Anda di halaman 1dari 7

USULAN PENELITIAN

PENGARUH KONSUMSI BUAH APEL (PYRUS MALUS) TERHADAP


KADAR VOLATILE SULFUR COMPOUNDS PADA RONGGA MULUT
SAAT PUASA MENGGUNAKAN ANALISIS KROMATROGRAFI GAS

DISUSUN OLEH:
1. DONI MARDIANTO S.P.

NIM. G1G011026

2. BONDAN PURBOWATI

NIM. G1G011041

3. YULINDA RISKI C.

NIM. G1G011050

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Data Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia (Riskesdas RI) tahun
2007 menunjukkan bahwa 75% penduduk Indonesia mengalami riwayat karies
gigi dengan tingkat keparahan gigi (indeks DMF-T) sebesar 5 gigi setiap
orang. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan baru 7%
penduduk yang berperilaku menyikat gigi dengan benar. Data Riskesdas RI
tahun 2007 melaporkan 23% penduduk yang menyadari dirinya bermasalah
gigi dan mulut, 30% diantara mereka menerima perawatan atau pengobatan
dari tenaga profesional gigi. Hal ini menunjukkan bahwa hanya 7% orang
yang berobat gigi. Angka keperawatan yang sangat rendah, terjadinya
keterlambatan perawatan yang tinggi, dan kerusakan gigi sebagian besar
berakhir dengan pencabutan merupakan hal yang sering ditemukan (Depkes
RI, 2011).
Permasalahan kesehatan gigi dan mulut hingga saat ini masih menjadi
permasalahan yang belum dapat terselesaikan dengan baik. Masalah kesehatan
yang timbul dapat mengganggu sifat manusia sebagai makhluk sosial.
Kehidupan bermasyarakat mengharuskan tiap individu memiliki interaksi
sosial. Interkasi sosial yang dilakukan berupa komunikasi dengan orang lain
yang dapat terganggu dengan adanya masalah pada kesehatan gigi dan mulut.
Salah satu contoh masalah kesehatan gigi dan mulut tersebut seperti halitosis
atau bad breath atau oral malodor. Halitosis merupakan bau mulut yang tidak

menyenangkan yang dapat dialami pada semua jenis kelamin dan semua jenis
umur. Halitosis dapat mengganggu kehidupan bersosial manusia dan
mempengaruhi psikologis individu (Arora dan Sharma, 2012).
Beberapa penelitian telah memperkirakan prevalensi halitosis antara 22%
dan 50%, sedangkan pada penelitian lain menyebutkan antara 6% dan 23%.
Menurut American Dental Association (ADA), 50% dari populasi orang
dewasa mengalami bau mulut yang tak sedap sesekali, sedangkan 25% lainnya
mengalami masalah bau mulut yang kronis. Penyebab halitosis dapat berasal
dari faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik rongga mulut. Halitosis 90 %
berasal dari rongga mulut pasien; 9 % sumber halitosis dapat berasal dari luar
rongga mulut seperti sistem pencernaan, sistem pernapasan, atau sistem
kemih, sedangkan sisanya 1 % penyebab halitosis pada pasien adalah diet atau
obat-obatan (Arora dan Sharma, 2012; Aylkc dan Colak, 2013).
Kondisi Halitosis dapat diketahui dengan pengukuran kadar Volatile
Sulfur Compounds (VSC) di rongga mulut. VSC merupakan kumpulan gas
gas sulfur seperti hydrogen sulfide (H2S), methyl mercaptan (CH3SH) dan
dimethylsulfide (CH3SCH3). Gas gas tersebut merupakan hasil produksi
bakteri di dalam mulut dan menghasilkan senyawa berbau yang tidak sedap
dan menimbulkan halitosis.

Halitosis dapat dicegah atau ditanggulangi

dengan cara yang umum dilakukan seperti menyikat lidah dan gigi,
menggunakan obat kumur, permen karet dan pasta gigi serta melakukan
kontrol diet (Gunardi dan Wimardhani, 2009). Kondisi halitosis umumnya
dijumpai pada orang yang berpuasa. Hal ini disebabkan terjadi pengurangan
saliva sehingga meningkatkan kuman penyebab halitosis (Gayatri, 2011).

Penatalaksanaan halitosis menggunakan sikat gigi dan bahan kimiawi,


namun terdapat bahan alami yang dapat digunakan untuk menangani halitosis
seperti teh dan teh hijau yang mengandung polifenol sebagai antibakteri pada
mikroorganisme rongga mulut. Terdapat cara lain yang bisa dilakukan untuk
menjaga kebersihan mulut, sehingga dapat meningkatkan kesehatan di rongga
mulut. Mengkonsumsi buah segar dan berserat dapat membersihkan sisa
makanan di rongga mulut. Buah dipercaya baik untuk menjaga kesehatan gigi
dan dapat digunakan sebagai penyikatan gigi secara alami (Taufik dkk., 2001;
Yaegaki dkk., 2008).
Taufik dkk. (2001) mengungkapkan bahwa beberapa buah segar, berserat
dan memiliki kandungan air yang cukup, dapat mengurangi kumpulan bakteri
pada gigi. Salah satu diantaranya adalah buah apel. Pengunyahan yang
dilakukan saat mengkonsumsi buah sering disebut sebagai penyikatan gigi
secara alami. Hal ini menandakan apel memiliki efek positif terhadap
kebersihan rongga mulut. Penelitian mengenai kandungan polifenol pada kulit
apel yang memiliki efek antibakteri telah teruji. Penelitian tersebut
membuktikan uji ekstrak apel sebagai antibakteri terhadap bakteri pathogen
pada manusia (Alberto dkk., 2006). Berdasarkan hal tersebut apel
dimungkinkan dapat mengurangi kondisi halitosis pada rongga mulut karena
memiliki antibakteri dan memiliki efek dalam penyikatan gigi secara alami.
Buah apel terdapat di Indonesia dan tumbuh pada iklim sub tropis. Buah ini
dibudidayakan di beberapa daerah, terutama di daerah Jawa Timur (Andriani
dan Hanani, 2010).

Berdasarkan hal tersebut peneliti terdorong untuk mengetahui efek


mengkonsumsi buah apel (Pyrus malus) terhadap kondisi halitosis, dengan
mengukur kadar VSC pada rongga mulut. Mengingat halitosis sebagai kondisi
yang mengganggu aktifitas manusia dalam berinteraksi dan manfaat apel yang
dimungkinkan dapat mengurangi halitosis, penelitian ini penting untuk
dilakukan.
B. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang timbul
sebagai berikut: Bagaimana pengaruh konsumsi buah apel (Pyrus malus)
terhadap kadar Volatile Sulfur Compounds pada rongga mulut saat puasa
menggunakan analisis kromatografi gas.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh buah apel (Pyrus
malus) terhadap kadar Volatile Sulfur Compounds (VSC) di rongga mulut.
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis kadar hydrogen sulfide (H2S) di rongga mulut;
b. Menganalisis kadar methyl mercaptan (CH3SH) di rongga mulut;
c. Menganalisis kadar dimethylsulfide (CH3SCH3) di rongga mulut;
d. Menganalisis komponen utama Volatile Sulfure Compounds (VSC)
pada rongga mulut.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang
pengaruh apel terhadap kondisi halitosis dengan pengukuran kadar VSC di
rongga mulut.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan masyarakat
tentang budidaya buah apel sebagai produk kesehatan sehingga dapat
meningkatkan ekonomi masyarakat.
b. Penelitian ini bermanfaat untuk dijadikan dasar pengembangan produk
kesehatan untuk mengurangi kondisi halitosis.
E. Orisinalitas Penelitian
Berbagai macam penelitian yang telah dilakukan mengenai halitosis dan
kadar VSC disajikan pada Tabel 1.1
Tabel 1.1 Berbagai penelitian yang sudah dilakukan
No
1.

Penelitian Sebelumnya
Judul: Perubahan kadar
hydrogen
pada

sulfide

(H2S)

pelafalan

huruf

hijaiyah dan huruf latin


Peneliti:

Indradi,

Persamaan
1. Pengukuran kadar H2S
di rongga mulut.
2. Penggunaan alat oral
chroma.

F.,

Diyatri, I., dan Sunariani, J.

3. Metode

penelitian

eksperimental analitik

Tahun: 2013

terdahulu

variabel

pengaruh

adalah

pelafalan

huruf

hijaiyah dan huruf


latin. Pada penelitian
ini

Dipublikasikan

dalam:

Oral

Journal,

Biologi

Perbedaan
1. Pada
penelitian

variabel

bebas

adalah buah apel.

Universitas Airlangga.
2.

Judul:

Perubahan

parameter halitosis setelah


penggunaan

siwak

(Salvadora persica) pada

1. Pengukuran parameter
halitosis VSC

parameter

2. Instrument pengukuran
dengan

alat

1. Pengukuran

oral

on

Bleeding

Probing

tongue coating.

dan

Santri Pondok Pesantren

chroma

Tapak Sunan Usia 11-13


tahun
Peneliti:

Wijayanti,

A.,

Rahardjo, A., Bahar, A..


Tahun: 2010

2. Penggunaan variabel
bebas berupa Siwak
3. Sampel

santri

pondok

pesantren

Tapak Sunan
4. Instrumen

Dipublikasikan dalam:

pengukuran

INA

organoleptik

DENT

RES,

dengan

Universitas Indonesia

Sepengetahuan penulis, penelitian mengenai pengaruh apel (pyrus malus)


terhadap kadar VSC belum pernah dilakukan sebelumnya. Perbedaan
penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya adalah variabel bebas berupa
buah apel yang memiliki kandungan antibakteri.