan di
dasarkan pada penggalaman dapat memunculkan ide usaha.
1. Investasi
Adannya kelebihan dana ataupun keingginan untuk memperoleh pendapatan
tambahan dari yang telah kita miliki dapat memebranikan sesorang untuk
menmcoba-coba memulai sebuah usaha dimana yang bersanggkutan tidak punya
penggalaman sama sekali.
1. Penggalaman
Dikarenakan adanya penggalaman seseorang memiliki ide usaha, seperti
penggalaman kerja sebelumnya, penggalaman dari pada teman-teman sekitar,
penggalaman perjalanan ke kota lain atau luar negeri dan penggalaman lainnya.
1. Network (jaringan)
Ide usaha bisa muncul karena adannya penawaran atau ajakan dari teman-teman,
semakin luasnya pergaulan, semakin tinggi juga munculnya ajakan dari teman-
teman sekitar kita.

1. Mengembangkan Keunggulan Kompetitif
Guna mencari keberhasilan dalam memulai suatu usaha, maka kita perlu
menciptakan keuntunggan kompetitif di bandingkan dengan produk atau jasa yang
telah ada saat ini.
1. Menghasilkan produk yang efesien
Produk yang memiliki kualitas yang sama tapi dengan biaya yang lebih murah,
bisa dijual dengan harga yang lebih murah, dan pasti akan menarik konsumen
untuk membelinya.
1. Menghasilkan produk yang berkualitas tinggi
Bisa menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, tanpa perlu tambahan biaya
yang lebih mahal, ataupun pada biaya sama, maka dapat di capai harga jual yang
sama dengan kualitas yang lebih baik.
1. Mengghasilkan produk yang inopatif dan kreatif
Menghasilkan produk yang belum ada di pasaran sehingga bisa memenuhi harapan
konsumen yang belum terpenuhi.
Pada saat ini, beberapa perusahaan menggunakan sarana komunikasi internet untuk
melakukan penjualan produk mereka maupun melalui internet jaringan sosial,
seperti facebook untuk memasarkan produk mereka.
Menggembangkan keunggulan kompetitif tidak semata-mata harus dengan
keunggulan teknologi, tetapi bisa juga dengan melihat variabel-variabel yang
menjadi keingginan konsumen yang belum terpenuhi. Jika kita selaku salah satu
produsen maka kita akan melihat ini sebagai potensi untuk masuk dengan merubah
variabel harga, variabel pelayanan yang cukup sama denghan kualitas yang tidak
perlu prima akan tetapi lokasi yang sama dengan pesaing lainnya.



1. Ide Pengembangan Usaha Perusahaan
Setiap perusahaan sama dengan setiap manusia, memiliki keingginan untuk makin
maju dan makin besar, hal tersebut yang melatar belakangi perusahaan ingin
mengembanggkan usahanya.
1. Meluncurkan produk baru
Peluncuran produk baru merupakan hal yang paling sering dan paling mudah
dilakukan oleh perusahaan dan merupakan bagian dari stategi perusahaan dalam
mempertahankan hidupnya karena hampir semua produk memiliki siklusnya.
Inovasi-inovasi baru sanggat diperlukan untuk memuaskan konsumen menggingat
kepuasan konsumen cenderung akan berubah seiring dengan berubahnya
kemampuan ekonomi dan pola hidup termaksud tren di masyarakat.
1. Mendirikan unit usaha baru
Perusahaan juga bisa mendirikan unit usaha baru, dalam hal ini perusahaan akan
mendirikan unit usahan yang cenderung memiliki potensi untuk berkembang dan
juga yang memiliki hubunggan lini bisnis dengan usaha perusahaan yang ada
sekarang, sehingga bisa timbulnya integrasi vertikal dan horizontal terhadap
keseluruhan bisnis yang telah ada dan mengghasilkan sinergi.
1. Menggakusisi produk yang telah ada
Selain menciptakan produk yang baru, perusahaan juga bisa melakukan akuisisi
produk yang telah ada dan dikembangkan menjadi produk yang bagus.
1. Menggakuisisi perusahaan yang telah ada
Selain produk baru, perusahaan juga bisa menggakuisisi perusahaan lainnya
dengan tujuan menggembangkan usahanya melalui merger atau akuisisi.

Untuk penggembangan usaha, perusahaan biasanya memiliki sebuah bagian dan
tim khusus dibagian penggembangan usaha, yang memang berfungsi mencari
peluang ide usaha yang baru. Bagian ini biasanya melapor langgsung kepada
dewan direksi, dan jika sebuah ide di setujui, maka akan dibentuk sebuah tim yang
melibatkan bagian lainnya seperti pemasaran, keuanggan, produksi, sumber daya
manusia dan hukum kedalam sutdi kelayakn usaha tersebut.
Untuk perusahaan kadang-kadang perlu pertimbanggan yang sanggat mendalam
sebelum memutuskan untuk memulai sebuah usaha baru atau melakukan akuisisi
perusahaan yang telah ada. Untuk memulai suatu perusahaan baru perlu waktu
yang agak panjang dan memakan sumber daya yang cukup panjang.
Perlun diingat bahwa jika sebuah usaha masih mengguntungkan bagi pemeggang
sahamnya sebelumnya, hampir tidak munggkin pemegang saham ada yang mau
menjual usahanya, kecuali memamng terpaksa oleh keadaan lingkungan.
Leave A Comment
Studi Kelayakan Bisnis (bagian 1)
Posted in Uncategorized on June 12, 2013 by shelmi
Pendahuluan
Seiring dengan berkembanganya peradaban manusia, maka kebutuhan manusia
akan semakin meninggkat. Awal terbentuknya pasar, hanyalah perdagangan bahan
pokok makanan, kemudian kebutuhan sandang dan terakhir kebutuhan tertier,
jadilah seperti pasar yang ada sekarang.
Semakin bertumbuhnya pasar mengakibatkan semakin berputarnya roda
perekonomian. Dengan pertumbuhnya perekonomian, semakin sejahtera manusia
atau makmurnya sebuah masyarakat, maka kepuasan menjadi semakin tidak
terbatas, maka timnullah permintaan akan barang dan jasa baru.
Kepuasaan manusia tidak ada batasnya, selama kemampuan perekonomian
manusia berkembang terus. Manusia memerlukan kepuasan yang berbeda dari
masa ke masa dan mencari sensasi yang berbeda juga dari masa ke masa.
Sebagai tanggapan terhadap kepuasan konsumen, maka timbullah motif
untuk mencari keuntungan dengan berusaha memenuhi kepuasan tersebut. Motif di
sini adalah bagaimana mencari keuntungan atau kekayaan dengan menggunakan
sumber daya secara optimal.
Studi kelayakan usaha bisa disimpulakan untuk menentukan seberapa besar
pengembalian sebuah investasi atau suatu aktivitas usaha dan implikasi usaha
tersebut. Pengembaliannya adalahperbandingan antara input investasi dengan
diperbandingkan dengan output yang akan dihasilakan dengan
mempertimbangakan seluruh aspek yang perlu dijalankan. Studi kelayakan
dilakukan sebelum usaha benar-benar dijalankan.Studi kelayakan tidak hanya perlu
dijalankan untuk usaha baru, tapi juga produk baru yang akan dijalankan oleh
perusahaan.
Aspek-aspek yang menjadi pertimbangan dalam studi kelayakan meliputi faktor
internal perusahaan atau faktor yang kita miliki dan bisa dikontrol oleh internal
kita dan faktor-faktor eksternal baik yang langsung maupun tidak langsung, yang
tidak bisa di kontrol. Pada dasarnya untuk memulai sebuah usaha pelaku ekonomi
memerlukan:
1. Faktor Sumber Daya Alam
Sumber daya alam merupakan penyedia bahan baku yang akan dikelola menjadi
bahan jadi, sehingga berguna bagi manusia.
1. Faktor Sumber Daya Manusia
Dengan semakin berkembangnya peradaban, semakin canggih manusia
menemukan cara pemuasan dan kehidupan yang lebih baik.
1. Faktor Modal
Modal merupakan hal yang esensial untuk dimiliki sebelum dimulainya sebuah
usaha, akan tetapi besar dan kecilnya modal tidak akan menjadi hambatan untuk
memulai sebuah usaha.
1. Faktor Kewiraswastaan
Diperlukan jiwa kewiraswastaan untuk memulai usaha, mengigat memulainya
sebuah usaha selalu mengandung dua sisi, yakni berhasil atau gagal.

1. Pengertian Usaha atau Bisnis
Usaha atau Bisnis didefinisikan sebagai sebuah kegiatan atau aktivitas yang
mengalokasikan sumber-sumber daya yang dimiliki ke dalam suatu kegiatan yang
menghasilakan barang atau jasa, dengan tujuan bisa dipasarkan kepada konsumen
agar dapat memperoleh keuntungan atau pengembalian hasil.

1. Pengertian Barang dan jasa
Barang merupakan sesuatu atau sebuah hasil produk yang berwujud yang dapat
memberikan manfaat atau kepuasan secara langsung maupun tidak langsung
kepada konsumen atau pembeli. Jasa adalah sesuatu yang tidak berwujud dalam
bentuk sebuah aktivitas yang memberikan manfaat atau kepuasan kepada
konsumen atau pembeli, yang bisa dikaitkan denga pembelian sesuatu barang atau
jasanya.

1. Motif Pengembangan Usaha
Perusahaan pada umunya akan selalu menginginkan tuk berkembang menjadi lebih
besar dan lenih menguntungkan sebagaiman juga motif ekonomi setiap pribadi
manusia. Untuk mengembangkan diri agar lebih besar, perusahaan akan
memepertimbangkan menciptakan sinergi dengan usaha yang ada.
Bagi investor pribadi atau perusahaan investasi, bisa menempuh beberapa cara
dalam pengembangan usaha seperti halnya
1. Membuat perusahaan baru untuk memproduksi sebuah produk di pasar
untuk ditawarkan ke pasar.
2. Mengakui sisi perusahaan telah ada di pasar atau melakukan investasi dalam
mebeli sebagian saham perusahaan tersebut.
3. Meluncurkan produk baru yang akan ditawarkan ke pasar.
4. Mengakui sisi produk yang telah di pasarkan tanpa perusahaannya, dimana
mungkin produk tersebut telah dikenal akan tetapi belum maksimal.

1. Definisi Studi Kelayakan
Studi Kelayakan adalah sebuah studi untuk mengkaji secara kompherensif dan
mendalam terhadap kelayakan sebuah usaha.

1. Manfaat Studi Kelayakan
Studi Kelayakan memberi manfaat bagi para pihak terkait dengan usaha yang akan
dijalankan, sebagai berikut:
1. 1. Pihak Investor, ingin melihat berapa modal yang harus ditanamkan
ditambah beberapa potensi dari pada usaha yang dijalankan dan juga nilai
tambah yang bisa dihasilan seperti berapa tambahan pendapatan.
2. 2. Pihak Kreditor, sebagi pihak penyandang dana eksternal , ingin
melihat resiko dana yang akan dipinjamkan dan juga kemampuan
pengembalian dana pinjaman untuk jangka waktu beberapa lama dan juga
kemampuan secara keseluruhan bentuk bisnis yang dijalankan.
3. 3. pihak Manajemen, sebagai pihak yang akan menjalankan usaha, maka
pihak manjemen perlu melakukan perencanaan sumber daya yang
diperlukan.
4. 4. Pihak Regulator, berkepentingan terhadap bentuk usaha yang
dijalankan, industri yang akan dijalankan, dan dampak terhadap masyarakat
maupun perekonomian nasional.

1. Aspek-aspek Studi Kelayakan Usaha
Aspek yang perlu di perhatikan dapat dikata gorikan sebagai berikut:
1. Aspek Industri
Menganalis struktur yang akan kita masuki, seperti persaingan yang telah ada,
bagaimana dengan kekuatan dan penawaran pembeli, barang subsitusi yang ada,
bagaimana kekuatan supplier bahan baku yang diperlukan juga bagaimana dengan
kemapuan pesaing masuk ke dalam industri ini.
1. Aspek Pasar
Semua bisnis pasti akan membutuhkan sebuah pasar, kalau basar tidak besar atau
pasar mengalami penurunan, maka usaha yang akan dijalankan dipastikan akan
mengalami hambatan untuk berhasil.
1. Aspek Pemasaran
Aspek pemasaran dalam studi kelayakan akan mengkaji struktur produk atau jasa
yang telah ada di pasar serta rencana produk atau jasa yang akan ditawarkan.
Adapun pengkajiannya dapat ditinjau dari sisi:
1. Value Proposition
2. Bauran Pemasaran
3. Perilaku Konsumen
4. Aspek Keuangan
Untuk menentukan layak atau tidak layak sebuah usaha atau bisnis dijalankan
setelah menelaah semua faktor produksi dijalankan.
1. Aspek Manajemen
Terkait dengan fungsi koordinasi dan sinkronisasi antara semua faktor produksi
yang ada.
1. Aspek Produksi
Akan ditentukan sumber produksi sistem peroduksi sumber-sumber daya yang
perlu diinvestasikan seperti bahan dasar maupun bahan penunjang lainnya.
1. Aspek Sumber Daya Manusia
Akan digunakan dan kualitas sumber daya manusia juga berperan penting,
termaksud juga dalam pengembangan, kompensasi, serta sistem penilaian karya
sumber daya manusia.
1. Aspek Lingungan
Usaha tidak akan bisa memisahkan diri dari lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
1. Aspek Hukum dan Yuridis
Bentuk badan hukum usaha, peraturan-peraturan yang berlaku di industri tertentu,
perusahaan-perusahaan keuangan yang berlaku.


1. Tahap Studi Kelayakan
Sebuah studi kelayakan akan menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Inisiatif pengembangan usaha
2. Penelitian potensi inisiatif pengembangan usaha
3. Evaluasi
4. Penentuan
5. Tahap perencanaan pelaksaan
6. Pelaksanaa
7. Tahap pelaksanaan usaha atau bisnis
8. Tahap evaluasi terhadap perencanaan dibandingkan dengan kenyataan
Pelaksanaan sebuah studi kelayakan juga tidak boleh melupakan kepentigan dari
pihak yang baik langsung maupun tidak langsun, yakni para stakeholeders yakni:
1. Pemilil/Investor
Pihak yang paling berkepentingan karena modal dari pihak pemilik bisa sirna jika
perusahaan merugi atau bangkrut.
1. Kreditur
Pihak yang meminjam uang dan mengharapkan uang pinjaman bisa dikembalikan,
jika tidak bisa dikembalikan, maka kreditur akan rugi.
1. Manajemen
Pihak yang bertanggungjawab terhadap jalannya perusahaan sehari-hari.
1. Karyawan
Pihak yang mengangtungkan hidupnya pada berjalannya perusahaan, jika terjadi
pemutusan hubungan kerja, maka karyawan akan kehilangan sumber penghasilan.
1. Supplier
Selain menjual produk kepada perusahaan, juga membertikan hutang dagang
jangaka pendek kepada perusahaan, jika perusahaan mengalami masalah, maka
supplier selain kehilangan pembeli juga bisa macetnya piutang dagang.
1. Konsumen
Khususnya untuk produk pemakaina jangka panjang dan juga yang diberikan
garansi, konsumen memiliki kepentingan perusahaan yang jangka panjang.
1. Pemerintah
Ketidak stabilan suatu ekonomi, pada kondisi banyaknya perusahaan yang
menghadapi masalah keuangan bahkan kebangkturan, akan membawa masalah
bagi pemerintah.
1. Masyarakat sekitar lingkungan
Perusahaan yang akan menjalankan usahanya juga secara tidak langsung
menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, jika perusahaan bermasalah, makan
masyarakat sekitar juga mengalami masalah.







Leave A Comment
TALENT
Posted in Uncategorized on May 8, 2012 by shelmi
Membuat Orang-Orang Anda mempunyai Keunggulan kompetitif
Dalam beberapa dekade terakhir kita dihujani buku bisnis, artikel, pidato, dan
seminar telah menekankan pentingnya sumber daya manusia dan orang-orang
dalam memperoleh keunggulan kompetitif. Menurut survei terbaru dari Eksekutif
senior dari seluruh dunia, dua dari yang paling penting adalah tantangan
manajemen seperti:
Perekrutan tinggi untuk kualitas masyarakat di beberapa wilayah, terutama
sebagai persaingan untuk tumbuh berkembang lebih intens.
Meningkatkan daya tarik budaya perusahaan dan bekerja di lingkungan yang
menyenangkan.
Sebagian besar organisasi masih dikelola dengan birokrasi, struktur secara sentris,
dan mereka telah dikelola dengan cara tersebut selama beberapa dekade. Dalam
perusahaan-perusahaan ini, Anda akan sering mendengar manajer di semua
tingkatan berbicara tentang pentingnya orang, tapi seiring dengan berjalannya
waktu persolaan ini benar-benar tidak dapat menindaklanjuti pembicaraannya.
Para manajer mereka melakukan upaya-upaya untuk melihat bahwa mereka
menarik dan mempertahankan orang-orang yang mereka perlukan untuk membuat
struktur birokrasi mereka beroperasi secara efisien , namun mereka tidak dirancang
untuk membuat sumber daya manusia mereka yang bersaing dengan keuntungan.
Untuk menjadi jelasnya birokrasi, struktur pendekatan sentris untuk manajemen
masih bisa bekerja. Sebuah upaya sederhana untuk menarik, mempertahankan, dan
memotivasi bakat adalah semua yang diperlukan dalam beberapa organisasi,
karena mencapai kinerja yang cukup baik dari modal manusia mereka, dan orang
yang bukan sumber utama keunggulan kompetitif mereka. Tapi untuk perusahaan
yang benar-benar bersaing pada kinerja orang-orang mereka, sumber daya
manusia mereka itu saja tidak cukup. Mereka perlu untuk mengadopsi HC atau
istilah untuk pendekatan sentris yang berguna untuk mengorganisir manajemen
mereka. Hal ini bukan hanya tentang cara mengontrol biaya orang karena mereka
adalah utama dari biaya tersebut dan itu adalah tentang bagaimana orang-orang
baik melakukan, karena kinerja mereka adalah faktor penting dalam menentukan
apakah organisasi berjalan dengan efektif.

Realitas kompetitif
Salah satu faktor adalah akses terhadap modal finansial. Memiliki akses financial
modal digunakan untuk menjadi sumber utama keunggulan kompetitif. Financial
mudah diperoleh dan karena itu jarang ditemukannya potensi sumber keunggulan
kompetitif tersebut. Di negara maju, financial modal bergerak cepat dan efisien
dan mudah diakses. Bukti tersedianya modal adalah lazim digunakan. Semakin
banyak perusahaan membeli kembali saham mereka karena mereka memiliki
banyak uang tunai, dan dana ekuitas swasta membeli utama perusahaan dengan
posisi kas yang besar.
Teknologi informasi (TI) telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan
kebutuhan untuk pengetahuan teknis serta pengembangan baru pengetahuan teknis
dan bisnis. Yang sama pentingnya adalah dampak TI pada kemampuan organisasi
untuk bergerak bekerja melintasi batas-batas internal, eksternal, dan geografis. Hal
ini sekarang digunakan untuk melakukan outsourcing manufaktur, rekayasa
perangkat lunak, dan banyak kegiatan lain untuk perusahaan lain dan negara, dan
untuk mengkoordinasikan hasil pada basis global. TI telah memungkinkan banyak
orang untuk bekerja lebih fleksibel dan untuk mengubah apa mereka bekerja pada
dengan kecepatan meningkat. Hal ini juga dapat memberi orang pemahaman yang
lebih baik dari apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya.
Faktor lain dalam penciptaan sebuah lanskap kompetitif baru adalah hasil dari
perubahan yang baru saja dijelaskan: Ekonomi AS semakin maju dengan layanan
yang didorong oleh IBM, misalnya, komputer dan pejabat produsen peralatan
computer, telah berkembang menjadi yang didominasi oleh layanan dan organisasi
yang berorientasi. Ada juga telah luar biasa pertumbuhan dalam organisasi
pelayanan makanan, seperti McDonald s,dan pengecer, seperti Wal Mart.
Sebagai hasilnya, pekerjaan manufaktur sekarang hanya mewakili 8 persen dari
tenaga kerja AS, turun dari lebih dari 30 persen hanya beberapa dekade yang lalu.
Mengapa pertumbuhan organisasi pelayanan penting? Beberapa alasan utama
adalah tatap muka (face to face) dengan pelanggan. Satu hal yang membedakan
layanan organisasi dari organisasi manufaktur adalah pentingnya hubungan antara
pelanggan dan layanan penyedia. Ini menjadi khas pribadi dan sangat penting
untuk keberhasilan organisasi. Hal ini terasa berbeda dari hubungan antara
karyawan manufaktur dan produk. Apa yang bekerja dari sudut pandang
manajemen untuk memproduksi produk sering tidak bekerja ketika masalah
berinteraksi dengan pelanggan. Karena jumlah perubahan yang telah terjadi di
beberapa dekade terakhir, maka semakin jelas bahwa sumber kompetitif
keuntungan dalam banyak industri telah bergeser dari efektif pelaksanaan dan
proses dapat diandalkan untuk kemampuan untuk berinovasi dan perubahan. Dan
itu telah berubah dari kemampuan untuk memberikan dan memuaskan layanan
pelanggan dengan kemampuan untuk unggul dalam bidang pelanggan hubungan
dalam skala besar.
Bakat sebagai Keunggulan yang Kompetitif
Memperoleh bakat yang tepat menjadi suatu yang semakin kompleks dan
menantang aktivitas. Tenaga kerja itu sendiri telah menjadi lebih global, virtual,
dan beragam daripada yang pernah telah ada. Semakin tinggi, surplus modal
investasi mengejar kelangkaan orang berbakat. Masa depan pasti untuk
menyimpan lebih dari yang sama; demikian, organisasi yang unggul dalam
manajemen bakat akan terus untuk menikmati keunggulan kompetitif. Ada juga
alasan yang baik untuk percaya bahwa, di Amerika Serikat Amerika setidaknya,
sistem pendidikan tidak menjaga dengan kebutuhan yang diharapkan untuk
berbakat, baik karyawan berpendidikan. Sementara itu, pasokan pekerja
berpendidikan di luar Amerika diperkirakan akan terus tumbuh. Semakin tinggi,
layanan pelanggan perwakilan, ahli radiologi, insinyur, pengembang perangkat
lunak, dan editor dapat bersumber banyak tempat di dunia. Tantangannya untuk
organisasi.
Organisasi sebagai Keunggulan Kompetitif
Mencari, memperoleh, dan mempertahankan bakat yang tepat adalah perlu, tapi
bukan kompetisi yang efisien, langkah dalam menciptakan sebuah organisasi
dengan berkelanjutan yang memerlukan keunggulan kompetitif. Untuk melakukan
hal ini, organisasi juga harus memiliki struktur yang tepat, sistem, proses, dan
praktik di tempat. Semua organisasi sering memiliki orang-orang hebat, tapi tidak
mengelola atau mendukung mereka dengan benar. Banyak orang orang tertekan
oleh sistem dan proses yang membatasi eksperimen, belajar yang terbatas dan
menghambat transfer pengetahuan, gagal untuk memotivasi, dan menekan inovasi
yang ingin mereka ciptakan. Akibatnya, organisasi gagal untuk memanfaatkan
bakat yang mereka miliki dan dalam jangka panjang berkinerja buruk. Mengapa ini
terjadi? Karena Sistem birokrasi dan proses yang dibuat dalam nama eksekusi,
kontrol, dalam jangka pendek dan jangka.
Bakat dan Optimasi kinerja.
Dalam waktu perubahan yang lambat atau sedikit perubahan, inovasi tidak
mungkin menjadi sumber penting dari kompetitif keuntungan, sehingga
pendekatan birokratis mungkin yang terbaik. Menjadi berbeda adalah mungkin
hanya jika organisasi dapat menjadi kreatif dan inovatif. Hal ini memerlukan
penekanan yang kuat pada belajar dan mengumpulkan pengetahuan baru dari
internal dan eksternal proses tersebut. Ini juga membutuhkan organisasi dan
pemahaman yang luas bahwa setiap keunggulan kompetitif yang didasarkan pada
produk baru atau taktik mungkin akan relatif singkat. Mereka dapat disalin, dan
pertumbuhan yang berkelanjutan berarti pengetahuan dan inovasi yang produk
yang lebih baik dan layanan akan muncul dengan cepat. Fokus yang diperlukan
berada dengan menciptakan sebuah organisasi yang dapat terus berinovasi dan
perubahan maju, yang tidak hanya datang dengan sebuah produk baru atau layanan
baru yang menawarkan keuntungan.
Kinerja dan Perubahan
Secara sederhana cara terbaik bagi organisasi untuk mendapatkan keunggulan
kompetitif yang berkeuntungan dan mempertahankan dalam lingkungan bisnis saat
ini adalah untuk tampil sangat baik dan berubah begitu cepat sehingga mereka
sering bersama sebagai suatu serangkaian keunggulan kompetitif sementara. Tak
perlu dikatakan, ini adalah mudah untuk mengatakan tetapi sangat susah untuk
dilakukan. Hal ini membutuhkan kombinasi khusus antara sumber daya manusia
dan kebijakan organisasi, praktek, dan desain. Justru karena susahnya untuk
menciptakan organisasi dengan perubahan yang cepat dan mudah yang mampu
melakukannya adalah seperti sumber yang kuat dan berkelanjutan dengan
keunggulan kompetitif. Jika itu adalah mudah dilakukan, tidak akan menjadi
keuntungan kompetitif dan sebuah signifikan untuk menjadi penghalang
masuknya.
Namun, satu hal untuk mengetahui bakat adalah penting dan sama sekali lain untuk
membuat bakat sumber kompetitif keuntungan. Hal ini membutuhkan hal yang
baik dan menarik untuk mempertahankan hak bakat dan mengatur serta mengelola
secara efektif. Menarik, menciptakan dan mempertahankan bakat yang tepat
adalah tidak mudah, tetapi sebagian besar organisasi dapat mendapatkannya
dilakukan jika mereka mengabdikan sumber daya yang cukup untuk itu.
Sebenarnya berkembang dengan menggunakan struktur organisasi dan manajemen
praktek-praktek yang mengarah ke bakat menjadi sumber kompetitif keuntungan
adalah cerita lain. Yang utama dibutuhkan adalah perubahan dalam perilaku
manajerial serta perubahan di sebagian besar pilar utama sebuah organisasi.
Struktur perlu mengubah, dan praktek perlu berubah, tetapi bahkan tidak cukup.
Orang-orang di dalam dan di luar organisasi perlu mengubah cara mereka berpikir
tentang organisasi.

HC sebagai pendekatan Organisasi Central
Apa sebuah HC pendekatan organisasi sentris terlihat seperti apa. Untuk mulai
diawal, itu penting untuk memahami adalah apa intinya. Di atas segalanya, sebuah
HC pendekatan sentris adalah salah satu organisasi yang sejalan fitur-fiturnya
(pelaporan sistem, kompensasi, divisi dan departemen struktur, informasi sistem,
dan sebagainya) menuju penciptaan hubungan kerja yang menarik individu-
individu berbakat dan memungkinkan mereka untuk bekerja bersama-sama secara
efektif. Tinggal di tingkat yang tinggi deskripsi untuk saat ini, di sini terdepat
adalah beberapa fitur utama dari HC pendekatan organisasi sentris. Dalam HC
pendekatan organisasi sentris.:
Strategi bisnis ditentukan oleh pertimbangan bakat, dan pada gilirannya
menuju ke praktek manajemen sumber daya manusia.
Setiap aspek organisasi terobsesi dengan bakat dan lebih banyak bakat manajemen.
HC pendekatan organisasi sentris melakukan segala yang mereka bisa untuk
menarik, mempertahankan, dan mengembangkan bakat yang tepat. Mereka
membuat kuat perusahaan merek yang terkenal yang ditargetkan untuk merekrut
bakat yang mereka butuhkan. Mereka hati-hati dalam menilai, mengembangkan,
dan merekrut bakat yang baik bahwa keterampilan sangat menjadi kebutuhan
organisasi. Untuk memastikan bakat yang dikelola dengan benar, HC pendekatan
organisasi sentris memiliki sistem pengukuran yang canggih yang menilai keadaan
bakat mereka dan memfasilitasi pengambilan keputusan tentang pembangunan dan
alokasi. Penelitian yang cermat dilakukan untuk memastikan bahwa pelatihan dan
pengembangan terbaik pendekatan yang digunakan dan bahwa pendekatan ini
membenarkan dalam hal kinerja perbaikan dan pengembangan. Posisi kunci yang
diperkenalkan berdasarkan dampaknya pada kinerja organisasi dan perhatian
khusus yang dibayar untuk mengisi posisi tersebut dengan bakat yang benar.
Sistem informasi memberikan jumlah yang sama perhatian dan ketelitian
untuk ukuran biaya bakat, kinerja, dan kondisi seperti halnya untuk langkah-
langkah
peralatan, bahan, bangunan, perlengkapan, dan aset keuangan.
Sistem informasi melihat bagaimana organisasi tersebut melakukan di daerah-
daerah kritis di mana bakat adalah kunci penentu kinerja efektivitas, dan laporan
tentang kondisi sumber daya manusia. Itu tidak hanya laporan keuangan tradisional
nomor, karena mereka sering menyesatkan dalam organisasi yang sangat banyak
terdapat sumber daya manusia.
Departemen HRD adalah kelompok staf yang paling penting.
Sumber Daya Manusia memiliki bakat terbaik dan sumber daya Teknologi
Informasi terbaik, dan eksekutif serta seluruh manusia menggunakannya sebagai
sumber pakar ketika datang ke strategi bisnis, perubahan organisasi- organisasi
desain, dan manajemen bakat. Hal ini dikelola dengan sebaik mungkin bagi
masing-masing individu, dan itu adalah titik kritis karir berhenti untuk siapa saja
yang bercita-cita untuk manajemen senior dalam organisasi.
Kebutuhan untuk HC - Organisasi Central
Banyak yang percaya bahwa kecuali organisasi yang lebih dan lebih mengadopsi
HC pendekatan sentris, kesenjangan sudah besar antara berapa banyak digunakan
dan berapa banyak harus digunakan akan meningkat. Alasannya untuk ini adalah
sederhana dunia bergerak lebih dan lebih ke arah satu di mana keunggulan
kompetitif tergantung pada organisasi yang melakukan dengan cara yang
membutuhkan berada di HC pendekatan sentris. Tidak ada cara untuk mencapai
tingkat perubahan, jumlah inovasi, dan fokus pada pelanggan yang diperlukan
dalam peningkatan jumlah usaha tanpa mengadopsi HC pendekatan sentris untuk
manajemen.

3 Comments
MARKETING IN CRISIS (bag.2)
Posted in Uncategorized on May 5, 2012 by shelmi
Di Luar Awan Nan Gelap, Ada Matahari
Mashab Awan Gelap
Program program pemerintah dibentuk untuk membantu rakyat miskin agar
mereka tidak frustasi. Perusahaan perusahaan pun didorong melakukan aksi
sosial (CSR). Namun bagi bisnis, pertumbuhan adalah bagus sehingga inovasi
bergarak cepat, siklus hidup produk (product life cycle) begitu pendek. Anak
anak muda lebih cepat tampil, dan keterampilan yang dimiliki kaum tua cepat
menjadi usang (obsolete).
Di puncak terang benderang itu, orang sering lupa bahwa energi yang diperlukan
sangatlah besar. Dan ketika sekelompok orang mulai merasakan nikmatnya duduk
di puncak dengan jalan yang enak, mereka lupa bahwa jalan yang enak itu
menandakan penurunan. Betul, kita mulai turun dari puncak gunung dan menuju
lambah di bawah. Matahari perlahan lahan memudar, kembali kepangkuan, dan
gelap pun tiba. Itulah hukum alam, itu pulalah hukum siklus ekonomi.
Orang orang yang biasa hidup di bawah sinar matahari yang berlimpah, biasanya
sama sekali tidak dipersiapkan untuk hidup dalam gelap gulita. Mereka bahkan
tidak memiliki teknologi sederhana senter berbatu baterai untuk memandu di
jalan yang gelap.
Di tengah tengah kegelapan, awan gelap menyelimuti bumi yang tadinya terang
benderang, disertai kilatan petir sambar menyambar yang begitu menakutkan.
Angin puting beliung merontokkan banyak bangunan dan menghancurkan harapan.
Ia hancurkan kekayaan yang telah dibangun.
Awan gelap itu bisa jadi tidak berlangsung lama karena ia berarak arak ditiup
angin berpindah ketempat lain, karena itu Kurangi rasa takut, tinggikan harapan;
Kurangi makan, tarik nafas dalam dalam; Kurangi cakap cakap, banyaki
perbuatan; Cintai lebih banyak, maka segala kehebatan akan mendatangi Anda
(Pepatah Swedia)
Mashab Terang Gelap
Mashab Terang-Gelap percaya bahwa Tuhan telah menciptakan alam
semesta ini berpasang-pasangan. Pada saat yang bersamaan selalu ada bagian bumi
yang terang dan ada bagian lain yang gelap. Jadi gelap yang disertai petir itu
terjadi terpisah dengan suasana yang terang karena keduanya selalu ada pada
waktu yang bersamaan. Pada saat berada di tengah-tengah awan yang gelap dan
pekat, kita tidak bisa melihat terangnya matahari. Tetapi di luar awan gelap itu, ada
yang hidup dalam terang yang tidak akan terimbas awan gelap karena alam sudah
mengaturnya sedemikian rupa sehingga gelap itu datang sendiri menurut siklusnya.

Interaksi Terang Gelap
George Soros (The New Paradigm for Financial Markets: The Credit Crisis of
2008 and What It Means) praktisi investasi keuangan dunia menunjukkan betapa
dunia ini telah mengalami perubahan yang sangat fundamental. Soros membuat
sebuah hukum yang disebutnya hukum refleksivitas (saling mempengaruhi). Dunia
yang terkait satu sama lain telah mengakibatkan hasil yang dicapai berubah dari
menit ke menit. Soros melihat bahwa manusia selalu membaca data untuk dua
kemungkinan.
1. Untuk memahami (to Understand)
2. Untuk berpartisipasi, sekaligus memanipulasinya (semula Soros
menggunakan kata to Participate, lalu diganti menjadi to Manipulate)
Akibatnya segala sesuatu cepat berubah, dan info yang dibaca beberapa menit yang
lalu segera usang karena manusia telah memanipulasi atau
melakukan treatment tertentu kepadanya.
Perilaku orang perorangan yang sangat berbeda beda membuat dunia semakin
kompleks dan semakin penting bagi kita untuk memahami cara kerja dunia baru
ini. Interaksi antar kedua faktor itu menimbulkan:
1. Segala sesuatu serba paradoks
2. Tuntutan untuk Relaksasi Constraint
3. Tuntutan adanya Fleksibilitas
4. Kemampuan beradaptasi (menyesuaikan diri dengan keadaan yang
berubah).
Keempat hal diatas merupakan dasar dari setiap orang Indonesia untuk memahami,
memakai, sekaligus mengambil kendali rill dalam menghadapi krisis.

Serba Paradoks
Paradoks adalah suatu pertentangan, kontradiks, dan ketidak konsistensian seperti
Anda bertanya: Kalau benar benar cinta mengapa membenci?
Pikiran Paradoks adalah pikiran inkonsisten dan segala hal yang inkonsisten sering
dianggap idiot, bodoh, atau bahkan ada yang mengatakan tidak bermoral. Semua
itu muncul karena manusia sangat menghargai konsistensi dan tradisi.
Relaksasi Konstrain
Ada 3 jenis constraint yaitu:
1. 1. Structural Constraint: menyangkut skala dan skop usaha
2. 2. Resource Constraint: keterbatasan sumber daya seperti uang / modal,
aset, SDM, waktu, teknologi, keterampilan, dsb.
3. 3. Strategic Constraint: keterbatasan menyangkut produk dan pasar.
Untuk sebuah perusahaan baru dan UKM, masalah terbesar yang dihadapi
adalah Resource Constraint, yaitu terbatasnya anggaran, tenaga, dan kemampuan
untuk melayani atau mengepung pasar. Namun, semakin besar dan semakin tua
perusahaan, ia akan menghadapi dua constraint lagi, yaitu Structural dan Strategic
Constraint.
Yang menjadi masalah, kedua constraint tersebut biasanya sengaja diciptakan oleh
orang orang tertentu yang menghendaki adanya keteraturan dan kemudian
kontrol. Dengan kata lain constraint adalah bentuk lain dari kontrol.
Relaksasi constrain bukan sekadar prosedur, melainkan sebuah langkah strategis
yang didasarkan pemahaman bahwa cara kita melihat alam semesta ini telah
berubah sama sekali. Sebuah alam yang dipenuhi ketidakpastian, keterkejutan-
keterkejutan dan tentu saja banyak kejadian yang paradoks.

Tuntutan Fleksibilitas
Fleksibilitas mengandung sejumlah karakteristik, yaitu:
1. 1. Keterbukaan: Dengan keterbukaan, setiap orang dituntut untuk selalu
sadar untuk berpikir, bukan sekedar menjalankan perintah.
2. 2. Menyajikan Pilihan (alternatif): Orang orang yang berpikir akan
mampu menyajikan alternatif. Dengan alternatif, resource yang ada tidak
digunakan sia sia.
3. 3. Menghargai Realitas di Lapangan: Para perencana, pengawas yang
duduk di atas kursi bukanlah orang sakit dengan sikap seperti polisi yang
merasa sudah bekerja dengan menangkap orang-orang yang tidak
menjalankan tugas, tetapi mereka orang orang yang harus mengerti
keadaan dilapangan dan tidak hanya diukur dari satu cara saja.
4. 4. Fleksibilitas Tetap Terbatas: Ada batas batas tertentu yang tidak bisa
dilanggar, sehingga tidak disalahtafsirkan sebagai kebebasan sebebas
bebasnya.
5. 5. Menuntut Entrepreneurship: Menuntut berpikir inovatif seperti orang
entrepreneur yang berani mengambil tindakan dimasa masa yang sulit,
spontan, banyak pilihan, dan luwes dalam menghadapi berbagai hambatan.
Fleksibilitas adalah sebuah keputusan strategis yang diberikan oleh pemimpin dan
mendapatkan dukungan.

Kemampuan Beradaptasi (Change)
Bangsa ini memang menerima warisan yang sangat nikmat. Semua yang
dibutuhkan manusia selalu mudah diperoleh, matahari bersinar dengan energi yang
berlimpah. Tanpa krisis kita akan terbelenggu oleh kenikmatan dan sulit untuk
berkembang. Jadi, bangsa Indonesia harus bersyukur dengan adanya krisis karena
krisis mendorong kita untuk berpikir dan segera bertindak.
Tindakan apa yang diambil?
Setidaknya ada 4 area yang harus menjadi perhatian eksekutif yang harus
diadaptasikan. Keempat area itu adalah teknologi:
1. 1. Perubahan Teknologi
Perubahan diperlukan untuk membuat produksi menjadi lebih efisien, lebih
memilik kapabilitas, baik dari segi volume maupun kemampuannya menghasilkan
produk-produk bernilai labih tinggi. Salah satu perusahaan yang tengah berjuang
memperbaiki teknologinya adalah Pertamina.
1. 2. Perubahan Produk dan Jasa
Krisis juga menyadarkan manusia untuk mengubah produk atau jasa yang sudah
tidak efisian lagi atau sudah ketinggalan zaman. Contohnya 2 negara yang masih
menggunakan bahan bakar minyak tanah bagi masyarakatnya. Selain subsidi yang
terlalu besar , energinya masih kalah dengan bahan bakar lain yang lebih murah.
Diera globalisasi yang penuh persaingan ini, hampir tidak dapat dihindari lagi
masuknya produk produk bermerek global keseluruh penjuru Nusantara. Jasa
jasa menjadi sangat modern, kental dengan teknologi, dibekali dengan standar dan
manual operasi, dengan dukungan SDM yang sangat andal pelayanan prima.
1. 3. Perubahan Struktur dan Sistem
Di Indonesia banyak perusahaan mulai menerapkan metode balance score-
card yang mewajibkan setiap atasan mengevaluasi setiap atasannya dengan kriteria
yang disepakati.
1. 4. Perubahan SDM
Perubahan SDM bukan semata mata perubahan orang, melainkan juga perilaku
dan nilai nilainya. Bahkan sering dikatakan, perubahan belum tentu akan berhasil
sebelum kita berhasil mengubah cara berpikir manusia.

Pengaruh Friedman
Friedman mencatat sepuluh kejadian yang telah mendatarkan dunia.
Kesepuluh kejadian atau keberadaan teknologi ini benar-benar telah membuat
dunia menyatu. Ia memudahkan mobilitas manusia, produk dan jasa; kolaborasi
produksi dan pengambilan keputusan, serta kesatuan konsumsi.
Kesepuluh kejadian itu adalah:
1. Robohnya tembok Berlin (9 November 1989)
2. Dunia terhubung oleh Web dan Netscape (6 Agustus 1991)
3. Pekerjaan Antarmesin terhubung
4. Uploading
5. Outsourcing
6. Offshoring
7. Modernisasi mata rantai pemasok (Supply Chaining)
8. Kolaborasi Horizontal untuk menciptakan Nilai Tambah (Insourcing)
9. Terciptanya mesin pencari dan klarifikasi (Informing)
10. Berkembangpesatnya teknologi-teknologi supercanggih
Kesepuluh hal di atas dipercaya Friedman telah mendatarkan dunia, sehingga dunia
itu tidak lagi terbagi-bagi menurut suku, agama, warna kulit, letak bbumi terhadap
matahari, jarak geografis dan sebagainya. Itu pula lah yang tampaknya mewarnai
para analis dan pengamat yang begitu cepat meraih keuntungan dari pasar modal
dan pasar uang, namun sama-sama menahan rasa pahit saat harga-harga sahamnya
anjlok.
Gelap Bisa Terjadi di Tempat yang Seharusnya tidak Gelap
Segala sesuatu yang gelap bisa terjadi ditempat yang seharusnya tidak gelap.
Artinya di bawah matahari yang terang benderang di siang hari, orang bisa saja
tidak melihat cahaya. Mengapa demikian? Karena:
1. Manusia melihat sesuatu terutama bukan oleh matanya, melainkan oleh
pikirannya.
2. Pikiran itu menular dan dapat membentuk semacam kepercayaan umum.
3. Di tengah tengah cuaca yang terang, selalu ada perusahaan yang sakit,
salah kelola, tak terurus dengan baik, dan segalanya.
4. Krisis bisa saja terjadi bukan karena krisis yang sesungguhnya, melainkan
pemerintah daerah yang terlalu berambisi, pungutan pungutan liar yang
berlebihan, aparat aparat penegak hukum yang berebut tampil secara
berlebihan, peraturan yang tidak kondusif, dan sebagainya.
5. Karena berita berita negatif melemahkan mental, membuat kurang
bersemangat, dan mengakibatkan kita enggan bekerja lebih keras,
memelopori sesuatu, melakukan ekspansi.
6. Kalau semua orang ikut menahan, terjadilah krisis seperti yang ada di dalam
pikiran. Media massa lalu memotret dan menyajikan kepada publik. Siklus
ini menjadikan semua sebagai suatu faktor
Dengan demikian, para pemimpin perlu menjaga kesadaran para karyawan dan
pengikutnya agar selalu terjaga dan tidak terhipnotis oleh berita-berita negatif.
Kesadaran itu adalah paradoks yang menyelamatkan agar semua orang berpikir
realistis, yaitu disaat terang yang sesungguhnya.

Kritik Terhadap Thomas Friedman
Di dunia ini, kendati pasar telah dibuka lebar-lebar, ketidakadilan masih
masih kerap terjadi. Negara-negara maju yang seharusnya bisa membeli lebih
banyak produk dan jasa dari negara berkembang, ternyata masih memberlakukan
cara-cara tidak fair.
Karena itu tidaklah mengherankan kalau penerima hadiah Nobel Ekonomi,
Joseph Stiglitz menandaskan: dalam banyak hal, dunia itu justru berkembang ke
arah menjauh dari datar. (Wikipedia, 2008)

Pemerintah (Indonesia) yang terbelenggu Constraint
Untuk melihat kokohnya belenggu (constraint) di pemerintahan, dapat
diberikan contoh sebagai berikut:
- Pengadaan barang harus melalui tender
- Rekrutmen pegawai
- Rekrutmen pejabat
- Jenjang kepangkatan didesain sangat kaku
- Pengambilan keputusan lebih bersifat dilempar ke atas
- Belenggu gaji
- Tradisi menghabiskan anggaran
- Proses perumusan anggaran sangat panjang
- Pengangkatan jabatan lebih digariskan menurut kepangkatan
- Rapat internal secara detail jarang dilakukan




Leave A Comment
MARKETING IN CRISIS (bag.1)
Posted in Uncategorized on May 5, 2012 by shelmi
Awan Itu Terlalu Gelap
Sebatang lilin tidak bisa menyinari awan gelap yang pekat. Menurut Rhenald
Kasali, awan gelap tentu tak selalu terlihat kasat mata. Banyak orang yang melihat
dengan lensa yang berbeda. Sebagian mungkin sedang berada di tengah-tengah
awan pekat, namun pasti sebagian lagi berada di luar awan pekat itu, sehingga
yang dilihat hanyalah sinar mentari yang terang benderang. Misalnya sektor rumah
makan. Kala rumah makan di sekitar kawasan gedung Bursa Efek Jakarta dilanda
sepi, beberapa rumah makan di daerah kota justru mengalami ledakan pengunjung.
Jadi pasti ada industri atau bisnis yang diuntungkan dengan adanya krisis. Itulah
yang menjadi sorotan penting bahwa di tengah awan gelap selalu ada sinar.

Pekat di Tengah Awan Gelap
Awan yang gelap itu berada di Amerika Serikat dan sebagian besar negara
Eropa. Menurut catatan George Soros (2008), total kerugian sektor keuangan
Amerika Serikat dari bisnis derivatif saja minimal telah mencapai nilai sebesar
US$42.6 Triliun. Untuk memahami lebih jelas lagi arti kerugian sebesar
US$42.6 Triliun itu, mari kita bandingkan dengan uang yang dihabiskan oleh
semua orang yang melancong di atas muka bumi ini. Kalaupun digabung-
gabungkan dengan sektor-sektor terkaitnya (usaha-usaha kecil menengah, cindera
mata, entertainment, pendidikan, kesehatan, retail, kelautan) total uang yang
beredar dari bisnis pariwisata global pada tahun 2007 diperkirakan baru mencapai
US$7 Triliun. Jadi, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya krisis keuangan global
kali ini.
Jadi, sekali lagi, dunia ini menjadi gelap karena awannya memang benar-
benar gelap. Percuma saja kita menerangi awan yang pekat itu dengan sebatang
lilin harapan, karena badainya luar biasa kuat. Tapi, dimanakah awan gelap itu? Ia
bisa pindah, bisa juga berubah, mencair, mencabik-cabik cakrawala dengan kilatan
petir, lalu menghilang berganti menjadi awan putih. Sementara awan yang gelap
telah berpindah ketempat yang lain.

Kegusaran Melanda Dunia
Besarnya pengaruh ekonomi Amerika Serikat sangat terasa di masa krisis.
Kerugian yang terjadi di sektor keuangan dengan cepat melanda berbagai sektor
lainnya. Kala ekonomi pasar terguncang, masyarakat sudah terlanjur hidup
konsumtif dan materialistis, dan mereka kehilangan harapan. Kegusaran, ketakutan
dan ancaman-ancaman riil menyebar begitu cepat ke seluruh dunia termasuk ke
Singapura, Malaysia, Australia dan Indonesia. Tetu saja ada ketakutan-ketakutan
riil dan ada ketakutan perseptual yang belum tentu benar adanya. Semua pesan itu
seakan-akan ditujukan ke satu titik, yaitu kepada setiap pemerintah yang berkuasa:
Cepat lakukan sesuatu, saatnya melakukan perubahan dan bertindak agar selamat.
Proyeksi Laurentia Pasaribu
Memasuki tahun 2009, semua orang merasa was-was tak terkecuali Laurentia
Pasaribu, atau yang sangat kita kenal sebagai Mama Laurent. Ramalan-ramalannya
banyak dipercaya publik, baik awam, pengusaha maupun politisi. Meski ia bukan
peramal akademis, proyeksi Mama Laurent diturunkan di sini karena nasehatnya
didengar oleh publik. Lebih dari itu, proyeksi Mama Laurent berikut ini sejalan
dengan hal-hal yang disampaikan peramal akademis yang didukung oleh data-data
faktual:
1. Akan ada banyak pengangguran pada pertengahan 2009
2. Perusahaan-peruahaan akan mengalami banyak kesulitan setelah melewati
pertengahan 2009
3. Perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspor akan mengalami kesulitan
menembus pasar, sementara importir akan kesulitan memasukkan barang-
barangnya karena dihambat pemerintah
4. Kesulitan-kesulitan itu baru akan berangsur-angsur membaik setelah
melewati paling cepat satu setengah tahun

Ekonom pun Mengatakan Ekonomi akan Gelap
Proyeksi yang diberikan ekonom di tahun 2009:
- Pengagguran akan meluas
- Perusahaan besar dan kecil akan kesulitan keuangan dan mengalami
kebangkrutan
- Penjualan menurun dan daya beli konsumen merosot
- Sekitar 30-50% dai total kekayaan menghilang tergerus krisis
- Bank-bank akan bersikap menghindari risiko dengan lebih selektif dalam
memberi pinjaman
- Perbankan akan mengalami kredit macet
- Pertumbuhan negara-negara maju akan sangat melambat
- Semua negara melakukan stimulasi perekonomian secara progresif untuk
menggerakkan sektor riil

Mereka Melihat Negeri Kita tidak Berawan Tebal
Meskipun ketakutan-ketakutan terhadap bencana resesi keuangan global telah
menular dan menjadi epidemi di mana-mana, pengusaha dari negeri yang sedang
menghadapi badai berkabut tebal itu (Amerika Serikat dan Eropa Barat) justru
melihat peluang ada di sini. Ekonomi perputaran adalah awal bagi ekonomi daya
beli dan keinginan membeli. Dari negara-negara yang sudah terkena dampak krisis
keuangan global, para pelaku usaha melihat ruang yang besar untuk tumbuh itu
justru ada di sini. Yang masih jadi masalah adalah ekonomi perputaran, bukan
daya beli itu sendiri. Dan perputaran masih terhambat oleh birokrasi yang terkesan
kuno dan penug belenggu.

sumber : Marketing in crisis, Renald Khasali
http://nataliswidhiasti.wordpress.com/2013/03/29/firma-cipikebi-coklat/
http://irpantips4u.blogspot.com/2010/10/macam-macam-organisasi-struktur.html

Anda mungkin juga menyukai