Anda di halaman 1dari 19

4 Universitas Indonesia

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Xilitol
Xilitol merupakan senyawa gula polialkohol dengan lima atom karbon.
Senyawa ini secara luas digunakan pada industri makanan dan kimia. Xilitol
memiliki sifat antikariogenik, menguatkan gigi, dan remineralisasi gigi
(Domnguez, Jose, Noelia, & Sandra, 2012). Xilitol terdapat pada berbagai macam
buah dan sayuran seperti raspberry, strawberry, jamur, kembang kol, jagung,
anggur, dan pisang dalam jumlah yang sangat kecil (Chen, Zi-Hua, Sanfeng, &
Wensheng, 2010; Parajo, Herminia, & Jose, 1998).
Xilitol telah digunakan sebagai bahan tambahan makanan dan pemanis
untuk menggantikan sukrosa, serta digunakan pada permen karet, mint, dan pasta
gigi karena maanfaat klinisnya. Xilitol telah menarik perhatian karena
potensialnya yang memiliki tingkat kemanisan yang hampir sama dengan sukrosa.
Namun, mengandung kalori yang lebih rendah yaitu 2,4 kal/g dibandingkan
dengan sukrosa 4,0 kal/g (Granstrom, Ken, & Matti, 2007).
2.1.1 Sifat Fisika dan Kimia Xilitol (British Pharmacopeia, 2009)

[Sumber: Rowe, Sheskey, & Owen, 2006]
Gambar 2.1 Struktur xilitol

Nama kimia : Xilitol
Rumus kimia : C
5
H
12
O
5

Berat molekul : 152,15 g/mol
5

Universitas Indonesia
Titik leleh : 92-96
o
C
Titik didih : 216
o
C
Densitas : 1,52 g/cm
3

Karakteristik : serbuk kristal atau kristal berwarna putih, sangat larut dalam air,
larut dalam etanol 96%

2.1.2 Manfaat Xilitol
Xilitol secara luas digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan
kesehatan. Sejak tahun 1960-an xilitol telah digunakan di Jerman, Swiss, Uni
Soviet, dan Jepang sebagai pemanis untuk penderita diabetes. U.S Food and Drug
Administration (FDA) telah menyetujui penggunaan xilitol sebagai diet makanan
pada tahun 1963. FDA mengijinkan penambahan xilitol pada selai untuk diet
khusus (Mkinen, 2000).
Xilitol memiliki banyak keuntungan sebagai bahan tambahan makanan
dan tidak menyebabkan reaksi Maillard karena tidak bereaksi dengan asam amino
yang memungkinkan penggunaan untuk nutrisi parenteral. Ketika digunakan
dalam diet, xilitol tidak menyebabkan obesitas. Xilitol dalam formulasi makanan
dapat meningkatkan warna dan rasa tanpa menyebabkan perubahan sifat fisik
selama penyimpanan. Xilitol dapat digunakan untuk memperbaiki gangguan
katabolik (lipolisis perifer, stimulasi glukoneogenesis, degradasi protein otot) dan
berkontribusi pada efek anabolik (Parajo, Herminia, & Jose, 1998). Ketika
digunakan sebagai eksipien, xilitol dapat memberikan sensasi yang menyegarkan
(Rowe, Sheskey, & Owen, 2006). Selain itu, xilitol juga bersifat sebagai pemanis
anti kariogenik sehingga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan mulut dan
pencegahan karies gigi (Nigam & Singh, 1995).
2.1.3 Produksi Xilitol
Xilitol terdapat secara alami dengan jumlah yang kecil dalam berbagai
macam sayur dan buah. Namun, ekstraksi dari sumber tersebut dianggap tidak
komersial. Produksi secara kimiawi melalui hidrogenisasi katalitik D-xilosa yang
didapatkan dari hidrolisis hemiselulosa dengan bantuan katalis logam pada suhu
6

Universitas Indonesia
80-140
o
C dan tekanan 50 atm (Hyvnen, Koivistoinen, & Voirol, 1982; Parajo,
Herminia, & Jose, 1998).
Xilan dikonversi menjadi xilosa melalui hidrolisis dan kemudian
dihidrogenasi menjadi xilitol. Xilitol kemudian dimurnikan dan dikristalisasi.
Sebagai fraksi hemiselulosa yang mengandung gula lainnya, dibutuhkan
pemurnian yang intensif untuk didapatkan xilitol yang murni. Produksi xilitol
secara kimiawi relatif mahal karena proses pemurnian yang berulang-ulang serta
prosesnya dibutuhkan tekanan yang tinggi. Sejak saat itu dikembangkan produksi
xilitol yang lebih ekonomis dengan menggunakan mikroorganisme (Nigam &
Singh, 1995; Parajo, Herminia, & Jose, 1998).
Produksi xilitol secara bioteknologi melalui proses fermentasi
memanfaatkan bakteri, kapang, dan khamir untuk mengkonversi xilosa menjadi
xilitol. Proses secara bioteknologi ini memiliki beberapa keuntungan yaitu reaksi
reduksinya selektif terhadap xilosa. Reaksinya berlangsung pada suhu dan tekanan
yang rendah, biayanya murah karena berasal dari mikroorganisme (Granstrom,
Ken, Matti, 2007; Parajo, Herminia, & Jose, 1998).
Pada bakteri, konversi D-xilosa menjadi D-xilulosa dikatalisis oleh xilosa
isomerase secara langsung. Xilosa isomerase juga ditemukan pada C. boidinii,
Malbranchea pulchella, and Meurospora crassa. Pada sebagian besar jamur dan
khamir, konversi D-xilosa menjadi D-xilulosa membutuhkan dua tahap. Pertama,
D-xilosa direduksi menjadi xilitol oleh NADH- atau NADPH-dependent xilosa
reduktase. Xilitol ini kemudian disekresikan sebagai metabolit atau dioksidasi
lebih lanjut menjadi D-xilulosa oleh NAD- atau NADP-dependent xilitol
dehidrogenase (Chen, Zi-Hua, Sanfeng, & Wensheng, 2010).




7

Universitas Indonesia

















[Sumber: Ghindea, Ortansa, Ileana, Ana-Maria, & Tatiana, 2010, telah diolah kembali]
Gambar 2.2 Jalur metabolisme D-xilosa pada khamir

2.2 Xilosa
Xilosa merupakan aldopentosa, suatu monosakarida yang tersusun dari
lima buah atom karbon dengan gugus aldehid. Xilosa dihasilkan dari bahan-bahan
yang mengandung hemiselulosa yang terdapat dalam kayu ataupun bahan lainnya
dengan cara hidrolisis (Sjstrm, 1995). Xilosa merupakan suatu pentosa dengan
rumus formula C
5
H
10
O
5
. Xilosa banyak terdapat dalam jambu biji, pir, blackberry,
loganberry, raspberry, brokoli, bayam, terong, kacang polong, kacang hijau, lidah
buaya, okra, kubis dan jagung. Di alam, xilosa ditemukan dalam bentuk
polisakarida sebagai xilan, arabinoxilan, glukoronoarabinoxilan, xiloglukan, dan
xilogalakturonan. Xilosa dapat digunakan untuk membantu mendiagnosa masalah
usus kecil dalam menyerap nutrisi, vitamin dan mineral yang ada pada makanan
(Wicklow, 2012).

8

Universitas Indonesia

[Sumber: British pharmacopeia, 2009)
Gambar 2.3 Struktur xilosa

2.3 Eceng Gondok

[Sumber: Tllez, Elsa, Gloria, Eva, Ricardo, & Juan, 2008]
Gambar 2.4 Eceng gondok
Eceng gondok atau yang dikenal dengan nama latin Eichhornia crassipes
merupakan tanaman invasif yang dapat menyebabkan masalah lingkungan.
Tanaman ini pertama kali ditemukan pada tahun 1983 oleh C. Von Martius yang
sedang mempelajari flora Brazil. Pada saat ini eceng gondok tersebar pada daerah
tropis dan subtropis karena aktivitas manusia pada jaman dahulu. Masalah utama
pada eceng gondok adalah karena tingkat pertumbuhannya yang cepat,
kemampuannya yang unggul dalam bersaing dengan tanaman air lainnya, serta
kemudahan propagasi (Tllez, Elsa, Gloria, Eva, Ricardo, & Juan, 2008).
9

Universitas Indonesia

[Sumber: Tllez, Elsa, Gloria, Eva, Ricardo, & Juan, 2008]
Gambar 2.5 Penyebaran eceng gondok

Eceng gondok merupakan tanaman yang prevalensinya tinggi di Indonesia
yang dikenal sebagai gulma. Eceng gondok kurang dimanfaatkan oleh
masyarakat. Namun, tanaman ini memiliki beberapa aplikasi seperti produksi
kertas, kerajinan tangan, dan tali (Ayudhya, Tanawut, Thikamporn, Ponpitak, &
Virapong, 2007). Tanaman ini memiliki kandungan hemiselulosa 30-55% dari
bobot kering (Nigam, 2002), sedangkan menurut Singh, Gaurav, Majumderb, dan
Sanjoy (2011) eceng gondok mengandung selulosa 18,4%; hemiselulosa 49,2%;
dan lignin 3,55% sehingga dapat dimaanfaatkan untuk produksi xilitol. Komposisi
rata-rata eceng gondok dapat dilihat dari Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Komposisi rata-rata eceng gondok
Kandungan % dari berat basah
Total padatan 5,0 7,6
Kelembaban 92,8 95,0
Padatan yang menguap (% dari total padatan) 4,2 6,1 (89,0 82,0)
Komponen organik (% dari total padatan)
Hemiselulosa 48,70 0,027
Selulosa 18,20 0,012
Lignin 3,50 0,004
Protein kasar 13,30 0,020
[Sumber: Nigam, 2002, telah diolah kembali]
10

Universitas Indonesia
2.4 Lignoselulosa
Lignoselulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel
tumbuhan. Sebagian besar lignoselulosa terdiri atas polimer yang saling
berhubungan yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Selulosa membentuk
skeleton yang dikelilingi oleh hemiselulosa dan lignin. Lignoselulosa memiliki
komponen dasar gula dan senyawa lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan produk yang bermanfaat seperti etanol, xilitol, bahan tambahan
makanan, asam amino, dan enzim (Mussatto & Teixeira, 2010).
2.4.1 Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan polimer heterogen linier dan bercabang yang
umumnya terdiri dari lima gula yang berbeda yaitu L-arabinosa, D-galaktosa, D-
glukosa, D-manosa, dan D-xilosa, serta komponen lain seperti asetat, glukuronat,
dan asam ferulat. Rantai belakang hemiselulosa dapat berbentuk homopolimer
(umumnya terdiri dari satu unit gula) atau suatu heteropolimer (campuran gula
yang berbeda). Berdasarkan gula pada rantai belakang, hemiselulosa
diklasifikasikan menjadi xilan, manan, glukan, glukuronoxilan, arabinoxilan,
glukomanan, galaktomanan, galaktoglukomanan, -glukan, dan xiloglukan
(Mussatto & Teixeira, 2010). Kandungan hemiselulosa dalam lignoselulosa
sekitar 25-35% dan mudah terhidrolisis menjadi gula fermentasi (Saha & Cotta,
2007).
2.4.2 Selulosa
. Selulosa merupakan homopolisakarida yang terdiri dari unit-unit -D-
glukopiranosa dengan ikatan -1,4-glikosida. Selulosa merupakan komponen
dasar lignoselulosa dengan komposisi sekitar 40-50% dari bobot kering (Joshi,
Megh, Dinita, Jarina, Rajani, & Lakshmaiah, 2011). Selulosa tersusun atas
polimer linier dan memiliki kecenderungan membentuk ikatan hidrogen
intramolekuler dan intermolekuler. Selulosa alami mempunyai bentuk amorf dan
kristalin serta bersifat tidak larut dalam kebanyakan pelarut. Selulosa dapat
dihidrolisis menjadi glukosa dengan menggunakan enzim atau asam (Howard,
Abotsi, Jansen van Rensburg, & Howard. S, 2003)
11

Universitas Indonesia
2.4.3 Lignin
Lignin merupakan komponen ketiga utama dari lignoselulosa dengan
komposisi sekitar 20-30%. Lignin merupakan polimer kompleks unit-unit fenil
propana yaitu p-kumaril, koniferil, dan sinafil. Lignin terikat kuat pada selulosa
dan hemiselulosa dan fungsinya adalah untuk memberikan kekakuan pada dinding
sel, memberikan impermeabiltas, dan sebagai barier terhadap serangan mikroba
(Joshi, Megh, Dinita, Jarina, Rajani, & Lakshmaiah 2011). Karena konfigurasi
molekulnya, lignin sangat tahan terhadap degradasi kimiawi dan enzimatik
(Howard, Abotsi, Jansen van Rensburg, & Howard. S, 2003; Palmqvist & Hahn-
Hagerdal, 2000).
2.5 Hidrolisis
Hidrolisis merupakan pemecahan molekul besar menjadi molekul yang
lebih kecil dengan penambahan molekul air. Polisakarida akan terbentuk menjadi
monomer-monomer penyusunnya melalui proses hidrolisis. Untuk mempercepat
hidrolisis, ditambahkan senyawa lain sebagai katalis yaitu berupa asam, basa, atau
enzim (Lowry, 1987).
Hidrolisis kimia dengan menambahkan asam pada lignoselulosa selama
periode dan temperatur tertentu, menghasilkan monomer gula dari selulosa dan
hemiselulosa. Hidrolisis sempurna dari selulosa menghasilkan glukosa, sedangkan
hemiselulosa mengasilkan pentosa dan heksosa. Hemiselulosa sebagian besar
terdiri dari manosa sehingga gula yang dihasilkan paling banyak umumnya xilosa
(Taherzadeh & Karimi, 2007).
Asam yang umumnya digunakan untuk hidrolisis lignoselulosa adalah
asam sulfat, asam klorida, dan asam nitrat. Proses hidrolisis dengan menggunakan
asam sulfat ada dua cara, pertama dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi
tinggi pada suhu rendah dan yang kedua dengan menggunakan asam sulfat encer
yang beroperasi pada suhu yang tinggi. Cara kedua merupakan cara yang paling
umum digunakan tetapi menghasilkan produk samping yang relatif besar (Joshi,
Megh, Dinita, Jarina, Rajani, & Lakshmaiah 2011). Produk samping tersebut yaitu
12

Universitas Indonesia
senyawa furfural, fenolat, dan asam asetat (Carvalheiro, Duarte, Lopes, Parajo,
Pereira, & Girio, 2004)
Penelitian yang dilakukan oleh Lee dan Jeffries (2011) yaitu
membandingkan efek penggunaan katalis asam pada hidrolisis lignoselulosa
seperti asam sulfat, asam maleat, dan sam oksalat. Asam maleat dan asam oksalat
mampu menghasilkan monomer gula yang lebih banyak daripada oligomer dan
meninggalkan residu yang lebih sedikit dari fraksi selulosa, hal itu berarti asam
dikarboksilat sangat selektif untuk hemiselulosa.
2.6 Khamir
2.6.1 Gambaran umum dan morfologi khamir
Khamir merupakan eukariot ber sel satu (uniseluler), tidak berfilamen,
berbentuk oval atau bulat, tidak berflagel, dan ukurannya lebih besar
dibandingkan sel bakteri dengan panjang dari 2 - 3 m hingga 20 - 50 m dan
lebar 1 10 m. Khamir bereproduksi dengat pertunasan (budding), pada proses
budding tumbuh sel baru yang kecil dari sel induk kemudian tumbuh membesar
dan memisahkan diri dari sel induk (Walker & White, 2005; Rehm & Reed,
1993). Bentuk bentuk sel khamir dapat dilihat pada Tabel 2.2.














13

Universitas Indonesia
Tabel 2.2 Bentuk-bentuk sel khamir

Bentuk sel Deskripsi Contoh khamir
Ellips Sel berbentuk oval Saccharomyces
Silindris Sel memanjang dengan ujung Schizosaccharomyces
Apikulat Sel berbentuk lemon Hanseniaspora,
Saccharomydes
Ogival Sel memanjang yang membulat
pada satu ujung dan meruncing
pada ujung yang lain
Dekkera, Brettanomyces
Bentuk botol
(Flask shaped)
Sel yang sedang membelah
dengan pertunasan
Pytosporum
Bentuk beraneka
ragam
Segitiga
Kurva
Sferis
Batang
Trigonopsis
Cryptococus
Debaromyces
Sterigmatomyces
Pseudofhia Rantai pada sel khamir yang
mengalami pertunasan dan
memanjang tanpa terjadi
pelepasan
Candida
Hifa Sel berfilamen yang bercabang
terbentuk akibat germ tube
Candida albicans
Dimorfik Khamir yang tumbuh secara
vegetatif baik sebagai khamir
maupun fungi berfilamen
Candida albicans
Saccharomyces
fibuligera
Kluyveromyces
marxianus
Malassezia furfur
Yarrowia lipopytica
Histoplasma capsulatum

[Sumber: Walker & White, 2005, telah diolah kembali]




14

Universitas Indonesia
2.6.2 Pertumbuhan Khamir

[Sumber: Walker & White, 2005]
Gambar 2.6 Pertunasan sel khamir dengan SEM (Scanning Electron Micrograph)
Khamir membutuhkan kondisi yang sesuai untuk dapat bereproduksi,
kondisi tersebut dipengaruhi oleh temperatur, nutrien, pH dan senyawa penunjang
lainnya. Khamir membutuhkan nutrisi yang sederhana dan dapat bertahan hidup
dengan baik pada kondisi aerob jika terdapat glukosa, garam ammonium, ion
anorganik dan beberapa faktor pertumbuhan. Makronutrien dibutuhkan dalam
konsentrasi milimolar, terdiri dari sumber karbon, nitrogen, oksigen, sulfur,
fosfor, kalium, magnesium. Sedangkan mikronutrien dibutuhkan dalam
konsentrasi mikromolar, terdiri dari trace element seperti kalsium, tembaga, besi,
mangan, dan zinc untuk pertumbuhan sel. (Walker & White, 2005).
Dalam kondisi aerob, khamir akan mengasimilasi gula dan nitrogen
anorganik ke dalam tubuhnya dan menggandakan diri dan beratnya setiap dua jam
sekali Sedangkan dalam kondisi anaerob, khamir akan memfermentasi karbon
dioksida dan alkohol berlebih (Becze, 1955).
Pertumbuhan pada khamir dapat digambarkan melalui suatu kurva
pertumbuhan. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung kekeruhan media pada
khamir dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhan khamir memiliki beberapa fase
(Gandjar, Sjamsuridzal, & Oetari, 2006) antara lain:
15

Universitas Indonesia
1. Fase lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan, pembentukan
enzim-enzim untuk mengurai substrat
2. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan fase lag menjadi
fase aktif
3. Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat
banyak, aktivitas sel meningkat, dan fase ini merupakan fase yang penting
dalam kehidupan khamir
4. Fase deselerasi, merupakan akhir dari fase eksponensial, yaitu waktu sel-
sel mulai kurang aktif membelah. Pada fase ini, dapat dipanen biomassa
sel atau senyawa-senyawa yang tidak diperlukan lagi oleh sel
5. Fase stasioner, yaitu fase ketika jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel
yang mati relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus
yang horizontal
6. Fase kematian dipercepat, yaitu ketika jumlah sel-sel yang mati atau tidak
aktif sama sekali lebih banyak dari pada sel-sel yang masih hidup
2.6.3 Debaryomyces hansenii
Debaryomyces hansenii dapat ditemukan di habitat dengan aktivitas air
yang rendah, seperti air laut. Selain itu juga dapat diisolasi dari keju, daging,
anggur, bir, buah dan tanah. D.hansenii merupakan salah satu khamir berminyak
dengan akumulasi lipid mencapai 70% dari biomassa dan metabolismenya
didominasi oleh jalur metabolisme lipid. D.hansenii sangat heterogen, seperti
variasi kemampuan untuk mengasimilasi dan memfermentasi berbagai sumber
karbon, perbedaan aktivitas ekspresi protease dan lipase serta kondisi
pertumbuhan yang optimal. Untuk mengkonversi xilosa menjadi xilitol,
D.hansenii telah dimanfaatkan selama beberapa dekade. Jumlah hasil biokonversi
oleh D. hansenii didapatkan mirip atau lebih besar dibandingkan produsen xilitol
lain yang sering digunakan seperti Candida sp, C. guilliermondii, dan C.
parasilosis (Breuer & Hams, 2006).
16

Universitas Indonesia

[Sumber: Breuer & Harms, 2006, telah diolah kembali]
Gambar 2.7 Skema metabolisme xilosa oleh D. Hansenii

2.7 Media Fermentasi
Komposisi media yang digunakan untuk kultivasi mikroorganisme
merupakan sesuatu yang penting baik untuk skala laboratorium maupun untuk
proses fermentasi skala industri. Hal tersebut dapat berdampak pada hasil analisis
galur dan kinerja galur. Pada skala laboratorium, relatif mudah untuh
menumbuhkan pada media kultur yang kompleks seperti malt extract atau potato
dextrose agar (PDA). Keduanya kaya akan karbon dan berada pada rentang pH
asam. Media kultivasi didesain untuk merefleksikan komposisi utama dan
kapasitas biosintetik pada sel mikroba. Ketika komposisi utamanya relatif sama,
kapasitas biosintesis mikroba dapat sangat berbeda (Hahn-Hgerdal, Kaisa,
Christer, Marie, Johann, & Willem, 2005; Walker & White, 2005).


D-xilosa
xilitol
xilulosa
xilulosa-5-fosfat
Jalur pentosa fosfat
reaksi penyusunan kembali
6-fosfat-glukonat
glukosa-6-fosfat
fruktosa-6-fosfat
gliseraldehid-3-fosfat
etanol piruvat biomassa
17

Universitas Indonesia
Komponen-komponen yang penting pada media kultivasi antara lain:
1. Sumber karbon
Sumber karbon dibutuhkan untuk menyediakan energi untuk sel
sekaligus menjadi materi pertumbuhan dan materi sintesis metabolit
primer dan sekunder.
2. Sumber nitrogen
Sumber nitrogen dibutuhkan untuk tumbuh dan mensintesis
komponen seperti protein dan asam nukleat. Jumlah nitrogen dalam media
akan menentukan biomassa yang akan didapatkan untuk beberapa jenis
sel.
3. Substrat lain
Komponen penting lain yang digunakan untuk sel tumbuh dan
berfungsi secara sesuai seperti garam-garam anorganik (McNeil & Harvey,
2008).
Trace element atau mikronutrien merupakan komponen-komponen lain
yang dapat ditambahkan. Hal tersebut berkaitan dengan aktivitas enzim sebagai
katalis dan juga pertumbuhan sel. Beberapa sel tidak dapat membuat faktor
pertumbuhannya sehingga media yang digunakan harus ditambahkan faktor
pertumbuhan yang diperlukan. Kedua komponen ini ditambahkan ke dalam media
dalam jumlah kecil. (McNeil & Harvey, 2008; Walker & White, 2005)
Untuk media kultivasi khamir, pada umumnya yang paling sering
digunakan adalah Yeast Extract-Peptone (YP). YP adalah medium yang terbuat
dari ektrak khamir dan pepton. Medium ini mengandung semua komponen yang
dibutuhkan untuk propagasi sel termasuk zat untuk biosintesis dan sering
digunakan pada fase inisial fermentasi dimana diperlukan inokulum dalam jumlah
besar (Hahn-Hgerdal, Kaisa, Christer, Marie, Johann, & Willem, 2005)


18

Universitas Indonesia
Komposisi media Yeast Extract-Peptone (YP):
NH
4
Cl 0,4 g
KH
2
PO
4
0,1 g
K
2
HPO
4
0,1 g
MgSO
4.
7H
2
O 0,05 g
FeSO
4
.7H
2
O

0,005 g
Ekstak khamir 0,4 g
Aquadest ad 100 mL
pH disesuaikan hingga mencapai 6 (Suryadi, Tohoru, Nobuyaki, Shinsuke,
& Yoshiki, 2000)

2.8 Analisis Biomassa secara Turbidimetri
Pengukuran turbidimetri adalah penjumlahan cahaya yang diabsorbsi dan
diteruskan oleh medium, sel dan partikel lain. Pengukuran biasanya dilakukan
pada panjang gelombang 600-700 nm dimana absorbsi cahaya oleh komponen sel
minimum. Pengukuran harus dilakukan menggunakan alat spektrofotometer yang
sama. Konversi nilai hasil pengukuran turbidimetri dan bobot sel kering akan
memberikan nilai yang bervariasi bergantung pada komposisi dan bentuk sel serta
komposisi media (Rehm & Reed, 1993).
2.9 Respon Surface Method
Response Surface Method (RSM) merupakan suatu metode gabungan
antara teknik matematika dan teknik statistik, digunakan untuk membuat model
dan menganalisa suatu respon y yang dipengaruhi oleh beberapa variabel bebas
untuk mengoptimalkan respon tersebut. Hubungan antara respon y dan variabel
bebas x adalah (Bradley, 2007):
y =

(1)

dimana:
y = variabel terikat sebagai fungsi dari

= variabel bebas sebagai respon dari y


= error
19

Universitas Indonesia
2.9.1 Central Composite Design
Disain ini terdiri dari (Khuri & Siuli, 2010):
1. Disain faktorial lengkap (atau fraksi) dari 2
k
dengan level yang
dikodekan sebagai -1, 1. Disain ini disebut bagian faktorial.
2. Sebuah bagian aksial terdiri dari 2k yang diatur sedemikian rupa
sehingga dua titik pada masing - masing sumbu variabel kontrol pada
jarak dari pusat disain (dipilih sebagai titik pada sistem koordinat
asal)
3. Titik pusat n
0


Pada Gambar 2.8 menunujukkan disain yang melibatkan titik faktorial (2
k
),
titik aksial (2k) dan satu titik pusat (n0). Sehingga jumlah titik (n) = 2
k
+ 2k + n0


[Sumber : Lundstedt et al., 1998, telah diolah kembali]
Gambar 2.8 Central Composite Design untuk 3 variabel

2.10 Metode Analisis Xilosa dan Xilitol Secara Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi
Metode analisis xilosa dan xilitol secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT) menggunakan kolom yang cocok untuk pemisahan diikuti dengan deteksi
spesifik pemisahan senyawa secara individual. Berbagai jenis kolom telah
titik faktorial
titik aksial
titik pusat
20

Universitas Indonesia
digunakan untuk pemisahan D-xilitol dari karbohidrat dan poliol gula lainnya
antara lain kolom amino-based carbohydrate, kolom asam organik HPX-87H,
kolom TSK amide 80 dan kolom ion-exclusion. Berbagai jenis metode deteksi,
antara lain deteksi Ultra-Violet (UV), deteksi elektrokimia, deteksi reflective
index (RI), dan deteksi evaporative light-scattering (ELS) digunakan untuk
metode secara KCKT. D-xilitol tidak memiliki gugus kromofor yang dibutuhkan
untuk deteksi dengan UV. Sehingga, metode deteksi KCKT yang kurang sensitif
seperti reflective index (RI) dan evaporative light-scattering (ELS) adalah yang
paling sering digunakan. Batas deteksi dan sensitifitas tergantuk pada jenis
detektor. Metode deteksi RI dan ELS memiliki batas antara 0.05 - 1.2 g/injeksi.
Metode deteksi amperometric dapat juga digunakan secara efisien ketika
digunakan dengan kromatografi ion menggunakan kolom Dionex dan pH fase
gerak lebih dari 12 (Chen, Zi-Hua, Sanfeng, & Wensheng, 2010).

2.10.1 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Kromatografi merupakan teknik pemisahan campuran berdasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen komponen campuran tersebut diantara dua
fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Kromatografi cair kinerja tinggi atau High
performance liquid chromatography (HPLC) merupakan teknik analisis yang
paling sering digunakan dan perkembangannya paling cepat dalam kimia analitik
(Harmita, 2006).

Metode dalam kromatografi cair dibagi atas dua macam:
1. Kromatografi cair retensif
Pemisahan dicapai melalui interaksi antara zat terlarut dengan
fase diam. Tipe ini mencakup fase normal, fase terbalik, dan
kromatografi ion.
2. Kromatografi cair non retensif
Pemisahan yang dicapai tergantung kepada perbedaan besar
molekul zat terlarut dimana terjadi interaksi antara zat terlarut dengan
pori-pori yang terdapat di permukaan fase diam. Tipe ini dikenal
sebagai kromatografi ekslusi.
21

Universitas Indonesia

Analisis dengan menggunakan KCKT keuntungannya adalah (Harmita,
2006)
a. Waktu analisis cepat
b. Daya pisahnya baik
c. Peka; kepekaannya sangat tergantung pada jenis detektor pada jenis
detektor dan eluen
d. Pemilihan kolom dan eluen sangat bervariasi
e. Kolomnya dapat digunakan kembali
f. Dapat digunakan untuk molekul yang besar maupun yang kecil
g. Mudah untuk memperoleh cuplikan kembali
Alat KCKT terdiri dari beberapa bagian, yaitu pompa, injektor, kolom,
detektor, dan integrator.

[Sumber : Adamovics, 1997, telah diolah kembali]
Gambar 2.9 Diagram alat kromatografi cair kinerja tinggi

2.10.2 Detektor Indeks Bias (RID = Refractive Index Detectors)
Detektor indeks bias (RID) memberikan respon berdasarkan perubahan
indeks bias yang disebabkan cuplikan (Harmita, 2006). Detektor indeks bias
(RID) mengukur perbedaan indeks bias antara fase diam dengan fase gerak.
Ruang pencampuran
Pompa
Kromatogram
Integrator
Detektor
Monitor
Katup dual-port
Wadah pelarut
Injektor
Katup multiport
Kolom analitik
Kolom guard
22

Universitas Indonesia
Sensitivitasnya rendah (0,01-0,1g) dan peka terhadap perubahan suhu dan laju
alir sehingga perlu dikontrol ( 0,001

C) agar sensitivitasnya tetap baik (Vogel,


1989). Deteksinya bersifat universal dan sering digunakan untuk analisis gula,
trigliserida, asam organik, eksipien farmasi, dan polimer (Dong, 2006).