Anda di halaman 1dari 45

i

TUGAS

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK
TENTANG
(CRASH BOX)
















Oleh:

SYUKRON HAMDI F1C 111 075























Program S1 Teknik Mesin
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
2014


ii
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................................1
1.2 Tujuan .............................................................................................................................2
1.3 Langkah langkah Pengembangan ................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................4
2.1 Penelitian Sebelumnya ....................................................................................................4
2.2 Collapsible Impact Energy Absorber ..............................................................................4
2.2.1 Crash Box ...........................................................................................................4
2.2.2 Jenis-jenis Crash box ..........................................................................................5
2.3 Tekuk (Buckling) ............................................................................................................6
2.4 Proses Pengembangan Generik .......................................................................................8
2.5 Pengembangan Konsep : Proses Awal Hingga Akhir.....................................................9
2.6 Membuat Target Spesifikasi ......................................................................................... 10
2.7 Menentukan Spesifkasi Akhir....................................................................................... 11
2.8 Aktivitas Penyusunan Konsep ...................................................................................... 11
2.9 Tahapan Penentuan Konsep Produk ............................................................................. 11
2.10 Penyusunan Fungsi Produk .......................................................................................... 12
2.11 Proses Pengambilan Data Dengan Metode QFD .......................................................... 13
2.12 Data Material dan Dimensi Spesimen .......................................................................... 17
BAB III PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK ....................................... 19
3.1 Pernyataan Misi ............................................................................................................ 19
3.2 Alasan Pengembangan .................................................................................................. 20
3.3
BAB IV KESIMPULAN ......................................................................................................... 29
4.1 Pengelompokan Interpretasi Kebutuhan Pelanggan ..................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang


Seiring perkembangan teknologi, perkembangan sistem keamanan pada alat
transportasi sangat diperlukan dikarenakan semakin meningkatnya kebutuhan akan kendaraan
untuk menunjang mobilitas masyarakat. Berbicara mengenai alat transportasi maka tidak lepas
dengan kemungkinan kecelakaan lalu lintas yang akan terjadi, tentunya hal ini merupakan
sesuatu yang tidak diharapkan sehingga para produsen alat transportasi selalu berpikir untuk
memberikan solusi terhadap hal tersebut dengan cara menambahkan beberapa sistem
keamanan pada produknya agar dapat meminimalisasi efek yang ditimbulkan akibat
kecelakaan.

Dalam perkembangannya banyak sekali sistem keamanan yang diterapkan oleh para
produsen kendaraan bermotor khususnya kendaraan roda empat, salah satunya adalah crash
box, perangkat ini merupakan sistem keamanan pasif (passive safety system) dan merupakan
salah satu bagian dari crashworty system yang digunakan untuk mengurangi tingkat keparahaan
kecelakaan yang dialami penumpang atau bagian kendaraan yang vital seperti mesin akibat
frontal crash.

Crash box yang diletakkan diantara bumper dan rangka pada bagian depan kendaraan
merupakan bagian yang sangat penting sebagai penyerap energi impak dalam hal ini tabrakan
depan frontal crash. Crash box ini diharapkan mengalami deformasi dengan menyerap energi
impak sebelum mengenai bagian kendaraan yang lain seperti frame dan kabin sehingga
deformasi yang terjadi dapat diminimalisasi.
2
Velmurugan and Muralikannan (2009) meneliti karakteristik penyerapan energi pada
crash box dengan melakukan pengujian statik dan dinamik dari beberapa macam bentuk
penampang diantaranya lingkaran (circle), persegi (square), dan persegi panjang (rectangular)
masing-masing crash box memiliki keliling, ketebalan, dan tinggi yang sama, hasil penelitian
tersebut menunjukkan penyerapan energi spesifik pada penampang lingkaran (circle) lebih
tinggi dari penampang persegi (square) dan persegi panjang (rectangular) sedangkan
penampang persegi (square) lebih baik dari persegi panjang (rectangular).
Dari latar belakang inilah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai besar pengaruh
variasi diameter dan panjang crash box berpenampang lingkaran (circle) agar didapatkan
penyerapan energi dan perilaku deformasi yang baik, hal ini dilakukan untuk mendukung
hasil penelitian sebelumnya.

1.2 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh variasi diameter dan panjang crash box agar memiliki kemampuan menyerap energi
dan perilaku deformasi yang baik pada pengujian (Dropped weight impact).
Selain itu ada beberapa tujuan antara sebagai berikut :

a. Merancang dan mengembangkan produk terbaru Crash Box untuk memenuhi keinginan
pelanggan.
b. Merancang dan mengembangkan produk Crash Box untuk memenangkan persaingan dari
produk sejenis yang ada di pasaran.
1.3 Langkah-langkah Pengembangan


1. Menentukan produk yang akan dikembangkan beserta gambar produk yang ada di
pasaran
2. Mendapatkan alasan pengembangan baik dari kemungkinan peluang-peluang yang ada

maupun dari kebutuhan pelanggan melalui proses interview.
3

3. Mengelompokkan interpretasi kebutuhan pelanggan untuk mempermudah


pengidentifikasian.


4.

Konsep Desain produk alternatif


5.

Pemilihan Konsep Desain terbaik.


6. Menentukan spesifikasi dari produk yang terpilih

7. Membuat pernyataan misi dari konsep produk yang terpilih.

8. Menentukan prinsip kerja dari konsep produk yang terpilih
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Penelitian Sebelumnya


Velmurugan dan Muralikannan (2009) meneliti karakteristik penyerapan energi pada
crash box dengan melakukan pengujian statik dan dinamik dari beberapa macam bentuk
penampang di antaranya lingkaran (circle), persegi (square), dan persegi panjang (rectangular)
masing-masing crash box memiliki keliling, ketebalan, dan tinggi yang sama, hasil penelitian
tersebut menunjukkan penyerapan energi spesifik pada penampang lingkaran (circle) lebih
tinggi dari penampang persegi (square) dan persegi panjang (rectangular) sedangkan
penampang persegi (square) lebih baik dari persegi panjang (rectangular).

Berdasarkan penelitian di atas perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
bagaimana pengaruh variasi diameter dan panjang crash box berpenampang lingkaran (circle)
agar didapatkan ukuran yang baik dalam penyerapan energi dan perilaku deformasinya, hal ini
dilakukan untuk mendukung hasil penelitian sebelumnya

2.2 Collapsible Impact Energy Absorber

2.2.1 Crash Box


Crash box adalah salah satu jenis penyerap energi impak (Impact energy absorber)
yang diletakkan diujung rangka depan kendaraan yang berfungsi sebagai penyerap energi
impak akibat tabrakan pada bagian depan, pada saat terjadi tabrakan depan (frontal crash)
crash box diharapkan dapat terdeformasi dengan menyerap energi tabrakan sebelum
mengenai bagian yang dilindungi sehingga kerusakan pada rangka kabin utama dapat
diminimalisasi dan penumpang dapat selamat. Energi yang diterima oleh crash box saat
terjadi tabrakan diserap melalui deformasi plastis pada crash box itu sendiri, crash box
5
menyerap energi impak dan mengurangi gaya maksimalnya diamana seluruh energi
tabrakan didistribusikan secara merata dan besar gayanya tidak melebihi nilai yang
diizinkan agar struktur yang lain terlindung dari kerusakan yang parah. Agar crash box dapat
memproteksi struktur dengan baik maka desain crash box harus mengikuti kriteria sebagai
berikut :

Energi impak akibat tabrakan sebanyak mungkin harus dapat didistribusikan
menjadi deformasi irreversible atau energi tabraknya diubah menjadi deformasi
plastis.
Crash box adalah peralatan sekali pakai sehingga harus mudah diproduksi dan
biayanya rendah serta mudah pemasangan dan pelepasannya.
Crash box harus cukup panjang agar jalur deformasi untuk penyerapan energi
tabrakan semakin panjang pula, tetapi tidak mengambil terlalu banyak ruang pada
bagian depan kendaraan.





Gambar 2.1 Crash box pada struktur rangka kendaraan
Sumber : Liu Yanjie (2008)

2.2.2 Jenis-jenis Crash box

Crash box sebagai system keamanan pasif pada kendaraan memiliki beragam jenis
diantaranya adalah tabung berpenampang lingkaran( circular tubes), tabung berpenampang
6
persegi (square tubes), corrugated tubes, multicorner columns, frusta, struts ,honeycomb cells,
sandwich plates dan bentuk-bentuk khusus lain yang sesuai dengan kegunaannya sebagai
penyerap energi impak akibat tabrakan depan. Contoh jenis crash box dapat dilihat pada
gambar 2.2.









Gambar 2.2 Jenis-jenis Crash box

Sumber : Jiayao Ma and Zhong You (2008)


2.3 Tekuk (Buckling)

Buckling merupakan suatu jenis dari kegagalan struktur yang terjadi pada struktur
kolom atau struktur berbentuk tiang, hal ini terjadi akibat pembebanan secara aksial pada
struktur tersebut, jika suatu tiang yang tipis diberi tekanan maka tiang tersebut akan
membengkok dan terdefleksi secara lateral sehingga dapat dikatakan struktur tersebut
mengalami buckling. Dengan bertambahnya beban aksial pada struktur kolom maka defleksi
lateral juga akan bertambah dan pada akhirnya kolom akan benar-benar terdeformasi plastis.
Ilustrasi buckling dapat dilihat pada gambar 2.3.
7




Gambar 2.3 Buckling pada struktur kolom
Sumber :.Beer, 2006: 635

Crash box merupakan salah satu jenis komponen yang berfungsi untuk menyerap energi
kinetik akibat tabrakan dimana energi tersebut diubah kebentuk lain yaitu deformasi plastis
pada struktur dengan bentuk tekukan tekukan yang disebut buckling, sehingga dengan adanya
buckling pada crash box tersebut energi kinetik akibat tabrakan yang diterima oleh kendaraan
tidak langsung tersalur ke rangka utama yang akan menyebabkan kerusakan parah dan cidera
pada penumpang.

Terdapat 5 dimensi spesifik yang berhubungan dengan laba dan biasa digunakan untuk menilai
kinerja usaha pengembangan produk, yaitu:
1. Kualitas Produk

Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan dan dapat memuaskan
kebutuhan pelanggan. Kualitas produk pada akhirnya akan mempengaruhi pangsa pasar dan
menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan.
2. Biaya Produk

Biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya produksi setiap unit disebut
biaya manufaktur dari produk. Biaya produk menentukan berapa besar laba yang dihasilkan
oleh perusahaan pada volume penjualan dan harga penjualan tertentu.
3. Waktu Pengembangan Produk

Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi,
menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan teknologi dan pada akhirnya
8
akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima pengembalian ekonomis dari
usaha yang dilakukan tim pengembangan.
4. Biaya Pengembangan

Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen yang penting dari
investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit.
5. Kapabilitas Pengembangan.

Kapabilitas pengembangan merupakan aset yang dapat digunakan oleh perusahaan
untuk mengembangkan produk dengan lebih efektif dan ekonomis dimasa yang akan datang.

Perancangan dan pembuatan suatu produk baik yang baru atau yang sudah ada merupakan
bagian yang sangat besar dari semua kegiatan teknik yang telah ada. Kegiatan ini didapat dari
persepsi tentang kebutuhan manusia, kemudian disusul oleh penciptaan suatu konsep produk,
perancangan produk, pengembangan dan penyempurnaan produk, dan diakhiri dengan
pembuatan dan pendistribusian produk tersebut.
Di dalam suatu produk yang akan dikembangkan, tiaptiap elemen suatu produk
mempunyai fungsifungsi sendiri. Diantara fungsifungsi satu dengan yang lain terkadang ada
saling terkait, sehingga suatu fungsi komponen akan menentukan fungsi komponen lainnya.
Secara umum penentuan fungsi produk dapat dicari dengan dua langkah, yaitu :
Identifikasi dan penyusunan fungsi produk.

Pengelompokan fungsi produk.

Proses adalah merupakan urutan langkah-langkah pengubahan sekumpulan input menjadi
sekumpulan output. Proses Pengembangan produk adalah langkah-langkah atau kegiatan-
kegiatan di mana suatu perusahaan berusaha untuk menyusun , merancang, dan
mengkomersialkan suatu produk.

2.4 Proses Pengembangan Generik


Proses pengembangan produk yang umum terdiri dari enam tahap, yaitu:

1. Perencanaan

Kegiatan perencanaan ini sering dirujuk karena kegiatan ini mendahului
persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual.
2. Pengembangan Konsep

Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target diidentifikasi,alternatif
konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu atau lebih konsep dipilih
untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.
9
3. Perancangan Tingkatan Sistem

Fase perancangan tingkata sistem mencakup definisi arsitektur produk dan
uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta komponen-komponen.
4. Perancangan Detail

Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material dan
toleransi-toleransi dari seluruh komponen unik pada produk dan identifikasi seluruh
komponen standar yang dibeli dari pemasok.
5. Pengujian dan perbaikan

Fase pengujian dan perbaikan melibatkan konstruksi dan evaluasi dari
bermacam-macam versi produksi awal produk.
6. Produksi awal:

Pada fase produksi awal, produk dibuat dengan menggunakan sistem produksi yang
sesungguhnya.

2.5 Pengembangan Konsep : Proses Awal Hingga Akhir


Proses pengembangangan konsep mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Identifikasi kebutuhan pelanggan

Sasaran kegiatan ini adalah untuk memahami kebutuhan pelanggan dan
mengkomunikasikannya secara efektif kepada tim pengembangan.
2. Penetapan spesifikasi target

Spesifikasi memberikan uraian yang tepat mengenai bagaimana produk bekerja.

3. Penyusunan Konsep

Sasaran penyusunan konsep adalah menggali lebih jauh area konsep-konsep
produk yang mungkin sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
4. Pemilihan Konsep

Pemilihan konsep merupakan kegiatan dimana berbagai konsep dianalisis dan
secara berturut-turut dieliminasi untuk mengidentifikasi konsep yang paling
menjanjikan.
5. Pengujian Konsep

Satu atau lebih konsep diuji untuk mengetahui apakah kebutuhan pelanggan
telah terpenuhi, mengidentifikasi beberapa kelemahan yang harus diperbaiki selama
proses pengembangan selanjutnya.
6. Penentuan Spesifikasi akhir
10
Spesifikasi target yang telah ditentukan diawal proses ditinjau kembali setelah
proses dipilih dan diuji.
7. Perencanaan proyek

Pada kegiatan akhir pengembangan konsep ini, tim membuat suatu jadual
pengembangan secara rinci, menentukan strategi untuk meminimasi waktu
pengembangan dan mengidentifikasi sumber daya yang digunakan untuk
menyelesaikan proyek.
8. Analisis Ekonomi

Tim, sering didukung oleh analisis keuangan, membuat model ekonomis untuk
produk baru.
9. Analisa Produk-Produk pesaing

Pemahaman mengenai produk pesaing adalah penting untuk penentuan posisi
produk baru yang berhasil dan dapat menjadi sumber ide yang kaya untuk rancangan
produk dan proses produksi.
10. Pemodelan dan Pembuatan Prototipe

Setiap tahapan dalam proses pengembangan konsep melibatkan banyak bentuk
model dan prototipe.

Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataaan misi proyek terdapat
lima tahapan proses berikut :
1. Mengidentifikasi peluang

2. Mengevaluasi dan memprioritaskan proyek

3. Mengalokasikan sumberdaya dan rencana waktu

4. Melengkapi perencanaan pendahuluan proyek

5. Merefleksikan kembali hasil dan proses.

2.6 Membuat Target Spesifikasi


Target spesifikasi merupakan tujuan tim pengembangan yang berperan dalam menjelaskan
produk agar sukses di pasaran. Kemudian target spsesifikasi ini akan diperbaiki tergantung
kepada batasan konsep produk yang akhirnya dipilih.
Proses pembuatan target spesifikasi terdiri dari 4 langkah:

1. Menyiapkan gambar metrik dan menggunakan metrik-metrik kebutuhan, jika diperlukan.

Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung nilai produk yang
memuaskan kebutuhan pelanggan.
11
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika membuat daftar metrik:

a. Metrik harus komplit

b. Metrik merupakan variabel yang berhubungan (dependent), bukan variabel bebas
(independent)
c. Metrik harus praktis

d. Beberapa kebutuhan tidak dengan mudah diterjemahkan menjadi metrik terukur.

2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing.

3. Menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai untuk tiap metrik.

Nilai ideal adalah hasil terbaik yang diharapkan tim. Nilai yang dapat diterima secara
marginal adalah nilai metrik yang membuat produk diterima secara komersial.

2.7 Menentukan Spesifkasi Akhir


Menentukan spesifikasi akhir sangat sulit karena adanya trade-offs, yaitu hubungan
berlawanan antara dua spesifikasi yang sudah melekat pada konsep produk yang terpilih. Tahap
paling sulit untuk memperbaiki spesifikasi adalah memilih metode agar trade-off dapat
terpecahkan.

2.8 Aktivitas Penyusunan Konsep


Konsep produk adalah gambaran atau perkiraan mengenai teknologi , prinsip kerja, dan
bentuk produk. Konsep produk merupakan gambaran singkat bagaimana produk memuaskan
kebutuhan pelanggan.



2.9 Tahapan Penentuan Konsep Produk

1. Memperjelas Masalah

Memperjelas masalah mencakup pengembangan sebuah pengertian umum dan
pemecahan sebuah masalah menjadi submasalah.
2. Pencarian secara Eksternal

Pencarian eksternal bertujuan untuk menemukan pemecahan keseluruhan masalah dan
submasalah yang ditemukan selama langkah memperjelas masalah.
3. Pencarian secara Internal

Pencarian internal merupakan penggunaan pengetahuan dan kreativitas dari tim dan
pribadi untuk menghasilkan konsep solusi.
4. Menggali secara Sistematis
12
Penggalian secara sistematik ditujukan untuk mengarahkan ruang lingkup
kemungkinan dengan mengatur dan mengumpulkan penggalan solusi yaitu yang
merupakan solusi untuk sub-submasalah.
5. Merefleksikan pada Hasil dan Proses

Meskipun langkah refleksi diletakkan paling akhir, refleksi sebaiknya dilakukan pada
keseluruhan proses.

2.10 Penyusunan Fungsi Produk


Secara umum fungsi produk di bagi menjadi dua, yaitu ; fungsi utama (main function) dan
fungsi tambahan (sub-function). Seperti diketahui, bahwa suatu produk bisa terdiri dari satu
bagian (part) atau lebih. Sedangkan sebuah bagian/part dapat terdiri dari satu atau lebih
komponen. Komponen terdiri dari beberapa elemen.
Berdasarkan atas struktur pembentukan suatu produk diatas, maka fungsi suatu produk
dapat dibagi menjadi fungsi utama (main function), fungsi bagian (partfunction), fungsi
komponen (component function) dan fungsi elemen (element function). Tetapi secara umum
fungsi dibagi menjadi 2 (dua), yaitu fungsi utama (overall function) dan fungsi bagian (sub-
function).
Untuk itu, setiap industri dalam merancang dan mengembangkan produk yang baik, akan
melakukan langkah yang berbeda-beda tergantung dari jenis industri tersebut. Namun secara
umum metode untuk merancang dan mengembangkan produk dapat digambarkan seperti pada
gambar 2.4.





Gambar 2.4 Metode product design and development

Sumber: Eppinger, 2001
13
2.11 Proses Pengambilan Data Dengan Metode QFD

A. Tahap Perencanaan dan Persiapan


Tahap ini merupakan persiapan dalam melakukan dan mengimplementasikan QFD.
Adapun topik kuncinya meliputi:

1. Menetapkan dukungan dari seluruh organisasi: Dukungan ini haruslah berasal dari
pihak manajemen, fungsional, serta anggota team QFD yang terdiri dari berbagai
skill.
2. Menentukan keuntungan yang mungkin didapat: beberapa keuntungan yang dapat
diperoleh oleh tim QFD antara lain untuk: 1) mengetahui kebutuhan dan keinginan
konsumen, 2) mengembangkan visi anggota tim secara umum dari suatu produk,
mendokumentasikan seluruh keputusan dan asumsi-asumsi selama interpretasi secara
ringkas dalam bentuk home of quality, 3) meminimalkan resiko pengulangan di
tengah proyek, dan 4) mempercepat perancangan produk.
3. Memutuskan siapa konsumennya: Disini didefinisikan secara jelas siapa
konsumennya, mengidentifikasi semua konsumen yang potensial, serta
mengidentifikasi konsumen kunci. Untuk mengidentifikasi konsumen kunci ada
beberapa cara: 1). Setiap orang langsung setuju, 2). Metode matrik prioritas, 3).
Metode AHP
4. Menetapkan horizon waktu: Horison waktu perlu didefinisikan secara jelas dalam
proses QFD untuk membantu menjaga perencanaan yang realistis.
5. Memutuskan cakupan produk: Cakupan ini berguna untuk mendefinisikan apa-apa
saja yang ada di dalam dan apa saja yang tidak ada dalam pembahasan QFD. Dengan
adanya cakupan ini akan membantu anggota team untuk mengabaikan data yang tidak
relevan dan memperhatikan semua ide-ide dan data yang relevan.
6. Memutuskan team dan hubungannya dengan organisasi: Team QFD yang ideal
seharusnya mencakup semua perwakilan dari semua fungsi yang ada dalam
perusahaan yang meliputi sales & marketing, product design, supplier/purchasing,
manufacturing engineering, manufacturing production, order processing dan service.
Hal ini penting untuk kesuksesan dalam perancangan produk karena semua fungsi
terlibat didalamnya.
7. Membuat jadwal pelatihan QFD
14
8. Melengkapi fasilitas dan materialnya: Selama melakukan proses QFD diperlukan
beberapa fasilitas dan material yang akan mendukungnya yang meliputi: Lokasi,
ruangan, bantuan komputer, dan material pendukung yang lain.

B. Tahap Pengumpulan Voice Of Customer


Pada tahap ini akan dilakukan survey untuk memperoleh suara pelanggan yang
tentu membutuhkan waktu dan ketrampilan untuk mendengarkan. Proses QFD
membutuhkan data konsumen yang ditulis sebagai atribut-atribut dari suatu produk atau
jasa. Tiap atributmempunyai data numerik yang berkaitan dengan kepentingan relatif
atribut bagi konsumen dan tingkat performansi kepuasan konsumen dari produk yang
dibuat berdasarkan atribut tadi.
Data dari konsumen dapat menunjukkan variasi pola hubungan yang mungkin
tergantung bagaimana performansi kepuasan atribut dikumpulkan. Interpretasi data ini
harus memperhitungkan apakah pelanggan yang di-survey menggunakan satu atau
beberapa produk dan apakah sampel pelanggan terdiri atas seluruh pelanggan dari
berbagai tipe atau segmen. Langkah-langkah pada tahap ini secara ringkas dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengklasifikasi kebutuhan pelanggan

Model klien menggunakan revealed importance dan stated importance tiap atribut
untuk mengklasifikasikan kebutuhan pelanggan menjadi 4 katagori:
Kebutuhan yang diharapkan (expected needs): High stated importance dan Low
revealed importance.
Kebutuhan impact rendah (low-impat needs): Low stated importance dan Low
revealed importance.
Kebutuhan impact tinggi (high-impact needs): High stated importance dan High
revealed importance.
Kebutuhan yang tersembunyi (hidden needs): Low stated importance dan High
revealed importance.
2. Mengumpulkan data-data kualitatif

Untuk membuat keputusan perancangan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen
maka produsen harus mengerti kebutuhan sesungguhnya dari konsumen. Produsen
harus bisa membedakan kebutuhan konsumen sesungguhnya dengan solusi teknisnya.
Untuk megumpulkan data kualitatif bisa dilakukan dengan: 1) Wawancara satu persatu,
2) Contexual Inquiry, dan 3) Wawancara focus grup.
15
3. Analisa data pelanggan

Proses analisa data pelanggan ini akan menghasilkan diagram afinitas, dimana
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Identifikasi frase yang mewakili kebutuhan konsumen dengan menggunakan
pernyataan dari pengalaman konkrit. Pada proses pembuatan diagram afinitas
pernyataan konkrit ini dikembangkan menjadi atribut konsumen pada tingkat yang
lebih tinggi.
Pilih tingkatan untuk mewakili keinginan atau kebutuhan konsumen dalam rumah
kualitas (house of quality).
Buat diagram Afinitas. Diagram afinitas merupakan alat yang digunakan untuk
mengidentifikasi informasi yang bersifat kualitatif dan terstruktur secara hierarkis
(bottom up).
Mengurutkan frase-frase menjadi kebutuhan konsumen sesungguhnya (true
customer need) menggunakan voice of customer table. Selama proses ini
dikembangkan pertanyaan-pertanyaan, hal-hal yang harus dipecahkan dan ide-ide
konsep produk.
4. Kuantifikasi data

Setelah diagram afinitas terbentuk maka langkah selanjutnya adalah
mengkuantifikasi data. Data yang dibutuhkan untuk proses QFD adalah:
Kepentingan relatif dari kebutuhan-kebutuhan tersebut

Tingkat performansi kepuasan konsumen untuk masing-masing
kebutuhan/keinginan
C. Diagram Afinitas


Dalam proses QFD, kebutuhan atau keinginan konsumen diatur dalam diagram
afinitas. Diagram afinitas digunakan untuk mengumpulkan dan mengorganisir fakta-
fakta, opini dan ide-ide. Disamping itu juga memacu kreativitas yang mendorong
ekspresi batas dari fakta dan opini serta kondisi perusahaan, mengelompokkan elemen-
elemen informasi tersebut sesuai dengan kesamaan dan pertaliannya. Konstruksi
diagram afinitas membutuhkan bentuk brainstorming dengan hasil sebuah grafik.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan dalam pembuatan diagram afinitas adalah:
1. Memilih tema atau tujuan yang mungkin ditekankan sebagai masalah;
16
2. Mengumpulkan ide-ide (true customer needs) dan memasukkannya ke dalam
kartu-kartu dan disosialisasikan kepada seluruh anggota tim;
3. Mengelompokkan kartu-kartu ke suatu kotak berdasarkan kesesuaian ide. Pada
langkah ini mungkin saja suatu ide tidak hanya masuk kedalam suatu kotak, tetapi
juga masuk ke kotak-kotak lainnya tergantung tingkat kesesuaian terhadap
pengelompokkan ide;
4. Proses sorting, dimana melakukan sorting pada langkah ketiga sehingga ide-ide
benar-benar masuk pada kelompok yang sesuai;
5. Membuat nama bagi pengelompokkan ide yang telah didapat yang mewakili
elemen-elemen pada suatu kelompok;
6. Melakukan leveling terhadap setiap kelompok sehingga diperoleh level mulai dari
yang tertinggi sampai yang terendah.
D. Tahap Penyusunan Home Of Quality


Menurut Cohen (1992) tahap-tahap dalam menyusun rumah kualitas adalah
sebagai berikut:
1. Tahap I Matrik Kebutuhan Pelanggan, tahap ini meliputi: 1) Memutuskan siapa
pelanggan, 2) Mengumpulkan data kualitatif berupa keinginan dan kebutuhan
konsumen, 3) Menyusun keinginan dan kebutuhan tersebut, dan 4) Pembuatan
diagram afinitas
2. Tahap II Matrik Perencanaan, tahap ini bertujuan untuk mengukur kebutuhan-
kebutuhan pelanggan dan menetapkan tujuan-tujuan performansi kepuasan.
3. Tahap III Respon Teknis, pada tahap ini dilakukan transformasi dari kebutuhan-
kebutuhan konsumen yang bersifat non teknis menjadi data yang besifat teknis
guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
4. Tahap IV Menentukan Hubungan Respon Teknis dengan Kebutuhan Konsumen.

Tahap ini menentukan seberapa kuat hubungan antara respon teknis (tahap 3)
dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan (tahap 1).
5. Tahap V Korelasi Teknis, tahap ini memetakan hubungan dan kepentingan antara
karakterisitik kualitas pengganti atau respon teknis. Sehingga dapat dilihat apabila
suatu respon teknis yang satu dipengaruhi atau mempengaruhi respon teknis
lainnya dalam proses produksi, dan dapat diusahakan agar tidak terjadi bottleneck.
17
6. Tahap IV Benchmarking dan Penetapan Target, pada tahap ini perusahaan perlu
menentukan respon teknis mana yang ingin dikonsentrasikan dan bagaimana jika
dibandingkan oleh produk sejenis
E. Tahap Analisa dan Interpretasi


Tahap analisa dan interpretasi merupakan tahap teknis dan implementasi quality
function deployment. Disini dilakukan analisis dan interpretasi terhadap rumah kualitas
yang sudah disusun pada tahap sebelumnya. Dan bila dilanjutkan pada pembuatan suatu
produk atau jasa, maka akan dapat dihasilkan produk atau jasa yang mempunyai
karakteristik yang kuat dalam memenuhi keinginan konsumen. Berikut ini merupakan
bentuk dari house of quality secara umum:

Gambar 2.5 Rumah Kualitas
Sumber: Cohen, 1992

2.12 Data Material dan Dimensi Spesimen


Material crash box yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penelitian
sebelumnya (Velmurugan : 2009). AISI 1340 Steel, annealed at 910C dengan material
properties sebagai berikut :
18
Tabel 2.1 Material properties crash box


AISI 1340 Steel, annealed at 910C

Density (kg/m
3
)

7870

Poissons Ratio

0.29

Modulus Elastisitas (GPa)

205

Yield Strength (MPa)

266.94

Shear Modulus (GPa)

76

Tangent Modulus (GPa)

2.67


Tabel 2.2 Material properties impactor


Structural Steel

Density (kg/m
3
)

7850

Poissons Ratio

0.3

Modulus Elastisitas (GPa)

200

Yield Strength (MPa)

250

Shear Modulus (GPa)

76

Tangent Modulus (GPa)

1.45
19
BAB III

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK





3.1 Pernytaan Misi


Diskripsi produk
Untuk mereduksi energi impak yang

terjadi selama tabrakan.



Sasaran bisnis
Produk diluncurkan pada tahun 2014

Memperoleh pangsa pasar sebesar 20%
pada tahun 2016
Pasar Utama Industri Otomotif

Pasar Skunder
Bengkel Spart Part

Pemilik Kendaraan Mobil




Asumsi-asumsi
Berbentuk silinder bertingkat dengan

diameter berbeda.

Posisi Crash Box diletakkan di depan
(Belakang Bumper).





Pihak yang terkait
Pengguna

Pengecer

Tenaga Penjual

Pusat servis

Bagiam Produksi
20
3.2 Alasan Pengembangan

3.2.1 Informasi produk yang ada dipasaran

Tabel 3.1 beberapa Crash Box yang ada saat ini

No Gambar
Keterangan




1.







2.













$54.98 Rp 494.820




3.














3.2.2 Informasi produk Crash Box

Spesifikasi Crash Box :

Bahan : Alumunium

Harga

: Rp 300.000





Berat

Produksi

: 0,83441 Kg

: Naas Corp

Dimensi

: P = 100 mm, Tebal = 10 mm
21






Gambar 3.1 Desain Crash Box


3.2.3 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan

1. Mengumpulkan Data Mentah Dari Pelanggan Melalui Interview.

Pelanggan yang diinterview dibedakan menjadi dua, yaitu konsumen
primer dan konsumen sekunder. Konsumen primer adalah konsumen yang
memasarkan produk Crash Box (Toko Spart Part, Bengkel) sedangkan
konsumen sekunder adalah pemilik kendaraan.
22
Pelanggan :

Pelanggan : Asroni Pewawancara : Nanang Tawaf

Alamat : Malang Tanggal : 05-05-2013
Pekerjaan : Mahasiswa
Penggunaan Digunakan untuk meminimalisir beban

impak saat terjadi tabrakan
Hal-hal yang disukai terhadap

produk yang sekarang
Harganya murah, kualitas baik. Ringan.
Hal-hal yang tidak disukai

terhadap produk yang sekarang
- Mudah rusak
Usulan perbaikan -


2. Menginterpretasikan Data Mentah Menjadi Kebutuhan Pelanggan

Tuntunan
(Guideline)
Pernyataan
Pelanggan
Pernyataan
Kebutuhan yang
salah
Pernyataan
Kebutuhan yang
benar
Apa bukan
Bagaimana
Mengapa anda
membuat produk
menggunakan
material
Alumunium.
Produk terbuat dari
material Baja.
Material Baja
susah untuk
terdeformasi.
Spesifik Saya sering
melihat rangka
depan kendaraan
rusak akibat
tabrakan.
Bagian depan
kendaraan
harusnya terbuat
dari bahan yang
keras, sehingga
tahan terhada
tabrakan.
Harus ada suatu
produk untuk
menahan beban
impak.
Positif tidak
Negatif
Tidak masalah jika
terjadi tabrakan.
Crash Box harus
terbuat dari bahan
yang keras supaya
tahan terhadap
beban impak.
Crash Box harus
bisa terderformasi
sehingga beban
impak bisa
diminimalisir.
23

Atribut dari
Produk
Saya kesulitan
mengganti Crash
Box yang rusak.
Harusnya rangka
kendaraan
menyesuaikan
dimensi Crash
Box.
Harusnya Crash
Box mudah
dipasang pada
rangka kendaraan.
Hindari
Harus dan
Mesti
Saya sering
bingung memilih
jenis Crash Box
untuk kendaraan
tertentu.
Crash Box dibuat
untuk semua merk
kendaraan.
Crash Box dibuat
menyesuaikan
merk kendaraan.


3. Mengorganisasikan Kebutuhan Menjadi Hirarki

Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengorganisasikan kebutuhan-
kebutuhan pelanggan menjadi beberapa tingkatan mulai yang utama/primer
hingga yang sekunder. Misalnya penandaan * untuk yang tidak terlalu penting
dan *** untuk kebutuhan sangat penting/primer.

*** Harganya murah

*** Crash Box anti karat

*** Crash Box ringan

*** Mudah dipasang

*** Tidak mudah aus

** Ukuran Crash Box bervariasi

** Crash Box mudah didapat

** Berwarna

* Dilengkapi dengan penutup


4. Menetapkan Tingkat Kepentingan Setiap Kebutuhan

Penetapan bobot atau tingkat kepentingan setiap kebutuhan dapat
dinyatakan dengan daftar isian survei sebagai berikut yang mana setiap
kebutuhan dinyatakan dalam bobot skala 1 (tidak diinginkan) hingga 5 ( sangat
penting ). Hasil ini akan melengkapi daftar hirarki pada langkah sebelumnya.
24


No.

Produk

Need
Tingkat

kepentingan
1 Crash Box Harganya murah 5
2
Crash Box
Anti karat 5
3
Crash Box
Ringan 5
4
Crash Box
Mudah dipasang 5
5
Crash Box
Tidak mudah aus 4
6
Crash Box
Ukuran bervariasi 3
7
Crash Box
Mudah didapat 2
8
Crash Box
Berwarna 2
9
Crash Box
Dilengkapi dengan penutup 1
10
Crash Box
Meminimlisir impak 5
11
Crash Box
Sambungan ke rangka kuat 5


12


Crash Box
Penutup Crash Box bisa

melindungi dari air yang masuk
dari luar.


5
13
Crash Box
Tahan lama 5
14
Crash Box
mudah dirawat 4


5. Merefleksikan Hasil dan Proses

Pada langkah ini, tim menguji hasil identifikasi kebutuhan pelanggan
untuk meyakinkan bahwa hasilnya konsisten dengan pengetahuan dan intuisi
yang telah dikembangkan melalui interaksi yang cukup lama dengan pelanggan.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan adalah :
25
a. Sudahkan kita berinteraksi dengan semua tipe pelanggan penting dalam
target pasar kita?
b. Apakah kita sanggup menangkap lebih jauh kebutuhan yang berhubungan
dengan produk sekarang untuk menangkap kebutuhan tersembunyi ?
c. Diantara pelanggan manakah yang telah menjadi partisipan yang baik
sehingga dapat membantu pengembangan produk selanjutnya ?
d. Masih adakah wilayah penyelidikan yang harus dikejar untuk mencatat
kemampuan wawancara yang telah dilakukan ?
3.2.4 Spesifikasi Target Produk

1. Menyiapkan daftar metric

Tabel 3.2 daftar metrik Crash Box

Metri

k No.
Need

Poin

Metrik
Tingkat

kepentingan

Units
1. 3,10 Total Deformasi Maksimum 5 N/m
2. 2,5,9,12,14 Tahan lama 5 hour
3. 3,6 Tebal maksimum 5 mm
4. 4,9,12 Panjang maksimum penutup 4 mm
5. 3,6 panjang maksimum Cras Box 5 mm
6. 6 variasi Cras Box 2 pcs
7. 3 berat total 4 g
8. 5,10 tegangan geser maksimum 5 Pa
9. 5,10,11,13 Japan Industrial Standart test 5 Binary
10. 5,10 Regangan 5 Pa
11. 1 harga satuan 5 Rp
12. 3 kekakuan 5 kN/m
13. 5,10,13 kekerasan 5 BHN
26

14. 8 kekasaran 5 m

15.

4,14
waktu perakitan dan

pembongkaran saat perawatan

3

s


1
2

1
1

1
0

9

8

7

6

5

4

3

2

1


P
e
n
u
t
u
p


C
r
a
s
h


B
o
x


b
i
s
a


m
e
l
i
n
d
u
n
g
i


d
a
r
i

a
i
r

y
a
n
g

m
a
s
u
k

d
a
r
i

l
u
a
r
.

S
a
m
b
u
n
g
a
n

k
e
r
a
n
g
k
a

k
u
a
t

M
e
m
i
n
i
m
l
i
s
i
r

i
m
p
a
k

D
i
l
e
n
g
k
a
p
i

d
e
n
g
a
n

p
e
n
u
t
u
p

B
e
r
w
a
r
n
a

M
u
d
a
h

d
i
d
a
p
a
t

U
k
u
r
a
n

b
e
r
v
a
r
i
a
s
i

T
i
d
a
k

m
u
d
a
h

a
u
s

M
u
d
a
h

d
i
p
a
s
a
n
g

R
i
n
g
a
n

A
n
t
i

k
a
r
a
t

H
a
r
g
a
n
y
a

m
u
r
a
h



Total Deformasi
Maksimum

1


Tahan lama

2


Tebal maksimum

3


Panjang maksimum
penutup

4


panjang maksimum
Cras Box

5


variasi Cras Box

6


berat total

7


tegangan geser
maksimum

8


Japan Industrial
Standart test

9


Regangan

10


harga satuan

11


kekakuan

12


kekerasan

13


kekasaran

14


waktu perakitan dan
pembongkaran saat

15

N
E
E
D

2
7



















METRIC



13 Tahan lama

14 mudah dirawat









































28
2
3.2.5 Penyusunan HOQ (House Of Quality)


Dalam penyusunan House Of Quality tentu didahului oleh pengumpulan
data yang dimisalkan didapat dari kuisioner Dalam penyebaran kuisioner tersebut
dadapat suara dari responden. Dari pengumpulan data hasil responsi tersebut
didapat nilai harapan dari tingkat kepuasan dan nilai kinerja dari tingkat
kepentingan dimana nilai-nilai tersebut kemudian dimasukkan kedalam House Of
Quality sehingga didapatkan kepentingan absolute dan relative dari tiap nilai-nilai
tersebut. Adapun dalam setiap usaha peningkatan sebuah produk perlu
diperhatikan adalah dimensi kualitas dari sebuah produk. dimana hal ini pertama
kali di cetuskan oleh penemunya yaitu : Prof David Garin. Adapun dimensi
kualitas memiliki 8 Atribut dimana hal ini perlu diperhatikan dalam usaha
peningkatan kualitas dari sebuah produk. Adapun 8 atribut yang termasuk dalam
dimensi kualitas tersebut adalah :

1. Performance (performa) : Menyangkut karakteristik suatu produk.

2. Durability (ketahanan) : Jangka waktu yang dibutuhkan sebuah produk hingga
tiba saatnya diganti.
3. Serviceability : Kemudahan servis sebuah produk atau perbaikan ketika
dibutuhkan.
4. Aesthetics (estetik) : Menyangkut tampilan, rasa, bunyi, bau, atau rasa sebuah
produk.
5. Perceived Quality : Mutu/kualitas yang diterima dan dirasa sebuah produk
bagi customer.
6. Conformance : Kesesuaian kinerja dan mutu sebuah produk dengan
standarisasi.
7. Reliability (keandalan) : Kemungkinan produk untuk tidak berfungsi pada
periode waktu tertentu.
8. Featutes (fitur) : Item-item ekstra yang ditambahkan pada fitur dasar dari
sebuah produk.
Untuk mengetahui performa Crash Box, dilakukan penyebaran kuesioner
terhadap responden, yakni pengguna kendaraan khususnya mobil yang
menggunakan Crash Box. Kuesioner disebarkan bisa dengan metoda online
kepada para pengguna Crash Box dan disebar di lapangan. Dari 25 kuesioner yang
3
diisi oleh pengguna Crash Box, kuesioner yang memenuhi syarat sebanyak 20
responden. Sedangkan untuk masing kompetitor yaitu Jonnesway dan Jason
diambil masing-masing 10 responden. Data tersebut dilihat dari error sampling
sebesar 20%. Dalam kuesioner tersebut, responden diminta untuk memberikan
penilaian atas kinerja dan harapannya atas atribut-atribut dalam Crash Box.
Penilaian responden terhadap atribut-atribut tersebut dikelompokkan dalam 5
skala, dengan menggunakan skala likert. Untuk Harapan :
1 = Sangat Tidak Penting (STPt)
2 = Tidak Penting (TPt)
3 = Biasa-biasa saja (Bbs)
4 = Penting (Pt)
5 = Sangat Penting (SPt)
Sedangkan untuk Kinerja :
1 = Sangat Tidak Puas (STPs)
2 =Tidak Puas (TPs)
3 = Netral (N)
4 = Puas (Ps)
5 = Sangat Puas (SPs)


1. Nilai Harapan


Berikut pengumpulan data yang dalam mempemperoleh nilai harapan dari
tingkat kepuasan.

Tabel 3.3 Hasil perolehan nilai harapan

No Tingkat Kepuasan SPt Pt Bbs TPt STPt
1 Harganya murah
12 4 2 1 1
2 Anti karat
8 2 3 1 1
3 Ringan
11 3 4 1 1
4 Mudah dipasang
9 5 2 2 2
5 Tidak mudah aus
10 5 2 1 2
6
Ukuran bervariasi 12 4 2 1 1
31

7 Mudah didapat
8 2 3 1 1
8 Berwarna
11 3 4 1 1
9 Dilengkapi dengan penutup
9 5 2 2 2
10 Meminimlisir impak
10 5 2 1 2
11 Sambungan ke rangka kuat
12 4 2 1 1

12
Penutup Crash Box bisa melindungi

dari air yang masuk dari luar.


8


2


3


1


1
13 Tahan lama
11 3 4 1 1
14 mudah dirawat
9 5 2 2 2


Keterangan :

Sangat Tidak Penting (STPt); Tidak Penting (TPt); Biasa-biasa saja (Bbs);
Penting (Pt); Sangat Penting (SPt)
Dari Tabel Hasil perolehan Nilai harapan di atas, dapat dihitung Nilai
Harapan responden atas atribut-atribut Crash Box. Perhitungan Nilai Harapan
dilakukan dengan cara :
Menghitung Skor Total masing-masing atribut pelayanan.
Skor total didapatkan dari rumusan :
Skor Total = (E1 x 1) + (E2 x 2) + (E3 x 3) + (E4 x 4) + (E5 x 5)

dimana :

E1 : jumlah responden dengan jawaban Sangat Tidak Penting (STPt)
E2 : jumlah responden dengan jawaban Tidak Penting (TPt)
E3 : jumlah responden dengan jawaban Biasa-biasa saja (Bbs)
E4 : jumlah responden dengan jawaban Penting (Pt)
E5 : jumlah responden dengan jawaban Sangat Penting (SPt)

Contoh, perhitungan untuk atribut nomor 1 : bisa dilipat Skor Total = (1 x 1) +
(1 x 2) + (2 x 3) + (4 x 4) + (12 x 5) = 85
Membagi Skor Total tersebut dengan jumlah responden
Nilai Harapan = Skor Total : Jumlah responden
32
Contoh : dari Skor Total atribut 1 pada langkah diatas,
Nilai Harapan = 85 : 20 = 4.25
Nilai Harapan juga dapat disajikan dalam bentuk persentase, yang dihitung
dari persentase Skor Total terhadap Skor Maksimum. Skor Maksimum didapat
dari perhitungan seandainya semua responden (20 orang) memilih jawaban 5
(Sangat Penting/SPt) untuk suatu atribut. Sehingga Skor Maksimur = 20 x 5 =
100
Contoh : dari perhitungan Skor Total atribut 1 di atas,

Nilai Ekspektasi (%) = (Skor Total : Skor Maksimum) x 100 %

= (85 : 100) x 100 % = 85 %

Hasil perhitungan Nilai Harapan untuk semua atribut peningkatan stabilitas
dinamik pada motor skutik, disajikan dalam Tabel 3.4 di bawah.

Tabel 3.4 Nilai harapan responden atas atribut-atribut Crash Box


No Tingkat Kepuasan Total Nilai Nilai Harapan
1 Harganya murah
85 4.25
2 Anti karat
60 3
3 Ringan
82 4.1
4 Mudah dipasang
77 3.85
5 Tidak mudah aus
80 4
6
Ukuran bervariasi 85 4.25
7 Mudah didapat
60 3
8 Berwarna
82 4.1
9 Dilengkapi dengan penutup
77 3.85
10 Meminimlisir impak
80 4
11 Sambungan ke rangka kuat
85 4.25
33


12
Penutup Crash Box bisa melindungi dari

air yang masuk dari luar.


60


3
13 Tahan lama
82 4.1
14 mudah dirawat
77 3.85


2. Nilai Kinerja

Sedangkan nilai kinerja dapat kita lihat dari tabel berikut ini:
Tabel 3.5 Hasil perolehan nilai kinerja
No Tingkat Kepuasan SPs Ps N TPs STPs
1 Harganya murah
10 5 2 2 1
2 Anti karat
8 2 3 1 1
3 Ringan
11 3 4 1 1
4 Mudah dipasang
9 5 2 2 2
5 Tidak mudah aus
10 5 2 1 2
6
Ukuran bervariasi 10 5 2 2 1
7 Mudah didapat
8 2 3 1 1
8 Berwarna
11 3 4 1 1
9 Dilengkapi dengan penutup
9 5 2 2 2
10 Meminimlisir impak
10 5 2 1 2
11 Sambungan ke rangka kuat
10 5 2 2 1

12
Penutup Crash Box bisa melindungi

dari air yang masuk dari luar.


8


2


3


1


1
13 Tahan lama
11 3 4 1 1
14 mudah dirawat
9 5 2 2 2
34
Keterangan :

Sangat Tidak Puas (STPs); Tidak Puas (TPs); Netral (N); Puas (Ps); Sangat Puas
(SPs)
Dari tabel hasil perolehan nilai kinerja di atas, dapat dihitung Nilai Kinerja
responden atas atribut-atribut Crash Box. Perhitungan Nilai Kinerja dilakukan
dengan cara :
Menghitung Skor Total masing-masing atribut pelayanan.
Skor total didapatkan dari rumusan :
Skor Total = (E1 x 1) + (E2 x 2) + (E3 x 3) + (E4 x 4) + (E5 x 5)

dimana :

E1 : jumlah responden dengan jawaban Sangat Tidak Puas (STPs)
E2 : jumlah responden dengan jawaban Tidak Puas (TPs)
E3 : jumlah responden dengan jawaban Netral (N)
E4 : jumlah responden dengan jawaban Puas (Ps)
E5 : jumlah responden dengan jawaban Sangat Puas (SPs)

Contoh, perhitungan untuk atribut nomor 1 : bisa dilipat Skor Total = (1 x 1) +
(2 x 2) + (2 x 3) + (5 x 4) + (10 x 5) = 81
Membagi Skor Total tersebut dengan jumlah responden
Nilai Kinerja = Skor Total : Jumlah responden
Contoh : dari Skor Total atribut 1 pada langkah diatas,
Nilai Kinerja = 81 : 20 = 4.05
Nilai kinerja juga dapat disajikan dalam bentuk persentase, yang dihitung
dari persentase Skor Total terhadap Skor Maksimum. Skor Maksimum didapat
dari perhitungan seandainya semua responden (20 orang) memilih jawaban 5
(Sangat Puas/SPs) untuk suatu atribut. Sehingga Skor Maksimur = 20 x 5 = 100
Contoh : dari perhitungan Skor Total atribut 1 di atas,
Nilai Ekspektasi (%) = (Skor Total : Skor Maksimum) x 100 %

= (81 : 100) x 100 % = 81 %


Hasil perhitungan Nilai Harapan untuk semua atribut peningkatan stabilitas
dinamik pada motor skutik, disajikan dalam Tabel di bawah.
35
Tabel 3.6 Nilai harapan responden atas atribut-atribut Crash Box


No Tingkat Kepuasan Total Nilai Nilai Kinerja
1 Harganya murah
81 4.05
2 Anti karat
60 3
3 Ringan
82 4.1
4 Mudah dipasang
77 3.85
5 Tidak mudah aus
80 4
6
Ukuran bervariasi 81 4.05
7 Mudah didapat
60 3
8 Berwarna
82 4.1
9 Dilengkapi dengan penutup
77 3.85
10 Meminimlisir impak
80 4
11 Sambungan ke rangka kuat
81 4.05

12
Penutup Crash Box bisa melindungi dari

air yang masuk dari luar.


60


3
13 Tahan lama
82 4.1
14 mudah dirawat
77 3.85


Dalam pengisian house of quality nantinya dibutuhkan nilai tingkat
kepentingan dari kompettitor yang ada dimana kompetitor tersebut adalah : Crash
Box dengan produk Jonnesway dan Jasondengan produk Spin. Tabel 4.5 dibawah
ini adalah nilai dari tingkat kepuasan dari Jonnesway dan Tabel 4.6 dibawah ini
adalah nilai dari tingkat kepuasan dari Jason.
36
Tabel 3.7 Nilai tingkat kepuasan dari jonnesway

No Tingkat Kepuasan Sps Ps N TPs STPs Total J. Res Nilai
1 Harganya murah
4 1 2 1 2
34
20
3.4
2 Anti karat
2 2 3 2 1
32
20
3.2
3 Ringan
5 2 1 1 1
39
20
3.9
4 Mudah dipasang
3 3 2 1 1
36
20
3.6
5 Tidak mudah aus
2 3 2 1 2
32
20
3.2
6
Ukuran bervariasi 4 1 2 1 2
34
20
3.4
7 Mudah didapat
2 2 3 2 1
32
20
3.2
8 Berwarna
5 2 1 1 1
39
20
3.9

9
Dilengkapi dengan

penutup


3


3


2


1


1

36


20

3.6

10
Meminimlisir

impak


2


3


2


1


2

32


20

3.2

11
Sambungan ke

rangka kuat


4


1


2


1


2

34


20

3.4



12
Penutup Crash Box

bisa melindungi
dari air yang
masuk dari luar.




2




2




3




2




1



32




20



3.2
13 Tahan lama
5 2 1 1 1
39
20
3.9
14 mudah dirawat
3 3 2 1 1
36
20
3.6


Tabel 3.8 Nilai tingkat kepuasan dari jason

No Tingkat Kepuasan Sps Ps N TPs STPs Total J. Res Nilai
1 Harganya murah
3 2 2 1 2
33
20
3.3
37

2 Anti karat
2 2 3 2 1
32
20
3.2
3 Ringan
5 2 1 1 1
39
20
3.9
4 Mudah dipasang
3 3 2 1 1
36
20
3.6
5 Tidak mudah aus
2 3 2 1 2
32
20
3.2
6
Ukuran bervariasi 3 2 2 1 2
33
20
3.3
7 Mudah didapat
2 2 3 2 1
32
20
3.2
8 Berwarna
5 2 1 1 1
39
20
3.9

9
Dilengkapi dengan

penutup


3


3


2


1


1

36


20

3.6

10
Meminimlisir

impak


2


3


2


1


2

32


20

3.2

11
Sambungan ke

rangka kuat


3


2


2


1


2

33


20

3.3



12
Penutup Crash Box

bisa melindungi
dari air yang
masuk dari luar.




2




2




3




2




1



32




20



3.2
13 Tahan lama
5 2 1 1 1
39
20
3.9
14 mudah dirawat
3 3 2 1 1
36
20
3.6


3. Respon Teknikal

Teknikal respon merupakan jawaban atas kebutuhan pelanggan dimana
hasil dari teknikal respon merupakan penterjemahan kebutuhan konsumen
kedalam bahasa organisasi. Respon teknikal ini didapatkan dari penjabaran
rumus-rumus yang telah diterangkan pada bab sebelumnya. Adapun respon
teknikal dari Crash Box adalah sebagai berikut.
38

Tabel 3.9 Atribut teknikal respon

No. Teknikal Respon
1 Total Deformasi Maksimum
2 Tahan lama
3 Tebal maksimum
4 Panjang maksimum penutup
5 panjang maksimum Cras Box
6 variasi Cras Box
7 berat total
8 tegangan geser maksimum
9 Japan Industrial Standart test
10 Regangan
11 harga satuan
12 kekakuan
13 kekerasan
14 kekasaran

15
waktu perakitan dan pembongkaran saat

perawatan
16 Total Deformasi Maksimum
17 Tahan lama
18 Tebal maksimum
39
4. Hubungan Antara Respon Teknikal dan Atribut-Atribut Pelayanan.

Dalam menyusun House Of Quality, hal penting yang dilakukan adalah
melihat hubungan antara respon teknikal dan atribut produk atau pelayanan.
Hubungan tersebut disusun dalam bentuk matriks. Matriks ini menilai kuat
tidaknya hubungan antara respon teknikal dan atribut produk atau pelayanan
yang merupakan hubungan yang kuat, sedang ataupun lemah, dapat dilihat pada
tabel di bawah. Masing-masing hubungan dalam house of quality dilambangkan
dalam bentuk simbol. Adapun hubungan antara respon teknikal dengan atribut-
atribut pelayanan dapat dilihat pada tabel 3.10 di bawah.
Tabel 3.10 Menyajikan hubungan antara setiap respon teknikal dan atribut
pelayanan pada Crash Box.
Hubungan kuat antara respon teknikal dan atribut pelayanan, bobot

keterhubungan = 9
Hubungan sedang kuat antara respon teknikal dan atribut pelayanan,

bobot keterhubungan = 5
Hubungan sedang lemah antara respon teknikal dan atribut pelayanan,

bobot keterhubungan = 3
Hubungan lemah antara respon teknikal dan atribut pelayanan, bobot

keterhubungan = 1

T
a
b
e
l

3
.
1
1

H
u
b
u
n
g
a
n

a
n
t
a
r
a

r
e
s
p
o
n

t
e
k
n
i
k
a
l

d
e
n
g
a
n

a
t
r
i
b
u
t
-
a
t
r
i
b
u
t

p
e
l
a
y
a
n
a
n

4
0


1
0

9

8

7

6

5

4

3

2

1


S
e
d
a
n
g

K
u
a
t


K
u
a
t

S
a
m
b
u
n
g
a
n

k
e

r
a
n
g
k
a

k
u
a
t

M
e
m
i
n
i
m
l
i
s
i
r

i
m
p
a
k

D
i
l
e
n
g
k
a
p
i

d
e
n
g
a
n

p
e
n
u
t
u
p

B
e
r
w
a
r
n
a

M
u
d
a
h

d
i
d
a
p
a
t

U
k
u
r
a
n

b
e
r
v
a
r
i
a
s
i

T
i
d
a
k

m
u
d
a
h

a
u
s

M
u
d
a
h

d
i
p
a
s
a
n
g

R
i
n
g
a
n

A
n
t
i

k
a
r
a
t


L
e
m
a
h


S
e
d
a
n
g

L
e
m
a
h



Total Deformasi Maksimum


Tahan lama


Tebal maksimum


Panjang maksimum penutup


panjang maksimum Cras
Box


variasi Cras Box


berat total


tegangan geser maksimum


Japan Industrial Standart test


Regangan


harga satuan


kekakuan


kekerasan


kekasaran


waktu perakitan dan
pembongkaran saat
perawatan


Total Deformasi Maksimum


Tahan lama




Tebal maksimum



11
Penutup Crash Box bisa

melindungi dari air yang
masuk dari luar.

12
Tahan lama
13
mudah dirawat
14
Anti karat





























41

BAB IV
KESIMPULAN


4.1 Pengelompokan Interpretasi Kebutuhan Pelanggan


Fungsi Digunakan untuk meminimalisir gaya impak pada rangka

kendaraan

Digunakan untuk meminimalisir getaran pada ruang penumpang.
Kualitas Bahan yang ringan dan kuat

Tahan lama
Praktis Mudah dipasang pada kendaraan

Mudah perawatannya
Ergonomi Ukuran menyesuaikan jenis kendaraan

Harga dibawah pasaran

Warnanya elegan
Estetika Desain menarik
Lain-lain Harga murah



























42

DAFTAR PUSTAKA


[1] Ulrich, Karl T. dan Steven D. Eppinger., 2000, Product Design and Development, McGraw-

Hill Inc, Singapore

[2] Otto, Kevin. dan Kristian Wood., 2001, Product Design :Techniques in Reverse
Engineering and New Product Development, Prentice-Hall Inc, New Jersey
[3] Widodo, Imam D., 2003, Perencanaan dan Pengembangan Produk, UII Press, Yogyakarta
[4] Baxter, Mike.,2002, Product Design: Practical Methods for systematic development of New
Product, Stanley Thornes Ltd, United Kingdom.

[5] Cohen, Lou., 1995, Quality Function Deployment: How to Make QFD Work for
You,Addition Wesley publising Company, New York.
[6] Urban, Glen L. dan John R. Hauser, 1993, Design and Marketing of New Product, Second
Edition, Prentice-Hall Inc, New Jersey
[7] Zimmerman, Larry W dan Glen D. Hart., 1982, Value Engineering: A Practical Approach
for Owner, Designer and Contractors. Van Nostrand Reinhold Company, New York.