Anda di halaman 1dari 21

Shared by:

Dr. Taufik., S.Psi., M.Si


MEMBANGUN
KECERDASAN SPIRITUAL
kecerdasan
Intellectual Quotient (IQ)
Emotional Quotient (EQ)
Spiritual Quotient (SQ)
Kapasitas yang menggambarkan kegiatan
mental:berpikir, mencari penjelasan, dan
memecahkan masalah secara logis.
Berdasarkan tes IQ, dapat ditentukan
kemampuan terkait dengan angka, kata-kata,
visualisasi, daya ingat, penjelasan deduktif-
induktif, dan kecepatan persepsi.
Menjelaskan kemampuan seseorang untuk
mendeteksi dan mengelola emosi.
4 level kecerdasan emosi (Goleman):
quotient
Self awareness
Self management
Social awareness
Relationship management
Kemampuan memahami makna dan nilai dalam
kehidupan (Danah Zohar & Ian Marshal)
IQ dan EQ terintegrasi dengan SQ.
Kecerdasan spiritual yang tinggi ditandai dengan
tercapainya kehidupan berimbang antara karier dan
pribadi/keluarga, serta kepuasan hidup yang
diwujudkan dalam bentuk memberikan kontribusi
positif pada lingkungan.
quotient

IQ

EQ

SQ

HASIL













BUTA HATI
DIKTATOR
PERTAPA
INSAN
PARIPURNA
jurus
Informasi
Inteligensi
Inovasi
Inisiatif
Insyaallah
5i
spiritual
Zohar & Marshal:
Saat ini era bodoh secara spiritual ditandai dengan:
materialisme, egoisme, kehilangan makna dan
komitmen.
Bahkan kekeringan spiritual terjadi karena produk IQ
manusia yang tinggi.
Krisis spiritual terjadi karena kebutuhan makna tidak
terpenuhi sehingga hidup manusia terasa hampa dan
dangkal.
Menyadari di mana saya saat ini
Merasakan keinginan untuk berubah
Merenungkan apa motivasi yang paling dalam
Menemukan dan mengatasi rintangan
Menggali banyak kemungkinan untuk maju
Menetapkan hati pada sebuah jalan
Tetap menyadari bahwa ada banyak jalan
cerdas spiritual
Bersikap fleksibel
Kesadaran diri tinggi
Mampu menghadapi & memanfaatkan penderitaan
Mampu menghadapi dan melampaui rasa sakit
Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai
Enggan melakukan perbuatan sia-sia
Berpandangan holistik
Cenderung bertanya mengapa dan bagaimana
Kemudahan bekerja melawan konvensi
cerdas spiritual
Zohar & Marshal:
Walau mengandung kata spiritual SQ tidak selalu
terkait dengan kepercayaan atau agama. SQ lebih
kepada kebutuhan dan kemampuan manusia untuk
menemukan arti dan menghasilkan nilai melalui
pengalaman yang mereka hadapi.
Hanya saja, SQ akan berprinsip pada apa?
Beberapa penelitian menunjukkan
seseorang yang menjalankan agama,
umumnya memiliki tingkat SQ lebih tinggi
dibandingkan dengan mereka yang tidak
menjalankannya.

Dalam bukunya Handbook of Religion
and Health, Harold G. Koenig
menyatakan orang yang melakukan
ibadah, ternyata hidup lebih lama (7-14
tahun) dan memiliki kesehatan fisik
yang lebih baik dibandingkan orang
yang tidak melakukan ibadah.

Orang dengan SQ tinggi biasanya lebih cepat pulih
dari suatu penyakit, baik fisik maupun mental. Ia
lebih mudah bangkit dari penderitaan, lebih tahan
menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang
karena memiliki sikap mental positif, serta lebih
ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani
kehidupan.
Kisah mantan mahasiswa bengal

Orang dengan SQ rendah, keberhasilan dalam
hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dll
ternyata tidak selalu mampu membuatnya
bahagia. Persaingan dan perbedaan
kepentingan yang berlangsung begitu ketat
membuat manusia kehilangan arah dan
identitas.
Kemajuan zaman dapat membutakan manusia
dengan SQ rendah untuk menjalankan visi dan misi
hidupnya, membuat ia lupa melakukan refleksi diri
dan lupa menjalankan perannya sebagai bagian dari
komunitas.
Kesibukan kerja dan keberhasilan yang dicapai tidak
diamalkannya untuk penciptaan arti dan nilai bagi
lingkungan.
Delapan tahun lalu, seorang kawan datang ke
kontrakan saya, ia minta ditunjukkan bagaimana
menghabiskan uangnya. Sejak beberapa tahun
terakhir usaha meubelnya laku keras, ia punya
penghasilan perbulan sekitar Rp. 110.000.000,-
Permohonan dia: MAS TOLONG AKU, UANGKU MAU
DIGUNAKAN UNTUK APA?
Seorang isteri di daerah pantura menuturkan kepada
saya, bahwa suaminya mengeluarkan zakat mal
pertahun minimal Rp. 60.000.000,- artinya ia
memiliki penghasilan bersih pertahun 60.000.000 X
40 = 2.400.000.000,- tetapi ia mengaku hidupnya
kosong tanpa makna.
Seorang guru SD di pedesaan Boyolali, memperoleh
gaji perbulan Rp. 75.000,- rupiah. Meski gajinya kecil
ia mengaku bersyukur dan uang itu bisa digunakan
untuk kebutuhan keluarga, disamping juga
mengandalkan hasil kebunnya yang tidak seberapa.
Bahkan ia menuturkan kedua anaknya berprestasi di
sekolah.
sekian