Anda di halaman 1dari 16

Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 1

SATUAN ACARA PENYULUHAN


DETEKSI DINI GANGGUAN JIWA


IDENTITAS
Topik : Pentingnya Pengetahuan Tentang Deteksi Dini Gangguan Jiwa
Sub Topik : Kriteria diagnosis gangguan jiwa
Hari/ Tanggal : Kamis/17 April 2014
Waktu : 10.00 s/d 11.30 WIB
Sasaran : Pasien dan keluarga pasien yang datang ke poliklinik
Tempat : Poliklinik

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan tentang Deteksi Dini Gangguan Jiwa diharapkan pasien
dan keluarga pasien dapat memahami dengan baik tentang mendeteksi secara dini gangguan
jiwa.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan selama 60 menit diharapkan para peserta dapat :
Dapat menjelaskan yang dimaksud dengan gangguan jiwa
Mendeteksi dini gejala dan tanda-tanda Gangguan jiwa
Edukasi tentang gangguan jiwa
Mengetahui klasifikasi gangguan jiwa
Pencegahan gangguan jiwa
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 2

MATERI (terlampir)
Pengertian Gangguan Jiwa
Insidensi Gangguan Jiwa
Manifestasi Gangguan Jiwa
Mengetahui kriteria diagnosis secara dini Gangguan Jiwa
Mengetahui klasifikasi Gangguan Jiwa
Pencegahan Gangguan Jiwa

MEDIA
Laptop
LCD
Microphone
Leaflet

METODE
Ceramah
Diskusi
Tanya Jawab



Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 3

KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
NO KEGIATAN PENYULUHAN AUDIENCE WAKTU
1 Pembukaan - Mengucapkan salam
- Memperkenalkan diri
- Menjawab salam
- Memperhatikan
5 menit
2 Isi Pengertian gangguan
jiwa
Insidensi gangguan jiwa
Penyebab gangguan
jiwa
Mengetahui kriteria
diagnosis secara dini
gangguan jiwa
Mengetahui klasifikasi
klasifikasi gangguan
jiwa
Pencegahan gangguan
jiwa
- Menyampaikan
pengetahuannya
- Mendengarkan dan
memperhatikan
penyampaian materi
45 menit
3 Penutup - Menyimpulkan materi
- Memberikan
kesempatan peserta
untuk bertanya
- Menutup dan
mengucapkan salam
- Mendengarkan dan
memperhatikan
- Akfif mengajukan
pertanyaan
- Menjawab salam
10 menit

Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 4

BAB I
PENDAHULUAN
Secara fitrah setiap manusia atau individu memiliki mental yang sehat, akan tetapi karena suatu
sebab ada beberapa individu yang mengalami atau memiliki mental yang tidak sehat. Biasanya
mental yang tidak sehat, diakibatkan dari goncangan-goncangan atau konflik batin yang ada dalam
diri (jiwa), dan pengalaman hidup yang tidak menyenangkan. Dengan kondisi semacam itu biasanya
kondisi psikologis (mental) menjadi kacau yakni, tidak selaras lagi antara yang dipikirkan dengan
peri lakunya. Orang yang menderita sakit mental (jiwa), secara sosial kurang bias diterima ditengah
tengah dimana dia tinggal, bahkan secara umum dalam masyarakat kurang bisa diterima. Untuk
menghindari terjadinya sakit mental tersebut, maka perlu upaya sedini mungkin untuk mengenal
kondisi mental, maka dari itu harap diketahui faktor-faktor yang menimbulkan gangguan mental dan
gejala gejalanya sebagai bentuk deteksi diagnosis. Deteksi yang biasa dilakukan ialah mengenali
gejala-gejala abnormalitas (ketidakwajaran) pada mental atau pada jiwa. Pendekatan diagnosis ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya kekalutan mental yang lebih parah yang dapat merusak
kepribadian. Hal tersebut dapat membantu individu dalam mengembangkan cara berfikir, cara
berperasaan, dan cara berperilaku yang baik dan benar, sehingga eksistensi seseorang bisa diterima
dan diakui dalam lingkungan sosialnya sebagai sosok insan yang sehat secara sempurna.1










Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 5

BAB II
PEMBAHASAN
DETEKSI DINI GANGGUAN MENTAL DAN FAKTOR PENCETUS
GANGGUAN MENTAL
A. Pengertian Deteksi Dini, Mental Dan Gangguan Mental
a) Pengertian Deteksi Dini
Tujuan deteksi dini ialah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman serta perhatian terhadap
kondisi psikologis, yakni kondisi mental dan jiwa spiritual yang ada dalam diri individu untuk
menghindari dan menanggulangi akan terjadinya gangguan-gangguan jiwa (mental). Deteksi dini
juga sebagai bentuk preventive (pencegahan) sejak awal terhadap indikasi-indikasi akan terjadinya
gangguan mental dan kejiwaan. Karena manusia hidup itu memiliki tanggung jawab yang besar
terhadap relasi dalam berhubungan, baik yang berkaitan individu dengan Tuhannya, individu dengan
dirinya sendiri, keluarganya, lingkungannya sosialnya dan lingkungan alam sekitarnya. Hal ini
mustahil bisa dilakukan apabila tidak didukung oleh kondisi diri yang sehat, yakni sehat jasmani
(fisiologis) dan sehat ruhani (mental-spiritual) atau psikologis.2

Deteksi dini terhadap gangguan mental juga memberikan manfaat yaitu mengembangkan nilai dan
sikap secara menyeluruh serta perasaan sesuai dengan penerimaan diri (self acceptance), membantu
memahami tingkah laku manusia dan membantu manusia untuk memperoleh kepuasan pribadi, dan
dalam penyesuaian diri secara maksimum terhadap masyarakat serta membantu individu untuk hidup
seimbang dalam berbagai aspek, fisik, mental dan sosial. Disamping itu deteksi dini mempunyai
fungsi dan tujuan, yaitu: fungsi pemahaman (understanding), fungsi pengendalian (control), fungsi
peramalan (prediction), fungsi pengembangan (development), fungsi pencegahan (prevention), dan
fungsi perawatan (treatment). Misal dengan melakukan deteksi dini terhadap gangguan mental
seseorang akan terhindar dari hal-hal atau keadaan yang dapat membahayakan jiwa ataupun mental.
Jadi deteksi dini adalah suatu upaya untuk mengenali kondisi kesehatan mental, terlebih gejala dan
faktor atau pencetus yang bisa membuat kondisi mental menjadi tidak sehat (terganggu) secara dini.




Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 6

b) Pengertian Mental

Pengertian mental secara definitif belum ada kepastian definisi yang jelas dari para ahli kejiwaan.
Secara etimologi kata mental berasal dari bahasa Yunani, yang mempunyai pengertian sama
dengan pengertian psyche, artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.3 James Draver memaknai mental yaitu
revering to the mind maksudnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan pikiran atau pikiran itu
sendiri.4
Secara sederhana mental dapat dipahami sebagai sesuatu yang berhubungan dengan batin dan watak
atau karakter, tidak bersifat jasmani (badan).5 Kata mental diambil dari bahasa Latin yaitu dari kata
mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Dengan demikian mental
ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku
individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan dorongan dan cerminan dari
kondisi (suasana) mental.6

Sedangkan secara terminologi para ahli kejiwaan maupun ahli psikologi ada perbedaan dalam
mendefinisikan mental. Salah satunya sebagaimana dikemukakan oleh Al-Quusy (1970) yang
dikutip oleh Hasan Langgulung, mendefinisikan mental adalah paduan secara menyeluruh antara
berbagai fungsi-fungsi psikologis dengan kemampuan menghadapi krisis-krisis psikologis yang
menimpa manusia yang dapat berpengaruh terhadap emosi dan dari emosi ini akan mempengaruhi
pada kondisi mental.7 Pengertian lain mental didefinisikan yaitu yang berhubungan dengan pikiran,
akal, ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan.8 Seperti mudah lupa,
malas berfikir, tidak mampu berkonsentrasi, picik, serakah, sok, tidak dapat mengambil suatu
keputusan yang baik dan benar, bahkan tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan yang
benar dan yang salah, yang hak dan yang batil, antara halal dan haram, yang bermanfaat dan yang
mudharat.9 Dari sini dapat ditarik pengertian yang lebih signifikan bahwa mental itu terkait dengan,
akal (pikiran/rasio), jiwa, hati (qalbu), dan etika (moral) serta tingkah laku). Satu kesatuan inilah
yang membentuk mentalitas atau kepribadian (citra diri). Citra diri baik dan jelek tergantung pada
mentalitas yang dibuatnya. Kondisi individu kelihatan gembira, sedih, bahkan sampai hilangnya
gairah untuk hidup ini semua tergantung pada kapasitas mental dan kejiwaannya. Mereka yang tidak
memiliki sistem pertahanan mental yang kuat dalam menghadapi segala problematika kehidupan atau
tidak memiliki sistem pertahanan diri yang kuat untuk mengendalikan jiwanya, maka individu akan
mengalami berbagai gangguan-gangguan kejiwaan, yang berpengaruh pada kondisi kepribadian yang
bisa mendorong pada perilaku-perilaku pathologies.10 Kondisi mental tersebut bisa digolongkan
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 7

dalam dua bentuk yaitu kondisi mental yang sehat dan kondisi mental yang tidak sehat. Kondisi
mental yang sehat akan melahirkan pribadi-pribadi yang normal. Pribadi yang normal ialah bentuk
tingkah laku individu yang tidak menyimpang dari tingkah laku pada umumnya dimana seorang
individu itu tinggal, dan pribadi yang normal akan menunjukkan tingkah laku yang serasi dan tepat
(adekuat) dan bisa diterima oleh masyarakat secara umum, dimana sikap hidupnya sesuai dengan
norma dan pola hidup lingkungannya. Secara sederhana individu tersebut mampu beradaptasi secara
wajar.11 Jadi pribadi yang normal dan metal yang sehat ini bisa dirasakan pada kondisi diri kita atau
kondisi perasaan kita yang cenderung stabil, tidak banyak memendam konflik internal, suasana hati
yang tenang, dan kondisi jasmani yang selalu merasa selalu sehat. Sementara itu yang perlu
mendapatkan perhatian dan perlu diwaspadai oleh setiap individu ialah kondisi mental yang tidak
sehat, karena kondisi mental yang tidak sehat itu akan membentuk suatu kepribadian yang tidak sehat
pula (abnormal). Pribadi yang tidak sehat (abnormal) ialah adanya tingkah laku seseorang atau
individu yang sangat mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum yang ada di
lingkungannya, atau disebut juga dengan perilaku-perilaku yang menyimpang (abnormal). Secara
umum bentuk mental yang tidak sehat yaitu secara relatif bisa dilihat pada individu jauh dari
kemampuan beradaptasi atau selalu mengalami kesulitan dalam beradaptasi, dan memiliki ciri
bersikap inferior dan superior.12 Yang menjadi barometer setiap kelainan tingkah laku individu ialah
kondisi mentalnya. Mental yang sehat itulah yang menentukan tanggapan atas dirinya terhadap setiap
persoalan, dan kemampuan untuk beradaptasi, dan mental yang sehat pulalah yang menentukan
apakah seseorang atau individu memiliki gairah hidup atau justru mereka pasif dan tidak
bersemangat bahkan memiliki ketakutan untuk hidup.13 Pada dasarnya untuk mengetahui apakah
seseorang atau individu sehat mentalnya atau tidak (terganggu mentalnya) tidaklah mudah diukur
atau diperiksa dengan alat-alat seperti halnya pada penyakit jasmani, akan tetapi yang menjadi
ukuran adalah merasakan diri kita sejauh mana kondisi perasaan kita apakah sudah melampaui batas
kewajaran atau tidak seperti, rasa bersedih, kecewa, pesimis, rendah diri dan lain sebagai. Dan
seseorang atau individu yang terganggu kesehatan mentalnya, bisa dilihat pada tindakannya, tingkah
lakunya atau ekspresi perasaannya, karena seseorang atau individu yang terganggu kesehatan
mentalnya ialah apabila terjadi kegoncangan emosi, kelainan tingkah laku atau tindakannya.14

Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berada dalam diri seseorang atau individu yang terkait
dengan psikis atau kejiwaan yang dapat mendorong terjadinya tingkah laku dan membentuk
kepribadian,begitu juga sebaliknya mental yang sehat akan melahirkan tingkah laku maupun
kepribadian yang sehat pula. Sigmund Freud memberikan definisi bahwa kepribadian yang sehat
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 8

adalah adanya keseimbangan antara dorongan-dorongan dan motif-motif tiap bagian jiwa dalam
pemuasannya. Begitu juga Arthur Gorden melihat bahwa kemampuan mengharmoniskan dorongan-
dorongan psikis dengan realitas dengan sendirinya akan terbentuk kepribadian yang sehat dan akan
melahirkan tingkah laku yang sehat pula (normal).15

c) Pengertian Gangguan Mental
Yang dimaksud dengan gangguan adalah hal-hal yang menyebabkan ketidak beresan
(ketidakwarasan) atau ketidakwajaran terhadap kesehatan metal atau jiwa.16 Dalam terminologi yang
lain gangguan mental ialah adanya ketidakseimbangan yang terjadi dalam diri kita, berpusat pada
perasaan, emosional dan dorongan (motif/ nafsu), yang mengakibatkan pada ketidakharmonisan
antara fungsi-fungsi jiwa, yang menyebabkan kehilangan daya tahan jiwa, pada akhirnya jiwa
menjadi labil dan cenderung mudah terpengaruh pada hal-hal yang negatif, serta dirinya tidak
mampu merasakan kebahagiaan serta tidak mampu mengaktualisasikan potensi-potensi
(kemampuan) yang ada dalam dirinya secara wajar.17 Dalam kamus besar Bahasa Indonesia
didefinisikan gangguan mental ialah ketidakseimbangan jiwa yang mengakibatkan terjadinya
ketidaknormalan sikap dan tingkah laku yang dapat menghambat dalam proses penyesuaian diri.18

Dengan demikian gangguan mental ialah kondisi kejiwaan yang lemah (sakit), yang bisa merusak
kepribadian dengan tingkah lakunya yang tidak normal (abnormal), serta mengakibatkan seseorang
atau individu mengalami kesulitan bersosialisasi, beraktualisasi, dan beradaptasi, yakni mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Orang yang mengalami gangguan mental
ialah kebalikan dari orang yang sehat mentalnya, sebagaimana penjelasan Dadang Hawari
menurutnya, orang yang sehat mentalnya (jasmani/ jiwa, psikis) ialah orang yang pikiran, perasaan,
serta perilakunya itu baik, tidak melanggar hukum, norma, dan etika, serta tidak merugikan orang
lain ataupun lingkungannya.19 Sementara itu Dr. Kartini Kartono gangguan mental (mentaldisorder)
ialah bentuk penyakit atau gangguan dan kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental yang
disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/ mental
terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan; sehingga muncul gangguan fungsional atau
gangguan strukural dari satu bagian atau lebih dari sistem kejiwaan.20

Zakiyah Daradjat, mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa; gangguan mental adalah kumpulan
dari keadaan-keadaan yang tidak wajar (normal) baik yang berhubungan dengan fisik (tingkah laku),
kepribadian, kejiwaan, maupun psikis (psikologis).21 Orang yang terganggu mentalnya biasanya,
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 9

pikirannya pendek, tidak memiliki pandangan hidup yang luas, sikap hidupnya penuh perasaan
pesimis, dan biasanya suka menunda-nunda waktu, serta cenderung mengeluh. Apabila telah
mengalami kondisi psikologis semacam itu jelas kondisi psikis kita terganggu. Ciri yang paling
mudah dikenali dari kondisi mental yang tidak sehat yaitu perasaan selalu malas berbuat sesuatu,
kondisi tubuh merasa selalu capek, isi pikiran dan hati diliputi perasaan iri, dengki, curiga, dan
pikiran-pikiran aneh lain dan selalu diliputi keinginan-keinginan yang tidak masuk akal (irrasional).
Gangguan mental sekecil apapun dapat merusak kepribadian atau citra diri. Maka deteksi dini mutlak
perlu dilakukan terhadap diri kita dengan tujuan untuk mengenal kondisi kesehatan mental sedini
mungkin, sehingga kita dapat mengarahkan diri agar tidak menderita gangguan mental. Deteksi diri
(psycho-diagnostic) terhadap gangguan mental sejak dini perlu dilakukan oleh siapapun, yang
menyadari betapa penting dan berharganya kesehatan metal yang melebihi hal apapun. Hal ini bias
dilakukan sendiri maupun dengan bantuan orang lain.

B. Gejala dan Faktor Pencetus Terjadinya Gangguan Mental
a) Gejala-Gejala Timbulnya Gangguan Mental
Untuk mengetahui bagaimana kondisi mental atau kondisi jiwa kita. Apakah kondisi mental itu sehat,
normal atau terganggu. Ini semua bisa diketahui atau dideteksi lewat apa yang disebut dengan
gejala atau tanda. Gejala adalah tanda-tanda yang mendahului suatu problem, atau sesuatu yang
dapat diamati sebelum timbulnya suatu problem,22 atau keadaan yang menjadi yang menjadi tanda-
tanda akan timbulnya atau berjangkitnya sesuatu.23 Jadi gejala-gejala timbulnya gangguan mental
ialah segala bentuk kondisi kejiwaan yang bisa diamati atau bisa dirasakan secara jelas sebagai
realisasi aktivitas kejiwaan yang bisa mengakibatkan ketidaknyamanan ataupun ketidaktenangan baik
secara psikologis maupun secara jasmaniah (fisik).24 Adapun gejala-gejala timbulnya gangguan
mental yang dapat dirasakan dan diamati sebagai bentuk upaya deteksi (diagnosis) yang terjadi
dalam diri yaitu, dengan menilai dan mau merasakan bagaimana kondisi jasmaniah dan rohani yang
ada dalam diri kita. Untuk mengetahuinya bisa diagnosis atau deteksi sendiri melalui beberapa gejala
(tanda). Adapun gejala-gejalanya tersebut bisa dirasakan atau bisa dideteksi melalui gejala kejiwaan
yang ada dalam diri (kejiwaan) yaitu, melalui pikiran, perasaan, emosi, kehendak dan tingkah laku.

1) Pikiran
Pikiran yang dimiliki setiap manusia memiliki fungsi yaitu untuk berfikir. Berfikir ialah sebagai
bentuk gejala kognisi atau gejala cipta, dan berfikir juga wujud dari proses kerja pikiran dan
merupakan kondisi kejiwaan yang juga bisa ikut membantu mengontrol segala perilaku manusia.
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 10

Pikiran memiliki fungsi untuk mengetahui, mencipta, dan memecahkan problema. Dalam kerjanya,
berfikir itu menggunakan sebuah alat yang disebut dengan akal (inteligensia), yang berada dalam
otak sebagai tempat singgah dalam proses berfikir. Ada beberapa tingkatan dalam berfikir yaitu;
berfikir konkrit, berfikir skematis, dan berfikir abstrak. Dengan berfikir seseorang bias memperoleh
pengetahuan, pengertian dan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memperoleh kebenaran dalam
bentuk apapun, seperti kebenaran dalam bertindak dan bertingkah laku.25 Berfikir bisa disebut juga,
gejala atau kondisi kejiwaan yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara ketahuan-ketahuan
kita. Berfikir merupakan proses dialektika, yakni selama individu berfikir, pikiran akan mengadakan
tanya jawab ataupun melakukan pertimbangan-pertimbangan, untuk bisa memutuskan suatu
persoalan yang akan dilakukan. Dalam proses dialektika itulah yang memberi arah atau pengertian
agar pikiran tidak salah dalam memberikan keputusan. 26 Adams, memberikan definisi bahwa,
berfikir ialah suatu proses aktif, yang meliputi penggunaan, pengamatan, tanggapan, simbolsimbol,
tanda-tanda atau kata-kata, pembicaraan batin dan pengertian pengertian. Oleh karena itu berfikir
dapat didefinisikan sebagai setiap urutan kesadaran yang diarahkan pada suatu tujuan yang belum
ada kepastiannya. Setiap berfikir yaitu diarahkan sebagai bentuk problemsolving (pemecahan
masalah). Jenis berfikir setiap individu tidaklah sama, yaitu sesuai dengan hakekat persoalan yang
dihadapi, tujuan yang diinginkan dan pendekatan terhadap setiap persoalan.27 Adapun kondisi pikiran
yang sehat diantaranya yaitu, mampu berfikir secara cepat, akurat dan sistematis, realistis, mampu
berkonsentrasi, tidak merasa lelah dan tidak merasa gundah dan kacau (distorsi).28 Dengan demikian
apabila diri seseorang merasakan hal yang sebaliknya dalam pikirannya, ini merupakan suatu gejala
timbulnya gangguan mental ataupun gangguan jiwa secara umum.

2) Perasaan

Setiap aktivitas, tingkah laku dan pengalaman kita diliputi oleh perasaan. Disamping pikiran
perasaan juga mempunyai peran untuk memberikan pertimbangan bagaimana seseorang atau
individu untuk berbuat dan bertingkah laku. Perasaan juga termasuk naluri manusia yang banyak
memberi pengaruh serta mempengaruhi perkembangan sikap dan tingkah lakunya. Ada dua macam
perasaan manusia sebagaimana yang dikategorikan oleh Jamaludin Kafie yaitu digolongkan ke dalam
dua bentuk, yakni: Pertama, perasaan yang dikategorikan sebagai perasaan kejasmanian (rendah)
seperti, perasaan penginderaan, perasaan vital, perasaan psikis dan perasaan pribadi. Kedua perasaan
kerohanian (tinggi), seperti perasaan religius (hal yang suci), perasaan etis (hal yang baik), perasaan
estetik (hal yang indah), perasaan egoistis (hal diri sendiri), perasaan sosial (hal bersama), perasaan
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 11

simpati (hal tertarik) dan perasaan intelektual (hal yang benar).29 Perasaan disebut juga sebagai gejala
rasa atau disebut juga sebagai gejala emosi. Prof. Hukstra mendefinisikan perasaan yang dikutip oleh
Agus Sujanto, perasaan ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkan dan mengukur
sesuatu menurut rasa senang dan tidak senang.30 Perasaan biasanya disifatkan sebagai kondisi
kejiwaan yang dialami oleh setiap manusia pada suatu waktu. Seperti orang merasa iba, terharu,
gembira, merasa gembira atau sedih, tercengang dan sebagainya. Secara sederhana perasaan bisa
dimaknai sebagai suatu kondisi kejiwaan sebagai akibat dari adanya peristiwa-peristiwa, pada
umumnya datang dari eksternal individu, yang bisa menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada
diri individu yang mengalaminya.31 Perasaan yang dimiliki oleh setiap orang tidaklah sama, itu
semua tergantung pada kondisi atau peristiwa yang mempengaruhinya atau yang dialaminya.
Disamping pengaruh stimulus dari luar, perasaan juga bergantung pada; Pertama, kondisi jasmani
dan rohani. Kedua sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan kepribadian seseorang. Ketiga
kondisi perkembangan seseorang, yakni keadaan yang pernah mempengaruhi, akan dapat
memberikan corak dalam perkembangan perasaannya. Disamping itu faktor lain yang dapat
mempengaruhi perasaan seseorang, misalnya; keluarga, lingkungan, tempat kerja, sekolah dan
sebagainya.32 Ekspresi perasaan ini bisa dilihat dari jasmani, karena banyak perasaan timbul
bersamaan dengan peristiwa tubuh, seperti tertawa, marah, membentak, mengepal tangan, menangis,
mengerutkan dahi dan sebagainya, ini semua tak lain adalah sebagai perbuatan-perbuatan tubuh
(badan) untuk melahirkan perasaan. Tanggapan-tanggapan perasaan dapat diwujudkan dengan
gerakan-gerakan seperti, perubahan raut muka (mimik) dan gerakan-gerakan tubuh yang lain baik
sebagian (pantomimic) maupun seluruhnya. Sebagai bentuk gejala (symptom) terhadap mental, yakni
terganggu tidaknya kondisi mental seseorang itu bisa diamati atau bias dirasakan lewat perasaannya,
untuk mengetahuinya bisa kita rasakan atau kita amati terhadap gejala-gejala baik secara psikis
maupun secara fisik seperti, denyut jantung yang sangat cepat tidak seperti biasanya, pernafasan yang
tidak teratur atau tidak seperti biasanya, raut muka yang tidak seperti biasanya (seperti tampak pucat,
tampak murung, tampak bersedih, dan sebagainya), kehilangan gairah dan sebagainya.33 Perasaan
sebagai bagian kondisi kejiwaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi mental,
tingkah laku dan kepribadian. Cannon seorang ahli kejiwaan dengan teori sentralnya, yang dikutip
oleh Zuhairini, mengemukakan bahwa gejala jasmani itu merupakan suatu akibat dari perasaan
ataupun emosi yang dialami oleh seseorang atau individu. Jadi gejala-gejala jasmani itu merupakan
akibat dari kondisi perasaan ataupun emosi yang sedang dialaminya. Disamping teori tersebut James
dan Lange dengan teori perifernya mengemukakan bahwa gejala-gejala jasmani itu bukan akibat dari
kondisi perasaan ataupun emosi yang dialami oleh seseorang, akan tetapi sebaliknya yaitu kondisi
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 12

perasaan ataupun emosi yang dialami seseorang akibat dari gejala-gejala jasmaniah.34 Dari kedua
teori ini setelah dilakukan analisa bahwa keduanya tidak bisa dipisah-pisahkan karena keduanya
merupakan satu-kesatuan yang utuh yang ada dalam diri manusia yang saling mempengaruhi
terhadap kondisi mental seseorang, secara sederhana dapat dikatakan bahwa mental seseorang itu
dapat dipengaruhi kondisi internal maupun kondisi eksternal. Apabila suatu aktivitas perasaan
melebihi batas hingga kemungkinan komunikasi terganggu, maka yang timbul ialah emosi, karena
manusia sudah demikian jatuh terperangkap oleh perasaannya dan larut didalamnya hingga tidak
mampu lagi menguasai dirinya dan juga tidak mampu mengendalikan perasaannya, maka yang
terjadi atau yang timbul adalah bentuk-bentuk sikap dan perilaku emosional yang cenderung negatif.
Dengan demikian mental yang sehat ataupun tidak itu bias diukur sendiri, melalui kapasitas perasaan,
yakni apakah perasaannya dapat bekerja dalam batas kewajaran atau justru sebaliknya. Apabila
kondisi perasaan kita bekerja pada batas ketidakwajaran dan disertai dengan gejala-gejala jasmaniah
yang tidak seperti biasanya (tidak wajar) berarti mental atau jiwa seseorang mulai terganggu. Kondisi
perasaan seperti inilah yang bisa disebut sebagai gejala terjadinya gangguan mental. Maka dari itu
perasaan seseorang perlu didik dan dilatih agar menjadi baik, wajar stabil, dan proporsional dan
bernilai positif, sehingga dengan sendirinya akan membentuk mental yang sehat.35

3) Emosi

Kondisi kejiwaan yang dapat mempengaruhi mental, disamping pikiran dan perasaan juga
dipengaruhi oleh emosi. Emosi dengan perasaan hampir tidak ada perbedaannya. Emosi dalam
pengertiannya sangat bermacam-macam, seperti keadaan bergejolak, gangguan keseimbangan,
respon kuat dan tidak teratur terhadap stimulus. Dari pengertian-pengertian tersebut memiliki
kecenderungan yang sama bahwa, keadaan emosional itu menunjukkan penyimpangan dari
keadaannya normal. Keadaan yang normal adalah keadaan yang tenang atau keadaan seimbang fisik
dan sosial.36 Dalam emosi itu sudah terkandung unsur perasaan yang mendalam (intense). Secara
definitif kata emosi berasal dari kata emotust atau emovere, artinya; mencerca, menggerakkan (to stir
up) yakni, sesuatu yang mendorong sesuatu di dalam diri manusia. Emosi merupakan penyesuaian
organis yang timbul secara otomatis dalam diri seseorang setiap menghadapi peristiwa-peristiwa
tertentu, jadi emosi digerakkan oleh kondisi gejolak psikis. Gejalanya bisa diperoleh dari faktor dasar
yakni, watak, karakter, hereditas, dan atau dipengaruhi oleh lingkungan.37 Disamping pengertian
diatas yang dimaksud dengan emosi ialah suatu kondisi perasaan yang melebihi batas, terkadang
tidak mampu menguasai diri dan menjadikan hubungan pribadi dengan dunia luar menjadi terputus.
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 13

Ketidakmampuan untuk mengendalikan perasaan tersebut terhadap setiap problem akan melahirkan
sikap yang emosional yang cenderung negatif. Emosi bisa muncul apabila kurang adanya penyaluran
motoris (gerak dari dalam) yang cepat dari situasi yang dihadapinya. Misalnya tiba-tiba ada orang
yang cinta atau membenci yang sangat berlebihlebihan terhadap suatu hal, ini terjadi akibat dari
refleksi motoris kurang bisa tersalurkan dalam situasi gejala itu timbul. Akan tetapi apabila sudah
mampu memberikan reaksi kepada suatu yang ndipikirkan atau dirasakan secara tepat maka sedikit-
demi sedikit emosinya akan mereda.38 Emosi yang tampak dalam diri individu ataupun orang lain itu
bisa diukur melalui atau dengan melihat perubahan-perubahan kondisi jasmani yang ada pada diri
individu tersebut. Pada dasarnya (secara fitrah) setiap manusia memiliki sifat emosional, jadi emosi
tidak bisa dibunuh, akan tetapi emosi harus disalurkan dengan cara yang baik. Emosi timbul tidak
datang secara otonom, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ada dalam diri individu,
ketika menyikapi suatu hal (problem). Faktor-faktor yang mempengaruhi emosi diantaranya, kondisi
pikiran, kondisi perasaan, motivasi, kehendak dan kondisi jasmani. Kondisi jasmani juga bias
menentukan kadar volume kondisi emosi seseorang , misal seseorang atau individu ketika kondisi
jasmani nya, lemah, capek, lesu dan sebagainya biasanya kalau sedang dihadapkan suatu persoalan,
dalam penyikapannya lebih cenderung pada sikap yang emosional, pada kondisi semacam ini
tindakan atau perilaku yang ditampakkan cenderung tidak sehat (tidak normal).

Perasaan-perasaan emosional kapan saja kita bisa mengalami suatu emosi, aspek yang paling
kongkrit yaitu perasaan yang ditimbulkan, seperti pengalaman takut, marah, sedih atau gembira, itu
akan melahirkan sensasi yang kuat dan hebat dalam diri seseorang. Disamping perasaan-perasaan
yang bersifat subyektif tersebut, ada aspek-aspek emosi lain yang paling kongkrit, secara fenomena
logis perasaan-perasaan emosional itu bisa diamati atau dirasakan pada perubahan-perubahan dalam
tingkah laku, seperti berkelahi, marahmarah, mengamuk, berkelahi, melarikan diri, diam membeku,
tertawa, menangis serta ucapan-ucapan tertentu dan sebagainya, disamping itu ekspresi emosional
bisa diamati lewat ekspresi raut wajahnya, seperti tampak tegas, tampak memerah, tampak cemberut,
mata melotot dan sebagainya, dan juga bisa dirasakan atau diamati lewat kondisi jasmani yang lain
seperti mulut kering, keringat dingin, sakit perut dan sebagainya.39 Dengan demikian ekspresi wajah,
dan kondisi jasmani serta tingkah laku yang tidak seperti biasanya merupakan pantulan darinsikap
emosi. Faktor yang mempengaruhi emosi ialah sangat beraneka ragam, yakni tergantung pada
stimulus yang mempengaruhinya. William James seorang ahli psikologi yang dikutip oleh Dimyati
Mahmud dalam bukunya Psikologi suatu Pengantar (1990) mengemukakan bahwa perasaan dan
sensasi emosional itu merupakan reaksi bawaan terhadap stimulus tertentu. Melalui proses
Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 14

conditioning hampir setiap stimulus dapat dibuat untuk membangkitkan respon emosional, misalnya
kita tiap hari dihadapkan terus menerus pada persoalan yang sama apa bila emosi kita tidak kuat
maka akan timbul sikap emosional yang cenderung negatif, seperti menendang, menjerit, marah,
mengamuk dan sebagainya.40 Sikap emosional yang ada dalam diri manusia yang didasarkan pada
arah aktivitas tingkah laku emosionalnya itu ada empat bentuk yaitu:
1. Marah: yakni orang bergerak menentang sumber frustasi
2. Takut: yakni orang bergerak meninggalkan sumber frustasi
3. Cinta: yakni orang bergerak menuju sumber kesenangan
4. Depresi: yakni orang menghentikan respon-respon terbukanya41 dan mengalihkan emosi ke dalam
dirinya sendiri. Selama emosi berlangsung banyak terjadi perubahan perubahan pada alat tubuh,
perubahan-perubahan ini bisa membantu untuk mendeteksi berbagai reaksi pada orang-orang atau
individu yang sedang mengalami emosi.












Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 15

BAB III
PENUTUP
Gejala psikologis yang terasa antara lain berupa ketegangan, kekhawatiran, panik, perasaan tidak
nyata, takut mati, takut gila, dan takut kehilangan kontrol. Jenis gangguan kecemasan adalah
gangguan panik, gangguan fobia, gangguan obsesif kompulsif, stres pancatrauma, gangguan stres
akut, dan gangguan kecemasan menyeluruh.

Adapun gejala pokok depresiadalah perasaan sedih dan kehilangan minat terhadap segala
sesuatu. Pasien merasa murung, tidak memiliki harapan, terbuang dan tidak berharga. Sekitar 66
persen penderita depresi memikirkan untuk bunuh diri, tetapi hanya 10-15 persen yang
melakukan.

Sementara apa yang disebut dengan mania adalah suasana perasaan yang meningkat disertai
peningkatan jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mentaldalam berbagai derajat keparahan.
Gejalanya berupa rasa senang berlebihan, energi bertambah, timbul hiperaktif, kebutuhan tidur
berkurang, dan psikomotilitas meningkat, seperti banyak bicara dan merasa sangat optimistis
Oleh karena itu peran keluarga sangat penting untuk mengetahui secara dini gangguan jiwa yang
mungkin saja bisa menjadi masalah di lingkungan keluarganya. Adapun peran keluarga adalah :
1. Mengenal gangguan jiwa setiap anggotanya.
2. Menetapkan pelayanan kesehatan jiwa yang tepat.
3. Merawat anggota keluarganya yang gangguan jiwa.
4. Menyediakan lingkungan yang mendukung kesehatan jiwa.
5. Memanfaatkan pelayanan kesehatan jiwa, lintas sektor dan jaringan dukungan keluarga yang
tersedia di lingkungan.


Deteksi Dini Gangguan Jiwa Page 16

DAFTAR PUSTAKA

1. American Psychiatric Assosiation. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder,
Fourth Ed, Text Revision, 1400 K street. N.W, Washington, DC 2005, 2000: hal. 298-306
2. Kaplan, Sadock, et al . 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis
Jilid I. Tangerang. Binarupa Aksara Publishing.
3. Elvira S, Hadisukanto G. 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi kedua. Jakarta. FKUI
4. Cancro R, Lehmann. Schizofrenia Clinical Features. Dalam:Comprehensive Text book of
Psychiatry, Sadock BJ, Sadock VA, edit, Seven Ed, Lipncott Williams & Wilkins, A Wolter
Kluwer Company, Philadelphia, 2000:hal 1169-1189
5. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa DI Indonesia III. Departemen Kesehatan
RI, hal 103-118
6. Nelson MD, Saykin AJ, Flashman LA, et al. Hippocampal volume reduction in
schizophrenia as assessed by magnetic resonance imaging. Arch Gen Psychiatry
1998;55:433-440