Anda di halaman 1dari 6

Artikel Penelitian

Jujur Wibawa,

Listiyorini, Fachriyah: Penentuan Komposisi Asam Lemak 169
Penentuan Komposisi Asam Lemak Ekstrak Minyak Ikan Kembung
(Rastrelliger kanagurta) dengan Gc-Ms dan Uji Toksisitasnya
Menggunakan Metode Bslt

Pratama Jujur Wibawa
1
,

Dwi Listiyorini
1
, Enny Fachriyah
1
1
Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia FMIPA Undip

ABSTRAK---Minyak ikan Kembung dapat diperoleh sebanyak kurang lebih 9,03 % v/b melalui
proses ekstraksi sokshlet menggunakan pelarut kloroform. Komposisi asam lemak penyusun minyak ikan ini
ditentukan dengan menggunakan instrumen GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) dan
toksisitasnya di uji terhadap Artemia salina Leach dengan metoda BSLT. Data GC-MS menunjukkan adanya 5
asam lemak mayor yang terkandung di dalam minyak ikan ini, yaitu asam miristat (17,86%), palmitoleat
(19,96%), palmitat (20,16%), oleat (21,99%) dan stearat (22,19%). Sedangkan dari uji toksisitas menggunakan
metode BSLT, diperoleh nilai LC
50
ekstrak minyak ikan sebesar 5,97 ppm.

Kata kunci: minyak ikan Kembung, ekstrak minyak ikan, minyak ikan mentah, asam lemak.

PENDAHULUAN
Pemanfaatan ikan laut di Indonesia
sampai sejauh ini masih terbatas hanya sebagai
bahan pangan. Hal ini memberi konsekwensi
kepada nilai ekonomi ikan laut relatif rendah.
Untuk meningkatkan nilai ekonomi ikan laut
diperlukan penelitian yang mengarah kepada
pembuatan produk-produk non pangan unggul,
salah satu diantaranya adalah obat-obatan.
Peluang ini bisa dibuka mulai dari minyak
ikan yang dikandungnya yang ditengarai
mengandung asam lemak tak jenuh majemuk
yang cukup tinggi, mencapai sekitar 63,9 %
dari total lemak yang ada dalam minyak ikan
(Wertheim, 1947). Dua jenis asam lemak tak
jenuh majemuk yang diduga paling potensial
dapat digunakan sebagai bahan dasar obat-
obatan adalah EPA (Eicosapentaenoic acid)
dan DHA (Docosahexaenoic acid). Beberapa
penelitian yang menguji peran EPA atau DHA
dalam mengatasi berbagai penyakit yang
berbahaya telah banyak dilakukan. Dalam hal
ini Wibawa (2005) mengutip, diantaranya
adalah penghambat atherosklerosis, kanker
inflamasi, jantung, stroke, lupus, hipertensi,
gangguan pertumbuhan dan kecerdasan,
diabetes dan antifungal.
Mengingat begitu banyak manfaat
minyak ikan bagi kesehatan maka potensi
perikanan laut Indonesia perlu dipetakan untuk
mencari sumber minyak ikan lokal yang
mempunyai peluang untuk dapat dimanfaatkan
sebagai bahan baku industri obat-obatan.
Sebagai tahap awal pada kesempatan ini
dipilih ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta)
sebagai sampel mengingat ikan ini merupakan
jenis ikan lokal yang mudah diperoleh di
perairan Indonesia dalam jumlah cukup besar,
mencapai lebih dari 1 juta ton (BPS Jateng,
2002).
Ada tidaknya EPA/DHA dan jenis
asam lemak lain yang merupakan penyusun
minyak ikan Kembung ditentukan dengan alat
GC-MS yang dilengkapi dengan software
pustaka basis data senyawa-senyawa organik.
Sementara itu untuk mengetahui potensinya
sebagai obat, diuji toksisitasnya terhadap larva
Artemia salina Leach berdasarkan metoda
BSLT (Brine Shrimp Lethality Test).

METODE PENELITIAN
Alat
Satu set alat ekstraksi sokshlet, pemanas
listrik, oven, viskosimeter Ostwald, akuarium,
corong pisah 250 mL, piknometer 10 mL,
buret 25 mL, Buchii rotary evaporator dan
sejumlah peralatan gelas yang biasa dipakai
dalam penelitian di laboratorium serta
seperangkat instrumen GC-MS SHIMADZU
QP-5000 yang dilengkapi dengan soft ware
pustaka basis data senyawa-senyawa kimia.
Probit analysis software untuk menghitung
LC
50.


Bahan
Minyak ikan Kembung (Rastrelliger
kanagurta), kloroform. Media penetasan telur
Artemia salina: larutan garam NaCl 3,8 % dan
tween 20. Untuk penenentuan angka
penyabunan dan bilangan asam: etanol 96 %,
Jurnal Sains & Matematika (JSM) ISSN 0854-0675
Volume14, Nomor 4, Oktober 2006 Artikel Penelitian: 169-174
Artikel Penelitian
J. Sains & Mat. Vol. 14, No.4 Oktober 2006: 169-174 170
KOH padat, indikator PP, indikator metil
orange, boraks padat akuades, dan HCl 0,48
N.

Ekstraksi Minyak Ikan
Sekitar 70 gram serbuk kering ikan
Kembung (kadar air 14,29 %) diekstraksi
dengan soksklet menggunakan sekitar 300 mL
pelarut kloroform selama 2 jam 10 menit atau
8 kali sirkulasi. Pelarut dipisahkan dengan
Buchii-rotary evaporator untuk mendapatkan
ekstraks minyak ikan bebas kloroform.
Minyak ikan ini kemudian dikarakterisasi yang
meliputi densitas, viskositas, bilangan
penyabunan dan bilangan asamnya, dan diuji
toksisitasnya dengan metoda BSLT.

Penentuan Komposisi Asam Lemak
Komposisi asam lemak ekstraks
minyak ikan Kembung ditentukan dengan GC-
MS yang dilengkapi dengan kolom jenis RTX-
5 MS panjang 30 meter dan dioperasikan pada
suhu kolom 100-280
o
C, detektor FID dan
digunakan gas helium sebagai fasa geraknya.
Pada dasarnya asam lemak dan gliserida
penyusun ekstrak minyak ikan diubah terlebih
dahulu menjadi bentuk metil esternya
menggunakan metanol dan Boron trifluorida
(BF
3
) sebagai katalis. Bentuk metil ester asam
lemak ini kemudian diinjeksikan kedalam alat
GC-MS.

Uji Toksisitas Ekstrak Minyak Ikan
Telur Artemia salina Leach
ditetaskan di dalam air yang mengandung
garam NaCl sekitar 3,8 % b/v. Larva Artemia
salina yang berumur 2 x 24 jam siap dipakai
untuk uji toksisitas. Selanjutnya uji toksisitas
dilakukan dengan memasukkan 10 mL ekstrak
minyak ikan dengan konsentrasi 10 ppm, 100
ppm dan 1000 ppm dalam botol vial. Untuk
melarutkan minyak ikan dalam larutan garam
perlu ditambahkan tween 20. Sepuluh ekor
larva Artemia salina dimasukkan dalam tiap
botol vial tersebut. Botol vial dijaga agar tetap
mendapat penerangan. Jumlah Artemia salina
yang mati dalam tiap botol vial dihitung
setelah 24 jam. Uji toksisitas ini dilakukan
dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Untuk
menentukan nilai LC
50
digunakan program
Probit Analysis, melalui hubungan antara
konsentrasi sampel dengan persen kematian
larva Artemia salina.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil ekstraksi terhadap total
975 gram serbuk ikan Kembung, diperoleh
minyak ikan sebanyak 88 mL. Hal ini berarti
kadar minyak ikan Kembung sebesar 9,03 %
v/b. Menurut Ikrawan (2004), ikan dengan
kadar minyak 9,03 % ini dapat dikelompokkan
kedalam kelompok ikan dengan kadar minyak
yang tinggi. Secara visual ekstraks minyak
ikan Kembung ini berupa cairan kental yang
berwarna merah kehitaman dengan bau amis.
Densitas ekstraks minyak ini pada suhu kamar
sebesar 0,94 gram/mL dengan viskositas 83,49
Nsm
-2
, angka penyabunan 132,62 dan angka
asamnya 8,82. Densitas dan viskositas ekstraks
minyak ikan ini, yang tidak lain merupakan
sifat intrinsik keseluruhan sistem fluida,
ternyata tidak jauh beda dengan densitas dan
viskositas umum minyak ikan yang dilaporkan
oleh Young (1986), yakni secara berurutan
0,91 gr/mL dan 60-90 cp. Selanjutnya
kromatogram ekstrak minyak ikan ini
ditampilkan pada Gambar 1.



Gambar 1. Kromatogram minyak ikan Kembung
K
e
l
i
m
p
a
h
a
n
(%)

Waktu retensi (menit)
Artikel Penelitian
Jujur Wibawa,

Listiyorini, Fachriyah: Penentuan Komposisi Asam Lemak 171
Puncak-puncak kromatogram pada
Gambar 1 itu menunjukkan bahwa minyak
ikan Kembung mengandung tidak kurang dari
29 jenis senyawa organik yang merupakan
asam lemak atau turunannya. Dari 29 senyawa
tersebut tampak terdapat 5 senyawa dominan
yang direpresentasikan oleh puncak 3, 8, 9, 15
dan 16. Kelimpahan relatif dan waktu retensi
(menit) kelima puncak mayor tersebut secara
berurutan adalah 3(5,13%/17,86),
8(7,26%/19,96), 9(24,71%/20,16),
15(15,80%/21,99) dan 16(8,12%/ 22,19).
Kelima senyawa dominan inilah yang
kemudian dilakukan fragmentasi massa yang
spektranya ditampilkan secara berurutan pada
Gambar 2, 3, 4, 5 dan 6.



Gambar 2. Spektrum massa puncak 3 minyak ikan Kembung




Gambar 3. Spektrum massa puncak 8 minyak ikan Kembung



Gambar 4. Spektrum massa puncak 9 minyak ikan Kembung




Gambar 5. Spektrum massa puncak 15 minyak ikan Kembung
m/e
m/e
m/e
m/e
Artikel Penelitian
J. Sains & Mat. Vol. 14, No.4 Oktober 2006: 169-174 172


Gambar 6. Spektra massa puncak 16 minyak ikan Kembung

Pola spektra massa pada Gambar 2 s.d 6 tersebut kemudian dibandingkan dengan pola spektra
yang terdapat pada pustaka basis data berdasarkan indeks kemiripannya. Perbandingan puncak-
puncak ion molekul spektra massa asam lemak penyusun sampel ekstrak minyak ikan dan basis data
di tampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan puncak-puncak ion molekul asam lemak penyusun ekstraks minyak ikan
Kembung dengan pustaka basis data GC-MS

No.
punc
ak
m/e* Indeks
Kmr
pn
(%)
BM/
Rumus
molekul
Nama
Sampel Basis data
3

242, 211, 199,
185, 171, 157,
143, 129, 115,
101, 87, 74, 57,
41

242, 211, 199, 185,
171,157, 143,129,
115, 101, 87, 74,
57, 41

97 242/
C
15
H
30
O
2

Metil
tetradekanoat/
Metil miristat
8 268, 236, 218,
207, 194, 179,
165, 152, 138,
123, 96, 74, 69,
55, 41

236, 194, 152,
138, 123, 96, 74,
69, 55, 41

97

268/
C
17
H
32
O
2

Metil-9-
heksadekenoat/Met
il palmitoleat
9 270, 239, 227,
213, 199, 185,
171, 157, 143,
129, 115, 101,
87, 74, 57, 41

270, 239, 227,
199, 185, 171,
143, 129, 115,
101, 87, 74, 57,
43, 41

96 270/
C
17
H
34
O
2

Metil
heksadekanoat/Met
il palmitat
15

296, 264, 235,
222, 207, 193,
180, 166, 152,
137, 123, 97, 74,
69, 55, 41

264, 222, 180,
137, 123, 98, 87,
74, 69, 55, 41

95 296/
C
19
H
36
O
2

Metil-9-
oktadekenoat/
Metil oleat
16 298, 267, 255,
241, 227, 213,
199, 185, 171,
157, 143, 129,
115, 101, 87, 74,
57, 43, 41
298, 267, 255,
241, 213, 199,
185, 171, 143,
129, 115, 101,
87, 74, 57, 41
96 298/
C
19
H
38
O
2

Metil
oktadekanoat/
Metil stearat
*)bagian yang dicetak tebal menunjukkan puncak dasar

m/e
Artikel Penelitian
Jujur Wibawa,

Listiyorini, Fachriyah: Penentuan Komposisi Asam Lemak 173

C
O
H
3
CO
C
H
2
CH
2
CH
H
C
H
2
R
M
C
O
H
3
CO
CH
2
H
H
2
C C
H
C
H
2
R +
m/e 74
M - 74
dengan R adalah gugus alkil

Gambar 12. Mekanisme fragmentasi homolitik gugusan metil ester asam lemak menurut
Mc.Laferty

Dari Tabel 1 terlihat puncak-puncak
fragmen massa ion molekul lima jenis asam
lemak penyusun sampel minyak ikan kembung
memiliki indeks kemiripan sebesar 95-97 %
dengan asam lemak pustaka basis data. Nilai
indeks kemiripan yang tinggi ini
mengisyaratkan bahwa struktur asam lemak
yang ditawarkan oleh basis data dapat diterima
sebagai represantasi struktur asam lemak
penyusun ekstrak minyak ikan kembung
dengan rentang kemungkinan kesalahan hanya
3-5 %. Dari Gambar 2 s.d 6 terlihat pula
bahwa spektra massa ion molekul asam lemak
sampel untuk puncak 3, 9 dan 16 memiliki
puncak dasar 74 sementara puncak 8 dan 15
memiliki puncak dasar 55. Puncak dasar
spektra massa asam lemak sampel ini ternyata
juga sama dengan puncak dasar pustaka basis
data seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Puncak dasar 74 ini menurut
Mc.Laferty dalam Silverstein (1986)
merupakan hasil fragmentasi homolitik metil
ester pada posisi atom C2-C3 dari struktur
asam lemak pada umumnya, seperti yang
dilukiskan pada Gambar 12.
Dengan mempertimbangkan kemi-
ripan yang tinggi antara fragmen massa asam
lemak sampel dan asam lemak pustaka basis
data (Tabel 1) maka dapat diterima kebe-
narannya kalau asam lemak penyusun ekstrak
minyak ikan Kembung didominasi oleh asam
stearat (22,19%), oleat (21,99%), palmitat
(20,16%), palmitoleat (19,96%) dan miristat
(17,86%). Diperkirakan kelima jenis asam
lemak ini pula yang secara dominan menen-
tukan sifat-sifat kimia maupun biologi ekstrak
minyak ikan Kembung.
Berdasarkan hasil uji toksisitas ekstrak
minyak ikan Kembung terhadap larva Artemia
salina Leach, yang datanya diolah dengan
probit analysis software, diketahui bahwea
ekstrak minyak ikan Kembung ini memiliki
nilai LC
50
sebesar 5,97 ppm. Hal ini berarti
kelima jenis asam lemak ini dapat bekerja
secara sinergis untuk memberikan sifat toksik
(sitotoksik) terhadap sel larva Artemia salina
Leach. Menurut evaluasi Mayer et al (1982)
suatu ekstrak bahan alam yang memiliki LC
50

pada uji toksisitas menggunakan metoda
BSLT berpotensi sebagai antikanker.
Dengan diketahuainya kelima jenis
asam lemak penyusun mayor ekstrak minyak
Kembung ini, terungakap pula bahwa senyawa
EPA dan DHA tidak ditemukan atau paling
tidak bukan merupakan penyusun dominan
ekstrak minyak Kembung lokal Indonesia.
Namun dari uji toksisitasnya dengan metoda
BSLT, terungkap pula bahwa potensi minyak
ikan sebagai obat tidak hanya ditentukan oleh
adanya EPA dan atau DHA saja.

KESIMPULAN
Dari uraian tersebut diatas dapat
disimpulkan bahwa asam stearat (22,19%),
oleat (21,99%), palmitat (20,16%), palmitoleat
(19,96%) dan miristat (17,86%) merupakan
penyusun mayoritas ekstrak minyak ikan
Kembung lokal Indonesia dan secara sinergis
bekerja memberikan sifat toksik LC
50
sebesar
5,97 ppm terhadap larva Artemia salina Leach.

UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada
mahasiswa saya Kimia 2002: Yuni, Rini,
Metty yang telah mengerjakan sebagian dari
Artikel Penelitian
J. Sains & Mat. Vol. 14, No.4 Oktober 2006: 169-174 174
topik penelitian saya tentang potensi sumber
daya perikanan laut lokal Indonesia sebagai
sumber bahan baku industri non pangan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Pusat Statistik, 2002, Produksi dan
Nilai Produksi Perikanan Laut Jawa
Tengah, Laporan Survey Regular, BPS
Propinsi Jawa Tengah, Semarang.
2. Ikrawan, Y., 2004, Minyak Ikan dan
Omega 3, Cakrawala, Jakarta
3. Kitajka, K., Laszlo G. P, Agnes Z., Laszlo
H. Jr., Gwendolyn B-C, Young K. Y.,
Tibor F., 2001, The Role of n-3
Polyunsaturated Fatty acid in Brain:
Modulation of Rat Brain Gene Expression
by Dietary n-3 Fatty Acid, Proceeding of
the National Academy of Science, 99(5),
p.2619-2624.
4. Lee, D., 1997, Essential Fatty acids,
Woodland Publishing, Inc., UT
5. Listyorini, D., 2006, Karakterisasi dan
Penentuan Komposisi Asam Lemak
Minyak Ikan Kembung (Rastrelliger
kanagurta) serta Uji Toksisitasnya
Menggunakan Metode BSLT, Draft
Skrispsi S1 Jurusan Kimia FMIPA Undip.
6. Meyer, B. N., Ferigni, N. R., Putnam, J.
E., Ja Cobsen, L. B., Nichols, D. E. and
McLaughlin, J. L., 1982, Brine Shrimp : a
Conventient General Bioassay for Active
Plant Constituen, Planta Medika.
7. Puskas, L.G., Klara K., Csaba N.,
Gwendolyn B-C, Tibor F., 2002, Short-
Term Administration of Omega 3 Fatty
Acid from Fish Oil Results in Increased
Transthyretin Transcription in Old Rat
Hippocampus, Proceeding of the National
Academy of Science, 100(4), p.1580-1585.
8. Roberts and Royston, M., 1969, Modern
Experimental Organic Chemistry, Rinehart
and Winston, Inc., New York.
9. Wertheim, E., 1947, Organic Chemistry,
2
nd
.ed., The Blakiston Company,
Philadelphia.
10. Wibawa, P.J., 2005, Eksplorasi Potensi
Minyak Ikan Layang sebagai Sumber
Bahan Baku Industri Non-Pangan Baru di
Indonesia, Jurnal MIPA, 28(5), hal.202-
208.