Anda di halaman 1dari 41

BAB 1

PRINSIP DAN SISTEM NILAI DALAM EKONOMI ISLAM



A. Prinsip Dasar Ajaran Islam
Membicarakan tentang prinsip dasar ajaran islam, maka tema besar yang diusung
adalah iman, islam dan ihsan yang berujung pada taqwa. Sementara sumber utamanya
adalah Al-Quran, As-ssunah dan Ijtihad. Ketiga tema pokok nilai ajaran Islam tersebut
merupakan kebutuhan dasar manusia dalam mencapai kesempurnaannya, mencapai
kesempurnaan paripurna (ahsan taqwin) dalam bentuk wujud dan hakikat 9insan kamil).
Ahsan taqwin dan insan kamil merupakam manifestasi dari ketaqwaan (manusia
paripurna) yang diperolehnya (kuliatas dan bermutu tinggi). Karenanya, dalam konteks
ini sering dikatakan bahwa iman adalah pondasi yang harus kokoh dan kuat dlaam sebuah
bangunan.
Secara fungsional, prinsip dasar aaran islam tersebut harus sjalan dan sebangun
dengan filosif rumah yang ditempati dengan suasana sejuk, damai dan menyenangkan.
Karenanya 3 dasar prinsip tersebut menjadi landasan operasional lembaga-lembaga
keungan syariah Indonesia.hal ini dapat diiustrasikan secara sederhana dalam wujud yang
bersifat matei sebagai berikut:


Atap

Dinding

Pondasi
Filosofi Rumah
Harta
(ihsan)
Pengetahuan
(Islam)
Keimanan
(Tauhid)
Atap (ihsan), sebagaiman gambar diatas dapat dikiyaskan dalam bentuk harta,
uang, kekayaaan apapun kistilahnya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Siapapun pasti memerlukannya dan bahkan kebanyakan manusia mungkin sangat
menginginkannya (FALAH). Namun ternyata harta bukan hanya mendatangkan manfaat,
tetapi juga mendatangkan mudharat atau bahkan mencana (bila tidak disekapi dengan
ihsan).
Dinding (islam), merupakan knowledge (pengetahuan) yang dapat menjadi obor
(penerang, jalan dan penunjuk). Dalam ajaran islam, pengetahuan yang merupakan dmain
akal mneenpati kedudukan yang cukup strategis.
Dalam konteks dinding Islm di atas yang disombolkan sebagai penngetahuan
(knowledge) merupaka pengejawatan dari peranan akal dalam kita beragama Islam,
dalam kita memahami arti Al-Quran dan Sunah Nabi juga amat ditekankan oleh Al-
Quran sendiri.
Menurut Juhaya S. Praja (2012: 6), bahwa sistem nilai dlam bisnis (eonomi
syariah) menempatkan al-falah sebagai tujuan utamanya. Al-falah adalah ksejahteraan
lahiriyah yang dibarengi kesejahteran batiniah (al-shalah), kesenangan duniawi dan
urawi, keseimbangan materiil dan immaterial. Tujuan ini memperlihatkan dengan jelas
bahwa hakikat sistem nilai dalam bisnis (ekonomi syariah) merupakan rahmat bagi
sekalian alam (rahmatan lilalamin).
Dengan demikian dapat dsimpulkan bahwa prinsip dasar ajaran Islam berpusat
pada prinsip tauhid yang akan berbuah pada etika islam shingga mampu mewujudkan
tujuan syariat (maqasid asy-syariah), yaitu memelihara iman (faith), hidup (life), nalar
(intellect), keturunan(posterity), dan kekayaan (wealth). Dengan konsep ini, menurut
Umar CHapra, berkeyakinan bahwa sistem ekonomi dapat dibangun sejak awal dari suatu
keyakinan (iman) dan berakhir dengan kekayaan (wealth or capital). Pada gilirannya
tidak akan muncul kesenjangan eonomi atau perilaku ekonomi yang bertentangan dengan
prinsi-prinsip syariat.
B. Sistem Nilai Dalam Islam
1. Konsep Nilai
Sebagaimana nilai-nilai dasar Islam yang diutarakan JUhaya tersebut di atas, Dr. M.
Abd El-Kader Hatem dalam Value of Islam (1999: 5), secara rinci menjabarkan tentang
bangunan konsep nilai-nilai Islam yang didasarkan atas 11 sistem nilai, yaitu:
a. Iman kepada allah (Belief in God)
b. Kemanusiaan (man)
c. Persamaan (equality)
d. Persaudaraan (fraternity)
e. Bebas dan Kebebasan (Liberty and Liberation)
f. Social dan Keadilan Ekonomi (Social and Economi Justice)
g. Bimbingan
h. Etika
i. Keluarga dan spirit kemanusiaan dalam islam
j. Perdamaian dan Peradaban Islam
k. Pengetahuan Islam
Konsep nilai dalam islam yang paling utama adalah nilai ketauhidan. Konsep nilai
islami yang bersumber dari tauhid ini, kata Abdul Al-Salim Makram (2004: 4),
merupakan elemen dan ruh (yng dapat memencarkan petunjuk) bagi keimanan.
2. Nilai Moral
Penilaian pada moral atau moralitas pada dasarnya bermula dari aktifitas dan
tingkah laku seseorang. Karena setiap tindakan adalah suatu sarana untuk suatu tujuan,
dan tidak ada tindakan yang secara alami, dilakukan demi tindakan itu sendiri. Nilai
setiap tindakan dan keinginan terhadapnya tunduk pula terhadap hasil yang diperoleh dari
tindakan itu.
3. Tolak Ukur Nilai Moral
Nilai moral dalam Islam mempunyai tolak ukur yang jelas. Tolak ukur nilai dalam
pandangan islam adalah kesempurnaan yang muncul dalam jiwa manusia dan yang akan
mengantarkannya kepada penyembahan kepada allah, mendekat kepadanya dan
mendapatkan keridoannya.
4. Nilai Kebebasan
Nilai kebebasan bukanlah semata sebagai tolak ukur sistem nilai dari moral,
melainkan sebagai bentuk dan wujud ekspresi seseorang dalam memilih kebaikan dan
keburukan. Tepatnya, sebagaimana dalam Al-quran Allah memberikan kebebasaan
kepada manusia untuk apakah mau beriman atau kafir.
C. Sistem Ekonomi Islam
Sistem eonomi Islam yang dikutipkan dari tulisan Mohammad Naeem Khan
berjudul Islamic Ekonomi System sebagai berikut:
A. Divine Economic Plan (rencana ekonomi kebutuhan)
Islam merupakan ekosistem dari ilmu ekonomi, ilmu alam, ilmu social, dan ilmu
agama untuk kemajuan kesejahteraan manusia dan keadilan.
B. Mission of Islam
Dalam sistem ekonomi islam, allah SWT menciptakan manusia sebagai individu
untuk dikontrak (mengikat).


C. Target of Islam














D. Economic Principles of Islam










E. Dimension of Islamic Ekonomi System
1) Tujuan utama dalam islam adalah sistem spiritual
2) Sistem hokum untuk menjaga hak asasi manusia
3) Menjaga kekayaan dan pendapatan yang diperoleh secara legal dan sesuai dengan
syar`i
4) Focus sistem islam memaksimalkan keuntungan social membatasi kebebasan
yang berlebihan, terutama dari mereka yang paling kaya dan sangnat kuat.
F. Status of Sources of Income
Kewirausahaan dapat diartikan sebagai sebuah kegitan ekonomi yang memerlukan
usaha dan beresiko rugi. Buruh dan tenaga kerja adalah pekerjaan yang baik.
Target Islam
Amal Soleh

kepercayaan

Sistem ekonomi

Sistem etika

distribusi

penimbunan

PRINSIP PRINSIP EONOMI ISLAM
Earning side
(sisi pendapatan)

Usage side
(sisi pengggunaan)

bisnis

usury

pribadi

negara

G. Distribution Channel
Zakat dan infak sebagai bentuk pendistribusian kekayaan.
BAB II
KONSEP ETIKA BISNIS ISLAM
A. Pengertian Etika Bisnis Islami
Jika ditelusuri secara historis, etika adalah cabang filsafat yang mencari hakikat
nilai-nilai baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang, yang
dilakukan dengan oenuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya. Persoalan
etikan adalah persoalan yang berhubungan dengan eksistensi manusia, dalam segala
aspeknya, baik individu maupun masyarakat, baik denngan hubungan dengan tuhan,
dengan sesame manusia dan dirinya, maupun dengan alam sekitarnya, baik kaitannyan
dengan eksistensi manusia di bidang social, ekonomi, polotik, budya maupun agama.
(Musa Asy`ari, 2001: 92).
1. Etika (Akhlak)
Menurut Muhammad Ilaan Shadiqy bin Ash akhlak adalah suatu pembawaan
dalam diri manusia yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah
(tanpa dorongan dari orang lain).
Disamping masalah akhlak juga dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu
sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaannya
terletak pada standar masing-masing.
Norma adalah sesuatu yang sudah pasti yang dapat kita pakai untuk
membandingkan sesuatu yang lan yang kita ragukan hakikatnya, besar kecilnya,
ukurannya, atau kualitasnnya. Jadi, norma moralitas adalah aturan, standar, atau ukuran
yang dapat kita gunakan untuk mengukur kebaikan atau keburukan suatu perbuatan.
Moral adalah penjabaran dari nilai tapi tidak seoperasional etika. Jadi moral, etika
dan nilai jika dilihat dari sumber pada hakikatnya bermuara pada wahyu ilahi ataupun
berasal dari budaya.
2. Bisnis (Perdagangan)
Kata Bisnis dalam bahasa Indonesia diserap dari kata business dari bahas
Inggris yang berarti kesibukan. Secara terminology, bisnis berarti keadaan dimana
seseorang atau kelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan
keuntungan. Musselman dan Jakson (1992) mereka mengartikan bahwa bisnis adalah
suatu aktifitas yang memenuhi kebutuhan dan keinginan ekonimis masyarakat,
perusahaan yang diorganisasikan untuk terlibat dalam aktifitas tersebut.
Dari pendapat diats dapat disimpulkan bahwa bisnis adalah kegitan yang
dilakukan individu atau sekelompok orang yang menciptakan nilai melalui penciptaan
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan
melalui transaksi.
3. Islami
Al Islam adalah nama suatu Ad-din (jalan hidup) yang ada di sisi allah. Addin
maknanya adalah al-millah ash-shirot atau jalan hidup, ia berupa bentuk-bentuk
keyakinan dan perbuatan. Addin atau Al-Islam adalah penamaan dari allah sendiri, bukan
dari manusia. Suatu nama biasanya memilki arti, demikian juga dengan al-islam memiliki
arti yakni tunduk, patuh, berserah diri kepada perintah dan larangannya yang memerintah
tanpa penolakan.
Dalam kata islam sebagai ajaran biasanya diidentikan dengan kata syariat. Secara
istilah syariat sepadan dengan makna perundang-undangan yang diturunkan allah swt
melaui Rosulullah SAW untuk seluruh umat manusia baik menyangkut masalah ibadah,
akhlak, makanan, minuman, pakaian, maupun muamalah (interaksi sesame manusia
dalam berbagai aspek kehidupan) guna meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
4. Etika Bisnis Islam
Etika bisnis islam merupakan suatu proses dan upaya untuk mengetahui hal-hal
yang benar dan yang salah yag selanjutnya tentu melakukan hal yang benar berkenaan
denga produk, pelayanaan perusahaan dengan pihak yag berkepentingan dengan tuntunan
perusahaan.
Karakteristik standar moral bisnis, lanjutnya, harus: tingkah laku yang
diperhatikan dari konsekuensi serius untuk kesejahteraan manusia dan memeperhatikan
validitas yang cukup tinggi dari bantuan atau keadilan.
B. Prinsip-prinsip Etika Bisnis Islami
Etika bisnis secara umum menurut Suarny Amran, harus berdasarkan prinsip-
prinsip sebagai berikut:
A. Prinsip Otonomi yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertindak
berdasarkan keselarasan tentang apa yang baik untuk dilakukan dan bertanggungjawab
secara moral atas keputusan yang diambil.
B. Prinsip Kejujuran dalam hal ini kejujuran adalah merupakan kunci keberhasilan suatu
bisnis, kejujuran dalam pelaksanaa control terhdap konsumen, dalam hubungan kerja.
C. Prinsip Keadilan bahwa setiap orang dalam berbisnis diperlakukan sesuai dengan haknya
masing-masing dan tidak ada yang boleh dirugikan.
D. Prinsip Saling menguntungkan juga dalam bisnis yang kompetitif
E. Prinsip Integritas moral merupakan dasar dalam berbisnis, harus menjaga nama baik
perusahaan tetap dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik
Prinsip prinsip dasar etika bisnis islam harus mencakup:
A. Kesatuan (utility). Adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep tauhi yang
memadukan keseluruhan spek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi,
politik, social, menjadi keseluruhan yang homogeny, serta mementimngkan konsep
konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh.
B. Keseimbangan (Equilibrium). Dalam beraktifitas di dunia kerja dan bisnis, islam
mengharuskan untuk berbuat adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai.
C. Kehendak bebas (Free Will). Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika
bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolktif.
D. Tanggungjawab (Responsibility). Kebebasan tanpa batas merupakan hal yang tanpa
batas adalah suatu hal yag mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut
adanya pertanggungjawaban dan akuntabiltas untuk memenuhi tuntutan keadilan dan
kesatuan, manusia perlu mempertanggungjawabkan tindakannya.
E. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran. Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung
makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan
kejujuran.
C. Ruang Lingkup Etika Bisnis Islam
Ruang lingkup etika bisnis Islam dalam buku ini di kelompokan menjdi 4 bagian
penting, yaitu:
1. Konsepsi islam dan nilai-nilai yang ada di dalamnya
2. Konsep dasar etika bisnis secara umum dan landasan teori-teori yang membentuknya
3. Akhlak islami sebagai fondasi dasar peletakan etika bisnis islam dan masalah-masalah
yang terkandung didalamnya perspektif al-Quran dan al-Hadist.
4. Internalisasi akhlak islam dalam bisnis yang difokuskan pada perilaku produsen,
konsumen, distributor bagi perusahaan, pelaku pasar, etika perbankan dan,
5. Lembaga yang mengatasi persengketaan

BAB III
KONSEPSI DAN TEORI ETIKA
A. Konsepsi Etika
Etika pada umumnya diidentikan dengan moral (atau moralitas). Tetapi, meskipun
sama terkait dengan baik buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki pengertian
yang berbeda. Moral lebih terkait dengan nilai baik dan buruk setiap perbuatan manusia
sedangn etika lebih merupakan ilmu yang mempelajari tentang baik buruk tersebut.
(Hendar Riyadi, 2007: 114)
Akhlak, moral dan etika merupakan komponen dsar dalam pembangunan suatu
bangsa. Sebagai syarat mtlak, norma akhlak harus dapat dijalnkan oleh setiap insan dalam
kehidupannya. Hal ini yangoleh Rosulullah SAW, menegaskan bahwa sesungguhnya
aku diutus oleh Allah adalah untuk menyempurnakan akhlak terpuji.
B. Pendekatan Etika Versus Akhlak
Ilmu mempunya dua jalan untuk mendekati objeknya. Mana yang dipakai,
bergantung pada hakikat objek materialnya dan objek formalnya karena jalan itu dipilih
dengan maksud untuk mencapai tujuannya. Dua metode tersebut menurut W.
Poespoprodjo adalah:
1. Metode deduktif, sintesis, a priori atau disebut juga degan metode rasional. Metode ini
bertolak dari prinsip-prinsip, postulat-postulat, aksioma-aksioma, dan kemudian
menguraikan pengarahan ke penerapannya. Ilmu matematika adalah suatu contoh utama
yang memakai metode ini.
2. Metode induktif, analisis, a posteoroori, atau metode empiris adalah metode yang yang
bertitik tolak dari dunia pengalaman, dan bergerak maju dengan cara pengamatan
(observasi), eksperimen, dan membuat klasifikasi dengan tujuan menyusun hokum-
hukum yang umum. Metode ini merupakan metode khas ilmu-ilmu alam.
Ada 4 macam pendekatan dalam menilai suatu pendapat moral yaitu:
1. Pendekatan empiris-deskriptif dapat menyelidiki, seperti: apa pendapat umum yang
berlaku di Indonesia, sejak kapan pendapat itu berlaku di Indonesia, bagaimana pendapat
masyarakat lain tentang pendapat itu.
2. Pendekatan fenomenologi memperlihatkan bagaimana kiranya kesadaran seseorang yang
sependapat bahwa ia berkewajiban untuk pernikahannya. Unsur apa saja yang terkandung
dalam keadarsan moral, diperhatikan dengan seksama.
3. Pendekatan normative. Melalui pendektan ini dipersoalkan apakah suatu norma moral
yang diterima umum atau dalam masyarakat tertentu memang tepat ataukah sebetulnya
tidak berlaku atau malah harus ditolak. Melalui pendektan ini kita dapat bertanya apakah
pendapat mahasiswa Indonesia itu benar.
4. Akhirnya dapat juga dipersoalkan apakah arti Wajib yang terdapat dalam kalomat
tentang pendapat mahasiswa Indonesia itu. Pendekatan ini berupa analisis bahsa moral,
dan merupakan tugas dari apa yang disebut metaetika. Meta etika berusaha untuk
mencegah kekeliruan dan kekaburan dalam penyelidikan fenomenologis dan normative
dengan cara mempersoalkan arti tepat dari istilah-istilah moral menurut macamnya secara
mempersoalkan bagaimana suatu pernyataan moral dapat dibenarkan.
Prinsip Etika Qur`ani
Prinsip Etika Qur`ani
1 Tauhid
(Unity)
Konsep tauhid sebagai the principle of metaphysics dan the principle of social
ethnic value
2 Iman 1. Apabila disebut nama Allah hatinya bergetar
2. Apabila di bacakan ayat-ayat Allah, kualitas Iman naik
3. Bertawakal terhadap keimanan pada (Allah, Malaikat, kitab-kitab,Rosul
dan para nabi, hari akhir serta takdir)
3 Islam Menyerah tunduh dan selamat, kebebasan, kesucian, kebahagiaan,
kesejahteraan, sebagai efek dr penyerahan diri kepada allah
4 Ihsan Profesionalisme dalam mengabdi kepada allah seolah-olah kamu melihatnya,
dan apabila kamu tidak dapat melihatnya maka allah melihatmu
5 Taqwa Kesatuan dari iman, islam dan ihsan (insan kamil/ahsan taqwin)

C. Teori-teori Etika Barat
1. Teori Deontologis
Teori ini mengatakan bahwa betul salahnya suatu tindakan tidak dapat ditentukan
dari akibat-akibat tindakan itu melainkan ada cara bertindak yang begitu saja terlarang,
atau begitu saja wajib. Etika Deontologi sangat menekankan motivasi, kemauan baik dan
watak yang kuat dari pelaku. Atau sebagaimana dikatakan Immanuel Kant (1734-1804),
kemauan baik harus dinilai baik pada dirinya sendiri terlepas dari apa pun juga. Maka,
dalam menilai seluruh tindakan kita, kemauan baik harus selalu dinilai paling pertama
dan menjadi kondisi dari segalanya. Dalam deontology jumlah terbnayak bukanlah
ukuran yang mneentukan kebaikan tetapi prinsiplah yang menentukan yaitu prinsip bawa
pembunuhan alah perbuatan buruk dan bagaimanapun juga anjing itu tidak boleh
dibunuh.
2. Teori Teleologis
Berbeda dengan etika deontology, etika teologis jutsru mengukur baik buruknya
suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau
berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan dinilai baik, kalau
bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau kalu akibat yang ditimbulkan baik dan
berguna. Teori ini mengatkan bahwa betul atau salah bergantung kepada kesan
sesuatu perbuatan yang dikenali sebagai konsekuensialisme.
3. Teori Egoisme Etis
Egoisme etis merupakan kelanjutan dari teori teleologis. Teori ini banyak myoroti
tentang akibat baik dari perbuatan bagi kepentingan pribadi, bukan kepentingan orang
banyak. Teori ini berpendapat bahwa orang yang betul-betul hidup sesuai dengan
kepentingannya sendiri yang nyata itu seseorang yang matang dan tahu tanggungjawab.
Orang itu tidak menurut begitu saja segala mavcam keinginan, dorongan nafsu, seperti
mau balas dendam, iri hati an sebgainya. Melainkan ia mengadakan penilaian dulu
tentang apa yang paling cocok untuknya, kemudan bertindak sesuai dengan penilaian itu.
Egois semacam itu perlu diilai ukup tinggin secara moral.
Hedonisme Egois
kaidah dasar hedonism egois ialah: bertindaklah sedemikian rupa sehingga
engkau mencapai jumlah akibat yang paling besar. Dan hindarilah segala macam yang
bisa menimbulkan rasa sakit darimu.
Eudominisme
Eudominisme mengajarkan bahwa segala tindakan manusia ada tujuannya. Ada
tujuan yang dicari demi suatu tujuan selanjutnya da nada tujuan yang dicari demi dirinya
sendiri. Eudominisme mengemukakan suatu kaidah dasar etikanya yang berbunyi:
bertindaklah engkau sedemikian rupa sehingga engkau mencapai kebahagiaan:. Menurut
kaidah ini tindakan manusia ditunjukkan untuk mencapai kebahagiaan.
4. Teori Utilitarian
Sesuai dengan namanya utilitarisme berasal dari kata utility dengan bahasa
latinnya utilis yang artinya bermanfaat. Teori ini menekankan pada perbuatan yang
menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat, tentu bukan sembarang manfaat
tetapi manfaat yang paling banyak membawa kebahagian bagi banyak orang. Secara
historis utilitarianisme terbit ari hedonisme. Jeremy Bentham dinggap sebagai bapak
aliran ini.
Utilitarisme adalah sebuah teori teleologis universal. Dikatakan teleologis karena
utilitarisme menilai betul salahnya tindakan manusa ditinjau dari segi manfaat akibatnya.
Larangan untuk berbuat korupsi itu lebih buruk dari pada kita tidak berbuat korupsi.
Secara histori utilitarisme lahir dari hedonism. Jeremy Bentham dianggap sebagai
bapak aliran ini. Bertolak dari gagasan bahwasanya kesenangan dan kesedihan itu adalah
satu-satunya motif yang memerintah manusia. Aliran utilitarisme mencapai
perkembangan sepenuhnya dalam diri John Stuart Mill.
5. Stoisisme
Stoisisme merupakan suatu bentuk materialism, panteisme, dan fatalism. Bagi
kaum stoisis, dunia ini terdiri dari badan dunia yang terdiri dari materi kasar yang
nampak ada pancaindra kita dan jiwa dunia, dan materi halus yang berhembus sebagai
angina melintas dunia, menggerakan dunia dan membuatnya laksana binatang besar.
Aliran ini berpandangan bahwa kebajikan adalah yang baik satu-satunya. Ini bukan jalan
kearah suatu tujuan melainkan tujuan itu sendiri.
6. Evolusionisme
Teori evolusi sebenarnhya hanya menyatakan bahwa manusia selalu bisa lebih
sempurna dan kemajuan itu tidak mengenal batas, hanya dalam istilah-istilah biologis
yaitu suatu gagasan yang sangat berpengaruh dalam abad XX. Kemajuan, perkembangan
dipandang sebagai tujuan hidup. Maju,berevolusi, berkembang adalah hal yang penting.
7. Teori Teonom
Sekarang kita aka membicarakan pendapat yang mendasarkan norma-norma
moral terhadap kehendak ALLAH. Sehingga teori ini dinamai teonom yang erdiri dari
dua kata theos yang berarti ALLAh dan nomos yang berarti hokum. Teori inin dibagi
menjadi dua, yaitu:
Pertama, etika teonom murni. Etika ini mengajarkan bahwa suatu tindakan
dikatakan bnar bila sesuai dengan kehendak allah, dan dikatakan salah apabila tidak
sesuai. Suatu tindakan wajib dikerjakan jika diperintahkan allah. Teori ini banyak
dipegang oleh orang-orang beragama.
Kedua, teori hukum kodrat. Hukum abadi berada dalam tuhan. Selama diterapan
pada makhluk, disebut hokum kodrat. Teori ini mengatakan bahwa baik dan buruk
ditentukan oleh allah seakan-akan secara sewenang-wenang. Sesuatu dikatakan benar jika
sesuai dengan tujuan manusia atau sesuai dengan kodrat manusia.
D. Etika Islami
Perbedaan etika bisnis islam dengan bisnis konvensional yang selaama ini
dipahami dalam kajian ekonomi terletak pada landasan tauhid dan orientasi jangka
panjang. Prinsip ini dipastikan lebih mengikat dan tegas sanksinya. Etika bisnis islami
memiliki dua cakupan.
Pertama, cakupan internal, yang berarti perusahaan memiliki management internal
yang memperhatikan aspek kesejahteraan karyawan, perlakuan yang menausiawi dan
tidak diskriminatif plus pendidikan.
Kedua, cakupan eksternail meliputi aspek transparansi, akuntabilitas, kejujuran
dan tanggung jawab. Demikian pula kesediaan perusahaan untuk memperhatikan aspek
lingkungan dan masyarakat sebagai stake holder perusahaan.
Kapitalisme menonjolkan sifat individualism dari manusia, dan sosialisme pada
kolektivisme, maka ilsam menekankan empat sifat sekaligus yaitu:
1. Kesatuan (unity)
2. Keseibangan (equilibrium)
3. Kebebasan (free will)
4. Tanggungjawab (responsibility)
Etika bisnis islam menjungjung tinggi semangat saling percaya, kejujuran, dan
keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan karyawan berkembang semangat
kekeluargaan (brotherhood). Misalnya dalam perusahaan yang islami gaji karyawan dapat
diturunkan jika perusahaan benar-benar merugi dan karyawan juga mendapat bonus jika
perusahaan keuntungannya meningkat.

BAB IV
KONSEPSI ETIKA DALAM AL-QURAN
A. Landasan Filosofis
Studi empiris tentang etika usaha (bisnis) itu akan banyak membawa manfaat
yang bisa menjadikan faktor pendorong bagi tumbuhnya ekonomi taruhlah dalam hal ini
dimayarakat islam. Tetapi studi empiris ini bukanya sama sekali tidak mermasalah
terkadang dalam etika dalam ilmu ini mengambil posisi netral (bertolak dalam pijakan
metodologi positivistis) maka temuan hasil stui netral itu sepertinya kabal terhadap
penilaian-penilaian etis.
Menarik untuk disoroti adalah bagaimana dan adakah konsep islam menawarkan
etika bisnis bagi pendorong bangkitnya roda ekonomi. Filosofi dasar yang menjadi
catatan penting bagi bisnis islami adalah bahwa, dalam setiap gerak langkah kehidupan
manusia adalah konsep hubungan manusia dengan manusia, lingkungannya serta manusia
dengan tuhan.
Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya itu sebabnya
misi diutusnya rosulullah kedunia adalah utuk memperbaiki akhlak manusia yang telah
rusak.
Sifat toleran merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka kunci
rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat hidup toleran adalah mempermudah pergaulan,
mempermudah urausan juanl beli, dan mempercepat kembalinya modal allah mengasihi
orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi utang (hadis).
B. Al-quran sebagai pedoman etika
Nilai-nilai khusus adalah atura yang berlaku dalam bidang kegiatan atau
kehidupan khusus, misalnya aturan olahraga, aturan pendidikan, llebih khusus lagi aturan
disekolah. Nila-nilai mum sebaliknya lebih bersifat umum dan sampai tingkat tertentu
boleh dikatakan bersifat universal, yaitu: nilai sopan santun, nilai hukum, dan nilai moral.
(A. Sonny Kera, 1998:18)
Bagi kehidupan ekonomi, teori nilai yang erkaitan dengan konsumsi, produksi dan
pertukaran komoditi dipasar barangkali berkaitan dengan tiga hal tersebut.
C. Konsep kunci etika Al-quran
Konsep kunci etika Al-quran.
1. Tauhid: dasar moralitas qurani bagi kaum beriman.
Tauhid merupakan konsep sentral yang berisi ajaran bahwa tuhan adalah pusat
dari segala sesuatu, dan bahwa manusia harus mengabdikan diri sepenuhnya kepada Nya.
2. Iman, Islam, Ikhsan kunci meraih ketaqwaan
1. Iman yang berarti percaya atau merasakan tidak adanya kegoncangandlam diri
seseorang. Iman sebgai respon pribadi kepada tuhan, tidak dapat dibatasi pada komunitas
sosio-relitigus tertentu. Tetapi, iman sebagai keyakinan batin terdalam bersifat universal
dan berlakubagi setiap manusia.
2. Islam berarti penyerahan diri kepada allah. Islam adalah suatu ajaran yang bersifat
penyerahan tunduk dan patuh, terhadap perintah-perintah tuhan.
3. Ikhsan merupakan modal yang kini menjadi sesuatu yang langka. Ikhsan adalah
profesionalisme yang merupakan perinsip ajaran islam. Akan tetapi moral ini telah
hilang dari kita. Ikhsan merupakan muatan komponen yang meliputi pengetahuan
management, orientasi dan sistem.
4. Taqwa sebagai konsep moral mengandung suatu butir khusus yakni bahwa manusia
sebagai hasil beberapa prilaku, merasa baha kesempurnaan dan kesucian jiwanya dan
nilai dari wujudnya terancam bahaya.
D. Etika islam sebuah problem solver
Sistem ekonomi islam berangkat dari kesadaran etika , sedangkan sistem ekonomi
lain, baik kapitalisme maupun sosialisme berangkat dari kepentingan. Oleh karena itu
etika islam yang mewarnai sistem ekonomi islam bermaksud menjelaskan bahwa islam
sebagai way of life merupakan bentuk ibadah. Sehingga tak seorangpun boleh
menganggap bahwa islam hanya terfokus pada aspek ritualitas keagamaan, tanpa aspek
social yang melingkupinya.

BAB V
ETKA BISNIS PERSPEKTIF ISLAM
A. Etika Bisnis Konvensional Versus Islam
Dalam kaitannya dengan paradigma islam tentang etika bisnis, maka landasan
filosofis yang harus dibangun dalam pribadi muslim adalah adanya onsepsi hubungan
manusia dengan manusia dan lingkungannya, serta hubungan manusia dengan tuhannya.
Daam kehidupan ini setiap manusia seringkali mengalami ketegangan atau dilema etis
antara harus memilih keputusan etis dan keputusan bisnis dan keputusan bisnis sempit
semata sesuai dengan lingkup dan peran tanggungjawabnya, tetapi jika kita percaya
kepada sabda nabi SAW atau logika ekonomi maka percayalah jika kita memilih
keputusan etis maka pada hakikat nya kita juga sedang meraih bisnis.
B. Konsep AL-QURAN Tentang Bisnis
Sebagaimana kita ketahui bahwa Al-quran adalah sumber nilai sumber dari segala
sumber untuk pegangan hidup umat islam. Maka terkait itu, Al-quran telah
membicarakan bisnis, sekaligus merupakan bukti bahwa islam mmberikan perhatian
tehadap bisnis sebagai pranata social. Bahkan, menurut Afzalurahman, Al-quran juga
memotifasi usaha komersial dan perdagangan dengan cara memberikan keberanian atas
semngat untuk berwiraswasta.
C. Konsep AL-HADIS Tentang Bisnis
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam muslim dan tirmidzi maksud hadis
tersebut tidak berarti memperbolehkan meminta-minta, tetapi memotivasi agara seorang
muslim mau berusaha dengan keras agar dapat mmenjadi tangan diatas, yaitu rang yang
mampu membantu dan memberi sesuatu pada orang lain dari hasil jerih payahnya. Nabi
Muhammad menyatakan bahwa usaha yang paling baik adalah berbuat sesuatu dengan
tangannya sendiri dengan syarat dilakukan dengan baik dan jujur.
D. Implementasi Bisnis dalam konsep Al-quran dan Al-hadis
Konsep yang general dan umum yang ada pada kita tentang istilah nilai,
sebenarnya adalah konsep ekonomi. Hubungan suatu komoditi atau jasa dengan barang
yang mau dibayarkan orang untuk mendapatkannya memunculkan konsep nilai. Tetapi,
makna nilai dan sistem nilai.
Kegiatan bisnis harus mengacu pada hukum syariat yang berlaku. Perputaran
modal pada kegiatan bisnis tidak boleh disalurkan kepada jenis industry yang
melaksanakan kegiatan yang diharamkan seperti perdagangan minuman keras. Semua
transaksi dalam bisnis harus atas dasar suka sama suka, tidak ada unsur paksaan, tidak
ada pihak yang didzolimi atau mendzolimi. Tidak ada unsur riba, tidak bersifat spekulatif
atau judi dan semua transakasi harus transparan, diharamkan adanya insider trading.
BAB VI
ETOS KERJA DALAM BISNIS ISLAMI

Menurut Hasan Al-Banna, bahwa Islam memberikan perhatian --terhadap etos kerja (usaha) serta
mendorong umatnya agar bekerja dan selalu berusaha. Islam tidak berharap seseorang itu
menganggur. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja guna memperbaiki kondisi keluarga
maupun sosial lainnya. Bekerja dan berusaha dinilai ibadat
Dengan demikian etos kerja adalah refleksi sikap hidup seseorang yang mendasar dalam
menghadapi kerja. Etos yang berarti sikap adalah aspek perilaku yang biasanya dinyatakan
dalam bentuk respon positif atau negatif. Sikap erat kaitannya dengan penilaian tertentu dari
seseorang terhadap suatu obyek sehingga dari pikiran tersebut seseorang akan memiliki perasaan
tertentu terhadap suatu obyek yaitu perasaan mendukung atau tidak mendukung. Etos yang juga
mempunyai makna nilai moral adalah suatu pandangan batin yang bersifat mendarah daging.
Sikap itu sendiri tidak muncul dengan seketika, tetapi dapat dibentuk dan dipelajari sepanjang
perkembangan manusia.
Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan
tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan
penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal. Dalam literature budaya
organisasi dapat juga disebut basic assumption tentang sesuatu, Dalam hal ini kerja. etos kerja
adalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup atau sikap hidup sebagai nilai-nilai
yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan pribadi
atau suatu kelompok masyarakat dan organisasi, kemudian ter-cermin dari sikap menjadi
perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai "kerja" atau
"bekerja".
Sebagai sikap hidup yang mendasar dalam menghadapi kerja, maka etos kerja pada dasarnya
juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan.
Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang
bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam
kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal.
Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang.
Adapun pengertian bisnis (perdagangan), akan dikemukakan dua definisi dari dua sudut padang
yang berbeda, yaitu menurut mufassir dan ilmu fikih adalah (a) Menurut para mufassir bisnis
ialah pengelolaan modal untuk mendapatkan keuntungan, dan (b) Menurut tinjauan ahli fiqih,
bisnis adalah saling menukarkan harta dengan harta secara suka sama suka, atau memindah kan
hak miliki dengan adanya penggantian menurut cara yang diperbolehkan.
Maka dapat dipahami bahwa bisnis (perdagangan) adalah:
1. Bisnis adalah satu bagian muamalah yang berbentuk transaksi antara seseorang dengan
orang lain.
2. Transaksi bisnis itu dilakukan dalam bentuk jual beli yang diwujudkan dalam bentuk ijab
dan qabul.
3. Bisnis bertujuan atau dengan motif untuk mencari keuntungan (laba).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa etos kerja untuk pengembangan bisnis Islami harus
didasarkan pada niat beribadah karena Allah dalam rangka mencari ma'isyah atau fadzilah Allah
dengan sungguh-sungguh mencarinya. Kesungguhan dan semangat kerja yang tinggi melalui
profesionalisme dalam bisnis sangat diapresiasi oleh Allah melalui wujud mu'min yang kuat
lebih dicintai dibanding dengan mukmin yang dhaif (lemah). Karenanya, apresiasi ini oleh Rasul
Allah bahkan menjadi argumentasi bahwa sebaik-baiknya bisnis adalah dengan tanganya sendiri,
jerih payah sendiri bukan dari usaha orang lain serta dengan bisnis yang jujur, adil dan tidak
curang.
Dalam konteks Islam, etos kerja dalam bisnis akan meningkatkan produktivitas seseorang.
Karena jika produktivitas dipercaya mempunyai kaitan erat dengan etos kerja, maka etos kerja
dipandang terkait dengan nilai-nilai yang di anut oleh seorang yang beragamanya kuat. Hal ini,
menurut hasil penelitian, bahwa diantara nilai yang dianut seseorang yang dianggap sangat
dominan mempengaruhi kejiwaan dan sikap seseorang adalah karena nilai-nilai yang berasal dari
agama yang dianutnya. Dan, nilai-nilai ini pulalah yang mengkarakteristikan etos kerja
seseorang.
"Dalam sebuah hadits Rasul saw bersabda: Barang siapa pada malam hari merasakan
kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu is diampuni Allah" (Hadits
Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir)
"Rasulullah saw pernah ditanya, Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab,
Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian
yang dianggap baik," (HR Ahmad dan Baihaqi).
Dalam hadits-hadits yang disebutkan di atas, menunjukkan bahwa bekerja merupakan perbuatan
yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Rasulullah saw memberikan pelajaran menarik tentang
pentingnya bekerja. Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga
untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi.
Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Islam sangat menghargai
orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.
Ketika seseorang merasa kelelahan atau capai setelah pulang bekerja, maka Allah Swt
mengampuni dosa-dosanya saat itu juga. Selain itu, orang yang bekerja, berusaha untuk
mendapatkan penghasilan dengan tangannya sendiri baik untuk membiayai kebutuhannya sendiri
ataupun kebutuhan anak dan isteri (jika sudah berkeluarga), dalam Islam orang seperti ini
dikategorikan jihad fi sabilillah. Dengan demikian Islam memberikan apresiasi yang sangat
tinggi bagi mereka yang mau berusaha dengan sekuat tenaga dalam mencari nafkah
(penghasilan).
Kerja juga berkait dengan martabat manusia. Seorang yang telah bekerja dan bersungguh-
sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat dan kemuliannya. Sebaliknya, orang
yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan
dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain.
Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan
sebagainya), (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
Etos kerja adalah motor penggerak produktivitas. Islam mengajarkan pada umatnya mau bekerja
keras untuk mengubah nasibnya sendiri, berlaku jujur dalam berbisnis, mencari usaha dari
tangannya sendiri, berlomba-lomba dalam kebaikan. Bahkan ada ayat al-Qur'an yang secara
khusus menggunakan bahasa "untung-rugi", misalnya surat al-Asyr. (Muhammad Yunus, 2008:
10)

BAB VII
ETIKA PRODUKSI PERSPEKTIF ISLAM

Dalam pembahasan etika seorang Muslim disebutkan bahwa bila akan memulai sesuatu yang
berguna maka dianjurkan dengan sangat untuk membaca Bismillahirrahmanirrahim. Nabi
Muhammad SAW dalam haditsnya mengatakan bahwa setiap akan memulai sesuatu yang baik
tanpa membaca bismillah. maka "kemanfaatannya" akan terputus.Dengan menyebut dan
mengucap nama Allah SWT, dalam ajaran Islam memberikan upaya penting dalam memberikan
pembelajaran etika bagi manusia bahwa hanya dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha
Kasih Tak Pilih Kasih dan Maha Sayang Tak Pandang Bulu merupakan manifestasi dari ajaran
Islam untuk berbuat sesuatu dengan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat pula, baik untuk din
sendiri mau pun orang lain.
Pada masa Rasullulah, orang-orang biasa memproduksi barang dan beliau pun mendiamkan
aktivitas mereka. Sehingga diamnya beliau menunjukkan adanya pengakuan (taqrir) beliau
terhadap aktivitas berproduksi mereka. Status taqrir dan perbuatan Rasul itu sama dengan sabda
beliau, artinya sama-sama merupakan dalil syara'. (Abdul Aziz, 2008: 53)
Pada sisi yang sama dinyatakan kegiatan produksi dalam ilmu ekonomi diartikan sebagai
kegiatan yang menciptakan manfaat (utility) baik di masa kini mau pun masa yang akan datang.
Perusahaan selalu diasumsikan untuk memaksimumkan keuntungan dalam berproduksi Dalam
Islam, produksi dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk memperbaiki kondisi fisik material
dan moralitas sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sesuai syariat Islam, kebahagian dunia
dan akhirat (Monzer Khaf).
Dalam berproduksi tidak boleh mengeksploitasi kekayaan alam secara berlebihan, tetapi harus
dikelola dengan cara yang baik, sebagaimana firman Allah Swt bahwa manusia tidak boleh
melampaui batas, (Q.S. Al-Maidah, 5: 87). Nabi juga mengancam penghasilan yang didapat
dengan cara yang tidak sesuai prinsip syariah, seperti jual beli seks, barang najis seperti anjing
dan canthuk sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Turmudzi (1196), Nasa'i (4220), Abi
Daud (2976, 2973), Ahmad (15251) dan Darimi (2507), sebagaimana dikutip Ilfi Nur Diana
(2008: 35). Nabi bersabda: "Sejelek-jelek usaha adalah penghasilan dari pekerja seks, hasil
penjualan anjing, dan usaha canthuk".
Dalam pandangan Islam, produksi merupakan upaya manusia untuk meningkatkan tidak hanya
kondisi materialnya tetapi juga moralnya dan sebagai sarana untuk mencapai tujuannya di hari
akhirat kelak. Karena, Islam mengancang tujuan ini dengan dua sasaran, yaitu ajaran etik
(akhlak) dan hukum.
Ajaran-ajaran etik yang bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadits banyak memberikan tuntunan
dan bimbingan ke arah produksi yang lebih baik, sebagai-mana tersebut dalam Q.S. Al-Nahl dan
Hadits-hadits tersebut di atas. Intinya, ajaran Islam memberikan respon positif dalam hal
produksi dan produktivitas umat manusia, bahkan itu akan diberi pahala oleh Tuhan bila
perbuatannya (baca: produksi) mendatangkan kebaikan. Namun diberikan dosa dan nista bila
perbuatan yang dihasilkan mendatangkan kemudaratan dan kezaliman.
Adapun aspek hukum juga dapat berperan dalam produksi dengan memberikan justifikasi apakah
barang itu halal diproduksi tidak, atau sebaliknya. Meskipun dalam urusan ekonomi (baca:
muamalah), semuanya diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarang-nya.

Artinya: "Asal mula bermuamalah itu mubah kecuali ada ketetapan dalil yang tidak
memperbolehkannya".
motif produksi adalah menciptakan kemaslahatan atau kesejahteraan individu (self interest)
dan kesejahteraan kolektif (social interest).. Prinsip-prinsip etika produksi yang
implementatif terkandung dalam prinsip tauhid, prinsip keadilan, prinsip kebajikan, prinsip
kemanusiaan, serta prinsip kebebasan dan tanggung jawab. Implementasi prinsip etika
produksi ini akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan keadilan
distributif, kelestarian lingkungan hidup, serta tanggung jawab sosial produsen. Untuk
mengupayakan prinsip etika yang implementatif diperlukan pengujian epistemologi dari
aksioma-aksioma moral dalam al-Qur'an.
Adapun pembahasan prinsip etika produksi Islam dilakukan dengan menjadikan al-Qur'an
sebagai landasan ontologis kegiatan produksi. Kaidah-kaidah moral imperatif dalam al-
Qur'an dipetakan secara rasional untuk menentukan pemberlakuannya, mengidentifikasi
unsur hak dan kewajiban yang terkandung di dalamnya, dan relevansi nya dengan konsep
lain. Morality concept tersebut dirumuskan menjadi aksioma etika serta diujicoba untuk
mencari konvergensinya dengan aksioma yang lain. Setelah itu baru meletakkan aksioma
tersebut dalam ranah pemikiran ekonomi Islam dan mengaitkannya dengan pembahasan
etika dalam Islam.
Dan sebagai akhir kata dalam bahasan etika produksi tentu hams diakhiri dengan ucapan
ALHAMDULILLAHIRABBIL 'ALAMIN sebagaimana ketika akan memulai berproduksi
mengucap BISMILLAHIR RAHMANIRRAHIM, bentuk ucapan itu merupakan bentuk syukur
ni'mat atas upaya manusia dapat hidup mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan di dunia
ini. Kata-kata ini merupakan bentuk syukur bi lisan yang artinya ucapan syukur kepada
Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. Nikmat berupa anugerahanugerah atau rezeki-
rezeki Allah yang dapat dimanfaatkan yang tak terkira banyaknya, sehingga bila dihitung
secara kuantitatif pun tidak bisa.


BAB VIII
ETIKA KONSUMSI PERSPEKTIF ISLAMI
Konsumsi merupakan bagian aktivitas ekonomi yang sangat vital bagi kehidupan manusia.
Konsumsi adalah fitrah manusia untuk mempertahankan hidup nya. Jika manusia masih berada
dalam fitrah yang suci, maka manusia sadar bahwa konsumsi memiliki keterbatasan baik dari
segi kemampuan harta maupun apa yang akan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhannya. Teori
etika konsumsi Islami membatasi konsumsi berdasarkan konsep harta dan berbagai jenis
konsumsi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam demi keberlangsungan dan kesejahteraan
itu sendiri. Dalam Islam aktivitas konsumsi telah diatur dalam bingkai syariah, sehingga dapat
menuntun seorang muslim agar tidak terjerumus dalam keharaman dan apa yang dikonsumsinya
menjadi berkah.
Etika Islami memberikan ajaran untuk memulai mengkonsumsi (makan) dengan membaca do'a
sebagai berikut, yaitu:

Adalah bacaan do'a untuk supaya dalam mengkonsumsi barang atau jasa dapat berdaya guna.
Bukan berdaya guna saja, akan tetapi memberikan multiplier effect pada tatanan kehidupan
selanjutnya. Nilai ajaran ini memberikan kontribusi penting dalam mengkonsumsi barang dan
jasa.
Dalam konsumsi, seorang muslim harus memperhatikan kebaikan (kehalalan) sesuatu yang akan
dikonsumsinya. Para fuqaha menjadikan konsumsi hal-hal yang baik ke dalam empat tingkatan.
1. Wajib mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari kebinasaan dan tidak
mengkonsumsi kada ini - padahal mampu yang berdampak pada dosa.
2. Sunnah, yaitu mengkonsumsi yang lebih dari kadar yang menghindarkan diri dari
kebinasaan dan menjadikan seseorang muslim mampu shalat dengan berdiri dan mudah
berpuasa.
3. Mubah yaitu mengkonsumsi sesuatu yang lebih dari yang sunnah sampai batas kenyang.
4. Konsumsi yang melebihi batas kenyang, yang dalam hal ini terdapat dua, pendapat ada
yang mengatakan makruh yang satunya mengatakan haram.
Konsumsi bagi seorang muslim hanya sekedar perantara untuk menambah kekuatan dalam
mentaati Allah, yang ini memiliki indikasi positif dalam kehidupannya. Seorang muslim tidak
akan merugikan dirinya di dunia dan akhirat, karena memberikan kesempatan pada dirinya untuk
mendapat kan dan memenuhi konsumsinya pada tingkat melampaui batas, membuatnya sibuk
mengejar dan menikmati kesenangan dunia sehingga melalaikan tugas utamanya dalam
kehidupan ini. "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawi (saja)
dan kamu telah bersenang-senang dengan-nya". (Al-Qur'an, Surat alAhqaf, 20).
Jadi, konsumsi Islam akan menjauhkan seseorang dari sifat egois (ananiyah), sehingga seorang
muslim akan menafkahkan hartanya untuk kerabat terdekat (sebaik-baiknya infak), fakir miskin
dan orang-orang yang membutuhkan dalam rangka mendekatkan diri kepada penciptanya.
Menurut Arif Pujiyono bahwa prinsip-prinsip dasar konsumsi Islami ini akan memiliki
konsekuensi bagi pelakunya. Pertama, seseorang yang melakukan konsumsi hams beriman
kepada Allah dan akhirat di mana setiap konsumsi akan berakibat pada kehidupan di akhirat.
Kedua, pada hakikatnya semua anugerah dan kenikmatan dari segala sumberdaya yang diterima
manusia merupakan ciptaan dan milik Allah secara mutlak dan akan kembali kepada-Nya, (Q.S.
A1-Baqarah, 2: 29). Manusia hanya sebagai pengemban amanah atas bumf untuk
memakmurkannya. Konsekuensinya adalah manusia harus menggunakan amanah harta yang
telah dianugerahkan kepadanya pada jalan yang disyariakan. Ketiga, tingkat pengetahuan dan
ketakwaan akan mempengaruhi perilaku konsumsi seseorang. Seseorang itu dinilai berdasarkan
ketakwaannya. "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang
paling bertakwa".
etika Islam berarti seseorang ketika mengkonsumsi barang-barang atau rezeki harus dengan cara
yang halal dan baik. Artinya, per-buatan yang baik dalam mencari barang-barang atau rezeki
baik untuk dikonsumsi mau pun diproduksi adalah bentuk ketaatan terhadap Allah SWT.,
sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Wahai umat manusia, makanlah apa yang ada di
bumi, dengan cara yang sah dan baik", (QS. A1-Baqarah, 2: 268). Karena itu, orang mu'min
berusaha mencari kenikmatan dengan menaati perintah-perintah-Nya dan memuaskan dirinya
sendiri dengan barang-barang dan anugerahanugerah yang dicipta Allah untuk umat manusia.
Konsumsi dan pemuasan kebutuhan tidak dikutuk dalam Islam selama keduanya tidak
melibatkan hal-hal yang tidak baik atau merusak.
Salah satu ciri dalam etika Islam adalah bahwa ia tidak hanya mengubah nilai-nilai dan
kebiasaan-kebiasaan masyarakat tetapi juga menyajikan kerangka legislatif yang perlu untuk
mendukung dan memperkuat tujuan-tujuan ini dan menghindari penyalahgunaannya. Ciri khas
Islam ini juga memiliki daya aplikatif-nya terhadap kasus orang yang terlibat dalam pemborosan
atau tabzir.
Konsumsi berlebih-lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal Tuhan,
dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah ishraf (pemborosan) atau tabzir (menghambur-
hamburkan harta tanpa guna). Tabzir berarti mempergunakan harta dengan cara yang salah,
yakni untuk menuju tujuan-tujuan yang terlarang seperti penyuapan (riswah), hal-hal yang
melanggar hukum atau dengan cara yang tanpa aturan.
Etika Islami akan mampu membentuk pribadipribadi muslim-mu'min, yang tidak hanya
menghasilkan kepuasan konsumtif melainkan mampu menciptakan kepuasan kreatif untuk
menghasilkan kepuasan produktif. Pribadi-pribadi muslim demikian, tentu tidak akan menjadi
mushrif atau mubzir, tetapi mampu menciptakan produktivitas yang optimal yang membawa
maslahat dan rahmat 1i1 'alamin, bukan mafsadat.
BAB IX
ETIKA DISTRIBUSI PERSPEKTIF ISLAM
Distribusi merupakan kegiatan ekonomi lebih lanjut setelah produksi dan konsumsi. Hasil
produksi yang diperoleh kemudian disebarkan dan dipindahtangankan dari satu pihak ke pihak
lain. Mekanisme yang digunakan dalam distribusi ini tiada lain adalah dengan cara pertukaran
(mubadalah) antara hasil produksi dengan hasil produksi lainnya atau antara hasil produksi
dengan alat tukar (uang). Di dalam syariat Islam bentuk distribusi ini dikemukakan dalam
pembahasan tentang 'aqad (transaksi).
Adapun prinsip utama dalam konsep distribusi menurut pandangan Islam ialah peningkatan dan
pembagian bagi hasil kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan. Dengan demikian,
kekayaan yang ada dapat melimpah secara merata dan tidak hanya beredar di antara golongan
tertentu saja (Rahman, 1995: 93). Sementara Anas Zarqa mengemukakan bahwa definisi
distribusi ialah transfer (mentasharufkan) pendapatan kekayaan antarindividu dengan cara
pertukaran (melalui pasar) atau dengan cara yang lain, seperti warisan, shadaqah, wakaf dan
zakat, (Zarqa, 1995: 181).
Demikian konsep ekonomi di bidang distribusi yang ditawarkan oleh Islam. Islam mengenalkan
konsep pemerataan pembagian hasil kekayaan negara melalui distribusi tersebut, seperti zakat,
wakaf, warisan dan lain sebagai nya
Distribusi atau juga bisa disebut Marketing dan Islam ibarat dua sisi mata uang logam. Keduanya
tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang ingin menekuni dunia distributor (marketing) harus
memenuhi beberapa persyaratan. Persyaratan itu di antaranya adalah: Pertama, memiliki daya
analisis yang bagus terhadap calon konsumennya. Konsep ini sejalan dengan ayat berikut:

"Apabila telah ditunaikan salat maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan cari lah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. al-Jumu'ah [62]:10).
Berikutnya, senang bergaul atau bertemu dengan orang lain. Islam mengajarkan, silaturahmi
dapat melahirkan kebaikan, baik usia mau pun rezeki. Syarat selanjutnya, tidak lekas putus asa
dan selalu memiliki strategi. Terakhir, dapat menentukan produk yang akan dijual.
Kedua, kesungguhan dalam menjual. Allah berfirman:


"Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan kebahagiaan mu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu
membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang merusak"
(QS. alQashshash [28]: 77).
Ketiga, selalu berbuat jujur. Seorang marketer dituntut jujur. Rasulullah bersabda, "Allah akan
memberikan rahmat kepada orang yang berusaha dengan yang halal, membelanjakan harta
dengan hemat, dan dapat menyisih kan uang pada saat is fakir dan membutuhkannya."
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam distribusi barang dan jasa secara umum, para
pelaku hams memperhatikan etika ekonomi, yakni:
1. Pemerataan
a. Pemerataan ke berbagai daerah, distribusi hams merata ke berbagai daerah yang
membutuhkan.
b. Pemerataan kesempatan usaha, produsen besar harus memberi kan kesempatan
kepada pedagang eceran dan agen untuk berusaha.

2. Keadilan
a. Keadilan terhadap produsen sejenis. Dalam memasarkan produk, tidak boleh saling
menjatuhkan satu sama lain. Boleh memamerkan keunggulan, tetapi tidak boleh
menjelekkan produk lain.
b. Keadilan terhadap konsumen. Produsen sebaiknya memberikan informasi yang jelas,
sehingga konsumen tidak dirugikan. Contoh: setiap kemasan dituliskan masa
kadaluarsa dan label halal.
Imam al-Ghazali dalam kitab monumentalnya berjudul Ihya Ulumuddin menjelaskan beberapa
etika yang perlu disikapi oleh para distributor ataupun marketing diantaranya adalah:
1. Sebagai seorang distributor (marketing) harus bersifat amanah. Amanah berarti setia dan
jujur dalam melaksanakan kegiatan dengan penuh tanggung-jawab, baik berupa tugas,
harta maupun benda. Sifat amanah ini merupakan perintah Allah kepada setiap Muslim.
2. Sebagai seorang distributor (marketing) harus bisa menempati janji yang di buat bersama,
baik kepada sesama muslim maupun non muslim.
3. Sebagai seorang distributor (marketing) hendaknya berlaku benar dalam perkataan dan
juga perbuatan. Benar dalam perkataan ialah menyatakan perkara yang benar dan tidak
menyembunyikan rahasia kecuali untuk menjaga nama baik seseorang. Benar dalam
perbuatan ialah mengerjakan sesuatu selaras dengan tuntunan agamanya.
4. Sebagai seorang distributor (marketing) hendaknya bersikap ikhlas. Ikhlas berarti suatu
pekerjaan karena Allah semata-mata dan bukan karena mengharapkan balasan, pujian
atau kemasyhuran. Ini artinya, ketika memasarkan suatu produk, maka tidak boleh
menghalalkan segala cara.
5. Sebagai seorang distributor (marketing) harus berlaku adil yakni memberikan hak kepada
orang yang memiliki hak tanpa menguranginya. Berlaku adil kepada sesama manusia,
baik muslim maupun non muslim adalah perintah Allah. (Q.S. 16: 90)

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran".
6. Sebagai seorang distributor (marketing) harus bisa menjaga kesabaran dalam menghadapi
ujian, cobaan, dan kesulitan di lapangan maupun di tempat kerja.
7. Sebagai seorang distributor (marketing) harus mempunyai sifat kasih dan sayang kepada
sesama, baik sebagai pelanggan tetap maupun tidak.
8. Sebagai seorang distributor (marketing) juga harus bisa atau mudah memaafkan. Sifat
sedia memaafkan kesalahan dan kekhilaf an orang sangatlah dianjurkan oleh Islam.
9. Sebagai seorang distributor (marketing) harus berani mengambil risiko tetapi
perhitungan. Artinya, berani dalam arti mampu menguasai hawa nafsu dan jiwa pada
waktu marah dan dalam keadaan dicoba. Berani yang dimaksudkan adalah berani sesuai
dengan sikap kepatutan dan bukan berani yang bersifat membabi buta.
10. Sebagai seorang distributor (marketing) harus kuat dan tabah serta mempunyai sifat malu.
Kuat dalam arti mau bekerja keras untuk melawan ke-malasan dalam bekerja. Seorang
muslim juga disamping kuat jasmani hams kuat rohani.
11. Memelihara kesucian diri merupakan bagian penting bagi seorang distributor atau
marketing. Sifat iffah menjaga diri dari segala keburukan supaya terpelihara kehormatan
diri.

BAB X
ETIKA KERJA DALAM ISLAM
Al-Qur'an dan Hadis tersebut menganjurkan kepada manusia, khususnya umat Islam agar
memacu diri untuk bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin, dalam arti seorang muslim
harus memiliki etos kerja tinggi sehingga dapat meraih sukses dan berhasil dalam menempuh
kehidupan dunianya di samping kehidupan akhiratnya. Istilah 'kerja' dalam Islam bukanlah
semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan
menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah,
tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan
keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara.
Etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap
kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon itu
menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan
kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau
kelompok atau masyarakat. Menurut Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Profesional dengan
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kerja adalah Rahmat
2. Kerja adalah Amanah
3. Kerja adalah Panggilan
4. Kerja adalah Aktualisasi
5. Kerja adalah Ibadah
6. Kerja adalah Seni
7. Kerja adalah Kehormatan
8. Kerja adalah Pelayanan
Dalam Islam, Rohadi Abdul Fatah, mengungkapkan pengertian kerja dapat dibagi dalam dua
bagian. Pertama, kerja dalam arti umum yaitu semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik
dalam hal materi atau non materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan
masalah keduniaan dan keakhiratan. Kedua, kerja dalam arti sempit ialah kerja untuk memenuhi
tuntutan hidup manusia berupa sandang, pangan dan papan yang merupakan kebutuhan bagi
setiap manusia dan muaranya adalah ibadah.Dengan kata lain, Islam sangat membenci pada
orang yang malas dan bergantung pada orang lain
Nabi Muhammad saw pernah bersabda, bahwa orang-orang yang menyediakan makanan dan
kebutuhan lain untuk dirinya dan keluarganya lebih baik dari pada orang yang menghabiskan
waktunya untuk beribadat, tanpa mencoba berusaha mendapat penghasilan untuk dirinya sendiri.
Bekerja adalah hak setiap seorang dan sekaligus sebagai kewajiban.
Dalam ekonomi Islam, perspektif kerja dan produktifitas adalah untuk mencapai tiga sasaran,
yaitu: Mencukupi kebutuhan hidup, meraih laba yang wajar dan menciptakan kemakmuran
lingkungan sosial maupun alamiyah .
Ketiga sasaran tersebut harus terwujud secara harmonis. Apabila terjadi sengketa antara pekerja
dan pemodal (majikan). Islam menyelesaikannya dengan cara yang baik, yakni ada posisi tawar-
menawar antara pekerja yang meminta upah yang cukup untuk hidup keluarganya dan tingkat
laba bagi pemodal (majikan) untuk melanjutkan produksinya. (Agustianto, 2011)


BAB XI
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN PERSPEKTIF ISLAM
Konsep pertanggungjawaban bermula dari pemahaman bahwa setiap orang akan
dipertanggungjawabkan amalnya, kemudian keluarga dan perusahaan miliknya. Walaupun
tanggungjawab keluarga dan perusahaan bermula pula dari bagaimana setiap individu dapat
pemahaman bahwa aksinya merupakan tanggung jawab atas perbuatan nya itu. Karenanya,
dalam Islam setiap orang bertanggung-jawab atasdirinya, keluarganya dan apa yang dimilikinya
juga merupakan tanggungjawabnya, termasuk kepemilikan perusahaan. Dalam kepemilikan
perusahaan dikenal dengan istilah tanggung jawab sosial.
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah suatu konsep
bahwa organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap
konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek
operasional perusahaan.
CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada argumentasi bahwa
suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak
semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga hams
berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
Konsep tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), muncul
sebagai akibat adanya kenyataan bahwa pada dasarnya karakter alami dari setiap perusahaan
adalah mencari keuntungan semaksimal mungkin tanpa memperdulikan kesejahteraan karyawan,
masyarakat dan lingkungan alam. Seiring dengan meningkatnya kesadaran dan kepekaan dari
stakeholder perusahaan maka konsep tanggung jawab sosial muncul dan menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dengan kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang.
Sesuai dengan ajaran Islam, sebenarnya ada konsep yang lebih agung dan mulia terkait dengan
tanggungjawab sosial, yaitu salah satu dalam rukun Islam melalui ZAKAT, dan instrumen
sunnah lainnya, seperti INFAK dan SHADAQAH. Melalui pengumpulan instrumeninstrumen ini
dapat dibangun masyarakat sejahtera.
Karenanya, sudah saatnya setiap perusahaan memberikan perhatian yang serius kepada masalah
tanggung jawab sosial, karena terbukti tanggung jawab sosial perusahaan memiliki peranan yang
signifikan dalam keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang. Disamping itu, tanggung
jawab sosial perusahaan dapat menyeimbangkan perusahaan dalam mencapai tujuan komersil
dan tujuan non-komersial. Sesuai dengan ajaran Islam, sebenarnya ada konsep yang lebih agung
terkait dengan CSR, yaitu salah satu dari rukun Islam tentang pengeluaran ZAKAT. Melalui
pengumpulan zakat akan dapat dibangun masyarakat sejahtera. Bahkan dalam instrumen ilmu
ekonomi Islam sebagaimana para ahli berpendapat bahwa instrumen ekonomi Islam sebagai
bentuk dari tanggungjawab pribadi maupun sosial adalah perangkat ZIS, yaitu Zakat, Infak dan
Shadaqah.
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang merupakan kewajiban agama yang dibebankan atas
harta kekayaan seseorang menurut aturan tertentu. Dalam ekonomi Islam, zakat merupakan
instrumen penting dalam membuat distribusi kekayaan yang adil. Zakat sebagai institusi atau
instrumen ekonomi berperan sebagai distribusi pendapatan sebagaimana tersebut di atas. Lewat
institusi zakat, Ausaf Ahmad umpamanya, dengan memasukkan variabel zakat ke dalam model
distribusi pendapatan Kaldor-Pasinetti (dalam Dawam Rahardjo), membuktikan bahwa sistem
ekonomi Islam yang mengandung instrumen distribusi pendapatan, mampu menghasilkan
pertumbuhan ekonomi yang mantap.
Jadi, zakat dilihat dari sudut pandang ekonomi banyak membawa efek dan dampak serta
pengaruh positif. Ahmad Muhammad Al-'Assal dan Fathi Ahmad Abdul Karim mencatat, tiga
hal penting dari zakat terhadap pengaruh ekonomi, yaitu:
1. Pengaruh zakat pada usaha produktif. Dalam hal ini, terdapat dua aspek dari zakat, yaitu
aspek pengumpulan dan aspek pengeluaran. Pengumpulan zakat biasanya mendorong
orang untuk mengembang kan hartanya. Kalau tidak, is terkena wajib zakat. Pengeluaran
zakat kepada lembaga-lembaga yang berhak menerimanya, memiliki pengaruh di bidang
ekonomi. Mereka yang menerima zakat akan mengeluarkannya kembali dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan konsumsinya, baik yang berupa barang-barang mau pun jasa-jasa.
Ini biasanya mempercepat arus konsumsi. Dalam masalah perekonomian meningkatnya
konsumsi menimbulkan usaha berproduksi.
2. Pengaruh zakat dalam mengembalikan pembagian pendapatan. Zakat memegang peranan
penting dalam mengembalikan pembagian kekayaaan dalam masyarakat. Berhasilnya
zakat sebagai salah satu cara mengembalikan distribusi kekayaan adalah karena zakat itu
diwajibkan atas segala macam harta yang tumbuh sehingga zakat itu bersifat menyeluruh
dan luas kaidah penerapan nya. Di samping itu, karena zakat dilakukan setiap tahun maka
zakat itu merupakan alat permanen (instrumen) bagi pengembalian distribusi kekayaan.
3. Pengaruh zakat atas kerja. Zakat dapat menggerakkan roda perekonomian dengan cara
memberikan kesempatan bekerja. Pasalnya, zakat hanya diberikan kepada mereka yang
tidak mampu berusaha. Artinya, zakat diarahkan kepada kelompok dalam masyarakat
yang konsumtif akan menyebabkan meningkatnya permintaan barang, sehingga
bertambahlah pula kesempatan-kesempatan kerja yang baru.
Menurut Didin S. Damanhuri dalam bukunya Pilar-Pilar Reformasi Ekonomi Politik, Zakat
merupakan nilai ajaran Islam yang diturunkan agar membawa rahmat bagi seluruh alam yang
sebenarnya sangat empiris. Dalam penanganan kemiskinan, misalnya, Didin memberikan
gambaran bahwa beberapa instrumen penangkalnya telah dikenalkan bahkan telah terbukti dalam
sejarah. Kejayaan Umar bin Khattab dalam mobilisasi zakat, infak dan shodaqoh serta
mendirikan bait al-maal, merupakan bukti konkrit. Pendirian bait al-maal, sebagai
perbendaharaan negara tersebut diletakkan dalam kerangka makro struktural karena kemudian
membawa implikasi positif pembangunan ekonomi negara masa itu. Bahkan secara ekstrim
khalifah sebelumnya, Abu Bakar Shiddiq memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat.
BAB XII
ETIKA PROFESI DALAM ISLAM
Bisnis atau usaha perniagaan/perdagangan atau usaha komersial merupakan salah satu
yang penting bagi kehidupan manusia, oleh karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu system
ekonomi, maka sebagaian dari tugas etika bisnis sesungguhnya ialah mengemukakan pertanyaan-
pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, yang pada gilirannya akan berbicara
tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai system tersebut. Al-quran
memberikan informasi yang cukup banyak berkaitan dengan hal tersebut. Diantaranya QS. An
Nisa:29
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara
kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.
Dan disisi lain Rasulullah mempunyai misi penting dalam penyempurnaan Akhlaq, sehingga
dalam berniaga/berbisnis pun ada aturan perilaku dalam melaksanakannya., salah satunya sabda
Rasulullah saw:
Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w melarang
menahan barang dagangan sebelum tiba di pasaran. Ini adalah lafaz dari Ibnu Numair.
Sedangkan menurut perawi yang lain, sesungguhnya Nabi s.a.w melarang pembelian barang
dagangan sebelum dipasarkan
Dalam pandangan moral manusia manapun pastilah tidak membenarkan seorang
mengambil milik orang lain dengan cara merampas, dalam sebuah perusahaan seorang pejabat
ataupun pekerja tidak dibenarkan memiliki barang/uang milik perusahaan menjadi milik pribadi.
Seorang pekerja yang sadar akan etika bisnis, yang terlanjur mengambil milik perusahan , maka
ia wajib mengembalikan, kesadaran inilah yang disebut sebagai kesadaran moral, karena ia harus
mempertanggung jawabkan hal tersebut bukan hanya ia seorang karyawan tetapi ia sadar bahwa
ia juga seorang hamba Tuhan.
Seorang yang menimbun barang dagangan akan dianggap sebagai seorang yang dzalim
dengan melakukan monopoli padahal rakyat sangat sullit mencari barang tersbut. Dari ayat dan
hadits tersebut sudah cukup jelaslah bahwa dalam Islam berbisnis adalah seuatu yang dibenarkan
dan dalam mejalankannya pun terdapat aturan berperilaku yang harus diperhatikan oleh pelaku
bisnis tersebut. Dalam mejalankan usaha tersebut pastilah dibutuhkan bekerja untuk mencapai
tujuan dari usaha/niaga/bisnis, apakah itu dengan cara pribadi, kelompok kecil atau kelompok
besar.





Etika dalam Bekerja
Dalam melakukan bisnis atau usaha tentulah seseorang perlu bekerja. Bekerja adalah
sebuah aktivitas yang menggunakan daya yang dimiliki oleh manusia yang merupakan
pemberian Allah. Secara garis besar ada empat daya pokok yang dimiliki manusia, pertama daya
fisik yang menghasilkan kegiatan gerak tubuh dan keterampilan, kedua daya fikir yang
mendorong manusia untuk melakukan telaah atas apa yang ada dialam semesta dan
menghasilkan ilmu pengetahuan, ketiga daya Qalbu yang menjadikan manusia mampu
berimajinasi, beriman, merasa serta berhubungan dengan manusia lain dan sang Khaliq, dan
keempat daya hidup yang mengahasilkan daya juang, kemampuan menghadapi tantangan dan
kesulitan.
a. Bekerja Sebagai Ibadah
Bekerja dalam pandangan Islam memilki nilai ibadah, firman allah dalam surat Adzariyat:56:
sesungguhnya tidak aku ciptakan Jin dan Manusia kecuaali agar beribadah kepada-Ku, kata Li
Yabudun dalam surat tersbut mengandung arti dampak atau akibat atau kesudahan, bahakan
dalam melaksanakan shalat kita selalu bersumpah dan berpasrah bahwa hidupku, matiku lillahi
rabbil alamiin.
Namun kerja yang diluar ibadah ritual bagaimana yang akan berdampak ibadah?
Kerja bernilai ibadah apabila ia didasari keikhlasan dan menjadikan si pekerja tidak semata-mata
mengharapkan ibalan duniawi saja tetapi ia juga berharap akan balasan yang kekal diyaumil
akhirah. Dengan niatan bahwa ia bekerja untuk mendapatkan harta yang akan ia jadikan sebagai
sarana bagi dirinya untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya sehingga dapat melakukan
perintah allah yang lain.

b. Bekerja sebagai sebuah Amanah
Kata amanah,aman dan iman berasal dari akar kata yang sama. Seorang disebut beriman bila ia
telah menunaikan amanat. Tidak disebut beriman orang yang tidak menunaikan amanat. Seorang
yang menunaikan amanat akan melahirkan rasa aman bagi dirinya dan orang lain. Di dalam al
Quran banyak ayat yang memerintahkan agar manusia menunaikan amanat yang telah
dipercayakan kepadanya. Diantaranya:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya,
dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh,(QS. al Ahzab/33:72)

Menurut Murtadha Muthahhari amanat dalam ayat ini artinya taklif , tanggung jawab dan hukum
. Artinya amanat manusia harus dibangun berdasarkan tugas dan tanggung jawab. Pendapat
senada dikemukakan juga oleh Muhammad Ali al Shobumi, amanah dalam ayat ini adalah taklif
syariat, keharusan mentaatinya dan meninggalkan kemaksiatan . Itulah sebabnya, langit dan
bumi tidak sanggup menerimanya. Makhluk-makhluk lain selain manusia, diberi oleh Allah
instink termasuk bumi dan langit. Dengan instink ini langit dan bumi tidak dapat menerima
amanat seperti tersebut diatas. Apabila amanat itu berupa materi mungkin ia dapat menerima,
tanpa ada tanggungjawab ia hanya menerima saja. Seperti amanat Allah kepada Matahari agar ia
beredar pada porosnya, demikian pula bumi dan bulan.
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui.Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia
sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.Tidaklah
mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya.(QS Yasiin/36:38-40)
Dalam konteks ini, matahari, bumi dan bulan dalam menerima amanah, mau atau tidak mau,
suka atau tidak suka. Ia tidak mempunyai pilihan, yang ada hanya instink untuk mengikuti aturan
yang telah ditetapkan.
Dan kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka
maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS ali Imron/3:83)
Berbeda dengan makhluk Allah SWT yang lain, manusia diberi potensi berupa akal. Dengan akal
itu manusia sanggup dan mampu menerima amanat yang ditawarkan kepadanya. Sebagaimana
dikemukakan oleh Abdul Wahab Kholaf bahwa seluruh aktivitas manusia, baik yang berkaitan
dengan ibadah, muamalah, jinayat atau berbagai transaksi lainnya mempunyai konsekwensi
hukum . Dan manusia mempunyai hak untuk memilih dan mengikuti atau tidak melaksanakan
apa yang ditawarkan kepadanya. Tetapi mengapa manusia saat menerima tawaran Allah berupa
amanat disebut sebagai dzaluman Jahula (amat zalim dan bodoh) ? Setelah manusia menerima
amanah itu, manusia mempunyai tanggung jawab dan konsekwensi hukum dari semua yang
diperbuatnya. Apabila ia menunaikan amanat dengan menggunakan akalnya, ia termasuk
manusia yang cerdas, tetapi sebaliknya bila ia tidak sanggup menggunakan akal pikirannya untuk
menunaikan amanat itu, maka manusia disebut sebagai menzalimi dirinya sendiri dan bersikap
bodoh.
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk disisi Allah adalah orang-orang yang
pekak dan tuli yang tidak mau menggunakan akalnya. (QS. al Anfal/8:22)
Binatang yang paling buruk adalah manusia yang diberi akal dan hati, tetapi ia tidak memahami,
diberi telinga, tetapi tidak mendengar dan dibekali mata, namun ia tidak sanggup melihat.
Bahkan untuk mereka disediakan neraka Jahanam. Manusia yang tidak pandai memilih
kebenaran yang ada dihadapannya, dan tidak sanggup memperjuangkan keadilan yang
didengarnya dan matanya tidak dapat melihat kebenaran yang ada disekelilingnya itulah yang
disebut dzaluman Jahula.
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa siapa yang diberi kebebasan dan amanat yang jelas
kebaikannya dan ia telah merasakan nikmat dari amanat itu, lalu ia memilih yang tidak sesuai
dengan hati nurani, tempat yang layak baginya adalah neraka Jahannam.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-
ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai. (QS. al Araf /7:179)
Para mufassirin sepakat bahwa makna amanat dalam ayat ini (al Ahzab/33:72) amanat dalam
bentuk spiritual atau immateri. Yakni sebuah taklif atau tanggungjawab yang harus dipikul oleh
orang yang diberi amanat dan juga bermakna hukum, yaitu ketentuan yang telah ditetapkan
untuk dilaksanakan. Dalam kontek ini, amanat dapat disamakan dengan imarat al maknawiyah
yakni mengisi dan meningkatkan kualitas dan intensitas bekerja sebagai sebuah gerakan yang
terus menerus, dinamis dan inovatif
c. Bekerja Dengan Bersungguh-sungguh
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat
(pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang
baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat
keberuntungan.
Ayat diatas menunjukkan kepada kita bahwa dalam melakukan sesuatu haruslah dengan
kesungguhan dan kemampuan, hal ini berlaku bukan hanya bagi pribadi namun juga akan
berlaku juga dalam kelompok atau dengan kata lain sebuah organisasi atau perusahaan.
Sebuah kata bijak (atsar) mengatakan bahwa : kebaikkan yang tidak terencana/terorganisasi
/didasari oleh kemampuan akan dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terencana/ terornaisasi
dengan baik.
Rasulullah saww pernah bersabda:
sesungguhnya allah senang apabila salah seorang dianatara kamu mengerjakan suatu pekerjaan,
bila dikerjakan dengan baik(jitu)

d. Menghargai Waktu

Islam sangat istimewa dalam membicarakan tentang waktu, bahkan salah satu surat dalam Al-
quran khusus menuliskan bagaiman apabila kita tidak mengahargai waktu, yaitu dalam surat Al-
Ashr. Dalam surat ini Allah dengan jelas memperingatkan kepada manusia (pribadi/kelompok)
apabila ia tidak betul-betul memperhatikan waktu, dengan ancaman kerugian (dalam hal ini
kerugian mencakup secara materi maupun immaterial) dan hal tersbut dapat terhindari apbila ia
mampu menjaga komitmen (amanu) dengan konsekwen menjalankan aturan dan kewajiban
(amilu Ash-sholihat)

Imam Ali mengatakan Waktu adalah Pedang, apabila ia tidak tepat dimanfaatkan maka ia dapat
melukai/membunuh diri sendiri

e. Kerjasama

Dalam ibadah shalat kita selalu membaca iyyaka nabudu. Ayat tersebut dikemukakan
secara jamak yang berati hanya kepadaMu kami menyembah, Islam begitu mengutamakan
sesuatu yang dilakukan secara berjamaah. Dalam kesehariannya rasululahpun selalu
mengingatkan untuk saling bekerjasama.

Pernah pada suatu hari rasulullah dan para sahabat ingin melakukan makan bersama, salah
seorang sahabat mengatakan aku akan mencari kambingnya, lalu sahabat kedua mengatakan
saya akan menyembelihnya, dan sahabat ketiga mengatakan saya akan mengulitinya, dan
yang kempat mengatakan saya akan memasaknya. Maka Rasulullah saww bersabda: saya akan
mengumpulkan kayu bakarnya.

Dalam kisah lain, pada saat membangun masjid nabawi para sahabat menganjurkan Rasulullah
untuk beristirahat/tidak perlu ikut turun tangan, namun rasulullah tetap ikut dalam pembangunan
masjid tersebut. Dari sini jelaslah bahwa Islam sangat menganjurkan Budaya Bekerjasama dalam
hal kebaikan.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS:Al-Maidah:2)

f. Bekerja dengan pengetahuan(Ilmu)

Dalam melakukan sebuah pekerjaan seharusnyalah seseorang memiliki pengetahuan atas apa
yang akan ia kerjakan, hal ini akan berdampak pada apa yang akan dihasilkan dari pekerjaan itu.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.(QS:Al-Isra:36)

Dalam surah yang lain allah menjanjikan bahwa orang yang memliki pengetahuan lebih mulia
beberapa derajat.

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS:Al-Mujaadilah:11)

g. Bekerja dengan memiliki keahlian

Selain Ilmu yang dimiliki kita juga harus memliki keahlian(spesialisasi) dalam bekerja yang juga
akan berdampak pada hasil yang kita dapatkan.

Rasulullah Saww bersabda:
Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah saat
kehancurannya(HR. Bukhori)

h. Pengendalian Mutu

Setelah pekerjaan dilakukan dengan amanah, berdsarakan ilmu dan keahlian maka tugas terakhir
dalam pekerjaan tersebut adalah melakukan pengendalian mutu dari apa yang kita
kerjakan.karena hal tersbut harus dipertanggung jawabkan apakah itu kepada manusia lain atu
sang khaliq.

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan
melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan
yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan".(QS:At-Taubah:105)

BAB XIV
ETIKA BISNIS DALAM PASAR ISLAMI
Dewasa ini, secara umum dapat disampaikan bahwa kemunculan pesan moral Islam dan
pencerahan teori pasar, dapat dikaitkan sebagai bagian dari reaksi penolakan atas sistem
sosialisme dan sekularisme. Meskipun tidak secara keseluruhan dari kedua sistem itu
bertentangan dengan Islam. Namun Islam hendak menempatkan segala sesuatu sesuai pada
porsinya, tidak ada yang dirugikan, dan dapat mencerminkan sebagai bagian dari the holistic live
kehidupan duniawi dan ukhrowi manusia.
Oleh sebab itu, sangat utama bagi umat Islam untuk secara kumulatif mencurahkan semua
dukungannya kepada ide keberdayaan, kemajuan dan kecerahan peradaban bisnis dan
perdagangan. Islam secara ketat memacu umatnya untuk bergiat dalam aktivitas keuangan dan
usaha-usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan social.
Berdagang adalah aktivitas yang paling umum dilakukan di pasar. Untuk itu teks-teks Al Quran
selain memberikan stimulasi imperative untuk berdagang, di lain pihak juga mencerahkan
aktivitas tersebut dengan sejumlah rambu atau aturan main yang bisa diterapkan di pasar dalam
upaya menegakkan kepentingan semua pihak, baik individu maupun kelompok.
Konsep Islam menegaskan bahwa pasar harus berdiri di atas prinsip persaingan bebas (perfect
competition). Namun demikian bukan berarti kebebasan tersebut berlaku mutlak, akan tetapi
kebebasan yang dibungkus oleh frame syariah. Dalam Islam, Transaksi terjadi secara sukarela
(antaradim minkum/mutual goodwill, Sebagaimana disebutkn dalam Quran surat An Nisa ayat
29. Didukung pula oleh hadits riwayat Abu dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majjah dan as Syaukani
sebagai berikut:
Orang-orang berkata: Wahai Rasulullah, harga mulai mahal. Patoklah harga untuk kami!
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah-lah yang mematok harga, yang menyempitkan
dan yang melapangkan rizki, dan aku sungguh berharap untuk bertemu Allah dalam kondisi tidak
seorangpun dari kalian yang menuntut kepadaku dengan suatu kezhaliman-pun dalam darah dan
harta. (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan asy-Syaukani).
Selanjutnya pasar yang adil akan melahirkan harga yang wajar dan juga tingkat laba yang tidak
berlebihan, sehingga tidak termasuk riba yang diharamkan oleh Allah SWT. sebagaimana ayat
berikut;
Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama
dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang
yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya
(terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-
penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah: 275)
Dalam pada itu, transaksi yang dilakukan secara benar dan tidak masuk dalam riba dalam
mencari keutamaan Allah bahkan mendapat dukungan yang kuat dalam agama.
Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (QS. Al
Qoshos: 77)

Prinsip-prinsip Mekanisme Pasar Islami
Konsep mekanisme pasar dalam Islam dibangun atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Ar-Ridha, yakni segala transaksi yang dilakukan haruslah atas dasar kerelaan antara masing-
masing pihak (freedom contract). Hal ini sesuai dengan Quran Surat an Nisa ayat 29:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.
dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.(Qs: Annisa 29)
2. Berdasarkan persaingan sehat (fair competition). Mekanisme pasar akan terhambat bekerja
jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau monopoli. Monopoli dapat diartikan, setiap barang yang
penahanannya akan membahayakan konsumen atau orang banyak.
3. Kejujuran (honesty), kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab
kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri. Islam melarang tegas melakukan
kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Sebab, nilai kebenaran ini akan berdampak
langsung kepada para pihak yang melakukan transaksi dalam perdagangan dan masyarakat
secara luas.
4. Keterbukaan (transparancy) serta keadilan (justice). Pelaksanaan prinsip ini adalah
transaksi yang dilakukan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan
keadaan yang sesungguhnya.

BAB XV
ETIKA LEMBAGA BISNIS SYARIAH
Dasar-dasar Etika Perbankan
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa, bank merupakan lembaga keuangan yang
usaha pokoknya memberikan kredit jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran.
Lembaga keuangan adalah semua badan yang kegiatannya menarik uang dari masyarakat dan
menyalurkannya kepada masyarakat. Jadi tugas utama bank sebagai lembaga keuangan ialah,
operasi perkreditan aktif ( penciptaan atau pemberian kredit yang dilakukan oleh bank ) dan pasif
( menerima simpanan berbentuk giro, deposit, tabungan ataupun bentuk titipan lainnya yang
dipercayakan oleh masyarakat ) serta sebagai perantara dibidang perkreditan, contohnya
memberikan jasa-jasa yang lainnya misalnya, inkaso, transfer, informasi dan lain-lain.
Dengan adanya beberapa tugas utama bank seperti diatas, maka factor kepercayaan dari
pihak lain dan nasabah merupakan penunjang utama bagi lancarnya operasional bank. Selain itu
hal ini juga merupakan etika perbankan dalam hubungannya dengan pihak lain. Dalam ini hal
bankir yang mempunyai peran dalam hal memiliki akhlak, moral dan keahlian dibidang
perbankan / keuangan. Karna, para bankir ini mempunyai misi untuk memberikan nasihat yang
objektif bagi nasabahnya dan harus mampu mendidk nasabahnya dalama arti dapay memberikan
penjelasan dibidang administrasi, pembukuan, pemasaran dan lain-lain. Nasihat yang objektif
adalah seorang bankir harus dapat bersikap objektif, tidak memihak, jujur terhadap nasabah dan
dapat memilih produk atau jasa yang paling tepat bagi nasabahnya, artinya tidak memaksakan
nasabah untuk membeli apa saja yang ditawarkan oleh bankir tanpa mempertimbangkan kondisi
dan status nasabah. Bankir juga harus menjaga agar mekanisme arus surat-surat berharga ( flow
of documents ) dapat berjalan lancar dan menindak jika,terjadi permainan yang curang dalam
pengelolaan arus dokumen berharga tersebut di dalam bank. Dalam hal demikian, pimpinan bank
berkewajiban dan bertanggungjawab :
1. Mengembalikan seluruh atau sebagian simpanan pada waktu diminta oleh nasabah secara
pribadi maupun dengan surat kuasa.
2. Menjaga kerahasiaan keuangan bank menurut kelaziman dalam dunia perbankan.
3. Memberi informasi yang akurat dan obyek jika diminta oleh nasabah.
4. Turut menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
5. Menjaga dan memlihara organisasi, tata kerja dan administrasi dengan baik.
6. Menyalurkan kredit secara lebih selektif kepada calon debitur.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa disini pimpinan bank harus lebih
mengutamakan kepentingan masyarakat luas daripada kepentingan bank atau pribadi. Para
pemegang saham pun harus mengetahui bahwa semua keputusan rapat pemegang saham harus
sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Dan apabila ada kebijakan-kebijakan
yang menyimpang dari anggaran dasar maka harus disetujui secara bersama. Selain itu para
pemegang saham juga harus menyadari bahwa bisnis perbankan bukan bisnis untuk memperoleh
atau mencari keuntungan semata, tapi bisnis perbankan lebih mengutamakan kepentingan social
ekonomi masyarakat banyak.
Bisnis perbankan adalah bisnis yang terikat dalam suatu system moneter dalam Negara
tertentu dan tinggi tingkat keterikatannya dengan lembaga perbankan atau lembaga keuangan
secara keseluruhan maupun dengan kehidupan perekonomian Negara tersebut. Dengan demikian,
bila salah satu bisnis perbankan tidak patuh terhadap standar etika perbankan, maka seluruh
lembaga perbankan atau lembaga keuangan lainnya juga terkena dampaknya. Etika dan
kewajibannya sehubungan dengan tugas di lingkungan perbankan untuk setiap petugas bank,
bankir maupun pimpinan sebagai berikut :
1. Bank wajib memberikan laporan pada Bank Indonesia untuk mengetahui posisi
perbankan dan moneter serta kegiatan perekonomian dan pemerintah dapat
menentukan kebijakn ekonomi dan moneter.
2. Setiap bank wajib mengumumkan Neraca dan Laporan rugi-laba yang sebenarnya
tiap tahun dengan diterbitkan pada surat kabar, agar masyarakat dapat
mengetahuinya.
3. Bank wajib menjaga kerahasian keuangan para nasabah dari siapapun, kecuali
jika ada syarat resmi dari Mentri Keuangan secara tertulis untuk keperluan
perpajakan dan peradilan.
4. Petugas bank mempunyai kewajiban untuk tidak membicarakan tentang keuangan
nasabahnya di luar kepentingan dinas dan berkewajiban untuk menjaga dan
memelihara arsi atau surat-surat antara bank dengan nasabahnya.
5. Dalam hal pembayaran pajak, para bankir harus melaksanakan pemotongan pajak
pendapatan atas gaji, upah atau honorarium para karyawannya dan berkewajiban
membayar pajak perusahaan.
6. Bank harus mengupayakan untuk selalu dapat memenuhi janji atau persetujuan
yang telah disepakati dengan para nasabahnya.
7. Bank juga harus memberikan nasihat yang obyektif, tidak memihak dan tidak
mengikat bagi para nasabahnya. Sebab, nasabah yang dating ke bank adakalanya
penuh suasana serba tidak pasti, jenis jasa apa yang sebaiknya akan dipilihnya.
Oleh karenanya, bank harus dapat menampilkan beberapa pilihan produk / jasa
bank bagi para nasabahnya.
Salah satu hal yang harus dihindari antara bankir dan nasabah adalah menghindari adanya
hubungan pribadi sehingga dapat menjurus ke arah hubungan hubungan yang kurang sehat
misalkan, bankir memberikan kemudahan-kemudahan bagi seseorang nasabah dikarenakan
adanya upeti atau gift dan sejenisnya. Karena hal ini akan merugikan nasabah lain yang
berperilaku wajar dalam hubungan kerjanya dengan bank.
Etika Bankir
Bankir yang professional adalah bankir yang memiliki integritas pribadi, keahlian dan
tanggungjawab social yang tinggi serta wawasan yang luas agar mampu melaksanakan pla
manajemen bank yang professional pula. Bankir yang professional memang dituntut
melaksanakan 2 hal penting yaitu, dapat menciptakan laba dan menciptakan iklim bisnis
perbankan yang sehat. Namun dalam penciptaan laba tersebut, bankir harus tetap terkendali (
prudent ).
Menjadi bankir yang professional memerlukan beberapa persyaratan, diantaranya adalah :
1. Memiliki skill (keterampilan) dan knowledge (pengetahuan)
2. Mampu menerima tekanan dari pihak manapun tanpa mengurangi kinerjanya
3. Memiliki inisiatif dan aktif dalam pencapaian tujuan serta tidak bersikap menunggu
4. Memilik job motivation yang tinggi
5. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership ability)
6. Mempunyai sales ability
7. Memiliki kemampuan untuk : menyusun rencana, mengorganisasikan, menetapkan prosedur
kerja dan mengendalikan tugas pekerjaan agar menuju kea rah pencapaian tujuan bank
Setiap bankir di Indonesia wajib mengelola bank secara sehat dan menghormati norma-
norma perbankan yang berlaku, menaati semua tata nilai sebagai pedoman dasar dalam
menentukan sikap dan tindakannya. Norma-norma perbankan yang diakui, diterima dan ditaati
tersebut tertuang dalam Kode Etik Bankir di Indonesia yang isinya sebagai berikut :
1. Seorang bankir patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan
yang berlaku.
2. Melakukan pencatatan yang benar mengenai segala transaksi yang bertalian
dengan kegiatan banknya.
3. Menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat.
4. Tidak menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi.
5. Menghindarkan diri dari keterlibatan pengambilan keputusan dalam hal terdapat
pertentangan kepentingan.
6. Menjaga kerahasian nasabah dan banknya.
7. Dapat memperhitungkan dampak yang merugikandari setiap kebijakan yang
ditetapkan banknya terhadap ekonomi, social dan lingkungannya.
8. Tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun
keluarga.
9. Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya.

Prinsip Dasar Etika Perbankan
Para bankir dalam prinsip pengelolaan bank harus mengupayakan terselenggaranya iklim usaha
perbankan yang sehat yaitu dengan menjaga :
1 Likuiditas Bank atau kelancaran operasional bank
2 Solvabilitas Bank atau terpeliharanya kekayaan bank agar kokoh dan mampu
memenuhi seluruh kewajiban finansialnya
3 Rentabilitas atau tingkat keuntungan yang dapat dicapai bank.
4 Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank (bonafiditas).
Sedangkan kewajiban bank terhadap beberapa pihak (Stakeholders) adalah pertanggung jawaban
bank terhadap pihak-pihak :
a. Masyarakat
Mereka menghendaki adanya pelayanan yang baik, perlakuan yang sama.
b. Nasabah
Berkepentingan atas dalam hal keamanan uang mereka yang mereka simpan di bank,
layanan yang baik seta bunga yang wajar.
c. Pemerintah
Berharap bahwa bank dapat memberikan lapangan kerja serta penigkatan taraf hidup yang
layak dan dapat menjaga stabilitas ekonomi dan politik.
d. Pemilik atau Investor
Menghendaki adanya kepastian hukum dalam perbankan dan memperoleh keuntungan
yang wajar.
e. Karyawan
Bertindak sebagai pelaku dan penggerak organisasi bank yang mengharapkan jaminan
materi dan non materi seperti, kesinambungan bekerja, keadilan, jaminan pension dan
sebagainya.
Prinsip etika perbankan sendiri ada 8 yaitu :
a. Prinsip kepatuhan
Pada prinsipnya semua orang dimanapun mempunyai peraturan yang harus mereka patuhi,
begitu juga para bankir yang diharuskan mematuhi peraturan perbankan, undang-undang,
kebijakan pemerintah, peraturan ketenaga kerjaan yang menyangkut masyarakat, nasabah,
pemerintah, pemilik dan karyawan.
b. Prinsip Kerahasiaan
Para bankir dituntut agar dapat menjaga kerahasiaan terutama dengan nasabah serta
kerahasiaan kejabatannya.
c. Prinsip Kebenaran Pencatatan
Setiap petugas bank wajib memelihara arsip atau dokumen dan mencatat semua transaksi
dengan benar serta menjaga kerahasiaannya
d. Prinsip Kesehatan bersaing
Persaingan ini dapat bersifat intern yaitu, antar bagian dalam bank itu sendiri dan bersifat
ekstern yaitu persaingan antar sesama bank. Dalam hal lebih kepada untuk memberikan
pelayanan serta promosi atas jasa-jasa apa saja yang diberikan oleh bank tersebut, tapi
setiap bank harus tetap menjaga agar tercipta iklim persaingan yang sehat.
e. Prinsip Kejujuran Wewenang
Kepercayaan dan wewenang yang telah diberikan oleh para pihak terkait dalam hal ini
pemerintah, nasabah, pemilik, masyarakat dam karyawan hendaknya tetap dinomor satukan
dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar etika yang telah disepakati bersama.
f. Prinsip Keterbatasan Keterangan
Meskipun petugas bank dan bankir diminta untuk bersikap informative terhadap pihak luar,
namun sifatnya terbatas.
g. Prinsip Kehormatan Profesi
Setiap petugas bank ataupun bankir diharuskan taat manjaga kehormatan profesi dengan
cara menghindarkan diri dari hal-hal semacam kolusi, pemberian hadiah, upeti, dan fasilitas
dari pihak lain yang menginginkan kemudahan dalam hal prosedur bank.
h. Prinsip Pertanggungjawaban
Sosial Pertanggungjawaban ini lebih di arahkan pada pemerintah, nasabah, pemilik ataupun
masyarakat dalam hal melaksanakan operasional perbankan.