Anda di halaman 1dari 23

Middle theory yang digunakan adalah Teori Fungsionalisme Struktural dari Talcott

Parson. Teori ini dipengaruhi oleh adanya asumsi bahwa ada kesamaan antara kehidupan
organisme biologis dengan struktur sosial yaitu adanya keteraturan dan keseimbangan
dalam masyarakat.
1
Asumsi dasar teori ini adalah bahwa masyarakat terintegrasi atas
dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang
mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut
dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu
keseimbangan. Dengan demikian masyarakat merupakan kumpulan sistem-sistem sosial
yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.
2

Sistem sosial terdiri dari sejumlah aktor-aktor individual yang saling berinteraksi
dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, aktor-
aktor yang mempunyai motivasi dalam arti mempunyai kecenderungan untuk
mengoptimalkan kepuasan yang hubungannya dengan situasi mereka didefinisikan dan
dimediasi dalam term sistem simbol bersama yang terstruktur secara kultural.
3

Seluruh tindakan manusia bersifat voluntaristik, artinya karena tindakan itu
didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang
disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat)
dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan
apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.
4


1
Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action Theory (New York: The Free Press,
1975), hlm. 45.
2
Pip Jones, Pengantar Teori-teori Sosial, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010) hlm. 67.
3
Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action Theory, hlm. 5-6.
4
Jonathan H. Turner, The Structure of Sociological Theory, (Illinois: The Dorsey Press, 1974), hlm.
30.
Prinsip-prinsip pemikiran Talcott Parsons, yaitu bahwa tindakan individu manusia
itu diarahkan pada tujuan. Di samping itu, tindakan itu terjadi pada suatu kondisi yang
unsurnya sudah pasti, sedang unsur-unsur lainnya digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Selain itu, secara normatif tindakan tersebut diatur berkenaan dengan penentuan
alat dan tujuan. Atau dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa tindakan itu dipandang
sebagai kenyataan sosial yang terkecil dan mendasar, yang unsur-unsurnya berupa alat,
tujuan, situasi, dan norma.
5

Tindakan setiap individu dapat digambarkan yaitu individu sebagai pelaku dengan
alat yang ada akan mencapai tujuan dengan berbagai macam cara, yang juga dipengaruhi
oleh kondisi yang dapat membantu dalam memilih tujuan yang akan dicapai, dengan
bimbingan nilai dan ide serta norma. Tindakanindividu juga ditentukan oleh orientasi
subjektifnya, yaitu berupa orientasi motivasional dan orientasi nilai. Tindakan individu
tersebut dalam realisasinya dapat berbagai macam karena adanya unsur-unsur lainnya.
Merujuk pada pendapat Talccott Parson maka aksi (action) itu bukan perilaku
(behaviour). Aksi merupakan tindakan mekanis terhadap suatu stimulus sedangkan
perilaku adalah suatu proses mental yang aktif dan kreatif. Ia beranggapan bahwa yang
utama bukanlah tindakan individu melainkan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang
menuntut dan mengatur perilaku itu. Kondisi objektif disatukan dengan komitmen
kolektif terhadap suatu nilai akan mengembangkan suatu bentuk tindakan sosial tertentu.
Talcott Parsons juga beranggapan bahwa tindakan individu dan kelompok itu dipengaruhi
oleh system sosial, system budaya dan system kepribadian dari masing-masing individu
tersebut. Talcott Parsons juga melakukan klasifikasi tentang tipe peranan dalam suatu

5
Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action Theory, hlm. 8.
system sosial yang disebutnya Pattern Variables, yang di dalamnya berisi tentang
interaksi yang afektif, berorientasi pada diri sendiri dan orientasi kelompok.
6

Selanjutnya Parson menyebutkan bahwa Teori Sistem adalah suatu kerangka yang
terdiri dari beberapa elemen/sub elemen/sub system yang saling berinteraksi dan
berpengaruh. Konsep system digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial
dengan berbagai system yang lebih luas maupun dengan sub system yang tercakup di
dalamnya. Contohnya adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai system, anak
merupakan sub system dan masyarakat merupakan supra system, selain kaitannya secara
vertikal juga dapat dilihat hubungannya secara horizontal suatu system dengan berbagai
system yang sederajat.
Masyarakat adalah suatu organisme hidup merupakan system yang terbuka yang
berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. System kehidupan ini
dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu interaksi antar bagian-bagian/elemen-elemen
yang membentuk system dan interaksi/pertukaran antar system itu dengan
lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori system umum (Grand Theory)
yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala system kehidupan, yaitu:
Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern Maintenance.
7

Setiap individu memiliki perilaku dalam bentuk gerakan fisik yang dilakukan
karena adanya suatu kebutuhan. Perilaku ini tidak ada kaitannya dengan kondisi
lingkungan sekitarnya. Misalnya perilaku seseorang untuk berpakaian apa adanya ketika
berada di kamar atau di rumahnya. Kemudian perilaku ini akan berubah ketika ia
dihadapkan pada orang lain yang akan menemuinya. Ia memakai pakaian yang layak

6
Soerjono Soekanto, Talcot Parson, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 31
7
George Ritzer, Sociological Theory, (New York: The Mcgraw-Hill Companies, Inc, 2010), hlm.
237.
dan rapi untuk menemui orang lain tersebut. Perilaku individu yang dipengaruhi oleh
lingkungan disebut dengan tindakan (action).
Pada dasarnya tindakan seseorang akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
sebagai contoh seseorang yang bertempat tinggal di pantai akan berperilaku dengan cara
bicara yang keras karena ia harus menyesuaikan diri (adaptation) dengan lingkungan di
sekitarnya. Tindakan seseorang dengan berbicara keras karena tinggal di sekitar pantai
bertujuan agar pihak yang diajak bicara bisa mendengarkan pembicaraannya tersebut.
Tujuan ini dalam teori Parson disebut goal attainment.
Tindakan dari individu yang berada pada suatu wilayah tidaklah sama, oleh karena
itu perilaku gerak fisik dan adaptasi lingkungan akan memunculkan adanya system
norma. Sistem ini berfungsi sebagai patokan bagi setiap individu di suatu masyarakat
agar menyelaraskan perilaku dan tindakannya sesuai dengan norma yang telah ditentukan
tersebut. Sistem sosial ini dilakukan secara terus-menerus (lattency) sehingga menjadi
sebuah system budaya (cultural system). Selanjutnya system budaya akan mengontrol
sistem sosial, sebagaimana sistem sosial mengontrol tindakan individu.
Hukum sebagai salah satu sub sistem sosial memiliki fungsi untuk mengontrol
perilaku dan tindakan setiap individu dalam suatu komunitas. Oleh karena itu perubahan
hukum akan dipengaruhi oleh system budaya dan perilaku individu. Sedangkan
perubahan system budaya akan dipengaruhi oleh perilaku dan tindakan individu. Sistem
norma hukum merupakan bagian dari system sosial dengan fungsi integrasi antar
individu. Pada saat yang sama ia merupakan fungsi dari kebudayaan. Maka, hukum
merupakan hubungan timbal balik antara system sosial dan system budaya serta individu
pada suatu komunitas.
8

Perubahan sosial dalam suatu masyarakat di dunia ini merupakan suatu hal yang
normal, yang tidak normal justru jika tidak ada perubahan. Demikian juga dengan
hukum, hukum yang dipergunakan dalam suatu bangsa merupakan pencerminan dari
kehidupan sosial suatu masyarakat yang bersangkutan. Dengan memperhatikan karakter
suatu hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat (bangsa) akan terlihat pula karakter
kehidupan sosial dalam masyarakat itu. Hukum sebagai tatanan kehidupan yang
mengatur lalu lintas pergaulan masyarakat, dengan segala peran dan fungsinya akan ikut
berubah mengikuti perubahan sosial yang melingkupinya.
Cepat atau lambatnya perubahan hukum dalam suatu masyarakat, sangat tergantung
dalam dinamika kehidupan masyarakat itu sendiri. Apabila masyarakat dalam kehidupan
sosialnya berubah dengan cepat, maka perubahan hukum akan berubah dengan cepat
pula, tetapi apabila perubahan itu terjadi sangat lambat, maka hukum pun akan berubah
secara lambat seiring dan mengikuti perubahan sosial dalam masyarakat itu.
9

Berdasarkan teori Fungsionalisme Struktural dapat diketahui bahwa perubahan
sosial dalam kehidupan masyarakat akan membawa konsekuensi pada perubahan hukum
dalam berbagai aspek kehidupan karena berbagai aspek tersebut saling kait mengkait satu
dengan yang lain. Oleh karena kehidupan masyarakat terus berubah sesuai dengan
perkembangan zaman, maka berubah pula budaya masyarakat di suatu tempat yang pada

8
George Ritzer, Sociological Theory, hlm. 240
9
Abdul Manan, Aspek-aspek Pengubah Hukum, (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 78
akhirnya diikuti pula dengan perubahan hukum. Sehingga perubahan hukum tidak bisa
lepas dari perubahan sosial, karena hukum sebagai sub sistem dari system sosial.
10

Apabila dikaitkan dengan masalah penelitian yaitu penerimaan hukum Islam, maka
perubahan hukum suatu komunitas tidak hanya disebabkan oleh perubahan struktur sosial
(social structure) tetapi juga perubahan system budaya (cultural system). Perubahan
hukum dalam penelitian ini adalah penerimaan mereka terhadap system hukum lain
dikarenakan adanya faktor internal dan eksternal pada masyarakat tersebut.

Salah satu bukti konkret betapa faktor lingkungan sosial budaya berpengaruh
terhadap hukum Islam adalah munculnya dua pendapat Imam Syafii yang dikenal
dengan qaul qadim dan qaul jadid. Pendapat lama (qaul qadim) adalah pendapat hukum
Imam Syafii ketika beliau berada di Mesir. Perbedaan pendapat hukum dalam masalah
yang sama dari seorang Mujtahid Imam Syafii jelas disebabkan faktor struktur sosial,
budaya, letak geografis yang berada antara daerah Iraq (Baghdad) dan Mesir
Dalam konteks historis, pemikiran bidang hukum Islam sesungguhnya
memperlihatkan kekuatan yang dinamis dan kreatif dalam mengantisipasi setiap
perubahan dan persoalan-persoalan baru. Hal ini dapat dilihat dari munculnya sejumlah
madzhab hukum yang memiliki corak sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang sisio-
kultural dan politik di mana madzhab itu tumbuh dan berkembang. Warisan monumental
yang sampai sekarang masih memperlihatkan akurasi dan relevansinya adalah kerangka
metodologi penggalian hukum yang mereka ciptakan.
Dengan perangkat metodologi tersebut, segala permasalahan bisa didekati dan
dicari legalitas hukumnya dengan metode qiyas, maslahah al-mursalah, istihsan, istishab,

10
Abdul Manan, Aspek-aspek Pengubah Hukum, hlm. 24.
dan urf.[12] Dalam posisi demikian, hukum Islam akan berfungsi sebagai rekayasa
sosial (social engineering) untuk melakukan perubahan dalam masyarakat

Sebenarnya Ibnu Qayyim rahimahullah tidak pernah menyampaikan ide perubahan
hukum Islam. Beliau, juga para ulama dan para imam terpandang lainnya, tidak pernah
membolehkan upaya menanggalkan nash dan hukum Islam dengan dalih apapun. Semua
yang dikatakan tentang adanya perubahan tersebut sebenarnya termasuk ke dalam
kategori: mengambil dalalah (pengertian) nash ketika terjadi perubahan situasi dan
kondisi. Hal ini sebenarnya termasuk bagian dari aktif-itas yang menjadi obyek hukum.
Pendapat Ibnu Qayyim yang suka dijadikan rujukan adalah: Pertama, pernyataan Ibnu
Qayyim di bawah judul, Pasal Tentang Perubahan dan Perbedaan Fatwa Sesuai dengan
Perubahan Waktu, Tempat, Situasi, Mat dan Kebiasaan.
Prinsip lain lain yang perlu mendapatkan perhatian dalam proses tasyri adalah
taqlil al-takalif (penyedikitan beban). Sewaktu Rasulullah SAW masih hidup, beliau
selalu berupaya meminimalisasi turunnya taklif (pembebanan) dari Tuhan. Sebagai
contoh, Rasulullah sengaja tidak datang ke mesjid melakukan shalat tarawih berjamaah
bersama-sama sahabatnya. Padahal tiga malam sebelumnya beliau secara berturut turut
melakukannya. Mengomentari sikap pasifnya tersebut beliau bersabda: saya hawatir
jangan-jangan shalat malam (tarawiih) diwajibkan atas kalian, lalu kalian tidak mampu
melakukannya. Semangat sunnah dari cerita inilah yang kemudian ditangkap dengan
jelinya oleh sahabat Umar bin Al-Khatthab sehingga pada masa khalifah ketiga ini shalat
tarawih diorganisir secara bersama-sama (berjamaah) di mesjid. Pertimbangan Umar,
bahwa sikap pasifnya Rasulullah mengorganisir shalat tarawih bukan berarti beliau
menganggap shalat tarawih secara jamaah tidak baik. Karuan saja, banyak kalangan
menuduh pendapat umar bergeser dari teks wahyu lantaran Rasulullah SAW belum
pernah melakukan hal demikian sebelumnya. Menghadapi tuduhan tersebut umar
berkomentar pendek: inilah sebaik-baiknya bidah.
Satu lagi prinsip tasyri atau dasar pembentukan hukum adalah adam al-haraj (tidak
menyulitkan). Dalam kaitan ini, proses pembentukan hukum harus didasarkan pada
prinsip pembasmian segala bentuk kesempitan dan kesulitan yang dihadapi ummat
manusia. Dalam teks wahyu tidak sedikit jumlah ayat yang mengungkapkan prinsip ini,
seperti QS al-Baqarah (2): 185; QS al-Baqarah (2): 286; QS al-Nisa (4): 28; QS al-
Maidah (5): 6; dan QS al-Hajj (22): 78.
Beberapa prinsip tasyri atau proses hukum di atas menyiratkan adanya keterkaitan
ajaran agama dengan kemaslahatan hamba sepanjang sejarahnya. Tak hanya itu,
kenyataan tersebut juga mengindikasikan bahwa hukum Tuhan dalam pengertiannya
yang substantif bukanlah postulat-posstulat teks yang sangat transenden. Sebaliknya,
hukum Tuhan merupakan rangkaian panjang proses pemaknaan teks itu sendiri melalui
mekanisme aktualisasinya sesuai konteks kemaslahatan ummat. Dengan kata lain,
rumusan hukum Tuhan bukanlah bentuk jadi dari wahyu verbal yang masih bersifat
umum dan sangan transenden. Sebaliknya, hukum Tuhan merupakan akumulasi dari
rangkaian pemaknaan teks secara kreatif dan dinamis untuk merespons aneka persoalan
sesuai konteks mashlahah. Karena itu, dalam tataran praksisnya hukum Tuhan mengalami
proses evolusi dari yang transendental dan global menjadi diktum-diktum hukum
operasional yang amat teknis mengatur beragam persoalan kemanusiaan sesuai tingkat
perubahan dan perkembangan yang dihadapi.
Asas hukum islam adalah suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan
Hukum Islam.

Macam-macam asas hukum islam adalah sebagai berikut :
1. Adam al-Haraj (Meniadakan Kesukaran)
Dalam menetapkan syariat Islam, al-Quran senantiasa memperhitungkan
kemampuan manusia dalam melaksanakannya. Itu diwujudkan dengan mamberikan
kemudahan dan kelonggaran (tasamuh wa rukhsah) kepada manusia, agar menerima
ketetapan hukum dengan kesanggupan yang dimiliknya.
2. Taqlil Al-taklif (Menyedikitkan pembebanan)
Prinsip kedua ini merupakan langkah prenventif (penanggulangan) terhadap
mukallaf dari pengurangan atau penambahan dalam kewajiban agama. Al-Quran tidak
memberikan hukum kepada mukallaf agar ia menambahi atau menguranginya, meskipun
hal itu mungkin dianggap wajar menurut kacamata sosial. Hal ini berguna memperingan
dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia pada umumnya, agar tercipta suatu
pelaksanaan hukum tanpa didasari parasaan terbebani yang berujung pada kesulitan.

3. Tadarruj fi al-Tasyri (Berangsur-angsur dalam pesyariatan)
Hal ini terkait erat dengan prinsip kedua, yakni tidak memberatkan umat. Karena
itulah, hukum syariat dalam al-Quran tidak diturunkan secara serta merta dengan format
yang final, melainkan secara bertahap, dengan maksud agar umat tidak merasa terkejut
dengan syariat yang tiba-tiba. Karenanya, wahyu al-Quran senantiasa turun sesuai dengan
kondisi dan realita yang terjadi pada waktu itu.
4. Muthobiqun Li Mashalihil Ummah (Sejalan dengan kemashlahatan ummat)
Manusia adalah obyek dan subyek legislasi hukum al-Quran. Seluruh hukum yang
terdapat dalam al-Quran diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan kehidupan umat,
baik mengenai jiwa, akal, keturunan, agama, maupun pengelolaan harta benda, sehingga
penerapan hukumnya al-Quran senantiasa memperhitungkan lima kemaslahatan, di
situlah terdapat syariat Islam.
5. Tahqiqul Adalah (Menghendaki adanya realisasi keadilan)
Persamaan hak di muka adalah salah satu prinsip utama syariat Islam, baik yang
berkaitan dengan ibadah atau muamalah. Persamaan hak tersebut tidak hanya berlaku
bagi umat Islam, tatapi juga bagi seluruh agama. Mereka diberi hak untuk memutuskan
hukum sesuai dengan ajaran masing-masing, kecuali kalau mereka dengan sukarela
meminta keputusan hukum sesuai hukum Islam.



Muhammad Abd Razzaq Manna, beliau menterjemah perkataan principle sebagai
mabda(prinsip), asl (asal), masdar (sumber), mansha (puncak), qanun (undang-undang) dan
asas. Lihat Muhammad Abd Razzaq Manna (1984), ad-Dalail: English-Arabic Dictionary, cet-2.
Al-Qaherah: Maktabah al-Mutanabbi, hlm. 596.

Ahmad Shalabi, syariah mempunyai dua prinsip hukum yang penting yaitu tiada kesempitan
(adam al-harj) {sesuai dengan firman Allah SWT QS. Al-Hajj (22): 78, QS. Al-Baqarah (2): 185, QS.
Al-Nisa (4): 28, QS. Al-Maidah (5): 6}, dan

berangsur-angsur dalam pensyariatan hukum (al-tadarruj fi al-tasyri), (lihat Ahmad Shalabi
(1981), Tarikh al-Tashri al-Islami, cet-2. Al-Qaherah: Maktabah al-Nahdah al-Al-Misriyyah, h.
128-130).

Manakalah menurut al- Khudari Bek, prinsip umum syariah ada tiga yaitu ditambah dengan
prinsip mengurangkan beban taklif {sesuai kaedah tiada taklif kecuali dalam perkara yang
mampu dilakukan, (lihat Muhammad al-Khudari (1994), Tarikh al-Tashri al-Islami, cet-2. Beirut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, h. 13-16);

sedangkan menurut Muhammad Yusuf Musa, mengemukakan tiga prinsip yang lebih mantap
yaitu tiada kesempitan dan mengangkat kesukaran (adam al-haraj wa rafaa al-masyaqqah),
memelihara kemaslahatan semua manusia (riayah mashalih al-nas jamia), mempatikan
keadilan sejagat (al-tahqiq al-adalah al-ammah), (lihat Muhammad Yusuf Musa (1958), al-Fiqh
al-Islami: Madkhal li Dirasah Nizam al-Muamalat fih, cet-3. Al-Qaherah: Dar al-Kitab al-Arabi,
hlm. 115-125).

Tadaruj fi Tasyri adalah sebuah metode bertahap yang ditempuh oleh Islam untuk
menyampaikan pesan-pesannya dalam membina masyarakat, baik dalam melenyapkan
kepercayaan dan tradisi jahiliyah maupun yang lain.
11
Islam tidak serta merta merubah
360 derajat sebuah keadaan awal. Ia lebih memilih jalan bertahap dalam menyampaikan
pesannya agar mudah dilaksanakan oleh umat. Karena syariat diturunkan dengan tujuan
yaitu kemaslahatan umat. Al Quran diturunkan kepada Nabi SAW secara bertahap
(berangsur-angsur) begitu pula Nabi SAW dalam menyampaikan hal itu kepada para

11
Yudian Wahyudi, Ushul Fikih Versus Hermenetika, (Jogjkarta: Pesantren NAWESEA Press,
2007), hlm. 98.
sahabat. Karenanya sangatlah wajar apabila salah satu metode pendidikan Nabi SAW
adalah graduasi.
Metode tadarruj yang digunakan oleh Islam merupakan metode yang diturunkan
oleh Allah untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sebagai contoh seseorang yang
lompat ke tahap akhir Al Quran, tentu akan mengatakan bahwa khamer adalah haram,
titik sebaliknya yang ingin memahami proses tadarruj ini sebagai kesatuan dinamis
tentunya akan menerapkan metode itu secara utuh ketika berhadapan pada suatu kasus
yang mirip.
12

Oleh karena Tadarruj dipandang sebagai metode, maka akan ditemukan kekayaan
hukum Islam. Dimana hukumnya yang selalu flesibel akan selalu sesuai dengan zaman
dan keadaan. Dan yang terpenting adalah terlaksananya dan teraplikasainya hukum-
hukum Allah. Yang jelas tersirat suatu metode penerapan dakwah yaitu suatu tahapan
dalam pembinaan masyarakat. Metode Tadarruj Ini dapat kita lihat dalam sejarah Islam.
Ketika dunia Islam telah bebas dari penjajaan Barat dan yang seterusnya terpecah
menjadi negara kebangsaan, dimana masing-masing mengurus sendiri segala sesuatu
mulai dari masalah sosial, ekonomi, hukum, politik dan kebudaayaan yang beraneka
ragam. Dengan segala perbedaan atau plural yang ada dalam suatu negara, maka ada
sesautu yang telah sesuai dengan syariat dan ada sesuatu yang jelas bertentangan. Maka
tidak mungkin hukum Islam akan menggantikan sekaligus hukum-hukum yang ada dan
berlaku dalam masayarakat, karena yang jelas akan terjadi kekagetan yang sangat, di sisi
lain tidak mungkin hukum Islam ditinggal seluruhnya. Oleh sebab itu maka metode
Tadarruj diperlukan dalam masalah ini, yaitu dengan membiarkan terus berlakunya
hukum yang memenui persyartan kemaslahatan umat dan mengganti aturan yang tidak

12
Ibid. hlm. 99.
sesuai dengan kebutuhan umat.
13
Oleh karena itu Tadarruj disini tidak hanya sebagai
cara untuk membaca penetapan hukum yang terkandung dalam Al Quran, namun juga
sebagai metode untuk penetapan suatu hukum atau dapat dijadikan sebagai kaidah fiqih.
Metode tadarruj ini juga diterapkan oleh nabi Muhammad SAW di akhir hayatnya,
meskipun Al Quran hampir tuntas penurunannya. Yaitu ketika nabi menutus Muadz bin
Jabal untuk berdakwah di Yaman pada tahun 10 H menjelang Haji Wada di mana
sekitar empat bulan lagi beliau wafat. Muadz tidak ditugaskan untuk mengajarkan agama
Islam secara sekaligus, melainkan secara bertahap padahal ajaran Islam pada saat itu
hampir lengkap karena masa turunnya Al Quran hampir selesai. Kepada Muadz Nabi
SAW berpesan, Kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Nashrani). Apabila
kamu sudah sampai di sana maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka sudah patuh
kepadamu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah
mewajibkan mereka untuk mengerjakan shalat lima kali dalam sehari semalam. Apabila
mereka sudah patuh kepadamu dalam mengerjakan shalat, maka beritahukanlah kepada
mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk mengeluarkan zakat yang dipungut
dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir
dikalangan mereka juga. Dan apabila mereka sudah patuh kepadamu dalam membayar
zakat, maka hindarilah olehmu harta-harta yang bagus milik mereka, dan takutlah kepada
doa orang yang didzalimi karena antara dia dengan Allah tidak ada penghalang sama
sekali.
Pentahapan al-Quran dalam menetapkaan hukum-hukumnya yang berkaitan
dengan tuntutan dan larangan mengerjakan sesuatu, berbeda dengan tuntutan dan

13

larangan yang berkaitan dengan aqidah atau kepercayaan. Dalam hal aqidah dan prinsip-
prinsip moral, al-Quran tidak mengenal pentahapan. Sejak dini al-Quran telah
mengajarkan tauhid, kebenaran, keadilan hormat kepada orang tua dsb.
14


D. Sejalan dengan Kemaslahatan Universal
Manusia adalah obyek dan subyek legislasi hukum al-Quran. Seluruh hukum yang
terdapat dalam al-Quran diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan kehidupan umat,
baik mengenai jiwa, akal, keturunan, gama, maupun pengelolaan harta benda, sehingga
penerapan hukumnya al-Quran senantiasa memperhitungkan lima kemaslahatan, di
situlah terdapat syariat Islam.
Islam bukan hanya doktrin belaka yang identik dengan pembebanan, tetapi juga ajaran
yang bertujuan untuk menyejahterakan manusia. Karenanya, segala sesuatu yang ada di
mayapada ini merupakan fasilitas yang berguna bagi manusia dalam memenuhi
kebutuhannya. Abdul Wahab Khalaf berkata, Dalam membentuk hukum, Syari (Allah
dan Rasul-Nya) selalu membuat illat (ratio logis) yang berkaitan dengan kemaslahatan
manusia, juga menunjukkan bebrapa buktu bahwa tujuan legislasi hukum tersebut untuk
mewujudkan kemaslahatan manusia. Di samping itu, Syari menetapkan hukum-hukum
itu sejalan dengan tiadanya illat yang mengiringinya. Oleh karena itu, Allah
mensyariatkan sebagian hukum kemudian merevisinya karena ada kemaslahatan yang
sebanding dengan hukum tersebut.
Contoh, proses diharamkannya khamar. Seperti diberitakan, bagi masyarakat sebelum
Islam, minuman khamar adalah sesuatu kebangaan dan lambang kehormatan. Dalam

14
Qurais Shihab, Tafsir Al Misbah (Jakartaa: Lentera Hati, 2002),hal. 438. Vol.2
kondisi seperti itu, tentu, akan sangat sulit menghentikannya. Karena itu, pada mulanya
al-Qur`an hanya memberi suatu isyarat terselubung tentang kejelekan khamar yang
dilukiskannya sebagai rizki yang tidak baik. Kemudian al-Qur`an memberi informasi
bahwa khamar mengandung mudarat (dosa) di samping beberapa manfaat.

Penjelasan ini mengubah anggapan kaum muslim yang mengira khamar sebagai
suatu kehormatan. Beberapa orang telah meninggalkannya, tetapi masih ada yang terus
mengkonsumsinya, bahkan ada yang shalat dalam keadaan mabuk hingga al-Qur`an
menegaskan (melarang) agar orang yang sedang mabuk jangan mengerjakan shalat.
Larangan ini jelas mempersempit kebolehan meminum khamar.
Pada saat kehidupan masyarakat muslim di Madinah sudah mapan, dengan tegas
Allah mengharamkan khamar dan menganggapnya sebagai perbuatan keji yang termasuk
perbuatan setan.
Pengharaman khamar secara periodik ini merupakan pelajaran penting, dimana
pembentukan kondisi masyarakat yang siap menerima ketetapan-ketetapan Islam harus
menjadi prinsip utama dan pertama dalam upaya penerapan norma-norma hukum Islam.
Di samping itu, harus senantiasa mengantisipasi persoalan-persoalan baru yang bakal
muncul dari suatu tindakan, sekalipun tindakan itu bertujuan baik dan diizinkan syarak.
(Di sinilah letak urgensi sadd al-dzarah sebagai salah satu metode penetapan hukum
Islam). Andaikan pengharaman khamar tidak secara bertahap, bisa diduga, tentu, akan
menimbulkan ketegangan, konflik, kesulitan, bahkan tidak mustahil taklif itu tidak akan
dipatuhi. Tetapi dengan cara bertahap, suatu aturan (taklif) akan lebih mudah diterima
dan dilaksanakan oleh masyarakat (seperti kasus pengharaman khamar di atas), apalagi
jika mereka mampu melihat dan merasakan manfaatnya.

Prinsip penetapan hukum secara berangsur-angsur nampak sekali dalam proses
pewahyuan hukum-hukum syara. Allah --melalui Rasul-Nya-- tidak menetapkan hukum
sekaligus, tetapi melalui tahapan yang mehabiskan waktu hampir 23 tahun. Ayat-ayat
hukum diturunkan, begitu juga kemunculan hadis Nabi, umumnya, sejalan dengan
adanya kejadian atau peristiwa yang membutuhkan jawaban hukum. Karena demikian,
setiap ketentuan hukum memiliki latar belakang kelahirannya yang khas.
Proses penetapan hukum yang secara berangsur-angsur serta adanya peristiwa-
peristiwa tertentu yang mengirinya, ternyata, membantu kaum muslim waktu itu untuk
lebih mudah memahami dan mengingat materi-materi hukum yang telah disyariatkan.
Selain itu, maksud diturunkan hukum tahap demi tahap, agar seiring dengan
kemaslahatan manusia. Dengan cara bertahap, ketentuan hukum yang berat (mengerjakan
atau meninggalkan sesuatu) akan terasa lebih ringan.
Teori ini menyebutkan bahwa penetapan hukum Islam dilakukan secara bertahap
(gradual) sesuai dengan berbagai situasi dan kondisi, baik situasi kultural maupun kondisi
psiko-sosialnya.

Di bawah ini akan dikemukakan suatu contoh terapan metode tadarruj yang
digunakan oleh syari untuk menetapkan suatu hukum sesuatu hal. Dan yang dimaksud
oleh syari adalah hukum final dari suatu rangkaian tadarruj, namun di sini kita akan
mencoba untuk memahapi proses dari penetapan hukum itu sendiri. Dan contoh yang
paling sering kita ambil adalah contoh penetapan hukum khamer bagi bangsa Arab yang
nota bene bangsa yang gemar meminum khamer ketika zaman penurunan syariat ini.

Metode Tadrarruj Dalam Penetapan Hukum Khamer: Khamer adalah jenis
minuman yang memabukkan. Bangsa Arab ketika itu adalah bangsa yang gemar minum-
miuman baik khamer atau minuman lain yang memabukkan. Bahkan mereka minum
khamer layaknya minum air putih dan menjadikannya sebagai kebutuhan sehari- hari.
Mereka meminum khamer tanpa adanya larangan apapun pada saat itu. Sehingga minum
khamer adalah suatu hal yang lumrah dan telah menjadi suatu adat dalam masyarakat
zaman itu.
Mereka meminum suatu zat yang dapat melupakan dan menghilangkan kesadaran.
Akibatnya akal warasnya akan lenyap beberapa saat hal inilah yang disebut saat-saat
mabuk. Dalam keadaan inilah seorang pemabuk akan melakukan apapun bisikan
nafsunya tanpa adanya control dari akal sehingga yang terjadi adalah kejahatan-
kejahatan. Membunuh, memerkosa dan keadaan yang jauh dari aman selalu terjadi pada
masa Arab pra Syariat. Selain itu akibat yang ditimbulakan dari minuman keras adalah
terkumpulnya penyakit-penyakit yang menumpuk dalam diri si peminum.
Dalam kondisi yag jauh dari kemaslahatan umat inilah, Allah menurunkan
syariatnya tentang hukum dari mibuman keras. Suatu hukum untuk menata kodisi yang
telah mentradisi dan menjadi hala umum ini hukum Allah diturunkan. Metode Allah
selaku pembuat syariat yang notabene bersifat veto, tidak serta merta menurunkan
hukum yang secara langsung merubah kondisi yang ada, namun menggunakan metode
step by step untuk merubah kondisi yang ada menuju kondisi yang ideal.
Kita dapat melihat ada empat tahapan ayat dalam menetapkan hukum khamer[9].
1. Tahapan pertama yaitu ayat yang berbunyi :

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki
yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi
orang yang memikirkan. (QS. al-Nahl (16): 67).
Berdasarkan ayat tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa ia mengisyaratkan
bahwa minuman ada dua macam; memabukkan dan rizki yang baik. dari sini kita dapat
simpulkan bahwa minuman yang memabukkan adalh minuman yang tidak baik dan
seharusnyaa dijauhi. Dan dalam ayat ini Allah tidak secara tegas melarang minum
khamer.
15
Allah hanya memberitahu bahwa minuman yang memabukkan adalah
minuman yang yang tidak baik dan hendaknyaa dijauhi.
2. Tahapan kedua yaitu ayat. yang berbunyi:


Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya
terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih
besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.
Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-
Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (QS. al-Baqarah [2]: 219).
Setelah Allah memberi tahu bahwa minuman dibagi menjadi dua: ada yang baik
dan ada buruk, selanjutnya Allah memberitahu bahwasanya khamer dan judi merupakan

15
Ibid. hlm. 196
hal yang buruk, dan keburukkannya lebih besar daripada manfaat yangditimbulkannya.
Dari ayat ini Allah telah melangkah satu tingkat lebih berani.
Dari awalnya yang hanya memberitahu bahwa khamer buruk, dan mempertegas
lagi bahwa keburukkannya lebih besar dari kebaikkannya Keburukkan yang dimaksud
adalah segala sesuatu ayag dari akibat khamer dan judi telah merusak tatanan
kemaslahatan umat. Sedangkan kebaikkannya adalah kenikmatan dan kepuasan jiwa yang
diperoleh dari judi dan khamer[11]. Menurut Qurai Shihab ayat ini belum dengan tegas
melarang, sehingga hanyalah orang yang tinggi kesadaranya yang menghindari perjudian
dan khamer.
3. Tahapan keiga yaitu turunnya ayat yang berbunyi:
O
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,..(QS. al-Nisa[4]: 43).
Asbabun Nuzul dari ayat ini adalah suatu ketika Ibnu Auf dan Anas meminum
khamer bersama orang banyak, kemudian mereka melaksanakan sholat dan imamnya
membaca surat dan salah karena dalam keadaan mabuk, yaitu Katakan hai orang-orang
kafir aku menyembah apa yang kamu sembah suatu penyimpangan yang menyesatkan.
Mengutip Qurais Shihab, bahwa dalam ayat ini telah menjelaskan larangan minium
khamer namun dalam waktu-waktu tertentu saja. bagi yang terbiasa minum seakan-akan
masih dibolehkan meminum khamer asalkan jauh dari waktu sholat, karena kekhawatiran
akan rusaknya bacaan dalam sholat saja.
16

4. Tahap yang ke empat adalah turunnya ayat QS. A l Maidah [5]:90-91 yang
berbunyi:

16
Ali Ahmad Al Jurjawi, Hikmah di Baalik Hukum Islam, (Jakarta, Mustaqim,2003), hal.348
O

O
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi
nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90).

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (91).
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Khottob mengharapkan kepada
Allah untuk menjelaskan secara sempurna dan tuntas tentang khamer. Sehingga turunlah
ayat ini[13]. Riwayat lain menceritakan bahwa ketika suatu hari Saad bin Abi Waqqash
meminum khamer bersama sahabat Ansar, dan mendendangkan syair-syair dengan
berbangga ria, kemudian Saad bin Abi Waqqash bersenandung sebuah syair yang
mencela kaum Ansor. Maka salah seorang diantara merekatiba-tiba memukul dan
kemudian mengadu kepada Rosulullah. Kenudian Rosulullah berdoa: Ya Allah ya
Tuhan kami, jelaskanlah khamer kepada kami dengan penjelasan yang menyembuhkan.
Maka turunlah ayat QS. Al Maidah [5]:90[14].Dari dua ayat inilah didapat kesimpulan
final tentang keharaman khamer untuk selamanya.

Metode tadarruj dapat kita lihat dalam sejarah Islam, ketika dunia Islam telah
bebas dari penjajaan Barat dan yang seterusnya terpecah menjadi negara kebangsaan,
dimana masing-masing mengurus sendiri segala sesuatu mulai dari masalah sosial,
ekonomi, hukum, politik dan kebudayaan yang beraneka ragam.
Segala perbedaan yang ada dalam suatu negara, semisal hukum-shukum yang
sesuai dengan syariat atau yang bertentangan tidak mungkin hukum Islam akan
menggantikan sekaligus hukum-hukum yang ada tersebut. Karena akan terjadi kekagetan
yang sangat, di sisi lain tidak mungkin hukum Islam ditinggal seluruhnya. Oleh sebab itu
maka metode tadarruj diperlukan dalam masalah ini, yaitu dengan membiarkan untuk
sementara berlakunya hukum yang memenui persyaratan kemaslahatan umat dan
mengganti aturan yang tidak sesuai dengan kebutuhan umat.
17


Al-tadarruj sebagai sebuah metode memunculkan kekayaan hukum Islam, dimana
hukumnya yang selalu fleksibel karena senantiasa sesuai dengan zaman dan keadaan
masyarakat. Lebih dari itu terlaksananya hukum-hukum Allah serta tersirat suatu metode
penerapan dakwah yaitu suatu tahapan dalam pembinaan masyarakat.
Metode tadarruj telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW di akhir hayatnya,
meskipun al-Quran hampir tuntas penurunannya. Ketika nabi mengutus Muadz bin Jabal
untuk berdakwah di Yaman pada tahun 10 H menjelang Haji Wada di mana sekitar
empat bulan lagi beliau wafat. Muadz tidak ditugaskan untuk mengajarkan agama Islam
secara sekaligus, melainkan secara bertahap padahal ajaran Islam pada saat itu hampir
lengkap karena masa turunnya Al Quran hampir selesai.
Kepada Muadz Nabi SAW berpesan, Kamu akan mendatangi orang-orang ahli
kitab (Nashrani). Apabila kamu sudah sampai di sana maka ajaklah mereka untuk
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Apabila mereka sudah patuh kepadamu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada
mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk mengerjakan shalat lima kali dalam
sehari semalam. Apabila mereka sudah patuh kepadamu dalam mengerjakan shalat, maka

17

beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk
mengeluarkan zakat yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka dan
dikembalikan kepada orang-orang fakir dikalangan mereka juga. Apabila mereka sudah
patuh kepadamu dalam membayar zakat, maka hindarilah olehmu harta-harta yang bagus
milik mereka, dan takutlah kepada doa orang yang didzalimi karena antara dia dengan
Allah tidak ada penghalang sama sekali.
Pentahapan al-Quran dalam menetapkaan hukum-hukumnya yang berkaitan
dengan tuntutan dan larangan mengerjakan sesuatu, berbeda dengan tuntutan dan
larangan yang berkaitan dengan aqidah atau kepercayaan. Dalam hal aqidah dan prinsip-
prinsip moral, al-Quran tidak mengenal pentahapan. Sejak dini al-Quran telah
mengajarkan tauhid, kebenaran, keadilan hormat kepada orang tua.
18


Perintah dalam ayat tersebut kemudian dijabarkan secara jelas oleh Nabi sebagai
kewajiban shalat lima waktu, sebagaimana perintah Nabi ketika mengutus Muadz ibn
Jabal ke Yaman, Kabarkan kepada mereka (penduduk Yaman), bahwasannya Allah
taala telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam.
Fungsionalisme Struktural digunakan untuk menganalisis bagaimana sebuah
perubahan itu terjadi pada suatu komunitas. Teori ini menyebutkan bahwa perubahan itu
dimulai dari perubahan individu yang terjadi karena adanya stimulus dari diri sendiri
(internal) dan luar dirinya (eksternal). Kemudian menularkan kepada orang lain di
sekitarnya dan akhirnya menjadi sebuah gelombang perubahan pada komunitas tersebut.


18
Qurais Shihab, Tafsir Al Misbah (Jakartaa: Lentera Hati, 2002),hal. 438. Vol.2