Anda di halaman 1dari 18

Pengolahan Bahan Galian Page 1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah
Seperti yang kita ketahui didunia ini terdapat berbagai mineral-mineral yang
berharga yang memiliki nilai ekonomis, salah satunya adalah emas (Au). Emas adalah
unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol au (bahasa latin: 'aurum') dan
nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek,
mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas tidak bereaksi dengan zat
kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak
terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu
logam coinage. Kode isonya adalah xau. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu
sekitar 1000 derajat celcius. Sumber logam emas; dipakai untuk membuat perhiasan,
instrumen-instrumen saintifik, lempengan elektrode, pelapigigi dan emas lantakan.
Kebanyakan emas terdapat dalam urat-urat kuarsa yang terbentuk melalui
proses hidrotermal; dan sering bersama-sama pirit dan mineral-mineral sulfida yang
lain, telurid perak-emas, skhelit dan turmalin. Bila urat-urat mengandung emas
melapuk, maka emas-emas akan terpisah dan kemudian mengendap sebagai deposit
eluvial, atau terangkut oleh aliran air dan mengendap di suatu tempat sebagai deposit
letakan (placer deposit), bersama pasir, dan atau kerikil-kerakal. Karena hal inilah
diperlukan adanya beberapa cara untuk memisahkan emas dari mineral-mineral lain
yang melekat dengannya agar akhirnya emas memiliki nilai jual yang lebih tinggi.Ada
beberapa cara untuk memisahkan emas dari mineral-mineral yang melekat bersamnya
,yaitu dengan metode amalgamasi atau metode sianidasi yang akan kita bahas pada
makalah ini.
1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, kami memaparkan beberapa rumusan
masalah yang akan menjadi pokok bahasan, yaitu :
Apa yang dimaksud dengan emas?
Bagaimana proses terbentuknya emas?
Bagaimana cara mengolah emas?
Adakah penambangan emas di wilayah kalimantan tengah?




Pengolahan Bahan Galian Page 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Deskripsi Mineral
Deskripsi Mineral Logam : Emas (Au)




Tempat ditemukan : Sulida, Sumatra Barat

Sistem Kristal : Isometrik

Warna : Kuning Emas

Goresan : Kuning

Kilap : Metalik

Belahan dan pecahan : Tak ada ; hakli ( pecahan bergerigi dengan
ujung yang tajam ).

Kekerasan : 2,5 3

Berat jenis : 19,3

Genesis :
Kebanyakan emas terdapat dalam urat-urat kuarsa yang terbentuk melalui
proses hidrotermal; dan sering bersama-sama pirit dan mineral-mineral sulfida yang
lain, telurid perak-emas, skhelit dan turmalin. Bila urat-urat mengandung emas
melapuk, maka emas-emas akan terpisah dan kemudian mengendap sebagai deposit
eluvial, atau terangkut oleh aliran air dan mengendap di suatu tempat sebagai deposit
letakan (placer deposit), bersama pasir, dan atau kerikil-kerakal.

Manfaat :
Pengolahan Bahan Galian Page 3

Sumber logam emas; dipakai untuk membuat perhiasan, instrumen-instrumen
saintifik, lempengan elektrode, pelapis gigi dan emas lantakan.

Metode Penambangan :
Metode penambangan yang umum diterapkan adalah tambang bawah tanah
(underground ) dengan metode Gophering, yaitu suatu cara penambangan yang tidak
sistematis, tidak perlu mengadakan persiapan-persiapan penambangan ( development
works ) dan arah penggalian hanya mengikuti arah larinya cebakan bijih.


Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol au
(bahasa latin: 'aurum') dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan
univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas
tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua
regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di
deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode isonya adalah xau. Emas melebur
dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius.
Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya
berkisar antara 2,5 3 (skala mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan
kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya
berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut
umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam.
Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah
teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida,
sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan
selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di
dalamnya >20%.
Magma merupakan larutan silikat panas yang mengandung oksida,
sulfida dan zat-zat mudah menguap (volatile) yang terdiri dari air, CO2, S,
Chlorin, Fluorin dan Boron yang dikeluarkan ketika pembekuan magma terjadi.
Emas pembentukannya berhubungan dengan naiknya larutan sisa magma ke
atas permukaan yang dikenal dengan istilah larutan hidrothermal. Suatu cebakan bijih
hasil proses hidrothermal dalam pembentukkannya harus melalui tiga proses yang
meliputi proses differensiasi, migrasi dan akumulasi (pengendapan).

Proses differensiasi berlangsung pada magma sehingga dari suatu
sumber magma akan terbentuk berbagai macam mineral-mineral baru. Proses
differensiasi ini dapat diakibatkan oleh :

1. Kristalisasi
2. Gravitasi
3. Pemisahan cairan
4. Assimilasi

Melalui differensiasi unsur-unsur magma mengalami perubahan dan
membentuk endapan mineral sulfida dan oksida magmatik yang biasanya tersebar.
Sebelum kristalisasi berakhir seluruh cairan sisa akan ditekan keluar membentuk
pegmatit, dan kemudian apabila pemadatan telah atau hampir sempurna, akan
Pengolahan Bahan Galian Page 4

terbentuk larutan sisa magma yang mudah bergerak (larutan hidrothermal). Larutan
ini akan membentuk endapan logam/mineral epigenetik (Suganda).



Gambar 2. 1 Sistem hydrothermal magmatik(Corbett & Leach, 1995)

Seperti pada gambar 2.1 Larutan hidrothermal tersebut naik ke atas permukaan
melalui zona struktur seperti patahan, sesar, rekahan maupun kontak litologi, yang
kemudian bercampur dengan air meteorik sehingga mengalami proses pendinginan yang
akan membentuk urat-urat (vein) yang bentuknya tergantung dari rongga yang dihasilkan
oleh struktur. Selama terjadi proses ini batuan yang diterobos akan mengalami ubahan
(alterasi) yang diikuti oleh perubahan sifat fisik dan komposisi kimia. Perubahan
meliputi: perubahan warna, porositas dan tekstur. Zona alterasi sendiri terdiri dari :

Zona silisifikasi

Zona ini biasanya sangat keras, banyak mengandung kuarsa berukuran
kriptokristalin, berwarna putih agak bening, mineral pengikutnya saponit, khlorit,
anhidrit, gypsum dan andalusit.
Zona argilik
Dicirikan oleh kehadiran mineral lempung (kaolinit), pirit (FeS2), kalkopirit,
kuarsa selalu hadir dan biasanya terbentuk di dekat vein. Warnanya putih- kuning muda
kecoklatan, permeabilitas cukup besar, jika dipegang agak lunak.
Zona potasik
Pengolahan Bahan Galian Page 5

Terbentuk karena adanya penambahan unsur Fe dan Mg yang diikuti oleh adanya
sulfida dengan kadar rendah.

Zona propilit
Zona terluar dari sistem hidrothermal, warnanya hijau dan cukup keras,
dengan mineral pengikutnya klorit, epidot, kalsit, pirit, sedangkan mineral bijih yang
sering terkandung adalah galena, sphalerit sinabar.

Sistem hidrothermal berdasarkan tingkat kedalaman, tekanan dan
temperaturnya, dikelompokkan menjadi 3 sistem :

1. Hipothermal
2. Mesothermal
3. Epithermal

Endapan emas epithermal merupakan endapan hidrothermal yang terbentuk
pada temperatur rendah (50 0300C) pada kedalaman antara 0-1000m (Hedenquist,
1985). Ditinjau dari macam batuan yang ditempatinya (host rock), dibagi menjadi :
Batuan vulkanik
Batuan sedimen

Daerah pengendapan yang luas nilainya tidak terlalu ekonomis, endapan
ekonomis emas hanya dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme yang
menyebabkan peningkatan pengendapan dan pengkonsentrasian dalam suatu wilayah
yang terbatas mengingat kandungan emas yang sangat kecil. Ada beberapa tahapan
yang memungkinkan hal ini dapat terjadi :

o Pendinginan
o Interaksi air dengan batuan samping
o Pencampuran fluida
o Pendidihan fluid

2.2. Emas Berdasarkan Proses Terbentuknya
Berdasarkan proses terbentuknya, endapan emas dikatagorikan menjadi dua type
yaitu :
1. Endapan primer / Cebakan Primer
Cebakan primer merupakan cebakan yang terbentuk bersamaan dengan
proses pembentukan batuan. Salah satu tipe cebakan primer yang biasa
dilakukan pada penambangan skala kecil adalah bijih tipe vein ( urat ), yang
umumnya dilakukan dengan teknik penambangan bawah tanah terutama
metode gophering / coyoting ( di Indonesia disebut lubang tikus ).
Penambangan dengan sistem tambang bawah tanah (underground), dengan
membuat lubang bukaan mendatar berupa terowongan (tunnel) dan bukaan
vertikal berupa sumuran (shaft) sebagai akses masuk ke dalam tambang.
Penambangan dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana ( seperti
Pengolahan Bahan Galian Page 6

pahat, palu, cangkul, linggis, belincong ) dan dilakukan secara selektif untuk
memilih bijih yang mengandung emas baik yang berkadar rendah maupun
yang berkadar tinggi. Pada umumnya emas ditemukan dalam bentuk logam
(native) yang terdapat di dalam retakan-retakan batuan kwarsa dan dalam
bentuk mineral yang terbentuk dari proses magmatisme atau
pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses
metasomatisme kontak dan aktifitas hidrotermal, yang membentuk tubuh bijih
dengan kandungan utama silika. Cebakan emas primer mempunyai bentuk
sebaran berupa urat/vein dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan
urat kuarsa. Cebakan emas primer dapat ditambang secara tambang terbuka
(surface mining) maupun tambang bawah tanah (underground minning).
Sementara cebakan emas sekunder umumnya ditambang secara tambang
terbuka.


2. Endapan plaser / Cebakan Sekunder
Emas juga ditemukan dalam bentuk emas aluvial yang terbentuk karena
proses pelapukan terhadap batuan-batuan yang mengandung emas (gold-
bearing rocks, Lucas, 1985). Proses oksidasi dan pengaruh sirkulasi air yang
terjadi pada cebakan emas primer pada atau dekat permukaan menyebabkan
terurainya penyusun bijih emas primer. Proses tersebut menyebabkan juga
terlepas dan terdispersinya emas. Terlepas dan tersebarnya emas dari ikatan
bijih primer dapat terendapkan kembali pada rongga-rongga atau pori batuan,
rekahan pada tubuh bijih dan sekitarnya, membentuk kumpulan butiran emas
dengan tekstur permukaan kasar. Akibat proses tersebut, butiran-butiran emas
pada cebakan emas sekunder cenderung lebih besar dibandingkan dengan
butiran pada cebakan primernya (Boyle, 1979). Dimana pengkonsentrasian
secara mekanis melalui proses erosi, transportasi dan sedimentasi
(terendapkan karena berat jenis yang tinggi) yang terjadi terhadap hasil
disintegrasi cebakan emas pimer menghasilkan endapan emas letakan/aluvial
(placer deposit).


Pengolahan Bahan Galian Page 7




2.3. Proses Pengolahan Emas
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam pengolahan emas. Mulai dari cara
sangat tradisional dengan menggunakan dulang atau alat seperti kuali yang nantinya
akan diisikan tanah atau batuan yang berisikan logam emas lalu digoyang-goyang
sehingga nantinya logam emas akan tertinggal di dasar dulang. Proses ini bergantung
pada massa jenis logam tersebut. Cara ini biasanya mengolah emas yang bersifat
aluvial.
Selain itu ada juga dengan menggunakan sluice box atau dompeng dalam
istilah lokalnya. Alat ini juga memanfaatkan massa jenis dari logam emas yang dicari.
Alat ini menyedot pasir dan bebatuan yang ada di dasar sungai lalu menngalirkannya
pada jalur yang telah di lengkapi dengan serat atau karpet. Sehingga nantinya mineral
emas yang dicari akan mengendap pada serat atau fiber tersebut.
Pada pengolahan yang menggunakan zat kimia, memiliki beberapa tipe
pengolahan, yaitu dengan cara pencairan (liquid separation), amalgamasi, dan
sianidasi. Dalam makalah ini kita akan membahas pengolahan dengan Amalgamasi.
Amalgamasi
Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampurkan
bijih emas dengan merkuri (Hg). Dalam proses ini akan terbantuk ikatan senyawa
antara emas, perak, dan merkuri itu sendiri yang biasa dikenal sebagai amalgam (Au
Hg). Merkuri akan membentuk amalgam dengan logam lain selain besi dan platina.
Proses ini biasanya dilakukan pada penambangan emas skala kecil atau
tambang rakyat. Teknik penambangan ini memanfaatkan putaran yang diberikan oleh
drum. Sehingga, batua maupun akan hancur dan merkuri akan mengikat senyawa
emas yang terkandung dalam batuan tersebut. Proses amalgamasi biasanya digunakan
untuk pengekstraksi emas dalam butiran kasar.
Dalam penambangan ini tentunya didukung oleh penggunaan alat-alat. Pada
proses penambangan dibutuhkan peralatan sederhana seperti cangkul cangkul, sekop,
Pengolahan Bahan Galian Page 8

pahat, linggis, palu, genset, ember, timba (goelan) dan tali tambang, pompa air,
blower, kayu penyangga, sepatu tambang, helm tambang, dan perlengkapan lainnya.
Namun, dalam pengolahan bijih emas primer dibutuhkan beberapa peralatan penting,
yaitu :
1. Tabung amalgamasi (gelundung), sebagai tempat menggerus batuan sekaligus
berfungsi sebagai tempat amalgamasi.
2. Kincir air atau 2. genset yang berfungsi sebagai penggerak tabung amalgamasi.
3. Batang besi baja/media giling/3. rod sebagai alat penggerus batuan.
4. Air merkuri yang berfungsi untuk mengikat 4. emas.
5. Kapur yang berfungsi untuk mengatur pH agar 5. kondisi luluhan mempunyai
pH 9-10.
6. Air untuk mendapatkan persentasi padatan yang 6. berkisar antara 30-60%.
7. Dulang atau sejenisnya, sebagai tempat untuk 7. memisahkan air merkuri yang
telah mengikat emas perak (amalgam) dengan sisa hasil pengolahan (tailing).
8. Emposan yaitu alat untuk membakar amalgam untuk mendapatkan paduan
(alloy) emas perak (bullion).
Dengan bahan dan tersebut, proses amalgamasi untuk memproses atau
mengekstraksi emas dapat dilakukan. Dalam proses ini dilakukan beberapa tahap
untuk mendapatkan paduan antara emas dan perak (bullion). Tahapan-tahapan
pengolahan tersebut adalah :

1. Sebelum dilakukan amalgamasi hendaknya dilakukan proses kominusi dan
konsentrasi gravitasi, agar mencapai derajat liberasi yang baik sehingga
permukaan emas tersingkap.
Pengolahan Bahan Galian Page 9

2. Pada hasil konsentrat akhir yang diperoleh ditambah merkuri ( amalgamasi )
dilakukan selama + 1 jam
3. Hasil dari proses ini berupa amalgam basah ( pasta ) dan tailing. Amalgam basah
kemudian ditampung di dalam suatu tempat yang selanjutnya didulang untuk
pemisahan merkuri dengan amalgam
4. Terhadap amalgam yang diperoleh dari kegiatan pendulangan kemudian
dilakukan kegiatan pemerasan ( squeezing ) dengan menggunakan kain parasut
untuk memisahkan merkuri dari amalgam ( filtrasi ). Merkuri yang diperoleh
dapat dipakai untuk proses amalgamasi selanjutnya. Jumlah merkuri yang
tersisa dalam amalgan tergantung pada seberapa kuat pemerasan yang
dilakukan. Amalgam dengan pemerasan manual akan mengandung 60 70 %
emas, dan amalgam yang disaring dengan alat sentrifugal dapat mengandung
emas sampai lebih dari 80 %.
5. Retorting yaitu pembakaran amalgam untuk menguapkan merkuri, sehingga
yang tertinggal berupa alloy emas.
Namun, proses yang dilakukan di atas memiliki resiko yang sangat besar.
Limbah yang dihasilkan sangat berbahaya baik untuk pekarja, maupun untuk alam
kita. Maka dalam penambangan ini harus di perhatikan beberapa unsur. Unsur
tersebut antara lain :
1. Lokasi ekstraksi bijih harus terpisah dari lokasi kegiatan penambangan.
2. Dilakukan pada lokasi khusus baik untuk amalgamasi untuk meminimalkan
penyebab pencemar bahan berbahaya akibat peresapan kedalam tanah, terbawa
aliran air permukaan maupun gas yang terbawa oleh angin.
3. Dilengkapi dengan kolam pengendap yang berfungsi baik untuk mengolah
seluruh tailing hasil pengolahan sebelum dialirkan ke perairan bebas.
4. Lokasi pengolahan bijih dan kolam pengendap diusahakan tidak berada pada
daerah banjir.
5. Hindari pengolahan dan pembuangan tailing langsung ke sungai.
Dengan memperhatikan aspek-aspek di atas, bencana atau dampak negatif dari
proses pengolahan emas dengan cara amalgamasi ini dapat berkurang. Sehingga, alam
tetap bisa memulihkan diri kembali karena kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu
parah.
Selain itu, setelah proses penambangan selesai harus dilakukan tahapan
reklamasi. Proses ini merupakan proses pengembalian hutan atau alam yang rusak
kembali seperti semula. Proses ini biasanya dilakukan dengan cara penanaman hutan
kembali dengan memanfaatkan tanah humus atau tanah subur yang diangkat untuk
mendapatkan cadangan yang di tambang.
Proses reklamasi diharapkan bisa membuat bekas tambang menjadi kembali
subur. Hal ini dikarenakan pada proses penambangan pasti akan merusak alam sekitar
tambang tersebut.
Pengolahan Bahan Galian Page 10


DAMPAK NEGATIF MERKURI
Merkuri (air raksa, Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan
di alam dan tersebar dalam batu - batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai
senyawa anorganik dan organik. Merkuri merupakan logam yang dalam keadaan
normal berbentuk cairan berwarna abu-abu, tidak berbau dengan berat molekul
200,59. Tidak larut dalam air, alkohol, eter, asam hidroklorida, hidrogen bromida dan
hidrogen iodide; Larut dalam asam nitrat, asam sulfurik panas dan lipid. Tidak
tercampurkan dengan oksidator, halogen, bahan-bahan yang mudah terbakar, logam,
asam, logam carbide dan amine.
Merkuri dalam kadar rendah umumnya telah beracun bagi hewan, tumbuhan
dan manusia. Merkuri sangat berguna bagi pertumbuhan kebutuhan biologis. Namun
dalam kadar berlebihan akan bersifat racun. Sehingga pada saat ini alat-alat
kedokteran seperti termometer tidak menggunakan merkuri lagi.
Merkuri sangat berbahaya karena sifat mengikatnya. Bila merkuri tercampur
dengan perairan laut, maka merkuri tersebut akan mengikat klor dan membentuk
HgCl. Selanjutnya HgCl dengan mudah akan masuk kedalam tubuh plankton dan
akan berpindah kebiota laut lain. Merkuri anorganik (HgCl) akan berubah menjadi
merkuri organik (metil merkuri) oleh peran mikroorganisme yang terjadi pada
sedimen dasar perairan. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan karbon membentuk
senyawa organo-merkuri. Senyawa organo-merkuri yang paling umum adalah metil
merkuri yang dihasilkan oleh mikroorganisme dalam air dan tanah. Mikroorganisme
kemudian termakan oleh ikan sehingga konsentrasi merkuri dalam ikan meningkat.
Tingkat konsumsi masyarakat terhadap ikan sangatlah tinggi. Sehingga merkuri yang
terkandung dalam ikan tersebut akan mudah berpindah ke tubuh manusia dan juga
akan merusak pada manusia.
Oleh karena itu limbah merkuri yang dihasilkan pada penambangan emas
rakyat tidak boleh langsung dibuang ke sungai. Limbah harus di endapkan terdahulu
di kolam pengendapan sehingga kadar Hg yang tinggi bisa berkurang.
Selain itu kadar Hg dalam air sungai akan merusak biota hidup air di sungai.
Merkuri akan meracuni air yang dimasukinya, sehingga akan membunuh makhluk
hidup yang ada di dalamnya. Merkuri juga merubah kelas air yang ada di alam ini.
Contohnya saja air kelas satu yang biasanya digunakan untuk air minum masyarakat.
Bila disekitar air tersebut terdapat penambangan emas rakyat, maka secara otomatis
Pengolahan Bahan Galian Page 11

air yang ada disana akan tercemar. Air kelas satu yang memiliki kualitas bagus akan
dengan mudah berubah menjadi air kelas tiga bahkan empat yang tidak akan bisa
kembali ke setuasi awalnya.
Sangat banyak kerugian yang diakibatkan merkuri tersebut. Tidak hanya pada
alam saja, tetapi juga berdampak kepada manusia. Banyak sekali penyakit pada
manusia yang disebabkan oleh merkuri tersebut. Diantaranya adalah :
1. Toksisitas yaitu penyakit gangguan sistem pencernaan dan sistem syaraf yang
disebabkan kontak langsung dengan merkuri. Biasanya penderita akan erasa tidak
nyaman, kesakitan, bahkan kematian.
2. Akumulasi Hg dalam tubuh dapat menyebabkan tremor, parkinson, gangguan
lensa mata berwarna abu-abu, serta anemia ringan, dilanjutkan dengan gangguan
susunan syaraf yang sangat peka terhadap Hg dengan gejala pertama adalah
parestesia, ataksia, disartria, ketulian, dan akhirnya kematian.
3. Wanita hamil yang terpapar alkil merkuri bisa menyebabkan kerusakan pada
otak janin sehingga mengakibatkan kecacatan pada bayi yang dilahirkan.
4. Garam merkuri anorganik bisa mengakibatkan presipitasi protein, merusak
mukosa saluran pencernaan, merusak membran ginjal maupun membran filter
glomerulus.
5. Merkuri juga menyebabkan penyakit kulit seperti gatal-gatal bahkan kanker
kulit. Kanker kulit sangat sering teradi saat ini. Hal ini di sebabkan karena
beberapa merk kosmetik memakai merkuri sebagai bahan baku pembuatan
kosmetik tersebut. Biasanya, kosmetik yang memakai bahan baku merkuri adalah
pada pembuatan kosmetik pemutih kulit. Proses pemutihan kulit dengan
menggunakan merkuri memang relatif cepat. Namun, jika pemakaian dihentikan
atau pemakaian dalam jangka penjang akan menyababkan kanker kulit.

Sangat banyak dampak negatif yang diakibatkan merkuri tersebut.
Penggunaan merkuri pada penambangan emas tidak hanya merugikan kepada pekerja
tambang tersebut, namun juga berdampak kepada alam dan masyarakat sekitar
penambanggan.
Sianidasi
Proses sianidasi dilakukan menggunakan larutan NaCN encer. Bahan yang
akan diolah dapat berupa bijih emas yang telah digiling atau Hg dari proses
amalgamasi. Proses ini didasarkan pada sifat emas dan perak yang dapat larut dalam
garam sianida dengan adanya oksigen. Larutan yang terbentuk kemudian ditambahkan
serbuk seng untuk mengendapkan emas dan perak. Proses penambahan seng ini
disebut proses Merill Crowe. Berikut adalah reaksi yang terjadi dari setiap proses:
Au(s) + 8NaCN(aq) + O2(g) + 2H
2
O(l) 4NaAu(CN)
2
(aq) + 4NaOH(aq)
4Ag(s) + 8NaCN(ag) + O
2
(g) + 2H
2
O(l) 4NaAg(CN)
2
(aq) + 4NaOH(aq)
NaAg(CN)
2
(aq) + Zn(s) 2NaCN(aq) + Zn(CN)
2
(aq) + 2Ag(s)
Pengolahan Bahan Galian Page 12

NaAu(CN)
2
(aq) + Zn(s) 2NaCN(aq) + Zn(CN)
2
(aq) + 2Au(s)
Sebenarnya selain seng aluminumpun dapat digunakan untuk mengendapkan
emas dan perak namun harganya relatif lebih mahal, sehingga pengendapan lebih
sering digunakan seng. Selain aluminium logam alkali dan alkali tahan misalnya
natrium dan magnesium dapat pula digunakan untuk mengendapkan emas dan perak,
namun larutan dari proses sianidasi mengandung air dalam jumlah yang cukup
banyak, maka akan terjadi reaksi yang hebat apabila ditambahkan logam alkali
maupun logam alkali tanah.
Pengendapan yang terbentuk berkaitan dengan deret volta atau deret atau
urutan kereaktifan logam, dimana logam-logam yang berada disebelah kiri dapat
mereduksi (mengantikan) logam-logam yang ada disebelah kanannya dalam
senyawaannya. Deret volta atau deret kereaktifan logam adalah sebagai berikut:

Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Ni Co Sn Pb H Cu Hg
Ag Pt Au

Emas yang diperoleh melalui proses amalgasi atau sianidasi belum dalam
keadaan murni karena masih bercampur dengan logam lain. Umumnya perak, arsen,
tembaga dan mungkin logam-logam yang lain yang dapat direduksi oleh seng
berdasarkan urutan kereaktifan logam. Untuk memperoleh emas murni umumnya
dilakukan dengan proses elektrolisis.
Pada tahap ini emas yang diperoleh dilarutkan lagi dalam NaCN kemudian
dielektrolisis, reaksi yang terjadi pada tahap pelarutan adalah sebagai berikut:
Au(s) + 8NaCN(aq) + O
2
(g) + 2H
2
O(l) 4NaAu(CN)
2
(aq) + 4NaOH(aq)
4Ag(s) + 8NaCN(ag) + O
2
(g) + 2H
2
O(l) 4NaAg(CN)
2
(aq) + 4NaOH(aq)
Pada proses elektrolisis digunakan emas murni sebagai anoda dan emas kotor
sebagai katoda. Selama proses elektrolisis berlangsung ion-ion emas akan bergerak
menuju anoda kemudian mengendap pada batangan emas murni yang digunakan
sebagia anoda. Reaksi yang terjadi pada tahap elektrolisis adalah sebagai berikut:
Katoda : Au
3+
(aq) + 3e Au(s) + 3e
Anoda : 2H
2
O(l) O
2
(g) + 4H
+
(aq) + 4e
Produk yang diperoleh dari proses elektrolisis, emas dan perak masih bersatu
sehingga perlu dilakukan elektrolisis berlanjut untuk memisahkan emas dan perak.
Pemisahan emas dan perak dapat dilakukan melalui dua tahap.
Tahap pertama: campuran emas dan perak dimasukan ke dalam kain kanvas.
Kain kanvas ini bertindak sebagai pembungkus sekaligus sebagai anoda pada proses
elektrolisis. Katoda digunakan perak murni sedangkan elektrolitnya digunakan perak
nitrat encer yang telah diasamkan dengan asam nitrat. Selama proses elektrolisis
Pengolahan Bahan Galian Page 13

berlangsung perak pada anoda akan larut dalam dalam elektrolit dan bergerak menuju
katoda. Pada katoda ion Ag
2+
direduksi menjadi padatan Ag yang akan melekat pada
katoda. Padatan perak yang terbentuk dapat diambil secara periodik, dicuci kemudian
dicetak. Perak yang diperoleh dengan cara ini mempunyai kemurnian 99,9%. Berikut
reaksi yang terjadi di ruang katoda dan anoda:
Katoda : Ag
2+
+ 2e Ag
Anoda : 2H
2
O(l) O
2
(l) + 4H
+
(l) + 4e
Dari proses elektrolisis di atas emas tidak ikut melarut karena emas
menempati urutan paling rendah dalam seri elektrokimia. Emas yang diperoleh dari
proses elektrolisi perak di atas belum dalam keadaan murni karena masih
mengandung sedikit perak. Untuk memperoleh emas murni maka dilakukan
elektrolisis pada tahap kedua.
Tahap kedua: pada tahap ini emas yang diperoleh dari proses elektrolisis
perak di atas dijadikan sebagai anoda, katoda menggunakan emas murni sedangkan
yang bertindak sebagai elektrolit adalah larutan aurik klorida (AuCl
3
) yang telah
diasamkan dengan asam klorida. Selama proses elektrolisis berlangsung emas dari
anoda, larut dalam elektrolit membentuk ion Au
3+
yang bergerak menuju katoda. Pada
katoda ion Au
3+
direduksi menjadi padatan emas yang akan melekat pada katoda.
Emas yang terbentuk diambil secara periodik, dicuci kemudian dicetak. Emas yang
diperoleh melalui cara ini mempunyai kemurnian 99,95%. Berikut rekasi yang terjadi
di ruang katoda dan anoda:
Katoda : Au
3+
(aq) + 3e Au(s) + 3e
Anoda : 2H
2
O(l) O
2
(g) + 4H
+
(aq) + 4e
Pada proses elektrolisis perak yang masih terkandung dalam emas ikut larut
dalam elektrolit tetapi akan segera bereaksi dengan klorida dari elektrolit membentuk
padatan AgCl yang dapat digunakan untuk proses selanjutnya.









Gambar Tabung untuk proses sianidasi
Pengolahan Bahan Galian Page 14

Alur Pengolahan Emas
Pada umumnya proses pengolahan emas diakukan dengan cara sianidasi dan
amalgamasi. Namun, karena alasan kesehatan dan kerusakan lingkungan yang
disebabkan, amalgamasi jarang digunakan kembali sehingga alur pemurian emas yang
digunaan saai tini adalah Komnusi, Pelindian, Solod-Liquid Separation, Vacum
Deaeration, Presipitasi, Filtration, Smelting, sehingga akan dihasilkan Dore Bullion.


Tahapan Pemurnian Emas
1. Kominusi terdiri dari tahap crushing dan grinding untuk membebaskan
emas dari mineral pengotornya secara fisik.

2. Tahap selanjutnya adalah leaching dengan leaching agent mengguakan
sodium sianid (NaCN) untuk melarutkan mineral emas dan perak yang ada.
Yang terdapat dalam bijih menggunakan reaksi kimia sebagai berikut :
4Au + 8NaCN +

> 4NaAu

+ 4NaOH
4Ag + 8NaCN +

> 4NaAg

+ 4NaOH

Pengolahan Bahan Galian Page 15

Pada reaksi pelindian ini memerluka oksigen agar emas teroksidasi menjadi
kationnya (

) yang kemudian kation emas ini membentuk kompleks


aurosianid Au

yang larut dan stabil dalam larutan pelindian




3. Kemudian dilakukan proses solid liquid dengan cara curent counter
decantation (CCD) dalam sejumlah thickener dan filtrasi menggunakan
press filter.
4. Kemudian melakukan proses deaerasi yaitu megeluarkan atau mengurangi
oksigen menggunakan vacum deaerator. Hal ini bertujuan mencegah
pelarutan kembali presipitat Au dan Ag serta pelarutan serbuk seng dengan
oksigen karena dapat meningkatkan konsumsi seng.

5. Tahap berikutnya adalah sementasi, tahap ini dilakukan dengan
menggunakan serbuk seng dan dilakukan didalam larutan bening untuk
mencegah proses pasivasi seng akibat tertutupi padatan yang tersuspensi
dalam slurry sehingga dapat memoercepat laju proses presipitasi. Proses
presipitasi adalah sebagai berikut :

2NaAu

+ Zn >

Zn

+ 2Au
2NaAg

+ Zn >

Zn

+ 2Ag

Pengolahan Bahan Galian Page 16

6. Sesudah itu dilakukan filtrasi Au-Ag. Larutan yang sudah dipisahkan dari
presipitate Au-Ag dapat digunakan kembali dalam CCD dan presipitate Au-
Ag dilebur menjadi bullion dan siap dikirim ke peurnian bullion.


2.4. Emas di Kaliman Tengah
Lahan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) potensial dijadikan
lokasi pertambangan emas dan sudah banyak pertambangan logam muliadigarap
masyarakat. Selain itu penambang emas rakyat juga banyak terdapat di hulu Sungai
Barito, hulu SungaiKahayan, Sungai Rungan, dan sungai-sungai lainnya yang
membuktikan Kalteng potensitambang emas di provinsi ini sangat besar.Sedangkan
sebuah perusahaan besar yang bergerak dalam penambangan emas adalah PT
Indomoro yang berada di wilayah Kabupaten Murung raya.
Penambangan emas sekaligus tambang puya/tambang rakyat ini menyebar di
mana-mana menggunakan mesin penyedot hingga menimbulkan persoalan
lingkungan.Berdasarkan pendataan yang dilakukan Dinas Pertambangan Kalteng,
terdapat sekitar 7.000 unitmesin untuk penambang emas dan puya di seluruh
Kalteng.Penambangan emas dan puya ini berada di Kabupaten Kapuas, Kotawaringin
Timur,Kotawaringin Barat, Barito Utara, dan kabupaten lainnya.Sementara data di
Dinas Pertambangan dan Energi Kalteng menunjukan bahwa endapantambang emas
di wilayah ini terdapat di Kabupaten Kapuas seperti di Kecamatan Kapuas
Hulu,Kecamatan Kapuas tengah dan Kecamatan Timpah.Sementara di Kabupaten
Gunung Mas endapan logam mulai ini berada di Kecamatan Tewah,Kahayan,
Rungan, Manuhing, Sepang, dan Kecamatan Kurun.Wilayah Kota Palangkaraya
endapannya berada di Sungai Takaras Kecamatan Bukit Baru, diKabupaten Murung
Raya berada di Kecamatan Sumber Barito, Permata Intan, dan KecamatanTanah
Siang.





Pengolahan Bahan Galian Page 17

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Emas (Au) merupakan salah satu mineral yang memiliki nilai ekonomis tinggi,
dan biasanya emas ditemukan di urat-urat pyrit sehinggi harus dilakukan proses
pemisahan emas dari mineral lainnya.
Berdasarkan proses terbentuknya emas terbagi 2 yaitu : cebakan sekunder dan
cebakan primer.
Ada 2 proses pengolahan emas, yaitu :
Amalgamasi : Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara
mencampurkan bijih emas dengan merkuri (Hg). Biasanya proses ini
digunakan pada pengolahan tambang rakyat karena bahan yang mudah
didapat dan harga pengolahan yang lebih murah.
Sianidasi : sianidasi dilakukan menggunakan larutan NaCN encer. Bahan
yang akan diolah dapat berupa bijih emas yang telah digiling atau Hg dari
proses amalgamasi. Proses ini wajib dipakai oleh perusahaan-perusahaan
karena lebih ramah lingkungan.
Persebaran emas ini juga banyak terdapat di wilayah kalimantan tengah salah
satunya di wilayah kabupaten murung raya, dimana terdapat perusahaan
PT.Indomoro (IMK) yang beroperasi disana. Dan juga terdapat banyak tambang
tradisional di Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur,Kotawaringin Barat,
Barito Utara, dan kabupaten lainnya.

3.2. Saran
Dengan dibuatnya Makalah ini, semoga Mahasiswa lebih mendalami lagi
mengenai pengolahan emas(au) dan semakin memahami apa itu emas . Dan
mempermudah materi pengolahan bahan galian emas untuk dipelajari.Terlebih lagi
menambah wawasan mahasiswa, terutama tim penulis mengenai bagaiamana cara
mengolah emas agar menjadi mineral yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Jadi, tim penulis berharap supaya materi yang telah dipaparkan pada makalah
ini agar bisa dipergunakan sebaik mungkin. Sehingga mampu membuka wawasan
pembaca tentang materi-materi yang bersangkutan dengan pengolahan emas.Dan tim
penulis juga mohon maaf jika dalam penulisan ,makalah ini terdapat banyak
kesalahan, karena itu tim penulis memohon untuk kritik dan sarannya agar pada
penulisan makalah selanjutnya tim penulis dapat lebih baik lagi.





Pengolahan Bahan Galian Page 18

DAFTAR PUSTAKA


http://www.scribd.com/doc/85428979/Daerah-Potensial-Emas-
Kalteng
http://id.wikipedia.org/wiki/Emas
http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2110364-pengertian-
emas/
https://pengolahanlogamemas.wordpress.com/tag/pengolahan-emas/
http://www.mineraltambang.com/amalgamasi.html
http://wanibesak.wordpress.com/tag/proses-pengolahan-bijih-emas-
secara-sianidasi/