Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

Kultur Jaringan





DISUSUN OLEH:
Nama : Guindahnawaningtyas S.A.
NIM : 115040201111247
Kekompok/Kelas : K2
Asisten : Mbak Dasa


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pembuatan Bibit Secara Kuljar
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan pangan
juga meningkat. Untuk itu dilakukan inovasi-inovasi budidaya tanaman, salah
satunya dengan penerapan bioteknologi agar dapat memproduksi bahan pangan
dengan cepat. Bioteknologi sudah dikenal oleh manusia sejak puluhan tahun yang
lalu. Namun baru akhir-akhir ini dikembangkan, bioteknologi tidak hanya didasari
oleh materi biologi saja, namun perlu juga ilmu terapan dan ilmu yang lainnya
seperti biokimia, biologi molekuler, mikrobiologi, genetika dan lain
sebagainya.Salah satu bagian dari beberapa ilmu terapan yang dipelajari lebih
lanjut dalam bidang bioteknologi adalah kultur jaringan
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara
vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas atau sering disebut sebagai
eksplant, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara
aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Perbanyakan tanaman dengan
menggunakan teknik kultur jaringan ini biasanya diterapkan pada tanaman-
tanaman yang masih memiliki jaringan meristem dan memiliki mata tunas, serta
umumnya pada tanaman-tanaman yang tidak mampu dikembangkan secara
generatif.
Adapun diantaranya tahapan dalam perbanyakan secara kultur jaringan ini
yaitu: pembuatan larutan induk, pembuatan media kultur, isolasi dan inokulasi
eksplant, serta aklimatisasi. Namun, dalam prektikum kali ini yaitu tentang teknik
perbanyakan secara kultur jaringan, tidak melakukan proses pembuatan larutan
induk dan aklimatisasi. Sehingga hasil yang diperoleh pun hanya sampai pada
hasil pengamatan di ruangan kultur.


1.2 Tujuan Pembuatan Bibit Secara Kuljar
Tujuan dari pembuatan bibit secara kultur jaringan, antara lain:
1. Memperoleh tanaman yang lebih sehat;
2. Perbanyakan tanaman secara vegetatif sehingga tanaman baru mempunyai
keseragaman dalam bidang genetik dengan induknya;
3. Salah satu aplikasi dalam pemuliaan tanaman;
4. Sebagai pelestarian plasma nutfah; dan
5. Menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu relatif
singkat.


















II. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam melakukan kultur jaringan, terdapat beberapa tahapan yang
dilakukan, yaitu:
1. Pengenalan Alat dan Laboratorium
Menurut Hendaryono dan Wijayani (1994) suatu laboratorium kultur
jaringan tanaman harus memiliki ruangan yang dapat mengakomodasi berbagai
kegiatan berbeda seperti persiapan medium, sterilisasi, transfer bahan eksplan
secara aseptik, pemeliharaan kultur jaringan dalam kondisi lingkungan terkendali,
dan untuk aklimatisasi plantlet ke kondisi in vitro yang berisi alat-alat yang
digunakan di dalamnya. Berikut adalah ruangan beserta alat-alat yang digunakan
pada suatu laboratorium kultur jaringan:
1) Ruang persiapan
ruangan untuk segala aktivitas dalam rangka persiapan pelaksanaan aplikasi
teknik kultur jaringan (pembuatan dan penyimpanan larutan stok; pembuatan
media; sterilisasi medium pada alat; sterilisasi tahap awal pada eksplan; dan
pencucian serta pengeringan alat-alat laboratorium). Alat yang berada pada
ruangan ini, antara lain:
- Timbangan analitik adalah alat untuk mengukur massa suatu benda dengan
akurasi hingga 0,0001 gram.
- Vortex adalah alat untuk mencampurkan beberapa jenis larutan agar
homogen
- Kulkas adalah alat untuk proses penyimpanan/ pendinginan bahan
praktikum
- Oven adalah alat untuk sterilisasi bahan secara kering dengan suhu yang
ditentukan
- Microwave adalah alat untuk memanaskan bahan praktikum
- Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan alat dan media
2) Ruang Transfer/ ruang inokulasi
ruangan untuk melakukan kegiatan transfer, inokulasi atau pengkulturan yakni
menanamkan eksplan pada medium cair atau padat. Alat-alat yang ada di
dalam ruangan ini, antara lain:
- LAFC (Laminar Air Flow Cabinet) sebagai alat untuk penanaman eksplan.
- Spritus, alat-alat inokulasi, lampu UV, dan lampu neon untuk membantu
kegiatan penanaman eksplan.
3) Ruang Kultur
Ruangan untuk menempatkan botol-botol kultur yang sudah berisi eksplan
yang ditempatkan pada rak-rak kultur. Alat-alat yang berada pada ruangan ini,
antara lain:
- AC yang berfungsi untuk mengatur suhu udara agar dalam keadaan
optimal untuk pertumbuhan eksplan.
- Rak kultur berfungsi untuk menempatkan botol-botol kultur yang telah
berisi eksplan.
- Lampu TL sebagai sumber cahaya.
2. Pembuatan Larutan Induk
Abidin, Z. (1985) menjelaskan bahwa media merupakan faktor penentu
dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan
tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan
biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu di perlukan
juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh
(hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya,
tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.
Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol
kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya
dengan autoklaf. Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media
cair. Media padat umumnya berupa padatan gel, seperti agar, dimana nutrisi
dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media
cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung
kebutuhan.
Suryowinoto (1991) larutan induk adalah larutan yang nantinya akan
dijadikan sebagai bahan dasar media tanam in vitro yang terdiri dari senyawa
makro, senyawa mikro, senyawa besi, vitamin, serta zat pengatur tumbuh (ZPT).
Larutan induk yang digunakan adalah media MS atau Murashige dan Skogg yang
terdiri dari beberapa unsur seperti makronutrien, mikronutrien, vitamin, dan zat
besi.
1) Unsur Makro
- Nitrogen (N) untuk membantu pembentukan klorofil dan pertumbuhan
vegetatif tanaman.
- Fosfor (P) untuk pembentukan karbohidrat yang digunakan pada waktu
pertumbuhan benih, pembungaan, pemasakan buah dan biji.
- Kalium (K) untuk memperkuat tubuh tanaman (menguatkan serabut-
serabut akar sehingga tidak mudah gugur) dan berfungsi memperlancar
metabolisme dan mempengaruhi penyerapan makanan tanaman.
- Sulfur (S) untuk pembentukan beberapa jenis protein, seperti asam amino
dan vitamin B1 dan berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar serta
membantu pembentukan anakan.
- Kalsium (Ca) untuk merangsang pembentukan bulu-bulu akar,
mengeraskan batang dan merasang pembentukan biji.
- Magnesium (Mg) untuk meningkatkan kandungan fosfat yang untuk
pembentukan sejumlah protein.
2) Unsur Mikro
Unsur-unsur yang termasuk di dalam unsur mikro adalah klor (Cl),
mangan (Mn), besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), bor (B), dan molibdenum (Mo).
3) Zat Pengatur Tumbuh
- Sitokinin berperan dalam pembelahan sel tanaman terutama
mempengaruhi metabolisme asam nukleat dan sintesis protein, serta
diferensiasi sel.
- Auksin berperan dalam proses merubah sifat osmotik dari vakuola serta
berperan dalam perpanjangan sel tanaman sedangkan sitokinin
berpengaruh pada pembelahan sel dan diferensiasi sel.
4) Vitamin terdiri dari Tiamin, Piridoksin, dan asam nikotonat.
Dalam pembuatan larutan induk, yang perlu dilakukan adalah
mempersiapkan timbangan analitik dan cup kertas, setelah itu menimbang bahan
yang akan dijadikan sebagai larutan induk dan larutkan dengan aquades sesuai
dengan vlume yang telah dihitung, dan kemudian dimasukkan ke dalam botol
penyimpanan sesuai dengan masing-masing senyawa (Wardiyati, 2013).
3. Pembuatan Media in Vitro
Media biakan pada kultur jaringan mempunyai banyak jenis dan
mempunyai spesifikasi tanaman tersendiri. Salah satu jenis media yang digunakan
dalam perbanyakan vegetatif secara kultur jaringan adalah media Murashige dan
Skogg. Alat yang digunakan dalam penuatan media kultur Murashige dan Skogg,
antara lain timbangan analitik, spatula, beaker glass, cup kertas, labu ukur, pH
meter, dan autoklaf. Sedangkan bahan yang digunakan, antara lain larutan induk
makro dan kiro, Fe-EDTA, vitamin, ZPT, agar, sukrosa, HCl dan NaOH masing-
masing 1M, dan aquades steril. Untuk cara kerja pembuatan media MS antara lain
menyiapkan stok makro dan mikro, Fe-EDTA, serta vitamin, dan menentukan
volume 250 ml pada beaker glass berukuran 500 ml; kemudian ditambahkan
sukrosa 7,5 gram/ 250 ml, aquades steril, casein 0.02 gram/ 250 ml; kemudian pH
larutan tersebut diukur dengan menggunakan pH meter (pH 5.8), apabila pH
kurang dari 5.8 maka ditambahkan NaOH, dan apabila pH diatas 8 ditambahkan
HCl; kemudian ditambahkan agar 1.625 gram/250 ml; kemudian dihomogenkan
dan dibagi ke dalam masing-masing botol kultur; dan terakhir disterilkan dalam
autoklaf dengan suhu 121C dan tekanan 15 psi dalam waktu 20 menit
(Wardiyati, 2013).
4. Isolasi dan Inokulasi Eksplan
Isolasi atau sterilisasi eksplan adalah merupakan suatu proses untuk
mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda.
Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa:
- Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang
dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan
berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi.
- Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan
alkohol, larutan formalin).
- Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat
pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya
adalah dengan saringan/filter (Anonimus
a
, 2014).
Sedangkan inokulasi menurut Hikka (2014) adalah kegiatan pemindahan
bahan tanam dari linkungan non aseptik ke lingkungan asetik. Sebelum dilakukan
inokulasi pada eksplan, bahan tersebut terlebih dahulu harus disterilkan. Tahapan-
tahapan yang di lakukan dalam proses inokulasi adalah sebagai berikut:
- Bahan tanam yang telah steril di letakan dalam petridish atau cawan petri,
- Bahan tanam yang akan dijadikan eksplan dipotong sesuai dengan mata tunas
yang ada,
- Eksplan yang telah dipotong ditanam atau diinokulasi dalam media yang telah
disiapkan,
- Botol media ditutup dan disimpan di dalam ruang inkubasi.
- Seluruh kegiatan inokulasi dilakukan di dalam LAFC.
5. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan pemindahan plantlet (tanaman kecil) dari
media in vitro ke media in vivo (lingkungan sebenarnya). Proses pemindahan ini
memerlukan keadaan yang mendukung agar plantlet tidak mengalami stress
lingkungan (Wardiyati, 2013). Aklimatisasi dilakukan setelah embrio
berkecambah dan diperoleh plantlet yang siap untuk dipindahkan ke lapangan.
Teknik aklimatisasi untuk plantlet hasil regenerasi kultur embrio pada prinsipnya
sama dengan aklimatisasi plantlet hasil regenerasi dari teknik kultur jaringan
lainnya (Hikka, 2014).





III. MATERI BAHASAN
3.1 Pembuatan Media Perbanyakan (Inokulasi/Penanaman)
3.1.1 Metode
Stok makro, mikro, Fe-EDTA dan vitamin disiapkan


Bahan dasar (larutan induk) di atas dicampur ke dalam beaker glass, ditambah
sucrose (7,5g/250 ml), casein hydrolisate (0,029/250 ml) dan aquades steril hingga
volume media mencapai 250 ml

pH diukur menggunakan pH meter. Apabila pH <5,8 maka dilakukan penambahan
NaOH. Jika pH >5,8 ditambahkan HCl

Tambahkan Agar 1,625 g/250 ml, sambil dipanaskan

Diangkat dan dituang kedalam masing-masing botol kultur

Autoclaf 121
o
C dengan tekanan 15 psi selama 20 menit

Media dimasukkan ke ruang simpan agar tidak terkontaminasi
3.1.2 Hasil dan Pembahasan
Media yang digunakan dalam perbanyakan tanaman mawar secara kultur
jaringan adalah media MS yang terdiri dari unsur hara makro yang terdiri dari
KNO
3
, NH
4
NO
3
, CaCl
2
.2H
2
O, MgSO
4
. 7H
2
O. Unsur hara mikro yang terdiri dari
H
3
BO
3
, MnSO
4
.H
2
O, ZnSO
4
.7H
2
O, KI, NaMoO
4
.H
2
O, CuSO
4
.5H
2
O,
Larutan Makro : 25 ml
Larutan Mikro : 2,5 ml
Fe-EDTA : 2,5 ml
Vitamin : 2,5 ml

CoCl
2
.6H
2
O. Fe-EDTA yang terdiri dari Na EDTA dan FeSO
4
.7H
2
O. Dan vitamin
yang terdiri dari Myo-Inositol, Glycine, Nicotinic acid, Pyridoxine HCl, dan
Thiamine HCl.
Unsur hara makro yang terdapat pada media MS yang digunakan antara
lain (NH
4
)SO
4
, NH
4
NO
3
, KNO
3
, CaCl
2
.2H
2
O, MgSO
4
.7H
2
O, KH
2
PO
4
, dan
NaH
2
PO
4
H
3
O. Unsur hara mikro yang terdiri dari H
3
BO
3
, MnSO
4
H
2
O,
ZnSO
4
.7H
2
O, KI, NaMoO
4
.2H
2
O, CuSO
4
.5H
2
O, CoCl
2
.6H
2
O. Fe khelat yang
terdiri dari Na
2
EDTA.2H
2
O dan FeSO
4
.7H
2
O. Serta vitamin yang terdiri dari
asam nikotinat, piridoksin HCl, tiamin HCl, glisin, Myo-inositol, sukrosa, dan
BAP (Marlina, dkk., 2004).
3.2 Penanaman/Isolasi dan Inokulasi Eksplan
3.2.1 Metode
1. Sterilisasi Eksplan
Eksplan dari tanaman (kentang, krisan dan mawar) disiapkan
Eksplan disiapkan sesuai ukuran ruas dan tunas
Cuci dengan air mengalir
Rendam dengan deterjen 15ml + 85ml air selama 5 menit
Cuci dengan air mengalir
Rendam dengan Benlate (Fungisida) 0,2 g/100 ml air selama 10 menit
Rendam dengan Bayclin 10 ml/90 ml air selama 15 menit
Bilas dengan air mengalir
Rendam dengan aquades steril sebanyak 3 kali @1 menit
Masukan kedalam LAFC



2. Inokulasi/Penanaman
Scapel dan pinset disiapkan dengan ujung yang telah diapi-apikan

Eksplan disiapkan lalu dipotong bagian ujung atas dan bawah

Media disiapkan lalu disterilkan beserta plastik penutup dengan cara
diapi-apikan

Eksplan ditanam menggunakan pinset

Media ditutup kembali dengan plastik penutup sebelumnya telah diapi-
apikan terlebih dahulu lalu direkatkan dengan karet gelang

Disimpan di ruang kultur
3.2.2 Hasil dan Pembahasan
Dokumentasi
% Eksplan
yang hidup
% Inisiasi
tunas
% Inisiasi
akar
%
Kontamin
asi
Pengamatan 1

100 %
Belum
tumbuh
tunas
Belum
tumbuh
akar
0 %
Pengamatan 2

100 %
Belum
tumbuh
tunas
Belum
tumbuh
akar
0 %
Pengamatan 3

100 %
Mulai
tumbuh
tunas 25 %
Tumbuh
akar 25 %
0 %
Pengamatan 4

100%
Tunas
memanjang
75 %
Tumbuh
akar 50%
0%
Pengamatan 5

100%
Tunas
memanjang
100 %
Tumbuh
akar 100 %
0%
Pengamatan 6

100%
Tumbuh
tunas kedua
50 %
Akar terus
tumbuh
100%
0%
Pengamatan 7

100%
Kedua tunas
tumbuh
100%
Akar terus
tumbuh
100%
0%

Perbanyakan tanaman krisan secara vegetatif dengan teknik kultur jaringan
menggunakan batang tanaman yang dipotong sesuai dengan nodus. Batang yang
digunakan adalah batang jaringan muda yang sedang aktif karena mempunyai
regenerasi yang tinggi. Pengisolasian eksplan dilakukan tiga kali, yaitu dengan
mengunakan detergen 15%, Fungisida Benlate, dan Bayclin 10%. Eksplan yang
telah diisolasi dibilas dengan air bersih yang mengalir. Untuk inokulasi atau
penanaman eksplan dilakukan di dalam LAFC atau Laminar Air Flow Cabinet,
dan sebelum ditanam pada media agar dibilas terlebih dahulu dengan aquades
steril, dan bagian yang terkena kontak dengan bahan-bahan kimia tersebut
dipotong, dengan harapan media dan eksplan nantinya tidak terjadi kontaminasi.
Dari hasil praktikum teknologi produksi benih kultur jaringan,
didapatkan hasil bahwa tanaman bunga mawar yang dikembangbiakkan secara
vegetatif dengan kultur jaringan tumbuh dengan optimal tanpa kontaminasi jamur
ataupun bakteri. Pada pengamatan hari pertama dan hari kedua belum terjadi
inisiasi akar dan inisiasi tunas dengan prosentase 0%. Pada pengamatan hari
ketiga terjadi inisiasi akar dan inisiasi tunas 25%. Selanjutnya pada pengamatan
hari keempat sampai hari ketujuh, inisiasi tunas mencapai 100% bahkan tumbuh
tunas kedua dengan inisiasi mencapai 100% juga. Untuk insiasi akar, dari
pengamtan hari keempat hingga hari ketujuh, inisiasi akar makin meningkat dari
50% hingga mencapai 100%. Selama pengamatan tidak terjadi kontaminasi, baik
jamur maupun bakteri.
Keberhasilan perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan bergantung
pada kombinasi jenis media, zat pengatur tumbuh (ZPT), dan bagian eksplan yang
digunakan. Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan (Yusnita 2003). Media kultur yang
memenuhi syarat adalah media yang mengandung unsur hara makro, mikro,
vitamin, dan sukrosa (sumber energi). Menurut Wattimena et al. (1992), auksin
berperan dalam berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, antara
lain pembesaran sel, penghambatan mata tunas samping, aktivitas pada kambium,
dan pertumbuhan akar, sedangkan sitokinin merangsang pertumbuhan dan
pembentukan kuncup daun. Marlina, N. (2009) menjelaskan bahwa inisiasi kultur
yang bebas kontaminan dan sumber eksplan menentukan keberhasilan
perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Dalam pemilihan eksplan, hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah jenis tanaman, bagian tanaman yang akan
digunakan, morfologi permukaan, kondisi tanaman, dan waktu pengambilan
eksplan. Hal ini menujukkan bahwa komposisi media kultur agar mengandung
unsur hara makro, hara mikro, vitamin dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang
seimbang dan optimal bagi perumbuhan bunga mawar. Media kultur dan bagian
eksplan juga bebas kontaminasi jamur yang menandakan bahwa media kultur dan
eksplan dalam kondisi yag steril.
3.3 Pembuatan Stok Media MS
Chelat Fe
Na EDTA ditimbang dan larutkan kedalam aquades. Pada suhu ruang akan
larut sesudah 20 menit

FeSO
4,
7H
2
O ditimbang dan dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam
larutan Na EDTA, sampai akhirnya didapatkan larutan bening berwarna
kekuningan.

Larutan yang telah ditambah aquades dipanaskan diatas api Bunsen dan
dimasukan kedalam botol cokelat untuk menghindari kerusakan oleh
cahaya atau botol dibungkus dengan kertas gelap
Pembuatan stok media yang telah digunakan adalah media Murashige dan
Skogg. Media MS yang telah dibuat menggunakan unsur hara makro dan mikro,
Fe-EDTA, vitamin, sukrosa 7.5 gr, casein hydrosilate 0.02 gr, dan agar 1.625 gr.
Hal ini berbeda dengan Marlina, N. (2009), yang menggunakan bahan-bahan
pembuatan media, seperti unsur hara makro dan mikro, vitamin, sukrosa, Fe
khelat, ZPT sitokinin, agar 7 gr/ liter, sukrosa 30 gr/ liter.
3.4 Aklimitasi
Suatu tahapan yang sangat penting dalam teknik kultur jaringan adalah
aklimatisasi planlet yang ditanam secara in vitro kedalam rumah kaca atau
langsung ke lapang (Pospisilova et al, 1996). Aklimatisasi merupakan kegiatan
akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari
lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak
terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup
dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi
terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi
lapang.
Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur
jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk
untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam
lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Wetherell (1982) menyatakan bahwa
aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap
lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya. Torres
(1989) menuliskan aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman
beradaptasi sengan perubahan lingkungan.
Aklimatisasi yang merupakan suatu kegiatan pemindahan plantlet dari
kondisi in vitro pada kondisi in vivo, tidak kami lakukan dalam praktikum ini.Hal
ini disebabkan karena, banyaknya jumlah praktikan dalam praktikum ini, selain
itu juga waktu yang dibutuhkan untuk tahapan aklimatisasi ini terbilang lama dan
sulit.Namun, kami telah dijelaskan secara rinci teknis dalam pelaksanaan tahapan
kegiatan aklimatisasi tersebut.












IV. KESIMPULAN
Dari data hasil pengamatan praktikum teknologi produksi benih
perbanyakan vegetatif tanaman bunga mawar melalui kultur jaringan, didapatkan
hasil bahwa tanaman bunga mawar tumbuh dengan optimal dan inisiasi bebas dari
kontaminasi jamur maupun bakteri. Inisiaasi tunas dan akar dimulai sejak minggu
ketiga dan mencapai prosentase 100%. Hal ini menandakan bahwa, media kultur
steril dan mengandung unsur-unsur hara, vitamin, dan ZPT yang cocok dan
seimbang untuk pertumbuhan tanaman bunga mawar dan eksplan yang digunakan
merupakan tunas yang aktif membelah.


















DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1985. Dasar-dasar Pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuh.
Angkasa. Bandung.
Anonimus
a
, 2012. Teknik Sterilisasi Alat [Online].
http://elearning.unram.ac.id/KulJar/BAB%20IV%20STERILISASI/IV2%20
Sterilisasi%20.html. Diakses tanggal 30 Mei 2014.
Hendaryono dan Wijayani, 1994. Kultur Jaringan (Pengenalan dan Petunjuk
Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Media). Kanisius. Yogyakarta
Hikka. 2014. Kultur Jaringan Tumbuhan [Online], http://
hikkasfavorites.blogspot.com/2011/04/about-farmasi-kultur-jaringan-
tumbuhan.html. Diakses tanggal 30 Mei 2014.
Marlina, dkk. 2004. Jurnal Teknik Pertanian: Teknik Modifikasi Media
Murashige & Skoog (MS) untuk Konservasi Secara in vitro Mawar (Rossa
sp).
Marlina, N. 2009. Teknik Perbanyakan Lili dengan Kultur Jaringan. Buletin Teknik
Pertanian Vol. 14 No. 1, 2009: 6-8.
Pospisilova, J, J. Catsky, and Z. Sestak. 1996. Photosyntesis in Plants Cultivated
in vitro. P 525-537. In M. Pessarakli, (ed.). Handbook of Photosynthesis.
Marcel Dekker, Inc. New York. Basel. Hong Kong.
Suryowinoto, 1991. Petunjuk Laboratorium, Pemuliaan Tanaman Secara In vitro.
PAU Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Torres, K.C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops. Von
Hostrand Reinheld. New York.
Wardiyati, Titik dkk. 2013. Modul Pembiakan Vegetatif Tanaman Secara Kultur
Jaringan. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
Wetherelll, D. F. 1982. Introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing
Group Inc. Wayne, New Jersey.
Wattimena, G.A., L.W. Gunawan, N.A. Mattjik, E. Syamsudin, N.M.A Wendi,
dan A. Ernawati. 1992. Bioteknologi Tanaman. PAU Bioteknologi, Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan: Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien.
Agro Media Pustaka. Jakarta.