Anda di halaman 1dari 13

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tasawwuf

Di Bawah Bimbingan : Achmad Nashichuddin






Oleh :

ALIFATURROHMAH (11610062)
LULUUL BARROH (11610063)
LELY RETNO WULANDARI (11610064)
MUHAMMAD FIRMAN ALI (11610065)

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
2011

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Kami senantiasa bisa terus menyelami
indahnya ilmu pengetahuan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang tercinta ini.
Sholawat bertabur salam tercurah selalu kepada baginda besar Nabi
Muhammad SAW. Revolusioner Islam, pembawa risalah Al-Quran al-amin
sehingga kita masih bisa merasakan betapa Dinul Islam benar-benar agama
yang terbaik di dunia dan merupakan kekuatan sentral dari pada pergerakan nalar
dan fikiran untuk bisa menjadi muslim muslimah yang kaffah.
Makalah ini disusun bertujuan untuk menambah wawasan tentang insan
kamil dalam islam, dan bertambahnya nuansa keilmuan di dalam studi keislaman.

Penyusun menyadari masih banyak kekurangan, meskipun telah berusaha
semaksimal untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Untuk bisa memberikan
konstribusi insan kamil dalam islam yang diperoleh dari beberapa sumber. Oleh
karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini bermanfaat dan sumbangan fikiran untuk masa yang akan
datang. Akhirnya, kami hanya mengharapkan semoga Allah SWT memberikan
balasan atas bantuan yang telah diberikan kepada kami. Amin


Malang, 14 Maret 2012


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makluk Allah yang diciptakaan sempurna dari
makhluk ciptaan Allah lainnya. Melalui ayat-ayat al-Quran, telah diisyaratkan
tentang kesempurnaan diri manusia, seperti antara lain disebutkan,
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik kejadian.
Kemudian Kami kembalikan ia ke derajat yang serendah-rendahnya, kecuali
orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh. Kesempurnaan
demikian membuat menusia menempati kedudukan yang tertinggi diantara
semua makhluk. Meskipun manusia memiliki potensi kesempurnaan yang
telah disebutkan, namun ketika manusia mulai menjauh dari Allah maka
kesempurnaan itu akan semakin berkurang. Untuk itu, jalan satu-satunya
mencapai kesempurnaan itu ialah kembali kepada Tuhan dengan iman dan
amal sholeh.
1

Pembicaraan mengenai manusia merupakan kajian menarik yang penuh
misteri, mengkaji tentang manusia tidak akan pernah ada habisnya. Dengan
akal yang dimiliki, setiap manusia akan berpotensi untuk selalu mencari hal-
hal yang baru. Berbagai pemikiran tentang manusia mulai muncul sejak
beberapa abad sebelum masehi. Pemikiran-pemikiran tentang manusia
senantiasa melaju dan berkembang. Dewasa ini telah bermunculan berbagai
pemikiran tentang hakikat dan martabat manusia serta cara dalam mencapai
kesempurnaan manusia.
Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah pengantar (Murtadha Muthahhari, 1994)
mengatakan bahwa manusia merupakan miniatur dari alam raya. Jika pada
alam raya terdapat tiga tingkat alam yaitu : rohani, khayali, dan jasmani,
maka pada manusia ketiga alam tersebut juga terwujud yaitu dalam bentuk

1
Menurut al-Junayd al-Baghdadi (w. 297 H/910 M), manusia telah memiliki wujud
tersendiri sebelum ia ada seperti di dunia ini, yaitu wujud ruhani, yang disebutkan wujud rabbani
( wujud yang paling mirip dengan wujud Ilahi). Wujud tersebut telah diciptakan Tuhan didalam
azal. Lihat al-junayd al-Baghdadi, Rasail al-Junayd, life, personality, and writing of al-Junayd,
ed. A.H. Abdel Kader (London : Gibb Memorial Series, 1976), hal.32.
ruh, nafs(diri), dan jism(tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh
mana ia menyerap cahaya Tuhan. Roh adalah bagian yang paling terang dan
jism adalah bagian yang paling gelap, sedangkan nafs adalah jembatan yang
menghubungkan antara keduanya.
Abbas Mahmud al-Aqqad(1996) dalam buku Menggugat Tasawuf (H.M.
Amin Syukur, 2002) mencoba merumuskan definisi Qurani bahwa manusia
adalah makhluk yamg terbebani(mukallaf) dan makhluk yang diciptakan
sesuai dengan bentuk(shurah) Tuhan atau dalam bentuk copiNya. Definisi
ini sesuai dengan sebuah hadits yang berbunyi :

Sesungguhnya Allah menciptakan adam sesuai dengan citra-Nya
Pendefinisian manusia yang kadua ini sejalan dengan kejadian manusia
dalam Ilmu Tasawuf. Al-Hallaj berpendapat bahwa manusia terdiri dari dua
unsur yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani terdiri dari materi, sedangkan
unsur rohani dari Tuhan, Karena itulah manusia mempunyai sifat
kemanusiaan (nasut) dan ketuhanan (lahut) (R.A.Nicholson, 1969 dalam
H.M. Amin Syukur, 2002).
Pandangan-pandangan tentang manusia juga lahir dari dunia barat.
Nietzsche berpendapat bahwa seseorang bisa dikatakan sempurna ketika ia
telah mendapatkan kekuasaan dan kebebasan secara penuh. Sedangkan
menurut Arthur Schopenhauer manusia akan mencapai kesempurnaan ketika
ia telah menemui kamatian. Kedua pendapat diatas jika dianalisis maka akan
tampak kekurangannya yaitu unsur jasmani lebih ditonjolkan dan cenderung
fatalistik, disamping itu kedua pendapat tersebut sangat dangkal dalam
memahami eksistensi manusia.
Sedangkan jika ditinjau dari kacamata Islam, Karena manusia terdiri dari
unsur jasmani dan rohani maka kesempurnaan manusia meliputi kedua aspek
tersebut. Dari aspek jasmani sudah tampak kesempurnaan manusia dibanding
makhluk Allah yang lain. Dalam kesempurnaan manusia ini aspek rohani
lebih kuat pengaruhnya. Hal ini sesuai dengan konsep insan kamil dalam
dunia tasawuf.
Dalam tasawuf kesempurnaan manusia merupakan kesempurnaan dari
citra Ilahi Karena manusia diciptakan dalam bentuk Tuhan. Al Quran
menegaskan bahwa manusia adalah wakil Tuhan di dunia ini untuk
melaksanakan blueprintNya membangun surga di dunia ini.
1.2 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian insan kamil.
b. Untuk mengetahui konsep-konsep insan kamil.

1.3 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud insan kamil?
b. Bagaimana konsep-konsep insan kamil dari beberapa tokoh-tokoh tasawuf?













BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Insan Dan Kamil
Istilah insan kamil (al-insan al-kamil) terdiri dari dua kata: Insan(manusia)
adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan.
Sebagaimana firman Allah :
; 4L^UE =}=Oee"- EO)
^}=O;O CO^> ^j
Masalah penciptaan manusia Al Quran telah menjelaskan secara global.
Proses kejadian manusia pertama (adam) dalam Al Quran dirumuskan dalam
tiga konteks (Quraish Shihab, 1997)
Bahan awal manusia dari tanah
Bahan tersebut disempurnakan
Setelah proses penyempurnaan selesai, ditiupkan kepadanya Ruh Ilahi
(Q.S. Al- Hijr: 28-29 dan Shad: 71-72).
Secara biologis manusia mempunyai beberapa unsur antara lain: mineral
termasuk didalamnya materi yang mengandung atom dengan segala dayanya,
tumbuh-tumbuhan yaitu daya nabati antara lain makan(nutrition),
tumbuh(growth), dan berkembang biak(reproduction), unsur hewan yang yaitu
penginderaan(sense perception) dan gerak(harakah, locomation) (Mulyadhi
Kartanegara, 2002). Disamping itu yang pasti dan harus dimiliki oleh manusia
yaitu jiwa(daya) insani yang di sinilah terletak intelektualitas, moralitas, dan
rasa seni. Ruhani adalah yang mengendalikan, dan memberikan visi dan nilai
bimbingan-bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani, dan insani (Ahmad
Najib Burhani, 2002). Dari sini dapat di lihat bahwa manusia merupakan
puncak evolusi yaitu manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan penuh.
Namun dari aspek spiritual manusia akan mencapai puncak evolusi ketika
ia telah mencapai kesatuan dengan Tuhan. Peringkat manusia sebagai makhluk
terbaik, termulia dengan kualitas fisik dan psikisnya diciptakan oleh Allah
dengan tujuan tertentu anatara lain: agar manusia menjadi hamba(abid)Nya
yang baik, sekaligus menjadi khalifah-Nya di muka bumi, serta bertanggung
jawab terhadap apa yang diperbatnya selama hidup di dunia ini.
Sedangkan mengenai kata kamil Muthahhari (2001) membedakan antara
sempurna(kamil) dan lengkap(tamam), meskipun keduanya mirip. Namun, ada
perbedaan dari kedua kata tersebut. Perbedaannya adalah kata lengkap
mengacu sesuai dengan rencana seperti rumah atau masjid. Bila suatu
bagiannya belum selesai maka bangunan tersebut tidak lengkap(cacat). Tetapi
sesuatu mungkin saja lengkap sekalipun ada kelengkapan lain yang lebih tinggi
satu atau beberapa tingkat, dan itulah yang dinamakan sempurna.
2

Istilah yang di kemukakan oleh Muthahhari terlihat bahwa kesempurnaan
itu bertingkat. Dengan demikian bila suatu kesempurnaan itu tercapai, maka
masih ada kesempurnaan yang di atasnya sampai pada tingkat kesempurnaan
yang sesungguhnya. Jika ada manusia yang sempurna maka pasti ada yang
lebih sempurna. Dan kesempurnaan yang sesungguhnya hanya ada Yang Maha
Sempurna (Yunasril Ali, 1997).
Pada abad ke-6 H (12 M), al-Suhrawardi mengemukakan bahwa manusia
sempurna itu terdiri atas tiga klasifikasi. Pertama, orang yang mendalami
pembahasan analitis, tetapi tidak mendalami masalah ketuhanan. Contohnya,
kaum Paripatetis pengikut Aristoteles, Al-Farabi dan Ibn Sina. Kedua, orang
yang mendalami masalah ketuhanan, tetapi tidak mendalami pembahasan
analitis. Contohnya, Abu Yazid, al-Busthami, Sahal al-Tustari dan al-Hallaj.
Dan klasifikasi yang ketiga inilah yang paling tinggi, yaitu mendalami
pembahasan analitis dan masalah ketuhanan. Dialah yang menjadi pemimpin
segenap alam.
3

B. Konsep Spiritual Insan Kamil

2
Lihat Murtadla Muthahhari, manusia sempurna : Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia,
terjemah Indonesia dari edisi berbahasa Inggris oleh M. Hasyem (Jakarta: Penerbit Lentera, 1993), hh. 2-3.
3
Lihat Zaydan, op. Cit., hh. 107-8; Henry Corbin, Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah,
terjemah Nashir Muruwah dan Hasan Qubaysi (Beirut: Mansyurat Uwaydat, 1966), j. I. hal. 324
Konsep insan kamil yang diungkapkan oleh para tokoh tasawuf memiliki
satu persamaan yaitu bahwa manusia adalah sebagai wadah tajalli Tuhan atau
manusia sebagai cermin Tuhan. Dari konsep-konsep yang ada sedikit
perbedaan yang muncul, namun perbedaan tersebut tidaklah bersifat esensial.
Dibawah ini akan dibahas konsep insan kamil menurut beberapa tokoh
tasawuf:
a. Konsep al-Hallaj
Konsep al-Hallaj tentang insan kamil membawa doktrin al-hulul.
Dalam doktrin al-hulul
4
, manusia(adam) dipandang sebagai penampakan
lahir dari cinta Tuhan yang azali kepada zat-Nya yang mutlak yang tidak
mungkin di sifatkan itu. Lebih jauh al-Hallaj berpendapat bahwa Allah
mempunyai dua unsur dasar yaitu sifat ketuhanan(lahut) dan sifat
kemanusiaan(nasut).
Disamping itu al-Hallaj juga mengemukakan teori Nur
Muhammad(al-haqiqah al-Muhammadiyah) (Yunasril Ali, 1997). Baginya
Nabi Muhammad mempunyai dua esensi. Pertama, esensinya sebagai nur
(cahaya) azali yang qadim yang menjadi sumber segala ilmu dan marifat,
pandangan ini sesuai dengan hadits qudsi yang mengatakan Kalau bukan
karenamu tidak akan ku ciptakan alam semesta ini. Kedua Muhammad
sebagai esensi baru yang terbatas dalam ruang dan waktu.
5
Dan Nabi
Muhammad adalah contoh manusia sempurna dalam Islam.
b. Konsep Ibn Arabi

4
Sebenarnya, al-hulul mempunyai dua bentuk, yaitu: (1) al-hulul al-jawari, yakni
keadaan dua esensi, yang satu mengambil tempat pada yang lain ( tanpa persatuan), seperti air
mengambil tempat dalam bejana; (2) al-hulul al-sarayani, yakni persatuan dua esensi (yang satu
mengalir didalam yang lain), sehingga yang terlihat hanya satu esensi, seperti zat air yang
mengalir didalam bunga. Bentuk terakhir inilah al-hulul yang dikemukakan oleh al-hallaj. Lihat al-
Jurjani, kitab al-Tarifat (singapura: al-Haramain, tanpa ket. tahun), hal.92. band. Anwar Fuad Abi
Khuzam, mujam al-Mushthalahat al-Shufiyah (Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 1993), hal. 77
5
Teori nur Muhammad ini berakar dari ajaran Syiah dan muncul di masa Jafar al-Shiddiq
(w. 148). Lihat al-Masudi, muruj al-Dzahab wa Maadin al-Jawhar (Beirut: Dar al-Fikr, 1973), j. I,
hh.32-2. Band. A.Q. Mahmud, al-Falsafah al-Shufiyahnfi il-Islam ( Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi,
1966), h. 578; Thawasin, hal. 9.
Konsep Ibn Arabi tentang insan kamil ini bertolak dari pandangan
bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas tunggal
yang benar-benar ada itu ialah Allah. Adapun alam semesta yang serba
ganda ini hanyalah sebagai wadah tajalli dari nama-nama dan sifat-sifat
Allah dalam wujud yang terbatas. Nama-nama dan sifat-sifat itu sendiri
identik dengan zat-Nya yang mutlak. Karena itu, menurut Ibn Arabi Allah
itu mutlak dari segi esensi-Nya, tetapi menampakkan pada alam semesta
yang serba terbatas. Akan tetapi, dengan demikian bukan berarti Ibn
Arabi mengganggap Tuhan itu adalah alam dan yang terakhir ini adalah
Tuhan. Baginya, wujud yang hakiki hanya wujud Allah dari segi esensi-
Nya, bukan dari sifat-sifat-Nya, sedangkan selain daripada-Nya adalah
khayalan belaka.
6

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

Aku adalah harta terpendam yang belum dikenal; Aku rindu agar
dapat dikenal, maka Ku ciptakan makhluk; Aku pun memperkenalkan diri-
Ku kepada mereka, sehingga mereka mengenal-Ku.
7

Dari hadits tersebut tampak bahwa Allah ingin dikenal maka di
ciptakan-Nya makhluk, dan melalui makhluklah Allah dikenal. Maka
menurut Ibn Arabi Tuhan sebagai esensi yang mutlak, tanpa nama dan
sifat-sifat tidak mungkin akan dikenal. Dengan kata lain, bagi Ibn Arabi,
Tuhan itu hanya dapat dikenal dari tajalli-Nya pada alam empiris yang
serba ganda dan terbatas ini, tetapi wujud-Nya yang hakiki tetaplah
transenden, tidak dapat dikenal oleh siapapun.
c. Konsep al-Jili

6
Ibid., hal. 104
7
Sanad Hadits ini tidak dikenal dikalangan ahli hadits. Oleh sebab itu, tidak heran kalau
Ibn Taymiyah memandangnya bukan Hadits. Lihat Ibn Taimiyah, Majmu Fatawa( Beirut : Dar al-
Arabiyah, 1398 H), j. XVIII, h. 132. Akan tetapi, Ibn Arabi memandangnya sahih atas dasar kasyf.
Lihat Futuhat, j. II, hal. 399.
Al-jili, seperti Ibn arabi, memandang insan kamil sebagai wadah
tajalli Tuhan yang paripurna. Pandangan demikian didasarkan pada asumsi
bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas tunggal itu
adalah Wujud Mutlak yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan, arah,
ruang dan waktu. Ia adalah esensi murni yang tidak bernama, bersifat dan
tidak mempunyai relasi dengan sesuatu.
8

Proses tajalli menurut konsep al-Jili sebenarnya di mulai dari tajalli
Dzat pada Sifat dan Asma kemudian pada perbuatan-perbuatan sehingga
tercipta alam semesta. Akan tetapi dalam rangka meningkatkan martabat
rohani, tajalli tersebut di tempatkan pada urutan terbalik, di mulai tajalli
perbuatan-perbuatan (tajalli al-afal), tajalli nama-nama (tajalli al-asma),
tajalli sifat-sifat (tajalli al-shifat), dan yang terakhir tajalli dzat (tajalli al-
dzat) (Yunasril Ali, 1997).
Untuk mencapai tingkat insan kamil sufi mesti mengadakan taraqqi
melalui tiga tingkatan yaitu: bidayah, Tawassuth, dan khitam. Pada tingkat
bidayah seseorang mulai dapat merealisasikan asma-asma dan sifat-sifat
Tuhan. Pada tingkat tawassuth seseorang tampak sebagai orbit kehalusan
sifat kemanusiaan dan sebagai realitas kasih saying Tuhan. Dan pada
tingkat khitam seseorang telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara
utuh (Yunasril Ali, 1997). Pada tingkat inilah seorang sufi menjadi insan
kamil.
d. Konsep Nuruddin al-Raniri
Insan kamil bagi al-Raniri adalah manusia yang telah memiliki nur
Muhammad didalam dirinya, yang dengan itu memiliki wadah tajalli ilahi
yang paripurna. Pandangan demikian sebenarnya tidak berbeda dengan
pandangan ulama sufi nusantara lainnya, Hamzah dan Syamsudin, hanya
al-Raniri tidak menyetujui tempat bertolak kedua ulama sufi tersebut. Al-
Raniri berpendapat bahwa Hamzah dan Syamsuddin cenderung

8
Al-Insan, j. I, hh. 71-2; Band. Supra, hh. 61-2
memandang Tuhan dan alam imanen, sementara Raniri sendiri
memandangnya transenden.
9

Selain itu insan kamil juga disebutnya sebagai khalifah Allah pada
rupa dan makna.Yang dimaksud dengan dengan rupa adalah pada hakikat
wujudnya. Wujud khalifah itu terjadi dari wujud Allah yang
menciptakannya sebagai khalifah. Dengan kata lain, dia diciptakan dari
sebab wujud-Nya (Nur ad-Din ar-Raniri, 2003).

Nabi Muhammad sebagai insan kamil dalam kehidupannya di dunia
merupakan suatu pribadi yang multi dimensi. Nabi Muhammad di kenal
sebagai seorang nabi yang ibadahnya luar biasa kuat, sehingga kalau malam
shalat sampai kakinya bengkak. Tapi di siang hari beliau mengatur ekonami,
mengatur polotik bahkan mengatur perang. Rasulullah dan para sahabat di
zaman Rasul sering digambarkan sebagai ruhbanun bi al-lail wa fursanun di al-
nahar, mereka itu rahib-rahib di waktu malam hari dan kstria-ksatria di siang
hari (Ahmad Najib Burhani.(ed.), 2002).






PENUTUP
Konsep insan kamil merupakan salah satu kajian dalam dunia sufi yang
cukup besar menarik perhatian berbagai kalangan. Insan kamil merupakan wadah
tajalli Tuhan yang paling sempurna. Posisi insan kamil tidak hanya di tempati

9
Ahmad daudy, op. Cit. Hal. 219
oleh satu orang tertentu, tetapi setiap orang berpotensial untuk mencapai derajat
insan kamil ketika dia telah mampu memantulkan nama-nama dan sifat-sifat
Tuhan dan telah mencapai kesadaran secara penuh mengenai kesatuan hakikatnya
dengan Tuhan.
Dan yang paling tinggi tingkatannya adalah Nabi Muhammad, dengan
tanpa menutup kemungkinan bahwa masih ada manusia-manusia lain yang bisa
saja sampai pada derajat insan kamil. Namun yang bisa sampai pada tingkatan
khitam yaitu tingkatan tertinggi dalam derajat insan kamil hanya satu yaitu Nabi
Muhammad.
Jika di lihat, Nabi Muhammad yang merupakan manusia yang paling
sempurna ternyata merupakan makhluk multi dimensi. Artinya dalam hal spiritual
tidak ada yang mampu melebihi Nabi, namun disamping itu dalam kehidupan
sosialnya Nabi adalah manusia yang sangat perduli terhadap kondisi
masyarakatnya, bahkan beliau rela mengorbankan diri, keluarga, dan hartanya
untuk kepentingan sosial.
Seorang muslim sudah selayaknya mengetahui tentang apa itu insan kamil,
kepribadian dan intelektualnya. Agar dapat membangun dirinya dan
masyarakatnya.





DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Najib Burhani(ed.). 2002. Manusia Modern Mendamba Allah: Renungan
Tasawuf Positif. Jakarta: IIMaN
Al Jaili, Syeikh. Abd. Karim Ibnu Ibrahim. 2005. Insan Kamil. Surabaya: Pustaka
Hikmah Perdana
Amin Syukur. 2002. Menggugat Tasawuf: sufisme dan tanggung jawab sosial
abad 21. Yogayakarta: Pustaka Pelajar
Jalaluddin Rakhmat. 1997. Reformasi Sufistik: Halaman Akhir Fikri Yathir.
Bandung Pustaka Hidayah
M. Quraish Syihab. 1997. Wawasan Al Quran. Bandung. Mizan
Mulyadhi Kartanegara. 2002. Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam.
Bandung: Mizan
Murtadha Muthahhari. 1994. Manusia Sempurna: Pandangan Islam Tentang
Hakikat Manusia. Jakarta: Lentera
Mustofa, H.A. Drs. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia
Yunasril Ali. 1997. Manusia Citra Ilahi: Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn
Arabi oleh al-Jili. Jakarta: Paramadina