Anda di halaman 1dari 14

Deformasi adalah perubahan bentuk, dimensi dan posisi dari suatu materi baik

merupakan bagian dari alam ataupun buatan manusia dalam skala waktu dan ruang.
Perubahan struktur bentuk batuan dapat berupa kekar, sesar dan lipatan.
Kekar
Kekar adalah suatu fracture (retakan pada batuan) yang relatif tidak mengalami
pergeseran pada bidang rekahnya, yang disebabkan oleh gejala tektonik maupun non
tektonik. Kekar merupakan salah satu struktur yang paling umum dijumpai pada
batuan. Kekar atau joint adalah rekahan-rekahan pada batuan yang berbentuk lurus,
planar dan tidak terjadi pergeseran.Joint set adalah kumpulan kekar pada satu tempat
atau pada suatu batuan yang memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dengan joint
set lainnya. Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu
gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Secara
umum dicirikan oleh:
a) Pemotongan bidang perlapisan batuan;
b) Biasanya terisi mineral lain (mineralisasi) seperti kalsit, kuarsa dsb;
c) Kenampakan breksiasi. Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan
sifat dan karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan
tersebut.
Perbedaan kekar dengan struktur retakan biasa adalah, kekar terjadi dalam pola-pola
yang teratur. Biasanya berupa garis lurus yang arahnya tegak lurus vektor tegasan
(stress). Terkadang beberapa kekar saling berpotongan, membagi sebuah batuan
besar menjadi balok-balok yang saling terpisah. Kekar terjadi pada lingkungan
geologi yang bertekanan rendah.
Kekar memegang peranan penting di geofisika, misalnya sebagai jalur migrasi
minyak bumi atau air tanah. Apabila kekar dilewati larutan hidrotermal, maka
mineral dapat mengendap di sana, membentuk urat mineral. Selain itu, pemetaan
kekar sangat penting dilakukan sebelum membuat desain waduk.
Kekar umumnya terdapat sebagai rekahan tensional dan tidak ada gerak sejajar
bidangnya. Kekar membagi-bagi batuan yang tersingkap menjadi blok-blok yang
besarnya bergantung pada kerapatan kekarnya. Dan merupakan bentuk rekahan
paling sederhana yang dijumpai pada hampir semua batuan. Biasanya terdapat
sebagai dua set rekahan, yang perpotongannya membentuk sudut berkisar antara 45
sampai 90 derajat.
Kekar mungkin berhubungan dengan sesar besar atau oleh pengangkatan kerak yang
luas, dapat tersebar sampai ribuan meter persegi luasnya. Umumnya pada batuan
yang getas. Kebanyakan kekar merupakan hasil pembubungan kerak atau dari
kompresi atau tarikan (tension) berkaitan dengan sesar atau lipatan. Ada kekar
tensional yang diakibatkan oleh pelepasan beban atau pemuaian batuan. Kekar kolom
pada batuan volkanik terbentuk oleh tegasan yang terjadi ketika lava mendingin dan
mengkerut.Kekar juga mempunyai nilai ekonomis. Dapat memperbesar permeabilitas
yang penting bagi migrasi dan menampung air tanah dan minyak bumi.
Analisa kekar sangat diperlukan dalam eksplorasi dan pengembangan sumber daya
alam. Rekahan-rekahan mengontrol endapan mineral, tembaga, timbal, seng,
merkuri,perak,emas dan tungsten.
Larutan hidrotermal yang berasosiasi dengan intrusi batuan beku mengalir sepanjang
kekar-kekar dan mengendapkan mineral-mineral sepanjang dinding kekar,
membentuk urat-urat mineral (mineral veins).
Kekar dapat terjadi pada semua jenis batuan, dengan ukuran yang bervariasi dari
beberapa millimeter (kekar mikro) hingga ratusan kilometer (kekar mayor).
Sedangkan yang berukuran beberapa meter disebut dengan kekar minor.Kekar dapat
terjadi akibat adanya proses tektonik, proses perlapukan dan perubahan temperature
yang signifikan.Kekar merupakan jenis struktur batuan yang berbentuk bidang pecah.
Sifat dari bidang ini memisahkan batuan menjadi bagian-bagian yang terpisah. Tetapi
tidak mengalami perubahan posisinya. Sehingga menjadi jalan atau rongga atau
kesarangan batuan yang dapat dilalui cairan dari luar beserta materi lain seperti air,
gas dan unsur-unsur lain yang menyertainya.

Gambar 1 : contoh kekar
Sesar
adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Umumnya disertai oleh
struktur yang lain seperti lipatan, rekahan dsb. Adapun di lapangan indikasi suatu
sesar/patahan dapat dikenal melalui :
a) Gawir sesar atau bidang sesar
b) Breksiasi, gouge, milonit,
c) Deretan mata air
d) Sumber air panas
e) Penyimpangan / pergeseran kedudukan lapisan
f) Gejala-gejala struktur minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dsb.

Berdasarkan pergeserannya, struktur sesar dalam geologi dikenal ada 3 jenis yaitu:
Sesar Mendatar (Strike slip faults)
Sesar Naik (Thrust faults)
Sesar Turun (Normal faults).

Gambar 2 : Jenis-jenis Sesar Berdesararkan pergesarannya
Lipatan
adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan
sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk
lengkungan.Unsur-unsur yang terdapat pada struktur ini dapat diketahui
dengan menafsirkan kedudukan lapisan batuannya. Kedudukan lapisan
batuan(dalam hal ini arah kemiringan lapisan batuan) pada peta topografi,
akan berlawanan arah dengan bagian garis kontur.
Berdasarkan bentuk lengkungannya lipatan dapat dibagi dua, yaitu :
a). Lipatan Sinklin adalah bentuk lipatan yang cekung ke arah atas.
b). Lipatan antiklin adalah lipatan yang cembung ke arah atas.

Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan dapat
dikelompokkan menjadi :
Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang tetap.
Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar dengan
sumbu utama.
Lipatan harmonik atau disharmonik adalah lipatan berdasarkan
menerus atau tidaknya sumbu utama.
Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya
Lipatan chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar
Lipatan isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar
Lipatan Klin Bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi oleh
permukaan planar.


Gambar 3: Jenis Lipatan

Sumber : http://www.scribd.com/doc/168492626/Tugas-Makalah-Geologi-
Struktur#download


Batuan yang terdapat di Bumi merupakan subyek yang secara terus menerus
mendapat gaya berakibat pada tubuh batuan yang dapat mengalami pelengkungan
atau keretakan. Ketika tubuh batuan melengkung atau retak, maka kita menyebutnya
batuan tersebut terdeformasi (berubah bentuk dan ukurannya). Penyebab deformasi
pada batuan adalah gaya tegasan (gaya/satuan luas). Oleh karena itu untuk
memahami deformasi yang terjadi pada batuan, maka kita harus memahami konsep
tentang gaya yang bekerja pada batuan.
Sumber : http://theotherofmyself.wordpress.com/2012/05/03/prinsip-dasar-
mekanika-batuan-gaya-tegangan-tensional-force/

jarak antara sejumlah monumen-monumen survei di Yunani diukur dengan
sangat akurat. Pada tahun 1988 team ilmiah mengukur kembali jarak-jarak tersebut,
dan menemukan bahwa Yunani menjadi lebih panjang satu meter. Mereka juga
mendapatkan bahwa Yunani sedang terpelintir (twisted), di bagian ujung sebelah
Selatan, Pelponnesus, bergerak ke arah Baratdaya. Penyebab dari pemanjangan dan
pelintiran ini adalah tektonik lempeng. Afrika bergerak ke utara, perlahan-lahan
mendorong sebagian lantai dasar laut Mediteran ke bawah Yunani.
Gaya tektonik secara kontinu akan menekan, menarik, melengkungkan dan
mematahkan batuan di litosfer. Sumber energi tektonik berasal dari energi panas
bumi yang diubah menjadi energi mekanik oleh arus konveksi. Aliran konveksi
tersebut sangat besar, batuan panas di dalam mesosfir dan astenosfir perlahan-lahan
menyeret dan melengkungan litosfir secara kontinu yang akhirnya menyebabkan
batuan terdeformasi. Deformasi batuan litosfir terlalu lambat dan terlalu dalam untuk
diamati. Contohnya adalah lempeng India-Australia yang mendesak lempeng
Eurasia, tercermin pada sesar Sumatera. Gerakannya tidak teramati tetapi hasilnya
berupa Bukit-barisan dan seringnya terjadi gempa bumi di daerah ini.
Sumber : http://deovell.blogspot.com/2012/06/deformasi-batuan.html
Karena gaya-gaya terdapat dalam bumi tersebut batuan mengalami keadaan
yang dinamakan strain (regang) dan stress (tegang) sehingga mengakibatkan
deformasi batuan (perubahan bantuk maupun struktur batuan)
Strain (Regang)
Tegangan yang terjadi akibat gerakan tektonik tersebut mempunyai arah sejajar
permukaan bumi (mendatar) dari segala arah dan tegangan yang lain berasal dari
dalam bumi ke arah permukaan bumi (vertikal). Kekuatan tegangan-tegangan
tersebut berbeda satu sama lain baik arah mendatar maupun yang berarah vertikal,
oleh karenanya tegangan ini sering dikenal dengan tegangan utama (principal stress).
Berdasarkan perbedaan kekuatan tegangan tersebut dibedakan menjadi 3 bagian yaitu
(s1) Tegangan utama maksimum, (s2) Tegangan utama menengah, dan (s3). Faktor
lain yang berpengaruh adalah sifat fisik dan mekanik batuan, seperti misalnya bila
batuan bersifat plastis maka batuan akan mengalami pelipatan tetapi bila batuan
bersifat tegar (rigid) maka batuan akan retak/pecah.

Sumber : http://www.scribd.com/doc/93462194/DEFORMASI-BATUAN

Uniform atau differential stress yang menyebabkan terdeformasinya litosfir
diakibatkan oleh gaya-gaya tektonik yang bekerja sepanjang waktu. Batuan yang
terkena stress akan mengalami regangan atau perubahan bentuk dan atau volume
dalam keadaan padat yang disebut strain atau regangan.
Sumber : http://deovell.blogspot.com/2012/06/deformasi-batuan.html
Stress (Tegang)
Stress adalah gaya yang bekerja pada satuan luas. Terdapat dua bentuk stress yaitu :
o Stress uniform akan menekan dengan besaran yang sama dari segala arah.
Dalam batuan dinamakanconfining stress karena setiap tubuh batuan dalam
litosfir dibatasi oleh batuan lain di sekitarnya dan ditekan secara merata
(uniform) oleh berat batuan di atasnya.


o Stress diferensial menekan tidak dari semua jurusan dengan besaran yang
sama. Dalam sistem ortogonal dapat diuraikan menjadi stress utama, yang
maksimum, yang menengah, dan yang paling kecil besarannya. Biasanya
differential stress ini yang mendeformasi batuan dan dikenal 3 jenis
diferrential stress, yaitu tensional stress, compressional stress dan shear stress.



Gambar 4. Deformasi batuan akibat berbagai bentuk stress. Panah
menunjukkan arah tegasan utama (maximum stress).
Tensional stress, arahnya berlawanan pada satu bidang, dan sifatnya
menarik (stretch) batuan.
Compressional stress, arahnya berhadapan, memampatkan atau
menekan batuan.
Shear stress, bekerja berlawanan arah, tidak dalam satu bidang, yang
menyebabkan terjadinya pergeseran dan translasi.

Sumber : http://deovell.blogspot.com/2012/06/deformasi-batuan.html

Three Stages of Deformation
three stages of deformation yang merupakan sifat deformasi suatu benda terhadap
gaya berdasarkan tingkat elastisitas benda tersebut. Ketiga tingkatan tersebut adalah :
1. Elastic
Benda dikatakan elastic jika suatu benda dikenai gaya, maka akan mengalami
deformasi, tetapi jika gaya dilepas (hilang), maka benda tersebut akan kembali
lagi pada bentuk dan ukuran semula. Batas dimana suatu benda masih dapat
kembali seperti semula jika gaya dilepas, disebut elastic limit. Maka jika besar
gaya yang bekerja melebihi elastic limit, benda tersebut tidak akan kembali pada
bentuk semula, jika gaya hilang.
2. Plastic
Benda dikatakan plastic jika gaya yang bekerja mencapai elastic limit. Benda
yang terkena gaya hanya sebagian yang dapat kembali pada bentuk semula, jika
gaya dihilangkan.
3. Brittle and Ductile
Benda dikatakan brittle, jika benda sudah pecah sebelum gaya yang bekerja
mencapai titik plastis. Benda dikatakan ductile, jika benda pecah/hancur setelah
gaya melewati titik elastic.

Sumber : http://www.scribd.com/doc/168492626/Tugas-Makalah-Geologi-
Struktur#download


Tahapan Deformasi
Ketika batuan terdeformasi maka batuan mengalami tarikan. Gaya tarikan akan
merubah bentuk, ukuran, atau volume dari suatu batuan. Tahapan deformasi terjadi
ketika suatu batuan mengalami peningkatan gaya tegasan yang melampaui 3 tahapan
pada deformasi batuan.
1. Deformasi yang bersifat elastis (Elastic Deformation) terjadi apabila sifat gaya
tariknya dapat berbalik (reversible). Begitu stress hilang, batuan kembali
terbentuk dan volume seperti semula. Seperti karet yang ditarik akan melar tetapi
jika dilepas akan kembali ke panjang semula. Elastisitas ini ada batasnya yang
disebut elastic limit, yang apabila dilampaui batuan tidak akan kembali pada
posisi awal. Di alam tidak pernah dijumpai batuan yang pernah mengalami
depformasi elastis ini, karena tidak meninggalkan jejak atau bekas, karena
kembali ke keadaan semula, baik bentuk maupun volumenya. Sir Robert Hooke
(1635-1703) adalah orang pertama yang memperlihatkan hubungan antara stress
dan strain yang sesuai dengan jenis batuannya. Hukum Hooke yang mengatakan
bahwa sebelum melampaui batas elastisitasnya hubungan stress dan strain suatu
material adalah linier.
2. Deformasi yang bersifat lentur (Ductile Deformation) terjadi apabila sifat gaya
tariknya tidak dapat kembali lagi (irreversible). Untuk mempermudah
membayangkannya dapat dilihat diagram strain-stress Gambar 2 yang di dapat
dari percobaan dengan menekan contoh batuan berbentuk silindris. Mula-mula
kurva stress-strain naik tajam sepanjang daerah elastis sesampai pada elastic limit
(Z), kurvanya mendatar. Penambahan stress menyebabkan terjadinya deformasi
ductile. Bila proses stress dihentikan pada titik X silinder akan kembali sedikit ke
arah semula. Strain menurun sepanjang kurva X

Y. Strain permanennya adalah
XY yang merupakan deformasi ductile.
3. Fracture tejadi apabila batas atau limit elastik dan ducktile deformasi dilampaui.
Perhatikan Gambar 2yang semula stress dihentikan pada X

, disini dilanjutkan
dengan menaikkan stress. Kurva stress-strain berlanjut sampai ke titik F dan
batuan akan pecah melalui rekahan. Deformasi rekah (fracture deformation) dan
lentur (ductile deformation) adalah sama, menghasilkan regangan (strain) yang
tidak kembali ke kondisi semula.


Gambar 7-2 Kurva hubungan tegasan (stress) dan tarikan (strain) terhadap
batuan, dimana tegasan dan tarikan semakin meningkat maka batas elastisitas
akan dilampaui dan pada akhirnya mengalami retak.
Sumber : http://www.scribd.com/doc/186795359/56214888-7-GEOLOGI-
STRUKTUR-pdf#download

Pengontrol Deformasi
Percobaan-percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa deformasi batuan, selain
tergantung pada besarnya gaya yang bekerja, juga kepada sifat fisika dan kompisis
batuan serta lingkungan tektonik dan waktu.

Faktor-faktor yang mengontrol terjadinya deformasi adalah :
Suhu
Makin tinggi suhu suatu benda padat semakin ductile sifatnya dan keregasannya
makin berkurang. Misalnya pipa kaca tidak dapat dibengkokan pada suhu udara
normal, bila dipaksa akan patah, karena regas (brittle). Setelah dipanaskan akan
mudah dibengkokan. Demikian pula halnya dengan batuan. Di permukaan, sifatnya
padat dan regas, tetapi jauh di bawah permukaan dimana suhunya tinggi, bersifat
ductile.
Waktu dan strain rate
Pengaruh waktu dalam deformasi batuan sangat penting. Kecepatan strain sangat
dipengaruhi oleh waktu. Strain yang terjadi bergantung kepada berapa lama batuan
dikenai stress. Kecepatan batuan untuk berubah bentuk dan volume disebut strain
rate, yang dinyatakan dalam volume per unit volume per detik, di bumi berkisar
antara 10
-14
/ detik sampai 10
-15
/ detik. Makin rendah strain rate batuan, makin besar
kecenderungan terjadinya deformasi ductile.
Pengaruh suhu, confining pressure dan strain rate pada batuan, seperti ciri pada
kerak, terutama di bagian atas dimana suhu dan confining pressure rendah tetapi
strain rate tinggi, batuan cenderung tegas ( brittle) dan patah. Sedangkan bila pada
suhu tinggi, confining pressure tinggi dan strain rate rendah sifat batuan akan
menjadi kurang regas dan lebih bersifat ductile. Sekitar kedalaman 15 km, batuan
akan bersifat regas dan mudah patah. Di bawah kedalaman 15 km batuan tidak
mudah patah karena bersifat ductile. Kedalaman dimana sifat kerak berubah dari
regas mulai menjadi ductile, disebut brittle-ductile transition.
Komposisi
Komposisi batuan berpengaruh pada cara deformasinya. Komposisi mempunyai dua
aspek. Pertama, jenis dan kandungan mineral dalam batuan, beberapa mineral (seprti
kuarsa, garnet dan olivin) sangat brittle, sedangkan yang lainnya (seperti mika,
lempung, kalsit dan gypsum) bersifat ductile. Kedua, kandungan air dalam batuan
akan mengurangi keregasannya dan memperbesar keduktilannya. Pengaruh air,
memperlemah ikatan kimia mineral-mineral dan melapisi butiran-butiran mineral
yang memperlemah friksi antar butir. Jadi batuan yang basah cenderung lebih
ductile daripada batuan kering. Batuan yang cenderung terdeformasi ductile
diantaranya adalah batu gamping, marmer, lanau, serpih, filit dan sekis. Sedangkan
yang cenderung brittle daripada ductile, batupasir, kuarsit, granit, granodiorit, dan
gneiss.
Struktur batuan adalah bentuk dan kedudukan batuan yang dapat dilihat saat ini
sebagai hasil dari 2 macam proses , yaitu :
1. Proses yang berhubungan dengan pembentukan batuan tersebut yang akan
menghasilkan struktur-struktur primer.
2. Proses yang bekerja kemudian (setelah batuan tersebut terbentuk), yaitu berupa
deformasi mekanis atau perubahan kimiawi yang mempengaruhi batuan setelah
terbentuk. Proses ini akan menghasilkan struktur sekunder.

Spencer (1988) berpendapat bahwa yang dipelajari pada geologi struktur meliputi
struktur primer dan struktur sekunder. Namun pada umumnya ilmu ini khusus
mempelajari struktur sekunder saja, tetapi harus diketahui mengenai struktur
primernya.
Deformasi yang terjadi pada kerak, yang kita amati sekarang ini adalah jejak
deformasi yang telah terjadi beberapa ratus atau juta tahun yang lalu, dan dikenal
sebagai struktur geologi. Dalam struktur geologi, deformasi yang terjadi akibat gaya
tektonik dikelompokkan sebagai struktur sekunder dan dibedakan dari struktur yang
terbentuk pada saat atau sebelum batuan terbentuk yang dinamakan struktur
primer. Yang termasuk dalam struktur primer adalah struktur-struktur pada batuan
sedimen, seperti bidang perlapisan, lapisan bersusun (graded beding), lapisan silang
siur (cross beding) dan jejak binatang. Sedangkan pada batuan beku adalah rekahan-
rekahan yang terbentuk akibat pendinginan, dinamakan kekar kolom (columnar
joints). Arah rekahan-rekahan yang tegak lurus terhadap bidang pendinginan,
permukaannya segi enam, struktur aliran pada lava dan sebagainya. Struktur
sekunder yang terbentuk setelah batuan terbentuk, adalah lipatan (fold), kekar (joint)
dan sesar (fault).
Sumber : http://deovell.blogspot.com/2012/06/deformasi-batuan.html